← Daftar isi Kejadian (2) · bab 14/14

JALAN PENYELAMATAN DARI KEJATUHAN MANUSIA KALI KETIGA (1)

Dalam berita ini, kita meneruskan mempelajari kejatuhan manusia kali ketiga. Meskipun tidak ada seorang pun yang suka mendengarkan istilah “jatuh”, namun kita perlu mengenal bahwa kejatuhan yang dilukiskan dalam kitab Kejadian itu adalah latar belakang dari sebuah gambar yang sangat positif, yang menyatakan apa yang telah Allah kerjakan untuk manusia yang jatuh. Tujuan utama pencatatan kitab Kejadian bukan untuk memperlihatkan kejatuhan, melainkan untuk menyatakan seberapa besar yang dapat dilakukan kasih karunia Allah bagi manusia yang telah jatuh. Kejatuhan merupakan latar belakang yang hi-tam, yang membantu kita nampak gambar yang putih. Tanpa latar belakang hitam, niscaya gambar putih itu tidak dapat memberi kesan yang dalam. Pada Kejadian 3 terlihat kejatuhan manusia kali pertama dan apa yang Allah kerjakan bagi umat manusia yang jatuh. Pada Kejadian 4 terlihat kejatuhan manusia kali kedua dan pekerjaan Allah yang lebih lanjut bagi manusia yang jatuh. Dalam berita ini kita akan melihat apa yang Allah kerjakan sehubungan dengan kejatuhan manusia kali ketiga.

e. Jalan Penyelamatan dari Kejatuhan Kali ketiga

Jika kita menelaah kejatuhan manusia kali ketiga, kita akan nampak lebih banyak hal yang Allah kerjakan bagi kaum yang telah jatuh. Setelah kejatuhan kali pertama, Adam dan Hawa telah diselamatkan. Diselamatkan bukanlah perkara kecil. Meskipun Adam dan Hawa jatuh, namun mereka telah diselamatkan. Adam mengucapkan: “hidup,” Hawa mengucapkan: “aku telah mendapat.” Mereka beroleh selamat bukan bersandar diri sendiri, melainkan bersandar Kristus. Dialah anak domba dan keturunan benih perempuan. Setelah melihat bagaimana Allah memperlakukan Adam dan Hawa, kita melihat Habel mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah (Ibr. 11:4). Kurban adalah untuk dosanya, sedang persembahan adalah untuk perkenan Allah. Mungkinkah orang yang jatuh diperkenan Allah? Habel adalah orang yang jatuh, tetapi ia diperkenan Allah. Ia tidak saja beroleh selamat, tetapi juga memuaskan Allah. Bukan bersandar dirinya sendiri Habel diperkenan Allah, melainkan bersandar Kristus maka ia diperkenan oleh Allah. Dari Adam kita beralih kepada Habel dan dari Habel kita beralih kepada Enos. Enos memulai hal menyeru Tuhan untuk menikmati segala kelimpahan Tuhan. Atas Enos, bukan seka-dar masalah beroleh selamat atau diperkenan Tuhan, lebih-lebih masalah menyeru Tuhan, yang memungkinkan manusia menikmati segala apa adanya Allah. Dari pasal 4 maju ke pasal 5, kita menemukan kelimpahan yang lebih banyak. Pada pasal 5 kita nampak bahwa orang-orang yang beroleh selamat, hidup, melahirkan, dan bergaul dengan Allah. Setelah semua ini, pasal 6 masih lebih banyak lagi. Di sana kita melihat Nuh sudah pasti beroleh selamat, diperkenan Allah, menyeru nama Tuhan, dan menikmati segala apa adanya Allah. Nuh pun hidup dan melahirkan. Ia memperanakkan tiga putra. Selain semua aspek yang positif ini yang menyangkut hidup orang-orang yang telah beroleh selamat, Kejadian 6 masih memperlihatkan kepada kita lebih banyak butir lagi.

(1) Hidup Bergaul dengan Allah

Kejadian 6:9 memberi tahu kita bahwa Nuh hidup bergaul dengan Allah. Tidak perlu diragukan, Nuh telah mewarisi semua berkat rohani dari leluhurnya, yakni Adam, Habel, Enos, Henokh, dan seterusnya. Ia juga mengikuti Henokh, kakek buyutnya, hidup bergaul dengan Allah di tengah-tengah zaman yang bengkok, jahat, dan cabul. Saya yakin ia sangat dipengaruhi oleh cerita yang didengarnya tentang Henokh, kakek buyutnya, yang menempuh hidup dengan takwa. Nuh mewakili kesinambungan yang perkasa dari garis hayat, bahkan jauh lebih berkembang, sehingga garis ini makin maju.

(a) Mendapatkan Kasih Karunia di Mata Tuhan

Kejadian 6:8 mengatakan, “Nuh mendapat kasih karu-nia di mata Tuhan.” Mendapatkan kasih karunia di mata Tuhan bukanlah perkara kecil. Apa arti “mendapat kasih karunia”? Perhatikan, ayat ini bukan mengatakan, “Allah bersikap murah hati kepada Nuh”, atau “Allah memberi karunia kepada Nuh.” Bukan, di sini mengatakan “Nuh mendapat kasih karunia.” Ingat, kitab Kejadian adalah sebuah kitab yang penuh dengan benih-benih rohani. Pada Kejadian 6:8, Alkitab pertama kali menyebut “kasih karunia”. Jadi, Nuh bisa mempunyai keadaan yang demikian itu dikarenakan ia mendapat kasih karunia di mata Tuhan.

Ibrani 4:16 memberi tahu kita untuk menghampiri takhta kasih karunia (anugerah) dengan berani, agar kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya. Ketika saya masih muda, setiap hari saya berdoa, “Tuhan, aku menghampiri takhta kasih karunia-Mu. Di hadapan takhta kasih karunia-Mu, aku mencari pertolongan pada waktunya. Tuhan, setiap menit aku perlu karunia-Mu. Tidak hanya setiap tahun, setiap minggu, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit, aku perlu karunia-Mu. Tanpa karunia-Mu, aku tidak bisa menanggung apa pun.” Sampai hari ini, setiap menit saya tetap memerlukan kasih karunia Tuhan. Mungkin beberapa menit kemudian anggota keluarga saya mempersulit saya, atau mungkin ada seorang saudara merepotkan saya, mungkin ada telepon dari seorang saudari. Karena itu, saya terus-menerus memberi tahu Tuhan: “Tuhan, setiap menit aku perlu kasih karunia-Mu, aku tahu, pada-Mu ada kasih karunia, dan Engkau telah menyediakan kasih karunia bagiku. Tuhan, karena kasih karunia membutuhkan kerja samaku, maka aku berlutut di depan takhta karunia-Mu, untuk mendapatkan karunia guna memenuhi keperluanku.” Sering kali kita tidak sanggup menanggung situasi kita, juga tidak sanggup menghadapi peristiwa-peristiwa yang menimpa diri kita. Namun ada satu tempat yang disebut takhta kasih karunia. Begitu kita dengan penuh keberanian datang pada takhta kasih karunia, kita pasti menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya.

Percayakah Anda bahwa berdasarkan dirinya sendiri, Nuh bisa mendapatkan kasih karunia di mata Tuhan? Saya tidak percaya bahwa dia berbuat bersandarkan dirinya sendiri. Air bah datang 1656 tahun setelah Adam diciptakan. Adam hidup selama 930 tahun. Jarak antara tahun Adam meninggal sampai tahun air bah datang adalah 726 tahun. Sewaktu Adam berumur 622 tahun, Henokh terlahir, dan ia hidup bersama-sama Adam selama 308 tahun. Setelah Adam meninggal, Henokh masih hidup 57 tahun lagi, sebelum diangkat oleh Allah. Nuh lahir 69 tahun kemudian. Jadi, Nuh lahir 126 tahun setelah Adam meninggal. Ketika Henokh berumur 65 tahun, ia memperanakkan Metusalah, dan Henokh masih hidup 300 tahun lagi, lalu diangkat Allah. Metusalah hidup 969 tahun, meninggal pada waktu Nuh berusia 600 tahun, tepat pada tahun air bah datang. Tidak diragukan, Henokh mengetahui perihal Allah dari moyang-nya, bahkan mungkin sekali langsung dari Adam. Henokh menamai anaknya “Metusalah”, artinya “ketika ia mening-gal. Ia akan dikirim”, hal ini membuktikan bahwa Henokh mengajarkan perihal Allah kepada anaknya. Metusalah tentu memberi tahu Lamekh, anaknya, dan Lamekh memberi tahu Nuh anaknya. Nuh dilahirkan di dalam keluarga yang takwa, serta belajar semua perihal Allah dari moyangnya. Sehingga dia menyadari keperluannya akan kasih karunia. Orang-orang sezamannya penuh kebejatan dan kekerasan. Umat manusia telah menjadi milik daging. Nuh hidup di tengah-tengah generasi yang bengkok, bejat, dan jahat. Tetapi orang tua dan leluhurnya mengajari dia perihal Allah, sehingga dia menyadari dirinya memerlukan kasih karunia Allah.

Sekarang kita bisa melihat, mengapa Nuh mendapatkan kasih karunia. Ayat 3 dalam pasal yang sama menunjukkan bahwa Allah sudah menyediakan karunia bagi manusia yang jatuh, karena Roh-Nya selalu berebut dengan manusia, siap memberi karunia kepada orang yang membutuhkan. Namun, kasih karunia ini memerlukan kerja sama manusia. Nuh justru menunjukkan kerja sama yang diperlukan, demikianlah ia mendapatkan kasih karunia.

Apakah kasih karunia? Kebanyakan orang Kristen mengira bahwa kasih karunia adalah sesuatu pemberian Allah. Kalau saya memberi Anda sebuah Alkitab sebagai hadiah, itulah kasih karunia. Pengertian ini tidak salah. Namun, dalam Alkitab kasih karunia mempunyai arti yang jauh melebihi itu. Kasih karunia bukan hanya suatu pemberian Allah, bahkan Allah sendiri bekerja bagi kita. Kasih karunia bukan hanya suatu benda obyektif yang Allah berikan kepada kita, melainkan Allah sendiri mendatangi kita, bekerja bagi kita. Lemahkah Anda? Allah akan datang men-jadi kekuatan Anda; kedatangan Allah itulah kasih karunia. Tidak sanggupkah Anda menghadapi situasi sekeliling Anda? Itu tidak seharusnya menjadi persoalan, karena Allah akan datang menyertai Anda dan menghadapi situasi itu bagi Anda dan di dalam Anda. Inilah kasih karunia. Bila Anda meneliti Kejadian 6, Anda akan nampak bahwa karunia di sini bukan berarti banyak barang yang Allah berikan kepada Nuh, melainkan berarti Allah mendatangi Nuh dan menyertai Nuh. Penyertaan Allah itulah kekuatan dan tenaga Nuh. Nuh tidak hanya secara obyektif menikmati sesuatu yang Allah berikan kepadanya, lebih-lebih ia menikmati Allah sendiri. Di tengah-tengah angkatan yang bengkok, jahat, dan cabul, yaitu angkatan yang penuh godaan yang tidak dapat ditahan oleh orang, Nuh mendapatkan kasih karunia di mata TUHAN. Allah datang menguatkan Nuh, berdiri mendampingi Nuh, dan menunjang Nuh. Inilah kasih karunia yang Nuh dapatkan, dan inilah kasih karunia yang kita butuhkan hari ini.

Coba lihat keadaan masyarakat hari ini. Saya bahkan tidak berani membaca koran, karena di dalamnya terkan-dung banyak godaan. Ketika berjalan sepanjang jalan, saya hampir tidak berani memperhatikan etalase-etalase toko. Inilah alasannya mengapa saya tidak suka mengunjungi pusat perbelanjaan. Banyak pusat perbelanjaan benar-benar milik Iblis, barang-barang yang dipamerkan adalah berasal dari neraka. Percakapan yang Anda dengar dari radio, dari tempat kerja, dari sekolah, semuanya jahat, bejat, dan setani. Sukarlah bagi siapa pun, sebagai manusia yang jatuh, untuk berdiri tegap dalam situasi yang demikian. Zaman ini betul-betul telah bengkok, jahat, dan cabul; penuh dengan perzinaan dan pengumbaran hawa nafsu. Orang-orang membicarakan hal-hal amoral tanpa perasaan malu sedikit pun. Siapa yang bisa berdiri teguh di tengah-tengah angkatan yang demikian? Tidak seorang pun dari kita yang mampu. Di dalam kita ada sifat kejatuhan, setiap orang juga memiliki sifat jahat ini. Kita perlu kasih karunia. Kita harus dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih ka-runia sambil berkata, “Tuhan, aku di sini; aku perlu kasih karunia-Mu. Aku datang bukan mohon Engkau memberi suatu barang yang bagus. Aku datang untuk mendapatkan kasih karunia untuk memenuhi keperluanku. Tuhan, aku mustahil pergi bekerja atau ke sekolah tanpa hadir-Mu. Tuhan, tanpa penyertaan-Mu, aku tidak bisa pergi bekerja atau pergi ke sekolah. Tuhan, tanpa penyertaan-Mu, aku ti-dak bisa pergi ke pusat perbelanjaan. Tuhan, aku perlu Engkau berdiri bersamaku. Datanglah, menjadi kekuatanku. Tuhan, topanglah, tunjanglah aku.”

Dewasa ini, hal bercerai merupakan godaan yang sangat besar bagi kaum muda. Godaan ada di luar, hawa nafsu ada di dalam. Siapa yang bisa bertahan di zaman semacam ini? Godaan sedemikian besar! Karena tidak ada seorang pun di antara kita yang dapat tegap berdiri, kita perlu kasih karunia untuk menjadi Nuh hari ini. Hanya kasih karunia yang bisa membuat Anda bersatu dengan istri atau suami Anda. Hanya kasih karunia yang memungkinkan kita mengasihi istri atau suami tanpa perubahan. Tanpa kasih karunia, siapa pun tidak mampu, karena godaan terlalu banyak. Arus dan kecenderungan zaman ini terlalu kuat. Banyak orang seolah-olah menganggap tanpa bercerai itu kurang modern. Mereka berkata bahwa untuk mengikuti arus zaman, perlu adanya perceraian. Kita sungguh perlu kasih karunia! Kita perlu Allah datang dan menjadi ke-kuatan dan segala sesuatu kita. Inilah kasih karunia. Inilah yang dibutuhkan Nuh, dan yang juga kita butuhkan hari ini. Nuh telah mendapatkan kasih karunia ini, kita juga harus mencarinya. Karena Nuh telah mendapatkan kasih karunia, maka mudah baginya untuk hidup bergaul dengan Allah.

Para orang tua merasa khawatir terhadap putra putri mereka di sekolah. Godaan yang terbesar yang mereka hadapi di sekolah hari ini ialah masalah narkoba. Sampaisampai di sekolah dasar pun ada pecandu heroin. Betapa kasihan! Kaum remaja mustahil bertahan terhadap godaan-godaan semacam ini. Mereka perlu kasih karunia. Tidak ada seorang pecandu yang bisa mengalahkan kebiasaan ini ber-dasarkan dirinya sendiri. Anda perlu menghampiri takhta kasih karunia untuk mendapatkan kasih karunia. Nuh menemukan kasih karunia dan hidup bergaul dengan Allah. Kasih karunia membantu dia bergaul dengan Allah.

(b) Karena Iman

Karena iman, Nuh hidup bergaul dengan Allah (Ibr. 11:7). Seperti yang kita tunjukkan dalam Pelajaran-Hayat Surat Roma, iman bukan berasal dari diri kita sendiri. Iman tidak lain adalah unsur Allah yang ditransfusikan ke dalam kita. Semakin banyak kita menjamah takhta kasih karunia Allah, semakin banyak kita menengadah kepada Tuhan, kita akan semakin ditransfusi dan diinfus dengan segala apa adanya Dia. Ketika Dia tertransfusi dan terinfus ke dalam kita, unsur kudus yang tersalur ke dalam kita menjadi iman kita. Ketika Anda menjamah takhta kasih karunia, dan ditrans-fusi oleh Allah, dengan sendirinya Anda akan percaya kepada Allah. Tidak perlu Anda berusaha untuk percaya kepada-Nya. Begitu kadar Allah terinfus ke dalam Anda, dari dalam Anda akan timbul sesuatu yang percaya kepada-Nya. Inilah Allah sendiri yang tertransfusi ke dalam Anda dan percaya bagi Anda. Kita tidak tahu bagaimana percaya, dan tidak dapat percaya. Namun, bila kita dengan sederhana menghampiri takhta kasih karunia, menengadah kepada-Nya, menjamah-Nya, dan mendapatkan karunia-Nya, Anda akan diinfus oleh Allah Sang iman. Dia akan di dalam Anda percaya bagi Anda. Dia akan menjadi iman Anda. Iman berasal dari sumber ini.

(c) Dibenarkan Allah

Nuh percaya kepada Allah, hasilnya, ia menjadi orang yang benar. Dia benar terhadap Allah, terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri. Orang-orang dunia, tidak ada seorang pun yang benar terhadap Allah, terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri. Nuh adalah orang yang benar (Yeh. 14:14). Ibrani 11:7 mengatakan, “Ia menjadi ahli waris kebenaran sesuai dengan imannya.”

Pertama, Nuh mendapatkan kasih karunia. Kedua, karena Allah telah ditranfusikan ke dalam dirinya, maka dia percaya kepada Allah. Karena unsur iman Allah sudah tertransfusi ke dalamnya, maka Nuh mempunyai kemampuan untuk percaya. Dia percaya, lalu imannya itu dihitung oleh Allah sebagai kebenarannya, sama seperti yang diperbuat Allah terhadap Abraham (Rm. 4:3, 9). Selain itu, karena ia mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka karunia ini menguatkan dan membantunya menempuh hidup yang benar. Dalam penempuhan kehidupan sehari-hari, kebenaran diperhidupkan dari dirinya. Kebenaran ini bukan hanya obyektif, tetapi juga subyektif. Mula-mula ia menerima kebenaran yang obyektif; akhirnya, dia memperhidupkan kebenaran yang subyektif. Demikianlah Nuh mewarisi ke-benaran di mata Allah.

Dalam Kejadian 6, kita melihat tiga butir benih yang penting: daging, kasih karunia, dan kebenaran. Perihal daging ini berkembang sepenuhnya dalam Perjanjian Baru, terutama dalam Surat-surat Kiriman para rasul, khususnya dalam Roma 7 dan 8. Kita sudah membahasnya dalam Pelajaran-Hayat Surat Roma, maka di sini kita tidak perlu mengulangi lagi.

Tahukah Anda, karunia Allah menimpa dikarenakan daging? “Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kita, . . . penuh kasih karunia . . .” (Yoh. 1:14 Tl.). Dikatakan dari aspek yang baik, di mana ada daging, di situ ada kasih karunia. Apakah daging? Daging adalah karya be-sar Iblis. Tahukah Anda, hari ini Iblis ada di mana? Dia ada di dalam daging manusia. Daging merupakan balai pertemuan Iblis, dosa, dan maut. Ketiga musuh besar ini terus-menerus berkumpul di balai daging kita, dan pertemuan mereka tidak pernah usai. Saya tidak dapat memberi tahu Anda, berapa ribu tahun pertemuan ini telah berlangsung. Pendeknya, daging itu jelek dan busuk.

Lalu, apakah kasih karunia? Kasih karunia adalah Allah sendiri dinikmati oleh kita, dan membantu kita menghadapi situasi daging. Dipandang dari satu aspek, kalau tidak ada daging, kasih karunia tidak begitu diperlukan. Kalau bukan karena daging, Allah mungkin tidak perlu memberi kita begitu banyak kasih karunia. Kita telah melihat, menurut Ibrani 4:16, kita bisa mendapatkan kasih karunia untuk memenuhi keperluan kita tepat pada waktunya. Unsur apa yang membuat kita memerlukan kasih karunia? Daging, itulah yang terutama. Saya bersimpati kepada para remaja, karena saya sendiri pernah sebagai remaja. Ketika saya melewati berbagai pengalaman manusia, saya mengenal bahwa kita kebanyakan berada di dalam daging. Meskipun saya tidak suka berada di dalam daging, namun daging ada di sini. Pada suatu kali, saya marah kepada Tuhan, berkata kepada-Nya, “Tuhan, mengapa Engkau tidak mau menying-kirkan dagingku?” Kemudian Dia menampakkan kepada saya bahwa dalam satu aspek, saya masih memerlukan daging, sebab daging itulah faktor yang memaksa saya menghampiri takhta kasih karunia. Saya sungguh tidak berdaya terhadap daging, yang dapat saya lakukan hanyalah menghampiri takhta kasih karunia. Meskipun saya tidak dapat berbuat apa-apa, namun saya dapat menuju satu tempat — takhta kasih karunia.

Jika Anda membaca Perjanjian Baru dengan teliti, Anda akan nampak di mana ada daging, di situ juga ada karunia. Hal ini khususnya nyata dalam Surat Galatia. Galatia 5:4 mengatakan bahwa jika kita mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, kita hidup di luar kasih karunia (anugerah), sehingga kita berada di dalam daging. Surat Galatia menanggulangi perkara daging; juga banyak menyinggung tentang kasih karunia. Jangan berkata bahwa Anda tidak mempunyai daging, Anda justru mempunyai banyak daging. Bahkan sekalipun Anda sedang membaca berita ini, masih ada daging yang bergumul dengan Anda. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mari, kita menghampiri takhta kasih karunia guna menanggulangi daging. Karena daging selalu ada pada kita, maka kita perlu kasih karunia.

Daging adalah kehadiran Iblis, sedang kasih karunia adalah kehadiran Allah. Untuk menanggulangi kehadiran Iblis, kita memerlukan kehadiran Allah. Di manakah Iblis? Jangan mengira bahwa Iblis jauh dari Anda. Dia justru ada di dalam Anda. Setiap menit, bahkan saat Anda sedang ber-doa, Iblis ada di dalam daging Anda. Sering kali, doa saya dirusak oleh daging. Bahkan pada waktu yang paling kudus, yakni waktu berdoa, daging tetap adalah perusak. Perusakan daging memaksa kita menghampiri takhta kasih karunia. Meski daging merupakan kehadiran Iblis, namun kita mempunyai kaih karunia yang melawan dan mengatasinya, yaitu kehadiran Allah. Berapa kuatkah Anda? Cukup kuat-kah Anda mengalahkan Iblis? Apakah Anda mengira bahwa Anda sanggup menanggulangi Iblis? Lupakanlah pikiran semacam itu! Iblis jauh lebih besar daripada kita. Walaupun Iblis jauh lebih besar daripada kita, namun Allah jauh lebih besar daripada Iblis. Allah itulah yang paling besar. Karena Iblis hadir di sini bersama-sama kita, maka kita perlu hadir Allah. Kita perlu berkata, “Ya Tuhan, Engkau tahu musuh-Mu ada di sini. Engkau harus datang dan mendampingiku menghadapinya.” Ketika Allah datang dan mendampingi kita, itulah kasih karunia.

Allah itu Sang berdaulat dan penuh hikmat. Dia tahu, jika Dia menyingkirkan daging, kita akan jarang dengan tekun mencari kasih karunia-Nya. Di bawah daulat dan hikmat-Nya, Ia sengaja meninggalkan daging di sini; Dia tahu, pada satu pihak, daging berguna bagi kita. Siang malam daging membantu kita berpaling kepada takhta kasih karunia. Saat kita matang, yaitu saat kita terangkat, kita akan berpaling kepada daging serta berkata, “Hai daging kecil, waktumu sudah habis, sekarang kau boleh pergi!” Sebelum hayat dewasa, pada satu pihak, kita masih memerlukan daging, bukan untuk merusak kita, melainkan untuk mendesak kita menghampiri takhta kasih karunia.

Di mana ada daging, di sana juga ada kasih karunia; di mana ada kasih karunia, di sanalah juga ada hasil kasih karunia — kebenaran. Roma 5:17 menempatkan kasih karunia dan kebenaran bersama-sama. Ayat ini mengatakan, “Yang telah menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Kebenaran selalu menemani kasih karunia. Tidak ada seorang suami yang bisa benar terhadap istrinya, jika ia tidak memiliki kasih karunia. Sebaliknya, tidak ada seorang istri yang benar terhadap suaminya, jika ia tidak memiliki kasih karunia. Hanya ada semacam istri atau suami yang benar, yaitu istri atau suami yang mendapatkan kasih karunia. Begitu kita mendapatkan kasih karunia, kasih karunia itu menjadikan kita benar terhadap suami atau istri. Pernah, seorang suami yang telah bertahun-tahun dinasihati orang-orang agar memperlakukan istrinya dengan baik, namun dia tak pernah insyaf. Pada suatu malam, dia mendapatkan kasih karunia, dan kasih karunia menghasilkan kebenaran, maka sikapnya pun berubah.

Berdasarkan kuasa kasih karunia, kekuatan kasih karunia, dan hayat kasih karunia, baru kita dapat benar terhadap Allah, terhadap orang, dan terhadap diri sendiri. Kasih karunia menghasilkan kebenaran. Kebenaran itulah hasil kasih karunia yang tertinggi. Roma 5:21 mengatakan, “Demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, melaui Yesus Kristus, Tuhan kita” (Tl.). Jadi, kebenaran dan kasih karunia selalu bergandengan. Di mana daging, di sana juga kasih karunia; dan di mana kasih karunia, di sana juga kebenaran dihasilkan.

Setiap orang yang mendapatkan kasih karunia adalah benar. Karena kasih karunia, kita ini lebih benar daripada orang lain. Kita bukannya benar karena diri kita sendiri, melainkan karena kasih karunia. Bahkan kita boleh bermegah bahwa orang-orang dalam gereja lebih benar daripada orang-orang lain. Mereka itu benar dikarenakan mendapatkan kasih karunia. Kebenaran tidak hanya menjadi kebanggaan Nuh, juga menjadi kebanggaan Allah. Allah bisa bermegah kepada musuh-Nya. Allah dapat membanggakan kebenaran Nuh kepada generasi yang bengkok dan bejat. Kebenaran Nuh memperkuat kedudukan Allah untuk melaksanakan penghukuman terhadap angkatan yang fasik itu.

(2) Membangun Bahtera

Karena Nuh telah mendapat kasih karunia, hidup bergaul dengan Allah demi iman, dan mewarisi kebenaran, maka Allah sangat berkenan kepadanya. Allah selalu tersenyum simpul kepada Nuh. Kapan saja Nuh selalu bersama dengan Allah, Allah selalu tersenyum kepadanya. Bagaimana dengan Anda? Tersenyumkah Allah kepada Anda? Apakah Dia senang bersama Anda? Jika ya, Anda seharusnya bisa secara diam-diam berkata kepada Allah, “Amin.” Karena Allah berkenan kepada Nuh, maka Dia membukakan diri-Nya kepada Nuh. Karena itu, Nuh tidak hanya sebagai orang yang bergaul dengan Allah, tetapi juga sebagai orang yang membangun bahtera. Bahtera adalah untuk keselamatan. Pada masa itu, bahtera keselamatan dibangun oleh Nuh. Habel mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah, Enos menyeru nama Tuhan, Henokh hidup bergaul dengan Allah, tetapi Nuh selain melakukan semuanya ini, masih ditambahkan lagi satu hal — ia membangun bahtera.

(a) Menerima Wahyu

Terlebih dulu, Nuh membangun bahtera berdasarkan wahyu yang diterimanya (Kej. 6:14-16). Nuh hidup bergaul dengan Allah, Allah berkenan kepada Nuh, sehingga menyatakan isi hati-Nya kepada Nuh, sambil mewahyukan rahasia-Nya kepada Nuh. Tidak ada satu orang lain pun yang tahu situasi sesungguhnya. Orang-orang dunia di masa itu telah mabuk, buta, terselubung, tertutup, dan terbius. Mereka tidak tahu di mana mereka, atau apa yang akan terjadi. Mereka buta dan terbius hawa nafsu daging. Lihatah keadaan hari ini, persis sama. Manusia menyukai harta benda, mencintai diri sendiri, suka berpesta-pora, tepat seperti yang digambarkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 3:1-3. Orang-orang dunia menyukai harta benda, pesta-pora, mencintai diri sendiri, tidak mencintai Allah. Mereka terbius oleh hawa nafsu, pelesiran, kekayaan, dan perkara-perkara duniawi lainnya. Mereka tidak tahu di mana mereka, ke ma-na mereka, atau apa yang akan menimpa mereka. Tepat seperti zaman dulu. Namun, Nuh hidup bergaul dengan Allah; dia nampak keadaan sebenarnya, karena Allah mewahyukan rahasia-Nya kepadanya. Allah memberi tahu Nuh, “Aku te-lah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi” (Kej. 6:13). Di samping itu, Allah memberi tahu Nuh un-tuk melakukan sesuatu: membangun bahtera. Seturut wahyu Allah, Nuh lalu membangun bahtera.

Dikatakan dari satu aspek, kita juga berada dalam wahyu yang sama. Tidak tahukah Anda situasi yang sesungguhnya pada hari ini? Tidakkah tahukah Anda apa yang akan terjadi dan ke mana Anda menuju? Saya boleh bermegah kepada Anda bahwa saya tahu semuanya ini. Saya tahu di mana saya berada, saya tahu situasi dunia, saya tahu apa yang akan menimpa. Saya tahu ke mana saya akan pergi, saya juga tahu di mana gereja kelak akan berada. Kita bukanlah orang-orang yang ditutupi dan dibutakan oleh pesta-pora zaman ini. Orang dunia ditutupi oleh selubung lapis demi lapis. Mereka nonton bioskop, pergi ke klub malam, ke diskotik, ke segala macam tempat hiburan, pelesiran, dan senam raga. Mereka hanya tahu perkara-perkara itu. Namun semua perkara itu justru merupakan “obat bius”. Orang-orang dunia sudah terbius dan dibutakan. Apakah Anda orang semacam ini? Puji Tuhan! Selubung kita sudah tersingkap. Kita tahu di mana kita, kita tahu situasi dunia, kita tahu apa yang akan terjadi. Kita tahu apa yang akan Allah lakukan terhadap zaman yang fasik ini, kita tahu di mana kelak kita berada. Terhadap hal-hal ini, kita semua jelas. Kita sedang membangun bahtera, bukan sekadar untuk keselamatan diri sendiri, tetapi juga untuk keselamatan orang lain. Saudara saudari, apa yang sedang kita lakukan di sini? Di sini kita membangun bahtera keselamatan untuk mencapai tujuan Allah. Ketika kita ber-sidang bersama, kita sedang membangun. Kita tidak hanya mempersembahkan persembahan kepada Allah, tidak hanya menyeru nama Tuhan untuk menikmati segala kelimpahan-Nya, tidak hanya hidup, memperanakkan, dan bergaul dengan Allah, bahkan mendapat kasih karunia, menerima wahyu, serta membangun bahtera. Syukur kepada Tuhan, kita sedang membangun!

(b) Percaya Firman Tuhan

Setelah Nuh menerima wahyu, ia segera percaya kepada firman Allah (Ibr. 11:7). Menurut Alkitab, percaya selalu berarti percaya melalui firman. Roma 10:14 Paulus bertanya, “Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang dia?” Tanpa pemberitaan firman, manusia sulit percaya. Percaya timbul melalui mendengar firman. Karena itu, Roma 10:17 mengatakan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Tidak diragukan lagi, Nuh mendengarkan firman Allah dan percaya kepada firman yang ia dengar. Jangan berkata bahwa Anda tidak memiliki iman, jangan berkata bahwa Anda tidak dapat percaya. Percaya tidak tergantung pada diri kita, percaya tergantung pada Allah yang ada di dalam kita. Karena itu, kita perlu datang kepada-Nya agar Dia terinfus ke dalam kita. Kita perlu diinfus dengan apa adanya Allah. Allah itu percaya, Allah itu iman kita. Ketika Anda datang kepada-Nya, Anda diinfus oleh-Nya, mendengar firman-Nya, dengan sendirinya Allah yang terinfus ke dalam Anda itu akan percaya di dalam Anda dan bagi Anda. Inilah makna percaya firman-Nya.

(c) Memberitakan Kebenaran

Nuh memberitakan apa yang ia percayai dan laksanakan. Ia adalah seorang pemberita kebenaran (2 Ptr. 2:5). Mengapa Nuh memberitakan kebenaran? Karena pada zamannya, tidak ada satu pun yang benar. Bumi penuh dengan kekerasan dan kekerasan itu meliputi perampokan, pembu-nuhan, perzinaan, dan kelaliman. Nuh memberitakan ke-benaran, memberi tahu orang-orang untuk menjadi benar terhadap Allah, terhadap orang lain, dan terhadap diri sendiri; kalau tidak, penghakiman keadilan Allah akan menimpa mereka. Nuh memberitakan kebenaran semacam ini mungkin lebih dari 120 tahun lamanya (Kej. 6:3). Mungkin orang-orang menganggapnya sakit jiwa, sambil berkata kepadanya, “Nuh, apa yang kau katakan? Apa maksudmu mengatakan air bah akan datang? Pandanglah ke langit, bukankah masih sama seperti biasanya.” Saya yakin, selama 120 tahun itu, Nuh banyak menerima cemoohan dan olokolok.

(d) Menyiapkan Bahtera

Ketika Nuh memberitakan kebenaran, ia juga mem-bangun dan menyiapkan bahtera (1 Ptr. 3:20). Boleh jadi orang-orang berkata kepadanya, “Hai Nuh, apakah kamu sedang membangun rumah untuk cucumu? Kamu gila, mengira air bah akan datang. Apa gunanya kamu membangun bahtera semacam ini — 300 hasta panjangnya, 50 hasta tigginya, bertingkat 3, sebuah pintu pada lambungnya, dan sebuah jendela yang menghadap ke langit? Ini sungguh menggelikan!” Seandainya Anda adalah Nuh, maukah Anda membangun sebuah bahtera semacam ini? Mungkin istri Anda yang Anda cintai itu malah ikut menentang Anda. Betapa tidak mudahnya Nuh menempuh tahun-tahun yang panjang itu.

(e) Masuk Bahtera Bersama Keluarganya dan Segala Makhluk Lainnya

Setelah Nuh selesai menyiapkan bahtera, pada suatu hari, mungkin langit masih cerah, namun Allah menyuruh Nuh membawa istrinya, putra-putranya, dan menantu-menantunya untuk masuk bahtera (Kej. 7:13-16). Istri, anak, dan menantu Nuh semua amat patuh. Mereka masuk ke dalam bahtera bersama segala macam makhluk hidup.

Seandainya saya istri Nuh, saya mungkin bimbang. Namun mereka semua telah masuk.

(f) Tertutup di Dalam Bahtera oleh Tuhan

Setelah Nuh masuk ke dalam bahtera, Allah menutupnya di dalam (Kej. 7:16). Nuh masuk bahtera melambangkan kita masuk ke dalam Kristus. Masuk boleh saja bebas, namun sekali kita masuk, tidak ada jalan untuk keluar. Sekali Anda percaya kepada Tuhan Yesus, mustahil Anda bisa keluar dari-Nya. Masuk boleh tergantung pada Anda, namun keluar bukan tergantung pada Anda. Saya dapat bersaksi dengan tegas bahwa sepanjang 50 tahun yang lalu, saya pernah beberapa kali mencoba keluar dari Kristus, tetapi saya menemukan bahwa saya sudah terkunci di dalam. Begitu Anda masuk ke dalam Kristus, Anda akan terkunci di dalam Dia.

Ketika Nuh, keluarganya, dan makhluk-makhluk hidup telah masuk ke dalam bahtera, orang-orang mungkin berkata, “Lihat, orang-orang gila itu, apa yang sedang mereka perbuat? Mereka tidak mengurusi rumah dan segala sesuatu milik mereka. Mereka telah meninggalkan semuanya, hanya untuk masuk ke dalam bahtera.” Tuhan Yesus pernah ber-kata, “Sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia” (Mat. 24:37-39). Orang tetap makan, minum, kawin, dan mengawinkan; tetapi tiba-tiba Dia datang, sama seperti air bah datang pada zaman Nuh. Ketika air bah datang, Nuh dan sekeluarganya berada di dalam bahtera, terlindung, terjaga, dan terselamatkan.

Kita semua wajib menjadi Nuh hari ini. Marilah kita mengikuti jejak Nuh untuk mendapat kasih karunia, hidup bergaul dengan Allah demi iman, menerima wahyu, percaya firman Allah, bersaksi kepada orang lain tentang apa yang kita percayai, menerapkan apa yang kita percayai, dan melangkah ke dalam apa yang kita percayai. Akhirnya, Allah mengunci kita di dalam bahtera, sehingga kita terlindung dan beroleh selamat.

?