← Daftar isi Kejadian (2) · bab 7/14

PENANGGULANGAN ALLAH TERHADAP KEJATUHAN MANUSIA KALI PERTAMA (2)

Dalam berita ini kita akan melihat lagi beberapa butir mengenai penanggulangan Allah terhadap kejatuhan manusia kali pertama.

(4) Melalui Penderitaan Mendisiplin Manusia

Seperti yang telah kita lihat, setelah manusia jatuh, Allah tidak menjatuhinya hukuman, melainkan datang men-cari manusia, dan kemudian menghakimi ular. Dalam peng-hakiman-Nya terhadap ular, Allah telah mengumumkan janji mengenai keturunan perempuan (Kej. 3:15). Namun ini belum berarti sudah berakhir. Meskipun Allah telah meng-umumkan janji keselamatan-Nya, namun manusia tetap dalam kedudukan yang sulit. Selain dalam keadaan yang sulit, juga ada unsur dosa telah disuntikkan ke dalam sifat manusia. Karena itu manusia telah menjadi bejat luar mau-pun dalamnya. Allah sama sekali tidak bermaksud meng-hukum manusia. Apa yang terkandung dalam hati Allah terhadap manusia adalah kasih, dan manusia sepenuhnya ber-ada di bawah rawatan kasih Allah. Sebab itu Allah menakdirkan beberapa penderitaan untuk keuntungan manusia. Meskipun kita tidak suka akan penderitaan, tetapi bagaimanapun, Allah telah menakdirkannya.

(a) Tujuan

Apa tujuan dari penderitaan yang ditakdirkan Allah? Tujuan yang utama ialah untuk membatasi manusia. Se-benarnya, penderitaan yang ditetapkan oleh Allah adalah pengaman dan pelindung kita. Selamanya jangan lupa bah-wa akibat kejatuhan, manusia memiliki suatu unsur yang bobrok dan membejatkan manusia. Allah mengasihi manusia dan menaruh perhatian yang penuh kasih kepada manusia, akan tetapi di dalam sifat manusia tetap terkandung unsur Iblis. Setelah kejatuhan, mungkin manusia tidak langsung tahu keadaan dirinya yang sesungguhnya; namun Allah tahu persoalan itu, sehingga Ia menentukan penderitaan un-tuk membatasi manusia yang telah jatuh. Para remaja di seluruh dunia ingin bebas; mereka mengharapkan mendapat-kan kebebasan. Tetapi kita harus sadar, terlampau banyak kebebasan bisa mengesampingkan pembatasan yang telah Allah berikan kepada kita di dalam kasih-Nya. Kita adalah orang yang telah jatuh, memiliki sifat yang rusak, sangat memerlukan pembatasan sebagai pengaman dan pelindung. Misalnya, seorang ibu mempunyai seorang anak laki-laki yang nakal, kalau si ibu tidak membatasi anaknya itu, anak itu mungkin tidak akan hidup lebih dari tiga hari. Mungkin anak itu bisa membunuh dirinya karena kebebasan yang terlampau banyak. Tidak ada seorang ibu yang sedemikian bodoh sehingga memberi kebebasan yang mutlak kepada anaknya yang nakal. Semua anak memerlukan pembatasan.

Pembatasan berfaedah bagi kita.

Sebagai orang yang tua, saya memerlukan dan juga senang dibatasi oleh saudara-saudara terkasih di dalam Tuhan. Bahkan, saya lebih-lebih dibatasi oleh saudara sau-dari. Sebenarnya saya jarang sekali mempunyai kebebasan. Seandainya Anda menawarkan kebebasan kepada saya, saya pasti menjawab, “Tidak, terima kasih, bawalah kebebasan itu untuk Anda sendiri. Saya memerlukan pembatasan.” Saya sungguh berterima kasih kepada Tuhan bahwa di ta-hun-tahun yang lalu, saya telah terjaga oleh adanya pem-batasan. Saya tidak merasa menderita di bawah pembatasan kaum saleh; malahan sebaliknya, saya menikmatinya. Semua pembatasan yang diberikan kepada saya oleh saudara saudari di dalam Tuhan telah menjadi pelindung saya. Meskipun saat itu mungkin Anda mengira bahwa pembatasan itu tidak menyenangkan, namun saya yakin, setelah be-berapa tahun kemudian, Anda akan menyembah Tuhan sambil berkata, “Terima kasih kepada-Mu, ya Tuhan, atas pembatasan itu.”

Izinkan saya menyinggung sedikit tentang hal suami istri. Tidak ada seorang perempuan yang senang dibatasi. Para saudari yang terkasih mungkin sangat kudus, juga menuntut untuk menjadi rohani, namun saya tidak percaya kalau mereka senang dibatasi. Istri biasanya tidak senang menerima pembatasan apa pun dari suami atau ibu mertua-nya. Dari sejarah dan pengalaman saya tahu, jarang sekali menantu perempuan senang kepada ibu mertua mereka. Seolah-olah ini sudah takdir Allah. Seolah-olah Allah menak-dirkan ibu mertua menjadi pembatas bagi menantu perem-puannya dan menantu perempuan menjadi persoalan bagi ibu mertuanya. Secara manusiawi, ini memang tidak enak didengar, namun ini sungguh baik. Setiap saudari yang rela menerima pembatasan dari suami, anak, dan ibu mertuanya, pasti mendapatkan perlindungan.

Sekarang saya beralih ke suami. Tentu saja kita sebagai saudara memerlukan pembatasan dari istri kita. Saya berterima kasih kepada Tuhan atas istri saya yang tersayang. Saya bisa bersaksi bahwa bantuan terbaik yang dia berikan kepada saya adalah pembatasan-pembatasannya. Dia bahkan membatasi perihal makan saya. Walaupun perut ini adalah milik saya, tetapi dialah yang menentukan berapa banyak makanan yang saya makan. Sering saya berkata kepadanya, “Saya masih lapar.” Tetapi ia menjawab, “Itu sudah cukup. Tidak ada lagi.” Karena saya menerima pembatasannya, sakit lambung saya sembuh. Saya telah belajar, kalau sese-orang menderita sakit lambung atau luka lambung, cara terbaik adalah menerima pembatasan atas makanannya. Jadi, semua pembatasan adalah suatu bantuan yang besar. Kita semua memerlukan pembatasan. Karena itu, Allah menentukan penderitaan bagi manusia untuk membatasinya, menye-lamatkannya, dan menjaganya.

(b) Mengenai Perempuan

1) Kesusahan Waktu Mengandung

Terhadap perempuan, Allah telah menentukan kesusah-an atau kesakitan waktu mengandung (Kej. 3:16, 1 Tim. 2:15). Kesusahan waktu mengandung meliputi kesusahan hamil dan melahirkan. Keseluruhan hal mengandung, ter-masuk hamil dan melahirkan, adalah suatu kesakitan. Sebermula, sebelum manusia jatuh, Allah tidak menentukan demikian; hanya karena kejatuhan, Allah menentukan bagi-an penderitaan bagi perempuan, si pelopor kejatuhan itu. Mungkin Anda bertanya, mengapa Allah terlebih dulu mem-beri penderitaan kepada perempuan, kemudian kepada laki-laki? Allah berbuat demikian, karena perempuan yang me-mimpin tindakan melanggar larangan Allah. Maka, Allah terlebih dulu datang kepada perempuan. Ini adil. Kalau Allah terlebih dulu datang kepada Adam, Adam akan berkata, “Tuhan, jangan datang kepadaku, aku bukan pelopor kejatuhan. Engkau seharusnya pergi kepada pelopornya.” Itu-lah sebabnya Allah terlebih dulu datang kepada Hawa.

Mengapa beberapa perempuan berupaya mencegah kehamilan? Karena mereka ingin menikmati hidup bebas. Itu bertentangan dengan cara Allah. Kita semua tahu bahwa mengandung memang merupakan suatu keadaan yang menyusahkan, namun itu ditetapkan oleh Allah sebagai suatu pembatasan. Pelindung yang terbaik bagi seorang perempuan muda yang tidak mau terikat ialah mempunyai beberapa anak. Meskipun orang tuanya, suaminya, mertuanya tidak dapat membatasinya, tetapi asalkan dia mempunyai beberapa anak, anak-anak itu akan membatasi kebebasannya yang tak semestinya. Anak-anak merupakan pembatas juga pelindung bagi ibu mereka. Itulah sebabnya Paulus menginginkan pe-rempuan menikah dan mempunyai anak, agar mereka tidak menjadi malas atau usil terhadap urusan orang lain (1 Tim. 5:13-14).

2) Penguasaan Suami

TUHAN juga memberi tahu Hawa bahwa suaminya akan berkuasa atas dirinya. Berdasarkan perkataan ini, setiap saudari harus berada di bawah kuasa suaminya. Mengapa Hawa jatuh? Karena ia tidak mempedulikan suaminya, telah mengambil alih kedudukan suaminya. Ka-rena itu, seolah-olah Allah berkata kepadanya, “Hawa, mulai sekarang, Aku menunjuk Adam untuk menguasaimu.” Meskipun perkataan ini sulit diterima, tetapi Alkitab mem-beri tahu kita bahwa perempuan harus dikuasai oleh suami-nya. Kita semua harus memandang perkataan ini sebagai pengaman dan pelindung. Penguasaan suami merupakan pengaman sejati bagi istri. Karena itu, dalam 1 Timotius 2:11-12 Paulus berkata, “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya me-merintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.” Ajaran Paulus tentang hal ini berdasarkan hukum Allah dalam Kejadian 3:16. Saya harap saudari-saudari memperhatikan perkataan ilahi dalam Alkitab ini.

(c) Mengenai Laki-laki

1) Bumi Menumbuhkan Semak Duri dan Rumput Duri

Terhadap laki-laki, bumi menumbuhkan semak duri dan rumput duri (Kej. 3:17-18). Kalian, kebanyakan bukan-lah petani, lalu mengira bisa terhindar dari masalah bumi. Namun, tidak peduli apa pekerjaan dan nafkah Anda, pekerjaan dan nafkah Anda itulah bumi. Di seluruh dunia ti-dak ada satu pekerjaan atau profesi yang tanpa kesulitan. Di setiap bidang, bumi selalu menumbuhkan semak duri dan rumput duri. Mungkin ada orang berkata, “Aku tidak mau menjadi orang upahan. Aku mau berdagang sendiri.” Kalau Anda berkata demikian, boleh jadi beberapa tahun berselang Anda tidak ingin berdagang lagi. Anda merasa ingin mele-paskan usaha Anda, karena usaha Anda tidak menghasilkan uang, malah menumbuhkan semak duri dan rumput duri. Dalam setiap macam pekerjaan — sekolah, pabrik, pasar, kantor — mudah sekali bagi bumi untuk menumbuhkan semak duri dan rumput duri. Beberapa tahun yang lalu, saya berjumpa dengan seorang saudara yang mengusahakan kebun buah-buahan. Menurut perkiraan saya, menjadi peng-usaha kebun buah-buahan tentunya sangat baik. Namun saudara itu justru menceritakan banyak kesulitan tentang kebunnya. Kesulitan-kesulitan itu ditentukan oleh Allah. Kaum muda, kalian harus mengenal bahwa itu adalah pe-nentuan Allah. Allah memberi tahu Adam bahwa bumi akan menumbuhkan semak duri dan rumput duri, dan bahwa ia harus menderita dan berjerih lelah.

2) Seumur Hidup Bersusah Payah, Menderita, Berpeluh

Allah berfirman, laki-laki harus menderita susah, ber-jerih payah, dan berpeluh seumur hidupnya (Kej. 3:19). Maka laki-laki harus bekerja keras, berpeluh, menderita. Tetapi bekerja keras dan menderita itu merupakan perlindungan terhadap manusia yang telah jatuh. Tanpa disibukkan oleh pekerjaan tertentu, mudah bagi laki-laki jatuh ke dalam dosa. Semua laki-laki perlu disibukkan oleh bentuk pekerjaan tertentu agar terhindar dari melakukan dosa. Terhadap banyak laki-laki, hanya berjerih payah tidaklah cukup, mereka masih memerlukan sedikit penderitaan. Demikianlah berjerih payah disertai penderitaan, sering kali bisa mencegah manusia dari berbuat dosa.

3) Kembali ke Tanah

Setelah manusia jatuh, Allah juga menentukan manusia tidak bisa hidup selamanya, melainkan harus mati, kembali ke tanah. Ini tidak berarti manusia harus binasa, sebab dalam penanggulangan Allah terhadap manusia, Allah telah memberikan jalan keselamatan kepada manusia. Dalam penanggulangan Allah terhadap laki-laki dan perempuan ada penderitaan, tetapi bukan berarti harus binasa. Walaupun demikian, jika manusia tidak menerima karunia keselamat-an Allah, ia akan binasa setelah mati. Kematian juga meru-pakan pembatasan yang Allah tambahkan ke atas manusia yang telah jatuh.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menyampaikan berita yang meliputi tiga pokok: penderitaan, tidur, dan mati. Ketiga-tiganya kelihatannya tidak ada satu pun yang baik; saya tidak menyukai semua ini. Saya lebih senang menjadi orang yang tidak pernah menderita, tidak perlu tidur, dan hidup selamanya. Namun kita harus paham bah-wa penderitaan, tidur, dan mati adalah pembatasan bagi orang-orang berdosa. Misalnya saja, sekarang Hitler masih hidup, dan tetap hidup selama 500 tahun kemudian, niscaya dia akan menjadi setan terbesar yang pernah terlihat di dunia ini. Dua puluh tahun lebih yang lalu, ketika saya ber-ada di Manila, orang-orang bercerita kepada saya tentang seorang penjahat besar. Saya memberi tahu mereka, “Jangan khawatir, biarkan saja dia berbuat sejahat mungkin. Saya yakin, dia tidak akan hidup lebih dari 10 tahun lagi. Saya tidak mengharapkan dia bisa berubah menjadi baik, tetapi saya sangat yakin bahwa dalam 10 tahun ini, dia akan me-ninggal dunia.” Tidak lama kemudian, saya membaca di surat kabar bahwa orang tersebut sudah meninggal. Pen-deritaan membatasi manusia, tidur menghentikan manusia, dan mati mengakhiri manusia. Kalau Anda ke Hongkong, Anda akan mendengar tentang permainan Mahyong. Tidak ada seorang pemain Mahyong yang mau tidur; mereka ber-main terus-menerus siang malam bahkan sampai 72 jam tanpa istirahat. Setelah 72 jam, tidak perlu lagi istri-istri mereka menghentikan mereka, tidur telah mengendalikan mereka. Entah betapa jahatnya orang itu, pertama-tama dia akan dihentikan oleh tidur, kemudian akan diakhiri oleh maut. Tidur adalah kematian kecil, dan mati adalah tidur yang besar. Hari ini di bumi ini tidak ada seorang penjahat yang berusia 150 tahun. Semua penjahat pada 150 tahun yang lalu, telah mati dan terkubur. Dengan kematian, Allah membersihkan bumi. Dalam satu arti, kematian adalah pen-deritaan bagi manusia; namun manusia tidak mengenal bahwa kematian sebenarnya adalah cara Allah melindungi-nya.

(5) Penebusan Dini

Bersama dengan penderitaan yang ditentukan Allah, Adam mengalami penebusan dini. Mengapa kita menyebut ini sebagai penebusan dini? Karena pada Kejadian 3, pene-busan yang sebenarnya belum rampung. Dalam Kejadian 3:21, kita melihat suatu penebusan dini, yang akan diram-pungkan 4000 tahun kemudian. Baik laki-laki maupun pe-rempuan berada dalam keadaan memerlukan penebusan. Meskipun Allah tidak menghukum mereka, meskipun Allah telah mencari mereka dan menentukan penderitaan sebagai pembatas dan pelindung mereka, dan lagi meskipun Allah telah mengumumkan kepada mereka janji keturunan yang akan datang, tetapi ketika Adam dan Hawa melihat diri sendiri, hampir-hampir masih telanjang. Saya mengatakan hampir-hampir masih telanjang, karena mereka hanya ditutupi oleh cawat yang mereka buat dari daun pohon ara (Kej. 3:7). Cawat dari daun ara mewakili manusia menggunakan usahanya sendiri untuk menutupi dosanya.

Adam dan Hawa berdosa, mata mereka tercelik sehingga mengetahui tentang yang baik dan yang jahat. Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan bahwa orang tidak perlu melakukan kejahatan, asal dia tahu tentang yang jahat, hal itu sendiri sudah merupakan kejahatan. Tadinya, Adam dan Hawa tanpa pengetahuan, tidak jahat. Tetapi, ketika mereka tahu bahwa mereka telanjang, mereka telah menjadi jahat. Mengetahui yang jahat itulah jahat. Tidak seorang pun dapat menghindari kejahatan setelah ia mengenal yang jahat. Begitu Anda mengenal kejahatan, Anda akan terlibat dalam kejahatan. Cara terbaik untuk menjauhi yang jahat adalah tidak mengetahuinya. Adam dan Hawa berdosa, mengetahui diri mereka berdosa. Sebab itu mereka berusaha menolong diri sendiri dengan membuat cawat dari daun pohon ara untuk menutupi ketelanjangan mereka. Ini meru-pakan pekerjaan hasil tangan mereka sendiri dengan daun pohon ara. Setelah kejatuhan manusia, setiap perbuatan manusia dengan usaha sendiri yang menggunakan hayat tumbuh-tumbuhan, melambangkan perbuatan tanpa bersan-dar pada penebusan darah. Sebelum manusia jatuh, darah penebusan tidak diperlukan, tetapi setelah manusia jatuh, manusia memerlukan itu. Karena itu, usaha menutupi diri yang telanjang dengan hayat tumbuh-tumbuhan tidak ada gunanya. Orang yang berdosa memerlukan darah binatang; ia memerlukan kurban yang berdarah bagi penebusan (Ibr. 9:22). Karena itu, dalam pandangan Allah, cawat dari daun ara yang dibuat oleh Adam dan Hawa tetap tidak dapat menutupi ketelanjangan mereka.

Akan tetapi, kita jangan melupakan Kejadian 3:20. Setelah Adam mendengar kabar gembira (Injil), ia segera memanggil istrinya, “Hawa”, yang berarti “hidup”. Adam dan Hawa takut dan gentar akan hukuman mati. Tiba-tiba Adam mendengar kabar gembira, dan timbullah reaksi di dalam iman seraya berkata kepada istrinya, “Hawa, engkau hidup! Engkau tidak akan mati, engkau akan hidup!” Ayat 20 menunjukkan bahwa Adam percaya akan kabar gembira itu. Kejadian 3:20 adalah ayat yang pertama kali dalam Alkitab yang menyinggung tentang hal percaya, dan orang yang pertama percaya akan Injil ini adalah Adam. Ketika Adam mendengar Injil, ia segera percaya bahwa ia dan Hawa akan hidup, tidak akan binasa.

Dalam ayat 20, kita melihat percayanya Adam, selanjutnya dalam ayat 21 kita melihat kebenaran Allah. Setelah Adam percaya kepada Injil Allah, Allah segera membuatkan Adam dan istrinya pakaian kulit serta memakaikannya kepada mereka. Pakaian itu menutupi mereka. Bayangkan saja, cawat yang terbuat dari daun pohon ara, setelah beberapa hari, daun-daun itu pasti akan kering, rusak, dan akhirnya akan rontok, sehingga laki-laki dan perempuan itu kembali akan telanjang. Karena itu, jangan sekali-kali berusaha menutupi diri Anda dengan pekerjaan Anda sendiri. Dalam pandangan Allah, Anda adalah berdosa dan telanjang. Apa pun yang Anda perbuat untuk menutupi diri Anda tidak lebih dari sekadar cawat dari daun pohon ara yang telah layu, yang adalah hayat tumbuh-tumbuhan. Anda memerlukan kulit dari hayat binatang untuk menutupi Anda. Pakaian kulit yang dibuat oleh Allah bagi Adam dan Hawa menutupi mereka hari demi hari.

Ingat, hampir setiap perkara yang disebut dalam ketiga pasal pertama dalam kitab Kejadian adalah benih. Dalam Kejadian 3:20-21, kita mempunyai benih percaya kepada Injil dan benih kebenaran Allah. Benih percaya kepada Injil Allah ditemukan dalam Kejadian 3:20, di mana Adam menyebut nama Hawa itu “Hidup”. Ketika Allah mengumumkan Injil, Adam menjawab dengan perkataan “Hidup”. Itulah benih percaya kepada Injil. Selanjutnya, Allah membenarkan. Adam dan Hawa telanjang, mereka membuat cawat sendiri sebagai penutup. Cawat itu tidak cukup menutupi mereka. Setelah Allah datang mengabarkan Injil dan Adam menjawab dengan iman, segera Allah memakaikan pakaian kepada laki-laki dan perempuan itu. Ini berarti Allah membenarkan mereka. Membenarkan berarti menutupi dengan kebenaran Allah, yaitu Kristus sendiri, bukan dengan sesuatu buatan manusia. Adam dan Hawa berada di dalam pakaian, me-lambangkan mereka di dalam Kristus. Galatia 3:27 menga-takan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” Pakaian merupakan lambang yang paling jelas bahwa Kristus itulah kebenaran Allah, yaitu kebenaran yang menutupi kita. Jadi, secara perlam-bangan, Adam dan Hawa berada di dalam Kristus. Sebab itu, percayanya manusia dan pembenaran Allah atas orang yang percaya adalah benih yang tersebar dalam Kejadian 3:20-21. Benih-benih ini berkembang pada Surat-surat Kiriman dalam Perjanjian Baru.

Meskipun Alkitab tidak dengan kata-kata jelas menyebut bahwa kulit itu adalah kulit domba, tetapi saya, bersama dengan yang lainnya, percaya bahwa kulit itu adalah kulit domba; karena kulit itu dijadikan pakaian. Ada penerjemah memakai istilah “jubah” dan yang lain “baju”. Bagaimana-pun, kulit itu dijadikan pakaian. Tentunya, kulit itu bukan kulit sapi, melainkan kulit domba yang lunak, kulit yang cocok untuk dijadikan pakaian.

Setelah pakaian kulit dikenakan pada mereka, Adam dan Hawa mempunyai penampilan domba. Adam itu manusia, atau domba? Yang kelihatan adalah bulu domba, karena sekarang Adam tertutup oleh kulit domba. Meskipun dia adalah manusia, namun di hadapan Allah, dia telah men-jadi seekor domba. Manusia selalu menjadi seperti apa yang menutupi mereka. Bila keseluruhan kita tertutup oleh Kristus, kita akan mengekspresikan Kristus dan serupa dengan Kristus. Ketika Adam dan Hawa ditutupi oleh cawat dari daun pohon ara yang mereka buat sendiri, mereka terlihat jelek, telanjang, dan berdosa. Tetapi, setelah mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit domba, mereka kelihatan seperti domba. Allah telah menaruh kita di dalam Kristus (1 Kor. 1:30), kita telah mengenakan Kristus (Gal. 3:27), ka-rena itu, kita dapat mengekspresikan Kristus. Bahkan Paulus mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Paulus menjadi ekspresi Kristus karena ia ber-satu dengan-Nya. Pikiran mengekspresikan Kristus ini juga merupakan suatu benih, yang tertabur di sini dalam bentuk pakaian kulit yang menutupi Adam dan Hawa, bahkan menjadi ekspresi mereka.

(a) Binatang Kurban yang Berdarah —

Menggantikan

Sebelum kulit itu diambil, binatangnya tentu sudah di-korbankan dulu. Binatangnya dibunuh dan darahnya di-tumpahkan. Saya percaya, boleh jadi Allah membunuh domba itu di hadapan Adam dan Hawa, dan mereka menyak-sikan sendiri pengorbanan itu. Hal ini pasti memberi kesan yang sangat dalam pada mereka. Mungkin Adam berkata kepada Hawa, “Hawa, tahukah kamu, seharusnya nasib kita demikian! Seharusnya kita yang dibunuh. Darah kitalah yang seharusnya ditumpahkan. Sebab kita yang jatuh, berbuat dosa, dan melanggar larangan Allah. Menurut larangan Allah, kita yang harus dibunuh. Tetapi Hawa, Allah tidak membunuh kita. Allah membunuh domba-domba ini sebagai pengganti kita. Betapa syukur dan terima kasih kita kepada domba-domba ini! Mereka menjadi pengganti kita.”

Suatu hari, Tuhan Yesus datang dan Yohanes pembaptis berkata tentang Dia, “Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh. 1:29). Yohanes 1:29 adalah perkembangan dari Kejadian 3:21. Secara perlambangan, saat domba disembelih, dalam pandangan Allah, Kristus juga telah tersembelih, karena Dia telah tersembelih sebelum dunia dijadikan (Why. 13:8). Ibrani 9:22 mengatakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Jadi, tertumpahnya darah juga me-rupakan sebutir benih, ditaburkan dalam Kejadian 3:21 dan berkembang pada Yohanes 1:29 dan Ibrani 9:22. Kalau Anda membaca Surat Kiriman dalam Perjanjian Baru, Anda pasti menemukan bahwa darah berkali-kali disebutkan. Kita telah ditebus oleh darah adi Anak Domba Allah yang telah ditentukan oleh Allah sebelum bumi dijadikan (1 Ptr. 1:18-20). Kristus telah ditentukan sebelum Adam jatuh. Di Taman Eden, kita dapat melihat sebuah gambar tentang Kristus menumpahkan darah. Bagaimana Allah yang benar bisa membenarkan manusia yang berdosa tanpa penumpahan darah Kristus? Tanpa penumpahan darah Kristus, penutupan Allah terhadap orang yang telah jatuh tidak akan sah, adil, benar, dan halal. Namun sebelum Allah menutupi ma-nusia yang berdosa dengan pakaian kulit, Allah telah meng-adili dan membunuhnya di dalam diri korban. Allah tidak akan membunuh kita, karena Dia telah membunuh kita di dalam Kristus. Di atas salib, Kristus telah disembelih oleh Allah yang benar. Karena itu, kapan kala kita bereaksi terhadap Injil dan berkata, “Hidup”, Allah segera datang menutupi kita dengan Kristus sebagai kebenaran kita. Ini berarti kebenaran Allah adalah berdasarkan penebusan. Pemakaian pakaian kulit adalah berdasarkan penumpahan darah binatang korban. Sebenarnya, domba korban itulah pengganti orang dosa.

(b) Kulit Penutup — Persatuan

Meskipun banyak orang Kristen berbicara tentang peng-gantian, membicarakan Kristus telah mati bagi kita, tetapi tidak banyak yang mengenal hal persatuan. Padahal, peng-gantian yang sejati adalah berdasarkan persatuan. Adam dan Hawa telah berdosa, domba telah tersembelih, dan darahnya telah teralir bagi dosa mereka. Bagaimana ter-bunuhnya domba bisa menjadi terbunuhnya mereka? Jika domba, Adam, dan Hawa, masing-masing terpisah satu sama lain, mustahillah domba bisa menggantikan mereka. Ketika Adam percaya akan Injil, Allah segera menutupinya dengan pakaian kulit domba, sehingga menjadi satu dengan domba. Orang dosa telah menjadi satu dengan penggantinya. Inilah persatuan. Persatuan menjadikan hal penggantian berlaku; karena tanpa persatuan, penggantian itu adalah berdiri sendiri. Penggantian tidak akan ada sangkut-pautnya dengan kita kecuali kita masuk ke dalam persatuan itu. Begitu kita mengambil bagian dalam persatuan, apa saja yang telah dirampungkan oleh pengganti, menjadi milik kita. Kristus telah merampungkan segalanya di atas salib bagi kita, namun jika tanpa persatuan, segala yang telah di-rampungkan-Nya di atas salib tidak ada hubungannya dengan kita. Tetapi jika kita berkata, “Tuhan, Amin!”, segera Kristus dikenakan pada kita, dan kita dimasukkan ke dalam Kristus. Begitu kita bersatu dengan Kristus, apa yang telah Kristus selesaikan di atas salib menjadi milik kita dan bagian kita. Persatuan mendatangkan khasiat penggantian dan penggantian berdasarkan persatuan.

Ketika kita memberitakan Injil, sering ada orang ber-tanya kepada kita, “Kalau Kristus telah mati di atas salib bagi kita, bukankah itu sudah cukup, mengapa kita masih perlu percaya? Anda telah memberi tahu kami bahwa Dia telah merampungkan penebusan yang sempurna bagi kita, mengapa kita masih harus percaya lagi?” Persoalannya ialah Anda memerlukan persatuan. Jika Anda tidak percaya kepada Kristus, Anda tidak mempunyai persatuan ini. Tanpa persatuan dengan Dia, apa yang telah Dia rampungkan di atas salib tidak dapat Anda miliki, tidak dapat Anda terap-kan. Kita perlu percaya “ke dalam” Kristus. Setiap kali Al-kitab berbicara tentang percaya akan karunia keselamatan, selalu (dalam bahasa aslinya) mempergunakan kata depan “ke dalam”. Kita harus percaya ke dalam-Nya. Kata depan “ke dalam” menerangkan persatuan. Percaya ke dalam Yesus Kristus berarti menjadi satu dengan-Nya, mempunyai per-satuan dengan-Nya. Kalau saya miskin dan Anda millioner, mungkin Anda akan takut bersatu dengan saya, sebaliknya saya justru senang bersatu dengan Anda, sebab begitu saya bersatu dengan Anda, segala yang Anda miliki menjadi milik saya juga. Itulah sebabnya mengapa banyak perempuan ingin menikah dengan orang kaya. Menurut undang-undang California, persatuan antara suami dan istri, apa saja yang dimiliki suami, apa saja yang atas nama suami, adalah milik istrinya juga. Kita mempunyai pernikahan yang paling baik. Kita, pengemis-pengemis yang kasihan, telah menikah de-ngan Kristus, Millioner yang terbesar. Apa saja yang Dia miliki, apa saja adanya Dia, apa saja yang telah dan akan Dia kerjakan, apa saja yang Dia capai dan peroleh — semua-nya menjadi milik kita. Sekarang kita di dalam Kristus. Hal persatuan ini juga sebagai sebutir benih yang tertabur dalam Kitab Kejadian dan berkembang dengan penuh dalam Surat-surat Kiriman pada Perjanjian Baru, dan akan menjadi matang dalam penuaian pada Wahyu 21.

(6) Menutup Jalan yang Menuju Pohon Hayat

(a) Penyebabnya

Walaupun kita telah melihat penentuan penderitaan adalah untuk membatasi, menyelamatkan, dan menjaga kita, juga telah melihat perkara penebusan dini, namun ma-sih ada satu masalah yang riil: Bagaimana dengan pohon hayat? Dapatkah jalan yang menuju pohon hayat tetap ter-buka bagi manusia yang jatuh dan berdosa?

Meskipun Adam dan Hawa telah mempunyai penebusan dini, tetapi saat itu mereka belum mendapatkan penebusan yang sebenarnya, dalam sifat mereka masih ada dosa. Jika dalam keadaan demikian, yakni dalam sifat yang bobrok, mereka memakan buah pohon hayat, mereka akan hidup dengan sifat dosa mereka sampai selama-lamanya. Allah tidak mengizinkan demikian. Pohon hayat yang melam-bangkan Allah, tidak boleh disentuh oleh manusia yang berdosa. Sebab itu, sebelum penebusan yang sesungguhnya rampung, Allah harus menutup jalan yang menuju ke pohon hayat itu. Begitu penebusan yang sebenarnya rampung, jalan masuk ke pohon hayat akan dipulihkan kembali. Demikian-lah, kitab Kejadian memberi tahu kita, setelah Allah menyiapkan penebusan dini bagi manusia, Ia pun menutup jalan yang menuju ke pohon hayat.

(b) Sarananya

Sangat berarti sekali bila kita merenungkan sarana Allah menutup jalan yang menuju ke pohon hayat. Secara lambang, Allah menutup jalan dengan kerub dan sebilah pedang yang bernyala-nyala. Di sini kita nampak tiga hal: Kerub, nyala api, dan pedang. Seperti yang telah kita kata-kan mengenai hal-hal lain dalam beberapa pasal pertama kitab Kejadian, kita harus mengiaskan semua gambar dalam Kejadian 3. Tidak ada salahnya kita mengiaskan Perjanjian Lama, bahkan Tuhan Yesus dan rasul Paulus pun melaku-kannya.

1) Kerub — Kemuliaan Allah

Jika kita membaca Yehezkiel 9 dan 10 serta Ibrani 9, kita akan nampak bahwa kerub adalah tanda kemuliaan Allah. Yehezkiel 9:3 mengatakan bahwa kemuliaan Allah ada di atas kerub; Ibrani 9:5 lebih lagi mengatakan “kerub kemuliaan”, karena Allah memakai mereka untuk menyatakan, mengekspresikan, dan menunjukkan kemuliaan-Nya. Jadi, jalan yang menuju ke pohon hayat tertutup oleh kerub berarti tertutup oleh kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah tidak mengizinkan manusia yang berdosa menyentuh-Nya sebelum penebusan sebenarnya terampungkan. Dalam Roma 3:23, Paulus mengatakan bahwa semua orang sudah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Jadi, kemuliaan Allahlah yang menutupi jalan yang menuju ke pohon hayat. Kemuliaan Allah tidak mengizinkan manusia yang berdosa, yang kehilangan kemuliaan Allah, datang menyentuhnya.

2) Nyala Api — Kekudusan Allah

Nyala api juga berarti api, dan api dalam perlambangan berarti kekudusan Allah. Allah adalah Api yang meng-hanguskan (Ul. 4:24; 9:3; Ibr. 12:29). Apa pun yang umum, tidak bersih, atau berdosa, akan dibakar oleh Allah. Api yang menghanguskan menandakan kekudusan Allah dan tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Dia (Ibr. 12:14). Jadi, hal kedua yang menutupi jalan yang menuju ke pohon hayat adalah kekudusan Allah.

3) Pedang — Keadilan Allah

Pedang menandakan membunuh. Pembunuhan pedang dalam Kejadian 3 menunjukkan keadilan Allah (Rat. 3:42-43; Rm. 2:5). Jika Allah membunuh orang yang tidak terlibat dosa, Dia akan dipersalahkan atas perbuatan yang tidak benar. Namun, karena ada dosa terlibat di dalamnya, maka menurut Allah yang adil, perlu adanya pembunuhan. Jadi, pedang pembunuh melambangkan tuntutan keadilan Allah. Maka, kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah menutupi jalan yang menuju ke pohon hayat, menunjukkan bahwa selama manusia ada di dalam dosa, ia tidak diizinkan menyentuh Allah sebagai pohon hayat.

(c) Contoh

1) Allah di Gunung Sinai

Sekarang kita perlu meninjau dua contoh tentang Allah menutup jalan yang menuju ke pohon hayat. Di Gunung Sinai Allah datang menemui umat-Nya (Kel. 19:10-21). Se-olah-olah Allah berkata kepada Musa, “Hai Musa, beri tahu bani Israel bahwa Aku akan membuat garis perbatasan mengelilingi gunung ini, jangan seorang pun dari antara mereka yang melewatinya. Aku kudus, adil, dan penuh ke-muliaan. Kalian sebagai orang-orang berdosa tidak ada se-orang pun yang bersyarat melewati perbatasan ini. Siapa saja yang melewatinya, ia pasti mati.” Gunung Sinai ditutupi awan, di dalamnya terdapat kemuliaan Allah (Kel. 24:16-17). Tuntutan kemuliaan ini sangat tinggi, menyekat dan me-misahkan semua orang dosa dari hadirat Allah, dan juga me-nutup jalan yang menuju ke pohon hayat. Demikian juga di Gunung Sinai ada api yang menghanguskan (Kel. 19:18). Orang-orang Israel sebegitu takutnya sehingga berkata ke-pada Musa, “Oh, jangan menyuruh kami menghadap Allah. Engkau saja yang mewakili kami mendekati Allah. Lihat apa itu di atas gunung: api yang menghanguskan. Kami tidak berani maju selangkah pun.” Itulah tuntutan kekudusan Allah. Lebih lanjut, ketika Allah bertemu dengan Musa di Gunung Sinai, Allah memberi Hukum Taurat, yaitu sepuluh hukum keadilan (Kel. 20:1-17). Tuntutan-tuntutan hukum-hukum itu juga sangat tinggi. Demikian, di Gunung Sinai kita nampak sebuah gambaran beraspek tiga: kemuliaan Allah, kekudusan Allah, dan keadilan Allah. Atribut-atribut ilahi ini mengajukan tuntutan dan syarat kepada orang-orang dosa. Demikianlah manusia dipisahkan dari Allah sebagai pohon hayat oleh kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah.

2) Allah Berada di Ruang Maha Kudus Kemah Suci

Contoh kedua ialah ruang maha kudus pada Kemah Suci (Im. 16:1-2). Allah berada di ruang maha kudus dan ke-muliaan-Nya senantiasa memenuhinya. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke ruang maha kudus, karena ada kerub-kerub di atas tabut (Kel. 25:18-20) yang selalu berjaga-jaga untuk memeriksa apakah orang dosa sudah dapat me-menuhi tuntutan keadilan Allah. Ini berarti, kemuliaan Allah senantiasa berjaga-jaga. Demikian juga, kerub tersulam pada tirai pemisah ruang maha kudus (Kel. 26:31-34). Tidak hanya demikian, ketika kedua anak Harun, Nadab dan Abihu, memasuki ruang kudus dengan membawa api asing, mereka segera mati terbakar (Im. 10:1-3). Api menyatakan kekudusan Allah, keluar dari ruang kudus, menghanguskan mereka. Selain itu, di dalam tabut yang terletak di ruang maha kudus terdapat Hukum Taurat Allah (Kel. 40:20-21; Ibr. 9:3-4). Hukum Taurat ini melambangkan keadilan Allah. Sekali lagi kita nampak kemuliaan, kekudusan, dan keadil-an Allah menuntut orang dosa dan mencegah orang dosa dari menyentuh Allah.

(d) Batas Waktu

1) Sampai Tuhan Yesus Merampungkan Penebusan di atas Salib

Jalan menuju ke pohon hayat hanya tertutup sampai saat Tuhan Yesus merampungkan penebusan. Melalui kematian-Nya yang almuhit di atas salib, Kristus telah memuaskan seluruh tuntutan kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah.

a) Tuntutan Kemuliaan Allah

Kematian penebusan Tuhan telah memuaskan tuntutan kemuliaan Allah. Ketika Ia mati, tirai yang bersulamkan kerub yang mulia itu terkoyak menjadi dua dari atas ke bawah (Mat. 27:50-51). Fakta bahwa tirai itu terkoyak dari atas ke bawah, membuktikan bahwa pekerjaan ini dilakukan oleh Allah, juga membuktikan bahwa penghalang antara Allah dan manusia telah disingkirkan. Manusia telah ke-hilangan kemuliaan Allah, tetapi sekarang melalui penebusan Kristus, manusia bisa dibenarkan oleh Allah (Rm. 3:23-24).

b) Tuntutan Kekudusan Allah

Kematian Kristus di atas salib telah memuaskan tuntutan kekudusan Allah. Melalui persembahan Kristus yang satu kali untuk selama-lamanya, kita dikuduskan (Ibr. 10:10). Melalui satu kali kurban persembahan-Nya, Kristus telah menyempurnakan untuk selama-lamanya kita yang dikuduskan (Ibr. 10:14). Dia telah menguduskan kita dengan darah-Nya (Ibr. 13:12). Demi kematian Kristus, kekudusan Allah menjadi milik kita, dan tuntutan kekudusan-Nya tidak lagi menjadi masalah.

c) Tuntutan Keadilan Allah

Kematian Kristus juga telah menjunjung tinggi keadilan Allah. Allah membuat Kristus menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah (2 Kor. 5:21 Tl.). Dia adalah Sang Benar, telah menggantikan yang tidak benar, mati untuk dosa-dosa kita (1 Ptr. 3:18). Melalui kematian Kristus, keadilan Allah telah menjadi milik kita; dan kebenaran ini tidak bisa memisahkan kita dari Allah Sang adil, yaitu pohon hayat. Demikianlah, jalan menuju ke pohon hayat sekali lagi terbuka dengan sempurna bagi kita melalui rampungnya penebusan Kristus.

2) Telah Membuka Jalan yang Baru dan yang Hidup

Karena Kristus telah memuaskan tuntutan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah, maka darah-Nya telah membukakan bagi kita sebuah jalan yang baru dan yang hidup (Ibr. 10:19-20, 22). Kata “baru” di sini dalam bahwa Ibraninya berarti “segar”, “baru terjadi”. Kita mempunyai sebuah jalan yang segar, sebuah jalan yang baru terjadi. Dengan jalan yang segar, baru, dan hidup ini, kita mempunyai keberanian untuk masuk ke tempat rahasia dan tersembunyi, di mana pohon hayat berada.

Jangan takut kepada sifat alamiah dosa Anda. Itu telah terpaku di atas salib. Sifat dosa, orang lama, jiwa, ego, dan “aku” yang jelek ini — semuanya telah disalibkan di atas salib. Karena itu, Allah berkeyakinan untuk membiarkan kita mempunyai hidup yang kekal. Dia tidak takut kalau kita akan selamanya hidup dengan sifat kita yang jatuh, karena sifat ini telah dibereskan oleh kematian Kristus yang almuhit itu.

3) Manusia Diperbolehkan Menghampiri Allah

dan Menikmati-Nya Sebagai Hayat

Sekarang kita bisa mendekati Allah (Yak. 4:8; Ibr. 4:16, 10:19, 22). Melalui penebusan Kristus, Allah telah masuk ke dalam roh kita. Kita perlu berpaling ke dalam roh kita, me-lalui darah Yesus masuk ke ruang maha kudus, di mana kita bisa menyentuh pohon hayat. Betapa baiknya ini! Hari ini kita tidak lagi berada di bawah penebusan dini, kita se-dang menikmati penebusan yang telah dirampungkan. Penebusan ini telah membukakan jalan yang baru dan yang hidup bagi kita untuk memasuki ruang maha kudus. Seka-rang jalan ini tidak berada di Taman Eden, melainkan di dalam roh kita. Karena itu, sekarang kita boleh dengan pe-nuh keberanian menyentuh Allah yang hidup ini, Dialah satu-satunya pohon hayat. Karena jubah kita telah dicuci bersih, maka kita memiliki kuasa datang ke pohon hayat, menikmati kelimpahan-Nya (Why. 22:14).