KETIDAKMAMPUAN KEBERADAAN ALAMIAH KITA DALAM HAL-HAL YANG BERASAL DARI ALLAH
Pembacaan Alkitab:
Ef. 2:1, 5a; 1 Kor. 2:14; Yer. 17:9; Ef. 4:17-18; Rm. 8:7-8; Mat. 16:24; Rm. 6:6; 7:24; Flp. 3:3
GARIS BESAR
I. Roh kita sudah mati
II. Jiwa kita tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah ataupun memahaminya
III. Hati kita lebih licik daripada segala sesuatu dan tidak dapat diobati
IV. Pikiran kita telah diisi dengan hal-hal yang sia-sia dan pengertian yang gelap
V. Tekad kita telah degil
VI. Daging kita tidak dapat takluk kepada Allah dan tidak berkenan kepada Allah
VII. Diri kita perlu ditolak
VIII. Tubuh kita adalah tubuh dosa dan tubuh maut
IX. Belajar untuk tidak mempercayai keberadaan alamiah kita dalam hal-hal yang berasal dari Allah
Di dalam pelajaran ini kita akan melihat ketidakmampuan keberadaan alamiah kita dalam hal-hal yang berasal dari Allah. Ketidakmampuan adalah tidak memadai. Kita mungkin merasa memadai dalam hal-hal lain, tetapi kita tidak mempunyai kecukupan, kemampuan, atau kekuatan dalam hal-hal yang berasal dari Allah.
I. ROH KITA SUDAH MATI
Roh manusia yang telah jatuh sudah mati (Ef. 2:1, 5a), maka roh manusia itu tidak berguna dalam hal-hal yang berasal dari Allah.
II. JIWA KITA TIDAK MENERIMA APA YANG BERASAL
DARI ROH ALLAH ATAUPUN MEMAHAMINYA
Satu Korintus 2:14 berkata, "Tetapi manusia jiwani tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dinilai secara rohani." Ayat ini menunjukkan bahwa jiwa kita tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah ataupun dapat memahaminya. Seorang manusia jiwani adalah seorang manusia yang alamiah, seorang yang mengijinkan jiwanya (termasuk, pikiran, emosi, dan tekad) untuk menguasai seluruh apa adanya dia dan yang hidup oleh jiwanya, menolak rohnya, tidak menggunakan rohnya, dan bahkan bertingkah laku seperti jika dia tidak mempunyai roh (Yudas 19). Orang yang demikian tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, dan dia tidak dapat memahaminya. Sebaliknya, dia menolaknya.
III. HATI KITA LEBIH LICIK DARIPADA SEGALA SESUATU
DAN TIDAK DAPAT DIOBATI
Menurut Yeremia 17:9, hati kita lebih licik dari pada segala sesuatu dan tidak dapat diobati. Versi King James mengatakan bahwa hati itu "sangat jahat," tetapi terjemahan Darby mengatakan bahwa hati itu tidak dapat "diobati." Di dalam hal-hal yang berasal dari Allah, hati kita tidak dapat diobati; ini adalah suatu hal yang tidak ada harapan.
IV. PIKIRAN KITA TELAH DIISI DENGAN HAL-HAL YANG SIA-SIA
DAN PENGERTIAN YANG GELAP
Menurut Efesus 4:17-18a pikiran kita telah diisi dengan hal-hal yang sia-sia dan pengertian yang gelap. Ayat 17 membicarakan tentang kesia-siaan dari pikiran dan ayat 18 membicarakan tentang pengertian yang gelap. Ini memperlihatkan bahwa pikiran alamiah kita sama sekali tidak berguna dalam hal-hal yang berasal dari Allah.
V. TEKAD KITA TELAH DEGIL
Efesus 4:18b membicarakan tentang kedegilan hati manusia yang telah jatuh. Ini menunjukkan bahwa tekad, sebagai suatu bagian dari hati manusia, adalah degil, keras. Karena itu, hati kita tidak dapat diobati, pikiran kita penuh dengan hal-hal yang sia-sia dengan suatu pengertian yang gelap, dan tekad kita degil, keras.
VI. DAGING KITA TIDAK DAPAT TAKLUK KEPADA ALLAH
DAN TIDAK BERKENAN KEPADA ALLAH
Roma 8:7-8 berkata, "Sebab meletakkan pikiran di atas daging adalah perseteruan dengan Allah; karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup menurut daging tidak mungkin berkenan kepada Allah." Daging kita tidak dapat melakukan dua hal. Daging tidak dapat takluk kepada Allah, dan tidak dapat berkenan kepada Allah. Kita perlu mengembangkan poin-poin ini dalam pembicaraan kita kepada kaum beriman. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberitahukan kepada kita bahwa Allah membenci daging. Allah tidak mau berhubungan dengan daging.
Di dalam agama kekristenan hari ini, banyak pelayanan yang di dalam jiwa atau di dalam daging. Inilah sebabnya mengapa kita harus melihat ketidakmampuan keberadaan alamiah kita bagi pelayanan kita. Kita perlu memberi kesan kepada kaum beriman bahwa daging kita tidak dapat takluk kepada Allah dan tidak dapat berkenan kepada Allah. Kemudian kaum beriman mungkin bertanya, "Apakah berada di dalam daging itu? Kita harus memberitahukan mereka, "Selama Anda tidak berada di dalam roh, Anda berada di dalam daging."
Perjanjian Baru kebanyakan memberikan kepada kita suatu perbedaan yang kontras antara roh dan daging, bukan roh dan jiwa. Sebenarnya, tidak banyak orang yang jiwani; kebanyakan orang adalah daging. Bahkan kebanyakan orang-orang yang disebut bermoral adalah daging. Manusia ciptaan Allah disebut jiwa (Kej. 2:7), tetapi setelah kejatuhan manusia, manusia telah menjadi daging (6:3). Karena itu, di dalam tulisan-tulisan Paulus mengenai keselamatan dan pembenaran, dia tidak menggunakan kata jiwa melainkan kata daging. Dia mengatakan bahwa tidak ada daging yang dapat dibenarkan di hadapan Allah dengan melakukan hukum Taurat (Gal. 2: 16; Rm. 3:20). Daging di sini mengacu kepada ego manusia.
Ketika Alkitab mengatakan sesuatu tentang orang-orang dalam suatu perkara yang positif, Alkitab menggunakan kata jiwa sebagai suatu istilah bagi manusia (Kel. 1:5). Tetapi ketika Alkitab mengatakan sesuatu tentang manusia dalam suatu perkara yang negatif, Alkitab menggunakan kata daging. Tidak ada daging, tidak ada manusia, yang dapat dibenarkan di hadapan Allah dengan melakukan hukum Taurat. Daging itu adalah manusia yang jatuh. Jika kita tidak berada di dalam roh, tentu kita berada kita berada di dalam daging. Kita tidak seharusnya mengira bahwa kita begitu baik jika kita tidak berada di dalam roh, kita berada di dalam jiwa, bukan berada di dalam daging. Sebenarnya, jiwa kita hari ini adalah bersatu dengan daging, yang merupakan ekspresi yang sampai pada puncaknya dari kejatuhan manusia tiga bagian. Maka, jika kita tidak berada di dalam roh, kita berada di dalam daging, dan daging kita tidak mampu dalam hal-hal yang berasal dari Allah. Daging tidak dapat takluk kepada Allah dan tidak dapat berkenan kepada Allah.
VII. DIRI KITA PERLU DITOLAK
Matius 16:24 mengatakan bahwa diri kita perlu ditolak. Ini memperlihatkan bahwa ego itu telah dikutuk oleh Allah. Allah telah mengutuknya, maka kita harus menolaknya.
VIII. TUBUH KITA ADALAH TUBUH DOSA DAN TUBUH MAUT
Tubuh kita adalah suatu tubuh dosa dan tubuh maut (Rm. 6:6; 7:24). Tubuh ini sangat aktif dalam berbuat dosa, sebab tubuh ini adalah suatu tubuh dosa, dan tubuh ini mati dalam melakukan kehendak Allah untuk menyenangkan Allah sebab tubuh ini adalah suatu tubuh maut. Dosa di dalam tubuh kita membuat kita aktif untuk berbuat dosa, dan maut di dalam tubuh kita mematikan kita dalam melakukan kehendak Allah. Tubuh dosa kita hanya dapat berdosa. Tubuh ini tidak dapat melakukan sesuatu untuk merampungkan kehendak Allah, atau untuk menyenangkan Allah.
IX. BELAJAR UNTUK TIDAK MEMPERCAYAI KEBERADAAN ALAMIAH KITA
DALAM HAL-HAL YANG BERASAL DARI ALLAH
Setelah membaca kedelapan poin di atas, kita seharusnya menyadari bahwa kita tidak dapat menaruh kepercayaan dalam keberadaan alamiah kita dalam hal-hal yang berasal dari Allah. Di dalam Filipi 3:3 Paulus berkata, "Karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
Kita harus belajar untuk menolak keberadaan alamiah kita dan melatih roh kita di dalam segala sesuatu. Keselamatan Allah membuat roh kita menjadi manusia batiniah (Ef. 3:16). Ini menunjukkan bahwa roh kita adalah persona baru kita sebagai segala sesuatu bagi kita. Sebenarnya, kita tidak seharusnya memperhidupkan manusia lainnya; kita seharusnya hanya memperhidupkan manusia batiniah itu saja. Roh kita seharusnya menyembah, berdoa, dan seharusnya mengambil pimpinan untuk melakukan segala sesuatu di dalam kehidupan Kristen kita dan di dalam pelayanan kita.
Kita tidak seharusnya melatih roh kita hanya ketika kita datang bersidang. Kita perlu melatih roh kita ketika kita berbicara dengan pasangan hidup kita dan anak-anak kita. Kita seharusnya mendapatkan sesuatu melalui melatih roh kita. Jika kita tidak melatih roh kita, maka kita berada di dalam daging. Ketika kita datang ke sidang, kita dapat berakting sebagai seseorang, tetapi di rumah, di dalam kehidupan kita sehari-hari kita mungkin menjadi orang yang lain lagi. Ini adalah salah. Kalau tidak sidang kita adalah bersandiwara, dan balai sidang kita akan menjadi suatu teater. Kita tidak mau menjadi aktor-aktor dan aktris-aktris yang hanya membicarakan hal-hal yang berasal dari Allah di dalam balai sidang. Kita ingin menjadi orang-orang yang melatih roh kita, menolak ego, dan menolak daging. Kita tidak seharusnya memiliki persona yang ganda, menjadi satu persona di dalam sidang-sidang dan menjadi persona yang lain di luar sidang-sidang itu. Ini adalah hypokrasi dan salah. Seluruh diri kita harus diperkuat masuk ke dalam manusia batiniah kita. Kita harus memperhidupkan manusia batiniah itu, yaitu, kita harus membiarkan roh kita melakukan segala sesuatu, dan menolak segala sesuatu yang berasal dari keberadaan alamiah kita.
Seringkali kita tetap tinggal di dalam alam yang baik dan jahat. Kita melakukan hal-hal yang baik bukan oleh roh kita tetapi oleh keberadaan alamiah kita. Tetapi Allah tidak menghendaki kita tetap tinggal di dalam alam itu, di dalam walayah, akan baik dan jahat, dengan menggunakan jiwa kita untuk melakukan yang baik dan menolak yang jahat. Allah menghendaki kita untuk menolak keberadaan alamiah kita dan menggunakan roh kita. Ketika kita hanya menggunakan roh kita, kita keluar dari wilayah, alam, yang baik dan jahat. Kemudian kita akan berada di dalam alam hayat. Ketika kita tidak menggunakan pikiran, emosi, tekad dan tubuh kita yang jatuh, kita sedang menggunakan roh kita. Kemudian kita hanya menjamah hayat. Roh tidak menjamah sesuatu yang lain kecuali hayat.
Satu Yohanes mewahyukan kepada kita bahwa roh kita yang telah dilahirkan kembali, yang dilahirkan oleh Allah, tidak melakukan dosa (3:9; Yoh. 3:6b), tetapi ini bukan berarti bahwa kita tidak melakukan dosa atau tanpa dosa (1 Yoh. 1:8-2:1). Beberapa orang salah mengajar mengatakan bahwa seorang yang telah dilahirkan kembali tidak berdosa dan tidak dapat berdosa. Mereka mengajarkan penyingkiran dosa, mengatakan bahwa semua dosa telah disingkirkan sejak seseorang dilahirkan kembali. Tentunya, tidak ada hal yang demikian.
Beberapa tahun yang lalu di Shanghai, ada seorang pengkhotbah yang dengan berani mengajarkan ajaran bidah tentang penyingkiran dosa. Satu hari, dia dan beberapa pengikutnya pergi ke suatu taman yang perlu membeli tiket dahulu agar dapat masuk ke dalamnya. Dia membeli tiga sampai empat tiket untuk dipakai oleh lima orang. Beberapa dari mereka masuk ke taman itu dengan tiket-tiket itu, dan kemudian salah satu dari mereka keluar dengan tiket-tiket itu dan memberikannya kepada yang lainnya agar mereka dapat masuk. Pengkhotbah itu membawa pengikut-pengikutnya yang muda masuk ke dalam taman itu dengan cara yang penuh dosa. Sebagai akibat dari hal ini, salah satu dari orang muda itu mulai meragukan tentang pengajaran penyingkiran dosa itu. Dia pergi ke pengkhotbah itu dan bertanya kepadanya apakah hal ini adalah suatu dosa. Pengkhotbah itu menjawab dengan mengatakan bahwa hal itu bukanlah suatu dosa melainkan sedikit kelemahan. Tetapi tidak peduli apa istilah yang Anda gunakan, dosa tetap adalah dosa, dan kita adalah orang-orang berdosa. Meskipun Anda dapat menyebutnya dengan nama lain, itu tetap dosa. Kita tidak seharusnya menerima suatu pengajaran yang mengatakan bahwa kita telah menjadi rohani sehingga mustahil bagi kita untuk berdosa.
Tetapi, sekalipun kita masih dapat jatuh, roh kita yang telah dilahirkan kembali tidak dapat melakukannya. Manusia yang telah jatuh mempunyai suatu roh yang disediakan bagi Allah sendiri. Bertobat melibatkan hati nurani, dan hati nurani itu adalah satu bagian dari roh manusia (Rm. 9:1; cf. 8:16). Bagi tujuan Allah, Dia menyediakan satu bagian dari manusia bagi Dia sendiri, yaitu roh manusia. Roh kita adalah mustika. Hanya roh kita yang telah dilahirkan kembali yang tidak berdosa, maka kita harus hidup di dalam roh kita.