MEMBERESKAN DOSA-DOSA
Pembacaan Alkitab
Mat. 5:23-26; 1 Yoh. 1:9; Ams. 28.13; Luk. 19:8; Im. 5:14-16.
Garis Besar
I. Dasar kitab suci
II. Objek pemberesan dosa-dosa kita
III. Dasar pemberesan dosa-dosa
IV. Batas pemberesan dosa-dosa kita
V. Praktek pemberesan dosa-dosa
VI. Membereskan dosa-dosa dan hayat
"Pemberesan" menunjukkan bahwa kita mengikuti pimpinan Roh Kudus untuk menyingkirkan segala kesulitan yang menghambat pertumbuhan hayat. Semakin banyak kita dibereskan, semakin banyak hayat Allah bertumbuh di dalam kita. Semakin banyak hayat Allah bertumbuh di dalam kita semakin banyak kita dibereskan. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan; kedua hal ini adalah dua aspek dari satu perkara yang sama. Maka, pemberesan meletakkan kita di suatu posisi yang sangat penting dalam pengalaman hayat kita. Kita dapat mengatakan bahwa ini adalah satu bagian yang utama dari pengalaman hayat
Di antara semua kesulitan yang perlu dibereskan, dosa-dosa adalah yang paling kejam, paling merusak, dan paling jelas. Setelah mengkonsikrasikan diri kita, hal pertama yang perlu kita bereskan adalah dosa-dosa. Membereskan dosa-dosa adalah pelajaran pertama di dalam pengalaman pemberesan kita.
I. DASAR KITAB SUCI
Referensi-referensi berikut ini memberikan dasar kitab suci untuk pembereskan dosa-dosa:
Matius 5.23-26, "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah membereskannya dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia ditengah jalan, supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesunguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas." Di sini, "berdamai" dan "segera membereskannya" mengacu kepada pemberesan hubungan kita dengan orang lain.
I Yohanes 1:9, "Jika kita mengaku dosa-dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni semua dosa-dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Disini "mengaku" juga adalah merupakan sejenis pemberesan.
Amsal 28:13, "Siapa menyembunyikan pelanggarannya-pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan mendapatkan belas kasihan." Disini "mengakui" dan "meninggalkan" juga membicarakan suatu pemberesan.
Kita melihat dari ayat-ayat di atas bagaimana caranya kita membereskan dosa-dosa: terhadap manusia, kita harus berdamai dengan mereka dan sejalan dengan mereka; terhadap Allah, kita harus mengaku dosa-dosa kita; dan mengenai dosa, kita harus meninggalkannya. Apa yang kita maksudkan dengan pemberesan dosa-dosa adalah penyelesaian dosa yang seperti disebut di atas.
II. OBJEK PEMBERESAN DOSA-DOSA KITA
Objek dari pemberesan dosa dosa kita adalah dosa-dosa itu sendiri. Ada dua aspek sehubungan dengan dosa: sifat dosa yang di dalam dan perbuatan dosa yang di luar. Sifat dosa yang di dalam kita dituliskan dalam bentuk tunggal; perbuatan dosa yang di luar dituliskan dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal dari dosa adalah hayat Setan yang ada di dalam kita, yang tidak dapat kita bereskan semakin kita berusaha untuk membereskannya, semakin dia hidup. Pemberesan dosa-dosa yang kita bicarakan adalah pemberesan kita terhadap dosa-dosa yang kita lakukan secara luar, dosa-dosa dalam perbuatan kita.
III. DASAR PEMBERESAN DOSA-DOSA
Objek pemberesan kita terhadap dosa-dosa mencakup semua dosa yang telah kita lakukan. Namun dalam pelaksanaannya, Allah tidak menuntut kita untuk membereskan semua dosa ini dengan segera, melainkan membereskan dosa-dosa yang kita sadari pada saat kita bersekutu dengan Dia. Kita tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kita harus membereskan semua dosa yang benar-benar telah kita lakukan, melainkan hanya membereskan dosa-dosa yang kita sadari pada saat kita bersekutu dengan Allah. Maka, dasar pemberesan dosa-dosa kita adalah kesadaran yang kita miliki pada saat kita bersekutu dengan Allah.
Kita dapat dalam sejangka waktu membiarkan dosa-dosa yang tidak kita sadari, sampai suatu waktu kita menyadarinya pada saat kita bersekutu dengan Allah. Secara praktis, pemberesan dosa-dosa bukanlah suatu peraturan hukum, tetapi adalah suatu tuntutan dari persekutuan. Begitu persekutuan kita dengan Allah dihambat oleh dosa-dosa yang belum diakui, pengalaman hayat dan pertumbuhan hayat kita akan menjadi tidak normal. Maka, kita harus segera mengakui dosa-dosa kita begitu Tuhan mengungkapkannya dalam persekutuan kita dengan Dia. Kemudian kita akan memiliki hayat dan damai sejahtera setiap saat.
IV. BATAS PEMBERESAN DOSA-DOSA KITA
Batas pemberesan dosa-dosa kita itu serupa dengan pembersihan kita terhadap perkara-perkara lampau. Yaitu hayat dan damai sejahtera. Ketika kita membereskan dosa-dosa, kita harus melakukannya sampai kita memiliki hayat dan damai sejahtera yang di dalam. Jika kita mengikuti hati nurani kita dalam pemberesan dosa-dosa, di dalam kita akan merasa dipuaskan, dikuatkan, disegarkan, dan dibangkitkan; kita juga akan merasa penuh sukacita, penuh perhentian, nyaman, dan aman. Roh kita akan menjadi kuat dan hidup, dan persekutuan kita dengan Tuhan akan menjadi bebas dan tanpa hambatan. Doa-doa kita akan penuh kelepasan dan penuh otoritas, dan pengutaraan kita akan jadi lebih berani dan penuh kuasa. Semua perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman ini adalah kondisi hayat dan damai sejahtera itu. Ini adalah batas pemberesan dosa-dosa kita, dan ini juga hasil pemberesan dosa-dosa kita. Apa yang telah kita katakan sebelumnya tentang pemberesan dosa-dosa, semuanya menyatakan bahwa kita membereskan dosa-dosa sampai tahap hayat dan damai sejahtera.
V. PRAKTEK PEMBERESAN DOSA-DOSA
Bagaimanakah kita seharusnya membereskan dosa yang benar-benar dilakukan? Jika kita telah menyakiti Allah, kita harus membereskannya di hadapan Allah dan memohon pengampunanNya. Jika kita telah berdosa terhadap manusia, kita harus membereskannya di hadapan manusia dengan memohon pengampunan manusia. Bila perbuatan dosa kita terhadap manusia hanya melibatkan suatu perkara moral, kita hanya perlu mengkuinya dan minta maaf di hadapan manusia. Bila hal ini juga melibatkan suatu kerugian uang dan laba, maka kita harus membayarnya menurut jumlah hutang kita. Tindakan minta maaf dan ganti rugi ini diterapkan bukan hanya terhadap dosa-dosa yang kita lakukan setelah kita diselamat; melainkan kita juga harus membereskan semua dosa yang kita lakukan sebelum kita diselamatkan; kita harus membereskannya satu persatu di hadapan manusia menurut kesadaran yang di dalam. Pemberesan dosa-dosa di hadapan manusia ini adalah bagian utama dari perkara pemberesan dosa-dosa ini, dan kita harus benar-benar mempraktekkannya.
Setiap perbuatan dosa kita, jika diketahui orang lain, baik itu menyebabkan merugikan mereka atau tidak, hasilnya adalah suatu kondisi yang tidak harmonis di antara kita. Sebagai contoh: bila kita mengutuk atau memperlakukan orang lain dengan kejam, disatu pihak kita memilliki catatan dosa di hadapan Allah, dan dipihak lain kita memberi kesan yang buruk pada orang yang kita kutuk dan juga pada merka yang hadir pada saat itu. Maka, sulit bagi kita semua untuk hidup bersama-sama dalam keharmonisan seperti sebelumnya. Oleh karena itu, bila, setelah diterangi, kita menjadi sadar akan hal ini, disatu pihak kita harus mengakuinya di hadapan Allah dan memohon pengampunanNya, dan dipihak lain kita pergi kepada orang-orang yang bersangkutan orang yang dikutuk tersebut dan mereka yang hadir pada saat itu untuk meminta maaf dan juga untuk membereskan apa yang telah kita katakan. Dengan melakukan ini, kesan buruk yang telah kita berikan kepada mereka akan dihapuskan, dan kita dapat hidup bersama -sama seperti sedia kalanya. Penghapusan situasi perselisihan itu adalah berhubungan dengan manusia, tetapi pemilikkan hati nurani yang bersih, dan bebas dari pelanggaran, adalah berhubungan dengan diri kita sendiri.
Bila dosa yang telah kita lakukan itu melibatkan hal-hal material atau pendapatan orang lain, maka kita harus memberikan ganti rugi. Bila kita mengembalikan apa yang telah kita ambil, kita harus membayarnya menurut nilai yang sebenarnya dan menambahkan sedikit lagi untuk mengganti kerugiannya. Di dalam Perjanjian Lama, dalam Imamat 5, di sana dinyatakan bahwa harus ditambahkan seperlimanya. Di dalam Perjanjian Baru kita memiliki contoh tentang Zakheus (Luk. 19) uang mengembalikan empat kali lipat kepada mereka yang telah ditipunya. ini bukanlah hukum-hukum atau peraturan-peraturan, tetapi adalah prinsip-prinsip dan contoh-contoh untuk memperlihatkan kepada kita bahwa bila mana kita akan memberi ganti rugi, maka kita harus menambahkan sesuatu pada nilai yang sebenarnya.
VI. MEMBERESKAN DOSA-DOSA DAN HAYAT
Karena membereskan dosa-dosa memiliki suatu hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan rohani kita, maka kita harus berusaha untuk mengalami pelajaran ini secara terus menerus. Walaupun pengalaman ini bukanlah suatu pengalaman yang dalam, namun tidak ada seorangpun yang dapat menjadi begitu rohani sehingga mengatakan bahwa mereka tidak perlu membereskan dosa-dosa mereka. Sangatlah sulit untuk lulus dari pelajaran ini. Maka, kita tidak boleh hanya bertanya kepada diri sendiri, apakah kita pernah memiliki pengalaman-pengalaman yang demikian, melainkan kita harus bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita sekarang hidup di dalam pengalaman yang demikian. Kita tidak hanya harus membasuh muka kita, tetapi kita perlu membasuhnya setiap hari. Bila kita telah membasuh muka kita tiga tahun yang lalu dan tidak pernah membasuhnya lagi sejak saat itu, maka muka kita kelihatan sangat mengerikan! Demikian juga, kita tidak dapat bebas dari melakukan dosa-dosa setiap hari, kita perlu membereskan dosa-dosa setiap hari.
Kita harus memperhitungkan dosa-dosa kita bersama Tuhan. Bila Dia mengungkapkannya kita mengakuinya (menyetujuinya), Dia mengampuninya dan membersihkannya, persekutuan kita dipulihkan, kita menerima hayat, kita diisi oleh Roh itu, kemudian kita bertumbuh dalam hayat. Sungguh ajaib. Mengapa harus berdebat dengan Dia? Di dalam jalan ini kita mendapatkan apa adanya Allah. ElemenNya akan bertambah di dalam kita dan elemen insani kita akan berkurang. Betapa ini adalah suatu jalan untuk bertumbuh dalam hayat! Betapa ini adalah suatu keselamatan yang penuh! Puji Tuhan!