JALAN MENGHINDARI AKIBAT TERAKHIR DARI KEJATUHAN UMAT MANUSIA
Dalam berita ini kita akan melihat Kejadian 5. Banyak pembaca Alkitab merasa pasal ini sangat kering sehingga melewatinya begitu saja dalam pembacaan mereka, atau paling jauh hanya memperhatikan dua belas ayat yang terakhir. Namun kita harus tahu, Kejadian 5 merupakan satu bagian yang paling penting dalam Firman Kudus. Walaupun pasal ini menyebutkan banyak nama orang dan usianya, tetapi pasal ini bukanlah laporan sejarah. Seluruh Alkitab adalah kitab hayat, termasuk pasal ini yang mencakup banyak nama orang beserta usianya, justru menyatakan kepada kita jalan hayat.
Sebagaimana telah kita lihat dalam berita yang lalu, pada akhir Kejadian 4 terdapat suatu hal yang ajaib, yaitu menyeru nama Tuhan (Kej. 4:26). Kejadian 5 membicarakan tentang hidup bergaul dengan Allah (Kej. 5:22). Menyeru nama Tuhan adalah satu hal, hidup bergaul dengan Allah adalah hal lain lagi. Kita semua harus menyeru nama Tuhan dan selanjutnya hidup bergaul dengan Allah. Kita tidak seharusnya mengikuti zaman, tetapi mengikuti Allah. Bergaul dengan Allah harus mengikuti penyeruan kita terhadap Tuhan. Jadi, kita harus maju dari Kejadian 4 ke Kejadian 5. Marilah kita sekarang melihat isi dari pasal ini.
3. Akibat Terakhir Kejatuhan Manusia dan Jalan Menghindarinya
a. Silsilah Orang yang Beroleh Selamat
Terlebih dulu Kejadian 5 memberi tahu kita asal usul manusia. Dari mana asal-usul manusia? Jawabannya ter-dapat pada dua ayat pertama dari pasal ini. Kedua ayat ini sangat penting lagi ajaib: “Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘Adam’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan” (Tl.). Menurut ayat ini, asal-usul manusia bukan melulu Allah, tetapi juga gambar dan rupa Allah. Gambar Allah adalah asal-usul Adam yang sesungguhnya, karena Adam diciptakan menurut gambar Allah. Jadi, asal-usul kita bukanlah bangsa atau warga negara tertentu, melainkan Allah dan gambar-Nya. Kita semua telah diciptakan Allah menurut gambar-Nya. Tidak masalah apakah kita laki-laki atau perempuan, karena baik laki-laki maupun perempuan, suami atau istri, semuanya disebut Adam. Allah telah menetapkan ini sebagai prinsip yang kudus dan prinsip ini masih berlaku sampai hari ini. Sebagai contoh, Tuan dan Nyonya Taylor, kedua-duanya menggunakan nama Taylor yang sama. Tuan Taylor adalah Taylor suami, sedangkan nyonya Taylor ada-lah Taylor istri. Mereka berdua, suami dan istri, adalah Taylor. Demikian juga Adam dan Hawa, keduanya disebut Adam. Sekali Allah telah menetapkan prinsip ini, tetap takkan berubah, tidak seorang pun dapat mengubahnya.
Kejadian 5 merupakan satu pasal yang menakjubkan. Di kitab lain tidak pernah saya temui catatan yang sedemikian. Saya tidak pernah membaca di tempat lain bahwa sese-orang hidup sampai usia tertentu lalu memperanakkan seorang anak, dan kemudian setelah beberapa waktu lagi, memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan, lalu mati. Selanjutnya anaknya hidup sampai usia tertentu, memper-anakkan seorang anak, dan hidup sejangka waktu lagi, lalu memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan, lalu mati. Inilah yang dicatat dalam Kejadian 5. Sebuah catatan yang kelihatannya berulang-ulang. Kejadian 5 penuh dengan nama-nama orang yang sulit dibaca, dan usia mereka; juga istilah-istilah “hidup”, “memperanakkan”, dan “mati”. Ketiga kata ini terus diulang-ulang dalam seluruh pasal. Dan lagi, pernahkah Anda memperhatikan bahwa kata “hidup” diguna-kan dua kali pada setiap orang? Misalnya, Adam “hidup” 130 tahun lalu memperanakkan Set (Kej. 5:3), dan seluruh hari Adam “hidup” ialah 930 tahun (Kej. 5:5 Tl.). Sesudah Adam, Set “hidup” 105 tahun lalu memperanakkan Enos, dan ia masih “hidup” selama 807 tahun lagi (Kej. 5:6-7). Siklus hidup, memperanakkan, hidup, memperanakkan, dan mati, telah berulang 8 kali dalam pasal ini. Walaupun Kejadian 5 menyebutkan 10 generasi, tetapi kita harus mengurangi Henokh, dia adalah kasus yang istimewa. Lagi pula Nuh, kematiannya tidak tercantum dalam pasal ini. Maka, dalam pasal ini terdapat 8 generasi yang hidup, memperanakkan, hidup, memperanakkan, kemudian mati.
Antara Kejadian pasal 4 dan pasal 5, terdapat catatan yang sangat berbeda. Kejadian 4 memberi tahu kita ada orang-orang yang hidup tetapi tidak menberi tahu kita sampai umur berapa mereka hidup. Ditinjau dari makna tertentu, orang-orang yang namanya disebut dalam Kejadian 4, dalam pandangan Allah, tidaklah dianggap hidup. Hidup mereka itu sia-sia belaka. Kejadian 4 memberi tahu kita banyak hal yang diciptakan oleh mereka, seperti: agama, perancangan kota, pembangunan kota, pertanian, musik, dan senjata. Pasal itu juga mengisahkan hal-hal jahat yang dilakukan oleh orang-orang itu. Alangkah mengherankan bahwa Kejadian 5 sama sekali tidak memberi tahu kita tentang perbuatan dan aktivitas orang-orang yang namanya tercantum di da-lamnya. Mereka hidup begitu lama, sebagian besar lebih dari 900 tahun. Apa pekerjaan mereka? Saya telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari pasal ini, namun yang dapat saya ketahui ialah mereka itu hidup, memperanakkan, hidup, memperanakkan, kemudian mati. Selain itu, tidak ada petunjuk sedikit pun yang memberi tahu apa yang mereka perbuat. Mereka hanya hidup dan memperanakkan saja.
Manusia bukan hanya diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya, tetapi juga bagi Allah. Sebab itu, Allah meng-haruskan manusia untuk berkembang-biak. Jika manusia tidak berkembang-biak, kehendak kekal Allah tidak akan tercapai. Jika Anda bertanya kepada Adam tentang apa yang ia perbuat, mungkin ia akan menjawab, “Saudara, aku hidup bagi tujuan Allah. Aku beranak cucu agar tujuan Allah tercapai. Allah tidak memerlukan pekerjaanku, Dia memer-lukan aku beranak cucu.” Apakah beranak cucu itu? Dengan istilah Perjanjian Baru kita boleh menyebutnya berbuah. Beranak cucu itulah berbuah. Adam berbuah bagi penggenapan kehendak Allah. Dia telah berbuah banyak. Telah saya katakan bahwa istilah “hidup” digunakan dua kali pada setiap orang. Sekarang saya ingin menunjukkan bahwa kata “memperanakkan” digunakan tiga kali pada setiap orang. Misalnya, Adam hidup 130 tahun lalu “memperanakkan” Set. Setelah “memperanakkan” set, ia masih hidup selama 800 tahun lagi, lalu “memperanakkan” anak-anak lelaki dan perempuan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang pada Kejadian 5 hanyalah hidup dan memperanakkan.
Hari ini kita juga melakukan hal yang sama. Jangan berkata bahwa Anda adalah pengajar atau bekerja sebagai tukang kayu. Anda harus berkata, “Aku hidup di hadapan Allah dan memperanakkan, berbuah agar kehendak Allah tercapai.” Kita telah melihat bahwa tercapainya kehendak Allah berkaitan dengan berkembangbiaknya kita. Makin banyak anak kita lahirkan, makin berguna kita di tangan Allah. Pada Adam, hal ini merupakan masalah jasmani; pada kita, hal ini merupakan masalah rohani. Kita hidup, dan memperanakkan. Lima puluh tahun yang lalu, saya masih seorang bujangan. Sekarang, saya telah mempunyai satu keluarga besar yang terdiri dari banyak anak dan cucu. Akan tetapi, sukacita yang diberikan oleh keluarga jasma-niah saya, jauh lebih sedikit daripada sukacita yang diberi-kan oleh keluarga dalam gereja. Di dalam ministri yang ke-cil ini, saya telah hidup dan memperanakkan keluarga besar yang meliputi laksaan orang. Jika Anda bertanya kepada saya, apa yang telah saya kerjakan selama 43 tahun yang lalu, saya akan menjawab, selain hidup dan memperanakkan, saya tidak berbuat apa-apa.
Pekerjaan kita sungguh unik — yaitu hidup dan mem-peranakkan. Ketika kita berkata demikian, orang-orang dunia sama sekali tidak paham; tetapi ini sangat riil. Hal-hal yang disebut dalam Kejadian 4 adalah sia-sia, namun tidak ada kesia-siaan dalam Kejadian 5. Jika Anda membaca Kejadian 5 disertai Lukas 3, Anda akan nampak bahwa silsilah keluarga dalam Kejadian 5 akhirnya mendatangkan Tuhan Yesus. Silsilah keluarga ini dimulai dengan Allah, berakhir pada Tuhan Yesus. Hidup dan memperanakkan mendatangkan Tuhan Yesus. Jika kita menjajarkan Kejadian 5 dengan Lukas 3, niscaya terlihat bahwa orang-orang terkasih dalam Kejadian 5 tidaklah hidup dalam kekosongan. Mereka hidup dan memperanakkan dengan penuh arti serta mendatangkan Kristus.
Pencantuman silsilah dalam Kejadian 5 mengenai hidup dan beranaknya orang-orang sangatlah ajaib. Namun, dalam pasal 5 ini masih ada juga titik hitamnya, yaitu setelah mereka hidup dan memperanakkan, lalu mati. Hidup dan memperanakkan sangatlah indah, tetapi maut bukanlah hal yang menyenangkan. Kalau Anda membandingkan silsilah ini dengan silsilah dalam Matius 1, Anda akan nampak bah-wa silsilah dalam Matius 1 tidak ada kematian. Kematian bisa tinggal di dalam silsilah Adam, karena Kristus belum tiba. Sejak Kristus datang, dalam silsilah Kristus, kematian sudah dienyahkan. Kristus “yang melalui Injil telah mema-tahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2 Tim. 1:10).
b. Akibat Terakhir
dari Kejatuhan Umat Manusia — Maut
Kejadian 5 merupakan catatan tentang orang-orang beroleh selamat yang hidupnya mengharapkan Kristus datang. Namun pada zaman mereka, Kristus belum datang. Karena itu, mereka tetap takluk di bawah maut dan di dalam silsilah mereka disebutkan tentang kematian, satu hal yang negatif. Hidup dan memperanakkan itu baik; mati, tidak. Saya tidak mau mati. Delapan dari sepuluh generasi manusia yang disebut dalam Kejadian 5 mengalami ke-matian. Kematian itulah akibat terakhir dari kejatuhan manusia. Walaupun Kejadian 5 marupakan catatan yang ajaib tentang hidup dan berbuah, namun pasal ini tetap menunjukkan bahwa mereka berada di bawah akibat terakhir dari kejatuhan manusia — maut. Adakah jalan untuk menghindar dari kematian ini? Apakah jalan ini? Pasal ini mewahyukan hidup dan beranaknya orang-orang saleh pada permulaan zaman, pasal ini juga mewahyukan jalan untuk menghindar dari akibat terakhir kejatuhan manusia. Di antara 10 generasi manusia, kita menemukan ada satu generasi yang terhindar dari maut. Henokh hidup, memperanakkan, hidup bergaul dengan Allah, memperanak-kan, dan tidak mati. Allah mengangkat Henokh (Ibr. 11:5). Yang memisahkan dia dengan kematian adalah karunia keselamatan Allah yang sempurna. Ini sungguh karunia keselamatan yang sempurna. Kedelapan generasi lain mung-kin sudah menikmati 90 persen karunia keselamatan Allah. Mereka hidup dan memperanakkan untuk kehendak Allah, tetapi mereka belum terpisahkan dari akibat terakhir ke-jatuhan manusia. Hanya Henokh yang menikmati dan ber-bagian dalam karunia keselamatan Allah dengan sepe-nuhnya.
Hari ini kita juga hidup dan memperanakkan. Tetapi bagaimana terhadap maut? Maut memiliki fungsi ganda. Maut terus-menerus bekerja dan membunuh, dan setiap hari kita berada di bawah ancamannya. Secara jasmani, psikologis, dan rohani, kita berada di bawah pembunuhan maut. Inilah fungsi maut yang pertama. Jika Tuhan lambat datang, kita semua akan mengalami kematian secara jasmani. Inilah fungsi maut yang kedua. Terhadap kita, kematian tidak bisa menyatakan fungsinya yang ketiga, sebab kita tidak ada bagian dalam apa yang disebut kematian kedua (Why. 21:8). Namun, dilihat dari dua fungsi tadi, hari ini kita berada di bawah kendali maut: di satu pihak maut terus-menerus merusak kita, di luar dan di dalam kita me-lakukan pekerjaan pembunuhan; di pihak lain, kuasa maut ini bisa membawa tubuh fana kita kepada kematian yang riil.
c. Jalan Menghindari Maut
Tahukah Anda bahwa ada satu jalan untuk meng-hindari maut? Percayakah Anda akan adanya jalan ini? Jalan ini ditemukan oleh manusia generasi ketujuh. Menyeru nama Tuhan ditemukan oleh manusia generasi ketiga, empat generasi kemudian, yakni manusia generasi ketujuh, Henokh, menemukan jalan menghindari akibat dari kejatuhan manusia. Henokh memperhidupkan semacam kehidupan yang membuat dia secara riil dan sepenuhnya terhindar dari kematian. Sewaktu Henokh belum diangkat oleh Allah, yaitu ketika ia masih hidup dan berperilaku di bumi, maut sudah berhenti melakukan pembunuhannya terhadap Henokh. Henokh mengalahkan kuasa pembunuhan maut.
Henokh adalah orang pertama yang terangkat hiduphidup. Hari ini banyak orang Kristen suka membicarakan nubuat dan keterangkatan. Banyak orang mengatakan bahwa Tuhan segera tiba, kita akan terangkat ke angkasa. Di satu pihak, ini memang sesuai dengan nubuat Alkitab (1 Tes. 4:16-17). Tetapi di pihak lain, saya khawatir keba-nyakan orang Kristen hanya tahu menggunakan nubuat ini seturut pemahaman manusiawi. Jika Anda membaca Alkitab dengan teliti, ada terang ilahi, Anda akan nampak bahwa keterangkatan yang diwahyukan dalam Alkitab tidak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang Kristen umumnya. Karena hal yang pertama kali disebutkan Alkitab, itulah yang menetapkan prinsipnya di kemudian hari. Atas diri Henokh, pertama kali disebutkan tentang pengangkatan, itulah menjadi prinsip dari pengangkatan. Apakah prinsip pengangkatan? Yaitu mencapai kematangan hayat melalui hidup bergaul dengan Allah. Henokh hidup bergaul dengan Allah selama 300 tahun, lalu Allah mengangkatnya (Kej. 5:22-24).
(1) Hidup Bergaul dengan Allah
Apakah Anda mengharapkan terangkat? Kalau ya, Anda harus hidup bergaul dengan Allah. Kita tidak hanya harus menyeru nama Tuhan, juga harus hidup bergaul dengan Tuhan. Setelah berseru, selanjutnya bergaul. Bergaul dengan Allah berarti tidak melampaui Allah, tidak sok, tidak ber-buat menurut konsepsi atau kesenangan sendiri, juga tidak melakukan sesuatu di luar Allah. Bergaul dengan Allah berarti menjadikan Allah sebagai inti dan segala kita, be-kerja menurut wahyu dan pimpinan-Nya, dan melakukan segala sesuatu bersama Dia. Tidak saja hidup bagi Allah, bekerja bagi Allah, lebih-lebih hidup dan bekerja menurut Allah dan bersama Allah. Demikianlah Henokh hidup ber-gaul dengan Allah, hidup dan bekerja menurut Allah dan bersama Allah; dia tidak menuruti kesenangan atau konsepsinya sendiri, juga tidak menuruti arus zaman waktu itu.
Bergaul dengan seseorang tidaklah mudah. Ketika saya berjalan-jalan bersama saudara atau keluarga saya, mereka selalu berkata bahwa saya berjalan terlalu cepat; mereka tidak dapat mengikuti. Mereka meminta saya untuk ber-jalan agak lambat. Tetapi sebaliknya saya bertanya kepada mereka, “Kalian berjalan bersama saya atau saya yang berjalan bersama kalian? Mari kita tentukan dulu siapa yang berjalan bersama siapa. Kalau kalian yang berjalan bersama saya, kalian harus mengikuti saya, jangan menyalahkan saya berjalan terlalu cepat. Jika kalian menggerutu karena saya berjalan terlalu cepat, kalian jangan mempedulikan saya, cari saja orang yang berjalan sepelan kalian! Namun, jika kalian berketetapan berjalan bersama saya, kalian harus mencapai standar saya. Bila saya yang ber-ketetapan untuk berjalan bersama kalian, maka sayalah yang harus memperlambat langkah saya, sehingga berjalan sepelan kalian.”
Silakan Anda memberi tahu saya, Allah yang bergaul dengan Anda atau Anda yang bergaul dengan Allah? Allah yang bergaul dengan Henokh atau Henokh yang bergaul dengan Allah? Alkitab tidak mengatakan Allah bergaul dengan Henokh, melainkan Henokh bergaul dengan Allah. Dalam Alkitab sukar sekali menemukan tempat yang mengatakan Allah bergaul dengan manusia. Pada Lukas 24 kita menjumpai sebuah contoh. Pada hari Tuhan Yesus bangkit, Ia berjalan bersama dua orang murid-Nya yang sedang ber-jalan dari Yerusalem menuju ke Emaus. Bukan murid-mu-rid-Nya yang berjalan bersama Tuhan, tetapi Tuhan Yesus yang berjalan bersama murid-murid-Nya. Namun, jika Tuhan yang berjalan bersama Anda, itu berarti Anda sedang berjalan menurun, dari Yerusalem turun ke Emaus. Sebalik-nya, jika Anda yang berjalan bersama Allah, itu berarti Anda berjalan mendaki, yaitu dari Emaus kembali lagi ke Yerusalem. Jadi, Anda yang berjalan bersama Tuhan atau Tuhan yang berjalan bersama Anda? Dengan kata lain, Anda sedang menurun ataukah menanjak? Jika Anda berjalan menurun menuju ke gedung bioskop, Tuhan Yesus juga akan berjalan bersama Anda ke sana. Tuhan Yesus sering berjalan menu-run demikian bersama orang saleh. Banyak orang saleh yang berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak dapat bersama-Mu lagi, aku mau nonton bioskop.” Tuhan akan men-jawab, “Kamu mau nonton bioskop? Aku bersamamu ke sana; Aku mau berjalan menurun bersamamu. Mengapa Aku mau berjalan bersamamu ke sana? Sebab Aku ingin mem-bawamu kembali. Kamu tidak seharusnya berjalan menurun ke Emaus. Aku menghendaki kamu semua tinggal di Yerusalem. Tetapi karena kamu berjalan menurun, Aku terpaksa berjalan bersamamu. Aku perlu berjalan bersama-mu untuk membawamu kembali.”
Henokh berjalan ke atas bersama Allah. Jangan mengi-ra Henokh terangkat itu terjadi secara mendadak. Jangan mengira semenit ini dia berada di bumi, dan semenit beri-kutnya dia sudah ada di surga. Henokh bukannya naik-turun berjalan bersama Allah, juga bukannya berliku-liku. Dia berjalan terus menuju ke atas sehingga menjangkau langit. Ketika ia mencapai umur 365 tahun, dia sudah hampir mendekati langit, Allah berkata kepadanya, “Anak yang terkasih, Aku di sini. Marilah bersama-Ku!” Demikianlah Henokh terangkat.
Percayakah Anda kalau Henokh berjalan dengan Allah secara naik-turun? Percayakah Anda kalau Henokh berjalan dengan Allah secara tak menentu, sehingga Allah berkata, “Anak yang kasihan, cepat-cepatlah naik”? Saya tidak per-caya kalau inilah cara Allah mengangkat Henokh. Siang malam Henokh hidup bergaul dengan Allah, selama tiga abad, berjalan bersama lebih dari 100.000 hari. Hari demi hari Henokh bergaul dengan Allah, hari demi hari lebih dekat kepada Allah. Henokh melihat situasi, keadaan keli-ling, orang-orang, dan perbuatan mereka, tidak ada satu pun yang ibadah. Tetapi dia dengan takwa hidup bergaul dengan Allah terus-menerus selama 300 tahun.
Supaya bisa bergaul dengan Allah, kitalah yang harus bersama dengan Allah. Kita harus bersatu dengan-Nya da-lam pikiran, kesenangan, dan pilihan kita. Seperti yang telah saya tunjukkan, ingin bergaul dengan orang lain bu-kanlah perkara yang mudah. Misalnya, saya berjalan ber-sama Anda, namun pandangan saya berbeda dengan pan-dangan Anda. Saya berkata kepada Anda, “Saudara, aku mengasihimu, aku mau berjalan denganmu, tetapi jangan menempuh jalan itu. Mari menempuh jalan ini. Aku tidak menyukai jalan itu.” Jika saya berkata demikian, saya tidak berjalan bersama Anda, melainkan saya sedang berbantah-bantahan dengan Anda. Akan tetapi, inilah yang justru sering dilakukan oleh banyak pencinta Tuhan Yesus. Mereka berkata, “Tuhan, aku cinta kepada-Mu, aku juga mau mengikuti-Mu, aku mau berjalan bersama-Mu.” Namun, begitu saat yang sesungguhnya tiba, banyak yang tidak berjalan bersama Tuhan, malah berbantah dengan Tuhan. Berjalan atau hidup bersama Tuhan mengandung banyak hal: menyangkal diri sendiri, menyangkal pikiran dan kesenangan sendiri, menyangkal segala sesuatu yang berasal dari diri sendiri. Ini berarti Anda menyerahkan diri Anda kepada-Nya, takluk kepada-Nya, dan membiarkan Dia me-megang pimpinan. Hidup bersama Tuhan bukanlah hal yang sepele. Hidup bersama Tuhan akan membunuh Anda. Setiap kali istri saya berjalan dengan saya, ia selalu menderita. Kalau Anda mau berjalan bersama saya, Anda harus menyangkal diri Anda. Sebaliknya, kalau saya mau berjalan bersama Anda, saya pun harus menyangkal diri saya, menyalahkan diri saya, mengesampingkan diri saya, supaya saya bisa bersatu dengan Anda. Bila saya tidak mau berbuat demikian, saya tidak mungkin dapat berjalan bersama Anda atau dengan siapa saja.
Ini bukan sekadar perkara menyeru Tuhan. Menyeru “O, Tuhan Yesus!” memang ajaib dan nikmat, tetapi apa yang menyusul setelah penyeruan? Ketika Tuhan berkata, “Ikutlah Aku,” maukah Anda mengikuti-Nya? Maukah Anda berjalan dengan-Nya? Jangan lupa, hal manyeru itu ditemu-kan dalam Kejadian 4, sedang berjalan (bergaul) diwahyukan dalam Kejadian 5. Jika setelah berseru tidak diikuti dengan berjalan, maka seruan kita itu tidak begitu sejati. Dalam berita yang akan datang, kita akan melihat bahwa setelah berjalan masih ada pembangunan. Enos menyeru, Henokh berjalan, Nuh berjalan dan membangun. Kita harus melang-kah maju dari Kejadian 4, dari menyeru maju ke berjalan.
Menyeru bisa menyuplai Anda, tetapi tidak bisa membunuh Anda. Menyeru menghidupkan Anda, tetapi berjalan selalu mematikan Anda; namun, berjalan juga akan membang-kitkan Anda. Berjalan mula-mula membunuh Anda, kemu-dian membangkitkan Anda dan membuat Anda lincah dalam menikmati penyertaan Allah. Anda akan hidup sampai pada puncaknya, bukan hidup secara alamiah, melainkan hidup dalam kebangkitan. O, kita semua perlu berjalan bersama Allah.
(2) Percaya Allah
Meskipun Alkitab tidak banyak membicarakan tentang Henokh, namun apa yang diwahyukan oleh kitab Kejadian, Ibrani, dan Yudas, sudahlah cukup bagi kita untuk mengapresiasi hidupnya. Ibrani 11:5-6 memberi tahu kita bahwa sebelum Henokh diangkat oleh Allah, ia telah percaya Allah. Ini menunjukkan bahwa Henokh tidak hanya berjalan ber-sama Allah, ia pun percaya Allah. “Karena iman Henokh di-angkat, supaya ia tidak mengalami kematian” (Ibr. 11:5). Apakah arti iman? Menurut ayat-ayat Ibrani 11, iman berarti kita percaya Allah itu ada (Ibr. 11:6). Allah itu ada (eksis), Allah itu riil, Allah itu hidup, Allah itu hadir, dan Allah itu Allah. Kita semua harus mempercayai ini. Saya mengharapkan, kiranya orang yang membaca berita ini, tidak mempunyai kesulitan atas perkara ini. Kita betul-betul percaya bahwa Allah itu ada, dan hari ini Dia itu hidup.
Ibrani 11:6 mengatakan bahwa jika Anda percaya Allah, Anda harus juga percaya bahwa Dia adalah Sang pemberi upah. Dia tidak hanya ada, Dia juga Sang pemberi upah. Mengapa Allah memberi upah kepada manusia? Sebab Allah ingin sekali mendapatkan manusia hidup demi pencapaian tujuan-Nya. Kita tidak seharusnya hanya percaya bahwa Allah itu ada, tetapi juga percaya bahwa Dia memberi upah kepada semua orang yang mencari hingga menemukan Dia. “Sungguh-sungguh mencari Dia”, menurut bahasa Yunaninya, seharusnya, “mencari hingga menemukan-Nya”. Allah ada di dalam alam semesta ini, tidak ada seorang pun yang bisa melihat-Nya, tetapi kita harus mencari hingga menemukan Dia. Percayakah Anda bahwa ada Allah? Percayakah Anda bahwa Allah hadir? Kemudian apa yang akan Anda lakukan? Anda harus mencari hingga menemukan Dia. Henokh melakukan hal ini. Dia percaya ada Allah, melalui percaya Allah adalah Sang pemberi upah, dia mencari hingga menemukan Dia. Dapat dipastikan bahwa karena percaya Allah dan mencari Allah, maka ia hidup bergaul dengan Allah. Henokh adalah pencari Allah, dan Allah adalah Pemberi upahnya. Dia mencari Allah dan berjalan bersama Allah, maka Allah memberi upah kepadanya.
Upah apakah yang Allah berikan kepada Henokh? Allah membuatnya mencapai tingkat hayat yang tertinggi — ter-hindar dari maut. “Karena iman Henokh diangkat, supaya ia tidak mengalami kematian.” Bukan main upah ini! Bertahun-tahun lamanya, saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak ingin mengalami kematian. Tuhan, datanglah segera. Jaga aku hingga kedatangan-Mu. Aku tidak ingin berjumpa dengan maut, aku ingin berjumpa dengan-Mu.” Harapan ini telah membuat saya dan tetap membuat saya mencari hingga menemukan Allah. Saya bukannya sombong, saya mengatakan yang sebenarnya, saya adalah pencari Tuhan. Bukankah Anda juga pencari Tuhan? Bersandarkan belas kasihan dan anugerah Tuhan, kita semua adalah para pencari Tuhan.
Ketika pertama kali saya menggunakan istilah “seeking saints” (kaum saleh pencari) di dalam doa dan persekutuan saya di Amerika Serikat, banyak orang tercengang saat mendengar istilah ini. Setelah itu saya menyingkatnya menjadi “seekers” (pencari), yaitu orang-orang yang mencari Tuhan. Waktu itu ada beberapa orang kudus yang enggan memakai istilah ini, namun hari ini, dalam gereja-gereja sudah umum dipakai. Bahkan banyak yang berdoa kepada Tuhan, “Ya, Tuhan begitu banyak pencari-Mu di sini. Tuhan, tangkaplah semua pencari-Mu yang terkasih ini.” Tuhan itu-lah Pemberi upah, kita perlu menjadi pencari-Nya. Henokh percaya akan ini dan melaksanakannya. Dia percaya Allah ada, dan percaya kalau ia mencari hingga menemukan-Nya, Allah pasti memberinya upah. Henokh sungguh-sungguh mencari Allah dan memperoleh upahnya.
Kitab Yudas mengisahkan lingkungan hidup Henokh, menggunakan kata “bejat” (fasik) sebanyak empat kali untuk menggambarkan orang-orang pada generasi Henokh dan perbuatan mereka (Yud. 15 Tl.). Kitab Yudas juga mencatat satu nubuat Henokh, yang di dalamnya Henokh memakai satu kata yang sangat ajaib — orang kudus. “Henokh, ketu-runan ketujuh dari Adam, juga telah bernubuat tentang mereka, katanya, ‘Sesungguhnya Tuhan datang dengan be-ribu-ribu orang kudus-Nya’” (Yud. 14). Henokh tidak menga-takan bahwa Tuhan datang dengan beribu-ribu orang berdosa atau orang bejat, juga tidak mengatakan bahwa Tuhan datang dengan beribu-ribu murid atau orang yang beroleh selamat. Henokh mengatakan, “Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya.” Catatan kitab Yudas mewah-yukan bahwa Henokh menubuatkan apa yang ada di dalam dirinya. Dia tahu bahwa orang-orang sezamannya itu bejat. Tetangga, penduduk, dan semuanya yang lain, bejat adanya. Tetapi dia sendiri beribadah dan kudus, menempuh hidup yang kudus. Kalau tidak, tentunya dia tidak mungkin menubuatkan Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, untuk menghakimi semua orang yang bejat. Orang-orang kudus pada Yudas 14 adalah berlawanan dengan orang-orang bejat pada ayat 15. Meskipun generasi, zaman, masya-rakat, lingkungan, penduduk, dan setiap perkara materi bejat adanya, Henokh tetap menempuh hidup yang ibadah dan kudus. Dia menempuh hidup yang beribadah di antara orang-orang dan situasi yang bejat. Di dalam iman ia mela-kukan ini sambil percaya bahwa Allah ada dan Ia adalah Pemberi upah. Henokh berjalan dengan Allah di dalam iman.
(3) Percaya Firman Allah
Ketika Henokh berusia 65 tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki, dan memberinya nama Metusalah (Kej. 5:22). Nama “Metusalah” ini mengandung makna nubuat yang berarti “Ketika ia meninggal, ia akan dikirim”. Itulah nubuat tentang air bah. Dengan menamakan anaknya Metusalah, Henokh menubuatkan kedatangan penghakiman air bah. Tidak disangsikan, ia berbuat demikian berdasarkan Roh Allah. Ia menerima wahyu Allah, ia tidak mengesam-pingkan kehendak Allah. Ia memperoleh inspirasi kehendak Allah, tahu adanya penghakiman yang akan menimpa seluruh generasi yang bejat. Saya percaya bahwa nubuat dalam Surat Yudas mempunyai penggenapan ganda. Boleh jadi Henokh percaya bahwa penghakiman air bah itu dituju-kan kepada kedatangan Tuhan dengan beribu-ribu orang kudus-Nya untuk melaksanakan penghakiman terhadap zaman yang bejat. Namun nubuat ini sama seperti nubuat lainnya dalam Perjanjian Lama, memiliki penggenapan ganda. Peng-genapan pertama terbukti dengan datangnya air bah, yang juga sebagai lambang penggenapan yang kedua, yakni kedatangan Tuhan kali kedua, yang tercatat dalam Surat Yudas. Jika Henokh tidak menubuatkan kedatangan Tuhan kali kedua, Yudas tentu tidak akan menyebutkan hal ini. Melalui nubuat Henokh, kita dapat mengetahui bahwa dia sudah tahu kalau Tuhan akan melaksanakan penghakiman-Nya atas generasi yang bejat. Jadi, Henokh menamai anak-nya “Metusalah”, menyatakan bahwa ketika anaknya me-ninggal, penghakiman Allah pun datanglah.
Pada usia 65 tahun, Henokh memperanakkan Metusalah. Jadi, Henokh mengucapkan nubuatnya tentang air bah pada waktu ia berusia 65 tahun. Sejak itu, siang malam Henokh menantikan tergenapnya nubuat ini; dan pengharapan ini membuat dia hidup bergaul dengan Allah. Meskipun seluruh generasi dan segala sesuatu pada masa itu bejat dan fasik, dia sendiri tidak berani tidak ibadah. Dia kudus dan hidup bergaul dengan Allah, mengharapkan diselamatkan dari penghakiman Allah. Henokh tetap berpegang pada pengharapan ini selama 300 tahun. Tetapi selama jangka waktu itu, penghukuman itu belum terwujud. Sampai 969 tahun setelah Metusalah lahir, barulah penghukuman air bah itu datang.
Air bah datang pada tahun Metusalah meninggal. Pada usia 187 tahun Metusalah memperanakkan Lamekh (Kej. 5:25), dan Lamekh berusia 182 tahun waktu memperanak-kan Nuh (Kej. 5:28). Ketika Nuh berumur 600 tahun, air bah itu datang (Kej. 7:11). Kalau kita menjumlah ketiga angka ini, kita mendapatkan angka 969, tepat waktu Metusalah meninggal dunia. Air bah datang 969 tahun sesudah Henokh menubuatkannya, persis seperti yang telah dinubuatkan, yakni pada tahun Metusalah mati. Seandainya Henokh hidup di bumi sampai air bah itu datang, maka ia harus menunggu selama 969 tahun. Tetapi ia hanya menunggu 300 tahun saja, Allah seolah-olah berkata, “Henokh, ini sudah cukup baik, Aku tidak ingin kamu tinggal di bumi menghabiskan kesabaranmu. Mari datang di sini dan ting-gal bersamaku.” Henokh pun terangkat. Ibrani 11:5 menjelaskan, setelah ia terangkat, orang-orang mencari dia, tetapi tidak menemukannya.
Di satu pihak, saya menyukai Metusalah; tetapi di pihak lain, saya tidak menyukainya, karena ia hidup terlalu lama. Dia adalah orang yang hidup paling lama dalam catatan Alkitab. Hidup selama itu, sungguh menghabiskan kesabar-an kita. Karena itu kita berdoa, “Tuhan, datanglah segera.” Tuhan pernah memberi tahu kita bahwa Ia segera datang (Why. 22:7, 12, 20), tetapi kini sudah berselang 1900 tahun lebih, Tuhan belum datang juga. Di sini ada satu prinsip: kesabaran alamiah kita harus dihabiskan. Kapan Anda me-nanti Tuhan dengan kesabaran alamiah Anda, Anda pasti akan kecewa dan letih. Lupakan masalah waktu! Cukup hidup bergaul dengan Allah. Bagi Dia, 1000 tahun sama dengan satu hari. Kalau Anda berkata, “Ya, Tuhan Yesus, lama benar!” Dia akan berkata, “Belum dua hari! Bagi-Ku, seribu tahun sama seperti satu hari. Mengapa kamu begitu tidak sabar? Kamu tidak sabar karena kamu tidak hidup bergaul dengan-Ku. Asal kamu hidup bergaul dengan-Ku, asal kamu beserta-Ku, kamu pasti tidak akan menghiraukan soal waktu. Bumi akan seperti surga, karena kamu memiliki Aku, kamu sudah berada di surga.”
Hal yang paling penting yang diwahyukan dalam Kejadian 5 mengenai hidup kita ialah hidup bergaul dengan Allah. Untuk hidup bergaul dengan Allah, kita harus percaya bahwa Ia ada, juga percaya bahwa Ia adalah Pemberi upah. Kita pun harus percaya firman-Nya. Kemudian kita perlu mencari hingga menemukan Dia, hidup menurut firman-Nya, mengikuti-Nya, dan berjalan bersama-Nya di dalam iman. Akhirnya, kita akan diangkat, kita akan terangkat dan terhindar dari kematian yang merupakan akibat terakhir dari kejatuhan manusia. Haleluya!
d. Berakhirnya Silsilah
Silsilah dari keluarga yang beroleh selamat yang tercantum dalam Kejadian 5 berakhir dengan penuh peng-harapan. Silsilah ini berakhir pada nama Nuh, yang berarti “penghiburan” atau “perhentian” (Kej. 5:28-32). Oleh karena lahirnya Nuh, keluarga yang beroleh karunia keselamatan ini mendapatkan penghiburan dan perhentian. Keluarga yang beroleh karunia keselamatan itu bukan keluarga yang tanpa pengharapan, melainkan keluarga yang penuh peng-hiburan. Ini berarti, keluarga Nuh penuh dengan peng-harapan, penghiburan, dan perhentian.