← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Pelayanan · bab 5/22

PRAKTEK SIDANG PERJAMUAN TUHAN (2)

Pembacaan Alkitab: Mat. 26:30; Ibr. 2:12; Ef. 2:18; Yoh. 4:23-24

GARIS BESAR

II. Menyembah Bapa:

A. Setelah makan roti dan minum cawan–Mat. 26:26-30.

B. Dengan memuji–Mat. 26:30:

1. Kristus, Putra sulung Allah, mengambil pimpinan di antara saudara-saudara-Nya–Ibr. 2:12.

2. Kita, banyak putra Allah, mengikuti Kristus dalam memuji Bapa.

C. Mengarahkan pujian kepada Bapa:

1. Melalui Putra.

2. Di dalam Roh itu–Ef. 2:18.

D. Memilih kidung-kidung:

1. Menurut apa adanya Bapa.

2. Menurut atribut Bapa.

E. Dengan menyajikan Kristus kepada Allah Bapa:

1. Sebagai kurban pendamaian–Im. 3.

2. Menikmati Dia di hadapan Allah Bapa–Im. 7:14-21, 28-34:

a. Sebagai suplaian hayat–ay. 14-16.

b. Sebagai kasih dalam kebangkitan–ay. 29-31.

c. Sebagai kuat kuasa dalam keterangkatan–32-34.

d. Dalam pembasuhan–ay. 17-21

Fokus: Menyembah Bapa harus bersama-sama dengan Putra dan di dalam Roh itu (Yoh. 4:23-24).

Dalam pelajaran ini kita akan melihat sesuatu yang lebih jauh mengenai praktek sidang perjamuan Tuhan. Matius 26:30 mengatakan bahwa setelah memecahkan roti dan minum cawan, Tuhan dan murid-murid-Nya menyanyikan satu kidung. Kemudian mereka pergi ke Bukit Zaitun. Ibrani 2:12 dengan tegas mengatakan bahwa setelah kebangkitan Kristus, Dia memberitakan Nama Bapa kepada murid-murid-Nya dan kepada Bapa di tengah-tengah gereja. Kemudian Efesus 2:18 mengatakan bahwa melalui Kristus (yang mati di atas kayu salib dan yang menciptakan satu manusia baru dari dua pihak) dan di dalam Roh itu kita datang kepada Bapa. Ini adalah suatu penjelasan yang singkat mengenai dispensasi Allah Tritunggal. Yohanes 4:23-24 mengatakan bahwa hari ini Bapa mencari orang-orang yang menyembah kepada-Nya di dalam roh insani mereka dan di dalam kebenaran. Kita menyembah Bapa di dalam roh kita yang dihuni oleh Roh Kudus dan di dalam Kristus Sang Putra sebagai realitas kita yang menjadi kesejatian dan ketulusan kita untuk menyembah Allah dengan benar. Kita perlu memberikan kesan kepada kaum beriman dengan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan di dalam bagian Kitab Suci.

Di dalam pelajaran yang lalu kita telah mempersekutukan mengenai praktek memperingati Tuhan pada perjamuan-Nya. Sekarang kita akan berbicara mengenai penyembahan Bapa.

II. MENYEMBAH BAPA

A. Setelah Makan Roti dan Minum Cawan

Matius 26:26-30 memperlihatkan bahwa kita harus menyembah Bapa setelah makan roti dan minum cawan. Ayat 26-29 memperlihatkan kepada kita bahwa roti telah dipecahkan dan dimakan dan bahwa cawan telah diminum. Kemudian di dalam ayat 30 di sana ada nyanyian satu kidung kepada Bapa, memperlihatkan bahwa menyembah Bapa harus dilakukan setelah makan roti dan minum cawan.

B. Dengan Memuji

Kita menyembah Bapa dengan memuji. Hal ini juga berdasarkan Matius 26:30. Ini adalah suatu ayat yang unik yang memberitahukan kepada kita bahwa ada satu kidung yang sedang dinyanyikan. Itu berarti memuji. Menurut teks bahasa Yunani, kita dapat mengatakan bahwa mereka “mengkidungkan suatu pujian” kepada Bapa. Untuk menyembah Bapa pada perjamuan Tuhan, kita harus menyanyikan kidung pujian kepada-Nya.

1. Kristus, Putra Sulung Allah, Mengambil Pimpinan

di antara Saudara-saudaraNya

Kristus, Putra sulung Allah, mengambil pimpinan di antara saudara-saudara-Nya untuk menyanyikan kidung-kidung pujian kepada Bapa. Ibrani 2:12 berkata, “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku; di tengah-tengah gereja Aku akan menyanyikan kidung pujian bagi-Mu (T.L).” Secara hurufiah arti dalam bahasa Yunani adalah “Aku akan mengkidungkan Engkau.” Matius 26:30 dan Ibrani 2:12 memperlihatkan kepada kita penyembah Bapa pada perjamuan Tuhan. Dalam sidang apakah Kristus dapat mengkidungkan pujian kepada Bapa di tengah-tengah saudara-saudara-Nya? Matius 26:30 memberikan jawaban kepada kita. Matius 26:30 adalah suatu ayat yang mustika yang memperlihatkan kepada kita bahwa setelah memecahkan roti dan minum cawan itulah Kristus mengambil pimpinan untuk menyanyikan kidung-kidung pujian kepada Bapa di antara murid-murid-Nya.

2. Kita, Banyak Putra Allah, Mengikuti Kristus dalam Memuji Bapa

Kita, banyak putra Allah, mengikuti Kristus dalam memuji Bapa. Matius 26:30 memperlihatkan bahwa bukan hanya Kristus, melainkan juga murid-murid-Nya menyanyikan satu kidung pujian bersama-sama dengan Dia. Maka Dia mengambil pimpinan dan murid-murid-Nya mengikuti Dia. Hari ini seharusnya juga sama. Kristus, Putra sulung, mengambil pimpinan, dan kita, banyak putra, mengikuti Dia untuk memuji Bapa.

C. Mengarahkan Pujian kepada Bapa

Mengarahkan pujian kita kepada Bapa adalah melalui Putra dan di dalam Roh itu. Dalam peringatan kita akan Tuhan, kita mengarahkan semua pujian kepada Tuhan. Kemudian ketika melanjutkan untuk menyembah Bapa, kita harus mengarahkan semua pujian kita kepada-Nya. Efesus 2:18 berkata, “Karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” Melalui Putra, Dia yang telah mati di atas kayu salib untuk membatalkan semua ketentuan-ketentuan dan untuk menciptakan satu manusia baru dari kedua pihak (ay. 15), dan di dalam Roh itu kita mempunyai jalan masuk kepada Bapa.

Efesus pasal 1 mewahyukan Bapa memilih dan menakdirkan kita, Putra menebus kita, dan Roh itu memeteraikan kita. Kemudian 2:18 mengatakan bahwa melalui Putra dan di dalam Roh itu, kita menghampiri Bapa. Dalam pasal tiga Paulus mengatakan bahwa dia sujud kepada Bapa sehingga Dia dapat menguatkan kita melalui Roh-Nya sehingga Kristus dapat membuat tempat tinggal-Nya di dalam hati kita (ay. 14-17). Di dalam pasal empat terdapat tiga kelompok: satu Tubuh, satu Roh, dan satu pengharapan; satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan; dan satu Allah dan Bapa dari semua, yang meliputi semua, melalui semua dan di dalam kita semua (ay. 4-6). Bagian dari surat Efesus ini memperlihatkan kepada kita mengenai ekonomi ilahi dari Trinitas Ilahi.

Dalam persekutuan ini, kita sebaiknya menghubungkan Efesus 2:18 dengan Lukas 15. Lukas pasal 15 mewahyukan bahwa Putra itu datang sebagai Gembala untuk mencari domba yang hilang (Ay. 1-7), bahwa Roh itu sebagai perempuan yang menyalakan pelita di rumahnya dan akhirnya menemukan dirham yang hilang (ay. 8-10), dan bahwa Bapa menyambut kembalinya anak yang hilang (ay. 11-32). Ini memperlihatkan ekonomi ilahi dari Trinitas Ilahi dengan penebusan Putra, pengudusan Roh itu, dan penerimaan Bapa. Melalui Putra dan di dalam Roh itu, kita mempunyai jalan masuk kepada Bapa. Tuhan memberitahukan tiga perumpamaan di dalam Lukas pasal 15 untuk menyingkapkan kasih keselamatan dari Allah Tritunggal terhadap orang-orang berdosa. Domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang adalah satu person yang hilang di dalam tiga aspek. Lukas pasal 15 memperlihatkan kepada kita bahwa kita tidak dapat dicari, ditemukan dan dibawa kepada Bapa secara langsung. Kita dapat datang kepada Bapa hanya melalui Kristus dan di dalam Roh itu.

D. Memilih Kidung-kidung

Sekarang kita perlu mempertimbangkan perihal kita memilih kidung-kidung dalam bagian penyembahan Bapa pada perjamuan Tuhan. Kita perlu memilih kidung-kidung menurut keberadaan Bapa. Nama Bapa tidak diwahyukan sampai Tuhan Yesus datang. Dia datang untuk mewahyukan nama Bapa (Yoh. 17:6, 26), persona Bapa. Oleh karena itu kita harus memilih kidung-kidung menurut persona Bapa, keberadaan Bapa.

Kita juga harus memilih kidung menurut atribut Bapa, seperti kasih-Nya, kelemahlembutan-Nya, dan kemuliaan-Nya. Dalam daftar isi kidung kita mengenai perjamuan ada bagian yang berjudul "Menyembah Bapa," kita mempunyai sejumlah kidung yang dikategori menurut atribut-atribut Bapa. Atribut-atribut ini termasuk kesetiaan-Nya, kebesaran-Nya, hikmat-Nya, belaskasihan-Nya, dan kasih-Nya.

Kita memuji Putra menurut persona dan pekerjaan-Nya, tetapi tidak ada pekerjaan yang berhubungan dengan Bapa. Kita seharusnya memuji Bapa menurut keberadaan dan atribut-atribut-Nya. Kita harus membedakan dan melihat kidung yang menurut dua kategori ini: keberadaan Bapa, apa adanya Bapa, dan atribut-atribut Bapa.

E. Dengan Menyajikan Kristus kepada Allah Bapa

1. Sebagai Kurban Pendamaian

Di dalam penyembahan kita kepada Bapa, kita perlu menyajikan Kristus kepada-Nya sebagai kurban pendamaian (Im. 3). Bagian ini sangat penting. Untuk mempersekutukan hal ini kepada kaum beriman, kita perlu jelas mengenai contoh kurban pendamaian di dalam kitab Imamat.

2. Menikmati Dia di Hadapan Allah Bapa

Pada sidang perjamuan Tuhan, kita menikmati Kristus di hadapan Allah Bapa (Im. 7:14-21, 28-34).

a. Sebagai Suplaian Hayat

Pertama-tama, kita menikmati Kristus sebagai suplaian hayat kita (ay. 14-16). Dalam mempersembahkan kurban pendamaian, roti dan daging diberikan kepada para imam sebagi makanan mereka. Hal itu melambangkan suplaian hayat.

b. Sebagai Kasih dalam Kebangkitan

Dada kurban diserahkan kepada para imam sebagai kurban unjukan. Dada melambangkan kepada kasih dan kurban unjukan melambangkan kepada kebangkitan, maka hal ini menggambarkan Kristus sebagai kasih dalam kebangkitan menjadi suplaian hayat kita (ay. 29-31).

c. Sebagai Kuat Kuasa dalam Keterangkatan

Paha kanan diserahkan kepada imam sebagai persembahan khusus. Paha kanan adalah kekuatan untuk pergerakan, melambangkan Kristus sebagai kuat kuasa dalam keterangkatan (ay.32-34). Pada sidang perjamuan Tuhan, kita menikmati Kristus di hadapan Allah Bapa sebagai kuat kuasa di dalam keterangkatan.

Oleh karena itu kita melihat tiga jenis suplaian dalam kurban pendamaian: satu adalah roti dan daging kurban, yang lainnya adalah dada, dan yang ketiga adalah paha. Yang satu melambangkan kepada suplaian hayat; yang lainnya, kasih di dalam kebangkitan dan yang lainnya lagi melambangkan kuat kuasa di dalam keterangkatan. Ketika Kristus terangkat sampai ke langit tingkat ketiga, Dia mencurahkan Roh kuasa. Roh hayat telah diberikan pada hari kebangkitan, tetapi Roh kuasa dicurahkan setelah keterangkatan-Nya. Kasih adalah perkara hayat, maka itu berada dalam kebangkitan, dan kuat kuasa di dalam keterangkatan.

d. Dalam Pembasuhan

Kurban pendamaian dalam kitab Imamat harus disajikan kepada Allah dalam pembasuhan (ay. 17-21). Ini melambangkan bahwa kita menikmati suplaian hayat, kasih dalam kebangkitan, dan kuat kuasa dalam keterangkatan di dalam pembasuhan. Kita harus bersih. Jika seseorang makan kurban pendamaian pada saat dia tidak tahir, dia akan dilenyapkan dari umat Allah. Hal ini berarti bahwa jika kita tidak berada di dalam pembasuhan pada perjamuan Tuhan untuk menyajikan Kristus kepada Allah Bapa, kita akan dilenyapkan. Dilenyapkan berarti kehilangan persekutuan dengan umat Allah.

Kita perlu meluangkan waktu untuk butir tentang menyajikan Kristus kepada Allah Bapa sebagai kurban pendamaian. Kurban pendamaian adalah suatu contoh yang menakjubkan dari Kristus yang dipersembahkan kepada Allah. Kita perlu melihat hal kurban pendamaian itu mempunyai suatu kenikmatan dari tiga aspek. Pertama-tama, kurban pendamaian adalah makanan Allah, maka itu adalah untuk kenikmatan Allah. Kedua, kurban pendamaian itu adalah juga untuk kenikmatan imam yang mempersembahkan, yang menyajikan kurban itu. Ketiga, jemaat menikmati bagian kurban pendamaian mereka di bawah keadaan pembasuhan. Hal ini digenapkan di dalam sidang perjamuan Tuhan.

Di dalam sidang perjamuan Tuhan, setelah memecahkan roti dan minum cawan, pada satu pihak, Kristus mengambil pimpinan untuk menyanyikan kidung-kidung pujian kepada Allah Bapa dan kita mengikuti Dia untuk melakukan hal ini. Pada pihak lain, pada waktu yang sama, kita mempersembahkan Dia sebagai kurban pendamaian kepada Allah Bapa untuk kepuasan Allah dan kita menikmati Dia sebagai suplaian hayat kita, sebagai kasih dalam kebangkitan, dan sebagai kuat kuasa dalam keterangkatan. Lebih jauh lagi, kita menikmati Dia bersama-sama di dalam pembasuhan. Ini adalah penggenapan dari penyajian kurban pendamaian di dalam realitas Perjanjian Baru.

Sebenarnya, bagian perjamuan Tuhan tentang penyembahan kepada Bapa adalah suatu bagian memuji kepada Bapa dan menikmati Putra-Nya bersama-sama dengan Dia. Seringkali penyembahan kita kepada Bapa pada sidang perjamuan Tuhan adalah tidak sepadan. Kita perlu mempraktekkan menyajikan Kristus sebagai kurban pendamaian untuk menikmati Dia sebagai suplaian hayat kita, sebagai kasih kita dalam kebangkitan, dan sebagai kuat kuasa kita dalam keterangkatan bersama-sama di dalam pembasuhan.

Fokus pelajaran ini dapat diekspresikan di dalam pernyataan berikut ini: penyembahan Bapa harus bersama-sama dengan Putra dan di dalam Roh itu (Yoh. 4:23-24). Kita menyembah Bapa bersama dengan Putra sebagai realitas dan di dalam Roh itu yang berhuni di dalam roh kita. Yohanes 4:23-24 dapat digenapi di dalam penyembahan kita akan Bapa pada sidang perjamuan Tuhan.

Kita perlu mempertimbangkan konteks Yohanes 4:23-24 supaya kita dapat mengerti ayat-ayat ini dengan tepat. Di dalam ayat 20 perempuan Samaria berbicara dengan Tuhan, berkata, "Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalem-lah tempat menyembah." Hal ini mengacu kembali kepada Ulangan 12, di mana Allah menentukan umat-Nya untuk menyembah Dia di tempat yang unik yang dipilih oleh Allah dan dengan membawa hasil kekayaan tanah permai supaya mereka tidak datang ke hadapan Allah dengan hampa tangan. Semua bani Israel harus datang ke tempat yang unik itu dengan hasil kekayaan, persembahan-persembahan kekayaan, dari tanah permai.

Tuhan Yesus menjelaskan kepada perempuan Samaria itu bahwa penyembahan ini adalah untuk zaman Perjanjian Lama. Kemudian Dia berkata, "Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang..." (ay. 23). Dengan kata lain Tuhan berkata, "Sekarang waktunya telah datang." Ini berarti bahwa zaman telah berubah. Sekarang di zaman baru ini Allah Bapa sedang mencari penyembahan yang demikian yaitu di dalam roh dan di dalam realitas.

Roh di sini adalah roh insani kta, dan hari ini roh insani kita adalah tempat yang unik di mana Allah berhuni. Hal ini berdasarkan Efesus 2:22, yang mengatakan bahwa tempat kediaman Allah hari ini adalah di dalam roh kita. Karena roh kita adalah tempat di mana kediaman Allah berada, maka roh kita adalah Yerusalem hari ini. Kita semua perlu menyembah Allah di sini. Ini adalah tempat yang unik. Jika semua orang Kristen menyembah Allah di dalam roh mereka, maka tidak akan ada perpecahan. Roh kita adalah tempat persatuan, pusat pernyembahan Allah yang unik, yang digambarkan oleh Yerusalem.

Kita juga perlu menyembah Allah di dalam kebenaran. Kebenaran menunjukkan realitas ilahi yang menjadi kesejatian dan ketulusan manusia (yang adalah lawan dari kemunafikan penyembahan orang Samaria yang tidak bermoral) untuk penyembahan Allah yang benar. Realitas ilahi adalah Kristus sebagai realitas dari semua kurban persembahan dalam Perjanjian Lama. Kristus adalah realitas hasil kekayaan tanah permai bagi persembahan kita.

Supaya mengerti Yohanes 4:23-24 dengan tepat kita harus melihat contoh dalam kitab Ulangan. Di dalam kitab Ulangan kita melihat tempat yang unik dengan semua persembahan-persembahannya. Sekarang Tuhan berkata bahwa tempat yang unik itu adalah roh kita, dan hasil yang kita persembahkan hari ini bukanlah hasil dari Kanaan melainkan semua kekayaan Kristus. Oleh karena itu, tempat yang unik itu adalah roh kita dan realitasnya adalah Kristus itu sendiiri dengan segala kekayaannya. Ketika kita berbagian dengan Kristus sebagai realitas kita, Dia menjadi realitas di dalam kita. Realitas di dalam kita ini kemudian menjadi kesejatian kita dan menjadi ketulusan kita yang di dalamnya kita menyembah Allah Bapa dengan penyembahan yang Dia kehendaki. Ketika kita mengikuti Tuhan untuk menyembah Bapa pada sidang perjamuan Tuhan, kita menyembah Bapa dengan Kristus sebagai persembahan-persembahan kekayaaan di dalam roh, yaitu di dalam roh kita yang berbaur dengan Roh Kudus. Inilah penyembahan yang sejati akan Allah Bapa sesuai dengan ekonomi-Nya.

SIDANG PERJAMUAN TUHAN MENGGANTIKAN HARI RAYA PASKAH

Sidang perjamuan Tuhan merupakan suatu pengganti dari hari raya Paskah. Sebenarnya, ketika Tuhan mendirikan perjamuan-Nya, Dia dan murid-murid-Nya sedang merayakan hari raya Paskah. Menurut kebiasaan Paskah orang Yahudi, mereka tentu mengambil bagian dari roti dan anggur. Oleh karena itu, sidang perjamuan yang didirikan oleh Tuhan adalah sesuatu yang fana. Tuhan dan murid-murid-Nya mula-mula makan Paskah (Mat. 26:20-25; Luk. 22:14-18). Kemudian Tuhan mendirikan perjamuan-Nya dengan roti dan cawan (Mat. 26:26-28; Luk. 22:19-20; 1 Kor. 11:23-26) untuk menggantikan hari raya Paskah karena Dia datang untuk memenuhi lambang Paskah dan menjadi Paskah sejati bagi kita (1 Kor. 5:7). Lukas 22 memperlihatkan kepada kita bahwa ada dua jenis makan dan minum. Yang satu adalah bagian Paskah (ayat 15-18). Yang lainnya adalah bagian perjamuan Tuhan (ayat 19-20). Hari ini kita berada pada perjamuan Tuhan yang tanpa elemen yang fana.

MEMUJI TUHAN DENGAN KIDUNG-KIDUNG

Pada perjamuan Tuhan kita tidak seharusnya berdoa dengan meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu bagi kita, tetapi kita perlu memuji. Memuji itu memerlukan banyak latihan roh. Kita perlu belajar bagaimana memuji Tuhan setelah menyanyikan satu kidung. Kita mungkin hanya berteriak, mengumandangkan, mengutip sesuatu dari kidung dengan cara yang kaku. Tetapi jika kaum beriman itu lebih kaya dan kuat, mereka tidak perlu hanya mengutip kidung tersebut. Mereka akan memuji Tuhan dengan pemikiran dari kidung itu, menyusun kembali beberapa istilah-istilah dan kalimat-kalimat itu. Kita perlu belajar bagaimana mencerna satu kidung di dalam pujian kita. Pencernaan kidung yang demikian ini lebih hidup dan tidak formal.

Di dalam sidang perjamuan Tuhan, perlu ada lebih banyak pujian. Tetapi kenyataannya kaum beriman bukannya memuji, malah hanya membaca dari kidung. Mereka harus belajar tidak hanya membaca satu kidung tetapi mencerna satu kidung. Tidak hanya membaca, "Riang dan alangkah ngaso!" (Kidung # 378), kita dapat mengatakan, "O Tuhan, di dalam hayat-Mu kami menikmati perhentian. Alangkah ngasonya kami menikmatinya!" Kita dapat mencerna istilah-istilah dalam kidung dan membuatnya menjadi sebuah pujian yang hidup kepada Tuhan.

PERJAMUAN TUHAN PADA ZAMAN DULU

Pada zaman dulu kaum beriman mempunyai satu kebiasaan datang berkumpul untuk makan malam, sajian utama dari hari itu, dengan membawa kekayaan yang lebih dan makanan yang lebih baik untuk saling menikmati dan bagi mereka yang miskin, kekurangan makan (1 Kor. 11:21-22). Inilah yang disebut perjamuan kasih (2 Ptr. 2:13; Yud. 12), dan perjamuan itu berasal dari latar belakang hari raya Paskah (Luk. 22:13-20). Pada akhir perjamuan kasih mereka, mereka makan perjamuan malam Tuhan dengan roti dan cawan untuk memperingati Tuhan (1 Kor. 11:23-25). Ini adalah cara yang terbaik untuk mengadakan perjamuan Tuhan.

BUTIR PENTING DI DALAM PELAYANAN KITA

Kita perlu terkesan bahwa butir penting di dalam pelayanan kita kepada Tuhan adalah hayat. Hayat adalah Roh itu, dan Roh itu adalah realitas dari Kristus yang hidup. Jika kita membantu kaum beriman untuk memasuki jalur hayat, maka semua rinci pelayanan kita akan diatur dengan spontan oleh hayat. Kita memerlukan beberapa pengaturan dan peraturan yang membantu. Tetapi kita harus hati-hati. Kita bukanlah untuk suatu situasi tertentu yang sudah diatur. Suatu situasi yang sepenuhnya telah diatur dapat menjadi seperti tempat pekuburan, suatu situasi yang mati. Saudara Nee mengambil pimpinan untuk mempraktekkan kebenaran dengan hayat. Kita harus membuat perkara itu jelas bagi kaum beriman bahwa kita bukan untuk peraturan-peraturan tetapi untuk hayat. Jika kaum beriman bertumbuh di dalam hayat dengan tepat, dengan spontan mereka akan menjadi teratur.