← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Pelayanan · bab 19/22

MENYANGKAL EGO

Pembacaan Alkitab:

Mat. 16:23-26; Luk. 9:25; Gal. 5:16b, 24; Rm. 7:18-21; Mat. 19:16, 20

GARIS BESAR

I. Perbedaan antara ego dan daging:

A. Daging adalah tubuh yang telah rusak dan berubah–Gal. 5:16b, 24.

B. Ego adalah jiwa yang telah jatuh dan memberontak–Mat. 16:26; Luk. 9:25.

II. Ketika daging menguasai ego, ego itu menjadi seorang persona yang jahat–Rm. 7:18-21.

III. Ketika ego tunduk kepada daging, ego menjadi seorang persona yang "baik"–Mat. 19:16, 20.

IV. Ego adalah merdeka terhadap Allah–Mat. 16:23-24.

V. Ego adalah perwujudan hayat jiwani, bersatu dengan Satan, dan terekspresi melalui pikiran–pemikiran-pemikiran yang beropini–Mat. 16:23-24.

VI. Ego adalah faktor tersembunyi, yang merusak pelayanan kita di dalam gereja.

VII. Ego perlu di buang–Mat. 16:24-25.

Di dalam pelajaran sebelumnya mengenai pelayanan, mulai dari pelajaran tiga belas, kita telah menghadapi banyak hal yang negatif yang menghalangi dan merusak pelayanan kita. Pelajaran tigabelas adalah bahaya dan kehilangan jika tidak menggunakan karunia. Pelajaran empatbelas adalah api asing. Pelajaran limabelas menunjukkan kepada kita bahwa kita perlu memperhatikan bagaimana untuk membangun. Kita tidak seharusnya membangun dengan kayu, rumput, atau jerami, tetapi dengan emas, perak, dan batu-batu permata (1 Kor. 3:12). Pelajaran enambelas membicarakan tentang ketidakmampuan keberadaan alamiah kita dalam hal-hal yang berasal dari Allah. Kemudian kita telah melihat di dalam pelajaran tujuhbelas dan delapanbelas bahwa kita perlu mengenal daging dengan cara menyeluruh.

Kita harus membantu kaum beriman agar menyadari bahwa di dalam pelayanan gereja kita harus mengenal semua hal negatif ini. Jika kita tidak jelas akan semua hal negatif ini dan tidak mempunyai pembersihan yang menyeluruh atas hal-hal negatif ini, maka kita tidak akan pernah dapat mempunyai suatu pelayanan gereja yang tepat. Jika kita tidak jelas dari semua hal negatif ini, kita masih berada di dalam alam kekristenan. Maka merupakan suatu perkara yang berharga bagi kita untuk tinggal dengan kaum beriman mengenai semua poin negatif ini.

Di dalam pelajaran ini kita akan melihat perlunya menyangkal ego di dalam pelayanan kita terhadap gereja. Garis besar untuk pelajaran ini adalah sederhana, tetapi di sini perlu pengembangan, usaha, dan doa atas semua bagian kita untuk masuk ke dalam makna mendasarnya.

I. PERBEDAAN ANTARA EGO DAN DAGING

Ada suatu perbedaan antara ego dan daging, tetapi banyak orang Kristen tidak menyadari perkara ini, atau memperhatikan perkara ini.

A. Daging adalah Tubuh yang telah Rusak dan Berubah

Pada kejatuhan manusia, tubuhnya telah rusak, dan kemudian tubuh berubah, berganti. Galatia 5 membicarakan tentang hawa nafsu daging (ay. 16b) dan amarah daging (ay. 24). Hawa nafsu dan amarah adalah hal-hal yang jahat dari tubuh kita yang telah jatuh. Daging adalah tubuh yang telah rusak dan berubah. Ini lah definisi yang paling tepat mengenai daging.

B. Ego adalah Jiwa yang telah Jatuh dan Memberontak

Jiwa diciptakan oleh Allah, tetapi jiwa telah jatuh. Ketika jiwa menjadi jatuh, jiwa memberontak terhadap Allah. Di dalam Matius 16:26 Tuhan berkata, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?" Di dalam Lukas 9:24-25, hayat-jiwa diganti dengan egonya,menunjukkan bahwa hayat-jiwa kita, jiwa kita, adalah ego kita.

Kita telah melihat bahwa Allah telah menciptakan suatu tubuh bagi manusia, tetapi Dia tidak menciptakan daging. Tubuh menjadi daging diakibatkan oleh pengrusakan. Pada cara yang sama, jiwa yang diciptakan oleh Allah telah rusak, tetapi ego tidak. Jiwa menjadi ego, oleh karena kejatuhan dan pemberontakan. Sumber daging adalah tubuh, dan sumber ego adalah jiwa.

II. KETIKA DAGING MENGUASAI EGO,

EGO MENJADI SEORANG PERSONA YANG JAHAT

Di dalam Roma 7:18-21 Paulus memperlihatkan bagaimana daging menguasai ego dan bagaimana ego berusaha dengan tidak berhasil untuk mengalahkan daging. Ketika daging, yang penuh dengan hawa nafsu dan amarah, menguasai ego, ego menjadi seorang persona yang jahat yang melakukan hal-hal yang jahat.

III. KETIKA EGO TUNDUK KEPADA DAGING,

EGO MENJADI SEORANG PERSONA YANG "BAIK"

Ada beberapa orang yang sangat kuat di dalam tekad mereka atau di dalam karakter mereka, sampai sedemikian rupa, tetapi tidak semuanya, mereka dapat mengendalikan daging mereka dengan amarah dan hawa nafsunya. Matius 19 membicarakan tentang seorang muda yang kaya yang menganggap bahwa dia baik dengan cara ini. Dia datang kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya perbuatan baik apakah yang harus dia perbuat untuk mewarisi hayat yang kekal (ay. 16). Ketika Tuhan berkata kepadanya untuk melakukan perintah-perintah, dia mengatakan bahwa dia telah melakukannya (ay. 20). Tidak diragukan lagi, dia adalah seorang persona yang "baik." Perkara ini memperlihatkan kepada kita bahwa ketika ego tunduk kepada daging, ego itu akan menjadi seorang persona yang "baik."

IV. EGO ADALAH MERDEKA TERHADAP ALLAH

Ego adalah merdeka terhadap Allah (Mat. 16:23-24). Ego tidak memperhatikan kehendak Allah atau untuk keperntingan Allah.

V. EGO ADALAH PERWUJUDAN DARI HAYAT JIWANI,

BERSATU DENGAN SATAN, DAN TEREKSPRESI MELALUI PIKIRAN–PEMIKIRAN-PEMIKIRAN YANG BEROPINI

Dalam poin ini ada tiga poin tambahan. Pertama, ego adalah perwujudan dari hayat jiwani. Kedua, ego bersatu dengan Satan. Ketiga, ego terekspresi melalui pikiran, yang sebenarnya adalah pemikiran-pemikiran yang beropini (Mat. 16:23-24). Kita telah melihat bahwa jiwa yang telah jatuh adalah sumber ego, maka ego adalah jiwa. Ego adalah perwujudan dari hayat jiwani.

Pada kejatuhan manusia, Satan bukan hanya masuk ke dalam tubuh manusia tetapi juga masuk ke dalam jiwa manusia. Ini disebabkan pertama-tama karena Hawa menerima pemikiran ke dalam pikirannya (Kej. 3:1-5). Kemudian dia makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, yang masuk ke dalam tubuhnya (ay. 6). Sebelum buah itu masuk ke dalam tubuhnya, Pemikiran Satan telah masuk lebih dulu ke dalam pikirannya. Oleh karena itu, jiwa yang telah jatuh adalah bersatu dengan Satan. Perkara ini juga berdasarkan atas apa yang kita lihat di dalam Matius 16, di mana Tuhan menegor Petrus dengan menyebutnya "Iblis" (ay. 23). Pada waktu itu Petrus berada di dalam egonya, di dalam hayat jiwaninya, maka dia menjadi Satan. Ini membuktikan bahwa ego bersatu dengan Satan.

Setelah mengarahkan Petrus sebagai "Iblis," Tuhan berkata, "Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan oleh manusia." Ini memperlihatkan bahwa ego, yang bersatu dengan Satan, terekspresi melalui pikiran sebagai pemikiran-pemikiran yang beropini. Maka, Matius 16:23-24 memperlihatkan kepada kita bahwa ego adalah perwujudan hayat jiwani, yang bersatu dengan Satan, dan terekspresi melalui pikiran, yaitu, pemikiran-pemikiran yang beropini. Pikiran adalah saluran, metode, bagi ego untuk mengekspresikan dirinya.

VI. EGO ADALAH FAKTOR TERSEMBUNYI YANG MERUSAK PELAYANAN KITA DI DALAM GEREJA

Kita perlu memberi kesan kepada kaum beriman bahwa ego itu adalah faktor tersembunyi yang merusak pelayanan kita di dalam gereja. Ego adalah seperti ulat yang tersembunyi, yang memakan buah-buah dari pelayanan kita. Kita mungkin mempunyai banyak sekali pelayanan tanpa adanya hasil hayat disebabkan karena ulat ini, ego, yang beroperasi. Jika kepenatuaan kita tidak efektif, maka tak diragukan lagi, ego ada di sana. Jika ministri kita tidak kuat/berpengaruh, ego ada di sana. Jika penggembalaan atau persekutuan kita dengan kaum beriman tidak bekerja dengan baik di dalam hayat, kita harus menyadari bahwa ego ada di sana. Ego adalah faktor dasar yang merusak, tetapi ego itu tersembunyi.

VII. EGO PERLU DIBUANG

Di dalam Matius 16:24 Tuhan berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri (ego) nya, memikul salibnya dan mengikut Aku." Ego perlu dibuang. Untuk menanggulangi ego, kita perlu memikul salib. Ini berarti bahwa kita harus tetap tinggal di bawah pembunuhan kematian Kristus untuk mengakhiri ego kita. Ego itu sangat hidup, aktif dan agresif, maka kita perlu memikul salib setiap hari dan sepanjang hari.

Jika ego kita telah dibuang, maka ministri kita akan menakjubkan, kepenatuaan pun akan menakjubkan, semua pelayanan kita akan menakjubkan, dan tidak akan ada masalah-masalah, tidak ada perselisihan, dan tidak ada perpecahan di antara kita. Ego adalah faktor perusak yang besar yang tersembunyi bagi pelayanan kita di dalam gereja. Kita membagikan pelajaran ini kepada kaum beriman dengan ministri hayat untuk memberikan kepada mereka suatu kesan yang dalam akan keperluan kita untuk menolak ego itu.