← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Pelayanan · bab 20/22

MENOLAK KEKUATAN DAN KEMAMPUAN ALAMIAH

Pembacaan Alkitab:

Kel. 2:11-15; Kis. 7:22-30, 34-36; Ibr. 11:28; Luk. 22:31-34; Yoh. 13:36-38; 18:15-18, 25-27; Mat. 26:69-75; 1 Ptr. 5:5-6

GARIS BESAR

I. Kekuatan dan kemampuan alamiah tidak mempunyai elemen ilahi.

II. Kekuatan dan kemampuan alamiah bertindak menurut kehendak diri sendiri, tidak menurut kehendak Allah.

III. Kekuatan dan kemampuan alamiah mencari kemuliaan diri sendiri, dan memuaskan kedambaan diri sendiri.

IV. Kekuatan dan kemampuan alamiah perlu ditanggulangi oleh salib.

V. Kekuatan dan kemampuan alamiah menjadi berguna di dalam kebangkitan untuk pelayanan kita kepada Tuhan.

VI. Kasus Musa:

A. Dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan berkuasa dalam perkataan-perkataan dan pekerjaan-pekerjaan–Kis. 7:22.

B. Melakukan sesuatu bagi umat Allah menurut kehendaknya sendiri–Kis. 7:23-26.

C. Disisihkan oleh Allah selama empat puluh tahun–Kel. 2:14-15; Kis. 7:27-30.

D. Belajar untuk melayani Allah menurut pimpinan-Nya dan percaya di dalam Dia–Kis. 7:34-36; Ibr. 11:28.

VII. Kasus Petrus:

A. Percaya-diri dalam kekuatan dan kemampuan alamiahnya–Luk. 22:33.

B. Dimasukkan ke dalam suatu ujian–Yoh. 18:15-18, 25-27.

C. Menjadi suatu kegagalan yang lengkap–Mat. 26:69-75.

D. Belajar untuk melayani saudara-saudara dengan kepercayaan di dalam Tuhan dan dengan kerendahan hati–Luk. 22:32; 1 Ptr. 5:5-6.

Hal yang paling sulit dan paling penting mengenai pelayanan Tuhan adalah menjaga diri dari poin-poin negatif yang telah kita tunjukkan di dalam pelajaran-pelajaran ini. Seseorang di dalam pemulihan Tuhan yang tidak jelas mengenai semua poin negatif ini tidak dapat mempersembahkan suatu pelayanan yang tepat kepada Tuhan. Kita mungkin pemimpin, tetapi jika kita tidak jelas tentang semua faktor negatif ini, Kita tidak dapat membantu kaum beriman untuk melakukan pelayanan gereja di dalam jalan hayat yang menguntungkan. Kita mungkin melakukan banyak hal, dan kita mungkin membantu kaum beriman lokal untuk melakukan banyak hal, tetapi tidak ada hal yang menguntungkan di dalam hayat.

Pelayanan itu haruslah berasal dari hayat dan juga dalam hayat. Di dalam semua pelayanan gereja, setiap kaum beriman harus jelas tentang perkara ini. Di dalam pelayanan gereja, kita bukan hanya giat untuk melalukan hal-hal dengan sukses. Kita adalah aliran hayat yang mengalir kepada orang lain. Pelayanan harus menjadi ministri hayat bagi orang lain, suatu pelayanan dalam hayat. Pelayanan hayat harus menjadi aliran hayat yang keluar dari kita sebagai suatu ministri hayat bagi orang lain. Supaya perkara ini terjadi, kita tentu harus menjaga diri kita dari semua hal negatif ini, yang merupakan rintangan, halangan dan aral bagi aliran yang keluar dari hayat di dalam pelayanan kita.

Di dalam pelajaran ini kita akan melihat bahwa di dalam pelayanan gereja kita harus menolak kekuatan dan kemampuan alamiah kita, yang didapat oleh kita baik melalui kelahiran atau melalui belajar. Apa pun juga kekuatan dan kemampuan alamiah kita, tidak menguntungkan bagi pelayanan gereja di dalam hayat.

I. KEKUATAN DAN KEMAMPUAN ALAMIAH

TIDAK MEMPUNYAI ELEMEN ILAHI

Alamiah apa pun tidak mempunyai elemen ilahi di dalamnya, khususnya kekuatan alamiah dan kemampuan alamiah. Menggunakan kekuatan dan kemampuan alamiah semuanya melawan prinsip dasar gereja sebagai Tubuh Kristus, karena gereja sebagai Tubuh Kristus merupakan suatu susunan dari keinsanian yang berbaur dengan keilahian. Gereja sebagai manusia baru harus penuh dengan elemen ilahi. Tuhan mengutuk kekristenan karena kekristenan telah menjadi suatu agama yang dilaksanakan oleh kekuatan alamiah dan kemampuan alamiah manusia. Tidak ada pengembangan elemen ilahi di sana. Tetapi gereja yang sejati adalah suatu susunan elemen ilahi yang berbaur dengan keinsanian. Kita harus mempelajari perkara ini sebagai suatu pelajaran dasar, dan kita juga harus memberi kesan kepada setiap kaum beriman yang berbagian dalam pelayanan gereja dengan poin ini.

Di dalam pelayanan kita, kita harus melakukan segala sesuatu di dalam prinsip inkarnasi. Prinsip inkarnasi adalah bahwa sifat ilahi ditempa masuk ke dalam keinsanian. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi ini, Dia melakukan segala sesuatu di dalam keinsanian-Nya yang penuh dengan elemen ilahi. Dia tidak melakukan segala sesuatu dengan kekuatan atau kemampuan alamiah, Dia berkata bahwa Dia tidak dapat melakukan sesuatu di luar Bapa (Yoh. 5:19). Bapa di dalam Dia dan bersatu dengan Dia di dalam semua perbuatan-perbuatan-Nya, di dalam semua perkatan-Nya, dan di dalam semua pekerjaan-Nya (14:10; 10:30). Apa pun yang Dia lakukan, apa pun yang Dia katakan, dan apa pun yang Dia kerjakan semuanya bersama dengan Bapa sebagai elemen ilahi. Kita perlu mempertimbangkan apakah kekuatan dan kemampuan yang kita gunakan bagi pelayanan Tuhan adalah alamiah ataukah ilahi. Kita harus belajar pelajaran tentang menolak kekuatan dan kemampuan alamiah kita, dan kita harus membantu semua kaum beriman untuk mempelajari pelajaran ini.

II. KEKUATAN DAN KEMAMPUAN ALAMIAH BERTINDAK

MENURUT DIRI SENDIRI, BUKAN MENURUT KEHENDAK ALLAH

Ketika Musa dan Petrus masih muda, mereka bertindak sendiri, bukan menurut kehendak Allah. Hari ini kita mungkin bertindak dan melakukan beberapa pelayanan bagi Tuhan menurut kekuatan dan kemampuan alamiah kita, tetapi bukan menurut kehendak Allah. Karena kita mempunyai kekuatan dan kemampuan, kita merasa tidak perlu berdoa, menantikan Tuhan, mencari kehendak Tuhan, atau mencari pimpinan Tuhan. Perkara inilah sebenarnya yang terjadi pada Musa. Ketika dia memukul seorang Mesir untuk melindungi sesama bangsa Ibrani, dia melakukannya sendiri dan bukan menurut kehendak Tuhan (Kel. 2:11-12). Keadaan yang menyedihkan di dalam kekristenan hari ini adalah bahwa orang-orang bekerja untuk Tuhan menurut diri sendiri oleh kekuatan dan kemampuan alamiahnya. Mereka tidak berdoa untuk pimpinan Tuhan. Mereka mungkin hanya berdoa untuk Tuhan agar mengaruniakan berkat-Nya ke atas hal yang mereka lakukan. Mereka tidak banyak berdoa untuk kehendak Tuhan, karena mereka percaya di dalam kekuatan dan kemampuan alamiah mereka.

III. KEKUATAN DAN KEMAMPUAN ALAMIAH MENCARI

KEMULIAAN DIRI SENDIRI DAN

MEMUASKAN KEDAMBAAN DIRI SENDIRI

Ketika kita bekerja di dalam kekuatan dan kemampuan alamiah kita, sasarannya adalah untuk mencari kemuliaan kita sendiri dan motifnya adalah untuk memuaskan kedambaan kita sendiri. Jika kita melihat visi ini, visi itu akan membunuh sasaran yang mencari kemuliaan kita sendiri dan motivasi yang tidak murni. Sebenarnya, di dalam pekerjaan Tuhan, kita tidak seharusnya mempunyai ego, dan kita tidak seharusnya mempunyai sasaran untuk kemuliaan kita sendiri, untuk kebanggaan kita. Kita seharusnya melakukan hal-hal dengan sederhana karena Tuhan memimpin kita untuk melakukannya. Kita seharusnya tidak melakukan hal-hal itu karena kita mempunyai sesuatu untuk memperolehnya bagi sasaran kita. Itu adalah salah. Sasarannya haruslah untuk Tuhan.

Membunuh kedambaan kita dan sasaran kita berarti membunuh kekuatan dan kemampuan kita. Kedambaan kita sendiri dan sasaran kita bagi kemuliaan kita sendiri adalah bersatu dengan kekuatan alamiah dan kemampuan alamiah kita. Orang-orang dunia dan bahkan banyak orang Kristen yang melakukan hal-hal oleh kekuatan dan kemampuan mereka bagi kedambaan dan kemuliaan mereka, tetapi kita harus mengutuk dan menolak perkara ini.

IV. KEKUATAN DAN KEMAMPUAN ALAMIAH PERLU DITANGGULANGI OLEH SALIB

Kekuatan dan kemampuan alamiah perlu ditanggulangi oleh salib. Untuk mengalahkan dan menanggulangi dosa tidaklah sesukar perkara ini. Untuk mengalahkan kekuatan dan kemampuan alamiah adalah suatu pelajaran subyektif, yang besar; pelajaran ini lebih subyektif daripada menanggulangi dosa. Di dalam suatu hal tertentu, kekuatan dan kemampuan alamiah kita sama dengan ego kita, susunan alamiah kita. Kekuatan alamiah dan kemampuan alamiah kita adalah perwujudan dari ego kita. Inilah sebabnya mengapa setelah penyangkalan ego kita perlu suatu pelajaran mengenai menolak kekuatan dan kemampuan alamiah dan menanggulanginya dengan salib.

V. KEKUATAN DAN KEMAMPUAN ALAMIAH MENJADI BERGUNA

DI DALAM KEBANGKITAN BAGI PELAYANAN KITA KEPADA TUHAN

Kekuatan dan kemampuan alamiah itu berguna jika ditanggulangi oleh salib. Setelah ditanggulangi oleh salib, kekuatan dan kemampuan alamiah itu berada di dalam kebangkitan. Ada beberapa saudara yang berbicara dengan mahir dalam alamiah mereka, tetapi ada saudara-saudara lain yang berbicara dengan mahir setelah ditanggulangi oleh salib. Ini adalah kemahiran di dalam kebangkitan. Beberapa orang yang kekurangan pengalaman mungkin bertanya apakah perbedaan kemahiran alamiah dengan kemahiran di dalam kebangkitan. Sulit untuk menjelaskannya, tetapi jika kalian mempunyai pengalaman itu, mudah untuk membedakannya. Hanya orang-orang yang mempunyai pengalaman itu yang dapat membedakan perbedaan antara kekuatan dan kemampuan alamiah yang tidak ditanggulangi dengan kekuatan dan kemampuan alamiah yang ditanggulangi salib.

Di dalam kebangkitan sesuatu yang ilahi telah ditempakan ke dalam kekuatan dan kemampuan kita. Bahkan beberapa elemen ilahi itu telah ditempakan ke dalam kemahiran kita. Ketika kita berbicara, kita perlu mempunyai kemahiran kita yang telah ditanggulangi oleh salib. Salib itu selalu menggarapkan elemen ilahi ke dalam persona yang ditanggulanginya, membawa Allah masuk ke dalamnya. Jika kalian belum pernah ditanggulangi oleh salib dalam kemahiran kalian, maka kemahiran itu adalah kemahiran alamiah dengan tidak ada sesuatu yang ilahi. Tetapi jika kemahiran kalian telah ditanggulangi oleh salib, maka kemahiran yang demikian itu, berada di dalam kebangkitan dan penuh dengan elemen ilahi. Di dalam kemahiran alamiah, tidak ada Allah. Tetapi "penanggulangan" kemahiran di dalam kebangkitan adalah penuh dengan Allah. Setelah ditanggulangi, kekuatan dan kemampuan kita menjadi berguna di dalam kebangkitan bagi pelayanan kita kepada Tuhan.

VI. KASUS MUSA

Kita perlu mendapatkan kemampuan, tetapi satu kali kita mempunyai kemampuan itu, kita perlu ditanggulangi. Inilah sebenarnya yang terjadi pada Musa. Kasus Musa adalah kasus yang paling baik untuk mengilustrasikan perkara tentang menolak kekuatan dan kemampuan alamiah. Tidak ada persona lain di dalam Alkitab yang sebaik Musa di dalam aspek ini.

A. Dididik dalam Segala Hikmat Orang Mesir dan Berkuasa dalam Perkataan-perkataan dan Pekerjaan-pekerjaan

Kisah Para Rasul 7:22 memberitahukan kepada kita bahwa Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir dan berkuasa dalam perkataan-perkataan dan pekerjaan-pekerjaannya (Tl.). Dia keluar bekerja untuk Allah, untuk menyelamatkan umat Allah dari kekuasaan Firaun.

B. Melakukan Sesuatu untuk Umat Allah menurut Kehendaknya Sendiri

Musa melakukan sesuatu untuk umat Allah menurut kehendaknya sendiri (Kis. 7:23-26). Dia penuh dengan jaminan bahwa dia dapat merampungkan sesuatu, tetapi dia melaksanakan kehendaknya, bukan kehendak Allah.

C. Disisihkan oleh Allah selama Empat Puluh Tahun

Allah yang bertujuan dan berdaulat menyisihkan Musa selama empat puluh tahun (Kel. 2:14; Kis. 7:27-30).

D. Belajar untuk Melayani Allah menurut Pimpinan-Nya

dan untuk Percaya di dalam Dia

Di dalam empat puluh tahun itu Musa belajar untuk melayani Allah menurut pimpinan-Nya dan untuk percaya di dalam Dia (Kis. 7:34-36; Ibr. 11:28). Musa akhirnya menjadi seorang persona yang tidak melakukan sesuatu menurut kehendaknya. Dia selalu bertindak menurut pimpinan Tuhan. Tuhan memimpinnya, dan dia mengikutinya. Dia tidak mempunyai iman di dalam kemampuan alamiahnya. Kemampuan alamiahnya telah ditanggulangi, maka kemampuannya menjadi suatu kemampuan di dalam kebangkitan. Kemampuan di dalam kebangkitan berhubungan dengan pergerakan Allah. Jika kemampuan kita tidak ditanggulangi, kemampuan kita terpisah dari pergerakan Allah. Tetapi setelah ditanggulangi oleh salib, kemampuan kita menjadi satu dengan pergerakan Allah. Sebenarnya, Allah telah ditempakan ke dalam kemampuan Musa. Kemampuannya akhirnya penuh dengan Allah.

Keluaran 2 memperlihatkan kepada kita seorang Musa yang alamiah, Musa dengan kekuatan dan kemampuan alamiahnya. Kekuatan dan kemampuan alamiahnya adalah murni, satu-satunya, sepenuhnya, benar-benar Musa tanpa Allah. Kemudian setelah pasal tiga kita dapat melihat Musa yang lain, seorang Musa yang sepenuhnya ditanggulangi oleh Allah. Setelah pasal tiga, Allah berada di dalam Musa dan apa saja yang Musa lakukan dalam tindak tanduk dan pergerakannya adalah penuh dengan Allah, mempunyai elemen ilahi.

VII. KASUS PETRUS

A. Percaya-Diri di dalam Kekuatan dan Kemampuan Alalmiahnya

Petrus mempunyai rasa percaya diri di dalam kekuatan dan kemampuan alamiahnya bahkan sampai memikirkan bahwa dia akan mengikuti Tuhan sampai ke penjara dan sampai mati (Luk. 22:33).

B. Dimasukkan ke dalam suatu Ujian

Petrus diuji dan dia menyangkal Tuhan tiga kali, bahkan di hadapan seorang hamba perempuan kecil (Yoh. 18:15-18, 25-27).

C. Menjadi suatu Kegagalan yang Lengkap

Petrus benar-benar gagal dan menjadi suatu kegagalan yang lengkap (Mat. 26:69-75). Dia mempunyai satu hati untuk mengasihi Tuhan, tetapi dia terlalu percaya kepada kekuatannya sendiri, kekuatan alamiahnya. Kasihnya untuk Tuhan adalah berharga, tetapi kekuatan alamiahnya harus ditolak dan ditanggulangi. Tuhan mengijinkan Petrus gagal sampai pada puncaknya menolak Tuhan di hadapan wajah-Nya tiga kali, sehingga kekuatan alamiah dan rasa percaya-dirinya dapat ditanggulangi.

D. Belajar untuk Melayani Saudara-saudara dengan Kepercayaan

di dalam Tuhan dan dengan Kerendahan Hati

Melalui kegagalannya, Petrus belajar untuk melayani saudara-saudara dengan kepercayaan di dalam Tuhan dan dengan kerendahan hati (Luk. 22:32; 1 Ptr. 5:5-6). Petrus benar-benar dipecahkan dan dipalingkan dari kekuatan alamiah ke sesuatu yang berada di dalam kebangkitan.

Kita tentu harus memberi kesan kepada saudara dan saudari dengan pelajaran ini. Mereka semua harus belajar satu pelajaran ini: menolak kekuatan dan kemampuan alamiah. Kekuatan dan kemampuan alamiah kita harus ditanggulangi dan diletakkan di atas salib. Kemudian kekuatan dan kemampuan alamiah akan berada di dalam kebangkitan dan akan penuh dengan elemen ilahi. Kemudian apa saja yang kita lakukan di dalam pelayanan gereja akan menjadi suatu ministri elemen ilahi bagi orang lain. Jika kekuatan dan kemampuan alamiah kita tidak ditanggulangi, kita akan meministrikan sesuatu yang alamiah kepada umat dengan pelayanan gereja kita.

Buku-buku

Yayasan Perpustakaan Injil

Watchman Nee

Witness Lee

LYD

Terjemahan Bebas

Lain-lain

Digunakan oleh :

Joie Hadinata

@2015

ORANG YANG MENGALIHKAN JAMAN

BAB

1 2

Alasan Allah mengadakan banyak gerakan pengalihan zaman

adalah karena manusia yang dipakai-Nya dalam satu zaman sering jatuh

dan gagal mencapai tujuan-Nya.

Karena itu, Allah perlu mengadakan suatu permulaan baru

sehingga Ia dapat melakukan apa yang ingin dilakukan-Nya

dalam zaman yang baru.

Allah ingin mendatangkan suatu zaman baru

dengan melakukan sesuatu melalui orang-orang

dalam kurun waktu tertentu.

Buku kecil ini terdiri dari dua berita yang disampaikan oleh saudara Witness Lee kepada sekelompok orang muda di Hongkong pada musim rontok tahun 1957.