KEJATUHAN MANUSIA KALI KEDUA (2)
Dalam berita ini kita akan meneruskan pembahasan kita tentang kejatuhan manusia kali kedua. Seperti yang te-lah kita lihat dalam berita-berita yang lalu, kejatuhan ma-nusia kali pertama diakibatkan oleh salah makan. Menurut konsepsi manusiawi kita, hal ini tidak terlalu gawat. Ketika saya masih seorang Kristen muda, saya mencoba memban-tah Allah dengan pertanyaan, apa salahnya makan sedikit buah saja. Saya juga menemukan banyak orang Kristen lainnya mempunyai konsepsi yang sama. Namun dari Kejadian 3 menuju Kejadian 4, kita nampak betapa perkara-per-kara jahat timbul dari benih yang kecil ini.
Dalam Roma 7, benih yang masuk ke dalam manusia dalam Kejadian 3 oleh Paulus disebut dosa. Roma 7:19-20 Paulus berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan. Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di da-lam aku.” Meskipun kebanyakan orang Kristen mengerti Galatia 2:20 yang mengatakan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku,” tetapi tidak banyak yang memperhatikan Roma 7:20 yang menga-takan, “Bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku.” Galatia 2:20 menampakkan ke-pada kita bahwa Kristus yang tinggal di dalam kita adalah satu Persona. Kristus, jelmaan Allah, tinggal di dalam kita sebagai satu Persona. Atas prinsip yang sama, kita dapat mengatakan bahwa dosa yang tinggal di dalam kita juga adalah suatu persona yang hidup. Saya sedikit pun tidak meragukan bahwa dosa adalah jelmaan Iblis (Satan). Kristus jelmaan Allah tinggal di dalam roh kita, sedangkan dosa jelmaan Iblis tinggal di dalam daging kita. Iblis, si jahat itu, menginjeksikan dirinya ke dalam sifat kita. Hal ini terjadi dalam Kejadian 3, tetapi hasil injeksi ini terlihat pada manusia yang telah jatuh dalam Kejadian 4.
Benih jahat ini pertama kali mengekspresikan dirinya di dalam bentuk agama, dalam bentuk penyembahan terhadap Allah. Dapatkah Anda membayangkan bahwa benih Iblis yang tinggal di dalam manusia yang telah jatuh dapat mem-buat manusia menyembah Allah? Seperti yang telah kita lihat, benih ini di dalam Kain betul-betul membuat dia menyembah Allah, namun bukan menurut cara Allah atau wahyu Allah, melainkan menuruti konsepsinya sendiri, yak-ni konsepsi manusia yang telah jatuh. Apakah konsepsi manusia yang telah jatuh itu? Itu adalah ekspresi Iblis di dalam manusia. Jangan lupa akan kejadian yang tercatat dalam Matius 16:20-23, Petrus menyatakan perhatiannya kepada Tuhan. Petrus tidak menyadari kalau Iblis bercokol dalam konsepsinya. Namun Tuhan tahu, karena itu Ia menyebut Petrus “Iblis”. Jadi, konsepsi manusia yang telah jatuh tidak lain ekspresi setan yang berhuni di dalam kita.
(4) Dusta dan Kesombongan Manusia
Dalam Kejadian 4 kita nampak bahwa benih jahat yang terinjeksi ke dalam manusia pada Kejadian 3, pertama-tama memanifestasikan dirinya atas perkara yang kelihatannya baik — yaitu menyembah Allah. Namun pasal ini menunjukkan pula perkembangan benih itu yang lebih lanjut: ter-lebih dulu berkembang sebagai rasa iri hati, kemudian men-jadi gusar, rasa benci, membunuh, dan berdusta. Kain tidak hanya membunuh adiknya, tetapi juga mendustai Allah. Bayangkan, orang yang seperti itu bahkan berani mendustai Allah! Setelah Kain membunuh Habel, Allah mendatanginya dengan ramah dan penuh belas kasihan. Setidak-tidaknya Allah bukan datang untuk menghakimi atau menjatuhinya hukuman mati. Allah malahan bertanya kepada Kain di mana adiknya. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa pintu pertobatan masih terbuka. Jika saya sebagai Kain, saya akan berkata, “Tuhan, ampunilah aku, karena aku telah membunuh saudaraku. Aku telah melakukan perbuatan yang sungguh berdosa.” Di bawah terang Injil, saya akan mengaku dan mo-hon ampun. Tetapi dengarlah jawaban Kain, “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kej. 4:9). Jawaban ini me-rupakan dusta besar, dusta yang pertama kali dalam sejarah manusia. Yohanes 8:44 menjelaskan bahwa Kain bukan satu-satunya orang yang berdusta, tetapi juga Iblis itulah pendusta sejak semula. Kain bersatu dengan Iblis, pendusta itu. Satan, Iblis, pendusta itu, dan Kain bekerja sama untuk mengucapkan dusta besar. Dusta yang pertama di atas bumi, bukan diarahkan kepada manusia, melainkan kepada Allah. Sekarang perhatikan pertumbuhan benih itu dalam Kejadian 4: diawali dengan menyembah Allah dan kemudian berkembang sampai mendustai Allah. Tidak hanya demikian, Kain sangat sombong. Katanya, “Apakah aku penjaga adik-ku?” Perkataan ini menyatakan kesombongannya. Sekarang kita dapat melihat sampai di mana kejatuhan manusia. Se-tiap perkara jahat yang ditemukan dalam Kejadian 4 berasal dari benih kecil yang terinjeksi ke dalam manusia pada Kejadian 3.
Benih-benih jahat itu masih ada di dalam sifat alamiah kita. Kelihatannya kita lemah-lembut, lapang, ramah, dan baik hati; tetapi sebenarnya benih jahat Iblis itu ada di dalam sifat kita. Karena itu, kita harus menerima jalan keselamatan yang diwahyukan oleh Allah. Keturunan perem-puan akan meremukkan kepala ular, si jahat itu, sumber segala kejahatan (Kej. 3:15). Keturunan perempuan, Tuhan Yesus Kristus kita, telah meremukkan kepala ular secara obyektif di atas salib, dan hari demi hari, Ia terus meremuk-kan kepala ular secara subyektif di dalam kita. Di bawah naungan darah Tuhan yang menang, saya dapat bersaksi bahwa hari ini, keturunan perempuan yang tinggal di dalam saya telah berkali-kali meremukkan kepala ular. Kapan saja kita mengabaikan keturunan perempuan yang ada di dalam kita, Iblis pasti akan mengusik kita. Kita tidak mempunyai jalan lain untuk meloloskan diri, kecuali percaya bahwa Yesus adalah keturunan perempuan, yang setiap hari dan setiap jam ada di dalam kita, meremukkan kepala si jahat.
Kita tidak perlu melakukan perbuatan dosa, baru menjadi orang berdosa. Asalkan kita adalah manusia, kita sudah sebagai orang berdosa. Kita telah berdosa sejak dilahirkan. Sebenarnya, kita telah berdosa sebelum kita dilahirkan. Karena itu, kita memang adalah bagian dari dosa. Jika orang bertanya, “Apa pembawaan alamiah Anda?”, saya akan men-jawab, “Saya tidak lain adalah segumpal dosa belaka. Saya telah tercemar, ternista, dan ternoda. Saya memerlukan darah Anak Domba Allah membersihkan saya. Saya memerlukan Kristus sebagai keturunan perempuan yang menghan-curkan ular di dalam saya.” Namun, kapan saja kita menyembah Allah menurut konsepsi kita sendiri sebagai pengganti jalan keselamatan Allah, saat itu pula kita telah berada di bawah pengendalian si jahat itu. Mungkin ia mendorong kita untuk menyembah Allah, tetapi dengan berbuat demikian, ia akan dapat secara mutlak menguasai kita. Se-telah ia membuat kita menyembah Allah, ia akan berkem-bang di dalam kita, sehingga kita menjadi pendusta dan ber-sikap angkuh di hadapan Allah. Kita semua harus mengetahui bahwa benih setiap kejahatan bersembunyi di dalam kita.
Ketika saya sebagai seorang Kristen muda, saya berkata, “Kalau Iblis ada di dalam Kain, dan Kain sudah menjadi demikian bejatnya, mengapa Allah tidak mau membuangnya saja? Jika saya adalah Allah, saya akan menghukum mati dia.” Tetapi Allah itu penuh kasih karunia dan rahmat, Ia tetap membukakan pintu pertobatan kepada Kain dan kepada semua orang yang telah jatuh.
d. Akibatnya
(1) Kutukan yang Lebih Berat
Akibat kejatuhan manusia kali kedua, Allah meng-umumkan kutukan yang lebih berat. “Maka sekarang, ter-kutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang menganga-kan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi ke-padamu” (Kej. 4:11-12). Kata-kata ini merupakan peringatan kepada Kain. Seolah-olah Allah berkata, “Karena engkau telah melakukan perkara-perkara jahat, maka tanah tertim-pa oleh kutukan yang lebih berat daripada sebelumnya. Tanah terkutuk oleh karena kejahatan kedua orang tuamu, sampai-sampai menghasilkan semak duri dan rumput duri (Kej. 3:17-18). Sekarang, karena kejatuhanmu yang lebih lanjut, tanah menerima kutukan lagi. Tanah akan terkutuk lebih berat lagi, sehingga bagaimanapun engkau menggarap-nya, ia tidak akan memberikan hasil sepenuhnya ke-padamu.”
(2) Pengembara
Selanjutnya Allah berkata kepada Kain, “Engkau men-jadi seorang pelarian dan pengembara di bumi” (Kej. 4:12). Apakah pengembara itu? Seorang pengembara, atau seorang pengelana adalah orang yang tidak mempunyai tujuan, tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai kepuasan, dan tidak mempunyai perhentian. Seorang pengembara tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, dan tidak mempunyai penghiburan; ia berkelana terus di bumi, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Allah berkata kepada Kain bah-wa ia akan menjadi orang sedemikian ini.
Akan tetapi, hukuman ini masih merupakan hukuman yang penuh belas kasihan. Kapan saja, asal Kain mau ber-tobat dan mencari ampunan Allah, Allah pasti akan dengan senang hati mengampuni dia. Misalnya, Kain berkata, “Tuhan, aku bersalah. Aku tidak memilih jalan yang Kautunjukkan kepada orang tuaku dan yang telah disampaikan oleh orang tuaku kepadaku. Kini, aku bertobat dan memilih jalan itu. Ampunilah aku ya Tuhan.” Jika Kain berdoa demikian, Allah pasti mengampuni dia. Namun, dengarlah jawaban Kain atas hukuman Allah yang penuh belas kasihan itu. “Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan ter-sembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengem-bara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu aku, tentulah akan membunuh aku” (Kej. 4:14). Kata-kata “dari tanah ini” dalam bahasa aslinya adalah “dari permukaan bumi”. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda pertobatan. Kain hanya tawar-menawar dengan Allah, dan mengatakan bah-wa dirinya akan dihalau dari permukaan bumi.
Apakah makna dihalau dari permukaan bumi? Sukar bagi para pembaca Alkitab untuk mengerti makna kalimat ini. Kelihatannya, Kain tidak dihalau dari permukaan bumi. Bagaimana mungkin ia keluar dari permukaan bumi dan te-tap hidup? Ingat, perkataan ini bukan diucapkan oleh Allah; Allah hanya berkata bahwa Kain akan menjadi seorang pengembara; tidak berkata bahwa ia akan dihalau dari per-mukaan bumi. Namun pengertian Kain terhadap perkataan ini adalah demikian — ia mengira bahwa ia akan dihalau dari permukaan bumi. Apa artinya ini? Pertanyaan ini kita jawab nanti.
Kain tidak bertobat. Ia berdebat dalam ketakutan. Ia tidak takut kepada Allah, melainkan takut akan dibunuh orang lain. Mengapa ia mempunyai rasa ketakutan seperti itu? Sebab ia telah membunuh saudaranya. Saudara Watchman Nee sering berkata kepada saya, “Jika seseorang menyangka Anda akan mencuri barang miliknya, orang itu sendiri tentu seorang pencuri. Hanya pencuri yang takut orang lain men-curi barangnya. Jika Anda tidak pernah mencuri barang milik orang lain, Anda tidak akan mempunyai pikiran bahwa orang lain akan mencuri barang Anda.” Tanpa ada penger-tian tentang merampok, niscaya Anda tidak akan mem-punyai pikiran orang lain akan merampok Anda. Tetapi bila Anda pernah merampok orang lain, niscaya Anda menge-tahui bahaya dirampok orang lain. Kain takut akan dibunuh, karena ia telah membunuh saudaranya. Jadi, Kain tidak bertobat, ia malah berbantahan dengan Allah, katanya, “maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.” Kain sadar bahwa dirinya tidak mempunyai perlindungan. Namun, Allah benar-benar penuh rahmat. Allah selalu melakukan menurut apa yang bisa kita terima, penuh rahmat terhadap kita. Tuhan berfirman ke-padanya, “Barangsiapa yang membunuh Kain, akan dibalas kepadanya tujuh kali lipat. Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia” (Kej. 4:15). Kita nampak, Allah menaruh tanda pada Kain. Janganlah menanyakan apa tanda itu, karena saya tidak tahu. Saya hanya tahu bahwa Allah memberi tanda pada Kain sebagai perlindungan ter-hadap dia.
(3) Pergi dari Hadapan Allah
Tanpa bertobat, Kain pergi meneruskan jalannya sen-diri. Jalannya sendiri ialah memisahkan diri dari hadapan Allah. “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN, dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden” (Kej. 4:16). Adam diusir keluar dari taman Firdaus, yakni keluar dari Taman Eden. Tetapi, Kain pergi dari hadapan Allah. Walaupun ia menyembah Allah, akhirnya ia pergi dari hadapan Allah. Persembahan macam apa itu? Saya membenci persembahan macam apa pun yang menyebabkan orang pergi dari hadapan Allah. Jangan sekali-kali mengatakan, “Apakah kesalahan cara kita menyembah Allah?” Salah, bila cara itu menjauh-kan Anda dari hadapan Allah. Alangkah menakutkan bila menjadi orang yang hidup di bumi ini tanpa penyertaan Allah.
Sekarang kita kembali kepada pertanyaan yang kita ajukan tadi, yaitu tentang makna dihalau dari permukaan bumi. Seandainya Anda adalah orang yang tidak hidup di hadapan Allah, berarti Anda tidak memiliki tempat untuk hidup di bumi ini. Bumi ini diciptakan untuk orang-orang yang hidup di hadapan Allah. Dalam Kejadian 4:14, permu-kaan bumi sama dengan hadapan Allah. Kain berkata, “Engkau menghalau aku sekarang dari permukaan bumi ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu” (Tl.). Jadi, kalau Anda tidak hidup di hadapan Allah, berarti Anda telah hidup tidak sewajarnya di bumi ini. Tanpa hidup di hadapan Allah, berarti Anda adalah perampok di bumi ini. Bumi bukan di-ciptakan untuk orang-orang yang melawan Allah; bumi di-ciptakan untuk orang-orang yang hidup bagi Allah. Karena itu, jika di hadapan Allah Anda tidak memiliki kedudukan, Anda juga tidak memiliki kedudukan di bumi ini. Jadi diha-lau dari hadapan (muka) Allah sama dengan dihalau dari permukaan bumi. Secara logika, kedengarannya ucapan ini tidak benar, tetapi secara rohani, kata-kata ini tepat sekali. Tanpa Anda menempuh hidup di hadapan Allah, niscaya Anda akan dirundung oleh perasaan entah menuju ke mana. Dalam batin Anda betul-betul terasa bahwa Anda memang seorang pengembara. Bahkan Anda akan berkata, “Tidak ada tempat bagiku di bumi ini.” Akan tetapi, bila Anda hidup di hadapan Allah, niscaya di mana-mana adalah surga dan di mana-mana akan menyenangkan. Tidak ada seorang pun yang hidup di hadapan Allah yang ingin bunuh diri. Hanya orang-orang yang mutlak kehilangan hadirat Allah dan yang sudah menjadi pengembara di bumi, tanpa tempat kediaman, mereka itulah yang bermaksud bunuh diri. Tempat kediaman kita yang riil adalah di hadapan Allah.
Selama Perang Dunia kedua, karena saya bekerja bagi gereja, saya dijebloskan ke dalam penjara oleh tentara-tentara Jepang yang menduduki China. Segala sesuatu di dalam penjara itu benar-benar merupakan penderitaan bagi saya. Namun, Tuhan ada di sana dan saya ada di hadapan-Nya. Belum pernah saya menikmati hadir Tuhan sebanyak waktu saya di dalam penjara. Suatu malam, saya melakukan satu penanggulangan yang tuntas dengan Tuhan. Menurut pera-saan saya, seolah-olah Tuhan berada di depan saya. Air mata saya mengalir dan saya berkata, “Tuhan, ini sangat indah.” Itulah pengalaman saya di dalam penjara. Penjara itu men-jadi surga bagi saya dan saya tinggal bersama-sama Tuhan di surga.
(4) Menghasilkan Kebudayaan Tanpa Allah
Kain meninggalkan hadapan Allah dan pergi menuruti jalannya sendiri. Hal pertama yang diperbuatnya ialah mem-bangun sebuah kota. Ia menghasilkan sebuah kebudayaan tanpa Allah (Kej. 4:16-24). Dalam Alkitab, konsepsi kota sangat bermakna, dan kita dapat menemukan garis kota-kota dalam seluruh Alkitab. Pertama-tama Henokh, kota yang dibangun Kain, dan terakhir Yerusalem Baru, kota yang dibangun oleh Allah. Kota yang diprakarsai oleh Kain, menuju kesimpulannya sebagai Babilon besar. Kota Henokh adalah tiruan bangunan Allah. Kota itu bukan dari Allah, tetapi diprakarsai oleh Iblis di dalam Kain.
(a) Penyebabnya
Kita harus mengerti sumber kebudayaan manusia dan sebab-musabab perkembangannya. Kebudayaan manusia ber-kembang dikarenakan manusia telah kehilangan Allah. Tadinya, Allah Sang Pencipta manusia adalah segala-galanya bagi manusia. Allah adalah pelindung, pemelihara, pe-nyuplai, sukacita, penghiburan, dan pembela manusia. Allah itulah segala-galanya. Di dalam taman, manusia tidak perlu melakukan apa pun kecuali menggarap tanah, bekerja sama dengan Allah. Di taman, Allah merupakan segala sesuatu terhadap manusia. Tetapi, ketika manusia kehilangan Allah, ia kehilangan segala-galanya. Ia kehilangan perlindungan, penjagaan, pemeliharan, penyuplaian, dan penghiburan. Ke-hilangan Allah ini mendesak manusia menciptakan kebuda-yaan manusia sendiri. Manusia telah kehilangan segala-galanya, maka ia harus menciptakan sesuatu.
(b) Prosesnya
1) Membangun Kota bagi Eksistensi Diri Sendiri
Iblis bekerja di dalam Kain, menganjurinya agar mendirikan sebuah kota. Mungkin Iblis berkata, “Kain, engkau takut orang-orang akan membunuhmu. Bagi eksistensimu, engkau memerlukan sebuah kota sebagai perlindunganmu.” Karena Kain telah kehilangan Allah, ia menjadi takut. Ia telah kehilangan Allah sebagai suplai, sukacita, dan perlindungannya. Pada zaman kuno, tujuan utama dari kota ada-lah untuk perlindungan. Sebab itu, Kain mendirikan kota semacam itu untuk melindungi dirinya sendiri. Di dalam ke-budayaan manusia yang tidak ber-Tuhan, orang-orang ter-paksa melindungi dirinya sendiri. Kain tidak menamakan kota itu Yehova, melainkan Henokh, menurut nama anak-nya. Ia memberi nama yang sama kepada anaknya dan kotanya. Karena dalam arti tertentu, kotanya adalah anak-nya, dan ia mencintai kota ini seperti mencintai anaknya. Perhatikanlah, nama Henokh berarti “Prakarsa”, menunjuk-kan sesuatu yang diprakarsai oleh Kain. Ini sangat bermak-na. Kain menjadi pendiri kota yang pertama, perencana kota yang pertama, dan arsitek yang pertama. Kain adalah seorang pencipta, pemrakarsa. Namun, ciptaannya yang per-tama bukan kota, melainkan agama. Pertama-tama ia men-ciptakan agama; kedua, ia menciptakan pembangunan kota.
Di antara keturunan Kain ada yang bernama Lamekh. Nama Lamekh dalam bahasa Ibrani berarti “perkasa”, “me-miliki kekuatan”. Lamekh, generasi manusia yang ketujuh, merupakan orang yang sangat kuat. Ia mempunyai dua istri; ia menjalani poligami (Kej. 4:19). Jadi poligami dimulai di kota Henokh di tanah Nod. Nod berarti “mengembara”. Lamekh melakukan poligami demi memuaskan nafsunya. Poligami adalah suatu pelanggaran terhadap hukum alam yang dibuat oleh Allah bagi eksistensi manusia. Perkawinan memang perlu bagi eksistensi manusia. Tetapi perkawinan harus dibatasi sesuai dengan prinsip satu istri satu suami. Prinsip ini ditetapkan oleh Allah guna memelihara eksistensi manusia. Lamekh justru orang pertama yang merusak prinsip ilahi atas perkawinan. Istri pertamanya bernama Ada, berarti “perhiasan”. Ia suka berhias dan mempercantik diri. Ada adalah istri yang suka bersolek. Dengan mempunyai dua istri, hawa nafsu Lamekh tersingkap. Pada suatu hari Lamekh bermegah kepada kedua istrinya, “Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu; Ada dan Zila, dengar-kanlah suaraku: Hai istri-istri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda ka-rena ia memukul aku sampai bengkak, sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat” (Kej. 4:23-24). Lamekh bahkan lebih sombong daripada Kain, moyangnya. Ia merasa angkuh atas pembu-nuhannya terhadap seorang laki-laki yang melukainya dan membunuh seorang muda yang telah memukul dia. Jadi, Lamekh selain seorang pelaku poligami, juga seorang pem-bunuh dan pembual yang sombong. Dengan membaca sepotong firman yang pendek ini, kita dapat melihat betapa ngerinya kebudayaan manusia yang pertama, kebudayaan yang tidak ber-Allah. Semua perkara jahat ini telah terjadi di kota Henokh yang dibangun oleh Kain. Ini boleh disebut kehidupan kota, yang sama jahatnya dengan kehidupan kota-kota besar zaman sekarang ini.
2) Menciptakan Peternakan untuk Mata Pencaharian
Ada, istri pertama Lamekh melahirkan Yabal dan Yubal; Yabal, bapa segala pemelihara ternak (Kej. 4:20). Ia menciptakan peternakan dengan tujuan mata pencaharian. Ia menjadi pengembara, berkelana dari satu tempat ke tempat lain, sebab tidak ada tanah yang memberikan hasil sepenuhnya kepadanya. Tidak seorang pun di Amerika Serikat yang mau menjadi pengembara, karena tanah di negeri ini sangat subur. Jadi, orang-orang di negeri ini tidak perlu menjadi pengembara. Akan tetapi, Yabal menemukan bahwa tanah tidak memberi dia faedah yang sepenuhnya, sehingga ia terpaksa menjadi seorang pengembara dan memelihara ternak sebagai mata pencahariannya. Hal mencari nafkah seseorang merupakan aspek utama dari kebudayaan ma-nusia. Kota didirikan untuk eksistensi manusia, sedang peternakan ditemukan untuk mata pencaharian manusia.
3) Menciptakan Musik untuk Kesenangan Diri
Yubal menciptakan musik (Kej. 4:21). Ia membuat kecapi dan suling. Menurut fakta, nama Yubal berarti “bersukaria dengan meriah”, atau “suara riang”, atau “musik”. Apakah musik itu? Musik adalah semacam hiburan yang membuat orang senang. Mengapa manusia memerlukan hiburan semacam itu? Karena manusia telah kehilangan Allah sebagai sukacitanya. Allah adalah kenikmatan yang sejati bagi manusia. Dahulu, berkali-kali teman-teman saya mengundang saya nonton bioskop bersama mereka. Saya berkata kepada mereka, “Saya tidak memerlukan itu. Saya mempunyai sesuatu yang lebih baik daripada bioskop kalian.” Bahkan saya tidak perlu nonton televisi, karena saya memiliki televisi surgawi. Segala hal yang ada di dalam Yerusalem Baru ditontonkan kepada saya. Saya tidak dapat melupakan suatu pengalaman ketika saya mengunjungi kota Houston. Seorang teman mengajak saya berkeliling kota. Tetapi saya berkata kepadanya, “Sejak saya melihat Yerusa-lem Baru, saya tidak perlu melihat kota-kota di bumi ini.” Saya bukan omong kosong. Saya sungguh-sungguh demikian.
Pada tahun 1937, saya menginjil di ibu kota Nanking. Keadaan penginjilan di daerah itu sangat baik, dan Injil banyak diterima. Setelah usai suatu sidang, seorang perem-puan cantik, berpakain mode yang paling modern, datang menemui saya dan berkata, “Tuan Lee, aku takluk oleh khotbah Anda. Bahkan aku mau memutuskan untuk per-caya Yesusmu. Tetapi keputusan ini tergantung pada satu hal. Aku adalah pecandu bioskop. Katakan kepadaku, setelah menjadi orang Kristen, apakah aku tetap boleh menonton bioskop?” Pertanyaan ini amat menyulitkan saya. Saya tahu dia telah takluk dan mau percaya Tuhan Yesus. Namun, jika saya menjawab, “Tidak boleh”, ia akan menolak mene-rima Tuhan. Namun, sebagai seorang penginjil, bagaimana mungkin saya mengizinkannya? Sambil mempertimbangkan bagaimana menjawabnya, saya menengadah kepada Tuhan agar diberi jawaban yang berhikmat. Tuhan memberi saya satu jawaban. Saya berkata kepada perempuan ini, “Anda mempunyai seorang anak. Andaikata, pada suatu hari ia bermain-main dengan pisau yang tajam dan Anda merasa bahwa hal itu membahayakan. Bagaimana Anda mengatasi-nya? Apakah Anda memaksanya untuk menjatuhkan pisau itu, atau Anda rampas pisau itu dari tangannya?” Ia menja-wab, “Tidak, aku hanya melemparkan beberapa kembang gula atau apel ke lantai, anak itu pasti akan membuang pisaunya untuk beralih mengambil kembang gula atau apel itu. Pisau itu ditinggalkannya karena di tangannya ada barang-barang yang lebih baik.” Kemudian saya berkata, “Persis, inilah keadaan Anda menonton bioskop. Jika Anda menerima Yesus, niscaya Ia akan memenuhi Anda sehingga tidak ada kapasitas lagi untuk hal-hal yang lain.” Ia berkata, “Bagus sekali, aku mau percaya.” Saya pun melanjutkan, “Anda harus percaya sekarang.” Jawabnya, “Ya, aku percaya sekarang juga. Aku percaya Tuhan Yesus.” Demikianlah ia beroleh selamat.
Mengapa orang menonton bioskop atau pergi berdansa? Tidak lain karena mereka merasa kosong. Mereka tidak mempunyai Allah sebagai sukacita mereka. Saya tidak me-nonton bioskop bukan karena peraturan gereja melarang hal itu. Gereja selamanya tidak mengeluarkan ketetapan yang melarang hal-hal semacam itu. Tetapi meskipun tidak ada larangan semacam itu, saya tetap tidak ingin nonton bioskop; sekalipun Anda memberi saya 1000 dollar, saya tetap tidak mau pergi. Saya mempunyai sesuatu yang lebih baik. Saya telah diisi dengan Kristus, maka tidak bisa menampung hal-hal lain lagi.
Yubal menciptakan musik dikarenakan pada waktu itu manusia merasa kosong. Ia berada di dalam kesia-siaan, tidak ada yang bisa memuaskannya. Karena tidak ada se-suatu yang bisa menghiburnya, maka ia harus menciptakan suatu hiburan untuk dirinya. Prinsip ini sama dengan ber-bagai macam hiburan dewasa ini. Orang-orang memerlukan hiburan karena tidak mempunyai Allah.
Banyak di antara orang Kristen yang tahu tentang ke-bangunan rohani di Welsh (Welsh revival) yang terjadi lebih kurang 70 tahun yang lalu. Selama waktu-waktu itu, ge-dung-gedung pertunjukan dan tempat-tempat hiburan di se-luruh Pulau Wales tutup, karena semua orang telah beroleh selamat. Mereka telah mempunyai sesuatu yang lebih baik daripada hiburan-hiburan duniawi. Mereka memiliki Kristus. Haleluya!
Lamekh dipenuhi dengan nafsunya; Ada bersolek dan mempercantik diri dengan perhiasan-perhiasan. Dari kedua orang tua Yabal ini, lahirlah si pencipta musik. Di sini kita berhadapan dengan satu keluarga yang terdiri dari hawa nafsu, bersolek, dan hiburan. Keluarga macam apakah ini! Hari ini banyak keluarga demikian; sang ayah memuaskan nafsunya, sang ibu memperhatikan berdandan dan bersolek, sedang anak-anak mengejar pelesiran. Bukankah ini keadaan dari banyak keluarga pada masa kini?
Dalam Kejadian 4, kita nampak dua keluarga yang berlawanan. Keluarga Adam adalah keluarga yang percaya Injil. Sang ayah membukakan jalan beriman kepada Injil, sang ibu meratakan jalan, dan sang anak, Habel, berjalan di atas jalan itu. Namun, keluarga Lamekh mengejar ke-duniawian. Si ayah memenuhi nafsunya, si ibu mementing-kan bersolek, dan si anak, Yubal, mengejar pelesiran. Sung-guh berlawanan! Saya tidak suka menjadi anggota keluarga Lamekh. Puji Tuhan, kita menjadi anggota keluarga yang beriman kepada Injil.
Benih yang tertabur dalam Kejadian 4 akan bertumbuh terus sampai menjadi tuaian dalam Babel besar. Wahyu 18 menyebut contoh-contoh barang dagangan, semuanya untuk tiga perkara — memuaskan hawa nafsu, mempercantik diri, dan menghibur orang. Jika Anda menyingkirkan hal-hal itu dari tengah-tengah masyarakat, semua pusat perbelanjaan akan tutup. Apakah yang dijual banyak pusat perbelanjaan? Tidak lain benda-benda bagi kepuasan hawa nafsu laki-laki, alat-alat mempercantik diri perempuan, dan aneka hiburan anak muda. Itulah sebabnya setiap kali saya masuk ke pusat perbelanjaan, saya sangat merasa terhukum, bagaikan masuk ke dalam perbaraan api. Istri saya boleh bersaksi, telah tiga tahun lebih saya tidak lagi mengunjungi pusat perbelanjaan mana pun. Jadi, masyarakat hari ini merupa-kan perluasan dari catatan Kejadian 4. Prinsip setiap per-kara masih tetap sama.
4) Menciptakan Senjata untuk Membela Diri
Zila, istri Lamekh lainnya, melahirkan Tubal-Kain, “Bapa semua tukang tembaga dan besi” (Kej. 4:22), artinya dia adalah pencipta segala jenis senjata. Senjata-senjata yang diciptakannya adalah untuk membunuh orang. Pabrik senjata yang modern merupakan tuaian yang penuh dari peralatan tembaga dan besi dalam Kejadian 4. Semua senjata ini, sudah tentu dipakai untuk pembelaan manusia.
Nama Zila berarti “pelindung”, “penutup”. Jenis penutup apa yang dimaksud di sini? Ditutupi dengan senjata-senjata. Istri Lamekh yang satu untuk kepentingan perhiasan, sedang yang lainnya untuk penutup, penaung. Ia dipakai sebagai penaungnya, menutupinya.
Jadi, kita nampak empat hal yang diciptakan oleh kebudayaan manusia yang pertama, kebudayaan tanpa Allah: kota untuk eksistensi, peternakan untuk mata pencaharian, musik untuk hiburan, dan senjata untuk pembelaan. Ke-empat hal ini juga merupakan aspek-aspek utama dari ke-budayaan manusia yang modern. Semuanya ini diakibatkan oleh manusia telah kehilangan Allah.
Jika Anda menganalisis situasi dunia hari ini dari sudut sejarah, Anda akan menemukan bahwa semua ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari kebudayaan manusia dalam Kejadian 4. Situasi dunia hari ini seperti ke-budayaan yang terdapat dalam Kejadian 4, yang terdiri dari empat unsur: kota untuk eksistensi manusia, berbagai cara untuk nafkah, hiburan-hiburan, dan persenjataan.
Kebudayaan tanpa Allah mulai dikembangkan di dalam Kejadian 4 dan perkembangannya berlangsung terus hingga mencapai klimaksnya di Babel Besar. Kita bersyukur kepada Tuhan, karena kita tidak berada di dalam kebudayaan itu.
(c) Akibatnya
Kita telah melihat manusia menghasilkan kebudayaan tanpa Allah. Akibat dari kebudayaan ini ialah memenuhi hawa nafsu, melakukan perzinaan, serta saling baku han-tam dan bunuh-membunuh. Contoh-contoh ini terlihat pada diri Lamekh. Jadi, dari firman Allah kita tahu bahwa benih kecil yang diinjeksikan ke dalam sifat manusia pada Kejadian 3 telah bertumbuh sedemikian rupa. Segala kejahatan Kain ditambah dengan pelampiasan hawa nafsu dan peperangan di antara sesama manusia. Betapa banyaknya kejahatan yang telah berkembang dari benih kecil yang tertabur di da-lam sifat manusia!
Zila selain melahirkan Tubal-Kain, juga melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Naama (Kej. 4:22). “Naama” berarti “membuat dirinya elok dan menyenang-kan”. Apakah tujuan ia mempercantik dirinya? Bagi kepen-tingan hawa nafsu manusia. Ini pun adalah salah satu aspek masyarakat modern. Perempuan-perempuan senang mem-buat dirinya terlihat menarik dan cantik. Karena itu, setiap bidang kebudayaan zaman sekarang, ada di dalam Kejadian 4 dalam bentuk benih. Kini kita tahu sumber kebudayaan manusia. Dia muncul dikarenakan manusia kehilangan Allah.
Bila Anda membaca Kejadian 5, Anda akan menemukan bahwa orang-orang yang namanya tercantum di situ tercantum pula usianya. Sebagai contoh, Adam hidup 930 tahun. Akan tetapi, silsilah dalam Kejadian 4 tidak ter-cantum usianya. Mengapa? Karena silsilah ini adalah sil-silah orang-orang yang terhilang. Semua orang dalam Kejadian 5 beroleh selamat. Jadi, silsilah itu merupakan silsilah orang-orang yang telah diselamatkan. Orang-orang yang beroleh selamat menempuh jalan Allah, hasilnya, hari-hari dan tahun-tahun yang mereka tempuh terhitung dalam pandangan Allah. Sebaliknya, orang-orang yang terhilang, dianggap tamat dalam pandangan Allah. Hari-hari dan tahun-tahun yang mereka tempuh tidak terhitung di hadap-an-Nya. Berapa lama Yubal, Yabal, dan Tubal-Kain hidup? Tidak seorang pun mengetahuinya. Tetapi dengan jelas kita diberi tahu berapa lama Adam dan Metusalah hidup — masing-masing 930 tahun dan 969 tahun. Kejadian 5 juga membicarakan Henokh (bukan Henokh dalam Kejadian 4), yang memberi tahu kita hidupnya mencapai 365 tahun. Di mata Allah, hari-hari dan tahun-tahunnya terhitung.