SIDANG PERJAMUAN TUHAN (2)
Pembacaan Alkitab: 1 Kor. 10:16-17; 11:24-34; Mat. 26:27-30
GARIS BESAR
c. Dengan makan roti:
1) Untuk menikmati Tuhan sebagai suplaian hayat kita.
2) Untuk mempersaksikan bahwa kita hidup oleh Tuhan.
3) Untuk memiliki persekutuan di dalam Tubuh misteri Kristus.
d. Dengan minum cawan:
1) Untuk meninjau kembali penebusan Perjanjian Baru.
2) Untuk menerima berkat Allah.
3) Untuk memiliki persekutuan di dalam darah Kristus.
5. Untuk memamerkan kematian Tuhan.
6. Untuk mengekspresikan kedambaan kita akan kedatangan Tuhan kembali.
7. Untuk menyembah Bapa.
8. Peringatan:
a. Menguji diri sendiri dan memperhatikan Tubuh.
b. Tidak memakan dan meminum cawan dengan cara yang tidak layak.
c. Akan mendatangkan keburukan, jika bersidang dengan berbagai perpecahan.
d. Ganjaran Tuhan
Fokus: Peringatan yang riil akan Tuhan adalah menerima dan menikmati Dia sebagai suplaian hayat kita melalui makan dan minum Dia dan melalui membagikan Dia seorang dengan yang lain di dalam persekutuan Tubuh-Nya.
Di dalam pelajaran ini kita akan melanjutkan persekutuan kita tentang sidang perjamuan Tuhan. Di dalam pelajaran sebelumnya, kita telah melihat bahwa fokus dari perjamuan Tuhan adalah diri Tuhan sendiri. Kita juga telah melihat bahwa kita memperingati Tuhan melalui memecahkan roti untuk menghargai dan berterima-kasih atas tubuh fisik Tuhan yang telah terbelah bagi kita. Sekarang kita akan membahas lebih banyak poin mengenai peringatan kita akan Tuhan.
c. Dengan Makan Roti
1) Untuk Menikmati Tuhan sebagai Suplaian Hayat Kita
Di dalam Yohanes 6:35a Tuhan berkata kepada kita bahwa Dia adalah roti hayat itu, maka makan roti itu adalah menikmati Tuhan sebagai suplaian hayat kita. Memecahkan roti tidak menyatakan suatu kenikmatan, tetapi makan roti itu benar-benar menunjukkan suatu kenikmatan.
2) Untuk Mempersaksikan Bahwa Kita Hidup oleh Tuhan
Kita juga makan roti untuk mempersaksikan bahwa kita hidup oleh Tuhan. Di dalam Yohanes 6:57b Tuhan berkata, "Barangsiapa yang memakan Aku, dia juga akan hidup oleh Aku." Melalui kita makan roti menandakan bahwa kita menikmati Tuhan dan kita mempersaksikan bahwa ini adalah jalan kita untuk hidup. Ini adalah peringatan yang riil akan Tuhan.
3) Untuk Memiliki Persekutuan di dalam Tubuh Misteri Kristus
Poin penting berikutnya mengenai peringatan kita akan Tuhan adalah kita makan roti untuk menikmati persekutuan di dalam Tubuh misteri Kristus. Memecahkan roti terutama menyatakan tubuh fisik Tuhan yang telah terbelah bagi kita di atas salib. Makan roti, yang adalah memasukkan roti itu, terutama menyatakan persekutuan di dalam Tubuh misteri Kristus (1 Kor. 10:16b-17). Roti yang sama, sepotong roti yang sama di atas meja, melambangkan tubuh fisik Kristus dan Tubuh misteri Kristus. Tubuh fisik Kristus telah terbelah di atas salib untuk penebusan kita, dan Tubuh misteri Tuhan, Tubuh Kristus, adalah untuk persekutuan kita. Sehubungan dengan tubuh fisik Tuhan, kita memecahkan roti, dan sehubungan dengan Tubuh misteri-Nya, kita memakan roti itu. Makan bersama-sama berarti suatu hubungan yang erat, suatu persekutuan. Satu bagian dari roti yang sama masuk ke dalam Anda, sebagian lagi masuk ke dalam saya, dan sebagian lagi masuk ke dalam setiap orang dari kita. Ini adalah keesaan di dalam Tubuh dalam persekutuan Tubuh.
Kita perlu meluangkan waktu untuk poin ini, khususnya demi kepentingan orang-orang yang baru dan saudara-saudari muda di antara kita. Pertama, roti di atas meja mengacu kepada tubuh fisik Tuhan Yesus yang Dia berikan bagi kita di atas salib. Inilah roti yang kita pecah-pecahkan. Kedua, roti juga mengacu kepada Tubuh misteri Tuhan, yang terbentuk dari semua kaum beriman yang telah diselamatkan. Ketika Tuhan Yesus ada di bumi ini, Dia adalah sebiji gandum (Yoh. 12:24). Tetapi hari ini Dia bukan hanya sebiji gandum saja. Dia adalah roti yang terbentuk dari banyak gandum, termasuk diri-Nya sendiri. Karena itu, makan roti menyatakan bahwa kita berbagian di dalam Tubuh misteri Kristus, yang terdiri dari semua orang kudus, artinya, kita bersekutu dengan semua orang kudus secara universal dari sejak zaman dahulu sampai hari ini. Kita perlu melihat bahwa peringatan kita akan Tuhan pada perjamuan-Nya menyatakan penebusan-Nya, Tubuh-Nya, dan seluruh ekonomi Perjanjian Baru-Nya.
d. Dengan Minum Cawan
Kita juga memperingati Tuhan dengan minum cawan ( 1 Kor. 11:25).
1) Untuk Meninjau Kembali Penebusan Perjanjian Baru
Kita minum cawan adalah untuk meninjau kembali penebusan Perjanjian Baru. Untuk poin ini, akan lebih baik jika kita membaca Matius 26:27-28: "Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan berkata, Minumlah, kamu semua, dari cawan ini, sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa."
2) Untuk Menerima Berkat Allah
Makan roti adalah menerima hayat; minum cawan adalah menerima berkat. Di dalam Alkitab, roti itu disebut roti hayat (Yoh. 6:35a) dan cawan itu disebut cawan berkat (1 Kor. 10:16a). Karena itu makan roti berarti menerima suplaian hayat dan minum cawan berarti menerima berkat.
Cawan menunjukkan suatu bagian–baik bagian murka atau bagian berkat. Jika kita dikutuk di bawah penghakiman Allah, cawan itu adalah bagian murka bagi kita (Why. 14:10). Jika kita diampuni dan ditebus, cawan itu adalah bagian berkat bagi kita. Alkitab tidak mengatakan bahwa kita minum darah, tetapi minum cawan. Ini berarti bahwa darah penebusan Tuhan Yesus menjadi cawan kita, bagian kita.
Ketika kita minum cawan, kita bukan hanya meninjau kembali penebusan Perjanjian Baru, tetapi juga menerima berkat Allah. Berkat ini adalah diri Allah sendiri. Kejatuhan Adam menyebabkan manusia kehilangan Allah, tetapi penebusan Kristus membawa Allah kembali kepada manusia. Kehilangan Allah dalam kejatuhan manusia adalah kehilangan yang terbesar. Sekarang kita mendapatkan Allah kembali di dalam penebusan Kristus adalah suatu berkat yang unik. Cawan sebagai suatu bagian adalah diri Allah sendiri sebagai berkat yang unik bagi kita.
Melalui persekutuan ini kita dapat melihat betapa banyaknya hal yang dinyatakan perjamuan Tuhan. Memperingati Tuhan itu bukan hanya memperingati bagaimana Dia adalah Allah dan bagaimana Dia menjadi seorang manusia. Mengingat Tuhan adalah memecahkan roti, makan roti, dan minum cawan di dalam realitas semula maknanya yang dalam.
3) Untuk Memiliki Persekutuan di dalam Darah Kristus
Minum cawan juga menandakan bahwa kita memiliki persekutuan di dalam darah Kristus (1 Kor. 10:16a). Kita memiliki suatu ikatan dan saling berpartisipasi dalam minum satu cawan itu. Baik makan maupun minum, keduanya menandakan keesaan dan persekutuan, hubungan yang erat. Inilah sebabnya mengapa kita hanya mempunyai satu potong roti, tidak banyak potongan roti, dan hanya satu cawan, bukan banyak cawan, di meja itu. Satu potong roti dan satu cawan menandakan keesaan dan persekutuan, hubungan yang erat. Hubungan yang erat ini, persekutuan ini, berada di dalam Tubuh misteri Kristus dan di dalam darah penebusan Kristus. Karena kita semua telah ditebus oleh satu darah ini, kita mempunyai satu hubungan yang erat, dan melalui hal ini kita menerima berkat yang unik.
5. Untuk Memamerkan Kematian Tuhan
Pada perjamuan Tuhan, kita tidak memperingati kematian Tuhan, tetapi kita memberitakan, memproklamirkan, memamerkan, kematian Tuhan. Satu Korintus 11:26 berkata, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini, dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Tuhan datang.” Di sini kita punya roti yang melambangkan tubuh Tuhan, dan kita punya cawan yang melambangkan darah Tuhan. Pada perjamuan Tuhan, kematian-Nya dipamerkan, karena cawan itu terpisah dari roti, artinya, darah terpisah dari tubuh. Kita makan roti dan minum cawan adalah untuk memamerkan kematian Tuhan, sebab di mana darah telah terpisah dari tubuh, itu menunjukkan kematian. Kapan saja kita makan roti dan minum cawan, kita tidak memperingati kematian Tuhan, tetapi kita memamerkan kematian-Nya kepada seluruh alam semesta, khususnya kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di langit.
6. Untuk Mengekspresikan Kedambaan Kita akan Kedatangan Tuhan Kembali
Kita memperingati Tuhan pada perjamuan-Nya juga adalah untuk mengekspresikan kedambaan kita akan kedatangan Tuhan kembali. Satu Korintus 11:26b mengatakan bahwa kita memamerkan kematian Tuhan sampai Dia datang. Sewaktu kita memamerkan kematian Tuhan, kita mengekspresikan kedambaan kita akan kedatangan Tuhan kali kedua. Di dalam Matius 26:29 Tuhan berkata, “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam kerajaan Bapa-Ku.” Ini adalah manifestasi kerajaan surga, di mana Tuhan akan minum bersama-sama dengan kita setelah kedatangan Tuhan kembali. Ketika kita memperingati Tuhan dan memamerkan kematian-Nya, kita mengekspresikan kedambaan kita, bahwa Tuhan akan datang segera.
7. Untuk Menyembah Bapa
Setelah kesemuanya ini, Tuhan akan memimpin kita untuk menyembah Bapa. Hal ini adalah berdasarkan pada Matius 26:30, yang mengatakan bahwa setelah Tuhan menyelesaikan perjamuan malam-Nya dengan murid-murid-Nya, Dia dan murid-murid-Nya menyanyikan sebuah kidung. Kidung itu dinyanyikan oleh Tuhan bersama-sama dengan murid-murid-Nya kepada Bapa. Di dalam perjamuan Tuhan, Tuhan mengambil pimpinan untuk memuji kepada Bapa, menyembah Bapa. Pada akhir sidang perjamuan Tuhan, kita perlu menyembah Bapa bersama-sama dengan Tuhan. Kita sebagai saudara-saudara-Nya harus mengikuti Putra sulung untuk menyembah Bapa. Tuhan sebagai Putra sulung mengambil pimpinan untuk menyembah Bapa (Ibr. 2:12), dan kita sebagai saudara-saudara-Nya mengikuti Dia.
Kidung #49 adalah sebuah kidung yang sangat baik untuk menyembah Bapa. Bait 2 dan 3 mengatakan:
2. Sungguh amatlah dalam kasih-Mu, tak terukur;
Dari diri-Nya nyata kasih-Mu, pun terwujud!
Kini di depan-Mu Dia memimpin.
Kami se-mua bersama memuji.
3. Dia memimpin pu-ji-an yang merdu, yang Kau gemar;
Hati-Mu pun mengasihi s`lalu, pengikut-Nya;
Sebelum du-ni-a diciptakan,
Kau tetapkan, kamilah mitra-Nya.
Kidung ini sederhana dan pendek, namun tinggi dalam pemikirannya dan penuh terang. Baik sekali jika kita meminta kaum beriman untuk membaca bait-bait ini supaya mereka dapat terkesan dengan arti dari penyembahan kepada Bapa.
8. Peringatan
Sehubungan dengan berbagiannya kita atas perjamuan Tuhan, ada juga suatu peringatan di dalam Kitab Suci.
a. Menguji Diri Sendiri dan Memperhatikan Tubuh
Kita perlu menguji diri kita sendiri dan memperhatikan Tubuh pada perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:28-29). Kita harus memperhatikan apakah roti di atas meja itu mengacu kepada Tubuh Kristus yang unik, atau suatu sekte, perpecahan, denominasi. Inilah sebabnya mengapa kita hanya dapat berbagian perjamuan Tuhan di gereja-gereja lokal. Kita tidak dapat berbagian dengan apa yang disebut persekutuan di tempat lain, karena roti yang di atas mejanya tidak melambangkan Tubuh, melainkan suatu perpecahan. Kapan saja kita pergi ke suatu tempat untuk menghadiri perjamuan Tuhan, kita harus menguji diri kita sendiri apakah roti yang di atas meja itu sungguh-sungguh melambangkan Tubuh Tuhan, tanpa adanya perpecahan.
b. Tidak Memakan dan Meminum Cawan dengan Cara yang tidak Layak
Dalam 1 Korintus 11:27 kita diingatkan untuk tidak makan roti dan minum cawan dengan cara yang tidak layak. Jika Anda berada di dalam perpecahan, dan Anda masih makan roti dan minum cawan, itu berarti Anda makan dan minum dengan cara yang tidak layak. Menurut I Korintus 11, ada kekendoran dan peremehan di antara kaum beriman di Korintus. Setiap orang berbuat menurut kesukaan atau ketidaksukaannya sendiri. Perpecahan atau percerai-beraian di antara mereka merusak perjamuan Tuhan (ay. 17-22). Ini menunjukkan bahwa jika kita mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan dengan suatu roh perpecahan, maka kita berbagian di dalamnya dengan cara yang tidak layak. Kita tidak boleh berbagian dalam perjamuan Tuhan dengan meremehkan, kendor, atau ceroboh.
c. Akan Mendatangkan Keburukan, Jika Bersidang dengan Berbagai Perpecahan
Satu Korintus 11:17-18 menunjukkan bahwa bila kita mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan dengan adanya perpecahan, maka kita berkumpul bersama-sama tidak akan membawa kebaikan, melainkan akan mendatangkan keburukan. Kebaikan berarti suatu keuntungan. Keburukan berarti suatu kerugian. Bukanlah merupakan suatu keuntungan melainkan suatu kerugian jika kita mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan di dalam perpecahan.
d. Ganjaran Tuhan
Jika kita mengambil bagian perjamuan Tuhan dengan cara yang tidak layak, Tuhan akan datang untuk mengganjar kita (1 Kor. 11:30-34). Penghakiman Tuhan terhadap mereka yang ada di Korintus yang berbagian dalam perjamuan Tuhan dengan cara yang tidak layak adalah menyebabkan mereka menjadi lemah secara fisik. Karena mereka tidak mau bertobat dari pelanggaran mereka, mereka didisiplinkan lebih jauh lagi dan menjadi sakit. Karena mereka masih belum mau bertobat, Tuhan menghakimi mereka dengan kematian. Ini adalah ganjaran Tuhan, penghakiman Tuhan terhadap kaum beriman di zaman ini yang ingin terus-menerus berbagian dalam perjamuan-Nya dengan cara yang tidak layak. Kadang-kadang bila seorang beriman sakit, dia perlu memanggil penatua-penatua gereja dan meminta mereka untuk berdoa baginya (Yak. 5:14). Ini berarti dia perlu diperdamaikan dengan Tubuh.
Kita semua perlu dilatih untuk berbagian dalam perjamuan Tuhan dengan cara yang tepat. Di masa lampau kita telah mengadakan perjamuan Tuhan dengan cara yang tidak terlatih. Tetapi kita sekarang akan mengadakan perjamuan Tuhan dengan cara yang sopan, beradab, dan terlatih. Di masa lampau kita makan dengan liar, tanpa adanya “cara perjamuan.” Sekarang kita perlu melatih kaum beriman cara-cara mengadakan perjamuan. Cara-cara perjamuan dalam perjamuan Tuhan bukanlah sesuatu yang formal. Memiliki cara yang tepat dalam perjamuan-Nya itu berarti bahwa kita melatih roh kita dan membebaskan pujian kita kepada-Nya dengan cara yang benar. Ini adalah suatu perkara yang besar. Perjamuan Tuhan adalah sidang yang terbaik, tetapi ini adalah sidang yang paling sulit untuk diadakan. Tidak ada sidang lain yang menyingkapkan keadaan kita yang sebenarnya lebih daripada sidang perjamuan Tuhan.
Kita perlu mengingat fokus persekutuan kita di dalam berita ini. Fokusnya adalah bahwa peringatan yang riil akan Tuhan adalah menerima dan menikmati Dia sebagai suplaian hayat kita melalui makan dan minum Dia dan melalui membagikan Dia seorang dengan yang lain di dalam persekutuan Tubuh-Nya.