KEJATUHAN MANUSIA KALI KEDUA (3)
Dalam berita ini kita akan melihat dua ayat terakhir dalam Kejadian 4. Kita telah melihat bahwa hampir setiap hal yang terdapat dalam beberapa pasal pertama dari kitab Kejadian merupakan benih yang kemudian berkembang da-lam kitab-kitab di seluruh Alkitab. Meskipun Kejadian 4:25-26 amat ringkas, tetapi mengandung benih yang sangat pen-ting. Namun, sebelum membicarakan benih ini, terlebih dulu kita akan melihat beberapa hal lain.
e. Jalan Melarikan Diri
Kejatuhan manusia kali pertama terjadi pada Kejadian 3; kejatuhan kali kedua terjadi pada Kejadian 4. Kita telah melihat bahwa jalan untuk melarikan diri dari kejatuhan kali pertama adalah beriman kepada keturunan perempuan, yaitu Tuhan Yesus, serta menerima cara keselamatan Allah. Tetapi, bagaimanapun, karena kejatuhan kali pertama, Iblis telah masuk ke dalam sifat manusia. Inilah penyebab utama kejatuhan manusia kali kedua. Bagaimana caranya melarikan diri dari kejatuhan manusia kali kedua?
(1) Tidak Melakukan Sesuatu Menurut Maksud Diri Sendiri
Untuk melarikan diri dari kejatuhan manusia kali ke-dua, kita harus berhati-hati, jangan sampai melakukan se-suatu menurut maksud diri sendiri. Apakah artinya ini? Yaitu berbuat baik, menyembah Allah, melayani Allah me-nurut konsepsi manusia, bukan menurut wahyu Allah. Kita telah melihat contoh ini pada perkara Kain (Kej. 4:3). Me-lakukan perkara apa pun berdasarkan diri kita sendiri, meskipun sangat baik dalam pandangan kita, itu adalah melakukan menurut maksud diri sendiri, itu berarti bersatu dengan Iblis. Kita adalah manusia yang telah jatuh, ada Iblis di dalam sifat kita, karena itu, kita harus menolak segala sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri. Segala yang kita kerjakan haruslah menurut cara yang diwahyukan Allah, demikian baru kita terlindung dari Iblis dan dari kejatuhan yang lebih lanjut.
(2) Hidup bagi Allah dan Menyembah Allah
Menurut Cara Allah
Lagi, jika kita ingin melarikan diri dari kejatuhan manusia kali kedua, kita harus hidup bagi Allah dan menyembah Dia menurut cara Allah, seperti yang Habel perbuat (Kej. 4:2, 4; cf. Kej. 3:21; Ibr. 11:4). Di pihak negatifnya, jangan melakukan menurut maksud diri sendiri; di pihak positifnya, kita harus hidup bagi Allah dan menyembah Allah menurut cara yang diwahyukan-Nya. Bukan hanya hidup bagi Allah dan menyembah Allah, tetapi juga bertindak menurut cara yang diwahyukan Allah. Kita harus tetap tinggal di dalam cara Allah, agar terhindar dari kejatuhan yang lebih lanjut.
(3) Mengenal Kesia-siaan Manusia
Dalam Kejadian 4 terdapat dua nama yang sangat berarti. Yang pertama, Habel, artinya “sia-sia”. Akibat kejatuhan, hidup manusia menjadi sia-sia. Perhatikanlah orang-orang zaman ini, meskipun mereka sangat sibuk, namun batin mereka merupakan suatu kehampaan, kesia-siaan. Dalam lubuk batin mereka tercekam oleh perasaan kesia-siaan. Tidak peduli apa status masyarakat Anda, tidak peduli berapa banyak harta dan kesuksesan Anda, ketika Anda duduk sendiri pada waktu tengah malam atau pagi-pagi buta, terasa ada suatu kekosongan di lubuk batin Anda. Perasaan kosong inilah yang saya maksud dengan kesia-siaan itu. Persis yang dikatakan oleh raja Salomo yang berhikmat itu, “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?” (Pkh. 1:2-3). Untuk menghindari keja-tuhan manusia kali kedua, kita harus mengenal bahwa kita adalah manusia jatuh yang tidak mempunyai Allah; apa adanya kita, apa yang kita miliki, dan apa yang kita kerjakan, semuanya sia-sia. Kita tidak lain adalah kesia-sian belaka.
(4) Mengenal Kerapuhan Manusia
Nama kedua yang memiliki arti istimewa ialah Enos. Enos berarti “rapuh, manusia yang pasti mati”. Setelah ma-nusia jatuh, selain hidup manusia menjadi sia-sia, juga menjadi rapuh dan fana. Kita harus mengakui bahwa kita rapuh, lemah, dan mudah hancur. Betapa mudahnya kita ga-gal! Manusia pasti mati! Tidak ada seorang pun yang berani bermegah bahwa minggu yang akan datang dia pasti masih hidup. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dengan esok hari. Untuk menghindar dari kejatuhan manusia kali kedua, kita harus mengenal kesia-siaan dan kerapuhan hidup manusia. Jika kita mempunyai pengenalan ini, kita tidak akan bersandar diri sendiri, berbuat semau sendiri, dan meninggalkan jalan Allah.
(5) Menyeru Nama TUHAN (Yehova) — “Aku Adalah”
Ketika kita nampak bahwa kita tidak boleh takabur, melainkan harus hidup bagi Allah dan menyembah-Nya menurut cara Allah, juga mengenal kesia-siaan hidup manusia dan kerapuhan manusia, kita pasti akan berkata, “Ya Tuhan, memang tidak sepatutnya aku takabur. Aku harus hidup bagi-Mu dan menyembah menurut jalan-Mu. Tuhan, hidupku sia-sia. Aku rapuh dan fana.” Ketika kita nampak kesia-siaan hidup manusia kita, kerapuhan diri kita, dengan sendirinya kita akan berseru kepada nama Tuhan. Inilah sebabnya mengapa Kejadian 4:26 mengatakan, “Waktu itulah orang mulai memanggil (menyeru) nama TUHAN.” Sejak zaman Enos, generasi ketiga umat manusia, manusia mulai menyeru nama Tuhan, menyadari kelemahan, kerapuhan, dan kefanaan manusia.
Dalam bahasa Ibrani, sebutan “Allah” pertama kali dipakai dalam hubungan Allah terhadap ciptaan-Nya pada Kejadian 1; nama “TUHAN” (Yehova) pertama kali dipakai dalam hubungan Allah terhadap manusia yang dimulai pada Kejadian 2. Yehova adalah sebutan yang dipakai sewaktu Allah datang ke dalam hubungan yang akrab dengan manusia. Karena itu, Kejadian 4:26 tidak dikatakan manusia mulai menyeru nama Allah, melainkan nama TUHAN (Yehova). Manusia tidak menyeru kepada Sang Pencipta segala sesuatu, melainkan menyeru kepada Dia yang sangat dekat, sangat akrab dengan mereka. Nama Yehova berarti “Aku adalah Aku ada” (Kej. 4:26, cf. Kel. 3:14); yaitu Dia adalah Yang ada dari kekal sampai kekal. Dia adalah Yang ada pada waktu lampau, Yang ada pada waktu kini, dan Yang ada pada waktu yang akan datang. Dia adalah Sang kekal. Ketika manusia nampak bahwa diri mereka rapuh dan fana, mereka mulai menyeru Yehova, Sang kekal itu. Inilah menyeru nama Tuhan. Seruan ini sudah dimulai sejak ge-nerasi ketiga umat manusia.
Ketika kita tidak memperhatikan Allah, kita tidak akan menyeru nama-Nya. Namun, ketika kita mengenal bahwa kita harus hidup bagi-Nya dan beribadah kepada-Nya sesuai dengan cara-Nya, dan ketika kita mengenal bahwa diri kita sangat lemah dan fana, hidup kita tidak ada yang lain kecuali kesia-siaan, dengan sendirinya kita akan berdoa dan menyeru nama Tuhan dari lubuk batin kita. Karena itu, kita harus memperhatikan benih yang sangat penting ini, yaitu menyeru nama Tuhan. Ini merupakan hal yang sangat penting, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
(a) Definisi Menyeru Nama Tuhan
Terlebih dulu kita perlu mengetahui makna menyeru nama Tuhan. Beberapa orang Kristen berpendapat bahwa menyeru nama Tuhan sama dengan berdoa kepada-Nya. Dulu, saya juga menganggap demikian. Namun, pada suatu hari, Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa menyeru nama Tuhan berbeda dengan berdoa. Tidak salah, menyeru merupakan salah satu cara dari berdoa, karena ini adalah bagian dari doa kita; tetapi menyeru bukan hanya berdoa. Menurut bahasa Ibrani menyeru berarti “berseru nyaring kepada”, “berteriak kepada”, inilah maksud menyeru di sini. Arti dalam bahwa Yunani ialah “memohon kepada seseorang”, “memanggil nama seseorang”. Dengan perkataan lain, dengan suara yang dapat didengar memanggil nama se-seorang. Berdoa ada kalanya boleh tidak bersuara, tetapi berseru harus kedengaran suaranya.
Menyeru nama Tuhan juga berarti berteriak kepada-Nya, juga mengalami pernafasan rohani. “Ya TUHAN, aku memanggil (menyeru) nama-Mu dari dasar lubang yang dalam, Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku!” (Rat. 3:55-56). Ayat-ayat ini menyatakan bahwa berseru itulah berteriak sambil bernafas. Berteriak adalah pernafasan yang paling baik. Ada orang memberi tahu saya bahwa menangis merupakan olahraga yang paling baik untuk bayi. Bila Anda berteriak, dengan sendirinya Anda menarik nafas dalam-dalam. Melalui berteriak dan bernafas, kita menghembus dan menghirup. Menghirup selalu diikuti dengan menghembus. Melalui menghembus, kita menghembuskan segala hal yang negatif; setiap kali kita menghembuskan hal-hal yang negatif, hal-hal yang positif dari Tuhan akan meme-nuhi Anda. Mengenai temperamen, misalnya. Ketika Anda hampir marah-marah, jangan Anda mencoba untuk menekannya, tetapi serulah, “O, Tuhan Yesus!” Kemudian tam-bahi doa yang singkat, “Tuhan Yesus, aku mau marah-marah!” Cobalah berlaku demikian dan buktikan apakah Anda masih bisa marah-marah. Dengan menyeru nama Tuhan, Anda akan menghembuskan marah-marah Anda dan bersamaan dengan itu Anda menghirup Tuhan Yesus. Inginkah Anda menjadi kudus? Jalan untuk menjadi kudus adalah menyeru nama Tuhan Yesus. Melalui menyeru nama-Nya, semua dosa, perkara yang jahat dan kotor, akan ter-hembus keluar; dan semua perkara yang positif — kelim-pahan Tuhan, akan terhirup ke dalam Anda.
A.B. Simpson menulis sebuah nyanyian tentang menghirup Tuhan. Baiklah kita baca beberapa bait (Kidung No. 210):
Padaku, hembuslah Roh-Mu, ajarku menghirup-Mu;
Ke pangkuan-Mu ku acu, dosaku dan diriku.
Kuhembuskan dukacita, dosa, nistaku;
Kuhirup dan hirup saja, genap limpah-Mu.
Kuhembus kehidupanku, baru aku terpenuh;
Lepas lemah dan kuatku, hirup rahmat, karunia-Mu.
Kuhembus rantai dosaku, Kau sapu s’mua buatku;
Hirup kelimpahan kudus, tahulah Kau Sang Hayat.
Pada tahun 1963 saya memperkenalkan nyanyian ini kepada umat saleh di Amerika. Pada suatu hari, setelah kita menyanyikan nyanyian ini, seorang saudara terkasih datang kepada saya dan berkata, “Aku tidak memahami nyanyian ini; hirup, hirup, hirup — menghirup apa?” Ia merasa bingung. Namun, selang beberapa tahun kemudian, setelah kita menerbitkan Kidung kita, saudara itu berkata kepada saya, “Saudara, salah satu nyanyian dalam buku Kidung yang paling saya sukai adalah “menghirup Tuhan” itu.
Bagaimana kita menghirup Tuhan? Yaitu melalui membuka diri kita kepada Tuhan serta menyeru nama-Nya. Kita perlu berseru kepada-Nya, bahkan menjerit kepada-Nya; karena seperti yang dikatakan oleh Yeremia, menyeru nama Tuhan adalah menjerit kepada-Nya. Ia berbuat demi-kian dari dalam penjara di bawah tanah. Ketika kita merasa lembam, itu bagaikan turun ke dalam penjara di bawah ta-nah; saat demikian, kita harus menyeru nama Tuhan de-ngan menjerit kepada-Nya, sehingga kita terlepas dari kurungan itu, dan lebih banyak menerima Tuhan ke dalam kita.
Yesaya juga memberi tahu kita bahwa menyeru nama Tuhan adalah berseru nyaring kepada-Nya. “Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia te-lah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata, ‘Bersyukurlah kepada TUHAN, seru-lah (Tl.) nama-Nya, . . . Bermazmurlah bagi TUHAN . . . Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu’” (Yes. 12:2-6). Dalam ayat-ayat ini Yesaya memberi tahu kita agar menyanyi, memuji, berseru, dan bersorak-sorai. Semua perpaduan kata-kata untuk “berseru” disebutkan di dalam ayat 4. Dalam ayat 2 ia berkata, Allah itulah keselamatanku dan kekuatanku. Allah itu segala sesuatu kita. Kita hanya perlu menimba air dari mata air keselamatan Allah. Dengan cara apa kita bisa dengan girang menimba air dari mata air keselamatan? Caranya ialah menyeru nama-Nya, bersyukur kepada Tuhan, bermazmur, dan berseru serta bersorak-sorai. Dalam ayat 4, bersyukur dan menyeru ditaruh bersama-sama, dan dalam ayat 6 berseru dan bersorak-sorai ditaruh bersama-sama. Ini membuktikan bahwa menyeru nama Tuhan berarti berseru dan bersorak-sorai kepada Tuhan. Banyak orang Kristen tidak pernah berseru. Jika Anda tidak pernah berseru di depan Allah, saya ragu apakah Anda pernah menikmati Tuhan secara limpah. Cobalah menyeru di hadapan Allah. Kalau Anda tidak pernah menyeru pada apa adanya Allah terhadap Anda, marilah saya mengajak Anda mencobanya. Semakin Anda berseru, “O, Tuhan Yesus, Engkau sangat baik terhadapku!” Anda akan semakin ter-lepas dari diri Anda sendiri, Anda akan semakin diisi oleh Tuhan. Anda akan berada di langit tingkat ketiga. Demikianlah, bahkan dalam Perjanjian Lama, Yesaya sudah memberi tahu orang untuk bersyukur kepada Tuhan, menye-ru nama-Nya, dan bersorak-sorai kepada-Nya.
Baiklah saya akan membagikan-nikmat (sharing) sedikit atas kesaksian saya sendiri tentang menyeru nama Tuhan. Saya dibesarkan di gereja Baptis Selatan. Setelah saya diselamatkan, saya menuntut firman Tuhan. Beberapa tahun saya tinggal di dalam perhimpunan Kaum Saudara (The Brethren) dengan disiplin yang amat ketat. Penampilan mereka selalu diam tenang. Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa seandainya ada sebatang jarum terjatuh di atas lantai tempat perhimpunan mereka, akan kedengaran juga! Dalam suasana demikianlah kami dilatih. Saya duduk di depan kaki guru-guru Brethren itu, sambil mendengarkan ajaran-ajaran mereka. Saya berterima kasih kepada Tuhan atas hal itu. Meskipun saya mengasihi Tuhan dan firman-Nya, saya tidak mendapatkan bantuan hayat yang tepat. Satu-satunya bantuan yang saya dapatkan hanyalah mengerti huruf hitam di atas putih dari Kitab Suci.
Pada suatu hari, di bulan Agustus 1931, ketika saya sedang berjalan di suatu jalan, Roh Kudus berbicara di dalam saya, “Perhatikanlah dirimu. Kamu telah memperoleh begitu banyak pengetahuan. Kamu mengenal nubuat-nubuat dan lambang-lambang, tetapi lihatlah, betapa matinya diri-mu!” Segera di lubuk batin saya terasa suatu kehausan dan kelaparan, seperti ada suatu benda yang akan meledak. Tetapi karena latar belakang agama saya, saya tidak mau berteriak di pinggir jalan. Saya menahan diri; saya sangat menderita sepanjang sore, senja, dan sampai malam hari itu. Saya menunggu fajar datang agar dapat melepaskan diri saya di hadapan Tuhan. Rumah saya terletak di kaki sebuah bukit kecil. Ketika fajar menyingsing, saya segera berlari ke puncak bukit itu untuk mencurahkan segala yang ada di dalam hati saya. Saya tidak berniat untuk berseru, tetapi ada sesuatu yang meledak keluar dari dalam yang berseru, “O, Tuhan Yesus!” Dengan spontan saya menyeru nama Tuhan. Tidak ada seorang pun yang mengajari saya untuk menyeru nama Tuhan, saya juga tidak pernah menemukan apa pun mengenai hal ini di dalam Alkitab. Saya melakukan hal ini dengan spontan saja. Meskipun saya tidak mempunyai istilah-istilah “menikmati Tuhan” dan “membebaskan roh”, saya mempunyai realitas kedua hal ini. Saya sungguh-sungguh telah melatih dan membebaskan roh saya, dan saya sungguh-sungguh telah menikmati Tuhan. Hampir setiap pagi setelah peristiwa itu, saya pergi ke puncak bukit dan setiap kali menyeru nama Tuhan. Melalui menyeru nama Tuhan, saya dipenuhi Tuhan. Setiap pagi ketika saya turun dari puncak bukit itu, saya penuh sukacita. Saya merasa berada di surga dan seluruh bumi dengan segala isinya berada di bawah kaki saya.
Namun, karena latar belakang saya, saya tidak pernah membawa perkara ini ke dalam pengajaran. Saya tidak mengajar orang lain untuk mempraktekkan hal ini. Dua belas tahun kemudian, pada tahun 1943, saya dijebloskan ke dalam penjara oleh tentara penjajah Jepang di China. Pada suatu hari, mereka menyiksa dan mencambuki saya. Saya tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan spontan saya berseru, “O, Tuhan Yesus!” Segera mereka berhenti mencambuk saya. Akan tetapi, bagaimanapun, karena latar belakang agama saya, saya masih belum membawa hal ini ke dalam praktek sehari-hari. Saya tidak sadar bahwa kita boleh mempraktekkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari kita.
Dua puluh empat tahun kemudian, pada tahun 1967, hal menyeru nama Tuhan muncul di Los Angeles. Saat itu saya merasa perlu mengkaji firman Allah untuk mengkonfirmasi hal ini. Saya menggunakan banyak waktu untuk memeriksa firman yang menyangkut hal menyeru nama Tuhan ini. Dan saya menemukan bahwa hal menyeru nama Tuhan ini telah dipraktekkan oleh orang-orang kudus zaman kuno, telah dimulai beberapa ribu tahun yang lampau. Melalui kon-kordansi Alkitab saya menemukan banyak sekali ayat ten-tang menyeru nama Tuhan, dan saya memperhatikan ber-bagai aspek tentang menyeru nama Tuhan. Waktu itulah saya mendapatkan penegasan dan penguatan, tidak hanya diri sendiri melatih menyeru nama Tuhan, juga mengajar orang lain, membantu orang lain menyeru nama Tuhan. Sejak tahun 1967, menyeru nama Tuhan telah menjadi salah satu butir dalam pemulihan Tuhan. Kita menemukan bahwa menyeru nama Tuhan merupakan cara yang paling baik untuk menjamah Tuhan. Pada tahun itu juga, saya mengunjungi Timur Jauh dan membawa perkara ini kepada kaum saleh di sana. Saya dapat bersaksi, beribu-ribu orang saleh mendapatkan kebebasan dan kelimpahan melalui menyeru nama Tuhan.
(b) Sejarah Menyeru Nama Tuhan
Jangan Anda menyangka hal menyeru nama Tuhan ini diciptakan oleh kita. Ini bukan ciptaan baru. Paling jauh dapat disebut penemuan baru atau satu bagian dari pemulihan Tuhan. Menyeru nama Tuhan, seperti yang telah kita ketahui, dimulai dari generasi ketiga umat manusia, yakni Enos, anak Set. Hawa menamai anaknya yang kedua Habel, yang berarti sia-sia. Kemudian Set, adik Habel, menamai anaknya Enos, menunjukkan Set menyadari bahwa hidup manusia memang lemah, rapuh, dan fana. Dengan menyebut anaknya Enos, Set mungkin memberi tahu anaknya bahwa dia itu lemah dan rapuh. Karena Enos mengenal kerapuhan hidup manusia, maka ia menyeru nama Tuhan Sang kekal. Karena itu, ketika kita mengenal bahwa kita tidak mem-punyai apa pun, selain kelemahan dan kerapuhan, apa yang akan kita perbuat? Kita perlu dengan sederhana berseru, “O, Tuhan Yesus!”
Sejarah menyeru nama Tuhan berlangsung terus dalam seluruh Alkitab; kita bisa menulis daftar nama orang-orang yang menyeru nama Tuhan: Abraham (Kej. 12:8), Ishak (Kej. 26:25), Musa (Ul. 4:7), Ayub (Ayb. 12:4), Yabes (1 Taw. 4:10), Simson (Hak. 16:28), Samuel (1 Sam. 12:18), Daud (2 Sam. 22:4), Yunus (Yun. 2:2), Elia (1 Raj. 18:24), Elisa (2 Raj. 5:11), Yeremia (Rat. 3:55). Orang-orang kudus Perjanjian Lama tidak hanya menyeru nama Tuhan, mereka juga me-nubuatkan bahwa orang-orang akan menyeru nama-Nya (Yl. 2:32; Zef. 3:9; Za. 13:9). Meskipun banyak orang yang sangat mengenal nubuat Yoel mengenai Roh Kudus, namun tidak banyak di antara mereka yang menaruh perhatian terhadap fakta bahwa untuk menerima pencurahan Roh Kudus, mereka perlu menyeru nama Tuhan. Di satu pihak, Yoel menubuatkan bahwa Allah akan mencurahkan Roh-Nya; di lain pihak, ia menubuatkan bahwa orang-orang akan menyeru nama Tuhan. Pencurahan Allah perlu kerja sama kita yang berseru kepada-Nya. Nubuat Yoel tergenap pada hari Pentakosta.
Menyeru nama Tuhan juga dipraktekkan oleh kaum saleh dalam Perjanjian Baru. Yang dimulai pada hari Pentakosta (Kis. 2:21). Pada hari Pentakosta, Allah mencurahkan Roh-Nya dan kaum saleh pada zaman itu menerima Roh ini melalui menyeru nama Tuhan. Seruan mereka merupakan jawaban terhadap pencurahan Roh Allah. Stefanus juga menyeru nama Tuhan. Ketika ia dirajam sampai mati, ia menyeru nama Tuhan (Kis. 7:59). Ia mati dengan menyeru nama Tuhan. Jika Tuhan lebih lambat datang kembali, saya harap kita bisa mati dengan menyeru nama-Nya.
Semua orang beriman dalam Perjanjian Baru memprak-tekkan hal menyeru nama Tuhan (Kis. 9:14; 22:16; 1 Kor. 1:2; 2 Tim. 2:22). Ketika Paulus masih sebagai Saulus dari Tarsus, ia menerima kuasa dari Imam Besar untuk menang-kapi semua orang yang menyeru nama Tuhan (Kis. 9:14). Ini menunjukkan bahwa semua orang kudus zaman itu adalah kaum penyeru Tuhan. Hal menyeru nama Tuhan telah menjadi tanda atau ciri-ciri mereka sebagai orang Kristen. Maka, Saulus dari Tarsus merasa mudah sekali mengenali orang-orang Kristen di Damsyik, karena mereka menyeru nama Tuhan. Mereka tidak hanya berdoa kepada Tuhan, juga berseru kepada-Nya. Banyak orang Kristen sejati yang berdoa kepada Tuhan setiap hari, namun para tetangganya, sanak familinya, atau bahkan teman sekelasnya, tidak ada yang tahu bahwa mereka itu orang Kristen. Kita boleh menyebut orang-orang yang demikian sebagai orang Kristen yang “diam”. Tetapi, jika mereka menjadi orang Kristen yang menyeru nama Tuhan, seruan mereka itu merupakan pertanda bahwa mereka adalah orang Kristen. Inilah situasi orang-orang Kristen sebermula.
Tahukah Anda, apa yang terjadi pada diri Saulus ketika ia berada dalam perjalanan menuju Damsyik dengan niat akan menangkapi semua orang yang menyeru nama Tuhan? Ia sendiri yang justru ditangkap oleh Tuhan, dan matanya mengalami kebutaan. Kemudian Tuhan mengutus seorang murid kecil yang bernama Ananias untuk mengunjungi Saulus dan menyampaikan firman Tuhan kepadanya. De-ngarlah apa yang diucapkan Ananias, “Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu di-baptis dan dosa-dosamu disucikan (dibasuh) dengan berseru kepada nama Tuhan!” (Kis. 22:16). Menurut tata bahasanya, kata “berseru” di sini menerangkan kata kerja “disucikan” (dibasuh). Dosa apa yang dilakukan Saulus sehingga dia perlu dibasuh? Dosa menangkapi orang-orang yang menyeru nama Yesus. Dia melakukan hal itu di Yerusalem dan berniat melakukannya lagi di Damsyik. Semua orang Kristen tahu bahwa dia adalah penjahat semacam ini. Dalam pandangan mereka, Saulus telah melakukan dosa menganiaya kaum saleh dan menangkapi orang-orang yang menyeru nama Tuhan. Jadi, jalan yang terbaik bagi Paulus untuk membasuh dosanya ialah menyeru nama Tuhan. Dengan berbuat demikian, akan menjelaskan kepada semua orang Kristen bahwa dia telah sungguh-sungguh bertobat. Dia, yang pernah menangkapi penyeru-penyeru nama Tuhan, sekarang juga menyeru nama Tuhan.
Beberapa orang Kristen salah menafsirkan Kisah Para Rasul 22:16, mengira bahwa “dosa-dosa dibasuh” menerang-kan “dibaptis”. Namun menurut tata bahasanya, bukan ini maksudnya. Ada dua hal yang disebut dalam ayat ini — “dibaptis” dan “dosa-dosamu disucikan”. Di antara kedua hal ini ada kata penghubung “dan”. Jadi, dibaptis adalah satu hal, dan dosa-dosa dibasuh adalah hal yang lain. Kata “bangunlah” menerangkan “dibaptis”, dan kata “berseru” menerangkan “dibasuh”. Saulus dari Tarsus, yang meng-aniaya demikian banyak orang yang menyeru nama Tuhan, telah ditangkap oleh Tuhan. Kemudian Ananias, yang diutus Tuhan, memberi tahu Saulus agar dibaptis dan dosa-dosanya dibasuh dengan berseru kepada nama Tuhan. Jika Saulus hanya dibaptis, banyak orang Kristen akan meragukan apakah ia benar-benar telah bertobat. Mereka pasti berkata, “Ananias, engkau tidak seharusnya membaptis orang beriman yang bungkam.” Namun, ketika Ananias akan membaptis Saulus, ia seolah-olah berkata kepadanya, “Saudara Saulus, dosa-dosamu dibasuh dengan menyeru nama Tuhan Yesus. Saudara, engkau telah menangkapi sekian banyak orang yang menyeru nama Yesus. Sekarang, jalan yang ter-baik bagimu untuk mencuci dosa-dosamu di mata mereka ialah menyeru ‘Oh Tuhan Yesus.’” Begitu Saulus menyeru nama Tuhan, maka semua orang Kristen akan nampak bahwa si penganiaya ini telah menjadi seorang saudara di antara mereka. Penyeruannya kepada Tuhan membuktikan dia telah bertobat.
Ketika Paulus menulis Surat Roma, dia juga menekankan hal menyeru nama Tuhan. Katanya, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang dan murah hati kepada (kaya bagi) semua orang yang ber-seru kepada-Nya. Sebab, ‘siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.’” (Rm. 10:12-13). Dalam Roma 10:12, Paulus mengatakan Tuhan kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Dalam ayat 13, ia mengutip nubuat nabi Yoel yang berbunyi, siapa saja yang berseru ke-pada nama Tuhan, diselamatkan. Paulus juga menyinggung tentang menyeru nama Tuhan di dalam 1 Korintus, ia menuliskan: “Dengan semua orang di segala tempat, yang ber-seru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita” (1 Kor. 1:2). Selanjutnya dalam 2 Timotius, ia memberi tahu Timotius agar mengejar hal-hal rohani bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Melalui ayat-ayat ini kita nampak bahwa di abad pertama, orang-orang Kristen banyak mempraktekkan hal menyeru nama Tuhan. Dalam seluruh Perjanjian Lama dan masa sebermula orang Kristen, mereka semua menyeru nama Tuhan. Sangat disayangkan, hal ini telah diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen dalam jangka waktu yang sangat lama. Saya yakin, hari ini Tuhan ingin memulihkan hal ini, dan menginginkan kita mempraktekkannya, agar kita bisa menikmati kelimpahan hayatnya.
(c) Tujuan Menyeru Nama Tuhan
1) Diselamatkan
Mengapa kita perlu menyeru nama Tuhan? Setiap orang perlu menyeru nama Tuhan agar dapat diselamatkan (Rm. 10:13). Misalnya, ada seseorang mendengarkan Injil dan percaya kepada Tuhan. Anda bisa membimbingnya beroleh selamat dengan mengajaknya berdoa dengan tenang; saya menemukan banyak orang yang diselamatkan secara demikian. Namun bila Anda selain membantunya berdoa, juga membantunya menyeru nama Tuhan, niscaya pengalaman-nya terhadap keselamatan akan lebih kuat. Cara yang per-tama, yaitu berdoa dengan tenang, bisa membantu orang beroleh selamat, tetapi kurang limpah. Cara yang kedua, yakni berseru dengan lantang, membantu orang beroleh selamat lebih limpah dan lebih tegas. Jadi, kita perlu mendorong orang untuk membuka dirinya, menyeru nama Tuhan Yesus.
2) Dilepaskan dari Kesesakan,
Kesulitan, Kesusahan, dan Kesakitan
Hal-hal lain mengenai perlunya menyeru nama Tuhan yaitu dilepaskan dari kesesakan, kesusahan, penderitaan, dan penyakit (Mzm. 18:7; 50:15; 81:8; 86:7; 116:3-4; 118:5). Ada orang yang tidak setuju dengan menyeru nama Tuhan, namun ketika mereka menghadapi kesulitan atau penyakit tertentu, mereka ternyata juga menyeru nama Tuhan. Ketika hidup Anda tidak ada masalah, Anda bisa saja tidak menyetujui hal menyeru nama Tuhan. Tetapi di dalam kesesakan dan kesulitan, tanpa perlu diajar menyeru nama Tuhan, dengan spontan Anda akan menyeru nama Tuhan. Menyeru nama Tuhan menyelamatkan kita dan membe-baskan kita. Ketika di dalam kesesakan dan kesusahan, kita perlu menyeru nama Tuhan. Selanjutnya, Mazmur 116:3-4 memberi tahu kita, bahwa menyeru nama Tuhan melepaskan kita dari hal-hal negatif seperti penyakit, penderitaan, kematian, dan neraka. Jika Anda ingin terlepas dari hal-hal seperti itu, Anda perlu menyeru nama Tuhan.
3) Berbagian dalam Belas Kasihan Tuhan
Mazmur 86:5 mengatakan bahwa Tuhan itu baik, suka mengampuni dan berlimpah kasih setia (belas kasihan) bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Jalan bagi kita untuk berbagian dalam belas kasihan Tuhan yang berlimpah ialah menyeru kepada Dia. Semakin kita menyeru kepada-Nya, semakin banyak kita menikmati belas kasihan-Nya.
4) Berbagian dalam Keselamatan Tuhan
Mazmur 116:13 juga memberi tahu kita tentang berbagian dalam keselamatan Tuhan melalui menyeru Dia. “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN.” Dalam mazmur pasal ini, hal menyeru nama Tuhan disebutkan sampai empat kali (ayat 2, 4, 13, 17). Seruan di sini adalah untuk berbagian dalam keselamatan Tuhan. Seperti yang telah kita ketahui, jalan untuk menimba air dari mata air keselamatan adalah menyeru nama Tuhan (Yes. 12:2-4).
5) Menerima Roh Kudus
Alasan lain dari menyeru nama Tuhan adalah supaya menerima Roh Kudus (Kis. 2:17-21). Cara yang paling baik dan paling mudah untuk dipenuhi oleh Roh Kudus ialah menyeru nama Tuhan Yesus. Roh Kudus sudah dicurahkan. Kita hanya perlu menerima-Nya dengan berseru kepada Tuhan. Kita dapat melakukannya setiap saat. Jika Anda se-nantiasa menyeru nama Tuhan, Anda akan dipenuhi Roh Kudus.
6) Minum Air Rohani dan Makan Makanan Rohani untuk Kepuasan
Yesaya 55:1 mengatakan, “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” Bagaimana caranya makan dan minum Tuhan? Yesaya memberikan caranya kepada kita dalam ayat 6 pasal yang sama: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat.” Jadi, cara minum air rohani dan makan makanan rohani untuk kepuasan kita adalah mencari Tuhan dan menyeru nama-Nya.
7) Menikmati Kekayaan Kristus
Roma 10:12 mengatakan, “Tuhan kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya” (Tl). Tuhan itu kaya limpah; Ia kaya terhadap orang yang berseru kepada-Nya. Cara untuk menikmati kekayaan Tuhan adalah berseru kepada-Nya. Tuhan tidak saja kaya, tetapi seperti yang disebutkan dalam ayat 8 pasal yang sama, Ia juga dekat dan tersedia, sebab Ia adalah Roh pemberi-hayat. Sebagai Roh, Ia hadir di mana-mana. Di mana saja dan kapan saja kita bisa menyeru nama-Nya. Ketika kita berseru kepada-Nya, Ia datang kepada kita sebagai Roh, sehingga kita menikmati kekayaan-Nya. Ketika Anda menyeru Yesus, Roh itu pasti datang.
1 Korintus adalah sebuah kitab yang menikmati Kristus. Dalam pasal 12, Paulus memberi tahu kita bagaimana menikmati Dia. Cara menikmati Tuhan adalah menyeru nama-Nya (12:3; 1:2). Kapan saja kita berseru “O, Tuhan Yesus!”, kita segera minum Dia, Sang Roh pemberi-hayat (1 Kor. 12:13). Dalam 1 Korintus 15:45 memberi tahu kita bahwa kini Tuhan adalah Roh pemberi-hayat. Kapan kita berseru, “O, Tuhan Yesus!” Ia pun datang sebagai Roh. Jika saya memanggil nama seseorang, dan jika ia itu riil, hidup, dan hadir di sini, ia pasti akan datang kepada saya. Tuhan Yesus itu riil, hidup, dan hadir. Ia selalu sedia. Kapan saja kita menyeru-Nya, Ia segera datang. Bahkan dalam Perjan-jian Lama, Musa beberapa kali menyebut Tuhan, “Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai Allah yang demi-kian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil (berseru) kepada-Nya?” (Ul. 4:7). Begitu kita menyeru Dia, Ia itu dekat (Mzm. 145:18). Inginkah Anda menikmati hadir Tuhan beserta segala kekayaan-Nya? Cara yang paling baik untuk mengalami hadir-Nya berikut segala kekayaan-Nya adalah menyeru nama-Nya. Serulah Dia baik ketika Anda berkendaraan di jalan maupun Anda sedang bekerja. Di mana dan kapan saja Anda menyeru, Tuhan itu dekat dan kaya bagi Anda.
8) Membangkitkan Diri Kita
Melalui menyeru nama Tuhan, kita dapat membang-kitkan diri kita. Yesaya 64:7 mengatakan, “Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu!” Ketika kita merasa tenggelam dan merosot, kita dapat dibangkitkan kembali melalui menyeru nama Tuhan Yesus.
(d) Bagaimana Menyeru Nama Tuhan
Sekarang kita perlu melihat bagaimana kita menyeru nama Tuhan. Pertama, kita wajib menyeru-Nya dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Hati kita adalah sumber, harus murni, tidak menuntut yang lain kecuali Tuhan. Kedua, kita harus menyeru dengan bibir yang bersih (Zef. 3:9). Kita ha-rus memperhatikan tutur kata kita, karena obrolan paling mudah mengotori bibir kita. Jika bibir kita menjadi kotor karena perkataan obrolan, kita akan sulit menyeru nama Tuhan. Selain dengan hati yang murni dan bibir yang bersih, kita perlu mempunyai mulut yang terbuka (Mzm. 81:11, cf. ayat 8). Kita perlu membuka mulut kita lebar-lebar untuk menyeru nama Tuhan. Selain itu, kita masih perlu menyeru nama Tuhan secara korporat. 2 Timotius 2:22 menga-takan, “Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah ke-adilan, kesetiaan, kasih, dan damai sejahtera bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Kita perlu berhimpun bersama-sama untuk menyeru nama Tuhan. Mazmur 88:10 mengatakan, “Aku telah ber-seru kepada-Mu, ya Tuhan, sepanjang hari.” Maka, kita ha-rus menyeru nama-Nya setiap hari. Hal menyeru nama Tuhan bukanlah doktrin, melainkan sangat riil. Kita perlu melaksanakan hal ini setiap hari dan setiap saat. Kita mutlak tidak bisa berhenti bernafas. Kita semua tahu, apa yang akan terjadi jika kita berhenti bernafas. Selain itu, Mazmur 116:2 mengatakan, “Maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” Seumur hidup kita, kita harus menyeru nama Tuhan. Saya harap lebih banyak umat Allah, khususnya yang baru percaya, mulai melatih menyeru nama Tuhan. Jika Anda melaksanakannya, Anda akan tahu bahwa menyeru nama Tuhan merupakan cara yang paling baik untuk menikmati kekayaan Tuhan.
Sejak hal menyeru nama Tuhan menjadi salah satu butir dalam pemulihan Tuhan, ada orang bertanya kepada saya, “Bukankah Tuhan ada di dalam kita? Mengapa Anda masih mengatakan bahwa Tuhan dekat jika kita berseru?” Saya juga mempunyai satu pertanyaan kepada orang-orang yang berpendapat bahwa kita tidak perlu menyeru nama Tuhan karena Ia sudah ada di dalam kita. “Bukankah di da-lam Anda sudah ada udara? Kalau udara sudah ada di dalam Anda, mengapa Anda masih perlu bernafas?” Secara logika, pertanyaan ini sama dengan hal perlunya menyeru nama Tuhan, sekalipun Ia sudah ada di dalam kita. Tuhan sudah ada di dalam kita, karena itu kita tidak perlu menyeru nama-Nya; kata-kata ini kelihatannya sangat logis, namun ini tidak riil. Dalam hal bernafas, tidak ada seorang pun yang akan tidak bernafas karena di dalam dirinya telah ada udara. Kita harus tetap bernafas untuk tetap hidup. Demikian juga, meskipun Tuhan ada di dalam kita, kita tetap perlu menyeru Dia, lebih banyak menghirup Dia.
Ada orang bertanya, “Mengapa kalian menyeru begitu nyaring? Apakah Allah kita tuli? Tidak dapatkah Ia men-dengar doa kita yang tanpa suara?” Mereka mendebat bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tuli, maka tidak perlu menyeru dan berdoa dengan suara keras. Namun, lihatlah Ibrani 5:7, bagaimana Tuhan berdoa: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Perkataan “ratap tangis” dalam ayat ini pasti bukanlah suatu doa yang tidak bersuara. Jika Anda menyalahkan orang-orang yang menyeru nama Tuhan dengan suara keras, Anda perlu bertanya juga kepada Tuhan Yesus, mengapa Dia berdoa dengan ratap tangis. Bukankah Allah Bapa itu tidak tuli, mengapa Tuhan berdoa begitu rupa? Selain itu, dalam Injil Yohanes, sekurang-kurangnya dua kali Tuhan Yesus berkata bahwa Ia tidak sendirian, Bapa menyertai Dia (Yoh. 16:32; 8:29). Jika Bapa senantiasa beserta Dia, mengapa Dia perlu berdoa ke-pada Bapa dengan ratap tangis?
Ada lagi, berulang kali Mazmur memberi tahu kita agar bersorak-sorai bagi Tuhan (66:1; 81:2; 95:1-2; 98:4, 6; 100:1). Perhatikan, di sini tidak dikatakan suara kegirangan, melainkan girang dengan sorak-sorai yang riuh-rendah. Kita semua tahu perbedaan antara suara dan riuh rendah. Kita perlu bersorak-sorai bagi Tuhan, karena Tuhan senang men-dengar suara seperti itu.
Bagaimanapun, persoalan yang sesungguhnya bukan apakah Allah mendengarkan kita atau tidak, melainkan kita perlu melatih roh kita, meleluasakan apa yang ada di dalam roh dan hati kita, sehingga Tuhan, Sang Roh pemberi-hayat itu, bisa masuk ke dalam kita. Hal ini bukan masalah didengarkan, melainkan masalah menikmati Tuhan dan ber-partisipasi dalam segala kekayaan-Nya. Beban dan maksud saya dalam berita ini ialah menjelaskan hal yang berkaitan dengan menyeru nama Tuhan dalam Alkitab. Jika Anda memperhatikan apa yang dikatakan oleh Alkitab tentang menyeru nama Tuhan, Anda akan percaya bahwa menyeru nama Tuhan bukanlah suatu penemuan baru, melainkan satu pemulihan atas perkara ilahi dalam Alkitab. Seperti yang telah kita ketahui dari Kejadian 4:26, menyeru nama Tuhan telah dimulai sejak generasi ketiga umat manusia.