← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Pelayanan · bab 21/22

PERLUNYA ADA ORANG YANG MENGALIHKAN ZAMAN

Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya. Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka : Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel : "Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat daripada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja." Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya.. "Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu." Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka. Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar. Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang yang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresy.

Daniel 11-21.

Hari ini kita akan membahas bagaimana orang muda yang berada di tangan Allah dapat dipakai olehNya untuk mengalihkan zaman.

ALLAH KHUSUS MEMAKAI ORANG MUDA

UNTUK MENGALIHKAN ZAMAN

Kita perlu menyadari bahwa berkali-kali Allah melakukan sesuatu di bumi untuk mengalihkan zaman. Ketika Allah bekerja di bumi, Ia melaku-kannya zaman demi zaman. Alasan Allah mengadakan banyak gerakan penga-lihan zaman adalah karena manusia yang dipakaiNya dalam satu zaman sering jatuh dan gagal mencapai tujuanNya. Hal itu memaksa Allah mengalihkan zaman, yaitu mengadakan suatu permulaan baru sehingga Ia dapat melakukan apa yang ingin dilakukanNya dalam zaman yang baru.

Kita dapat melihat banyak kasus seperti itu dalam Perjanjian Lama. Allah selalu mendatangkan suatu zaman baru dengan melakukan sesuatu melalui beberapa orang dalam kurun waktu tertentu. Namun, karena kemerosotan manusia, zaman itu segera jatuh. Jatuh sedemikian rupa sehingga Allah tidak ada jalan di bumi dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Akibatnya, Allah terpaksa mendatangkan satu zaman baru. Hanya dengan mendatangkan suatu zaman baru, Allah dapat bekerja lagi. Sayangnya, zaman berikutnya tidak lama kemudian jatuh lagi. Sekali lagi Allah tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu, Ia harus mendatangkan suatu zaman lain. Bila seseorang membaca Perjanjian Lama, ia dapat melihat bahwa satu zaman demi satu zaman merosot. Satu zaman dimulai hanya untuk pudar lagi. Zaman lain muncul dan jatuh lagi.

Saya harap Anda mengerti bahwa pekedaan Allah dalam mengalihkan zaman selalu dilakukan melalui manusia. Sebelum suatu zaman baru didatangkan, selalu ada orang dalam zaman sebelumnya yang dipakai oleh Allah secara khusus untuk mengalihkan zaman. Dan dalam setiap pekerjaan mengalihkan zaman, Allah sengaja memakai orang muda. Dua orang yang dapat dijadikan teladan yang paling jelas adalah Samuel dan Daniel.

PENGALIHAN ZAMAN UNTUK

MENDATANGKAN KEKUASAAN ALLAH

DAN EKSPRESI ALLAH

Samuel mengalihkan zaman imamat kepada zaman kerajaan, sedang-kan Daniel mengalihkan zaman pembuangan kepada zaman kembali dari pembuangan. Zaman kerajaan yang didatangkan oleh Samuel, kalau kita tinjau dari keadaan yang normal, dimulai dengan Daud. Zaman itu mencapai puncaknya pada masa raja Salomo membangun bait Allah. Pada saat itu kekuasaan Allah temyata di atas diri manusia; Allah dapat memerintah melalui manusia yang tunduk di bawah kekuasaanNya. Pada saat itu kemuliaan Allah juga ternyata di antara manusia.

Pada masa itu, di Israel di satu pihak ada takhta keluarga Daud, dan di pihak lain ada bait.Takhta ditujukan kepada kekuasaan Allah, bait ditujukan kepada kemuliaan Allah. Kita harus ingat bahwa kemuliaan Allah memenuhi bait ketika Salomo mempersembahkan bait itu kepada Allah begitu bait itu selesai dibangun. Kita tahu ada makna simbolis dalam perkara tersebut. Takhta dan bait di antara orang Israel menunjukkan kepada kita bahwa Allah ingin memerintah dan mengekspresikan kemuliaanNya.

Saya harap saudara saudari muda nampak kedua hal ini. Allah ingin memiliki satu takhta dan satu tempat kediaman di bumi. Takhta ditujukan kepada pemerintahanNya, dan tempat kediaman ditujukan kepada ekspresi kemuliaanNya. Zaman itu didatangkan oleh Samuel. Di satu pihak, ia mendatangkan takhta, di pihak lain, ia mendatangkan tempat kediaman melalui takhta itu. Keadaan ini cukup jelas di antara orang Israel setelah raja Salomo berhasil membangun bait Allah. Allah mendirikan takhta dan memerintah melatui takhta itu serta memperoleh tempat tinggal, suatu tempat untuk ekspresiNya, dan melalui tempat itu Ia menyatakan kemuliaanNya di tengah-tengah manusia. Masa ini dapat dianggap sebagai zaman yang benar-benar normal.

Namun, keadaan seperti itu tidak berlangsung lama. Karena kebobrokan manusia dan serangan Iblis, kesaksian itu rusak. Ketika Salomo sudah tua, zaman itu telah jatuh. Pada saat itu, nampaknya takhta Allah dikesampingkan dan kemuliaanNya diterlantarkan.

Dari raja Salomo, keturunannya selangkah demi selangkah terus merosot. Pada zaman raja Ahab, keadaan mereka tidak dapat lebih buruk lagi. Menjelang akhir kitab Raja-raja (II Raja-raja), akhir dari zaman kerajaan, segalanya telah merosot dan kersang. Tidak ada lagi takhta Allah atau kemuliaan Allah. Kedua hal itu telah lenyap. Apa yang dapat Allah lakukan? Allah hanya dapat menghentikan mereka dan membiarkan mereka berlalu. Akibatnya, musuh masuk dan Yerusalem dihancurkan, bait Allah dibakar, dan semua perkakas untuk beribadah kepada Allah dalam baitAllah, bersama bani Israel, ditawan dan diangkut ke Babilon. Zaman itu. benar-benar menjadi zaman pembuangan karena semuanya diangkut ke pembuangan.

PERHATIAN ALLAH DARI ZAMAN

KE ZAMAN ADALAH KEKUASAAN

DAN EKSPRESINYA DI BUMI

Saya tidak ada minat memberikan terlalu banyak doktrin kepada kaum muda. Namun saya harap Anda bisa sedikit mengenal perkara Allah. Dalam pasal pertama dari Perjanjian Lama, setelah Allah menciptakan manusia, pusat perhatianNya ada dua : pertama, Ia ingin manusia memiliki gambarNya, dan kedua, Ia ingin manusia berkuasa bagiNya. Dari permulaan Alkitab kita dapat melihat bahwa yang Allah perhatikan dalam diri manusia adalah perkara gambar dan kekuasaan. Dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, dari permulaan adanya manusia sampai langit dan bumi baru di masa kelak, perhatian Allah kepada manusia tertuju kepada dua perkara itu.

Gambar menunjukkan ekspresi Allah. Misalnya saat ini Anda tidak berada di Amerika Serikat. Teman Anda yang di Amerika Serikat tidak dapat melihat Anda. Namun Anda dapat difoto dan mengirimkan foto itu kepada teman Anda. Kemudian dia akan tahu gambar wajah Anda melalui foto itu. Anda dapat mencetak foto itu lebih banyak dan mengirimkannya kepada lebih banyak orang. Bahkan Anda dapat mencetaknya diseluruh surat kabar di Amerika Serikat. Dengan demikian, setiap orang di Amerika Serikat akan melihat wajah Anda. Jadi, gambar adalah suatu ekspresi. Demikian pula, manusia diciptakan menurut gambar Allah. Dengan kata lain, manusia adalah foto Allah; ekspresi dari gambar Allah. Ada orang memberitahu saya, bahwa seorang pemahat yang akan membuat sebuah patung pertama-tama akan mengambil gambar seorang model dari depan, belakang, kanan, dan kiri, lalu memahat berdasarkan gambar-gambar itu. Akhirnya, patung yang dipahatnya akan persis sama dengan gambar modelnya. Bila Anda melihat patung itu, seakan-akan melihat orang yang sesungguhnya. Jadi, gambar adalah ekspresi seseorang.

Ingatlah, ekspresi adalah perkara kemuliaan. Gambar adalah ekspresi dan ekspresi adalah kemuliaan. Setelah Salomo selesai membangun bait Allah, bait itu dipenuhi kemuliaan Allah. Demikianlah gambar Allah ditampilkan dan Allah sendiri dinyatakan.

Pada saat yang sama, ada pula perkara kekuasaan, yaitu perkara takhta dan kerajaan. Saudara saudari, Alkitab selalu terpusat pada perkara gambar dan kekuasaan.

Jika kita tahu hal ini, kita akan mengerti mengapa Tuhan mengajarkan doa yang demikian kepada murid-muridNya, kata-Nya, "Karena Engkaulah yang empunya kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan. " (Matius 6:13). Alasan Ia mengajarkan demikian adalah sejak permulaan Alkitab sudah ada kedua perkara ini, dan pada akhir kitab Wahyu, kedua hal ini tetap ada. Saya tidak dapat mengatakan dengan panjang lebar di sini. Saya hanya mengharapkan saudara saudari muda memiliki kesan, bahwa menjadi orang Kristen bukan hanya perkara beroleh selamat atau hanya perkara mengasihi Tuhan. Dengan menjadi orang Kristen, kita terlibat, berhubungan dengan dan menjamah sesuatu yang sangat penting, yaitu perkara gambar dan kekuasaan, kemuliaan dan kerajaan Allah.

KEGAGALAN MANUSIA SEPANJANG ZAMAN

ADALAH MENGGULINGKAN KEKUASAAN ALLAH

DAN TIDAK MEMBIARKAN ALLAH TEREKSPRES1

Walaupun sejak semula Allah memusatkan perhatianNya pada masalah gambar dan kekuasaan, dan walaupun pekerjaan yang dilakukanNya atas diri Adam berhubungan dengan kedua hal itu, namun kita tahu bahwa sebelum Allah mencapai sasaranNya, zaman itu telah jatuh. Kejatuhan itu berlanjut dari zaman Adam sampai zaman menara Babel. Pada zaman menara Babel, manusia melakukan dua hal. Pertama, mereka menyangkal kekuasaan. Allah. Manusia secara korporat memberontak melawan Allah, dengan menyangkal kekuasaanNya. Mereka berkata dengan wajah yang keras, "Siapa Allah? Kami tidak kenal Dia! Kami umat manusia adalah segalanya. Kami akan membangun sebuah menara yang mencapai langit untuk mengumumkan nama kami. Kami tidak kenal siapa itu Yehova. Kami hanya kenal diri kami!" Dengan demikian, mereka benar-benar menggulingkan kekuasaan Allah.

Ingatlah, bahwa sebelum menara Babel, belum ada bangsa-bangsa di bumi. Setelah menara Babel itulah mulai ada bangsa-bangsa di bumi. Manusia ingin mendirikan bangsa mereka sendiri, mereka tidak mau diperintah oleh Allah. Ketika zaman kerajaan hampir tiba, orang Israel melakukan satu hal yang sangat tidak menyenangkan hati Allah. Mereka meniru bangsa-bangsa lain dan menginginkan raja yang memerintah mereka, bukan Allah sebagai Raja mereka. Di Babellah manusia mulai menentang pemerintahan Allah dan mencoba menetapkan raja sendiri.

Pada masa menara Babel, manusia tidak hanya menggulingkan kekuasaan Allah, mereka juga menyembah berhala. Arkeolog dan ahli sejarah memberitahu kita bahwa pada masa itu berbagai jenis berhala ada di dalam menara itu dan di dalam kota Babel. Berhala berlawanan dengan gambar Allah; mereka tidak ingin Allah terekspresi. Sebaliknya, mereka membiarkan setan terekspresi. Bahkan hari ini tidak ada negara yang tidak berkuil. Setiap negara memiliki kuilnya sendiri. Apa itu kuil? Kuil adalah tempat berhala terekspresi. Pada zaman Salomo ada takhta pada bangsa Israel yang ditujukan kepada takhta Allah dan kekuasaan Allah. Ada pula bait yang mengacu kepada ekspresi Allah. Namun bangsa-bangsa hari ini telah menjadi takhta Iblis dan tempat Iblis memerintah. Di samping itu, setiap bangsa memiliki kuil dan tempat penyembahan berhalanya masing-masing. Ini bukan hanya perkara takhayul atau keterbelakangan dalam peradaban manusia. Di dalam perkara itu ada pekerjaan Iblis yang lick Kita harus sadar dan tahu apa yang selalu dikerjakan Iblis di alam semesta ini. Yang selalu dikerjakan Iblis adalah membehtuk bangsa-bangsa, menghasut manusia agar memberontak melawan Allah dan menyangkal kekuasaan Allah. Di samping itu, ia mendirikan kuil-kuil di mana saja di berbagai bangsa, agar manusia menyembahnya dan dengan demikian manusia akan mengekspresikan dia. Segala yang dilakukan Iblis adalah bermaksud merusak kekuasaan dan kemuliaan Allah.

Karena itu, Allah mulai memanggil Abraham keluar dari tanah menara Babel. Jika kita membaca pengalaman Abraham, kembali kita melihat soal kekuasaan dan ekspresi. Riwayatnya juga penuh dengan penyimpangan dan kegagalan. Kita tidak dapat membahas perkara ini secara mendetail saat ini.

Kemudian, keturunan Abraham keluar dari Mesir dan tiba di tanah Kanaan. Di sana mereka mengalami berbagai tahap kemerosotan. Akhimya Samuel datang. Allah mendatangkan kerajaan melalui Samuel, dan mengalih-kan zaman itu. Sampai pada zaman Salomo, kita masih dapat melihat kedua hal ini : takhta (begitu ada raja, tentu ada takhta) dan bait. Takhta adalah perkara kekuasaan dan kerajaan, dan bait adalah perkara ekspresi dan kemuliaan. Kita dapat melihat suatu pengalihan kepada maksud hati Allah yang semula. Di sini, di satu pihak ada pemerintahan Allah, di pihak lain ada gambar dan ekspresi Allah.

Tetapi tidak lama kemudian, ketika Salomo sudah tua, keadaan orang Israel merosot lagi. Akhimya hampir semua orang Israel tertawan ke Babilon. Sejak saat itu, tidak ada lagi takhta, bangsa Israel terserak, dan bait Allah hancur sama sekali, semua perkakas bait Allah diangkut ke Babilon. Babel adalah istilah dalam bahasa Ibrani dan Babilon adalah istilah dalam bahasaYunani. Keduanya mengacu kepada tempat yang sama di tanah Sinear.

Kejadian 11 mencatat keturunan Adam bergerak ke tanah Sinear. Di sana mereka membangun kota Babel dan menara Babel untuk menentang Allah. Hasilnya, Allah meninggalkan/membuang zaman itu, maksudnya, Allah meninggalkan keturunan Adam dan memilih Abraham, agar keturunan Abraham menjadi kesaksian Allah - untuk memerintah bagi Allah dan menyatakan kemuliaan Allah - di tanah Kanaan. Dalam Daniel 1 tanah Sinear disebut lagi. Musuh telah membawa bangsa Israel ke tanah Sinear lagi. Ini berarti mereka kembali ke Babel lagi. Sejarah Babel terulang lagi atas diri mereka. Begitu mereka masuk ke Babel, mereka sepenuhnya berada di bawah pemerintahan manusia dan pemerintahan setan. Di Babel banyak kuil Kasdim; di sana ada tempat setan mengekspresikan dirinya. Pada saat itu, bangsa Israel tidak ada lagi, bait Allah hancur dan perkakas untuk beribadah kepada Allah diangkut ke tanah Sinear dan ditaruh di kuil Babilon. Ini berarti pada zaman itu kekuasaan Allah tidak kelihatan lagi dan ekspresi Allah tidak ada lagi. Segalanya telah lumpuh. Pada saat inilah Allah memerlukan seorang manusia untuk mengalihkan zaman.

ALLAH MEMBANGKITKAN

ORANG YANG MENGALIHKAN ZAMAN

UNTUK MEMULIHKAN KEKUASAAN DAN EKSPRESI ALLAH

Pada saat itulah Daniel dibangkitkan. Melalui bangkitnya Daniel, umat Allah kembali dari Babilon ke Yerusalem. Orang-orang yang kembali ke Yerusalem terdiri dari dua jalur. Jalur kekuasaan meliputi orang-orang seperti Nehemia dan Zerubabel, yaitu keturunan Daud. Di antara mereka ada pula beberapa gubernur. Yang lain adalah garis imam. Orang-orang pada garis imam ini menyatakan kemuliaan Allah dalam bait. Orang-orang seperti Ezra dan Yosua, imam besar, adalah orang Lewi. Jadi, kembalinya mereka dari pembuangan merupakan pemulihan kekuasaan dan ekspresi seperti pada waktu permulaan. Perkara pertama adalah memerintah bagi Allah, karena di antara keturunan Daud bangkit orang-orang yang menjadi gubernur. Yang lain adalah ekspresi Allah, karena kembalinya pelayanan Lewi dan imamat dalam bait.

Dengan menceritakan hal-hal ini, saya tidak bermaksud menceritakan kisah-kisah Alkitab. Satu-satunya harapan saya adalah di antara saudara saudari muda di sini, ada yang nampak apa yang sedang terjadi di alam semesta. Jika kita nampak.apa yang sedang terjadi di alam semesta, kita akan dengan mudah menerima beban dari dalamnya. Kita akan nampak, bahwa dalam zaman inipun, Allah memerlukan orang-orang bangkit untuk mengalihkan zaman seperti Samuel dan Daniel. Tentu kita sependapat bahwa keadaan zaman kini seperti keadaan zaman Babel dan Babilon, dan bahwa kekuasaan Allah disangkal di bumi dan ekspresiNya dirusak.

Pada masa kini, seluruh dunia merayakan hari Natal. Lihatlah bagaimana mereka merayakannya! Di luar, mereka merayakan kelahiran Yesus Kristus yang suci, tetapi sebenarnya mereka berada dalam daging dan melampiaskan hawa nafsu mereka. Tidak ada pesta dansa yang lebih buruk di dunia daripada tarian pada malam Natal! Orang-orang malah menyebut pesta dansa semacam itu "pesta kudus"! Begitulah cara orang merayakan hari "kelahiran" Kristus! Bukan orang kafir saja yang melakukan demikian, bahkan banyak orang Kristen juga hanyut dalam arus zaman ini. Banyak orang saling berkirim kartu natal, mengucapkan "Selamat Hari Natal," meletakkan pohon natal di rumah, dan menggantungkan lampu-lampu kecil pada pohon itu. Seolah-olah, jika mereka tidak melakukan hal-hal itu, mereka akan ketinggalan zaman. Saya kuatir di antara saudara saudari muda, ada juga yang berbuat demikian di masa yang lalu. Ingatlah, semua itu adalah hal-hal yang jatuh. Hari ini hampir seluruh Kekristenan telah jatuh ke Babel. Tidak ada lagi bekas pemerintahan Allah, juga tidak ada lagi sisa-sisa ekspresi Allah. Semuanya merupakan ke adaan manusia yang meninggalkan Allah. Dalam zaman yang kersang demikian, Allah memerlukan orang muda untuk bangkit mengalihkan zaman.

ORANG YANG MENGALIHKAN ZAMAN

ADALAH ORANG YANG MEMPERSEMBAHKAN DIRI

DENGAN SUKARELA

Sekarang, mari kita melihat Daniel. Bagaimana Allah memakai Daniel untuk mengalihkan zaman? Ada satu prinsip penting pada Daniel, seperti halnya pada Samuel, yaitu persembahan diri (konsikrasi) secara sukarela. Samuel adalah orang nazir. Nazir adalah orang yang mempersembahkan dirinya dengan sukarela (Bilangan 6). Kita dapat nampak prinsip yang sama pada diri Daniel. Kelihatannya Daniel bukan seorang nazir. Sebenamya dia juga orang nazir, karena nazir adalah orang yang tidak minum anggur atau minuman keras. Apakah arti dari tidak minum anggur atau minuman keras? Artinya adalah tidak menikmati kesenangan apapun dari kehidupan manusia ini. Demikianlah prinsip Daniel. Daniel tentu berkata, "Aku tidak mau apaapa yang dianggap manis, menggembirakan, atau memuaskan oleh dunia."

Mengapa Daniel tidak minum anggur atau minuman keras, juga tidak mengambil bagian dalam apa yang dimakan raja? Karena semua hal itu berkaitan dengan berhala. Pada zaman itu apa yang diminum raja Babilon, seperti juga makanannya yang berupa daging dan gandum, pasti telah dipersembahkan kepada berhala. Sedikitnya, makanan itu tidak tahir jika ditinjau dari peraturan ketahiran dalam Imamat 11; makanan itu adalah makanan yang najis. Daniel berkata, "Aku tidak mau dicemarkan oleh makanan itu. Orang muda di dunia boleh saja mengambil bagian dalam makanan itu, tetapi aku tidak mau mengambil bagian di dalamnya."

Pada prinsipnya, Daniel dan Samuel sama, keduanya adalah nazir. Daniel menolak segala hal yang dinikmati dan dibanggakan orang. Dia menolak segala yang bisa menawarkan kedudukan baginya di dunia. Dia adalah orang yang mempersembahkan diri dengan sukarela.

Saudara saudari, sedikit penuntutan rohani atau sedikit hidup yang ibadah di hadapan Tuhan tidaklah cukup untuk dipakai oleh Tuhan demi mengalihkan zaman. Semua orang yang dipakai Tuhan untuk mengalihkan zaman haruslah orang nazir; mereka harus mempersembahkan diri dengan sukarela. Saya yakin, sampai sekarang kita semua tahu apa yang dimaksud dengan mempersembahkan diri dengan sukarela. Hal itu berarti : sewaktu orang-orang di bumi mencari/mengejar dunia dan kenikmatan dunia, aku menyisihkan diri dari hal itu. Penyisihan ini adalah persembahan yang sukarela. Alkitab mencatat bahwa pada hari-hari itu raja Babilon memilih sekelompok orang muda dari berbagai bangsa untuk melayani dia. Kesempatan untuk dipilih adalah sesuatu yang "mintapun tidak akan mendapat." Karena raja akan memberi mereka makanan dan minuman yang baik selama tiga tahun, sehingga mereka akan segar dan gemuk tubuhnya untuk melayaninya di istananya. Banyak orang yang mendambakan kesempatan itu tetapi tidak dapat meraihnya. Tetapi Daniel dan ketiga temannya berketetapan, dengan berkata, "Kami melepaskan kesempatan ini. Kami tidak mau menikmati makanan dan minuman di sini. Kami tidak bisa menjadi serupa dengan orang lain. Kami harus mengambil pendirian lain. Orang lain tidak memiliki Allah dan bukan untuk Allah, tetapi kami adalah untuk Allah."

Pada saat itu, Daniel mungkin hanyalah seorang pemuda belasan tahun, tetapi kedua perkara ini, kekuasaan Allah dan kemuliaan Allah, terpulih di dalam dirinya. Pemuda ini bersama tiga orang temannya menerima kekuasaan Allah dan menempatkan diri di bawah kekuasaan Allah. Bukan hanya itu. Kita juga nampak bait Allah dan ekspresi Allah pada mereka. Ketika ketiga teman Daniel dengan tegas menolak menyembah berhala, sebenarnya itu adalah suatu proklamasi bahwa mereka menyatakan Allah! Mereka seolah-olah menyatakan, "Walaupun kami berada di tanah Sinear, kami bukanlah orang Sinear. Memang kami ada di Babel, tetapi kami adalah keturunan Abraham. Kami tidak bisa menyembah berhala di sini. Kami mau mempersaksi kan Allah yang mulia. Kami mau mengekspresikan Allah yang mulia dari dalam diri kami!" Pada hari itu ketiga temannya sepenuhnya menyatakan Allah di hadapan berhala-berhala. Alkitab mencatat, sesudah raja Babilon membuang mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala, dia melihat bahwa ketiga orang yang dibuangnya ke dalam api menjadi empat orang (Daniel 3:23-25). Bentuk orang yang keempat adalah seperti Anak Allah. Ingatlah, itu adalah Allah menyertai mereka, di tengah-tengah mereka, dan ternyata melalui mereka selagi mereka dalam perapian.

Tentu saja, kita harus sadar bahwa mereka mengekspresikan Allah sedemikian karena mereka tunduk kepada kekuasaanNya. Sewaktu seluruh dunia menyangkal kekuasaan Allah, mereka mengakui kekuasaan Allah. Sewaktu seluruh dunia memiliki manusia sebagai raja, mereka memiliki Allah sebagai Raja. Seluruh dunia mengatakan, bahwa mereka akan makan dan minum apa yang diperintahkan oleh raja Babilon; bagi mereka, perintah raja Babilonlah yang terhitung. Tetapi beberapa orang ini mengatakan, "Tidak, kami tidak berada di bawah kekuasaan raja Babilon. Kami berada di bawah kekuasaan Yehova. Hanya perkataan-Nya yang terhitung. Jika perkataan raja Babilon sesuai dengan apa yang Allah katakan, kami akan taat. Kalau tidak, kami tidak mau taat. Kami tidak bisa menentang Yehova dengan taat kepada raja Babilon." Jadi, ini bukanlah masalah tidak makan atau tidak minum, melainkan masalah siapa yang memerintah manusia. Jika kita membaca kitab Daniel dengan cermat, kita akan nampak bahwa Daniel dan temannya benar-benar di bawah kekuasaan Allah dan benar-benar membiarkan Allah diekspresikan melalui mereka. Entah mereka terbelenggu di tanah pembuangan, atau dibuang ke dalam perapian, atau bahkan dibuang ke dalam gua singa, mereka membiarkan kemuliaan Allah sepenuhnya terekspresikan.

Bagaimana mereka bisa seperti itu? Karena mereka adalah orang yang mempersembahkan diri dengan sukarela. Kelihatannya Allah tidak pemah memanggil Daniel atau menyatakan diri kepadanya. (Tentu saja, kita percaya bahwa Allah bekerja secara tersembunyi di sana). Yang kita nampak dari kitab Daniel adalah : orang-orang ini mempersembahkan diri mereka kepada Allah dengan sukarela.

Dalam mengalihkan zaman, Allah memerlukan konsekrasi manusia yang sukarela. Dalam hampir semua kasus pengalihan zaman, Allah tidak menunjukkan kepada kita, bahwa Roh Kuduslah yang memanggil dan mencari manusia (kecuali kasus Yohanes Pembaptis). Sebaliknya, Allah menunjukkan kepada kita, bahwa setiap kali ada pengalihan zaman, pekedaan Allah terlihat secara tersembunyi; tidak begitu terlihat oleh manusia.Yang terlihat jelas oleh manusia adalah konsekrasi manusia yang sukarela. Pada Daniel dan ketigatemannya, kita tidak melihat pekerjaan luaran Roh Kudus. Yang kita nampak adalah konsekrasi sukarela orang-orang itu.

Pada saat itu, bangsa Israel berada dalam pembuangan, bait Allah hancur, dan semua perkakas bait Allah diangkut. Kekuasaan, kemuliaan, dan ekspresi Allah lenyap dari bumi. Setiap orang telah menolak kekuasaan Allah dan berada di bawah kekuasaan raja Babilon; mereka menyatakan setan dan terlibat dengan setan. Bahkan makanan yang mereka makan dan anggur yang mereka minum telah dipersembahkan kepada setan sehingga tercemar dan najis. Namun pada saat itu, Daniel dan ketiga temannya (yang masih sangat muda, mungkin Daniel tidak lebih dari dua puluh tahun) berdiri dan berkata, "Sewaktu seluruh dunia menolak kekuasaan Allah, kami menaruh diri di bawah kekuasaan Allah. Sewaktu seluruh bumi terlibat dengan setan, kami akan melibatkan diri dengan Allah. Kami di sini untuk mengekspresikan Allah. Sewaktu dunia hanyut dan merosot ke bawah dalam arus ini, kami berempat akan melawan arus dan akan menanjak ke atas. Kami tidak bisa merosot bersama arus. Sebaliknya kami akan menanjak ke atas melawan arus." Saudara saudari, inilah rahasia agar seseorang bisa dipakai Allah untuk mengatihkan zaman! Hari ini, Anda juga dapat dipakai oleh Allah untuk mengatihkan zaman, tetapi rahasianya terletak pada kerelaan Anda untuk mempersembahkan diri.

ORANG MUDA HARUS MEMPERSEMBAHKAN DIR1

DENGAN SUKARELA UNTUK MENJAD1 KESAKSIAN

YANG BERLAWANAN DALAM ZAMAN IN1

Saudara saudari, ketika saya mempertimbangkan di hadapan Tuhan, apa yang harus saya sampaikan, saya memiliki perasaan yang berat di batin, bahwa saya harus menunjukkan pentingnya pengalihan zaman ini kepada orang muda, dan menunjukkan kepada saudara saudari muda, jenis orang yang Allah pakai untuk mengalihkan zaman. Orang yang Allah pakai adalah orang yang mempersembahkan diri dengan sukarela. Ketika orang-orang merosot ke bawah, beberapa orang berdiri sebagai kesaksian yang berlawanan.

Seluruh kitab Daniel adalah kesaksian yang berlawanan terhadap zaman itu. Semua orang makan santapan raja dan minum anggur raja, tetapi keempat orang ini tidak. Semua orang menyembah berhala, tetapi ketiga orang itu tidak. Semua orang berhenti berdoa karena perintah raja, tetapi Daniel tetap berdoa tiga kali sehari dengan mengarah ke Yerusalem sambil berlutut di hadapan Allah! Inilah kesaksian yang berlawanan.

Saudara saudari, saya mengatakannya lagi, orang macam apa yang dapat dipakai Allah untuk menentang zaman? Orang-orang yang mempersem-bahkan diri secara sukarela! Kita dapat melihat prinsip dasar ini pada diri Samuel dan Daniel. Kita masing-masing sepatutnya berkata, "Aku tidak bisa melakukan hal-hal yang dunia lakukan. Aku tidak bisa menempuh jalan yang dunia tempuh. Dunia boleh saja mengikuti arus zaman ini, tetapi aku tidak bisa mengikutinya."

Orang muda, Anda harus sadar bahwa kesaksian Allah, termasuk kekuasaan dan kemuliaan Allah, telah rusak dalam arus dunia. Setiap orang yang dipakai oleh Allah untuk mengalihkan zaman haruslah orang yang mempersembahkan diri dengan sukarela di tengah-tengah arus ini. Dia dapat berdiri dan menyatakan kepada setiap orang, "Aku tidak dapat mengikuti arus ini. Aku akan menjadi orang yang berdiri menentang arus ini." Jika Anda metakukan hal ini, kekuasaan Allah dan kemuliaan Allah akan terekspresi melalui Anda.

Jika kita membaca kitab Daniel, kita akan nampak bahwa kekuasaan Allah dan kemuliaan Allah ada pada Daniel. Daniel benar-benar menjadi takhta Allah dan bait Allah. Dalam Daniel kita nampak pemerintahan Allah dan ekspresi Allah. Bahkan orang-orang kafir yang menyembah berhala melihat kemuliaan Allah dan pemerintahan Allah dalam diri Daniel. Tidak heran melalui satu orang ini, Daniel, Allah akhimya mampu membawa orang Israel kembali ke Yerusalem dan memulihkan kekuasaanNya dan baitNya di antara mereka. Titik balik itu sepenuhnya karena Daniel. Dia mampu menjadi orang yang demikian karena dia adalah orang yang mempersembahkan diri dengan sukarela. Dia rela berdiri menentang arus dan menjadi kesaksian bagi Allah. Ini adalah pemuda yang dapat dipakai oleh Allah untuk me ngalihkan zaman. Kranya Allah membangkitkan orang-orang muda seperti Daniel untuk keperluan zaman ini!