KEJATUHAN MANUSIA KALI KETIGA
4. Kejatuhan Kali Ketiga
Dalam berita ini kita akan melihat kejatuhan manusia kali ketiga. Hal ini tercatat dalam Kejadian 6. Jika kita dengan teliti membaca kitab Kejadian, kita akan memahami bahwa tujuan Roh Kudus ialah ingin menunjukkan kepada kita kejatuhan manusia yang berkelanjutan. Manusia jatuh selangkah demi selangkah, satu tahap demi satu tahap. Catatan Kejadian mewahyukan bahwa kejatuhan manusia paling sedikit ada empat tahap. Kita boleh menyebut keempat tahap ini sebagai empat kali kejatuhan manusia. Setiap kali jatuh, manusia lebih merosot daripada yang sebelumnya. Makin jatuh makin parah, hingga mencapai tingkat yang tidak mungkin lebih parah lagi. Kejatuhan manusia kali ketiga belum terbilang kejatuhan yang paling parah, melainkan kebejatan manusia yang lebih lanjut. Kita akan nampak, setelah kejatuhan kali ketiga, masih ada kejatuhan kali keempat. Manusia jatuh ke taraf yang begitu rendah, di luar jangkauan pemikiran kita.
a. Penyebabnya
Mula-mula, kita perlu melihat penyebab kejatuhan manusia kali ketiga. Setiap kali jatuh, kita dapat menggali alasan atau penyebabnya. Penyebab kejatuhan manusia kali ketiga tidaklah sederhana. Bahkan penyebab kejatuhan kali pertama juga tidak sederhana, karena kejatuhan kali itu bukan hanya disebabkan oleh manusia, lebih-lebih oleh suatu sumber di luar manusia — ular, yaitu Iblis, Satan, musuh Allah. Kita telah melihat bahwa musuh Allah yang telah masuk ke dalam manusia yang jatuh itu telah menjadi penyebab subyektif dari kejatuhan kali kedua. Jadi, dalam setiap kejatuhan, selain diri manusia sendiri, masih ada penyebab yang lain. Setiap kali jatuh, tentu manusianya yang jatuh; tetapi penyebabnya bukan sekadar manusia sendiri, juga dari musuh Allah. Pada kejatuhan kali pertama, musuh Allah ada di luar manusia. Pada kejatuhan kali kedua, musuh ini telah masuk ke dalam manusia. Kini, pada kejatuhan kali ketiga, musuh telah mengambil langkah lain, yang membuat manusia jatuh lebih lanjut. Kita perlu sekali menemukan apa langkah lain itu. Langkah ini jauh lebih buruk daripada yang dapat kita pikirkan. Mungkin Anda sudah mempelajari kitab Kejadian berkali-kali, namun terhadap siasat tipu muslihat Iblis, Anda belum pernah memperhatikannya. Saat kita melihat siasat tipu muslihat Iblis ini, kita perlu menengadah kepada Tuhan untuk menutupi kita dengan darah-Nya yang menang, karena berita ini menjamah kuasa si jahat dan membongkar kelicikan musuh Allah.
(1) Roh Jahat Berbaur dengan Manusia —
Malaikat yang Jatuh Bersatu dengan Manusia Melalui Perkawinan yang Tidak Sah
Pada kejatuhan kali pertama, Iblis membujuk manusia untuk menerima sesuatu barang di luar Allah. Pada kejatuhan kali kedua, Iblis di dalam sifat manusia menyeret manusia untuk meninggalkan jalan karunia keselamatan Allah. Pada kejatuhan kali ketiga, Iblis membuat roh-roh jahat, yaitu malaikat-malaikat yang telah jatuh, berbaur dan bersatu dengan manusia melalui perkawinan yang tidak sah. Sejak kejatuhan Iblis jauh sebelum dunia sekarang diciptakan, Iblis sudah memiliki pengikut sejumlah besar malaikat (lihat Pelajaran-Hayat Kitab Kejadian berita kedua). Menurut Wahyu 12:4, ada sepertiga malaikat yang mengikuti pemberontakan Iblis. Inilah sebabnya Efesus 6:12 menying-gung tentang pemerintah-pemerintah dan penguasa-pengua-sa di udara. Tuhan Yesus bahkan memberi tahu kita bahwa Iblis mempunyai kerajaan (Mat. 12:26). Dalam alam semesta ini, musuh Allah yang licik itu mempunyai kerajaan yang jahat, yaitu kerajaan Iblis. Iblis mempunyai kerajaan, berarti di bawah kekuasaannya, ia mempunyai sejumlah besar pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, dan kuasa-kuasa dunia.
Menurut seluruh wahyu Alkitab, pada saat kejatuhan manusia kali ketiga, malaikat-malaikat yang telah jatuh ini, yang berada di bawah kendali Iblis, melakukan sesuatu yang menodai umat manusia. Mereka membuat umat manusia sangat berdosa, bahkan menjadikannya suatu campuran. Manusia sudah bukan lagi umat yang murni, melainkan telah menjadi suatu umat yang campur aduk dengan malaikat yang telah jatuh. Mungkin bagi Anda perkataan ini terdengar sangat ganjil. Sedikit sekali orang Kristen mengetahui bahwa umat manusia pernah dinodai oleh campur aduk sedemikian dengan malaikat yang telah jatuh — roh-roh yang jatuh. Namun, ini fakta yang tercantum dalam Alkitab. Pada saat kejatuhan manusia kali ketiga, sekelompok malaikat yang telah jatuh, di bawah pemerintahan Iblis telah turun ke bumi, mengenakan tubuh manusia, mengawini putri-putri manusia secara ilegal. Dengan jalan ini, ma-nusia telah bercampur aduk dengan roh-roh yang telah jatuh.
(a) Anak-anak Allah adalah Malaikat-malaikat yang Jatuh
Penjelasan demikian atas Kejadian 6, bukanlah ciptaan saya, juga bukan penemuan saya. Ketika saya mempelajari Kejadian 6:2 pada 50 tahun yang lalu, saya sangat bingung. Terhadap Kejadian 6:1 saya tidak ada masalah, tetapi terhadap ayat 2 timbul satu masalah. Siapakah anak-anak Allah yang disebutkan di sini? Kemudian, saya mendengar dari beberapa guru golongan The Brethren menjelaskan bahwa di dalam kitab Kejadian 4 terdapat 2 garis — satu adalah garis keturunan Set, yaitu garis orang-orang yang beribadah; yang lainnya adalah garis keturunan Kain. Me-reka mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah keturunan Set. Karena keturunan Set milik Allah, maka mereka itulah anak-anak Allah. Mereka juga mengatakan bahwa putri-putri manusia ditujukan putri-putri keturunan Kain. Saya tidak puas dengan penjelasan itu, itu sangat tidak logis. Bagaimana mungkin dikatakan bahwa anak-anak Allah itu keturunan Set dan putri-putri manusia itu keturunan Kain? Bukankah keturunan Set juga adalah manusia? Saya tidak bisa menerima penjelasan mereka. Akhirnya pada buku tulisan Saudara Watchman Nee, saya memperoleh jawaban yang tepat. Dalam bukunya, Saudara Watchman Nee menunjukkan bahwa anak-anak Allah pada Kejadian 6:2 adalah malai-kat-malaikat. Dia menunjukkan bahwa Alkitab Perjanjian Lama dengan jelas memberi tahu kita bahwa malaikat-malaikat disebut anak-anak Allah (Ayb. 1:6; 2:1). Meskipun ini cukup logis, namun saya masih sulit mempercayainya; saya heran, bagaimana malaikat bisa kawin dengan manusia. Selajutnya Saudara Watchman Nee meneruskan bahwa da-lam Alkitab Perjanjian Lama bahasa Syria, “anak-anak Allah” disebut sebagai “malaikat”. Lagi pula, beberapa penulis kuno mengenai Kejadian 6:2 menggunakan “malaikat” sebagai pengganti “anak-anak Allah”. Saudara Watchman Nee menyatakan bahwa kita tidak bisa menegaskan hanya putri-putri Kain adalah keturunan manusia, dan putra-putra Set bukan keturunan manusia. Hal ini saya sudah lama setuju. Saudara Watchman Nee kemudian melanjutkan, Surat Yudas ayat 6-7 merupakan bukti kuat bahwa anak-anak Allah yang tercatat di Kejadian 6 adalah malaikat yang telah jatuh. Tidak diragukan bahwa Saudara Watchman Nee pernah membaca buku tulisan G.H. Pember yang berjudul “Earth’s Earliest Ages” (Zaman bumi yang paling awal). Dalam buku itu, Tuan Pember dengan kuat membuktikan bahwa anak-anak Allah pada Kejadian 6 adalah malaikat-malaikat yang telah jatuh. Demikian, melalui penelitian yang cukup banyak, saya percaya sepenuhnya bahwa anak-anak Allah pada Kejadian 6 adalah malaikat-malaikat yang telah jatuh.
(2) Malaikat-malaikat yang Jatuh Berzina
dengan Orang-orang Asing
Malaikat-malaikat yang jatuh melakukan perzinaan dengan orang-orang asing, mendirikan contoh yang di kemudian hari ditiru oleh Sodom dan Gomora. Dalam hal ini kita perlu membaca Yudas ayat 6-7 dengan teliti. “Juga malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, melainkan meninggalkan tempat kediaman mereka, ditahan-Nya dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar. Sama seperti itu, Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.” Ketika Petrus dan Yudas menulis tentang kejatuhan, mereka menggunakan fakta yang terdapat dalam kitab Kejadian sebagai latar belakangnya. Dalam ayat 6 Yudas mengatakan ada malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka. Batas-batas kekuasaan di sini berarti pemerintahan dan batas wilayah pemerintahan malaikat. Apakah batas-batas kekuasaan atau lingkungan peme-rintahan malaikat? Menurut Efesus 2:2 dan 6:12, tempat kediaman mereka adalah di angkasa. Tempat kediaman Allah adalah di surga tingkat ketiga, tempat kediaman manusia adalah di bumi, dan tempat kediaman Iblis beserta malaikat-malaikatnya adalah di angkasa. Yudas ayat 6 mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, bahkan meninggalkan tempat kediaman mereka, menunjukkan bahwa mereka meninggalkan ang-kasa, datang ke bumi, dan mengadakan hubungan perkawinan yang ilegal dengan umat manusia. Allah telah menahan mereka dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman, menyuruh mereka menunggu penghakiman pada hari besar.
Kapan malaikat-malaikat itu tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka? Kapan malaikat-malaikat itu meninggalkan tempat kediaman mereka di angkasa, lalu turun ke bumi, dan berbuat sesuatu, sehingga Allah membelenggu mereka sampai pada penghakiman hari besar? Mereka pasti telah melakukan suatu perbuatan yang sangat serius, sehingga Allah tidak segan-segan mengambil tindakan ini. Kapan peristiwa itu terjadi? Pasti pada saat yang disebutkan dalam Kejadian 6.
Perkataan “sama seperti itu” pada Yudas ayat 7, menyatakan ayat 7 adalah sambungan dari ayat 6. Menurut bahasa aslinya, pokok kalimat dalam ayat ini adalah “Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya”, predikatnya adalah “sebagai peringatan kepada semua orang”. Jadi, Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya didirikan sebagai peringatan kepada semua orang. Antara subyek dan predikat, terdapat kata keterangan “yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar.” “Yang” di sini menunjuk kepada siapa? Yaitu menunjuk malaikat-malaikat yang jatuh pada ayat sebelum-nya. “Dengan cara yang sama” artinya dengan cara “mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar”. Malaikat yang ja-tuh mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar. Sodom, Gomora, dan kota-kota sekitarnya juga “mengejar kepuasan-kepuasan yang tidak wajar.” Ini berarti kota-kota itu mengikuti contoh malaikat-malaikat yang jatuh. Mereka tidak menciptakan percabulan semacam itu, melainkan mereka meniru malaikat-malaikat yang jatuh yang menciptakan hal itu. Sodom, Gomora, dan kota-kota sekitarnya hanyalah pengikut-pengikutnya; malaikat-malaikat itulah penciptanya.
Atas butir ini, saya khusus ingin berbicara kepada kaum muda: Pernikahan adalah perkara yang kudus. Allah menegakkan pernikahan adalah untuk kesinambungan umat manusia yang diciptakan-Nya bagi tujuan-Nya. Siapa pun tidak seharusnya memandang remeh perkara pernikahan. Kita harus memandangnya sebagai sesuatu yang sangat kudus. Ibrani 13:4 menasihati kita untuk menghormati pernikahan dan memandangnya kudus. Dalam pernikahan ada satu prinsip yang serius, yaitu satu suami satu istri. Allah telah menetapkan prinsip kudus ini, supaya memelihara umat manusia di dalam keadaan yang tepat bagi pencapaian tujuan-Nya. Namun, pada waktu manusia jatuh untuk ketiga kalinya, musuh yang licik itu datang merusak prinsip kudus atas pernikahan manusia, melalui malaikat-malaikat yang jatuh memakai tubuh manusia untuk mengawini kaum perempuan manusia. Demikianlah prinsip pernikahan yang melindungi kemurnian umat manusia telah dilanggar. Perkawinan yang haram antara malaikat-malaikat yang jatuh dengan manusia bukan hanya merusak prinsip per-nikahan, lebih-lebih menodai umat manusia. Apa tujuan Iblis dalam melakukan ini? Tujuannya bukan sekadar ingin merusak umat manusia, lebih-lebih ingin mencemarkannya sampai pada taraf yang menimbulkan perbauran antara ma-nusia dengan roh-roh yang jatuh. Malaikat-malaikat yang jatuh telah mendirikan sebuah contoh yang merusak prinsip pernikahan. Sodom, Gomora, dan kota-kota sekitarnya mengikuti contoh ini, merusak prinsip pengaturan yang ditetapkan oleh Allah.
Sekarang kita sudah paham, mengapa Allah menetap-kan untuk memusnahkan manusia dengan air bah dan menjatuhi mereka hukuman mati. Allah berketetapan demikian, karena manusia telah menjadi suatu “barang campuran”. Sekarang kita juga bisa memahami mengapa Allah membakar Sodom, Gomora, dan kota-kota di sekitarnya. Sewaktu saya masih muda, saat membaca tentang penghukuman air bah, pemusnahan Sodom dan Gomora, dan pembunuhan terhadap orang-orang Kanaan, saya tidak setuju dengan Allah. Saya berkata, “Bukankah Allah itu Allah pengasih? Mana boleh Allah pengasih melakukan hal-hal demikian? Mana boleh Allah pengasih membenam orang-orang dengan air bah, membakar kota dan menaruh orang-orang Kanaan ke dalam tangan bani Israel untuk dibunuh?” Saya berkata kepada Allah, “Allah, Engkau tidak adil. Bukankah orang-orang Israel berdosa juga? Mengapa Engkau melenyapkan semua orang Kanaan? Bagaimana bisa Engkau mengatakan bahwa Engkau adalah Allah pengasih?” Akhirnya Allah menjawab saya, “Anakku, tidakkah kamu nampak bahwa sebelum air bah manusia telah menjadi satu barang campuran? Aku tidak dapat membiarkan bangsa campuran seperti itu tinggal di bumi. Aku harus memusnahkan mereka. Tidakkah kamu nampak di antara orang-orang Kanaan terdapat manusia raksasa? Itu membuktikan orang-orang Kanaan bukan lagi bangsa manusia yang murni, melainkan sudah bercampur dengan malaikat-malaikat yang telah jatuh. Aku harus membasmi mereka.” Sampai saat itulah saya menundukkan kepala menyembah sambil berkata, “Ya Tuhan, Engkaulah Allah. Aku menyembah-Mu. Apa yang Engkau kerjakan semuanya tepat dan benar.”
Jika Anda membaca Yudas ayat 6 dan 7, Anda akan nampak bahwa malaikat-malaikat yang jatuh itu menciptakan perkawinan yang ilegal, merusak prinsip pengaturan pernikahan yang ditetapkan oleh Allah, dan “mengejar ke-puasan-kepuasan yang tidak wajar” terhadap manusia. Per-buatan itu menjadi sebuah contoh yang diikuti Sodom, Gomora, dan kota-kota sekitarnya. Sama halnya malaikat-malaikat itu, kota-kota itu pun melakukan percabulan, mengejar kepuasan-kepuasan “jasmaniah”. Malaikat-malaikat itu jatuh sedemikian rupa, sampai suatu masa, Allah turun tangan dan menghukum mereka. Kapan peristiwa itu terjadi? Kita harus menerapkan hal ini pada Kejadian 6.
(3) Mengakibatkan Percampuran antara Umat Manusia dengan Roh-roh yang Jatuh, dan Menghasilkan Orang-orang Raksasa
Perkawinan yang haram antara malaikat-malaikat yang jatuh dengan manusia ini menghasilkan orang-orang raksasa. Yang dikatakan dalam Kejadian 6:4 “orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kena-maan” adalah orang-orang hasil percampuran antara malaikat-malaikat yang jatuh dengan umat manusia (cf. Bil. 13:33). Orang-orang raksasa dalam Kejadian 6:4 dan Bilangan 13:33, bahasa Ibraninya adalah “Nephilim” artinya adalah “yang jatuh”. G.H. Pember dalam bukunya yang berjudul “Earth’s Earliest Ages” menegaskan bahwa sangat mungkin menunjuk kepada malaikat-malaikat yang jatuh. Tetapi Nephilim bukan malaikat yang murni, melainkan hasil percampuran antara malaikat-malaikat yang jatuh dengan putri-putri umat manusia. Mereka adalah keturunan campuran, yaitu darah manusia dengan roh-roh malaikat.
Menurut Alkitab, Nephilim adalah “orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya” (Bil. 13:32). Jika Anda melihat mereka, mereka akan mengancam Anda sehingga Anda merasa takut. Inilah yang justru dialami oleh kesepuluh orang dari dua belas pengintai yang diutus Musa untuk meng-amati tanah Kanaan. Mereka melihat Nephilim dan ketakutan (Bil. 13:32). Mereka memberi tahu bani Israel: Janganlah masuk ke negeri itu, karena kami melihat orang-orang raksasa di sana. Orang-orang raksasa yang mereka lihat, seharusnya juga adalah keturunan malaikat-malaikat yang jatuh, yang berbaur dengan anak-anak perempuan manusia. Nephilim adalah orang-orang raksasa, orang-orang yang gagah perkasa, orang-orang yang kenamaan.
Allah mengirim air bah untuk memusnahkan orang-orang pada zaman Nuh, disebabkan darah orang-orang zaman itu sudah tidak murni lagi. Demikian juga Allah membasmi semua orang Kanaan, disebabkan bangsa raksasa itu ada juga di antara mereka, sehingga darah keturunan itu tidak lagi murni. Allah tidak dapat membiarkan keadaan semacam itu. Demi tercapainya kehendak-Nya, Dia tidak bisa membiarkan bangsa macam itu tetap tinggal.
Kita semua wajib belajar satu pelajaran dari hal ini: percabulan adalah perkara yang serius. Dalam seluruh Alkitab, terutama dalam ajaran Tuhan Yesus (Mat. 19:9), percabulan dipandang sebagai suatu perkara yang serius. Ketika membaca Surat Kiriman para rasul dalam Perjanjian Baru, kita nampak rasul-rasul bersikap sangat ketat, sekali-kali tidak memberikan toleransi kepada percabulan di dalam kehidupan gereja (1 Kor. 6:9-10, 18; Ef. 5:5). Mengapa mereka seketat itu? Bila Anda membaca Alkitab, Anda akan tahu bahwa percabulan (atau perzinaan) berkaitan dengan berhala (Why. 2:14, 20). Penyembahan berhala mendorong orang berbuat zina. Di dalam aliran kepercayaan tertentu, orang-orang yang menyembah berhala itu acuh tak acuh terhadap perkara perzinaan. Penyembahan berhala mengan-tarkan mereka kepada perzinaan. Di China, di tempat-tempat tertentu, orang-orang yang menyembah berhala sering mengadakan pertunjukkan, dan kisah-kisah dalam pertunjukkan itu sering adalah kisah perzinaan. Kalau Anda mem-baca kitab Bilangan Anda akan nampak, kapan kala orang-orang Israel menyembah berhala, mereka lalu berzina (Bil. 25:1-2). Penyembahan berhala mendatangkan perzinaan, dan perzinaan juga mendatangkan penyembahan berhala. Akan tetapi, penyembahan Allah yang sejati tidak demikian. Pe-nyembahan Allah yang sejati dapat memelihara kemurnian kita terhadap pernikahan, memelihara prinsip pengaturan yang Allah tetapkan.
Beberapa tahun yang lalu, di San Fransisco ada seke-lompok kaum muda yang hidup bersama-sama, kemudian timbullah perkara perzinaan yang akhirnya mendatangkan hubungan dengan setan. Mengapa perzinaan mengarahkan orang berhubungan dengan setan? Karena setan, roh yang jatuh, mencari-cari tubuh manusia. Jika Anda mempunyai kesadaran dan akal yang wajar, Anda tidak akan mengizinkan roh jahat masuk ke dalam Anda. Tetapi ketika orang-orang yang jatuh ke dalam perzinaan, mereka tidak lagi mempedulikan akal sehat mereka, mereka kehilangan kesadaran mereka, sehingga pintu terbuka bagi setan untuk masuk dan merasuki mereka seluruhnya. Tak seorang pun pelaku zina yang mempedulikan kesadaran dan akal sehat mereka. Mereka itu tidak sehat dan tidak normal. Asal saja Anda adalah orang yang sehat dan normal, tentulah memperhatikan kesadaran dan akal sehat Anda. Anda tidak akan melakukan perkara yang melanggar prinsip pengaturan Allah. Jatuh ke dalam perzinaan atau percabulan sungguh mengerikan!
Menurut catatan Alkitab, pada kejatuhan manusia kali ketiga, manusia telah menjadi daging. Mereka penuh dengan hawa nafsu. Keadaan yang demikian telah membukakan pintu bagi malaikat-malaikat yang jatuh. Pada taraf ini, manusia tidak hanya mengandung Iblis di dalam sifatnya yang jahat, bahkan ada orang-orang dirasuki malaikat-malaikat yang jatuh, yang melalui tubuh mereka menjalani perkawinan yang ilegal, dan menghasilkan suatu barang campuran. Dalam pandangan Allah, ini adalah hal yang paling jahat, dan Dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
b. Manusia telah Menjadi Daging — Manusia yang Jatuh
Kita telah melihat bahwa penyebab pertama kejatuhan manusia kali ketiga ialah roh-roh jahat berbaur dangan manusia. Sekarang mari kita melihat penyebab kedua, yaitu manusia telah menjadi daging. Kejadian 6:3 mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN: ‘Roh-Ku tidak akan selama-lamanya berebut dengan manusia, karena manusia itu adalah da-ging’” (Tl.). Pada kejatuhan kali pertama, manusia tidak menggunakan rohnya. Pada kejatuhan kali kedua, manusia berlebihan menggunakan jiwanya. Kain sama sekali tidak mengetahui rohnya, malah memakai jiwanya secara ber-lebihan sehingga menciptakan agama baru. Pada kejatuhan kali ketiga, manusia mengumbar tubuhnya yang jatuh, sehingga menjadi daging. Manusia tidak hanya mengabaikan rohnya, bahkan jiwanya pun tidak dihiraukannya. Manusia telah mengabaikan kesadaran dan akal sehatnya.
Hari ini banyak orang juga berada dalam keadaan yang sama. Mereka tidak mempedulikan roh, tidak mempedulikan penyertaan Allah. Mereka juga tidak mempedulikan jiwa mereka, tidak mempedulikan kesadaran dan akal sehat mereka. Mereka hanya takut polisi. Jika Departemen Ke-amanan dan Departemen Kepolisian ditiadakan, daging ma-nusia segera muncul dan tersingkap; sama sekali tidak menghiraukan roh, kesadaran, dan akal sehat manusia. Manusia hanya bisa mengumbar dagingnya, berkelakuan hampir tidak berbeda dengan binatang. Dalam keadaan yang demikian, boleh dikata manusia sudah jatuh pada ujung batasnya. Kejatuhan kali pertama menyingkapkan manusia tidak menggunakan roh, kejatuhan kali kedua menyingkap-kan manusia berlebihan menggunakan jiwanya. Karena berlebihan menggunakan jiwanya, manusia jatuh lebih jauh lagi dan mulai mengumbar tubuhnya. Maka, manusia seluruhnya menjadi daging.
Alkitab mewahyukan bahwa musuh Allah yang paling jahat dan paling kuat adalah daging kita. Hal ini disingkapkan dalam Surat Roma, khususnya pasal 7 dan 8. Daging pasti dan mutlak dibenci oleh Allah. Allah sama sekali tidak mau bertoleransi pada daging. Dalam arti tertentu, Allah masih mau bertoleransi pada kesalahan dan pelanggaran kita, namun Dia tidak pernah mau bertoleransi pada daging kita. Segala sesuatu yang berasal dari daging kita adalah suatu penghinaan bagi Allah. Pada saat kejatuhan kali ketiga, segenap umat manusia telah menjadi daging. Sebab itu, Allah datang kepada Nuh, hamba-Nya, serta memberi tahu bahwa Ia akan membinasakan antero zaman itu.
b. Prosesnya
Prosesnya tidak sulit dipahami. Langkah pertama dari proses itu ialah memuaskan hawa nafsu daging. Ketika seseorang menjadi daging, ia tidak memiliki pilihan lain kecuali mengumbar hawa nafsu daging. Akibat pengumbaran hawa nafsu daging ini, manusia menjadi sangat jahat dan bejat (Kej. 6:5, 11-13). Alkitab sangat ekonomis dalam menggunakan kata-kata, tanpa memboroskan sepatah pun, namun dalam Kejadian 6, berkali-kali mengatakan bahwa bumi telah rusak, penuh dengan kekerasan. Dalam pandangan Allah, bumi sudah rusak. Bukan hanya jahat, bahkan sudah bobrok sampai taraf di mana Allah tidak bisa membiar-kannya lagi.
c. Akibatnya
(1) Menarik Kembali Roh Kudus —
Menyatakan Penolakan Allah
Akibat pertama dari kejatuhan manusia kali ketiga ialah penarikan kembali Roh Kudus, menyatakan penolakan Allah terhadap manusia. Allah berfirman, “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya berebut dengan manusia.” Perkataan ini menyiratkan pekerjaan karunia Roh Kudus Allah; membuktikan bahwa sebelum itu, Roh Allah terus-menerus bekerja bahkan berebut dengan manusia. Inilah kali kedua kitab Kejadian menyinggung tentang Roh. Kali pertama disebutkan pada Kejadian 1:3 bahwa Roh Allah melayang-layang di atas situasi maut, untuk mendatangkan hayat. Ketika Roh Kudus disebut untuk kali kedua, kita diberi tahu bahwa Roh Allah tidak lagi berebut dengan manusia, yang membuktikan bahwa sebelum ini, Roh Allah bekerja dan berebut dengan manusia. Allah itu Perahmat. Jangan mengira bahwa Habel itu baik berdasarkan dirinya sendiri. Mus-tahil. Semua para saleh terkasih yang disebut dalam Kejadian 5, dibantu oleh Roh Allah. Apakah Anda mengira Henokh mampu hidup bergaul dengan Allah berdasarkan dirinya sendiri? Saya tidak percaya. Henokh justru dibantu, dikuatkan, dan didorong oleh Roh Allah. Roh Allah berebut melawan pemberontakan manusia. Tetapi pada Kejadian 6, keadaannya mencapai pada tingkat di mana Roh Allah tidak lagi berebut dengan manusia. Alangkah menakutkan! Jika Roh Allah ditarik kembali dari kita, alangkah mengerikan!
(2) Datangnya Air Bah
Akibat kedua dari kejatuhan manusia kali ketiga ialah datangnya air bah yang membawa hukuman pemusnahan (Kej. 6:17; 7:10-12). Akibat kejatuhan manusia kali ketiga ini ada sesuatu yang bagus, yakni Roh Kudus ditarik kembali; tetapi juga ada sesuatu yang mengerikan, yakni hukuman air bah datang, demi melaksanakan hukuman mati kepada umat manusia yang telah jatuh.
d. Lambang Zaman Sekarang
Kejatuhan manusia kali ketiga merupakan sebuah lambang dari zaman sekarang. Tuhan Yesus mengumpamakan zaman sekarang ini sama seperti zaman kejatuhan manusia kali ketiga (Mat. 24:37-39). Tuhan berkata bahwa sebelum air bah datang, orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, tiba-tiba air bah datang, melenyapkan mereka semua. Orang tidak tahu yang lain, kecuali makan dan mi-num, kawin dan mengawinkan. Pada kejatuhan kali ketiga, manusia yang jatuh menyalahgunakan perkawinan. Situasi dewasa ini persis sama — makan minum, dan menyalahgunakan perkawinan. Menikah memang tidak salah, pernikahan itu kudus. Tetapi jangan disalahgunakan. Pernikahan kita harus seturut prinsip Allah. Ini akan mendatangkan karunia dan berkat Allah ke atas kita dan keluarga kita. Sebaliknya, penyalahgunaan pernikahan akan mendatangkan hukuman ke atas manusia. Lihatlah situasi zaman sekarang. Persis sama dengan zaman sebelum air bah. Orang hanya tahu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, tanpa mengetahui hukuman yang akan menimpa. Bagi mereka, seolah-olah dalam alam semesta ini tidak ada Allah. Mereka mengabaikan hukuman yang akan datang. Namun Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah tetap ada di atas takhta-Nya dan bumi tetap adalah milik-Nya. Pada suatu hari, Dia akan turun tangan dan melaksanakan penghu-kuman atas zaman yang fasik ini. Apa yang harus kita per-buat? Kita harus pergi kepada Nuh dan melihat apa yang ia perbuat. Berita berikutnya kita akan membahas tentang Nuh.