MEMELIHARA SELURUH DIRI KITA BAGI HAYAT
Pembacaan Alkitab
1 Tes. 4:4; 1 Kor. 12:3; 1 Tes. 5:16-19; 2 Kor. 7:1; Kis. 24:16; 1 Yoh. 1:7-9; Why. 12:10-11; Rm. 6:6; 2 Tim 2:22
Garis Besar
I. Memelihara roh kita bagi hayat
A. Melatih roh kita untuk berkontak dengan Allah.
B. Menjaga agar roh kita hidup.
C. Menjaga roh kita dari kecemaran.
D. Membereskan hati nurani kita agar tetap hidup.
II. Membersihkan urat-urat nadi hati psikologis kita
A. Mengenai pikiran.
B. Mengenai tekad.
C. Mengenai emosi.
III. Memelihara tubuh kita
Haleluya! Kita telah diselamatkan dan dilahirulangkan. Hukum hayat dan terang hayat ada di dalam kita. Kita memiliki perasaan hayat dan dibawa masuk ke dalam persekutuan hayat. Kita nampak bahwa kita telah dibeli oleh dan bagi Allah, dan kita telah menkonsikrasikan diri kita bagi kepuasan Allah karena kasihNya. Kelihatannya seolah-olah kita telah memiliki segala yang kita perlukan dan telah melakukan segala sesuatu yang perlu dikerjakan. Walaupun demikian, masih ada banyak hal lain untuk kehidupan keKristenan kita. Kita mungkin telah memiliki segala sesuatunya, tetapi sekarang adalah saatnya untuk mengalami hal-hal ini satu persatu, untuk bertumbuh di dalam hayat, dan untuk dewasa di dalam hayat.
Dalam pelajaran ini, kita akan mempelajari bagaimana caranya memelihara seluruh diri kita, roh dan sukma dan tubuh, sehingga kita dapat menjadi persona hayat. Melalui kejatuhan, tubuh kita telah dirusak, sukma kita telah dicemari, dan roh kita telah dimatikan. Dalam keselamatan penuh Allah, seluruh diri kita diselamatkan dan dibuat lengkap dan sempurna. Untuk ini, Allah memelihara roh kita dari segala elemen yang mematikan (Ibr. 9:14), sukma kita dari ke-alamiah-an dan ke-tua-an (Mat. 16:24-26) dan tubuh kita dari perusakan dosa (1 Tes. 4:4; Rm. 6:6). Pemeliharaan yang sedemikian oleh Allah dan pengudusanNya yang menyeluruh menopang kita untuk menghidupi kehidupan yang kudus menuju kedewasaan sehingga kita boleh berjumpa dengan Tuhan dalam parousiaNya (kedatangan yang kedua kali).
I. MEMELIHARA ROH KITA BAGI HAYAT
A. Melatih Roh Kita untuk Berkontak dengan Allah
Roh kita terdiri dari 3 bagian: hati nurani, persekutuan, dan intuisi. Roh kita adalah terutama bagi kita untuk bersekutu dengan Allah. Ketika kita memiliki persekutuan dengan Allah, kita berkontak dengan Dia. Kontak dengan Allah ini secara spontan memberikan kita suatu perasaan Allah, suatu kesadaran dari Allah. Intuisi merupakan perasaan dan kesadaran langsung yang datang dari Allah. Melalui intuisi ini kita dapat mengetahui apakah kita benar atau salah. Jika kita salah, kita akan dikutuk oleh hati nurani kita. Tetapi jika kita benar, kita akan dibenarkan oleh hati nurani kita. Hati nurani kita, oleh karena itu, dapat menuduh dan mengutuk atau memaafkan dan membenarkan. Cara untuk memelihara roh kita pertama-tama adalah dengan memeliharanya agar memiliki persekutuan dengan Allah. Bila kita gagal memelihara roh kita dengan cara ini, kita akan meninggalkannya dalam suatu situasi yang mematikan.
Ketika kita umat Kristen datang bersama-sama dalam suatu sidang gereja, kita perlu berfungsi. Kita perlu berdoa, memuji, atau memberi kesaksian. Ini adalah untuk melatih roh kita dan tidak mengijinkannya untuk tetap tertidur atau dalam suatu kondisi yang mematikan. Tetapi sungguh sayang, banyak kaum imani tidak memelihara roh mereka dengan melatihnya melalui cara ini. Malahan, mereka membiarkan roh mereka untuk tetap tertidur. Seolah-olah mereka meninggalkan roh mereka dalam kuburan. Apakah roh Anda ada dalam kuburan sekarang? Oh Tuhan Yesus! 1 Korintus 12:3 mengatakan, "Tidak ada seorangpun dapat mengatakan, Tuhan Yesus, kecuali di dalam Roh Kudus." Serulah Tuhan untuk melatih roh Anda menjadi hidup.
B. Menjaga agar Roh Kita Hidup
Rasul Paulus berkata, "Bersukacitalah senantiasa; tetaplah berdoa; mengucap syukurlah dalam segala hal; sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Jangan padamkan Roh itu." (I Tes. 5:16-19). Untuk bersukacita, berdoa, dan mengucap syukur adalah melatih roh kita. Ketika kita melatih roh kita dengan cara ini, kita menjadikannya hidup. Melatih roh untuk menjaganya tetap hidup adalah cara yang pertama untuk memeliharanya.
Karena kejatuhan, roh kita telah dimatikan. Roh kita, oleh karena itu, harus melampaui kematian. Roh dari seorang yang belum percaya adalah mutlak mati. Kebanyakan dari mereka yang berada di sekitar Anda di sekolah, pekerjaan, atau lingkungan Anda adalah sama sekali mati dalam rohnya. Apakah Anda telah dikuduskan, disisihkan, dari situasi yang mematikan roh? Kita harus bergumul untuk menyelamatkan diri kita dari situasi yang semacam itu dengan melatih roh kita. "Pujilah Tuhan, panggilah namaNya, beritahukanlah perbuatanNya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah bahwa namaNya tinggi luhur" (Yes. 12:4). Dengan melakukannya, kita menarik roh kita keluar dari kematian dan bekerja sama dengan pergerakan Allah Tritunggal dalam menguduskan kita. Dia ingin menyisihkan kita semua dari mereka yang rohnya telah dimatikan. Karena kita telah dilahirulangkan, kita perlu berbeda. Kita perlu memperlihatkan bahwa roh kita hidup, bahwa roh kita tidak dimatikan. Dengan demikian, roh kita akan bersukacita, berdoa, dan mengucap syukur pada Tuhan.
C. Menjaga Roh Kita dari Kecemaran
Cara lain untuk memelihara roh kita ditemukan dalam 2 Korintus 7:1. Dalam ayat ini Paulus berkata, "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita membasuh diri kita dari semua pencemaran daging dan roh, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah." Ayat ini menunjukkan bahwa kita harus menjauhkan diri dari segala pencemaran daging dan roh. kita perlu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mencemarkan roh kita. Ini adalah alasan mengapa kita harus menjaga mata kita agar tidak melihat hal-hal yang jahat, seperti gambar-gambar yang kotor. Gambar-gambar yang demikian tidak hanya mencemarkan mata Anda; mereka juga mencemarkan roh Anda. Sebagai hasilnya, Anda tidak akan dapat berdoa kecuali pertama-tama memohon pada Tuhan untuk membasuh Anda dari segala kecemaran.
D. Membereskan Hati Nurani Kita agar Tetap Hidup
Walaupun kita mungkin mencoba untuk memelihara roh kita, kita mungkin sering menjadi mati atau cemar. Hati nurani kita, bagian yang paling jelas dari roh kita, akan memiliki perasaan-perasaan kuatir. Perasaan-perasaan ini menunjukkan pada kita bahwa kita memiliki suatu masalah dengan Allah, sehingga persekutuan hayat terputus. Kita bahkan mungkin mencoba untuk melatih roh kita, namun, kita tetap tidak akan memiliki kelegaan apapun. Untuk memulihkan persekutuan agar dapat menikmati hayat kembali, kita harus membereskan hati nurani kita sampai hati nurani kita murni (Kis. 24:16). Jalan untuk membereskan hati nurani kita adalah dengan bertobat dan mengaku dosa (1 Yoh. 1:7-9), sampai persekutuan hayat dengan hasil damai sejahtera dipulihkan.
Perasaan hati nurani ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian: pertama adalah perasaan terhadap dosa. Jika kita berdosa terhadap Allah atau terhadap manusia, hati nurani kita akan dengan segera memiliki perasaan tertuduh. Kategori kedua adalah perasaan terhadap dunia. Jika kita mengasihi perkara-perkara lain atau diduduki oleh segala sesuatu di luar Allah, hati nurani juga akan memberi kita suatu perasaan yang tertuduh. Kategori ketiga adalah perasaan sehubungan dengan apapun juga yang terlepas dari dosa-dosa dunia. Ada beberapa perkara tertentu yang bukan dosa maupun dari dunia, tetapi menyebabkan hati nurani kita kehilangan perasaan damai sejahtera. Sebagai contoh, kekendoran dan ketidaktepatan dalam penghidupan kita sehari-hari bukanlah dosa atau dari dunia, tetapi hati nurani kita diganggu olehnya. Jika seseorang menyerakkan pakaian dan benda-benda lain di sekitarnya, meninggalkan kamar tersebut dalam keadaan berantakan, hati nuraninya akan menegur dia.
Ketiga kategori dari perasaan-perasaan hati nurani kita tersebut adalah hasil dari pelanggaran-pelanggaran kita -- baik kita telah menyinggung perasaan Allah atau berdosa terhadap manusia dalam maksud, motif, perkataan, dan tindakan kita. Oleh karena itu, perasaan-perasaan ini dapat dianggap sebagai perasaan-perasaan pelanggaran. Perasaan-perasaan pelanggaran itu sendiri adalah merupakan suatu bahaya yang serius bagi kondisi rohani kita. Ketika hati nurani seseorang memiliki perasaan melanggar, persekutuannya dengan Allah terhalang dan kemudian seluruh kondisi rohaninya menurun. Oleh karena itu, ketika seorang Kristen memiliki perasaan melanggar dalam hati nuraninya, dia harus dengan segera pergi ke hadapan Tuhan untuk mengaku dosanya menurut perasaan-perasaan ini dan meminta pembasuhan oleh darahNya yang mustika. Kadang-kadang perlu juga untuk pergi ke hadapan manusia-manusia membereskan perkara tersebut. Kemudian perasaan pelanggaran akan lenyap, dan hati nurani, akan menjadi murni. Oleh karena itu, membereskan hati nurani, di satu pihak, adalah menyebabkan hati nurani kita menjadi peka dan kaya dalam perasaan, dan di pihak lain, adalah untuk menyebabkan hati nurani kita menjadi merasa aman, damai, dan murni.
Darah Tuhan adalah satu-satuya senjata kita untuk mengatasi tuduhan dan serangan si Setan. Wahyu 12:10-11 memberitahu kita bahwa si Setan menuduh kita siang dan malam di hadapan Allah, tetapi kita dapat menang atas dia melalui darah Anak Domba itu. Satu Yohanes 1:7,9 memberitahu kita bahwa jika kita mengaku dosa-dosa kita, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, dan darah Tuhan akan membasuh kita dari segala ketidakbenaran.
Oleh karena itu, setiap saat kita mengaku menurut perasaan dari hati nurani tersebut, kita akan dibebaskan dari tuduhan. Kita akan memiliki perasaan hayat dan damai sejahtera. Jika tuduhan tersebut tetap hidup, kita dengan sederhana memberitahu si Setan bahwa dia harus meninggalkan kita, karena Allah telah mengampuni kita menurut firmanNya. Haleluya! Allah itu benar dan adil, Dia mengampuni dan membasuh segera setelah kita mengaku. Ketika kita mengatakan, "Oh Tuhan ampuni aku", Dia telah mengampuni kita.
Setelah kita beroleh selamat, perasaan dari hati nurani tersebut meningkat seiring dengan pertumbuhan hayat. Sampai dimana hayat kita bertumbuh, sampai disitulah perasaan hati nurani kita bertambah. Semakin kita maju dalam pertumbuhan hayat, semakin kaya dan peka perasaan hati nurani kita. Pertumbuhan hayat mempengaruhi perasaan hati nurani kita, dan perasaan hati nurani kita menolong pertumbuhan hayat. Keduanya, dalam hubungan yang saling menguntungkan dan mempengaruhi, membawa kita maju dalam jalur hayat.
II. MEMBERSIHKAN URAT-URAT NADI HATI PSIKOLOGIS KITA
Hati psikologis kita memiliki tiga urat nadi utama. Urat-urat nadi ini, yang juga merupakan ketiga bagian dari sukma, adalah pikiran, tekad, dan emosi. Adalah penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara yang praktis agar ketiga urat nadi ini tidak tersumbat. Cara untuk membuka ketiga urat nadi utama dari hati psikologis kita adalah dengan membuat pengakuan yang menyeluruh pada Tuhan. Dari pengalaman, saya telah belajar bahwa kita perlu tinggal bersama Tuhan dalam sejangka waktu untuk mengaku kerusakan-kerusakan, kegagalan-kegagalan, kekalahan-kekalahan, kesalahan-kesalahan, pelanggaran-pelanggaran, dan dosa-dosa kita.
A. Mengenai Pikiran
Kita dapat memulai dengan mengaku segala dosa dan ketidakbersihan yang ada di dalam pikiran kita, dalam pemikiran kita. Urat nadi dari pikiran kita dapat dibandingkan dengan sebuah parit yang tersumbat oleh kotoran-kotoran dan perlu digali agar air dapat mengalir melaluinya. Dengan mengaku pemikiran kita satu persatu, kita akan memindahkan halangan dari urat-urat nadi ini. Sementara kita membuat pengakuan dengan cara ini, kita dapat mengaku pada Tuhan betapa alamiahnya pengertian kita mengenai banyak perkara. Kita mungkin memahami Tuhan, gereja, kaum imani, dan orang tua kita menurut konsep alamiah kita dan tidak menurut Roh itu dan firman Allah. Kita perlu mengaku kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, ampuni aku. Walaupun aku mengasihi Dikau, pemahamanku dalam banyak perkara masih tetap alamiah. Bebaskan aku." Ini adalah satu ilustrasi dari pengakuan semacam itu yang perlu kita buat sehubungan dengan pikiran kita.
B. Mengenai Tekad
Kemudian, bagaimana tentang tekad kita? Jika kita bertanya kepada Tuhan mengenai tekad kita, Dia akan memaparkannya secara menyeluruh dan mendetail. Kelihatannya seolah-olah kita sedang diuji di bawah sebuah mikroskop ilahi, karena satu demi satu kuman-kuman dalam tekad kita akan dibawa kepada terang. Teristimewa sekali, kita harus sadar bahwa kita adalah pemberontak, sehingga kita tidak tahu apakah artinya tunduk kepada Tuhan. Satu demi satu, kita perlu mengaku kuman-kuman pemberontak dalam tekad kita. Tuhan mungkin memperlihatkan pada Anda bahwa, beberapa tahun yang lalu, Anda bersalah dalam perkara tertentu. Kemudian Dia akan terus memperhatikan kepada Anda bagaimana Anda bersalah terhadap seorang saudara atau saudari tertentu. Setiap saat Anda akan perlu untuk mengaku. Anda harus berterima-kasih pada Tuhan bahwa Anda berada di bawah terangNya, di bawah penggeladahannya. Dengan mengakui segala yang Tuhan perlihatkan dalam tekad kita, kita membuka urat nadi tekad kita.
C. Mengenai Emosi
Urat nadi emosi juga perlu dibuka. Ketika kita sadar betapa seriusnya masalah yang kita miliki dalam emosi kita, kita mungkin akan merasa sangat sedih. Kita mungkin putus asa dan merasa sangat malu akan kondisi emosi kita. Kita akan menyadari bahwa dalam banyak hal kita membenci apa yang seharusnya kita kasihi, dan mengasihi apa yang seharusnya kita benci. Ketika kita datang ke dalam terang dari ruang kudus, kita akan nampak bahwa aspek terburuk dari diri kita adalah emosi kita, karena kita tidak menggunakannya secara tepat. Baik kegembiraan maupun kesedihan kita mungkin sama-sama alamiah. Ketika Allah menyingkapkannya kepada kita, kita mungkin merasa malu akan cara kita mengekspresikan kegembiraan dan kesedihan, karena ekspresi itu seringkali alamiah, bersifat daging, bahkan penuh dengan daging. Tidak heran kalau hati psikologis kita tidak berfungsi secara normal.
Jika kita mengambil waktu yang diperlukan untuk membuka ketiga urat nadi utama dari hati psikologis kita, kita akan memiliki perasaan bahwa seluruh diri kita telah menjadi hidup. Pikiran, tekad, dan emosi kita seluruhnya akan berada dalam konidisi yang sangat sehat. Segala "kotoran" dalam "parit-parit" ini akan kemudian digali keluar.
III. MEMELIHARA TUBUH KITA
Jika kita ingin memelihara tubuh kita, kita harus menghidupi suatu kehidupan yang tidak pernah mengikuti manusia lama, yang tidak pernah mengikuti sukma kita. Roma 6:6 mengatakan, "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." Jika kita tidak mengikuti manusia lama, tubuh dosa tersebut akan dibuat menjadi tidak ada pengaruhnya. Ini berarti bahwa tubuh dosa kita akan kehilangan pekerjaannya dan menjadi pengangguran. Tetapi jika kita hidup menurut sukma tersebut, kita akan menggunakan tubuh kita untuk melayani manusia lama. Oleh karena itu, untuk memelihara tubuh kita pertama-tama kita perlu untuk tidak hidup menurut sukma kita.
Kedua, untuk memelihara tubuh kita, kita perlu untuk tidak memberikan anggota tubuh kita yang manapun untuk sesuatu yang berdosa. Sebagai contohnya, kita harus menjaga mata kita terhadap gambar-gambar yang jahat dan telinga kita dari hal-hal yang tidak bersih. Banyak hal yang disiarkan melalui radio adalah cemar. Sejumlah kaum imani telah bersaksi bahwa mereka tidak dapat tahan mendengarkan pembicaraan tertentu diantara mereka yang berada di sekolah atau di pekerjaan, karena pembicaraan tersebut sangat jahat. Banyak orang dunia dapat berbicara mengenai hal-hal dosa tanpa perasaan malu sedikitpun. Oleh karena itu, kita perlu menjaga tubuh kita untuk tidak melihat dan mendengar hal-hal yang mencemarkan, dan merusaknya. Ini adalah untuk memelihara tubuh kita dalam pengudusan.
Paulus mengilustrasikan pentingnya memelihara tubuh kita melalui cara ini dengan memberikan perintah untuk menjauhkan diri dari perzinahan.dalam pasal 4 (1 Tesalonika). Menjauhkan diri dari perzinahan adalah memelihara bejana kita, tubuh kita, dalam kekudusan dan kehormatan. Oleh karena itu, untuk memelihara tubuh kita, kita tidak seharusnya memberikan anggota-anggota tubuh kita pada segala sesuatu yang berdosa.
Dunia hari ini penuh dengan kecemaran dan kekotoran. Ini membuat kita sulit untuk memelihara tubuh kita. Ke manapun kita pergi ada elemen-elemen yang cemar. Orang muda tidak seharusnya mencoba atau bahkan pergi pada sesuatu yang cemar. Jika Anda melarikan diri (2 Tim. 2:22) dari kecemaran, Anda akan dapat bertumbuh di dalam hayat dengan mereka yang berseru kepada Tuhan. Selama kita hidup di atas bumi ini, kita perlu memelihara tubuh kita.
Sebagai kesimpulan, kita harus memelihara roh, sukma, dan tubuh kita dengan melatih roh kita, mengaku segala dosa dan kekurangan kita, dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mencemarkan. Melalui jalan ini, kita dapat mengalami hayat dan bertumbuh dalam hayat, tidak terhambat dalam pertumbuhan kita. Semoga Tuhan membelaskasihani kita dengan mengingatkan kita setiap hari untuk memelihara seluruh diri kita bagi hayat.