← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Pelayanan · bab 6/22

PRAKTEK SIDANG PERJAMUAN TUHAN (3)

Pembacaan Alkitab:

Yoh. 4:23-24, 14; 1:12; 3:5, 6b; 14:23; 17:26a; Ibr. 2:12

GARIS BESAR

III. Penyembahan di dalam penyaluran Allah:

A. Menyembah Bapa–Yoh. 4:23:

1. Dengan menjadi anak-anak Bapa–Yoh. 1:12; 1 Yoh. 3:1a.

2. Dengan mengenal nama Bapa–Yoh. 17:26a; Ibr. 2:12a.

3. Dengan menikmati kehadiran Bapa–Yoh. 14:23.

B. Di dalam Putra sebagai realitas–Yoh. 4:23-24:

1. Dengan mengalami Putra sebagai tanah permai–Ul. 8:7.

2. Dengan menikmati kekayaan Putra sebagai hasil kekayaan tanah permai–Ul. 8:8-10.

3. Dengan menyajikan Putra kepada Bapa sebagai kurban pendamaian–Im. 3:1, 6, 12; 7:11-13.

C. Di dalam roh kita yang telah berbaur dengan Roh Allah–Yoh. 4:23-24:

1. Dengan dilahirkan dari Roh Allah di dalam roh kita–Yoh. 3:5, 6b.

2. Dengan dibaptiskan masuk ke dalam satu Tubuh di dalam Roh Allah–1 Kor. 12:13a.

3. Dengan minum Roh Allah–1 Kor. 12:13b; Yoh. 4:14.

4. Dengan berada di dalam tempat penyembahan yang unik di mana Allah tinggal–Ul. 12:5; Ef. 2:22.

D. Di dalam penyaluran Allah Tritunggal:

1. Telah dibaptis masuk ke dalam Bapa, Putra, dan Roh Kudus–Mat 28:19b.

2. Menikmati kasih Bapa, kasih karunia Putra, dan persekutuan Roh itu–2 Kor. 13:13.

Fokus: Penyembahan di dalam penyaluran Allah Tritunggal adalah penyembahan kepada Bapa oleh banyak putra-Nya dengan Putra sulung sebagai persembahan-persembahan dan di dalam Roh-Nya yang membaurkan diri-Nya sendiri dengan roh kita sebagai tempat penyembahan yang unik bagi penyembahan kita.

Di dalam pelajaran ini kita akan melanjutkan persekutuan kita tentang praktek sidang perjamuan Tuhan. Pada pelajaran-pelajaran sebelumnya, kita telah mempersekutukan tentang praktek peringatan akan Tuhan dan penyembahan kepada Bapa. Sekarang kita akan melihat sesuatu tentang penyembahan yang perlu kita lakukan untuk memberi persembahan kepada Bapa di dalam Putra sebagai realitas itu dan di dalam roh kita yang telah berbaur dengan Roh Allah. Ini adalah penyembahan di dalam penyaluran Allah.

Tulisan-tulisan Paulus penuh dengan konsep penyaluran ilahi Bapa, Putra, dan Roh itu. Bapa, Putra, dan Roh itu tidak diacukan oleh Paulus dengan secara doktrinal, melainkan dengan cara pengalaman. Efesus 2:18 mengungkapkan bahwa kita mempunyai jalan masuk kepada Bapa melalui Putra dan di dalam Roh itu. Efesus pasal 3 mengatakan bahwa Bapa menguatkan kita melalui Roh-Nya ke dalam manusia batiniah, supaya Kristus, Sang Putra, dapat membuat tempat tinggal-Nya di dalam hati kita (ay. 14-17). Memuji Bapa melalui Putra dan di dalam Roh itu adalah berada di dalam penyaluran Allah Tritunggal. Menyembah Bapa bersama Putra dan di dalam Roh adalah penyembahan yang benar di dalam penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi.

III. PENYEMBAHAN DI DALAM PENYALURAN ALLAH

Bila kita membicarakan penyembahan di dalam penyaluran Allah, kita masih membicarakan penyembahan kita terhadap Bapa. Orang-orang Yahudi, menurut pandangan mereka terhadap Perjanjian Lama, mempunyai penyembahan mereka sendiri kepada Allah. Itu bukanlah penyembahan di dalam penyaluran Allah. Semua perkara itu tidak melibatkan Allah Tritunggal–Bapa, Putra, dan Roh itu. Pada dasarnya, orang-orang Yahudi hanya mengenal Allah di dalam ciptaan-Nya. Mereka tidak mengenal Allah di dalam penyaluran-Nya. Mereka menganggap Allah sebagai Pencipta mereka dan mereka bahkan menganggap Allah sebagai Bapa mereka dalam hal sebagai sumber mereka, tetapi bukan dalam hal Trinitas Ilahi bagi penyaluran ilahi diri-Nya ke dalam diri kita.

Di dalam Injil hanya ada satu pasal di mana Tuhan membicarakan tentang penyembahan Allah. Ketika Dia berbicara tentang penyembahan Allah di dalam Yohanes pasal 4, Dia dengan khusus mengacukan kepada penyembahan Bapa. Perempuan Samaria tidak menggunakan istilah Bapa,tetapi dia menggunakan istilah Allah. Kemudian Tuhan Yesus berkata kepadanya, "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa di dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian" (ay. 23). Ini berarti zaman telah berubah. Bahkan ketika Tuhan Yesus sedang berkata kepadanya, zaman itu sudah berubah, sehingga Tuhan menggunakan istilah Bapa, mengatakan bahwa kita perlu menyembah Bapa. Ketika kita menggunakan Yohanes 4:24, kita tidak selalu mengabaikan ayat 23. Tuhan tidak mengatakan bahwa kita menyembah Allah, melainkan menyembah Bapa. Bapa mencari penyembahan yang demikian.

Di dalam ayat 24 Tuhan membicarakan tentang hakiki Allah. Hakiki Allah adalah Roh. Tuhan tidak mengatakan bahwa kita menyembah Allah, melainkan menyembah Bapa, yang hakiki-Nya, sebagai Allah, adalah Roh. Penyembahan di sini mutlak berbeda dengan penyembahan orang Yahudi. Penyembahan orang Yahudi adalah penyembahan kepada Sang Pencipta. Tetapi yang Tuhan bicarakan adalah penyembahan kepada Bapa di dalam Putra dan juga di dalam Roh itu. Oleh karena itu, ini adalah suatu penyembahan di dalam penyaluran Allah, penyembahan oleh penyaluran ilahi. Ketika orang Yahudi menyembah Allah sebagai Sang Pencipta, mereka tidak memiliki pemikiran bahwa Allah disalurkan ke dalam mereka. Tetapi jika kita ingin memiliki penyembahan yang benar, kita perlu Allah disalurkan ke dalam diri kita.

Di dalam Yohanes pasal 4 penyembahan kepada Bapa, penyembahan di dalam penyaluran Allah, dihubungkan dengan minum air kehidupan (ay. 10, 14). Berkontak dengan Allah Roh melalui roh kita adalah meminum air hidup, dan minum air hidup itu adalah memberikan penyembahan yang riil kepada Allah. Untuk menguraikan Yohanes pasal 4:24 kita memerlukan Yohanes 4:14. Kita perlu minum air hidup untuk menyembah Bapa di dalam roh dan di dalam kebenaran. Jika kita tidak minum air hidup, berarti kita tidak minum dari Roh itu (1 Kor. 12:13), kita tidak mempunyai pengalaman akan Allah, dan Allah tidak disalurkan ke dalam kita.

Tanpa minum air hidup, kita tidak memiliki penyembahan yang subyektif di dalam penyaluran ilahi. Kita hanya memiliki sejenis penyembahan obyektif orang Yahudi kepada Allah yang obyektif sebagai Sang Pencipta. Hari ini penyembahan kita adalah subyektif di dalam penyaluran Allah. Penyembahan kita adalah pengalaman minum air hidup, Roh itu. Supaya mempunyai penyembahan di dalam penyaluran Allah, kita perlu minum Roh itu sehingga Allah dapat menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam diri kita. Inilah penyembahan yang baru yang di wahyukan di dalam Perjanjian Baru.

Bahkan hari ini banyak penyembahan di dalam kekristenan sebenarnya adalah di dalam prinsip penyembahan orang Yahudi, penyembahan terhadap Sang Pencipta yang berada jauh dari mereka. Tetapi penyembahan kita, bukan hanya kepada Sang Pencipta, melainkan kepada Bapa, yang telah melahirkan kita kembali dan yang telah menaruh diri-Nya sendiri ke dalam diri kita. Sekarang penyembahan kita adalah subyektif, dengan Allah–Bapa, Putra, dan Roh itu–disalurkan ke dalam kita.

Penyembahan yang demikian dapat dipraktekkan terutama di dalam sidang perjamuan Tuhan, karena di dalam sidang perjamuan Tuhan, setelah kita berbagian dalam roti dan cawan, Tuhan mengambil pimpinan membawa kita kepada Bapa. Tuhan memimpin kita kembali kepada Bapa di dalam Roh itu. Di sini kita harus mengingat Efesus 2:18, yang mewahyukan bahwa penyembahan kita adalah melalui Putra, di dalam Roh itu, dan kepada Bapa. Hal ini sepenuhnya tertera di dalam Lukas 15 dengan perumpamaan tentang gembala, perempuan, dan bapa. Ini adalah melalui pencarian Putra sebagai gembala dan melalui penerangan Roh itu sebagai perempuan supaya anak yang hilang pulang kembali kepada Bapa. Oleh karena itu, kembalinya kepada Bapa ini adalah di dalam penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi. Putra dan Roh itu ditempakan ke dalam putra yang kembali itu. Inilah penyembahan yang benar di dalam penyaluran Allah.

A. Menyembah Bapa

1. Dengan Menjadi Anak-anak Bapa

Jika kita akan menyembah Bapa, kita pertama-tama perlu dilahirkan kembali, menjadi anak-anak Bapa (Yoh. 1:12; 1 Yoh. 3:1a).

2. Dengan Mengenal Nama Bapa

Di dalam Yohanes 17:26a Tuhan mengatakan bahwa Dia akan membuat nama Bapa dikenal oleh murid-murid-Nya, dan di dalam Ibrani 2:12a kita melihat bahwa Dia memberitakan nama Bapa kepada saudara-saudara-Nya. Nama mengacu kepada persona. Bila Anda memanggil nama seseorang, maka persona itu akan datang menghampiri Anda, maka nama Bapa mengacu kepada persona Bapa. Dia bukan hanya adalah Allah kita yang menciptakan kita tetapi juga adalah Bapa yang memperanakkan kita. Dia bukan hanya Allah pencipta tetapi juga adalah Bapa yang memperanakkan. Sekarang kita bukan hanya makhluk-makhluk ciptaan-Nya, tetapi juga anak-anak yang dilahirkan dari-Nya, dilahirkan oleh-Nya. Dia adalah Bapa kita, dan kita harus mengenal persona-Nya. Mengenal persona-Nya adalah mengenal nama-Nya.

Semua murid pada waktu itu mempunyai latar belakang Yahudi. Mereka mempunyai konsepsi tentang Allah sebagai Pencipta mereka, tetapi mereka tidak mempunyai konsepsi tentang Allah menjadi Bapa mereka yang melahirkan. Sebelum kebangkitan Tuhan, mereka tidak mempunyai konsep bahwa mereka akan menjadi anak-anak Allah dengan hayat dan sifat Allah. Sebelum kebangkitan-Nya, sulit sekali bagi Tuhan untuk memberitakan persona Bapa kepada murid-murid, karena mereka tidak memiliki Allah sebagai Bapa mereka. Tetapi di dalam kebangkitan Dia membagikan hayat ilahi ke dalam murid-murid, sehingga menjadi mudah bagi-Nya untuk membuat nama Bapa, persona Bapa, dikenal oleh mereka.

Pada hari kebangkitan-Nya, Dia berkata kepada Maria, "Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (Yoh. 20:17). Kata saudara-saudara dan Bapamu menandakan suatu pengalaman hayat, suatu hubungan hayat. Di dalam kebangkitan-Nya, Tuhan membagikan hayat dan sifat Bapa ke dalam murid-murid. Sekarang Bapa-Nya adalah Bapa mereka dan mereka adalah saudara-saudara-Nya. Ini semua ditunjukkan dalam pengenalan nama Bapa, persona-Nya.

3. Dengan Menikmati Kehadiran Bapa

Kita menyembah Bapa adalah dengan menikmati kehadiran Bapa. Di dalam Yohanes 14:23 Tuhan berkata, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia." Bapa dan Putra akan datang pada orang yang mengasihi Putra dan akan membuat tempat tinggal Mereka bersama-sama dengan dia. Ini adalah kehadiran yang konstan dari Sang Bapa. Ketika kita mengatakan, "Abba, Bapa" (Rm. 8:15; Gal 4:6), kita mempunyai perasaan yang manis di dalam kita dalam suatu kenikmatan yang intim dari kehadiran Bapa.

Dengan menjadi anak-anak Bapa, dengan mengenal nama Bapa, dan dengan menikmati kehadiran Bapa, kita menyembah Bapa. Jika kita tidak dilahirkan dari Bapa, kita tidak akan mengenal persona-Nya, dan tidak memiliki kehadiran-Nya, kita tidak dapat menyembah Dia secara subyektif. Kita hanya dapat menyembah Allah yang obyektif.

B. Di dalam Putra Sebagai Realitas

Kita menyembah Bapa di dalam Putra sebagai realitas (Yoh. 4:23-24). Di dalam Yohanes pasal 4 perempuan Samaria itu berusaha untuk mendebat Tuhan Yesus dengan berkata, "Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu mengatakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah" (ay.20). Orang Yahudi mengatakan perkara ini berdasarkan Ulangan pasal 12, yang mengacu kepada Yerusalem sebagai tempat yang unik yang ditentukan Allah bagi umat-Nya untuk menyembah. Kita harus mengembalikan kaum beriman kepada Ulangan pasal 12 dan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya penyembahan yang ditentukan Allah adalah dengan dua pengaturan. Pertama-tama, perkara itu harus diadakan di tempat pusat yang unik, yang dipilih oleh Allah, dan yang kedua, harus dengan semua kekayaan yang berlimpah dari hasil tanah permai. Semua anak-anak Israel pada zaman dulu harus menyembah Allah dengan memelihara dua peraturan ini.

Tuhan menunjukkan kepada perempuan Samaria itu bahwa zaman telah berubah. Ulangan 12 adalah suatu perlambangan, tetapi di dalam Perjanjian Baru kita mempunyai realitas dan penggenapan. Dalam perlambangan, tempat penyembahan yang unik adalah Yerusalem, dan di dalam penggenapan tempat ini adalah roh kita. Hari ini roh kita adalah Yerusalem yang sebenarnya, di mana Allah tinggal. Lebih jauh lagi, hasil yang berlimpah dari tanah permai adalah gambaran kekayaan Kristus. Kristus adalah realitas semua persembahan dari kekayaan tanah permai, termasuk kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban dosa, kurban penebus salah, kurban unjukan, kurban persembahan khusus, dan kurban curahan. Semua kurban ini adalah hasil yang berlimpah dari tanah permai sebagai gambaran Kristus yang adalah hasil berlimpah yang riil, kurban-kurban yang riil. Oleh karena itu, di dalam Yohanes 4:23-24 roh manusia menggantikan Yerusalem sebagai pusat penyembahan yang unik dan Kristus menggantikan semua persembahan, hasil berlimpah tanah permai.

1. Dengan Mengalami Putra sebagai Tanah Permai

Penyembahan kita kepada Bapa di dalam Putra sebagai realitas adalah dengan mengalami Putra sebagai tanah permai (Ul. 8:7).

2. Dengan Menikmati Kekayaan Putra sebagai Hasil Kekayaan Tanah Permai

Kita menyembah Bapa di dalam Putra sebagai realitas dengan menikmati kekayaan Putra sebagai hasil kekayaan dari tanah permai (Ul. 8:8-10).

3. Dengan Menyajikan Putra kepada Bapa sebagai Kurban Pendamaian

Kita menyembah Bapa dengan menyajikan Putra kepada Bapa sebagai kurban pendamaian (Im. 3:1, 6, 12; 7:11-13).

C. Di dalam Roh Kita yang telah Berbaur dengan Roh Allah

Kita menyembah Bapa adalah di dalam roh kita yang telah berbaur dengan Roh Allah (Yoh. 4:23-24).

1. Dengan Dilahirkan dari Roh Allah Di dalam Roh Kita

Bila kita akan menyembah Allah di dalam roh kita, kita harus dilahirkan dari Roh Allah di dalam roh kita (Yoh. 3:5, 6b). Di dalam Yohanes 3 ada suatu keperluan untuk dilahirkan kembali, dan di dalam Yohanes 4 ada penyembahan di dalam roh. Pertama-tama, kita perlu dilahirkan dari Roh itu, dan kemudian kita dapat menyembah di dalam roh.

2. Dengan Dibaptiskan masuk ke dalam Satu Tubuh di dalam Roh Allah

Dengan dibaptiskan masuk ke dalam satu Tubuh di dalam Roh Allah (1 Kor. 12:13a), kita dapat menyembah Bapa di dalam roh kita. Sebenarnya, penyembahan kita di dalam penyaluran Allah bukanlah suatu perkara individual. Menurut gambaran di dalam Perjanjian Lama, semua bani Israel datang ke Yerusalem untuk menyembah, bukanlah secara individual melainkan secara korporat. Penyembahan mereka adalah penyembahan korporat. Pada setiap hari raya, tiga kali dalam satu tahun, mereka datang bersama-sama untuk menyembah Allah. Oleh karena itu, penyembahan di dalam penyaluran Allah menurut ekonomi Allah adalah suatu penyembahan yang korporat di dalam Tubuh.

3. Dengan Minum Roh Allah

Kita juga menyembah di dalam roh kita dengan minum Roh Allah (1 Kor. 12:13b; Yoh. 4:14).

4. Dengan Berada di dalam Tempat Penyembahan yang Unik

di mana Allah Tinggal

Kita harus menyembah Bapa dengan berada di dalam tempat penyembahan yang unik di mana Allah tinggal (Ul. 12:5; Ef. 2:22). Setelah kita dilahirkan dari Roh Allah di dalam roh kita, dibaptiskan masuk ke dalam satu Tubuh di dalam satu Roh, dan minum dari satu Roh ini, roh kita menjadi tempat penyembahan yang unik sebab roh kita adalah tempat di mana Allah tinggal. Hari ini orang-orang Kristen terpecah-pecah karena mereka tidak mau datang ke dalam roh mereka untuk menyembah. Jika semua orang Kristen mau datang ke dalam roh mereka untuk menyembah, maka tidak akan ada perpecahan. Selama semua anak-anak Israel datang ke Yerusalem untuk menyembah, mereka terpelihara dalam keesaan. Prinsipnya sama pada hari ini. Banyak orang Kristen tidak mau datang ke dalam roh mereka yang telah dilahirkan kembali untuk menyembah Allah, maka mereka terpecah-pecah. Hari ini kita mempunyai penyembahan kepada Bapa di dalam roh kita yang telah berbaur dengan Roh Allah.

D. Di dalam Penyaluran Allah Tritunggal

Penyembahan kita kepada Bapa di dalam sidang perjamuan Tuhan adalah di dalam penyaluran Allah Tritunggal. Kita telah dibaptiskan masuk ke dalam Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Kita juga menikmati kasih Bapa, kasih karunia Putra, dan persekutuan Roh itu (2 Kor. 13:13). Kita harus berada di dalam penyaluran Allah Tritunggal. Kemudian kita dapat memiliki penyembahan yang benar dan tepat di dalam penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi.

Fokus dari berita ini adalah sebagai berikut: penyembahan di dalam penyaluran Allah Tritunggal adalah penyembahan kepada Bapa oleh banyak putra-Nya dengan Putra sulung-Nya sebagai persembahan-persembahan dan di dalam Roh-Nya yang membaurkan diri-Nya sendiri dengan roh kita sebagai tempat penyembahan yang unik bagi penyembahan kita.

Persekutuan ini seharusnya dapat membantu kita dalam penyembahan Bapa di dalam sidang perjamuan Tuhan. Inilah penyembahan yang Tuhan wahyukan di dalam Yohanes 4. Injil Yohanes memberitahukan kepada kita di dalam pasal satu bahwa kita mempunyai hak untuk menjadi anak-anak Allah. Dia memberikan kepada mereka yang menerima Dia, hak, kuasa untuk menjadi anak-anak-Nya (ay. 12). Anak-anak ini dilahirkan dari Allah itu sendiri. Kemudian pasal tiga memberitahukan kepada kita bagaimana caranya untuk dilahirkan dari Allah. Kita harus dilahirkan dari air dan Roh itu agar dilahirkan kembali dari Roh (ay. 5-6). Pasal empat selanjutnya mewahyukan bagaimana caranya menyembah Allah sebagai Bapa di dalam roh kita sebagai tempat yang unik untuk penyembahan kita dan dengan Putra sebagai persembahan-persembahan yang riil (ay. 23-24). Kita harus mengalami penyaluran Allah Tritunggal–Bapa, Putra, dan Roh. Dengan demikian kita mempunyai penyembahan yang Bapa kehendaki.