KAIN DAN HABEL
Berita ini adalah perkataan sisipan atas berita Pelajaran-Hayat kita mengenai Kejadian 4. Kita perlu me-lihat lebih banyak tentang Kain dan Habel. Dalam Pelajaran-Hayat kitab Kejadian ini, kita telah berulang kali mene-gaskan bahwa hampir setiap butir dalam tiga pasal pertama kitab Kejadian merupakan benih-benih yang bertumbuh pada kitab-kitab berikutnya, terutama dalam Perjanjian Baru. Demikian juga dengan hal Kain dan Habel. Merupakan wah-yu firman ilahi, dua saudara ini harus dipandang sebagai dua benih yang penting yang ditaburkan dalam Kejadian 4. Hal ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa Perjanjian Baru juga membicarakan tentang Kain dan Habel (Yud. 11, 1 Yoh. 3:12, Mat. 23:35, Ibr. 11:4, 12:24). Dalam Yohanes 8:44, Tuhan Yesus berkata tentang Iblis, “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula,” ini mengacu kepada Kain. Sebagai-mana telah kita lihat dalam berita yang lalu, Kain menjadi satu dengan Iblis. Jadi, baik Kain maupun Iblis adalah pembunuh Habel. Dalam Yohanes 8:44 Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa Iblis itu pendusta: “Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapak pendusta.” Saya percaya bahwa perkataan ini juga mengacu kepada Kain, menunjukkan kebohongannya sewaktu menjawab pertanyaan Allah mengenai Habel saudaranya. Ia berbohong kepada Allah (Kej. 4:9). Jadi, Kain tidak saja pembunuh, tetapi juga pendusta. Karena itu, firman Tuhan dalam Yohanes 8:44 membuktikan bahwa kisah Kain pada Kejadian 4 merupakan suatu benih.
Kita telah melihat, pada mulanya manusia diletakkan di depan dua pohon, yakni pohon hayat dan pohon pengeta-huan (Kej. 2:8-9). Kedua pohon ini melambangkan dua sumber dengan dua garis yang menelusuri seluruh Alkitab. Yakni garis pohon hayat dan garis pohon pengetahuan. Sangat jelas, Kain berada di garis pohon pengetahuan dan Habel pada garis pohon hayat. Kecuali Kain dan Habel, tentunya Adam dan Hawa juga melahirkan anak-anak lainnya. Namun, Alkitab di sini hanya menyebutkan Kain dan Habel. Mengapa Alkitab hanya menyebutkan mereka saja? Sebab firman Tuhan ingin menunjukkan kepada kita dua golongan orang yang ada sejak permulaan manusia generasi yang kedua: Kain, melambangkan garis pohon pengetahuan dan Habel melambangkan garis pohon hayat.
Akhir dari Alkitab sama dengan permulaannya. Alkitab dimulai dengan dua pohon yang mengacu kepada dua sum-ber; diakhiri dengan dua kota — Babilon besar dan Yerusa-lem Baru, yang mengacu kepada dua pengakhiran. Kedua kota ini, yang satu besar, yang lainnya kudus. Babilon besar merupakan perampungan sempurna dari garis pohon penge-tahuan dan benih Kain. Benih Kain ditaburkan dalam Kejadian 4, bertumbuh terus menelusuri Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan mencapai akhirnya pada Babilon besar yang diwahyukan dalam Wahyu 17 dan 18. Demikian juga, Yerusalem Baru tidak saja merupakan perampungan sempurna dari garis pohon hayat, tetapi juga perampungan sempurna dari benih Habel. Setiap orang harus sebagai Habel, barulah kelak menjadi bagian dari Yerusalem Baru. Setiap butir batu permata dalam kota itu adalah Habel-Habel dalam kekekalan. Sebaliknya, sebagian besar orang dalam Babilon besar adalah Kain-Kain. Jadi, Babilon besar adalah perampungan sempurna dari Kain-Kain dan Yerusalem Baru adalah perampungan sempurna dari Habel-Habel. Siapa Anda? Habel atau Kain? Saya harap, tidak ada seorang pun di antara pembaca berita ini yang sebagai Kain.
Sekarang marilah kita melihat lebih dalam tentang dua saudara ini. Kita akan melihat mereka dengan terang dari kitab-kitab lainnya dalam Alkitab. Terlebih dulu kita mulai dari Kain.
1. Kain
a. Bekerja dan Hidup untuk Diri Sendiri — “Petani”
Dalam berita yang lalu kita telah menunjukkan bahwa Kain hidup dengan menggarap tanah, ia disebut sebagai “petani” (Kej. 4:2; dalam bahasa aslinya berarti “orang yang melayani bumi”). Ini berarti dia bekerja dan hidup untuk diri sendiri. Selain bekerja dan hidup untuk diri sendiri, ia juga berdasarkan diri sendiri. Ingatlah, setelah manusia jatuh, diri (ego) manusia menjadi jelmaan Iblis. Maka, hidup berdasarkan diri sendiri sebenarnya adalah hidup berdasarkan Iblis. Kain hidup sebagai orang yang demikian.
b. Menyembah Allah Menurut Konsepsinya Sendiri
yang Berasal dari Iblis
Apa kesalahan Kain? Secara manusiawi, dia tadinya tidak bersalah. Ketika saya masih sebagai seorang Kristen muda, saya pernah menjadi pembela Kain, membela perbuat-annya di depan pengadilan Surga. Saya merasa Kain sama sekali tidak bersalah. Dia malahan yang mula-mula mem-beri persembahan kepada Allah; Habel yang kedua, bahkan mungkin belajar dari Kain. Dalam pandangan saya, Kain memberi persembahan kepada Allah tidak ada salahnya; tidak seperti berjudi, berbohong, atau membunuh. Maka, saya mendebat Allah, “Allah, Engkau tidak adil kepada Kain. Ketidakadilan-Mu merangsang dia membunuh adiknya. Jika Engkau adil, Kain mungkin akan sangat mengasihi adik-nya.” Saya berbicara bagaikan pembela yang tidak berpen-didikan, bagaikan anak desa menghadap ke pengadilan. Namun, Allah masih menaruh kasih terhadap Kain, tidak melaksanakan penghakiman-Nya atas dirinya. Allah juga membelaskasihani saya, tidak menyuruh saya mati. Kemu-dian, setelah lewat bertahun-tahun, saya berangsur-angsur mengerti mengapa Allah menolak menerima atau tidak memandang Kain dan persembahannya.
Biarlah saya memberi tahu Anda sebabnya. Kain dan Habel dilahirkan dari orang tua yang telah jatuh. Adam dan Hawa tidak saja bermasalah dengan Allah, tetapi juga telah terinjeksi dengan sifat-sifat jahat Iblis. Sifat Iblis telah menyusup ke dalam sifat, pikiran, dan konsepsi mereka. Adam dan Hawa tahu keadaan mereka, mengakui bahwa mereka bersalah di hadapan Allah. Sebenarnya, mereka juga telah dipenuhi oleh unsur-unsur jahat Iblis. Mereka tahu bahwa Allah menaruh belas kasihan dan anugerah kepada mereka; menjanjikan keselamatan bahkan memberi pakaian kulit guna menutupi ketelanjangan tubuh mereka. Penutup kulit itu melambangkan Kristus sebagai kebenaran sejati yang akan datang. Sebagaimana telah kita katakan dalam berita lalu, Adam dan Hawa memberi tahu anak-anak mereka akan hal ini, memberitahukan cara keselamatan Allah. Jadi, Kain dan Habel bukan dilahirkan oleh orang tua yang bersih murni; mereka adalah keturunan orang tua yang telah tercemar, binasa, dan bejat.
Misalnya, di sini ada satu gelas air jernih dan satu gelas air kotor. Bila Anda memberikan air jernih itu kepada saya, saya akan sangat senang dan akan meminumnya untuk meleraikan dahaga saya. Namun bila Anda memberikan air yang kotor, saya akan merasa terhina. Sekalipun dahaga, saya tidak akan menerima segelas air yang kotor. Jika Anda mengerti perumpamaan ini, Anda pasti tidak akan berkata bahwa Allah tidak adil dengan menolak persembahan Kain itu. Allah sekali-kali tidak mau menerima air yang kotor, yakni persembahan yang telah tercemar. Kain dilahirkan dari orang tua yang cemar, sehingga sejak lahirnya sudah cemar, najis. Sebaliknya, Allah itu kudus, adil, bersih. Kain dan Habel bukan hanya bejat, berdosa, bahkan di dalam mereka ada musuh Allah. Karena Iblis, musuh Allah, hidup di dalam mereka, bergerak di dalam mereka, dan mendalangi tingkah laku mereka, maka segala sesuatu yang berasal dari diri mereka adalah perbuatan musuh Allah. Jika Anda sebagai Allah dan menyadari bahwa Iblis, musuh Anda itu ada di dalam Kain, maukah Anda menerima tindakan penyembahannya? Penyembahan semacam itu merupakan suatu penghinaan bagi Allah.
Secara permukaan, kita tidak melihat Iblis dalam Kejadian 4, kita hanya melihat Kain membunuh dan berbohong. Tetapi dalam Yohanes 8:44, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Iblislah yang membunuh dan berbohong itu. Dalam pandangan Allah, itu bukan hanya Kain, tetapi juga Iblis. Pula, 1 Yohanes 3:12 mengatakan bahwa Kain “berasal dari si jahat,” yakni Iblis. Sumber Kain adalah Iblis. Kedua ayat ini dengan jelas dan tegas menunjukkan kepada kita bahwa Kain dan Iblis, Iblis dan Kain, keduanya adalah satu.
Mungkin Anda akan mendebat, bagaimana Iblis dapat menggerakkan manusia untuk menyembah Allah? Renungilah contoh kasus Petrus dalam Matius 16:21-23. Setelah Petrus menerima visi surgawi tentang Kristus, dia lalu di-gerakkan oleh Iblis untuk menyuruh Tuhan Yesus yang baru saja membicarakan penderitaan dan kematian-Nya yang akan datang, agar mengasihi diri-Nya sendiri. Tuhan ber-paling dan menghardik Petrus, “Enyahlah Iblis!” Perhatikan, Tuhan bukan berkata, “Petrus, enyahlah!” Jadi, Petrus yang baru saja menerima wahyu dari Allah Bapa telah menjadi Iblis. Dia menjadi Iblis bukan karena sesuatu yang jahat, melainkan karena perhatiannya terhadap Tuhan.
Ketika kita diajar untuk menyembah Allah, atau ketika kita datang kepada Tuhan dan ingin memperhatikan-Nya, Iblis si licik itu sering bukannya menghalangi kita agar kita tidak melakukannya, melainkan mengusulkan kepada kita untuk melakukan dengan cara yang berbeda dengan yang diwahyukan Allah, supaya kita meninggalkan ekonomi Allah. Asal bisa membuat kita meninggalkan cara Allah, menghalangi kita dari menggenapkan kehendak Allah, Iblis justru bisa menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu bagi Allah. Inilah yang ia lakukan atas diri Kain.
Kita harus waspada. Hal yang sama mungkin saja terjadi pada diri kita. Kita harus mengenal bahwa persoalan-nya bukan apakah yang kita lakukan, tetapi apakah kita ini. Persoalan yang sesungguhnya bukan pada kita menyembah Allah atau tidak, tetapi apakah kita bersatu atau tidak dengan Iblis dalam setiap hal yang kita lakukan. Bahkan sekalipun Anda mengasihi orang lain, jika Anda mengasihi-nya berdasarkan bersatu dengan Iblis, kasih semacam ini merupakan suatu penghinaan bagi Allah, karena Iblis musuh Allah itulah yang aktif di dalamnya. Memang Kain yang memberi persembahan, tetapi Iblislah penggeraknya, pemra-karsa atas tindakan penyembahan Kain. Seandainya Anda mempunyai seorang seteru yang menolak berdamai dengan Anda, namun ia masih mengutus seseorang datang menyem-bah Anda, bukankah penyembahan semacam itu merupakan suatu penghinaan bagi Anda? Sekarang kita dapat melihat di mana letak kesalahan Kain.
Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya kepada TUHAN (Kej. 4:3). Hasil tanah yang ia bawa tanpa pencucuran darah. Ini berarti ia menolak cara penebusan Allah yang ia dengar dari orang tuanya. Cara penebusan Allah yang diberitakan oleh orang tua Kain ialah suatu kurban persembahan yang mencucurkan darah. Sebab tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa (Ibr. 9:22). Dalam pandangan Allah, manusia telah jatuh, rusak, berdosa, dan cemar. Manusia memerlukan penumpahan darah untuk pengampunan dosa. Orang tua Kain tentu memberi tahu dia jalan penebusan Allah, namun ia menolak dan mengesampingkannya. Kain tidak mempedulikan cara Allah, ia menciptakan caranya sendiri seturut konsepsinya.
Apakah konsepsi itu? Konsepsi manusia adalah milik pohon pengetahuan. Kain menerima cara pohon pengetahuan, demikianlah ia membuka seluruh dirinya terhadap Iblis. Melalui berbuat demikian, ia telah sepenuhnya dikuasai oleh si jahat. Kain adalah orang yang pertama-tama menciptakan agama. Mungkin Anda mendebat, “Kain menciptakan agama untuk menyembah Allah, ia tidak menciptakan kasino perjudian.” Namun, Allah tidak mempedulikan apa yang Anda ciptakan; Allah memperhatikan sumbernya. Segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia bukan berasal dari Allah dan bukan dari roh manusia, melainkan dari pikiran manusia. Jika ciptaan Anda itu berasal dari pikiran Anda sendiri, tidak peduli betapa baiknya ciptaan itu, sumbernya tidak lain adalah Iblis, karena si licik itu ada di dalam pikiran Anda. Ketika Kain merencanakan caranya sendiri untuk menyembah Allah, dia telah sama sekali bersatu dengan Iblis. Dia dipenuhi, dicampuri, dan disusupi oleh Iblis. Dalam Yohanes 8:44, Tuhan Yesus menyiratkan Kain sebagai Iblis. Betapa beraninya Kain memberi persembahan kepada Allah tanpa ada penumpahan darah!
Sekarang kita tahu mengapa Allah tidak menerima persembahan Kain. Kain seharusnya tahu bahwa yang Allah inginkan adalah kurban persembahan yang ada penumpahan darah. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Ia menyembah Allah menurut konsepsinya sendiri, tidak ada penumpahan darah juga tidak ada kulit penutup dari binatang kurban. Hal ini berarti ia menolak cara Allah, tidak menerima Kristus sebagai kebenaran Allah yang menutupinya, sebagaimana diwahyukan dalam Filipi 3:9 dan 1 Korintus 1:30. Dia seperti orang Yahudi yang membenarkan dirinya, mendirikan kebenarannya sendiri, tidak mempedulikan kebenaran Allah dan tidak takluk kepada kebenaran Allah (Rm. 10:3). Maka, persembahannya merupakan suatu penghinaan terhadap Allah. Dalam pandangan Allah, hal itu menjijikkan, dan Allah menolak kurban semacam itu.
c. Menempuh Jalannya Sendiri
Yudas ayat 11 mengatakan bahwa ada orang yang “mengikuti jalan yang ditempuh Kain”. Apakah jalan yang ditempuh Kain? Yaitu berbuat baik untuk mencari perkenan Allah dan menyembah Allah menurut kelancangan usaha manusia sendiri dan penemuan manusia sendiri di bawah Iblis sebagai penggerak. Jalan Kain ialah menyembah Allah secara agamawi tanpa Kristus. Ditinjau dari sudut manusia, jalan Kain tidak buruk, karena agama adalah penemuan kebudayaan manusia yang paling baik. Sebenarnya, menurut Alkitab, agama adalah ciptaan kebudayaan manusia yang terutama dan terbaik. Tetapi kita harus bertanya, siapa yang menciptakan agama? Bukan Kain sendiri, melainkan Iblis, si penggerak yang ada di dalam Kain. Iblis memperdayai manusia untuk makan buah pohon pengetahuan, dengan demikian merampas manusia generasi pertama. Namun, Allah datang turun tangan, menyelamatkan mereka, melalui jalan penebusan memulihkan mereka. Meskipun ditinjau dari satu aspek boleh dikatakan bahwa Adam dan Hawa telah hilang, tetapi Allah datang membawa mereka kembali kepada diri-Nya sendiri, dengan membukakan jalan penebusan-Nya, yakni jalan penumpahan darah. Inilah jalan penyelamatan Allah, jalan karunia keselamatan. Kita telah melihat bahwa Adam dan Hawa tentu memberitahukan jalan ini kepada anak-anak mereka. Namun, Kain, anak sulungnya, menolak jalan ini dan menempuh jalannya sendiri, sehingga bersatu dengan Iblis. Penolakan ini dan penempuhan jalan sendiri ini berarti menolak Allah dan mengikuti Iblis. Inilah jalan Kain yang jahat.
Allah telah mewahyukan dengan sempurna jalan keselamatan-Nya kepada kita. Entah berapa banyak Adam dan Hawa memberitakan kepada anak-anaknya, mereka tetap tidak seperti kita hari ini yang mempunyai Alkitab. Hari ini kita memiliki Alkitab yang terdiri dari enam puluh enam kitab. Jalan karunia keselamatan, jalan hayat, jalan penumpahan darah, dan jalan Kristus, semuanya telah di-beritahukan kepada kita. Kita mempunyai jalan ini. Namun, banyak orang yang telah mendengar jalan ini atau men-dengar Injil, lalu menyimpang dari jalan ini dan menempuh jalan mereka sendiri, mencoba menyembah Allah menurut konsepsi mereka sendiri, dan mencoba mengamalkan ke-bajikan untuk mencari perkenan Allah menurut keinginan mereka sendiri. Betapa banyaknya manusia yang menempuh jalan Kain. Jalan Kain bukannya berjudi di kasino, melain-kan menciptakan suatu agama manusiawi, suatu cara menyembah Allah yang bukan menurut wahyu Allah, me-lainkan menurut ciptaan manusia. Ditinjau secara luaran memang baik, tetapi sesungguhnya menakutkan. Karena melalui penciptaan suatu agama, manusia generasi kedua telah ditawan oleh Iblis. Iblis membujuk manusia untuk makan buah pohon pengetahuan, demikian ia memperoleh manusia generasi pertama; kemudian melalui memalingkan manusia dari jalan Allah ke jalan ciptaan manusia sendiri, Iblis menawan manusia generasi kedua.
Jalan Allah berlawanan dengan jalan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Banyak orang mengira, asal mereka tidak berbuat jahat, itu sudah benar. Akan tetapi, tidak peduli Anda pada sisi yang jahat atau sisi yang baik, Anda tetap berada di luar jalan Allah. Allah tidak memper-soalkan apakah Anda pada pihak yang baik atau buruk, Ia hanya mempersoalkan apakah Anda berada pada jalan penebusan-Nya atau tidak. Anda mungkin mengira bahwa Anda sangat tinggi, jalan Anda lebih tinggi daripada jalan Allah. Banyak agamawan, yaitu orang-orang yang mencipta-kan agamanya sendiri, menganggap diri mereka lebih tinggi daripada orang-orang yang menaati jalan karunia keselamat-an Allah. Mungkin mereka memang lebih tinggi daripada kita, tetapi kita berada pada jalan Allah. Dilihat dari luar, jalan Kain bukan jalan yang jahat, melainkan jalan yang baik; tetapi jalan ini menjauhkan manusia dari jalan Allah. Iblis ada di pihak baik dan jahat. Ingat, pohon hayat hanya mempunyai satu unsur — hayat; sedangkan pohon penge-tahuan mempunyai dua unsur — baik dan jahat. Tak peduli baik atau jahat, asalkan Anda tidak berada di jalan Allah, Anda sudah mengikuti jalan Iblis.
Saya ingin menyampaikan beberapa patah kata kepada pembaca berita ini yang belum beroleh selamat: Anda me-merlukan jalan penebusan Allah. Tidak peduli bagaimana kebajikan yang telah atau yang bisa Anda perbuat, Anda harus tahu bahwa sejak dilahirkan Anda sudah berdosa, di dalam daging Anda ada sifat Iblis, di dalam pikiran Anda ada unsur Iblis. Anda memerlukan tercucurnya darah Yesus, karena tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan.
Terima kasih kepada Allah atas penumpahan darah Yesus! Melalui pengaliran darah ini, dosa kita diampuni. Istri saya dapat bersaksi, hampir setiap kali kami berdoa bersama, perkataan pertama yang saya katakan ialah, “Ya Tuhan, bersandar darah-Mu, kami datang ke hadapan-Mu. Tuhan, bersihkan kami dengan darah-Mu. Betapa kami membutuhkan naungan darah-Mu.” Ketika kita di dalam ciptaan lama, di dalam kita masih ada unsur-unsur cemar, bobrok, maka kita perlu pembasuhan darah Yesus. Sering kali dalam doa saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, kami harus melewati mezbah persembahan, kami perlu Engkau sebagai kurban persembahan kami. Ya Tuhan, kami mene-rima Engkau sebagai kurban penebusan dosa kami, kami mempersembahkan lemak kepada-Mu.” Kain telah salah sasaran. Dia menolak jalan penumpahan darah, sebaliknya menerima jalan Iblis.
Ketika Rasul Paulus masih di dalam agama Yahudi, dia lebih maju daripada teman-teman sebayanya di antara bang-sanya (Gal. 1:14). Namun pada waktu itu ia tidak mendapat-kan kebenaran Allah. Dalam Filipi 3:9 dia mengatakan suatu perkataan yang dalam dan sangat indah, “Dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena me-naati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” Paulus tidak mau dilihat oleh orang bahwa dia ada di dalam dirinya sendiri dengan kebenarannya sendiri; dia ingin memperlihatkan ke-pada orang bahwa dia ada di dalam Kristus dengan ke-benaran Allah. Kita, seperti Paulus, perlu dilihat orang bahwa kita berada dalam Kristus. Dia adalah kebenaran kita. Seperti syair sebuah lagu yang terkenal: “Kristus Allah adalah kebenaranku, keelokkanku, pakaianku.” (Kidung No. 237). Kristus sebagai kebenaran Allah adalah penutup kita, di bawahnya kita dapat berdiri tegak. Allah telah menaruh kita di dalam Kristus, supaya Dia menjadi kebenaran kita (1 Kor. 1:30). Kita berdiri di bawah naungan-Nya, kita ber-satu dengan-Nya. Kebenaran kita adalah Dia sendiri, yakni Persona-Nya, bukan sesuatu atribut diri-Nya.
Dalam Roma 10:3, Paulus mengatakan tentang orang Yahudi yang tidak percaya, “Sebab, oleh karena mereka ti-dak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka ber-usaha untuk mendirikan kebenaran diri mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Tl.). Orang-orang Yahudi itu benar-benar pengikut Kain. Kain adalah pelopor mereka yang mendirikan sebuah contoh yang ingin mendirikan kebenaran diri sendiri, tidak mau menaati jalan Allah yang menjadikan Kristus sebagai kebenarannya. Saya ulangi, inilah jalan Kain. Kapan saja kita ingin ber-buat baik dan mencari perkenan Allah di luar Kristus, maka dalam pandangan Allah, kita adalah pengikut jejak Kain. Jangan sekali-kali kita berbuat demikian. Menurut wahyu Allah, kita harus mengenal bahwa menyembah Allah dengan cara kita sendiri itulah penghinaan terhadap Allah.
d. Didapatkan oleh Iblis
Walaupun Allah membelaskasihani Kain, tetapi Kain tidak bertobat. Allah mempunyai kedudukan yang sah untuk menghukum mati Kain, tetapi Allah tidak melakukannya. Sebaliknya, Allah malah memberi peringatan kepada Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, menanti kesem-patan untuk menangkap dan menelannya (Kej. 4:7). Melalui peringatan itu Allah menunjukkan kepada Kain bahwa dosa merupakan satu oknum, yaitu Iblis, yang berkeinginan men-dapatkan dirinya, dan Kain seharusnya mengalahkan dia. Kain meremehkan peringatan Allah dan hanya memper-hatikan jalannya sendiri. Dia tidak bertobat, tidak berpaling atau berubah. Dia tetap mempertahankan jalannya sendiri, bahkan sampai mati. Dia sepenuhnya didapatkan oleh Iblis dan menjadi satu dengan Iblis (Yoh. 8:44). Itulah sebabnya 1 Yohanes 3:12 mengatakan bahwa dia “berasal dari si jahat.”
e. Menganiaya Penyembah Allah yang Sejati
Ketika Kain melihat Allah berkenan kepada Habel, penyembah-Nya yang sejati, timbullah iri hatinya. Mengapa Kain membunuh saudaranya? Bertahun-tahun saya mencoba mencari jawabannya. Saya yakin, Kain membunuh Habel dikarenakan wajah Habel berseri dan tertengadah ke atas, sedang wajah kain tertunduk muram-durja. Pasal 4:7 bagian atas mengatakan “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?” Menurut bahasa aslinya kata “berseri” boleh diterjemahkan “tertengadah”. Kain bangkit dan me-mukul Habel karena wajah Habel berseri cerah. Wajah Habel yang tertengadah ke atas itu membangkitkan iri hati Kain. Keadaan hari ini juga sama. Jika Anda gembira dan me-nikmati Allah, itu akan membangkitkan iri hati agamawi pada orang lain. Mereka akan berkata, “Mengapa kalian be-gitu gembira? Apakah Allah hanya beserta dengan kalian? Bukankah Ia juga beserta dengan kami?” Akibatnya, mereka akan menganiaya Anda. Saya percaya, inilah sebabnya mengapa Kain menyerang Habel. Kain marah karena wajah Habel yang berseri-seri dan suaranya yang penuh riang. Di beberapa tempat orang pernah memperingatkan kita, “Jangan berbuat begini lagi, jika kalian tetap begini, kami akan mengusir kalian.” Iri hati para agamawan sangatlah menakutkan, tidak ada suatu yang lebih menakutkan dari-pada iri hati agamawi. Ini pun menyatakan, mengapa gereja Roma Katolik membunuh orang-orang Kristen yang sejati lebih banyak daripada kekaisaran Romawi.
Dengarkan perkataan Tuhan Yesus kepada orang-orang Farisi, “Supaya kamu menanggung akibat penumpahan da-rah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang ka-mu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah” (Mat. 23:35). Di manakah para agamawan itu membunuh Zakharia? Bu-kan di gedung bioskop, melainkan di antara tempat kudus dan mezbah, tempat di mana orang-orang beragama menyembah Allah. Para agamawan itu membunuh orang-orang yang menyembah Allah menurut cara Allah, bukan menurut cara mereka, di tempat mereka menyembah Allah menurut cara mereka. Di satu pihak, mereka menyembah Allah; di pihak lain, mereka membunuh orang. Inilah iri hati agamawi. Ini sungguh menakutkan!
2. Habel
a. Bekerja dan Hidup untuk Allah — “Gembala”
Sekarang kita melihat Habel, benih yang akan rampung pada Yerusalem Baru. Habel bekerja dan hidup untuk Allah. Hari demi hari, Habel hidup untuk Allah dan bersandar Allah. Dia adalah seorang gembala bagi Allah. Pada berita yang lalu telah kita tunjukkan bahwa pada masa Habel, domba di-utamakan untuk Allah. Lain dengan Kain, bekerja dan hidup untuk dirinya sendiri. Habel menuruti kehendak Allah dan demi kepuasan Allah. Tujuan dan kegemaran hidupnya ada-lah memuaskan Allah menurut cara Allah.
b. Menyembah Allah Menurut Wahyu Allah
Habel tidak mempersembahkan kurban menurut kon-sepsi, pikiran, atau caranya sendiri, melainkan menuruti cara karunia keselamatan Allah. Dia menyembah Allah menurut wahyu Allah (Ibr. 11:4). Dia tidak seperti Kain; dia mempersembahkan kurban persembahan dari anak sulung kambing dombanya. Yang dipersembahkannya sangat mung-kin adalah domba. Alkitab mengatakan dia “mempersem-bahkan kurban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya” (Kej. 4:4). Ketika Habel mempersembahkan lemaknya, berarti kurban itu telah dibunuh dan darahnya sudah tercucur. Tanpa disembelih lebih dulu, tidak mungkin memperoleh lemak yang diper-sembahkan kepada Allah. Habel tahu bahwa ia memerlukan suatu kurban persembahan dengan penumpahan darah. Ia tahu bahwa ia dilahirkan dari ayah-ibu yang telah jatuh, sehingga dalam pandangan Allah, mereka itu jahat, berdosa, dan cemar. Maka ia mempersembahkan anak sulung dombanya, dengan mengalirkan darah sebagai penebusannya, dan membakar lemaknya demi kepuasan Allah. Siapa yang memberi tahu Habel untuk mempersembahkan anak sulung dombanya? Tidak diragukan lagi, ia berbuat demikian karena menuruti petunjuk orang tuanya. Apa yang diperbuat Habel tepat sesuai dengan permintaan Hukum Taurat Musa yang diberikan kemudian. Ini membuktikan cara ia menyembah Allah adalah menurut wahyu Allah, bukan menurut konsepsinya sendiri.
Sebagai manusia yang telah jatuh, apa saja yang kita pikirkan mengandung dosa di dalamnya, bahkan pikiran-pikiran kita yang terbaik pun, di dalamnya masih ada dosa. Selain itu, apa yang kita lihat dan katakan, juga mengandung dosa. Santo Agustinus berkata, bahkan air mata pertobatan kita pun perlu dibersihkan dengan darah. Kita sungguh penuh dosa, sampai-sampai kita perlu bertobat un-tuk pertobatan kita. Kita adalah jelmaan dosa. Segala se-suatu yang berasal dari diri kita, apa yang keluar dari pikiran, perkataan, pendengaran, dan perasaan kita, semua-nya mengandung dosa. Kita harus mengesampingkan diri kita. Mengesampingkan diri kita sebenarnya berarti menge-sampingkan Iblis, karena Iblis bercokol di dalam diri kita. Begitu kita mengesampingkan diri kita, dengan sendirinya kita menolak Iblis sama sekali. Jangan berkata, “Caraku baik, pendapatku unggul.” Tidak peduli betapa baiknya pen-dapat Anda, Iblislah yang bercokol di dalamnya. Anda harus membuangnya, sambil menerima cara Allah menurut wahyu Allah.
Kurban persembahan Habel adalah lambang Kristus. Menurut Bilangan 18:17, anak sulung sapi, kambing domba (lambang dari Kristus), tidak boleh dimakan oleh orang Isarel; harus dipersembahkan kepada Allah. Jadi dalam per-lambangan, Habel mempersembahkan Kristus kepada Allah. Persembahan anak sulung sapi atau domba mempunyai dua faktor: pertama ialah darah, disiramkan pada mezbah untuk penebusan dosa. Kedua ialah lemak, dibakar di atas mezbah sebagai kurban api-apian menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN. Tuhan Yesus Kristus juga mempunyai dua faktor ini. Dia memiliki darah yang tercurah bagi kita, dan mempunyai lemak untuk memuaskan hati Allah. Habel me-nuruti perkataan orang tuanya tentang cara karunia ke-selamatan Allah, dan mempersembahkan kurban bagi Allah. Habel menerima Kristus sebagai penutupnya, dan ia dibenar-kan oleh Allah (Ibr. 11:4, Mat. 23:35). Kita memerlukan darah Kristus membersihkan kita, juga perlu ditutupi oleh Kristus sendiri. Demikian kita baru bisa diperkenan Allah dan memuaskan Allah.
Izinkan saya mempersekutukan sedikit tentang penga-laman saya. Sewaktu saya masih seorang pemuda yang aktif, saya berpikir bahwa saya bisa dan harus banyak bekerja bagi Allah. Saya yakin bahwa diri saya cukup pandai, banyak inisiatif, dan amat terampil. Karena itu saya bermimpi melakukan banyak hal untuk Allah dan untuk gereja. Tidak lama kemudian, terang surgawi menyoroti saya. Meskipun awalnya tidak begitu jelas, tetapi terang itu terus menyoroti saya siang dan malam, bahkan saat saya tidur. Akhirnya, oleh sorotan terang itu, saya berlutut di hadapan Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku tidak berani memandang diri sendiri atau memikirkan diri sendiri lagi, semua yang ada pada diriku sungguh memalukan. Setiap bagian dari diriku buruk adanya!” Saya sungguh-sungguh nampak diri saya demikian. Saat itulah saya mulai memahami musti-kanya darah Tuhan. Saya berdoa, “Ya Tuhan, tidak ada apa pun yang dapat kukatakan, bersihkan aku! Bersihkan aku dengan darah-Mu! Bersihkan mataku, bersihkan pikiranku, bersihkan setiap bagian diriku. Tuhan, bersihkan semuanya.” Pada suatu hari, saya mengaku dosa kepada Tuhan, bahkan sampai setengah hari. Meskipun saat itu saya mengaku dosa terus-menerus, namun sampai pada akhirnya, saya merasa pengakuan saya masih belum tuntas. Di dalam saya ter-dapat satu teguran yang sungguh-sungguh dalam, membuat saya tidak berani melakukan apa-apa lagi. Saya hanya dapat berkata, “Tuhan, aku tidak seharusnya memprakarsai apa pun. Bukan perbuatanku, melainkan segenap diriku ini perlu Kau bersihkan. Tuhan, aku hanya memakai darah-Mu. Tuhan, Engkaulah Pemrakarsanya. Tanpa Engkau me-lakukan sesuatu, aku pun tidak melakukan.” Saya dikuasai oleh visi surgawi, nampak bahwa segenap diri saya adalah dosa melulu, saya tidak layak menciptakan atau memulai apa-apa. Segala sesuatu yang berasal dari diri saya, dalam pandangan Allah, bobrok adanya. Bahkan air mata perto-batan saya pun perlu dibasuh oleh darah Tuhan. Dalam per-tobatan saya masih terdapat unsur “ego” yang membuat pertobatan saya tidak murni. Saya harus bertobat atas pertobatan saya itu. Inilah arti menerapkan darah adi Yesus dan mengenakan Kristus sebagai kebenaran, sebagai penutup. Akhirnya saya tahu betapa saya memerlukan darah Kristus; juga sadar bahwa setiap hal yang saya lakukan seharusnya membiarkan Kristus hidup dan menjadi penutup saya. “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Inilah maksud mempersembahkan yang sulung dan lemaknya kepada Tuhan. Saya boleh bersaksi, saya belum pernah mengalami sukacita seperti saat itu. Saya diliputi oleh kemanisan Tuhan, saya di alam surgawi. Inilah pengalaman Habel. Saya percaya bahwa di antara pembaca berita ini banyak yang mempunyai pengalaman serupa.
Apa yang Habel lakukan sesuai dengan Injil Perjanjian Baru, yang memberi tahu kita untuk menerima pembasuhan darah, menyangkal diri sendiri, mengesampingkan diri sendiri, dan menjadikan Kristus sebagai penutup kita. Kita per-lu mengaku dosa kita, menyangkal diri kita. Kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai anak sulung dari domba Allah dan mempersembahkan lemak-Nya sebagai bau harum yang memuaskan Allah. Lupakanlah diri sendiri, sangkallah diri sendiri, tolaklah diri sendiri, kesampingkan diri sendiri, jadikanlah Dia sebagai penutup kita. Jika kita demikian, kita tidak hanya hidup bagi Dia, lebih-lebih bersandarkan Dia. Kristus tidak hanya sebagai kurban persembahan untuk Allah, tetapi juga cara Allah, cara penebusan dan hayat. Ibrani 11:4 mengatakan bahwa karena iman, Habel memper-sembahkan kurban yang melambangkan Kristus, dan de-ngan itu ia memperoleh kesaksian bahwa ia benar. Oleh iman ini, hingga hari ini dia masih berbicara.
c. Imam Allah yang Pertama
Habel itu imam yang pertama. Dia tidak memerlukan orang lain untuk mewakilinya mempersembahkan kurban; dia sendiri yang melakukannya. Setiap Habel adalah imam. Jangan meminta orang lain untuk mewakili Anda memper-sembahkan kurban. Jangan mencari pastur, gembala, imam, penginjil, atau pendeta. Anda sendiri justru imam yang boleh mempersembahkan kurban persembahan. Dalam hidup gereja, setiap orang adalah imam yang tidak henti-hentinya mempersembahkan Kristus kepada Allah.
d. Dianiaya oleh Penyembah di dalam Daging
Habel dianiaya dan dibunuh oleh Kain, karena ia menyembah Allah menurut cara Allah. Lain dengan Kain yang menyembah Allah menurut caranya sendiri. Kain hi-dup di dalam daging, bersandar pada hasil jerih payahnya sendiri. Tetapi Habel sedikit pun tidak bersandar pada diri-nya. Dia bersandar pada kurban persembahannya. Secara lambang, Habel bersandar pada Kristus, bermegah di dalam Kristus, tanpa bersandar pada daging (Flp. 3:3). Penyembah-penyembah di dalam daging selalu menentang dan meng-aniaya penyembah-penyembah di dalam roh (Gal. 4:29).
e. Lambang Kristus
Habel adalah lambang Kristus (Ibr. 12:24). Apakah lam-bang? Lambang adalah gambar atau bayang-bayang. Meskipun Habel bukan Kristus, tetapi dia merupakan gambar Kristus, menyatakan beberapa aspek Kristus. Misalnya, Habel adalah seorang gembala. Tuhan Yesus adalah Gem-bala yang sejati, yang menggembalakan umat Allah (Yoh. 10:11, 14; Ibr. 13:20). Dalam Alkitab tidak banyak menyebut orang sebagai orang yang benar, tetapi Tuhan Yesus dan Habel sama-sama disebut sebagai orang yang benar. Dalam Matius 23:35 dikatakan, “Habel, orang benar itu”; dalam Kisah Para Rasul 7:52 dan 22:14, Tuhan Yesus disebut se-bagai “Orang benar”. Habel dibunuh oleh saudara kandung-nya, Tuhan Yesus dibunuh oleh orang Yahudi sebangsanya. Selain itu, darah Habel dan darah Tuhan Yesus disebut sebagai darah yang berbicara. Kejadian 4:10 mengatakan bah-wa darah Habel berteriak kepada Allah dari tanah. Darah Habel yang berbicara ini melambangkan darah Kristus yang berbicara. Ibrani 12:24 merupakan penggenapan lambang pada Kejadian 4:10, yang memberi tahu kita bahwa darah pemercikan Yesus “berbicara lebih indah daripada darah Habel” (Tl.). Syukur kepada Tuhan, kita mempunyai darah yang berbicara. Kita tidak hanya mempunyai darah penebusan, darah pembasuhan, darah penutup, bahkan ada darah yang berbicara. Darah Habel berbicara dari tanah, darah Yesus berbicara dari surga. Darah Yesus bahkan berbicara lebih indah daripada darah Habel. Puji Tuhan!