← Daftar isi Kejadian (2) · bab 8/14

KEJATUHAN MANUSIA KALI KEDUA (1)

Setelah kita melihat kejatuhan manusia kali pertama dan pengumuman Allah tentang Injil yang tercantum dalam Kejadian 3, kini marilah kita melihat Kejadian 4. Secara luaran kita sedang mempelajari kejatuhan manusia, namun sebenarnya kita sedang memperhatikan Injil. Jika tidak ada kejatuhan, tidak akan ada Injil. Kejatuhan manusia telah mendatangkan Injil Allah. Puji Tuhan. Dalam berita ini kita akan melihat kejatuhan manusia yang lebih lanjut, dan melihat pengumuman Injil oleh Allah yang lebih lanjut pula.

2. Kejatuhan Kali Kedua

a. Latar Belakang

Pada masa Kejadian 4, manusia telah jatuh (Kej. 3:6-8, 22-24), tetapi manusia telah menerima janji keselamatan Allah (3:15) dan juga telah mendapatkan jalan keselamatan Allah (3:21). Allah berjanji kepada Adam bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Adam percaya dan menjawab dengan menyebut istrinya “Hidup”. Tadinya Adam dan Hawa sedang menunggu keputusan hukuman mati. Maka, ketika mereka mendengar berita Injil, Adam lantas menyebut istrinya “Hidup”, bukan “mati”. Seperti telah kita tunjukkan dalam Berita ke-19, seluruh umat manusia sedang mati, tidak ada satu pun yang sedang hidup. Akan tetapi setelah manusia mendengar dan menerima Injil Allah, manusia pun hiduplah. Haleluya, kita hidup!

Jawaban Adam dalam Kejadian 3:20 menyatakan bahwa dia percaya Injil, tetapi pasal itu tidak menunjukkan bahwa Hawa juga percaya. Kejadian 4:1 memberi tahu kita bahwa Hawa pun percaya kepada Injil ini. “Kemudian Adam bersetubuh dengan Hawa, istrinya, dan mengandunglah perem-puan itu, lalu melahirkan Kain, maka kata perempuan itu: ‘Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki, TUHAN’” (Tl.). Hawa melahirkan seorang anak laki-laki, dan mena-mainya Kain, yang berarti “mendapatkan”. Meskipun Kain adalah orang yang jahat, tetapi namanya sangat berarti. Ke-tika Hawa melahirkannya, dia berkata, “Aku telah men-dapatkan!” Hawa tidak mendapatkan sebuah rumah atau sebidang tanah; dia mendapatkan seorang anak laki-laki. Da-lam konsepsinya, Kain adalah keturunan perempuan yang dijanjikan dalam Kejadian 3:15. Allah telah berjanji kepada Hawa bahwa keturunannya akan meremukkan kepala ular, yaitu kepala si jahat itu. Perkataan Hawa dalam Kejadian 4:1 membuktikan bahwa dia percaya kepada janji itu dan mengharapkan keturunan itu. Ketika anak laki-lakinya yang pertama lahir, ia berkata, “Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki, TUHAN.” Kalau Anda mengira terje-mahan langsung ini terlalu berani, saya minta Anda me-meriksa Alkitab bahasa Ibrani. Dalam Alkitab bahasa Ibrani, tidak ada kata depan di antara kata “laki-laki” dan “TUHAN” dalam Kejadian 4:1. Meskipun beberapa versi terjemahan menambah kata depan “dari” atau “dengan” atau “dengan pertolongan” (LAI), tetapi menurut teks dalam bahasa Ibrani, tidak ada kata depan pada bagian itu. Dalam bahasa Ibrani-nya hanya tertulis, “Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki, TUHAN.” Jadi, menurut pengertian Hawa, anak yang dilahirkannya dalam Kejadian 4:1 adalah penggenapan janji tentang keturunan perempuan dalam Kejadian 3:15. Karena itu ia menamai anaknya, TUHAN, Yehovah.

Namun, pernyataan ini terlalu pagi. Sesungguhnya Hawa tidak melahirkan anak laki-laki itu, TUHAN. Baru 4000 tahun kemudian, gadis Maria melahirkan seorang anak laki-laki dan nama-Nya disebut “Allah yang Perkasa” (Yes. 9:5). Anak yang dilahirkan di palungan di Betlehem itulah TUHAN. Namanya Yesus, yang berarti “TUHAN (Yehova), Juruselamat” (Mat. 1:21). Meskipun Hawa sendiri tidak me-lahirkan anak laki-laki itu, TUHAN, tetapi dia melambang-kan Maria, gadis yang melahirkan-Nya. Akhirnya keturunan perempuan yang sesungguhnya datang melalui gadis Maria. Karena itu, Yesus, Yehova, Juruselamat, baru benar-benar anak laki-laki itu, TUHAN. Dalam Kejadian 4:1, Hawa mengira bahwa yang dilahirkannya adalah anak itu. Dengan menamakan anaknya Kain, ini membuktikan bahwa Hawa percaya akan Injil yang diumumkan Allah dalam Kejadian 3:15. Meskipun harus melewati masa 4000 tahun lamanya, akhirnya anak laki-laki, TUHAN, itu datang melalui gadis Maria.

Adam dan Hawa percaya akan Injil. Adam percaya dan menyebut istrinya “Hidup”; Hawa percaya dan menyebut anaknya “mendapatkan”, ia mengira telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah. Adam dan Hawa tentunya juga mengabarkan Injil ini kepada anak-anak mereka, memberi tahu Kain dan Habel bagaimana mereka diciptakan oleh Allah, bagaimana Allah berpesan supaya mereka jangan makan buah pohon pengetahuan, bagaimana mereka melanggar perintah Allah dan makan buah pohon itu, bagaimana me-reka takut dan gentar saat menunggu keputusan hukuman mati, bagaimana Allah datang mengabarkan Injil dan ber-janji bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Selain itu, Adam dan Hawa pasti memberi tahu mereka bagaimana mereka telanjang di hadirat Allah, bagaimana Allah menyembelih domba sebagai kurban, sedang kulitnya digunakan sebagai pakaian penutup tubuh yang telanjang, sehingga mereka dapat berdiri di depan Allah dan dapat bersekutu dengan-Nya. Saya yakin Adam dan Hawa pasti mengabarkan Injil ini kepada anak-anak mereka. Tanda bukti ini terlihat dalam Ibrani 11:4 yang mengatakan, “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah kurban yang lebih baik daripada kurban Kain.” Menurut Alkitab, iman datang dari mendengar kabar yang diberitakan (Rm. 10:17, 14). Habel mempunyai iman yang demikian, bahkan menerapkan iman ini dan mempersembahkan kur-ban kepada Allah sesuai dengan imannya; ia tentu telah mendengar pemberitaan kabar gembira dari orang tuanya. Dari pemberitaan itu ia memperoleh iman. Dia tidak mempersem-bahkan kurban menurut pendapat atau pengetahuannya sendiri. Persembahannya bukan penemuannya sendiri. Ia mempersembahkan kurban berdasarkan iman yang sesuai dengan berita yang diberitakan oleh orang tuanya.

Sang ayah Adam, sang ibu Hawa, dan Habel, anak yang kedua, mereka percaya kepada Injil. Kita sebagai orang-orang yang beroleh selamat bukanlah anak sulung. Yang sulung sudah binasa (Kel. 12:29), yang kedua diselamatkan oleh iman. Kita yang percaya adalah anak yang kedua. Puji Tuhan, kita adalah putra-putra yang kedua, anak-anak yang kedua! Adam adalah ayah yang baik yang mempelopori per-caya kepada Injil. Saya harap semua ayah yang membaca berita ini akan menjadi pemimpin di dalam percaya kepada Injil. Hawa seorang istri dan ibu yang baik, juga orang yang percaya, mengikuti suaminya yang beriman dan membuka jalan bagi kepercayaan anaknya. Dalam Kejadian 4, kita mempunyai seorang ayah yang beriman, seorang ibu yang beriman, dan seorang anak yang beriman. Perhatikan ke-luarga ini — mereka semua percaya akan Injil yang sama. Pernah ada orang bertanya kepada saya, “Apakah Adam dan Hawa beroleh selamat?” Saya menjawab, “Mengapa tidak? Jika Anda beroleh selamat, mereka tentu juga beroleh selamat! Sebenarnya, mereka beroleh selamat jauh lebih dini daripada Anda.” Adam dan Hawa merupakan perintis dalam hal percaya kepada Injil. Adam membuka jalan, Hawa me-ratakan jalan, dan Habel yang menempuh jalan ini. Kini kita adalah pengikut Habel. Saya harap setiap ayah menjadi Adam, setiap ibu menjadi Hawa, dan setiap anak menjadi Habel. Keluarga pertama di bumi ini adalah keluarga Injil, keluarga beriman.

Habel sendiri adalah seorang beriman yang luar biasa. Mungkin Anda telah bertahun-tahun membaca Alkitab, tetapi Anda tidak pernah memperhatikan pekerjaan Habel. Dia adalah seorang “gembala kambing domba” (Kej. 4:2). Pada masa Habel, manusia tidak makan daging domba, karena sebelum air bah, manusia hanya diperbolehkan makan sayur-sayuran (Kej. 1:29). Hanya setelah air bah, Allah baru menyuruh manusia makan daging binatang seperti makan tumbuh-tumbuhan yang hijau (Kej. 9:3). Maka ketika Habel melakukan pekerjaan sebagai gembala, dia bekerja bukan untuk nafkahnya. Seolah-olah Kain jauh lebih cerdik, lebih riil daripada Habel, dia adalah “petani” (Kej. 4:2). Mungkin Kain berkata kepada adiknya, “Habel, apa yang kau kerjakan tidak riil. Apa gunanya memelihara domba? Lihat apa yang kukerjakan. Aku berladang, karena ladang akan meng-hasilkan makanan bagi hidupku. Bagaimana kau bisa memelihara hidup hanya dengan menggembalakan domba? Apa yang kau dapatkan hanyalah kulit penutup tubuh, tetapi engkau tidak mempunyai apa-apa untuk nafkahmu.” Jika kita masuk ke dalam pemikiran Kejadian 4:2, kita akan nampak bahwa Habel bekerja bukan untuk nafkahnya, te-tapi untuk kepuasan Allah. Habel tidak memperhatikan ke-puasannya sendiri; ia memperhatikan kepuasan Allah. Sebaliknya, Kain tidak memperhatikan kepuasan Allah, ia hanya memperhatikan nafkahnya sendiri.

Kejadian 4:2 memberi tahu kita tentang dua saudara sekandung: Yang pertama berladang, yang kedua menggem-balakan domba. Tanah menghasilkan makanan bagi manu-sia; sedang domba, terutama untuk kurban persembahan bagi Allah. Jadi, kita nampak bahwa Kain melayani bumi, sedangkan Habel melayani Allah. Saya ingin bertanya ke-pada setiap pembaca berita ini. Anda sedang menggembalakan domba atau sedang melayani bumi (dunia)? Jika kita hidup bagi Tuhan, maka setiap hal yang kita kerjakan ada-lah menggembalakan domba. Jika kita tidak melayani Tuhan, maka apa saja yang kita kerjakan adalah melayani bumi. Hanya ada dua golongan orang — orang yang melayani dunia dan orang yang menggembalakan domba bagi Allah. Golongan yang manakah Anda? Semua orang duniawi rajin dan tekun melayani dunia, sama sekali tidak mempedulikan Allah. Semua orang yang jatuh adalah orang yang melayani bumi, adalah budak bumi. Apakah Anda orang semacam ini? Budak semacam ini? Orang-orang yang melayani bumi meng-anggap kita, orang-orang yang menggembalakan domba bagi Allah, sebagai orang gila. Ketika mereka mengetahui bahwa kita bersidang terus-menerus, membaca Alkitab, saling bersekutu, menyanyi, memuji Tuhan, mereka merasa heran dan bertanya orang macam apakah kita ini? Kita adalah penggembala domba. Siang malam kita senantiasa meng-gembalakan domba. Jangan berkata bahwa Anda sedang mengajar di sekolah atau melakukan suatu bisnis. Anda ada-lah penggembala domba bagi Allah. Kita ini justru Habel, manusia yang lebih mementingkan menggembalakan domba bagi Allah daripada nafkah kita sendiri. Jangan berkata bah-wa hanya saudara-saudara pemimpin dalam gerejalah yang menggembalakan domba, sedang saudara saudari lainnya cukup memperhatikan pekerjaan, nafkah, dan usaha mereka sendiri. Kelihatannya Anda sedang menunaikan pekerjaan Anda atau sedang belajar di sekolah, namun sebenarnya Anda sedang menggembalakan domba bagi Allah. Pekerjaan dan pendidikan Anda itu nomor dua; menggembalakan dom-ba itulah yang utama. Aspek utama kehidupan kita adalah memperhatikan kepuasan Allah. Kita bukan melayani bumi, kita adalah penggembala domba bagi Allah.

Habel menggembalakan domba dengan satu tujuan, yaitu memberi kurban persembahan kepada Allah. Jadi, Habel mutlak melayani Allah. Setiap hal yang Anda kerjakan seharusnyalah untuk melayani Allah. Tidak seharusnya Anda berbuat sesuatu karena alasan lain. Kita adalah orang-orang yang melayani Allah, menggembalakan domba agar memperoleh kurban untuk dipersembahkan kepada Allah. Setiap perkara harus untuk tujuan ini. Karena Habel adalah seorang yang demikian, dia menjadi seorang beriman yang istimewa. Tidak hanya percaya kepada Injil, tetapi juga melaksanakan Injil dan hidup untuk Injil.

Ketika Hawa melahirkan Kain, dengan gembira ia ber-kata, “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki, TUHAN.” Boleh jadi tak lama kemudian, dia akan berkata dengan kecewa bahwa itu bukan TUHAN, melainkan seorang anak yang nakal. Apalagi Kain tidak mau mendengar perkataan-nya. Karena itu, sewaktu Hawa melahirkan anak laki-laki yang kedua, anak itu diberinya nama Habel, yang berarti “sia-sia”, seperti nafas yang menghilang. Pada kelahiran yang pertama, ia berteriak dengan gembira, “Aku telah men-dapat,” namun pada kelahiran anak yang kedua, dia menga-takan dengan putus asa, “sia-sia”. Di sini mengandung arti yang sangat dalam. Kita semua sia-sia; tetapi kita ini gem-bala domba. Kita tidak memiliki apa-apa dan bukan siapa-siapa, melainkan gembala domba bagi Tuhan. Saya merasa sulit menjawab orang-orang yang bertanya tentang pekerjaan saya. Sering saya menjawab, “Saya sulit menjawabnya. Di satu pihak, saya tidak terhitung apa-apa; namun di pihak lain, saya sangat luar biasa.” Di satu pihak, saya bukan apa-apa, saya sia-sia; di pihak lain, saya adalah orang yang luar biasa, sedang melakukan pekerjaan yang luar biasa, yakni menggembalakan domba bagi Allah. Tidak ada pekerjaan yang lebih luar biasa daripada menggembalakan domba bagi Allah. Inilah Habel. Kita dilahirkan sebagai manusia yang sia-sia. Jika kita tidak menggembalakan domba bagi Allah, maka semua apa adanya kita dan apa yang kita lakukan adalah “sia-sia belaka” (Pkh. 1:2). Puji Tuhan, di dalam kesia-siaan, kita sedang menggembalakan domba bagi kepuasan Allah. Sebab itu, kita tidak sia-sia lagi; kita sedang melakukan satu pekerjaan yang luar biasa untuk memuaskan Allah.

b. Penyebabnya

Dalam Kejadian 4 kita nampak dua contoh. Habel adalah contoh yang baik dan indah atas percaya kepada Injil, me-laksanakan Injil, dan hidup bagi Injil. Kain, anak sulung, generasi manusia yang kedua, adalah contoh kejatuhan lebih lanjut dan yang menyimpang dari jalan keselamatan Allah. Pada Adam dan Hawa terdapat dua perkara pokok: Kejatuhan yang disebabkan oleh mereka, dan Injil yang mereka terima dan beritakan. Adam dan Hawa telah diselamatkan dan menyampaikan firman keselamatan itu kepada ke-turunan yang berikutnya. Kita harus menyampaikan hal ini kepada anak-anak kita, memberi tahu mereka kisah ke-jatuhan manusia yang tragis dan juga mengabarkan kepada mereka berita Injil keselamatan Allah. Kain tidak mengikuti jalan keselamatan Allah, malahan jatuh lebih lanjut. Kehidupannya merupakan riwayat kelanjutan yang lebih dalam dari kejatuhan manusia. Karena itu, kita boleh mengatakan bahwa pada diri Kain, manusia mengalami kejatuhan kali kedua. Orang tuanya mengakibatkan kejatuhan kali pertama, sedang ia meneruskan kejatuhan, mengakibatkan kejatuhan kali kedua.

Di sini saya ingin menyampaikan sepatah kata peringatan: Jangan sekali-kali meneruskan kejatuhan. Kita harus memisahkan diri dari kejatuhan dan berkata kepada kejatuhan itu, “Hai kejatuhan, aku tidak mau bekerja sama denganmu, enyahlah dari diriku. Aku tidak akan mengizin-kanmu berkelanjutan, aku mau berlari menuju keselamatan Allah.” Kain melanjutkan kejatuhan manusia, tetapi Habel mencari jalan keselamatan Allah. Hari ini kita juga meng-hadapi pilihan yang sama. Anda mau tetap tinggal di dalam kejatuhan dan meneruskannya atau mau mengarah kepada Allah untuk memperoleh keselamatan? Kita tidak seharus-nya begitu bodoh sehingga mau meneruskan kejatuhan. Kita harus menerima karunia keselamatan yang Allah sediakan bagi kita. Akan tetapi, Kain itu bodoh, ia tinggal di dalam kejatuhan, bahkan makin menambah perkembangan dari kejatuhan.

(1) Yang Didapatkan Iblis

Kita perlu mengetahui penyebab kejatuhan manusia kali kedua. Penyebab Kain meneruskan kejatuhan manusia ialah karena Kain, di dalam dirinya, telah didapatkan oleh Iblis. Secara luaran kelihatannya Kain yang menolak Injil Allah, sesungguhnya Iblislah yang menghalangi dia menuju jalan keselamatan Allah. Iblis tahu, jika Kain menerima Injil, ia tidak akan bisa mendapatkannya. Maka dengan licik Iblis menyuruh Kain memakai caranya sendiri untuk melayani Allah. Melalui ini Iblis menggenggam Kain dalam tangan-nya, bahkan membuatnya jatuh lebih lanjut. Jadi, kejatuhan manusia kali kedua digerakkan oleh si licik yang telah men-dapatkan Kain serta bekerja di dalamnya.

(2) Manusia Sok Menolak Jalan Keselamatan Allah

Dalam Kejadian 4, Iblis telah menginjeksikan dirinya ke dalam manusia, dan Allah telah menunjukkan kepada manusia jalan keselamatan-Nya. Namun, Kain sok menolak jalan keselamatan Allah. Ini berarti dia mengikuti Iblis dan mengesampingkan kehendak Allah. Inilah penyebab lebih lanjut dari kejatuhan manusia kali kedua. Kain meng-abaikan firman Allah, Injil Allah, dan tidak mendengarkan pemberitaan orang tuanya. Sekali lagi saya tegaskan, saya yakin orang tuanya telah mengabarkan Injil kepada Kain dan kepada adiknya, memberi tahu bahwa mereka memer-lukan pakaian dari kulit domba yang dikorbankan untuk menutupi diri mereka. Saya percaya, ini justru yang menye-babkan Habel rela menjadi gembala domba. Namun Kain ti-dak memperhatikan ini, dengan sok ia menolak jalan Allah dan menciptakan jalannya sendiri.

c. Prosesnya

(1) Manusia Sok Mempersembahkan “Hasil Tanah” kepada Allah

Kain sangat percaya diri, ia melayani Allah menurut konsepsinya sendiri. “Maka Kain mempersembahkan sebagi-an dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai kurban persembahan” (Kej. 4:3). Kain melayani Allah menurut pen-dapatnya sendiri. Ia menciptakan suatu agama menurut maksud manusia. Dalam Kejadian 3, tidak ada satu kata pun mengenai mempersembahkan hasil tanah kepada Allah. Allah menginginkan binatang kurban yang darahnya tercucur untuk memuaskan tuntutan keadilan-Nya, dan menginginkan kulit dari binatang kurban itu sebagai penutup manusia yang telah jatuh dan telanjang. Ketika Adam dan Hawa tahu bahwa mereka telanjang, mereka lalu menutupi diri mereka dengan cawat yang terbuat dari daun pohon ara; tetapi Allah tidak mengakui penutup semacam itu. Allah menyembelih domba-domba untuk kurban penebus dosa dan kulit domba-domba ini dijadikan pakaian penutup tubuh laki-laki dan perempuan itu. Kita telah membahas bahwa Adam dan Hawa pasti telah memberi tahu Kain dan Habel tentang peristiwa itu. Habel menerima perkataan orang tuanya dan melaksanakannya. Namun Kain sok pintar, tidak mau memperhatikan maksud hati Allah, menolak cara Allah. Ia tidak menaati Injil Allah, sebaliknya malah menciptakan jalannya sendiri, yaitu agama yang menurut konsepsinya sendiri. Siapa yang memberi tahu Kain untuk mempersem-bahkan buah hasil tanah? Dia diberi tahu oleh dirinya sen-diri yang didalangi oleh si licik. Pelaksanaan ini bersumber pada inisiatifnya sendiri.

Abad demi abad dan generasi demi generasi, terdapat pengikut-pengikut Kain yang tidak terhitung jumlahnya. Di setiap tempat dan setiap zaman, manusia menciptakan aga-ma mereka sendiri. Mereka tidak mengajar orang untuk ber-buat dosa, melainkan mengajar orang untuk melayani dan menyembah Allah. Di dalam sangkaan mereka yang merasa dirinya benar, mereka sedang melayani Allah. Mereka berkata, “Apa salahnya menyembah Allah dengan cara ini? kami tidak berjudi, mencuri, atau membunuh. Kami sedang melayani Allah.” Akan tetapi saya akan berkata, “Kalian melayani Allah menurut konsepsi kalian sendiri. Akhirnya, kalian bukan melayani Allah, melainkan melayani diri ka-lian sendiri. Kalian melayani konsepsi kalian sendiri dan tidak memperhatikan kepuasan Allah. Allah bukan Allah kalian; konsepsi kalian, pikiran otak kalian, itulah allah kalian.

Ketika saya masih muda dan membaca kitab Kejadian 4, di dalam saya timbul pertanyaan. Jika Anda membaca kitab Kejadian 4 secara sekilas pandang, mungkin Anda juga memiliki persoalan ini. Waktu itu saya berkata, “Allah tidak adil. Ada dua saudara sama-sama mempersembahkan kurban kepada Allah, apa salahnya persembahan Kain? Dia tidak berjudi atau mencuri. Dia sangat beribadah. Jika Kain tidak beribadah, dia tentu tidak akan mempersembahkan kurban kepada Allah. Dengan susah payah dia menggarap tanah dan mendapatkan hasil, kemudian menyisihkan sebagian untuk dipersembahkan sebagai kurban. Bukankah itu sangat baik? Bagaimana mungkin Allah bisa menyalahkan tindakannya itu? Namun Alkitab berkata, Tetapi Kain dan kurban persembahannya tidak diindahkan-Nya” (Kej. 4:5). Kata “diindahkan” di sini, terjemahan lainnya adalah “dilihat”. Seolah-olah Allah berkata kepada Kain, “Kain, kamu telah me-lakukan hal-hal ibadah, tetapi Aku melihatnya pun tidak. Itu bukan pelayanan terhadapKu. Kamu melayani konsepsi-mu sendiri. Sedikit pun Aku tidak memperhatikan kurban persembahanmu.” Ketika saya masih muda, saya tidak pa-ham mengapa Allah bereaksi demikian: menerima persem-bahan Habel dan menolak persembahan Kain. Saya mengira Allah tidak adil.

Setelah makin bertumbuh dewasa, saya mulai paham bahwa meskipun Kain mempersembahkan kurban kepada Allah, tetapi tidak menurut cara Allah, melainkan menurut caranya sendiri. Berdasarkan konsepsi dan kesenangannya, Kain telah menciptakan satu cara baru untuk menyembah Allah. Dalam dunia kekristenan hari ini, banyak diciptakan cara baru untuk menyembah Allah. Semua cara baru itu sama sekali merupakan tindakan yang sok, yang merasa diri sendiri benar.

Hakiki alamiah Kain telah tidak murni. Meskipun ketika Adam diciptakan, ia memiliki hakiki alamiah yang murni, tetapi karena kejatuhan, si jahat telah menginjeksi-kan dirinya ke dalam manusia. Maka, begitu seseorang ber-tindak berdasarkan dirinya sendiri, ia bersatu dengan Iblis. Karena itu, manusia tidak seharusnya bertindak berdasarkan dirinya sendiri; manusia seharusnya menolak diri sen-diri sambil bersandar kepada Allah. Kita harus senantiasa menyadari: aku adalah manusia yang jatuh, Iblis ada di da-lam dagingku, dalam pembawaanku, dalam angan-anganku, dalam kesenangan, dan dalam tekadku. Iblis telah sama sekali bersatu dengan diriku. Aku tidak berani melakukan apa-apa berdasarkan diri sendiri. Aku harus berkata, “Tuhan, aku mengesampingkan diriku sendiri. Aku bersan-dar kepada-Mu. Tuhan, pimpinlah, bertindaklah. Tuhan, aku mengikuti-Mu, menerima cara-Mu.” Kita bukan hanya ber-dosa, ego kita juga telah menjadi milik Iblis, karena Iblis ber-ada di dalam kita. Apa yang kita pikirkan menurut alamiah kita, sebenarnya merupakan penemuan Iblis. Kain dan juga tak terhitung banyaknya orang pada hari ini, tidak menya-dari mengenai hal ini. Kain mengira, asal ia melakukan sesuatu untuk Allah, melayani Allah, dan menyembah Allah, semuanya tentu baik. Jangan berpikir demikian. Anda harus mengenal kedudukan Anda, mengenal apa adanya Anda. Sebagai manusia yang telah jatuh, kita telah bersatu dengan Iblis; Iblis tidak hanya berada di sekeliling kita, di atas kita, lebih-lebih berada di dalam kita, di dalam sifat alamiah, pikiran, emosi, dan tekad kita. Kapan saja Anda marah, di situlah Iblis hadir. Kapan saja Anda emosi, Iblis pun ber-gejolak di dalam Anda. Jangan berkata bahwa Anda sendiri yang berbuat demikian, karena Iblis bersatu dengan Anda, bahkan di dalam Anda. Tidak hanya ketika Anda berbuat jahat, sekalipun Anda berbuat baik, juga demikian. Ketika Kain mempersembahkan sebagian hasil tanahnya sebagai kurban kepada Allah, Iblis juga terlibat di dalam tindak-annya. Di dalam Kain, Iblis mempersembahkan persembah-an kepada Allah. Inilah alasan Allah tidak melihat persembahan Kain. Sepertinya Allah berkata, “Kain, persembahanmu itu jahat, itu merupakan penghinaan terhadap-Ku. Itu adalah suatu kebencian di mata-Ku. Aku tidak menerima persembahan itu.”

(2) Kemarahan Manusia

Tatkala Kain tahu bahwa Allah tidak memandang per-sembahannya, “Kain menjadi sangat marah, dan mukanya muram” (Kej. 4:5 Tl.). Demikian juga dengan orang-orang yang mengaku dirinya beribadah pada hari ini. Jika Anda tidak mengakui pekerjaan mereka, mereka marah kepada Anda dan berkata, “Bukankah kami melayani Allah? Menga-pa Anda tidak setuju?” Ketika mereka melihat orang lain melayani Allah menurut cara Allah dan diperkenan Allah, mereka akan lebih marah lagi. Kain adalah pemimpin atas hal ini. Ketika Anda melayani Allah menurut cara Habel, yakni menurut cara Allah, mereka yang disebut sebagai orang-orang yang beribadah akan marah dan berkata, “Tidakkah kalian menganggap kami juga beribadah kepada Allah? Mengapa Allah menerima kalian dan tidak menerima kami?” Kita sering mendengar perkataan semacam ini. Saya harap Anda berhati-hati. Meskipun Anda melayani Allah, dengan cara siapa Anda melayani Allah? Memakai cara Anda sendiri atau cara Allah? Anda melayani Allah menurut wahyu Allah atau menurut konsepsi dan penemuan Anda sendiri? Tidak-lah cukup hanya berkata bahwa Anda melayani Allah, masih perlu ditentukan cara Anda melayani Allah. Anda melayani menurut firman Allah atau menurut pendapat Anda sendiri.

Bagaimanapun, Allah masih membelaskasihani Kain, masih berbicara kepadanya. Kain tidak berdoa kepada Allah, juga tidak bertanya kepada Allah, “Ya Allah, di manakah letak kesalahanku?” Meskipun Kain tidak berdoa, namun Allah yang penuh belas kasihan masih datang kepadanya dan berkata, “Mengapa kamu marah dan mukamu muram?” (Kej. 4:6 Tl.). Allah bertanya kepada Kain, mengapa ia marah dan muram mukanya. Setiap orang yang mengikuti cara Allah, pasti memiliki wajah yang berseri-seri. Mereka akan me-nengadah dan berkata, “Puji Tuhan! Amin, haleluya, Tuhan Yesus!” Dalam Kejadian 4:7 Allah berkata kepada Kain, “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?” Ketika kita berada di jalan Allah, muka kita haruslah berseri, menengadah. Banyak “agamawan” melayani Allah dan beribadah kepada Allah, namun Allah tidak memandang mereka. Akibatnya, mereka marah dan berkata, “Bukankah aku melayani Allah? Bukankah aku telah berbuat banyak untuk-Nya?” Semua perkataan amarah itu menunjukkan muka mereka yang muram. Ketika Kain marah, seolah-olah Allah berkata kepadanya, “Kain, kamu tidak perlu marah. Kamu adalah orang dosa. Tidakkah kamu mendengar Injil dari orang tuamu? Aku mempunyai cara-Ku sendiri. Mengapa kamu menjadi orang yang bermuka muram? Kamu bermuka muram demikian karena kamu telah menolak cara-Ku. Kamu tidak mendengarkan apa yang diberitakan orang tuamu, kamu tidak percaya kepada Injil. Jika mau menerima cara-Ku dan percaya kepada Injil, mukamu pasti akan berseri. Kain, sekarang belum terlambat. Namun hatihatilah, jika kamu meneruskan caramu, dosa sedang mengintai di depan pintu siap menelan kamu.”

Dalam Kejadian 4:7 Allah memberi peringatan kepada Kain: “Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu.” Potongan selanjutnya dari ayat ini sulit diterjemahkan. Dalam bahasa Indonesia dikatakan “Ia sangat menggoda (menginginkan Tl.) engkau, tetapi eng-kau harus berkuasa atasnya.” Kata ganti “ia” di sini dalam beberapa versi ditujukan kepada dosa; yang berarti bahwa dosa menginginkan engkau, tetapi engkau harus berkuasa atas dosa. Versi King James memakai kata ganti “ia” dengan lebih tepat. Siapakah “ia” dalam ayat ini? Jawabannya dapat kita temukan dalam Yohanes 8:44 dan 1 Yohanes 3:12. Dengan bantuan ayat-ayat ini, kita mengetahui bahwa “ia” dalam Kejadian 4:7 mengacu kepada si jahat, Iblis. Jadi, Allah memberi tahu Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu; sedang keinginannya, yakni keinginan Iblis, adalah ingin mendapatkan Kain, namun Kain harus menga-lahkan dia. Dosa dan Iblis adalah satu. Waspadalah! Jika Anda menolak jalan keselamatan Allah, dosa sudah mengintip di depan pintu, siap untuk mendapatkan Anda. Kesenangan dosa, yaitu kesenangan Iblis, adalah mendapatkan Anda, namun Anda harus mengalahkan dia. Cara terbaik untuk mengalahkan Iblis adalah melarikan diri dari konsepsi diri sendiri dan bersembunyi di dalam karunia keselamatan Allah. Karunia keselamatan Allah ialah Yesus sebagai kurban persembahan. Yesus telah mencucurkan darah-Nya karena dosa kita dan memberikan diri-Nya kepada kita sebagai kebenaran untuk menutupi ketelanjangan kita. Ini-lah cara melarikan diri dari Iblis dan menghindari dosa yang mengintip di depan pintu. Kepada para pembaca yang belum menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, saya harus memberi tahu Anda, “Dosa sedang mengintip di depan pintu bagaikan binatang buas yang kelaparan, menunggu kesempatan untuk menerkam dan menelan Anda. Dosa ini adalah si Satan, Iblis, si licik, si pendusta, si pembunuh manusia sejak semula itu.”

(3) Membunuh Saudaranya

“Kata Kain kepada Habel, adiknya, ‘Marilah kita pergi ke padang.’ Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia” (Kej. 4:8). Jika kita membandingkan ayat ini dengan Yohanes 8:44, kita akan tahu bahwa Kain bukanlah satu-satunya pembunuh; Iblis juga adalah pembunuh. Dalam Injil Yohanes Tuhan Yesus berkata tentang Iblis, “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula.” Walaupun Habel dibunuh oleh Kain, tetapi Iblislah yang mendalangi tindakan pembunuhan oleh Kain itu. Karena Kain telah menolak cara Allah dan peringatan Allah, maka dia ditangkap oleh si pembunuh ma-nusia itu, bersama Iblis menjadi pembunuh manusia. Jadi, dua pembunuh melakukan dosa pembunuhan yang sama. Karena telah membunuh saudaranya, Kain sama sekali telah didapatkan Iblis. Melalui tangan Kain dan kerja sama Kain, Iblis membunuh Habel. Kain memandang remeh pemberi-taan Injil dari orang tuanya, juga mengesampingkan peringatan Allah. Demikianlah ia digerakkan oleh Iblis, menurut caranya sendiri melayani Allah, akhirnya, mutlak didapatkan oleh Iblis, menjadi pembunuh manusia. Itulah kejatuhan manusia kali kedua.

Kejatuhan manusia kali kedua dimulai dari penciptaan “agama” oleh manusia. Kejatuhan kali ini bukan dimulai dengan mencuri, melainkan dimulai dari menyembah Allah menurut konsepsi manusia. Menyembah Allah menurut konsepsi manusia tidak bisa menyelamatkan manusia agar terlepas dari kejatuhan kali pertama, malahan meneruskan kejatuhan itu. Kejatuhan manusia kali kedua dimulai dari adanya agama buatan manusia sendiri yang digenapkan dengan tindakan pembunuhan atas manusia. Percayakah Anda bahwa kaum agamawan bisa membunuh manusia? Jika Anda membaca sejarah, Anda akan menemukan bahwa gereja Roma Katolik membunuh orang-orang Kristen sejati lebih banyak daripada kekaisaran Romawi. Ribuan dan laksaan orang Kristen dibunuh oleh kekaisaran Romawi, dan hal itu diteruskan oleh Roma Katolik, bahkan membunuh lebih banyak lagi. Jika Anda ingin menjadi orang Kristen yang tulus dan sungguh-sungguh di negara Eropa tertentu, Anda harus hati-hati, karena sangat mungkin orang-orang beragama di sana akan merenggut nyawa Anda. Agama buatan manusia selalu demikian: dimulai dengan melayani Allah, diakhiri dengan membunuh manusia. Ini sesuai dengan perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 16:2 yang mengatakan, “Bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah.”

Apakah penyebab kejatuhan manusia kali pertama? Kejatuhan kali pertama disebabkan manusia menerima ke dalam dirinya sesuatu yang di luar Allah. Manusia tidak me-lakukan suatu kejahatan apa, ia hanya menyerap ke dalam dirinya suatu unsur di luar Allah. Apa penyebab kejatuhan manusia kali kedua? Kejatuhan manusia kali kedua adalah menciptakan agama yang menghasilkan tindakan pembu-nuhan terhadap manusia lainnya. Kejatuhan manusia kali kedua ini dikarenakan sikap sok dari manusia. Arti sikap sok dari manusia di sini ialah tidak mempedulikan ekonomi Allah, tidak memperhatikan cara Allah, sebaliknya hanya memperhatikan kesenangan dan konsepsi diri sendiri. Begitu manusia menolak cara Allah dan menciptakan agamanya sendiri, akhirnya ia malah menjadi orang yang membunuh umat Allah. Itulah kejatuhan manusia kali kedua.

Sangat bermanfaat bagi kita mengenal jelas tentang kejatuhan, karena ini membuat kita lebih nampak karunia keselamatan Allah. Saya harap, tidak ada seorang pun yang membaca buku ini akan menjadi Kain, kita semua harus menjadi Habel, orang yang benar. Semoga kita semua seperti Habel, percaya akan Injil, melaksanakan Injil, dan hidup untuk Injil.