MEMBERSIHKAN HAL-HAL YANG LAMPAU
Pembacaan Alkitab
2 Kor. 5:17; Luk. 19:1-10; Kis. 19:18-19; Rm. 8:5-6
Garis Besar
I. Dasar Kitab Suci
II. Obyek dari pembersihan hal-hal yang lampau
A. Perkara-perkara yang tidak benar
B. Perkara-perkara yang tidak tepat
C. Perkara-perkara yang jahat dan kotor
D. Cara hidup yang lama
III. Dasar dari pembersihan hal-hal yang lampau
IV. Tingkat pengakhiran hal-hal yang lampau
Pada pelajaran-pelajaran berikut ini kita akan melihat hal-hal yang menghambat pertumbuhan hayat kita. Jika oleh Roh itu, kita membereskan hal-hal ini, maka kita akan lebih banyak mengalami hayat dan pertumbuhan. Di satu pihak, perasaan hayat di dalam kita memberitahu kita hal-hal ini. Di pihak lain, kita memerlukan firman dan berita-berita yang membantu kita melihatnya dengan jelas. Pada saat kita berjaga-jaga terhadap hal-hal itu, baik dengan perasaan yang di dalam ataupun dengan firman yang di luar, pemberesan kita terhadapnya adalah pengalaman hayat. Hasilnya akan menjadi suatu perasaan hayat dan damai sejahtera dan pertumbuhan di dalam hayat ilahi. Kita harus mempunyai pengalaman ini hari demi hari. Hal yang pertama yang harus kita lakukan adalah membersihkan hal-hal yang lampau serta jalan hidup kita yang lama.
I. DASAR KITAB SUCI
Di dalam Alkitab tidak ada pangajaran yang jelas mengenai membersihkan hal-hal yang lampau, tetapi ada dua contoh yang sangat baik: yang pertama ditemukan di dalam Lukas 19:1-10--cerita tentang pemberesan Zakheus terhadap hal-hal yang lampau setelah keselamatannya; contoh yang lainnya ada di dalam Kisah para Rasul 19:18-19 pembersihan dari orang-orang Efesus terhadap hal-hal yang lampau setelah mereka diselamatkan.
Dalam Lukas 19 kita diberitahu bahwa begitu Zakheus diselamatkan, dia segera merasakan bahwa dia telah memeras orang lain di masa lampau dan oleh karenanya menjadi tidak benar; dia juga merasa bahwa dia adalah pecinta uang dengan cara hidup yang kikir. Maka dia mengatakan pada Tuhan bahwa jika dia telah mengambil sesuatu dari siapapun dengan tuduhan yang palsu, dia akan dengan rela mengembalikannya empat kali lipat. Lebih jauh lagi, dia ingin memberikan separuh dari barang-barangnya pada orang miskin. Ini adalah pembersihan dari hal yang lampau. Dalam Kisah Para Rasul 19 kita diberitahu bahwa banyak orang-orang kudus di Efesus, yang telah diselamatkan melalui pimpinan Paulus, datang untuk mengakui perbuatan-perbuatan mereka, banyak dari antara mereka yang dengan rela membawa kitab-kitab sihir mereka dan membakarnya di hadapan banyak orang.
Harga dari kitab-kitab yang dibakar itu adalah 50.000 keping perak. Karena setiap keping perak adalah senilai upah satu hari kerja, kita dapat melihat bahwa kitab-kitab ini sangat mahal harganya uang. Ini adalah pembersihan hal lampau mereka.
II. OBJEK DARI PEMBERSIHAN HAL-HAL MASA LAMPAU
Hal-hal yang lampau apakah yang perlu dibersihkan setelah kita diselamatkan? Objek-objek apakah yang harus diakhiri dan dibersihkan? Secara keseluruhan ada empat kategori: (1) Perkara-perkara yang tidak benar, (2) perkara-perkara yang tidak tepat, (3) perkara-perkara yang jahat dan yang tidak bersih, (4) cara hidup yang lama. Setelah kita diselamatkan, harus ada pembersihan dan pengakhiran dari perkara-perkara ini. Kadang-kadang kita mungkin masih melakukan hal-hal ini setelah kita diselamatkan. Prinsip yang sama ini diterapkan pada kedua kasus di atas.
A. Perkara-perkara yang Tidak Benar
Tidak benar berarti tidak adil, tidak sah. Segala sesuatu yang telah kita dapatkan di masa lampau adalah melalui cara-cara yang tidak adil, tidak sah, seperti mencuri, menipu, mengambil dengan paksa, mengganggu milik orang lain, menyimpan barang-barang orang lain yang hilang, tidak mengembalikan barang-barang yang sudah lama dipinjam, dan semua hubungan yang haram dengan orang lain dan perjanjian-perjanjian yang tidak adil terhadap orang lain seluruh perkara-perkara yang tidak benar ini adalah hal-hal yang seharusnya kita bersihkan.
B. Perkara-perkara yang Tidak Tepat
Tidak tepat dan tidak benar itu hampir mirip artinya, namun keduanya berbeda. Tidak benar berarti bahwa metoda untuk mendapatkan sesuatu, atau hubungan dari perkara tertentu itu, tidak adil atau tidak sah. Tidak tepat berarti bahwa sifat dari hal atau perkara tertentu itu tidak tepat atau tidak pantas. Sebagai contohnya, barang-barang yang digunakan dalam berjudi dan mabuk-mabukan dapat dibeli dan didapatkan melalui cara-cara yang sah; tetapi barang-barang ini digunakan untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Karena berjudi dan mabuk-mabukan adalah perkara yang tidak pantas, maka sifat dari hal-hal ini juga tidak tepat dan tidak pantas. Lebih jauh lagi, merokok, atau membaca novel-novel yang kotor bukanlah tidak benar, melainkan adalah abmoral dan tidak tepat. Semua perkara yang tidak tepat ini juga adalah hal-hal yang harus kita akhiri.
C. Perkara-perkara yang Jahat dan Kotor
Perkara-perkara yang jahat dan kotor adalah hal-hal yang berhubungan dengan berhala, seperti ukiran atau gambar berhala, pakaian yang bergambar naga; tulisan-tulisan dari agama-agama duniawi; hal-hal yang kotor, seperti buku-buku horoscope, jimat-jimat, dan lain-lain; juga hal-hal jahat dan kotor seperti menyembah berhala, menyembah nenek moyang, tenung, ramalan, dan lain-lain. Semuanya ini dibenci oleh Allah bahkan lebih dibenci daripada dua kategori terdahulu, dan semuanya ini tentu saja tidak dapat ditoleransi oleh hayat di dalam kita, yang adalah kudus, dan bersih. Oleh karena itu, hal-hal ini harus lebih diakhiri sepenuhnya.
D. Cara Hidup yang Lama
Cara hidup yang lama mengacu kepada seluruh perkara penghidupan lama kita pada saat kita belum diselamatkan. Setelah kita diselamatkan, kita tidak boleh hanya mengakhiri semua ketidakbenaran, ketidaktepatan, dan kejahatan dan perkara-perkara kotor, melainkan kita juga harus mengakhiri seluruh perkara penghidupan yang dulu dan memiliki permulaan yang baru.
Lalu bagaimana kita dapat mengakhiri penghidupan insani yang lama dan memulai penghidupan insani yang baru? Kita tidak mengatakan bahwa setelah seseorang dilahirulangkan dia harus merubah pekerjaannya berhenti sekolah, menutup usahanya, mengabaikan keluarganya dan pergi mengabarkan injil. Akhir dari penghidupan insani yang lama adalah berarti bahwa setelah seseorang dilahirulangkan ia dapat meneruskan profesinya yang semula, asal saja pekerjaan itu adalah layak, namun selera di dalamnya diubah, suasana hatinya diubah, dan perasaannya diubah. Apapun yang dilakukan seseorang sebelum ia dilahirulangkan, seleranya, suasana hatinya, dan perasaannya semuanya tertuju pada dunia, semuanya berkeinginan untuk mencapai sesuatu di dalam dunia. Semakin dia bekerja, semakin dia terikat oleh pekerjaannya, dan semakin dalam dia masuk ke dalamnya Tetapi setelah dilahirkan kembali, ketika hayat Allah masuk ke dalamnya, perasaan di dalam dirinya menjadi hambar, suasana hatinya berubah, dan perasaannya juga berubah. Dia bahkan mempunyai selera yang berbeda untuk makan, berpakaian dan keperluan hidup sehari-hari lainnya. Dalam hal ini, cara hidup lamanya telah diakhiri, dan kehidupan lamanya sampai kepada kesudahannya.
Banyak saudara-saudara muda kita yang telah diselamatkan pada waktu mereka masih sangat muda; sehingga mereka tidak mengalami hal-hal yang dilakukan oleh orang yang tidak belum beroleh selamat. Namun, cara penghidupan lama selalu mengintai kita, menunggu kesempatan untuk membawa kita ke bawah pengaruhnya leway godaan teman sebaya kita, seperti: lelucon untuk menyakiti perasaan seorang dengan yang lain, penyalah-gunaan bahasa yang kotor, kata-kata prokem, pecakapan dan sikap tentang hubungan laki-laki--perempuan, pakaian trendi, musik yang mengendalikan daging, mencemooh murid-murid yang memiliki nilai yang baik, sikap memberontak terhadap orang yang memegang otoritas, dll. Kita harus sangat waspada supaya tetap tidak terpengaruh oleh cara penghidupan orang-orang dunia lama. Kita harus membangun suatu cara hidup yang baru, suatu cara di dalam roh.
Pengakhiran cara hidup yang lama ini adalah suatu pengalaman awal dari seorang Kristen, namun hal ini mempunyai dampak yang dalam terhadap perjalanannya bersama Tuhan di masa yang akan datang. Ketika cara hidup yang lama kita berakhir, ambisi dan perhatian kita terhadap dunia akan berubah, penilaian dan sudut pandang kita terhadap orang-orang dan segala perkara juga berubah, dan tujuan kehidupan kita berbeda dengan sebelumnya. Demikianlah kita dapat terlepas dari segala kecemasan, meninggalkan segala beban kita di belakang, dan menjalani pertandingan di dalam jalan Tuhan.
III. DASAR DARI PEMBERSIHAN HAL-HAL YANG LAMPAU
Pembersihan hal-hal yang lampau bukanlah berdasarkan atas tuntutan peraturan-peraturan yang di luar, tetapi berdasarkan atas perasaan yang di dalam. Meskipun kita sebelumnya telah menunjukkan empat perkara yang harus diakhiri, namun hal-hal ini hanya dapat membuat kita mengenal prinsip-prinsip. Hal-hal tersebut bukanlah peraturan-peraturan yang menuntut agar kita mengakhiri perkara-perkara demikian. Ketika kita mempraktekkan pembersihan hal-hal yang lampau, apa yang perlu diakhiri sesungguhnya tergantung pada perasaan hayat yang di dalam. Oleh karena itu, perasaan hayat yang di dalam adalah dasar dari pembersihan hal-hal kita yang lampau kita.
Kita mengetahui bahwa semua agama di dunia ini dibangun atas undang-undang agama mereka yang bermacam-macam. Pengikut-pengikut mereka hidup dan berperi laku sesuai dengan peraturan-peraturan ini. Tetapi keselamatan Tuhan tidaklah seperti itu. Keselamatan Tuhan, melalui kelahiran kembali oleh Roh Kudus, memberikan kepada kita suatu hayat yang baru. Karena kita telah mempunyai hayat baru yang demikian, kita sekarang dapat hidup dan berperilaku di hadirat Allah melalui perasaan dari hayat yang baru ini.Ini adalah prinsip semua penghidupan kita sebagai orang Kristen. Pembersihan kita akan hal-hal yang lampau juga adalah berdasarkan atas perkara ini. Ketika seseorang dilahirkan kembali dan dan memperoleh hayat Allah, hayat ini bergerak di dalam dirinya, menyebabkan dia merasakan bahwa pada masa lampaunya ada banyak perkara-perkara yang tidak benar, tidak tepat, dan murtad, dan bahwa semua perkara ini dan bahkan cara hidup lamanya semuanya bertentangan dengan keadaannya sekarang sebagai orang Kristen. Oleh karena itu, dia perlu membereskan hal-hal yang lampaunya menurut perasaan-perasaan yang di dalamnya.
Contoh tentang Zakheus dan orang-orang Kristen di Efesus yang membersihkan hal-hal yang lampau mereka juga telah menunjukkan kepada kita bahwa baik Tuhan Yesus maupun Rasul Paulus telah dengan jelas mengajarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembersihan hal-hal yang lampau; mereka tidak memberikan tuntutan peraturan-peraturan tentang apa yang harus dilakukan seseorang untuk mengakhiri hal-hal lampaunya. "Pengakhiran" oleh Zakheus dan orang-orang Kristen di Efesus adalah sebagai berikut, ketika keselamatan Tuhan datang kepada mereka dan hayat Tuhan masuk ke dalam mereka, mereka memiliki perasaan terhadap ketidakbenaran dan terhadap hal-hal yang lampau yang tidak bersih dan terhadap cara hidup yang lama mereka; maka mereka mengakhiri semuanya itu. "Akhir" daripada mereka membuktikan bahwa perkara ini bukanlah berdasarkan atas pengaturan dan pengajaran yang diluar, tetapi berdasarkan atas perasaan hayat yang di dalam.
Karena pengakhiran perkara hal-hal yang lampau itu berdasarkan atas perasaan hayat yang di dalam, maka kita harus terus menerus memegang prinsip ini ketika kita membimbing orang lain untuk mengakhiri hal-hal yang lampau mereka. Jangan sekali-kali memberi mereka peraturan-peraturan yang di luar, atau mengajar mereka bahwa mereka harus mengakhiri perkara ini dan itu, melainkan arahkanlah perasaan hayat yang ada dalam mereka dan tunjukkanlah hal itu kepada mereka. Pertama-tama kita harus membuat orang lain mengenal bahwa hayat Allah berada dalam mereka dan membimbing mereka untuk mengenal perasaan hayat ini. Kemudian, dengan bantuan ministri Firman itu, bahan bacaan rohani, dan kesaksian-kesaksian orang-orang kudus tentang bagaimana mereka membersihkan perkara lampau, kita membuat mereka juga memiliki perasaan atau perasaan yang lebih dalam mengenai hal-hal yang perlu mereka akhiri. Begitu perasaan ini mulai timbul dan semakin dalam di dalam mereka, kita dapat membimbing mereka untuk membersihkan hal-hal yang lampau mereka menurut perasaan mereka sendiri. Perkara pembersihan ini sesuai dengan prinsip keselamatan Tuhan dan dapat membantu orang lain untuk benar-benar bertumbuh di dalam hayat.
IV. TINGKAT PENGAKHIRAN HAL-HAL YANG LAMPAU
Sampai seberapa jauhkah kita harus mengakhiri hal-hal yang lampau? Sampai tingkat manakah kita harus melaksanakannya? Tingkat ini diekpresikan di alam Roma 8:6 sebagai "hayat dan damai sejahtera." Kita telah melihat bahwa akhir dari hal-hal yang lampau adalah berdasarkan perasaan hayat yang di dalam. Perasaan hayat yang di dalam ini adalah suatu perasaan yang diberikan kepada kita melalui pengurapan Roh Kudus yang di dalam. Karena pengakhiran hal-hal yang lampau kita adalah berdasarkan atas perasaan hayat yang di dalam kita, maka perosedurnya sama dengan yang disinggung dalam Roma 8:5-6, yang disebut, mengikuti Roh itu, atau memikirkan Roh itu. Maka, hasilnya akan sama, yaitu "hayat dan damai sejahtera." Maka, hayat dan damai sejahtera adalah tingkat yang harus kita capai dalam membersihkan hal-hal yang lampau.