← Daftar isi Pelajaran Dasar tentang Pelayanan · bab 14/22

API ASING

Pembacaan Alkitab: Im. 10:1-11; 16:12

GARIS BESAR

I. Ukupan harus dibakar di hadapan Tuhan dengan api dari mezbah kurban bakaran–6:12.

II. Api di atas mezbah kurban bakaran membakar semua hal yang alamiah dan negatif di hadapan Allah.

III. Api asing menandakan semangat alamiah–10:1:

A. Tidak ditanggulangi oleh salib.

B. Tidak berada di dalam kebangkitan.

IV. Api asing di dalam pelayanan secara imam menyebabkan kematian di hadapan Allah–10:2.

V. Imam-imam seharusnya mengontrol kasih alamiah mereka, tidak simpatik dengan kurban yang dikutuk oleh kekudusan Allah–10:3, 6.

VI. Kurban dari api asing mungkin berhubungan dengan minum anggur–10:8-9:

A. Kehilangan pengenalan akan kekudusan–10:10.

B. Menjadi tidak dapat mengajar umat Allah–10:11.

Di dalam pelajaran ini kita akan melihat api asing yang dibicarakan dalam Imamat 10. Semua orang-orang yang melayani perlu mengenal arti api asing di dalam pelayanan Tuhan. Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, mempersembahkan diri untuk melaksanakan ministri sebagai imam, mempersembahkan api asing yang tidak diperintahkan oleh Tuhan, dan kemudian api keluar dari hadapan Tuhan dan memusnahkan mereka (ay. 1-2).

I. UKUPAN HARUS DIBAKAR DI HADAPAN TUHAN DENGAN API

DARI MEZBAH KURBAN BAKARAN

Imamat 16:12 memberitahukan kepada kita bahwa ukupan harus dibakar di hadapan Tuhan dengan api dari mezbah kurban bakaran. Oleh api inilah kedua mezbah, mezbah ukupan dan mezbah kurban bakaran dihubungkan bersama-sama. Mezbah kurban bakaran adalah untuk kurban-kurban. Mezbah ukupan adalah untuk ukupan. Tetapi api itu dihubungkan dengan kedua mezbah ini bersama-sama.

Menurut Pentateuch, api yang datang dari surga ini yang membakar semua kurban di atas mezbah tembaga itu. (Im. 9:24; 1 Taw. 21:26; 2 Kor. 7:1). Api itu bukanlah api yang dibuat oleh manusia; api itu adalah api yang datang dari Allah. Dan api itu, dari waktu ke waktu datang, tidak pernah berhenti. Api itu membakar sepanjang waktu, hari lepas hari, dari malam sampai pagi (Im. 6:9). Api itu adalah api kudus, bukan api asing.

II. API DI ATAS MEZBAH KURBAN BAKARAN MEMBAKAR SEMUA HAL

YANG ALAMIAH DAN NEGATIF DI HADAPAN ALLAH

Api di atas mezbah kurban bakaran membakar semua hal yang alamiah dan negatif di hadapan Allah. Api membakar segala sesuatu sampai menjadi abu. Agar sesuatu dapat naik/sampai ke hadapan Allah pertama-tama harus dibakar di mezbah dengan api ilahi. Apa saja yang telah dibakar di atas mezbah dengan api ilahi akan diterima oleh Allah. Oleh karena itu, membakar ukupan di mezbah ukupan itu, api yang turun dari Allah itu diperlukan. Api ilahi inilah, yang membakar semua hal yang alamiah dan negatif, yang diperlukan bagi pelayanan kita.

III. API ASING MENANDAKAN SEMANGAT ALAMIAH

Api asing menandakan semangat alamiah (Im. 10:1) yang tidak ditanggulangi oleh salib dan yang tidak berada di dalam kebangkitan. Di sini kita harus menekankan dan mengembangkan apakah artinya bagi kita ditanggulangi oleh salib di dalam semangat kita sehingga kita dapat melayani Tuhan. Supaya berada di dalam kebangkitan kita harus melewati sesuatu yang berhubungan dengan salib. Kita tidak seharusnya membawa masuk gairah alamiah kita. Apakah itu baik atau jelek, murni atau tidak, itu masih tetap alamiah.

IV. API ASING DI DALAM PELAYANAN SECARA IMAM

MENYEBABKAN KEMATIAN DI HADAPAN ALLAH

Api asing di dalam pelayanan secara imam menyebabkan kematian di hadapan Allah. Imamat 10:1 dan 2 berkata, "Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN."

Kita harus memberitahu kaum beriman bahwa kita adalah imam-imam hari ini. Sebagai imam-imam hari ini kita harus berhati-hati akan apa yang kita persembahkan kepada Allah. Kita mungkin mempunyai satu hati yang baik dan satu maksud yang baik di dalam mempersembahkan sesuatu kepada Allah, tetapi jika kita mempersembahkan hal yang salah, ini dapat menyebabkan kematian bagi kita. Ini kelihatannya tidak seperti beberapa hal dosa yang serius, tetapi perkara ini serius di mata Allah. Kematian ini terutama adalah di dalam perasaan rohani. Kapan saja kita melayani Tuhan dengan semangat yang demikian, Perkara ini akan membawa masuk kematian bagi roh kita. Ini berarti bahwa kita melayani Tuhan dengan suatu cara yang alamiah. Pelayanan alamiah yang bagaimanapun akan membawa masuk kematian ke dalam roh kita.

Banyak orang Kristen hari ini melayani dengan suatu gairah alamiah, dan semangat alamiah yang demikian. Pelayanan ini bukanlah sesuatu yang ditanggulangi oleh salib dan tidak berada di dalam kebangkitan. Dulu kita telah melihat orang-orang yang bergairah di dalam pelayanan akan Tuhan di dalam gereja. Sedikit demi sedikit, semakin banyak mereka melayani, semakin banyak mereka membawa masuk kematian bagi orang lain dan terutama kematian bagi mereka sendiri. Dengan pelayanan mereka, mereka membunuh diri mereka sendiri di dalam roh mereka, maka akhirnya mereka hilang dari pelayanan. Keimaman mereka telah musnah. Inilah arti dari kematian yang disebabkan karena mempersembahkan api asing.

Kita harus menunjukkan bahwa kita semua perlu melayani, berfungsi dan menggunakan satu talenta kita, karunia kita. Tetapi kita harus berhati-hati agar tidak melayani dengan cara alamiah, dengan gairah alamiah kita. Tentu, Tuhan menghendaki kita untuk menjadi panas di dalam roh, tidak dingin, atau suam-suam kuku. Kita harus panas di dalam roh kita, bukan di dalam hayat alamiah kita. Di dalam Roma 12:11 Paulus memberitahukan kepada kita "rohmu menyala-nyala, layanilah Tuhan." Kegairahan di dalam alamiah kita adalah api asing bagi Allah, dan ini akan membawa masuk kematian.

V. IMAM-IMAM SEHARUSNYA MENGENDALIKAN KASIH ALAMIAH MEREKA, TIDAK SIMPATIK DENGAN KURBAN

YANG DIKUTUK OLEH KEKUDUSAN ALLAH

Setelah kematian kedua putra Harun, Harun membisu. Dia diberitahukan agar tidak meratapi kedua putranya, yang dikutuk dan dibunuh oleh kekudusan Allah (Im. 10:3,6). Ini berarti bahwa imam-imam seharusnya mengendalikan kasih alamiah mereka, tidak simpatik dengan kurban yang dikutuk oleh kekudusan Allah. Ini sulit bagi Harun sebagai bapak, agar tidak simpatik, maka dia perlu mengendalikan kasih alamiahnya.

Jadi, di dalam pelayanan kita secara imam bukan hanya semangat alamiah itu harus ditolak tetapi juga kasih alamiah harus dikendalikan. Hari ini setiap orang di dalam kehidupan gereja adalah seorang imam di dalam keimaman, dan semua imam seharusnya mengendalikan kasih alamiah mereka, tidak simpatik dengan siapapun juga yang dikutuk atau dibunuh oleh kekudusan Allah. Api di atas mezbah kurban bakaran menandakan kekudusan Allah. Api itu adalah kekudusan Allah yang membara di atas mezbah itu siang dan malam. Oleh karena itu, api yang keluar untuk menghanguskan kedua putra Harun itu adalah kekudusan Allah.

Di dalam Imamat 10 kita dapat melihat dua hal alamiah: gairah alamiah, semangat alamiah, dan kasih alamiah, simpatik alamiah. Kedua hal itu harus ditolak. Kita tidak seharusnya membawa masuk gairah alamiah, atau pun kita melatih kasih alamiah kita untuk simpatik dengan orang-orang yang alamiah.

VI. KURBAN API ASING MUNGKIN BERHUBUNGAN

DENGAN MINUM ANGGUR

Menurut Imamat 10, koeban dari api asing mungkin berhubungan dengan minum anggur. Segera setelah kematian Nadab dan Abihu, Allah memerintahkan para imam agar tidak minum anggur. Ayat 8 dan 9 berkata, "TUHAN berfirman kepada Harun: "Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun temurun." Setiap pembaca yang logika akan menganggap bahwa kemungkinan kedua putra Harun mempersembahkan api asing kepada Yehova disebabkan karena mereka mabuk. Mereka mabuk oleh terlalu banyak anggur.

Minum anggur, di dalam Alkitab, menandakan kenikmatan duniawi, alamiah, atau kejiwaan, hal-hal materi yang berlebihan. Dengan kata lain, jika kita menikmati segala sesuatu dari dunia ini dengan berlebihan, perkara ini akan selalu membuat kita mabuk. Ketika kita mabuk, kita gembira dan lepas kontrol, melakukan hal-hal tanpa aturan. Mungkin kedua putra Harun itu mabuk, sehingga mereka gembira dan sampai mereka sendiri melakukan sesuatu tanpa diatur. Itu berarti bahwa mereka mempersembahkan api asing dengan cara yang sombong. Kurban dari api asing adalah suatu dosa kesombongan. Mereka sombong dalam melakukan sesuatu bagi Allah. Sebenarnya, kurban itu bukanlah kurban yang riil untuk Allah tetapi sesuatu yang berasal dari kesombongan mereka melawan pengendalian Allah.

Orang melakukan hal-hal yang sombong disebabkan karena mereka menikmati sesuatu yang berlebihan. Mereka mabuk. Ketika imam-imam mabuk, mereka kehilangan pengenalan akan kekudusan (Im. 10:10), dan mereka tidak dapat mengajar umat Allah (ay. 11). Ketika kita kehilangan pengenalan kita disebabkan karena kita mabuk, kita tidak terkendali; maka kita tentu tidak dapat mengajar orang lain sehingga mereka dapat dikendalikan.

Imam-imam mempunyai dua fungsi ganda. Satu adalah untuk melayani Allah; yang lainnya adalah untuk mengajar orang lain. Hari ini di dalam gereja fungsi kita secara imam juga meliputi kedua hal ini: mempersembahkan sesuatu kepada Allah untuk melayani Allah, dan mengajar orang lain. Di dalam mempersembahkan hal-hal kepada Allah, kita harus mempunyai pengenalan mengenai hal-hal yang seharusnya atau yang tidak seharusnya kita persembahkan. Kita memerlukan pengenalan yang jelas ini. Lagi pula, agar dapat mengajar orang lain, kita memerlukan pelajaran yang berasal dari pengalaman-pengalaman kita. Jika kita mabuk dan kehilangan pengenalan kita, kita tidak dapat mengajar orang lain, dan kita semua akan kehilangan fungsi kita dalam keimaman kita. Semua perkara ini termasuk di dalam kurban dari api asing kepada Allah. Kita perlu suatu visi yang jelas akan hal-hal ini sebagai suatu peringatan bagi kita di dalam pelayanan gereja kita.