← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Pelayanan · bab 7/22

PRAKTEK SIDANG PERJAMUAN TUHAN (4)

Pembacaan Alkitab: Im. 3:1-5, 6-7, 11, 12, 16; 7:11-13

GARIS BESAR

IV. Menyajikan Kristus sebagai kurban pendamaian kepada Bapa:

A. Kurban pendamaian adalah pusat dari kurban-kurban dasar:

1. Dari pihak Allah berdasarkan atas:

a. Kurban bakaran–Im. 1.

b. Kurban sajian–Im. 2.

2. Dari pihak kita berdasarkan atas:

a. Kurban penebus salah–Im. 5.

b. Kurban dosa–Im. 4.

B. Kurban pendamaian yang diperlukan:

1. Seekor lembu dari kawanannya–Im. 3:1.

2. Seekor domda dari kawanannya–Im. 3:6.

3. Seekor anak domba–Im. 3:7.

4. Seekor kambing–Im. 3:12.

C. Kurban pendamaian untuk pemberian syukur–Im. 7:12-13:

1. Dengan roti bundar tak beragi yang dibaurkan dengan minyak.

2. Dengan roti tipis tak beragi yang diurapi dengan minyak.

3. Dengan roti-roti bundar dari tepung halus yang dijenuhi dan dibaurkan dengan minyak.

4. Sebagai tambahan, dengan roti tidak beragi.

Fokus: Ketika masalah kesalahan dan dosa kita dipecahkan oleh Kristus sebagai kurban penebus salah dan kurban dosa, dan ketika Allah dan kita dipuaskan dengan Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban sajian, kita dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah Bapa sebagai kurban pendamaian untuk saling menikmati di dalam damai sejahtera.

Penyajian Kristus sebagai kurban pendamaian kepada Allah Bapa seperti yang terlihat di dalam Imamat dapat digenapkan di dalam realitas pada sidang perjamuan Tuhan. Di dalam penyajian ini ada empat kelompok utama: Allah, pemberi persembahan, imam yang melayani, dan jemaat dari umat yang telah dibasuh. Kurban pendamaian adalah bagi kepuasan keempat kelompok ini. Lemak dan bagian-bagian dalam (jeroan) dari kurban-kurban itu adalah porsi Allah (Im. 3:3-5). Daging dari kurban bersama-sama dengan empat jenis roti bundar adalah porsi pemberi persembahan (Im. 7:12-13, 15-18). Empat jenis roti bundar dan paha kanan sebagai suatu persembahan khusus adalah porsi imam yang melayani (Im. 7:14, 32-34), dan dada unjukan, yang menggambarkan Kristus sebagai kasih dalam kebangkitan, adalah untuk semua imam (7:30-31, 34). Akhirnya, porsi jemaat adalah daging ternak yang berada di bawah kondisi pembasuhan (ay. 19-21).

Hal ini menunjukkan bahwa bila Anda datang ke sidang, Anda menikmati Kristus sebagai porsi yang umum bagi semua kaum beriman. Tetapi jika Anda mempersembahkan Kristus di dalam sidang dan berfungsi sebagai imam yang melayani, Anda menikmati porsi yang spesial. Bila kita membuka mulut kita dan berfungsi di dalam sidang, kita adalah imam-imam yang melayani yang menyajikan Kristus kepada Allah Bapa untuk kenikmatan-Nya dan kenikmatan kita. Tanpa penyembahan yang demikian kepada Bapa di dalam sidang perjamuan Tuhan, penyajian kurban pendamaian kepada Allah tidak dapat dipenuhi.

IV. MENYAJIKAN KRISTUS SEBAGAI

KURBAN PENDAMAIAN KEPADA BAPA

Kita harus menekankan satu butir yang harus diketahui oleh semua kaum beriman pada sidang perjamuan Tuhan. Butir ini adalah bahwa tidak ada tempat yang lain selain sidang perjamuan Tuhan di mana penggenapan kurban pendamaian dapat dirampungkan. Penggenapan dari kurban pendamaian harus berada di dalam sidang perjamuan Tuhan. Setelah kita makan roti dan minum cawan, Tuhan mengambil pimpinan untuk datang kepada Bapa bersama-sama dengan kita semua. Dia memberitakan nama Bapa kepada kita dan menyanyikan kidung pujian kepada Bapa melalui kita dan bersama-sama dengan kita (Ibr. 2:12). Pada saat yang sama, kita mempersembahkan Dia sebagai kurban pendamaian kepada Bapa. Kemudian kita dan Bapa, termasuk semua yang melayani, para pemberi persembahan, dan jemaat, saling menikmati Kristus sebagai kurban pendamaian, tidak hanya di dalam kehadiran Allah Bapa tetapi juga bersama-sama dengan Allah Bapa.

A. Kurban Pendamaian adalah Pusat dari Kurban-kurban Dasar

Ada lima kurban dasar di dalam kitab Imamat: kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban dosa, dan kurban penebus salah. Kurban pendamaian berada di tengah-tengah dengan dua kurban sebelumnya dan sesudahnya. Oleh karena itu, kurban pendamaian adalah pusat dari kurban-kurban dasar. Sebaiknya Anda membaca buku yang berjudul Kristus sebagai Realitas untuk melihat lebih rinci tentang arti dari lima kurban dasar di dalam kitab Imamat dan hubungan kurban pendamaian dengan keempat kurban lainnya.

1. Dari Pihak Allah Berdasarkan atas Kurban Bakaran dan Kurban Sajian

Dari pihak Allah, kurban pendamaian adalah berdasarkan atas kurban bakaran (Im. 1) dan kurban sajian (Im. 2).

2. Dari Pihak Kita Berdasarkan atas Kurban Penebus Salah

dan Kurban Dosa

Dari pihak kita, kurban pendamaian adalah berdasarkan atas kurban penebus salah (Im. 5) dan kurban dosa (Im. 4). Kurban pendamaian adalah pusat dari kurban-kurban dasar. Dari pihak Allah, Anda mempunyai kurban bakaran dan kurban sajian untuk kepuasan Allah dan manusia. Pengalaman kurban pendamaian terutama adalah berdasarkan kurban bakaran dan kurban sajian. Dari pihak kita, kurban pendamaian adalah berdasarkan kurban penebus salah dan kurban dosa. Pada pihak kita, perlu ada kurban penebus salah dan kurban dosa untuk membereskan kesalahan dan dosa kita. Kemudian kita dapat mempunyai damai sejahtera dengan Allah.

B. Kurban Pendamaian yang Diperlukan

Kurban pendamaian yang diperlukan adalah seekor lembu dari kawanannya (Im. 3:1), seekor domba dari kawanannya (ay. 6), seekor anak domba (ay. 7, KJV), atau seekor kambing (ay. 12). Di sini kita harus memberitahu kaum beriman bahwa Kristus di dalam diri-Nya sendiri adalah sama, tetapi Kristus di dalam pengalaman kita menjadi berbeda. Ada beberapa orang yang mngalami Dia dengan berlimpah sebagai seekor lembu besar; ada beberapa orang yang mengalami Dia sebagai seekor domba; ada beberapa orang yang mengalamani Dia dengan sebagai seekor anak domba kecil; dan bahkan ada juga beberapa orang yang mengalamani Dia dengan lebih sedikit lagi sebagai seekor kambing. Perbedaan-perbedaan di dalam kurban pendamaian bukanlah di dalam Kristus itu sendiri melainkan di dalam pengalaman kita terhadap Dia. Kita mempersembahkan Kristus adalah menurut ukuran dan kedalaman pengalaman kita akan Kristus.

C. Kurban Pendamaian untuk Pemberian Syukur

Kurban pendamaian adalah untuk pemberian syukur kita kepada Bapa (Im. 7:12-13). Karena kita berterima kasih kepada Allah Bapa, kita mempersembahkan sesuatu dari Kristus sebagai kurban pendamaian kepada Dia. Kita mempersembahkan Kristus sebagai seekor lembu, domba, anak domba, atau seekor kambing dengan roti bundar tak beragi yang dicampur dengan minyak. Perkara ini sangat berarti. Roti-roti bundar ini adalah roti-roti tipis yang berlubang-lubang. Ini berarti bahwa roti-roti itu mudah untuk dibagikan dan dinikmati. Kurban pendamaian juga dipersembahkan dengan roti-roti tipis yang berongga yang diurapi dengan minyak dan dengan roti-roti bundar dari tepung halus yang dijenuhi dan dibaurkan dengan minyak. Tepung halus yang dibaurkan dengan minyak melambangkan keinsanian Kristus yang berbaur dengan Roh itu. Keinsanian Kristus berbaur dengan keilahian menjadi sepotong roti untuk kepuasan kita.

Ketika kita mempersembahkan kurban pendamaian yang diperlukan untuk pemberian syukur kita, kita perlu menambahkan roti-roti bundar dan roti-roti tipis ini, yang melambangkan pengalaman-pengalaman kita akan Kristus. Ini berarti bahwa kita harus mengalami Kristus dalam ketiga cara ini: Kristus sebagai roti-roti bundar tak beragi yang dibaurkan dengan minyak, dengan Roh itu; Kristus sebagai roti-roti tipis tak beragi yang diurapi dengan minyak, dengan Roh itu; dan Kristus sebagai roti-roti bundar dari tepung halus yang dijenuhi dan dibaurkan dengan minyak, dengan Roh itu.

Sebagai tambahannya, pemberi persembahan juga menyajikan kurban pendamaian kepada Allah bersama-sama dengan roti beragi. Roti beragi menandakan bahwa menyajikan Kristus sebagai kurban pendamaian itu adalah inisiatif kita. Tidak peduli sebagaimana rohaninya kita, segala sesuatu yang diinisiatifkan oleh kita memiliki elemen dosa, elemen ragi.

Imamat 23 membicarakan tentang Hari Raya Pentakosta (hari ke-50), di mana ada dua potong roti dari tepung halus yang dibakar dengan ragi dipersembahkan kepada Allah (ay. 17). Kedua potong roti ini melambangkan kedua bagian dari gereja sebagai Tubuh Kristus, yaitu bagian orang Yahudi dan bagian orang Kafir, yang telah dipersembahkan kepada Allah pada hari Pentakosta. Kedua potong roti itu dibakar dengan ragi karena kedua bagian dari gereja ini masih berdosa. Di dalam Kristus sendiri tidak ada dosa, tetapi karena kita mengisiatifkan persembahan pemberian syukur yang demikian ini, kita membawa masuk sesuatu yang tidak bersih. Perkara ini seharusnya dapat membantu kita melihat bahwa kita tidak boleh percaya pada diri kita sendiri. Bahkan dalam mempersembahkan kurban pendamaian untuk pemberian syukur kita kepada Allah Bapa, kita tidak bersih karena kita masih berada di dalam daging.

Fokus dari pelajaran ini adalah sebagai berikut: bila masalah kesalahan dan dosa kita dipecahkan oleh Kristus sebagai kurban penebus salah dan kurban dosa, dan bila Allah dan kita dipuaskan dengan Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban sajian, kita dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah Bapa sebagai kurban pendamaian untuk saling kita nikmati dalam damai sejahtera.

Kurban pendamaian hanya dapat dipersembahkan setelah dua hal ini terjadi. Pertama, pada pihak kita, masalah kesalahan dan dosa kita harus dipecahkan oleh Kristus sebagai kurban penebus salah kita dan kurban dosa kita. Kedua, Allah dan kita harus dipuaskan dengan Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban sajian. Kurban bakaran sepenuhnya adalah bagi Allah, dan kurban sajian adalah bagi Allah dan manusia. Ketika Allah dan kita dipuaskan dengan Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban sajian, kita dapat mempersembahkan Kristus sebagai kurban pendamaian kita untuk saling kita nikmati dalam damai sejahtera.