MENTAATI PENGAJARAN PENGURAPAN
Pembacaan Alkitab
1 Yoh. 2:20, 27; Yoh. 1:1, 14; 1 Kor. 15:45b; Kel. 30:23-25; Rm. 8:2, 4, 6, 13
Garis Besar
I. Arti pengurapan
A. Roh Kudus
B. Gambaran Perjanjian Lama
C. Gerakan Roh Kudus untuk menguduskan kita
II. Pengurapan dan tujuan keselamatan
III. Pengurapan dan persekutuan hayat
IV. Pengurapan dan penerapan darah
V. Mengenal pengajaran pengurapan
A. Pengurapan
B. Pengertian pikiran
C. Perasaan hati nurani
VI. Taat kepada pengajaran pengurapan
A. Berjalan menurut Roh itu
B. Tinggal dalam persekutuan
C. Tinggal dalam hadirat Allah
D. Hasilnya
Mentaati pengajaran pengurapan adalah pengalaman kehidupan rohani kita yang penting dan dalam. Pelajaran ini berhubungan dengan segala pemberesan yang kita alami dalam sisi yang negatif, dan berhubungan dengan pembangunan dalam sisi yang positif. Maka, ketaatan kita terhadap pengurapan itu adalah rahasia dari pertumbuhan hayat kita. Bila kita mendambakan untuk mengikuti Tuhan di dalam jalan hayat, kita harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang menyeluruh terhadap pelajaran ini.
I. ARTI PENGURAPAN
Apakah arti pengurapan? Kita dapat mengerti akan hal ini dari istilahnya sendiri dan dari asal-usulnya dalam Alkitab. Pertama-tama, marilah kita melihat arti dari istilah ini. Bahasa Yunani untuk kata pengurapan dalam I Yohanes 2:27 bukanlah suatu kata benda, melainkan suatu kata kerja yang berhubungan dengan sejenis pergerakan. Pengurapan bukanlah suatu minyak yang berada di dalam keadaan yang diam, tidak aktif atau tidak bergerak, pengurapan adalah suatu minyak yang berada di dalam keadaan bergerak dan aktif, melibatkan pergerakan pengurapan. Jadi, pengurapan itu mengacu kepada apa? Semua orang yang mempelajari Alkitab setuju bahwa pengurapan itu mengacu kepada pergerakan Roh Kudus, dan bahwa pengurapan di dalam Perjanjian Lama menggambarkan Roh Kudus.
A. Roh Kudus
Siapakah Roh Kudus itu? Banyak orang yang salah pengertian, menyangka bahwa Roh Kudus adalah suatu kekuatan/kuasa atau sesuatu yang diberikan oleh Allah untuk melakukan hal-hal yang luar biasa atau hal-hal yang berbau mistik. Bukan. Roh Kudus adalah kesempurnaan akhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Allah yang kekal diwujudkan dalam Firman yang kekal (Yoh. 1:1). Firman yang kekal ini adalah Allah yang menjadi daging dan disebut Yesus Kristus (Yoh. 1:14). Allah yang lengkap ini sebagai seorang manusia sejati menghidupi kehidupan insan yang sempurna (2 Kor. 5:21; Ibr. 4:15). Dia naik ke atas salib untuk menyingkirkan semua hal negatif di seluruh alam semesta (Ibr. 2:14) dan untuk membebaskan hayatNya kepada semua umat pilihan dan tebusanNya (Yoh. 12:24). Di dalam kebangkitan Dia menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45), yaitu, Roh Kudus. Maka, bila kita berbicara mengenai Roh Kudus, kita berbicara tentang Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh yang telah melalui proses untuk disempurnakan di dalam Roh itu.
B. Gambaran Perjanjian Lama
Roh Kudus ini digambarkan oleh minyak majemuk di dalam Perjanjian Lama. Keluaran 30:23-25 menggambarkan bagaimana minyak majemuk dibuat. Minyak ini dibuat dari empat macam rempah-rempah -mur, kayu manis, tebu, kayu teja ditambahkan kepada minyak zaitun satu hin. Mur adalah rempah yang manis yang digunakan untuk pemakaman, jadi mur menggambarkan kematian Tuhan yang manis. Kayu manis mempunyai daya penyembuh, sehingga ia menggambarkan khasiat kematianNya. Tebu adalah suatu batang yang tumbuh di tempat berlumpur dan tumbuhnya menjulang tinggi ke atas, oleh karena itu, ia pasti menggambarkan kebangkitan Tuhan. Kayu teja, rempah yang terakhir, menangkal serangga-serangga dan terutama ular-ular. Ia mengingatkan kita pada kekuatan kebangkitanNya.
Karena minyak majemuk di dalam Perjanjian Lama menggambarkan Roh Kudus, maka kita dapat menyebut Roh itu sebagai Roh majemuk. Dengan Roh majemuk itu, kita memiliki kematian Tuhan yang manis bagi kita. Khasiat kematianNya selalu mematikan seluruh elemen negatif di dalam diri kita (Rm. 8:13). Roh ini juga membawa kepada kita kebangkitanNya dengan hayat dan kekuatanNya. Melalui kebangkitan ini kita dapat mengalahkan semua musuh kita, khususnya Satan, si ular. Haleluya! Bukan hanya itu, Roh itu juga membawa masuk ke dalam kita segala apa adanya Allah kasih, terang, kekudusan, kebenaran, dan lain-lain -dan apa yang dimiliki, didapat dan dicapai oleh Allah. Sungguh Roh yang ajaib berhuni di dalam kita.
C. Pergerakan Roh Kudus untuk Menguduskan Kita
Karena Roh itu merupakan suatu persona yang hidup, ia selalu bergerak. Oleh karena itulah mengapa di dalam 1 Yohanes pasal dua, Ia tidak hanya disebut sebagai minyak, melainkan yang mengurapi. Kita pada dasarnya tidaklah kudus. Dialah yang kudus. Dia selalu bergerak di dalam kita untuk menguduskan kita, yaitu, untuk memisahkan kita dari perkara-perkara duniawi yang umum, sehingga kita dapat diisi oleh sifat kudus Allah. Dia mematikan segala sesuatu di dalam kita yang bukan dari Allah dan bukan untuk Allah. Kemudian Dia menambahkan kepada kita segala apa adanya Allah. Maka, mengikuti pengajaran pengurapan adalah sangat penting untuk pengalaman dan pertumbuhan hayat kita.
II. PENGURAPAN DAN TUJUAN KESELAMATAN
Inti tujuan keselamatan Allah adalah untuk menggarapkan DiriNya sendiri ke dalam manusia dan berbaur menjadi satu dengan mereka. Demikian juga, fungsi pengurapan adalah untuk mengurapkan Allah ke dalam kita, sehingga kita dapat berbaur dengan Allah menjadi satu. Maka, tujuan keselamatan Allah dapat tercapai melalui pengurapan. Bila tidak ada pengurapan tujuan keselamatan tidaklah akan pernah dapat tercapai. Jadi pengurapan itu adalah suatu faktor yang sangat penting dalam keselamatan Allah.
Ketika Allah Tritunggal masuk ke dalam kita sebagai Roh Kudus, Dia berbaur dengan kita. Maka, tujuan keselamatanNya pembauran Allah dengan manusia dirampungkan di dalam kita secara praktis.
Walaupun demikian, pekerjaan Allah untuk membaurkan DiriNya dengan manusia bukanlah suatu proses yang instan. Sejak kita dilahirkan kembali dan Roh Kudus masuk ke dalam kita, pembauran ini telah terus berlangsung secara berkesinambungan. Di dalam seumur hidup seorang Kristen, semua pekerjaan Roh Kudus atas dirinya adalah untuk memenuhi pekerjaan pembauran Allah dan manusia.
Bagaimanakah cara Roh Kudus berbaur dengan kita? Dia melaksanakannya dengan mengurapi kita seperti minyak. Kita telah mengatakan bahwa pergerakan Roh Kudus berarti adalah pengurapan. Roh Kudus tidak pasif di dalam kita, melainkan senantiasa bergerak dan aktif. Pergerakan dan aktifitas ini adalah suatu pengurapan, yang senantiasa mengurapkan Allah ke dalam kita. Maka semakin banyak Roh Kudus mengurapi kita, semakin banyak Allah dapat berbaur dengan kita.
III. PENGURAPAN DAN PERSEKUTUAN HAYAT
Ada hubungan yang sangat dekat antara pengurapan dan persekutuan hayat. Persekutuan hayat adalah pengaliran hayat, pengaliran bersama antara Allah dan semua yang memiliki hayatNya. Pengurapan adalah pembauran Allah dengan semua orang yang telah menjadi milikNya. Tujuan pengaliran hayat adalah untuk mengalirkan Allah ke dalam kita, sedangkan tujuan pengurapan adalah untuk mengurapkan Allah ke dalam kita. Pengurapan dan persekutuan adalah dua hal dari satu aspek yang sama, kedua aspek ini berhubungan sangat erat dan sulit dipisahkan.
Marilah kita sekarang melihat mengapa pengurapan dan persekutuan hayat adalah dua aspek dari satu hal yang sama. Kita tahu bahwa Allah itu hayat, dan Allah adalah Roh itu. Dalam hal Allah sebagai hayat, Dia senantiasa mengalir ke dalam kita ini adalah persekutuan hayat. Dalam hal Allah sebagai Roh itu, Dia senantiasa bergerak di dalam kita ini adalah pengurapan. Walaupun demikian, hayat dan Roh itu tak dapat dipisahkan, karena Roh itu memiliki hayat, dan hayat itu berada dalam Roh itu. Hayat adalah isi dari Roh itu, dan Roh itu adalah realitas hayat. Kedua-duanya adalah Roh hayat (Rm. 8:2), yang adalah two-in-one dan tidak dapat dipisahkan. Maka, persekutuan hayat dan pengurapan juga tidak dapat dipisahkan, mereka adalah dua aspek dari satu hal
IV. PENGURAPAN DAN PENERAPAN DARAH
Ada hubungan yang sangat dekat juga antara pengurapan dan penerapan darah. Tujuan pengurapan adalah untuk mengurapkan Allah ke dalam kita, sehingga kita dapat memiliki persekutuan dengan Allah dan berbaur dan bersatu dengan Allah. Ketika membicarakan tentang mempertahankan persekutuan, Perjanjian Baru mengungkapkan perkara pemercikan darah dan penerapan minyak. Pemercikan darah adalah untuk membersihkan segala hal yang seharusnya tidak ada. Pengurapan minyak adalah untuk mengurapi kita dengan elemen Allah, yaitu dengan Allah sendiri. Ini sama seperti seseorang yang sedang mengecat mebel. Sebagai hasil dari tindakan pengecatan, cat itu diterapkan pada mebel tersebut. Roh itu yang datang kepada manusia adalah Allah yang datang kepada manusia. Dan oleh pergerakan Roh itu dan pengurapan di dalam manusia, Allah digarapkan ke dalam manusia.
Maka, pada sisi yang negatif, darah itu membersihkan kita dari semua hal yang seharusnya tidak kita miliki. Pada sisi yang positif minyak mengurapi kita dengan hal yang seharusnya kita miliki. Hal yang seharusnya tidak kita miliki adalah dosa-dosa, dan hal yang seharusnya kita miliki adalah Allah sendiri. Oleh pembersihan dan pengurapan darah dan minyak secara berkesinambungan, kita senantiasa mempertahankan persatuan kita dengan Tuhan.
Semakin banyak kita menerapkan darah dan membiarkan darah itu membasuh kita secara berkesinambungan, semakin banyak kita akan mengalami pengurapan dan merasakan kehadiran dan pergerakan Allah; maka, kita akan memiliki persekutuan dengan Allah. Oleh karena itu, pengurapan dan penerapan darah juga tidak dapat dipisahkan.
VI. MENGENAL PENGAJARAN PENGURAPAN
A. Pengurapan
Pengajaran pengurapan datang dari pengurapan dan merupakan hasil alamiah dari diurapinya kita. Ketika pengurapan tersebut bergerak di dalam kita, di satu pihak, pengurapan itu mengurapkan Allah masuk ke dalam kita, dan di pihak lain pengurapan itu menyingkapkan pikiran Allah kepada kita. Maka, pengajaran penguran tersebut memiliki dua aspek: pertama, melalui pengurapan kita mendapatkan diri Allah yang lebih banyak, komponen Allah yang lebih banyak; kedua, melalui pengajaran tersebut kita mengenal pikiranNya dan tinggal di dalam Dia.
Dari kedua aspek ini, memiliki diri Allah sendiri adalah aspek yang utama, dan mengenal pikiran Allah adalah aspek yang kedua. Lebih jauh lagi, kita harus memiliki diri Allah sendiri terlebih dahulu, barulah kemudian kita mengenal pikiranNya. Setiap kali kita mengalami pengurapan tersebut di dalam kita, pertama-tama kita mendapatkan diri Allah sendiri lebih banyak, komponen Allah yang lebih banyak; ini, kemudian, memberikan suatu hasil -menyebabkan kita mengenal apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Kita tidak mungkin mengenal kehendak Dia tanmpa memiliki diriNya sendiri. Maka, pengajaran pengurapan adalah fungsi yang berada di bawah pengurapan.
B. Pengertian Pikiran
Walaupun pengajaran pengurapan berasal dari pengurapan, namun keduanya menempati bagian yang berbeda dalam diri kita. Pengurapan itu ada di dalam roh kita, sedangkan pengajaran pengurapan itu ada di dalam pikiran kita. Mengapa pengurapan itu berada di dalam roh kita? Karena Roh Kudus berhuni di dalam roh kita; maka, pengurapan yang berasal dari pergerakan Roh Kudus benar-benar berada di dalam roh kita. Ketika roh kita didorong oleh Roh Kudus, kita akan bisa menyadari adanya Roh Kudus. Kesadaran yang demikian adalah perasaan dari pengurapan itu. Pada saat ini, walaupun pikiran kita tidak diajarkan tetapi roh kita dapat meng-arti-kan perasaan ini. Kita dapat mengerti artinya dan kemudiam mendapatkan pengajaran yang berasal dari pengurapan tersebut. Maka, pengajaran pengurapan itu berada di dalam pikiran kita dan merupakan suatu perkara mengenai pemahaman dari pikiran kita. Maka, jika kita damba untuk mengikuti pengajaran pengurapan, kita bukan saja harus memiliki perasaan yang tajam di dalam roh kita, tetapi juga harus memiliki pikiran yang berpengalaman dan yang rohani. Pikiran yang demikian terdiri dari pembaharuan pikiran, latihan pemahaman kita dalam perkara-perkara rohani, dan pengumpulan pengetahuan rohani. Ini memerlukan kita lebih mengasihi Tuhan, mencari pengalaman-pengalaman rohani, tinggal di dalam persekutuan, mempelajari Alkitab, membaca buku-buku rohani, dan mendengarkan berita-berita. Melalui hal-hal ini, pikiran kita akan menerima penyingkapan rohani dan diperkaya dalam pengetahuan; sehingga dapat memahani arti dari pengurapan di dalam roh kita. Sebagai konsekuensinya, kita akan menyadari pengajaran pengurapan tersebut.
Tanpa pengetahuan yang menyeluruh akan Firman, Anda tidak akan dapat mengerti banyak tentang apa yang diajarkan oleh pengurapan. Dalam pemulihan Tuhan, setiap orang kudus harus dibangun dengan pengetahuan yang penuh tentang Alkitab. Secara bertahap kemampuan Anda untuk mengerti dan mengartikan hal-hal rohani akan berkembang. Hal ini akan memberikan suatu sarana pada pengurapan untuk berbicara pada Anda.
C. Perasaan Hati Nurani
Kita telah mengatakan bahwa perasaan hati nurani yang normal berasal dari Roh Kudus yang berada di dalam roh kita dan menembus pikiran kita untuk menerangi kita. Penerangan ini adalah juga suatu jenis dari pengurapan Roh Kudus sebagai minyak urapan itu. Jadi, perasaan hati nurani dan pengajaran pengurapan berasal dari perasaan pengurapan. Pengurapan tersebut, setelah melewati intuisi roh dan setelah dimengerti oleh pikiran, menjadi pengajaran pengurapan. Walaupun demikian pengurapan itu, setelah melewati hati nurani dan dimengerti pikiran, menjadi perasaan hati nurani; inilah yang dimaksud dengan hubungan perasaan hati nurani dengan pengajaran urapan.
Walaupun demikian, ada perbedaan antara pengajaran pengurapan dengan perasaan hati nurani. Pertama-tama, hati nurani adalah suatu organ untuk membedakan benar dan salah. Perasaan hati nurani yang berasal dari pengurapan itu juga terbatas pada benar dan salah, baik dan jahat. Tetapi pengajaran pengurapan, yang datang dengan jalan pengurapan dan dirasakan secara langsung di dalam roh kita meliputi ruang lingkup diri Allah sendiri. Pengajaran pengurapan ini melebihi benar dan salah dan secara langsung menjamah kehendak diri Allah sendiri. Jika kita hanya memperhatikan perasaan hati nurani, kita hanya dapat menjadi orang Kristen yang tanpa cacat. Kita harus melebihinya dan hidup di dalam pengajaran pengurapan; kemudian kita dapat menjamah pikiran Allah dan hidup di dalam Allah.
VI. TAAT KEPADA PENGAJARAN PENGURAPAN
Sehubungan dengan pengajaran pengurapan Roh Kudus melaksanakan pengurapan, dan kita memperhatikan ketaatan. Jika tidak ada ketaatan, sulit bagi kita untuk memiliki pengalaman dari pengajaran ini.
A. Berjalan Menurut Roh itu
Jika kita damba untuk memiliki pengalaman untuk berjalan menurut Roh itu, kita perlu mengenal apakah pengajaran pengurapan itu dan apakah perasaan yang berasal dari pergerakan yang di dalam Roh Kudus itu. Kita perlu mengenal dan hidup di dalam pemahaman akan perasaan ini. Hanya dalam perasaan inilah kita dapat berjalan menurut roh. Mengikuti Tuhan berarti mengikuti Roh itu, yang tepatnya berarti mematuhi pengajaran pengurapan. Kita bukan mengikuti Tuhan yang objektif atau yang di luar, melainkan Dia yang adalah subjektif dan yang hidup di dalam kita. Cahaya wajahNya dan manifestasi diriNya sendiri adalah pengurapan itu; dimana kehendak yang disingkapkanNya dalam terang wajahNya adalah pengajaran pengurapan. Jika kita mematuhi pengajaran ini, kita mematuhi Tuhan. Jika kita mengikuti pengajaran ini, berarti kita mengikuti Tuhan.
B. Hidup dalam Persekutuan
Sama seperti hayat berada dalam Roh Kudus, demikian juga persekutuan hayat adalah juga melalui pergerakan atau pengurapan Roh Kudus. Setiap pengurapan dari minyak urapan mengurapkan Tuhan ke dalam kita dan juga mengurapkan kita masuk ke dalam Tuhan; maka pengurapan ini menciptakan suatu aliran hayat antara Tuhan dan kita. Oleh karena itu, ketika kita mengalami pengurapan, di sana juga ada persekutuan hayat.
Jika persekutuan kita dengan Tuhan hanya terbatas pada waktu kita akan berdoa secara pribadi atau bermunajad pagi, persekutuan kita masih sangat dangkal. Kita perlu hidup dalam persekutuan setiap saat dan berada dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan, bahkan ketika kita sangat sibuk; sehingga persekutuan kita akan menjadi dalam. Untuk hidup dalam persekutuan, kita harus hidup dalam persekutuan dan selalu merasakan pengurapan itu. Penghidupan dalam pengurapan ini adalah mematuhi pengajaran pengurapan. Bila kita mematuhi pengajaran pengurapan secara konstan, kita dapat secara konstan mengalami pengurapan dan hidup dalam persekutuan. Kalau tidak, kita tidak dapat mengalami pengurapan dan tinggal dalam persekutuan.
C. Hidup dalam Hadirat Allah
Menurut kebenaran, Allah selalu beserta dengan kita sejak kita diselamatkan. HadiratNya (kehadiranNya) tidak pernah meninggalkan kita, dan kita tidak akan pernah kehilangan hadiratNya. Hadirat ini adalah Roh Kudus. Roh Kudus di dalam kita adalah hadirat Allah. Maka, hadirat ini bukanlah suatu kondisi atau suatu perkara, melainkan suatu Persona (Pribadi). Persona ini adalah Roh Kudus, yang keberadaanNya di dalam kita adalah hadirat Allah. Sejak hari kita diselamatkan, hadirat ini tidak pernah hilang.
Walaupun demikian, menurut pengalaman kita, kita tidak selalu menyadari hadiratNya. Kadang-kadang, kelihatannya hadiratNya telah menghilang dan kita telah kehilangan terang wajahNya. Semuanya ini tergantung pada pengurapan. Tanpa pengurapan, hadirat Allah tidak dapat menjadi nyata di dalam kita, dan kita tidak dapat merasakan terang dari wajahNya. Dengan pengurapan, realitas hadiratNya dan perasaan terang dari wajahNya akan mengikuti. Maka, oleh pengurapan kita dapat mengalami hadirat Allah dalam cara yang praktis.
D. Hasilnya
Karena pengurapan adalah vital bagi hadirat Allah, kita perlu mematuhi pengajaran itu sehingga kita dapat mengalami lebih banyak pengurapan. Kemudian kita dapat di dalam dan di setiap saat dan setiap tempat hidup dalam hadirat Allah, hidup dalam terang wajahNya dan menjamah hadiratNya dari waktu ke waktu. Pada saat ini kita dapat memasuki realitas kidung yang mengatakan :
Tirai terb'lah, ku masuk,
MuliaNya tak terhingga;
Kini ku hidup di depan Sang Raja!
(Kidung #266)
Ketika manusia melewati tirai daging dan hidup dalam hadirat Allah, dia masuk ke dalam Ruang Maha Kudus dan hidup di dalam roh, memiliki persekutuan saling berhadapan wajah dengan Allah. Pada saat inilah pengalaman rohani kita mencapai puncaknya.
Sebagai kesimpulan, kunci dari segala kehidupan rohani kita adalah pengurapan. Kita seharusnya secara terus menerus menjamah pengurapan itu dan mematuhi pengajarannya. Bila kita hidup dalam pengajaran pengurapan, kita berjalan menurut roh, hidup di dalam persekutuan Tuhan dan di dalam hadirat Allah. Jika suatu kali kita kehilangan pengajaran pengurapan itu, pimpinan Roh Kudus menjadi hilang, persekutuan kita dengan Tuhan berhenti, dan terang dalam wajah Allah hilang; sebagai konsekuensinya, kita tidak mungkin hidup dalam hadiratNya. Maka, pengajaran pengurapan adalah benar-benar pusat dari segala pengalaman rohani dan juga merupakan suatu bagian yang sangat ajaib dari keselamatan Allah. Semoga kita menaruh perhatian yang lebih banyak terhadapnya dan mengalaminya lebih banyak!