← Daftar isi Kejadian (2) · bab 6/14

ULAR, PEREMPUAN, DAN KETURUNAN PEREMPUAN

Dalam berita ini saya mempunyai beban untuk menjelaskan lebih lanjut Kejadian 3:15 sebagai suatu sisipan. Seperti telah kita lihat dalam berita di depan, Kejadian 3:15 adalah Injil. Kejadian 3:15 merupakan pemberitaan Injil kali pertama dalam seluruh Alkitab. Dalam ayat ini, sewaktu menghakimi ular, Allah sendiri memberitahukan kabar gembira kepada manusia yang telah jatuh. Karena itu, kita perlu mengeluarkan lebih banyak waktu untuk ayat ini.

Dalam berita-berita yang lalu, telah berkali-kali saya katakan bahwa hampir segala sesuatu yang terdapat dalam Kejadian 1 sampai 3 merupakan benih yang terus bertumbuh melalui kitab-kitab selanjutnya dalam Alkitab, terwujud sebagai tanaman pada Surat-surat Kiriman dalam Perjanjian Baru, dan dituai sebagai hasil panen di dalam kitab Wahyu. Kita telah melihat prinsip ini digunakan dalam banyak hal. Dalam berita ini, ketika kita membahas tiga butir penting dalam Kejadian 3:15 — ular, perempuan, dan keturunan perempuan, saya ingin sekali lagi menegaskan prinsip tersebut.

1. Ular

Jika kita membaca seluruh Alkitab, kita akan nampak bahwa ular tidak hanya disebut dalam kitab Kejadian, tetapi juga disebut di kitab-kitab lain dalam Alkitab. Wahyu 12:9 dan 20:2 membicarakan ular. Dalam Wahyu 12 dan 20 kita nampak Iblis mempunyai berbagai nama — naga besar, ular tua, Satan, dan Iblis. Di antara nama-nama tersebut terdapat juga julukan “ular tua”. Yohanes menggunakan istilah ini karena pada waktu ia menulis kitab Wahyu, si ular su-dah sangat tua, sedikitnya sudah 4000 tahun umurnya. Siapakah “ular tua” ini? Satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memeriksanya dalam Kejadian 3, di mana ular untuk pertama kalinya disebutkan.

Yohanes 3:14 adalah sebuah ayat lain yang menyebut tentang ular. Ketika Nikodemus, seorang pemuka agama yang luhur datang dengan positif kepada Tuhan Yesus, Tuhan memberi tahu dia bahwa dia perlu dilahirkan kembali sehingga mendapatkan hayat baru (Yoh. 3:3, 5). Tuhan ber-kata kepadanya bahwa roh manusia perlu dilahirkan kem-bali dari Roh Kudus, karena “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yoh. 3:6 Tl.). Tidak banyak orang Kristen yang memperhatikan bahwa dalam percakapan-Nya dengan Niko-demus, Tuhan menunjuk si luhur itu sebagai seekor ular (Yoh. 3:14). Meskipun Nikodemus sebagai seorang pemuka, guru, dan “pengajar Israel”, tetapi Tuhan menunjukkan bah-wa ia adalah seekor ular.

Pada titik tertentu, dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Tuhan Yesus berkata, “Sama seperti Musa me-ninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manu-sia harus ditinggikan” (Yoh. 3:14). Apa artinya? Inilah jawaban Tuhan kepada Nikodemus. Nikodemus bertanya, “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?” juga, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” (Yoh. 3:4, 9). Nikodemus bertanya bagaimana ia dapat dilahirkan kem-bali. Tuhan menjawab, “Engkau guru orang Israel, dan eng-kau tidak mengerti hal-hal itu?” Meskipun Nikodemus meng-ajarkan Perjanjian Lama kepada orang-orang Israel, tetapi ia sendiri tidak mengerti arti dilahirkan kembali. Maka Tu-han menyinggung tentang lambang ular tembaga yang di-tinggikan di atas sebuah tiang oleh Musa (Bil. 21:9). Tuhan seolah-olah berkata, “Nenek moyangmu telah dipagut oleh ular-ular berbisa dan bisa ular itu telah masuk ke dalam me-reka. Dalam pandangan Allah, nenek moyangmu telah men-jadi ular. Ketika mereka hampir menemui ajalnya, Musa berdoa kepada Allah untuk kepentingan mereka, dan Allah memberi tahu Musa agar meninggikan ular tembaga di atas sebuah tiang untuk menanggung penghakiman-Nya atas orang-orang Israel yang keracunan itu. Setiap orang yang te-lah terpagut ular dan memandang kepada ular tembaga yang ditinggikan itu, niscaya akan hidup.” Banyak orang Israel berbuat demikian sehingga nyawanya tertolong. Inilah se-buah lambang dari dilahirkan kembali. Tuhan seolah-olah memberi tahu Nikodemus, “Jangan mengira dirimu sebagai seorang pemuka. Kamu harus sadar bahwa kamu adalah salah seorang yang telah diracuni ular, dan kamu memiliki sifat ular di dalammu. Secara lahiriah kamu adalah seorang manusia, sesungguhnya kamu adalah seekor ular. Dalam pandangan Allah, kamu adalah seekor ular. Meskipun kamu seekor ular, Aku datang untuk mati bagimu. Aku akan mati di atas salib dalam bentuk ular. Ketika Aku di salib, dalam pandangan Allah, Aku bukan saja sebagai pengganti orang-orang berdosa, tetapi di sana juga dihakimi oleh Allah dalam bentuk ular. Perbedaannya ialah ular yang sejati itu berbisa, sedang Aku sekadar memiliki bentuk ular. Aku tidak mempunyai sifat dan racun ular. Aku telah datang menjadi se-perti tubuh daging yang berdosa, yaitu dalam bentuk ular, mati bagi kalian semua yang telah diracuni ular.”

Ular yang pertama kali disebutkan dalam Kejadian 3 merupakan suatu benih yang berkembang dalam kitab-kitab selanjutnya dalam Alkitab. Kita nampak ular dalam Kejadian 3 dan Yohanes 3:14. Hampir seluruh orang Kristen telah nampak hayat kekal dalam Yohanes 3:16, namun tidak banyak yang nampak ular dalam Yohanes 3:14. Namun, bila kita ingin mengerti apa hayat kekal itu, kita juga harus mengerti apa ular itu. Kita harus nampak ular. Ular tidak hanya terdapat dalam Kejadian dan Yohanes, tetapi juga mutlak disingkapkan dalam Wahyu. Dalam Kejadian 3:15, ular merupakan suatu benih; dalam Injil Yohanes, benih ini bertumbuh; dan dalam Wahyu, benih ini dituai. Dengan membaca seluruh Alkitab, kita nampak adanya satu tujuan dalam pekerjaan ilahi Allah sepanjang zaman: membangun Tubuh untuk mengekspresikan Putra-Nya, Kristus, dan juga untuk membinasakan si ular. Allah berkehendak menying-kirkan ular itu. Karena itu, kita harus jelas mengetahui di mana ular itu hari ini.

a. Telah Menginjeksikan Dirinya ke Dalam Manusia

Melalui kejatuhan manusia, ular telah menginjeksikan dirinya ke dalam manusia. Di mana ular itu sekarang? Di dalam daging kita. Di Taman Eden, sebelum manusia jatuh, ular itu berada di luar manusia. Namun sejak kejatuhan manusia, ular yang licik dan jahat itu berada di dalam manusia, yakni di dalam daging manusia.

Pada suatu hari, Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus segera menjawab, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:15-16). Tidak lama setelah kejadian itu, terjadilah peristiwa Tuhan menghardik Petrus dengan menyebutnya “Iblis” (Mat. 16:23). Percayakah Anda bahwa sesaat sebe-lumnya dia adalah Petrus yang suci, tetapi sejenak kemu-dian dia menjadi Iblis? Seandainya saya adalah Andreas, sau-dara Petrus, saya pasti akan bertanya kepada Tuhan Yesus, “Di mana Iblis itu? Aku Andreas, Petrus adalah saudaraku, tetapi di mana Iblis?” Tuhan Yesus mungkin akan men-jawab, “Iblis ada di dalam dia, Iblis ada di dalam Petrus.” Ketika Anda berbicara begitu kasar, siapakah Anda? Anda adalah Iblis! Ketika terhadap istri atau suami, Anda berlaku tidak patut, siapakah Anda? Iblis! Dalam keadaan itu, Tuhan Yesus akan berkata bahwa Anda adalah Iblis. Di mana Iblis? Di dalam manusia yang telah jatuh. Hari ini Iblis ada di dalam daging manusia. Kita semua harus berjaga-jaga, ka-rena Iblis yang telah menggoda dan merusak manusia gene-rasi pertama itu sekarang ada di dalam kita.

b. Manusia Telah Menjadi “Ular”

Karena Iblis telah menginjeksikan dirinya ke dalam manusia, maka dalam pandangan Allah semua manusia telah menjadi ular. Sekalipun Anda menganggap diri Anda adalah seorang manusia, tetapi dalam pandangan Allah, Anda adalah seekor ular. Menurut Matius 3:7, Yohanes Pembaptis menyebut orang-orang Yahudi yang beragama itu “keturun-an ular berbisa”. Mereka adalah ular-ular. Seolah-olah Yohanes berkata kepada mereka, “Kalian mengira diri kalian sebagai agamawan. Kalian begitu agamawi, namun kalian tidak sadar bahwa kalian adalah keturunan ular berbisa.” Tuhan Yesus pernah menggunakan istilah “anak-anak si jahat” untuk menerangkan perumpamaan tentang seorang penabur. Siapa si jahat itu? Ular, Iblis, musuh itu. Dialah si jahat itu, dan semua pengikutnya adalah anak-anaknya. Pengikut-pengikut Iblis bukan anak-anak angkatnya, me-lainkan anak-anak kelahirannya. Dalam Yohanes 8:44 Tuhan Yesus berkata, “Kamu berasal dari bapakmu, yaitu Iblis.” Seolah-olah Tuhan berkata, “Iblis adalah bapakmu, karena kamu mempunyai hayat Iblis; hayat dan sifat Iblis ada di dalam kamu. Kamu dilahirkan dari bapakmu dan se-karang kamu mempunyai hayat dan sifatnya.” Rasul Yohanes menyebut “anak-anak Iblis” dan berkata, “Siapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis” (1 Yoh. 3:10, 8). Karena itu Paulus menyebut Elimas “anak Iblis” (Kis. 13:10). Bahkan seorang pemuka seperti Nikodemus yang nampaknya orang yang luhur, dalam pandangan Allah, tidak ada bedanya dengan seekor ular, memiliki sifat ular. Inilah sebabnya mengapa semua orang yang milik ular membutuhkan Tuhan Yesus mengambil bentuk ular sebagai pengganti mereka.

c. Manusia Mempunyai Hayat dan Sifat Ular

Sebagai anak-anak Iblis, dilahirkan dari ular, kita semua mempunyai sifat dan hayat ular (1 Yoh. 3:12). Tidak seorang pun yang dapat menyangkal atau membantah hal ini, karena kita melihat sifat dan hayat Iblis ada pada anak-anak kita sendiri. Tentu saja anak-anak kecil manis-manis, tetapi semakin mereka bertumbuh besar, sifat ular yang ada di dalam mereka semakin nyata. Sekalipun mereka tidak dilatih untuk mempertunjukkan sifat dan hayat ular, tetapi dengan spontan mereka menampilkannya. Saya telah meneliti hal ini pada banyak anak, termasuk anak-anak saya sendiri. Ingatlah, kita semua seperti itu. Tidak saja seperti itu, bahkan memang itu! Kita mempunyai sifat dan hayat ular di dalam kita.

d. Roh Jahat Beroperasi di Dalam Manusia yang Jatuh

Iblis, si ular itu, adalah pemimpin dari roh-roh yang bekerja dalam manusia yang jatuh (Ef. 2:2). Roh jahat ini bukan tinggal diam dan tidur saja, melainkan bekerja aktif di dalam anak-anak yang tidak taat. Sebagai contoh, lihatlah betapa Iblis bekerja di dalam Yudas, orang yang mengkhianati Tuhan Yesus (Yoh. 13:2, 27; 6:70). Betapa Iblis bekerja di da-lam orang yang sangat kasihan itu! Kita juga sudah melihat Petrus disebut “Iblis” (Mat. 16:23). Tanpa adanya Matius 16 sebagai catatan, tidak seorang pun percaya bahwa Petrus, rasul terkemuka itu, bisa menjadi Iblis. Lagi pula, bahkan setelah hari Pentakosta, Ananias dan Safira dipenuhi oleh Iblis sehingga mendustai Roh Kudus (Kis. 5:3). Ananias dan Safira bukan di tempat perjudian kasino, mereka berada dalam gereja pasca Pentakosta. Namun mereka dipenuhi oleh Iblis.

Sekarang kita tahu di mana Iblis. Dia tidak jauh dari kita, ada di dalam kita. Beberapa orang Kristen mengira bahwa setelah dirinya beroleh selamat dan kini berada di dalam tubuh Kristus, Iblis sudah tidak berurusan lagi dengannya. Pikiran semacam ini bukanlah suara Roh Kudus, tetapi suara dari ular yang licik, dan pemberitaan tentang konsepsi ini adalah tipu muslihat ular. Kita harus berjaga-jaga, karena bahkan sampai hari ini, si licik itu masih tetap bersama kita. Asal kita berada di dalam ciptaan lama, ular tetap ada di dalam kita.

2. Perempuan

a. Melambangkan Seluruh Umat Allah

Sekarang kita perlu melihat siapa perempuan ini. Sudah tentu perempuan dalam Kejadian 3:15, pertama-tama adalah Hawa. Kedua, sebagaimana guru-guru Alkitab fundamental menyetujui, perempuan ini juga ditujukan Maria, Ibu Yesus, karena keturunan perempuan ini adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak dilahirkan dari seorang laki-laki, melain-kan dari seorang perempuan, yaitu seorang dara. Karena itu, sebutan-Nya ialah “keturunan perempuan”. Tetapi perempu-an di sini mempunyai tiga macam makna; dia bukan hanya melambangkan Hawa dan gadis Maria, tetapi juga perempu-an yang diwahyukan dalam Wahyu 12.

Perempuan dalam Wahyu 12:1 adalah seorang pe-rempuan universal yang meliputi seluruh umat Allah. Dia adalah seorang perempuan yang korporat. Namun, ada orang yang menafsirkan perempuan dalam Wahyu 12 itu sebagai Maria, ibu Tuhan Yesus. Tetapi Maria adalah perempuan individu, gadis yang bersifat lokal. Jika kita membaca Wahyu 12, kita akan nampak bahwa perempuan yang diung-kapkan di sana adalah universal, bukan lokal. Perempuan ini berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan dua belas bintang di kepalanya. Kesemuanya ini memastikan bahwa ia adalah universal dan korporat. Cara terbaik untuk menafsirkan Alkitab ialah memeriksa bagian-bagian lain dari Alkitab. Kita melihat visi yang sama dalam mimpi Yusuf (Kej. 37:9). Dalam mimpi itu, Yusuf melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang. Matahari melambangkan Yakub, ayahnya; bulan melambangkan ibunya; dan sebelas bintang melambangkan saudara-saudaranya. Karena itu, menurut prinsipnya, matahari, bulan, dan bintang, bersama-sama di-gabungkan mewakili segenap umat Allah. Jadi, perempuan dalam Wahyu 12 bukan gadis lokal, individu, melainkan universal dan korporat, meliputi seluruh umat Allah.

Berdasarkan Alkitab, umat Allah dapat digolongkan menjadi tiga kelompok: para nenek moyang, Israel, dan gereja. Para nenek moyang yang sudah ada sebelum bani Israel, oleh kitab Wahyu 12 dilambangkan sebagai bintang-bintang. Orang-orang Israel yang hidup pada zaman kegelapan dilambangkan sebagai bulan di bawah kaki perempuan. Ketika Tuhan Yesus datang, matahari memancarkan terangnya (Luk. 1:78-79). Saat itu gereja terwujud. Karena itu, makna dalam satu aspek, gereja pada zaman ini berada di bawah matahari, yakni siang hari. Karena itu, gereja diwakili oleh matahari. Sekarang kita bisa nampak bahwa perempuan ini terdiri dari para nenek moyang, orang Israel (termasuk Maria, ibu Yesus), dan semua orang dalam gereja. Ia mencakup semua umat Allah mulai dari Adam, menyusuri za-man Perjanjian Lama, zaman Perjanjian Baru, sampai kedatangan Tuhan Yesus kembali. Kita semua termasuk di dalam perempuan ini.

Saya telah berulang kali mengatakan bahwa kedudukan kita di hadapan Allah adalah perempuan. Status kita bukan laki-laki, melainkan istri, karena kita semua adalah perem-puan di hadapan Allah. Jangan mengira bahwa Anda adalah seorang laki-laki yang pandai, kuat, potensial. Jika Anda mengambil kedudukan semacam ini, Anda akan segera jatuh. Tidak peduli saudara atau saudari, kita semua ber-kedudukan sama di hadapan Allah — yaitu istri. Kita harus berkata, “Tuhan, aku berdiri pada kedudukan seorang istri. Aku tidak tahu apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa. Tuhan, aku bersandar kepada-Mu. Engkaulah suamiku.” Kapan saja kita mengambil kedudukan demikian, bersandar kepada Tuhan Yesus, kita adalah bagian dari perempuan. Semua nenek moyang adalah orang-orang seperti ini. Orang-orang Israel sejati dan seluruh umat dalam gereja dari zaman ke zaman adalah orang-orang seperti ini. Kita juga ha-rus sebagai orang seperti ini. Kita perlu berkata, “Ya Tuhan, lepas dari-Mu, kami tidak berdaya dan tidak dapat melaku-kan apa-apa. Kami mau percaya dan bersandar kepada-Mu.” Kita harus mengenal, menurut Alkitab, perempuan melam-bangkan bejana yang lemah (1 Ptr. 3:7).

b. Diserang Ular

Sepanjang zaman, perempuan ini, yaitu umat Allah, telah diserang oleh ular. Ular menyerang Ayub (Ayb. 1:6-12, 2:1-7), juga menyerang Israel, Daud (1 Taw. 21:1), dan imam besar Yosua (Za. 3:1-2). Karena itu, dalam Wahyu 12 kita nampak ular menentang, menganiaya, dan menyerang perempuan itu (Why. 12:4, 13-17).

Meskipun perempuan adalah bejana yang lemah, namun di dalam dirinya ada bagian yang kuat, yaitu anak laki-laki. Sekarang kita perlu melihat anak laki-laki ini, yaitu keturunan perempuan.

3. Keturunan Perempuan

Siapa anak laki-laki itu? Seperti yang telah kita sing-gung dalam berita 19, beberapa orang Kristen fundamental mengatakan bahwa anak laki-laki itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Ditinjau dari satu aspek, saya setuju dengan penda-pat ini, tetapi di aspek lain, saya tidak setuju. Ada dua alas-an pokok mengapa saya tidak seluruhnya percaya bahwa anak laki-laki dalam Wahyu 12 itu ditujukan kepada Kristus. Pertama, telah saya sebutkan bahwa ibu anak laki-laki bukanlah seorang perempuan yang bersifat lokal dan individu, melainkan yang bersifat universal dan korporat. Karena ibunya korporat, anaknya dengan sendirinya juga korporat. Kedua, jika kita dengan teliti membaca Wahyu 12, kita akan melihat bahwa anak laki-laki itu diangkat pada ayat 5. Dia bukan diangkat ke angkasa, melainkan ke takhta Allah. Ada orang berkata bahwa hal ini menggam-barkan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Tetapi dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa setelah pengangkatan anak laki-laki itu, terdapat suatu masa selama “1260 hari”. Ini menunjukkan suatu masa selama 42 bulan, karena 42 (bulan) dikalikan 30 (hari) sama dengan 1260 hari. 1260 hari atau 42 bulan ini sama dengan “satu masa dan dua masa dan setengah masa” (Why. 12:14). “Satu masa” berarti satu tahun, “dua masa” berati dua tahun, dan “setengah masa” berarti setengah tahun; jumlahnya tiga setengah tahun, sama dengan 42 bulan atau 1260 hari. Masa tiga setengah tahun ini adalah setengah yang kedua dari tujuh tahun yang terakhir. Minggu yang terakhir dari tujuh puluh minggu yang disebut dalam Daniel 9:25-27. “Satu Minggu” pada Daniel 9:27 menandakan suatu masa dari 7 tahun yang dianggap oleh semua guru Alkitab sebagai masa malapetaka besar. Malapetaka besar ini akan diperberat pada setengah terakhir dari pada masa 7 tahun, yang ditujukan 42 bulan atau 1260 hari. Maksud saya dalam mengatakan semua ini: jika Anda mengatakan anak laki-laki itu hanya Tuhan Yesus seorang, yang naik ke surga sekitar 2000 tahun yang lalu, bagaimana mungkin setelah Ia naik ke surga hanya ada masa tiga setengah tahun? Itu mustahil. Tetapi, setelah pengang-katan anak laki-laki ke takhta Allah, hanya akan ada masa setengah terakhir dari 7 tahun yang terakhir. Dengan ini kita dapat memahami bahwa anak laki-laki itu pasti bukan Kristus sendiri.

Anak laki-laki dalam Wahyu 12 tentunya merupakan penggenapan atas nubuat tentang keturunan perempuan pada Kejadian 3:15. Dalam berita ke-19, saya menunjukkan betapa Kejadian 3:15 dan Wahyu 12 adalah 2 bagian firman Kudus yang berhubungan satu sama lain. Dalam Kejadian 3:15 kita nampak tiga lambang penting — ular, perempuan, dan keturunan perempuan. Dalam wahyu 12 kita nampak tiga lambang — ular, perempuan, dan anak laki-laki. Sebagaimana telah kita lihat dalam berita di depan, keturunan perempuan yang disebut dalam Kejadian 3:15, tidak diragu-kan adalah Kristus. Tetapi begitu keturunan ini berkembang menjadi anak laki-laki yang diungkapkan dalam Wahyu 12, ia tidak lagi sekadar Tuhan Yesus sendiri, tetapi juga Tuhan dan bagian tubuh-Nya yang menang. Tadinya adalah ke-turunan yang individu, sampai di Wahyu 12 menjadilah keturunan yang korporat. Ketika Tuhan Yesus dilahirkan di palungan, Dia adalah keturunan perempuan yang individu; ketika Dia disalibkan di atas salib, Dia menjadi penebus kita; namun tetap sebagai keturunan yang individu. Setelah kebangkitan-Nya, Dia berkembang biak dan menjadi berlipatganda. Sebutir biji gandum telah menjadi banyak butir (Yoh. 12:24). Dahulu, Dia satu-satunya Putra Tunggal Bapa (Yoh. 1:14), tetapi setelah melewati mati dan bangkit, Dia menjadi Yang sulung di antara banyak saudara, Putra sulung di antara banyak saudara, Putra sulung di antara para putra (Rm. 8:19, Ibr. 2:10). Putra sulung ini adalah Kepala Tubuh, dan semua saudara atau para putra itu adalah anggota Tubuh. Sekarang keturunan perempuan tidak lagi per-sona yang individu, melainkan persona yang korporat, dengan Kristus yang individu itu sebagai Kepala dan semua anggota-Nya sebagai Tubuh. Jadi, Kristus adalah Kepala dari anak laki-laki ini. Dia juga inti, realitas, hayat, dan sifat anak laki-laki. Kepala telah naik ke surga, tetapi tubuh-Nya masih tinggal di bumi. Di pihak Kepala, Dia sudah naik ke surga sekitar dua ribu tahun yang lalu. Namun di pihak Tubuh-Nya, kita masih di sini menunggu pengangkatan yang akan datang. Setelah pengangkatan anak laki-laki, akan terdapat masa tiga setengah tahun.

Seperti ibunya, anak laki-laki ini adalah universal dan korporat. Gadis Maria merupakan salah satu bagian dari ibu universal ini. Karena itu, mula-mula ada ibu individu dengan keturunan individu, akhirnya ada ibu yang korporat dengan anak laki-laki yang korporat. Kita sama dengan Dia. Dia adalah pemimpin pemenang, kita adalah pemenang-pemenang yang mengikuti Dia. Dia adalah kepala anak laki-laki, kita adalah Tubuh. Dia adalah inti anak laki-laki, kita adalah lingkarannya. Dia adalah realitas anak laki-laki, kita adalah ekspresi anak laki-laki. Dia adalah hayat dan sifat anak laki-laki, kita adalah anak laki-laki itu.

a. Kristus

Kita telah melihat bahwa mula-mula keturunan perem-puan adalah Kristus. Kristus ini dilahirkan oleh seorang perempuan, bahkan oleh seorang anak dara (Yes. 7:14; Mat. 1:23; Gal. 4:4). Ketika keturunan perempuan ini di bumi, Ia mengikat ular yang adalah orang kuat itu (Mat. 12:29). Ketika Tuhan Yesus di bumi, Iblis, ular itu, adalah orang kuat itu, dan Tuhan memakai kuasa-Nya untuk meng-ikatnya. Yesus, sebagai keturunan perempuan, telah meng-ikat ular itu dan merampas semua harta bendanya. Dalam Yohanes 14:30, Tuhan memberi tahu murid-murid bahwa ular, penguasa dunia ini tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Nya. Sekalipun ular berusaha sekuat tenaga, ia tidak beroleh kedudukan apa pun pada diri keturunan perempuan. Ketika Tuhan Yesus naik ke salib, Ia meremukkan kepala ular, sama sekali membinasakannya. Karena itu Ibrani 2:14 mengatakan bahwa melalui kematian, Kristus telah memus-nahkan Iblis yang berkuasa atas maut. Kristus telah mem-binasakan perbuatan-perbuatan Iblis (1 Yoh. 3:8). Pada masa yang akan datang, Kristus akan berkuasa atas semua bang-sa dengan gada besi (Mzm. 2:8-9, Why. 12:5).

Perihal Kristus sebagai keturunan perempuan adalah sangat ajaib, tetapi itu masih di luar kita. Dia belum masuk ke dalam kita. Namun setelah Yesus terlahir, Ia mengikat orang kuat itu, sedikit pun tidak memberi tempat kepada penghulu dunia itu, bahkan menghancurkan musuh di atas salib, kemudian Dia hidup kembali, dan di dalam kebang-kitan menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Kapan saja dan di mana saja, bila seseorang berkata, “Tuhan Yesus!”, Roh pemberi-hayat ini segera masuk ke dalam orang itu. Ini sungguh misterius, namun fakta riil. Kristus, melalui menjadi Roh pemberi-hayat, masuk ke dalam orang-orang yang percaya kepada-Nya, dan menanamkan diri-Nya ke dalam mereka sebagai benih pemenang.

Kristus telah ditaburkan ke dalam kita sebagai benih itu. Perumpamaan seorang penabur dalam Matius 13 menunjukkan bahwa Kristus menaburkan diri-Nya sebagai benih ke dalam hati kita. Akibatnya, kita dilahirkan kembali. Kata Petrus bahwa kita telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tak fana, me-lalui firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1 Ptr. 1:23). Firman yang hidup inilah Kristus dan Kristus inilah benih. Lagi pula rasul Yohanes berkata, “Setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi, sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1 Yoh. 3:9 Tl.). Benih di sini ialah Kristus, ke-turunan perempuan. Benih penakluk, benih pemenang itu adalah benih ini. Pemenang yang terkemuka justru adalah benih ini. Kita mempunyai benih pemenang di dalam kita. Jika kita membiarkan benih ini tumbuh, dia tentu akan menang. Kita semua wajib berseru: “Haleluya! Kita mem-punyai benih pemenang di dalam kita!”

Pada suatu hari saya sangat takjub melihat sebuah nyanyian berjudul “Dengarlah! Malaikat memuji nyaring” (Kidung No. 74) yang ditulis oleh Charles Wesley 200 tahun lebih yang lampau. Dalam bait 4 jelas sekali menyebutkan keturunan perempuan yang menang ini:

Dambaan semua bangsa, dalam kami Kau tinggal;

Benih dara t’lah menang, hancurkan k’pala ular;

Adam lama terhapus, rupa Kristus terwujud;

K’limpahan “Adam akhir”, ubahku serupa Dia,

K’limpahan “Adam akhir”, ubahku serupa Dia.

Ayat ini dimulai dengan permohonan akan datangnya “Dambaan dan harapan bangsa-bangsa”, suatu kiasan dari Hagai 2:7. Kristus adalah dambaan dan harapan bangsa-bangsa. Penulis lagu ini tidak memohon Kristus, dambaan bangsa-bangsa, untuk mati di salib bagi kita, melainkan untuk “tinggal di dalam kita”. Baris berikutnya tidak menga-takan, “Bangkitlah Imanuel, bangkitlah Yesus Kristus, Putra Allah”, melainkan mengatakan “Bangkitlah keturunan perempuan yang menang”. Saya menyukai baris ini. Kemudian penulis ini memohon “pemenang ini” menghancurkan kepala ular di dalam kita. Ia sudah menghancurkan ular di atas salib, sekarang Ia harus juga menghancurkan kepala ular di dalam kita. Tambahan pula Adam lama kita harus disingkirkan karena telah sarat dengan sifat-sifat ular. Kemudian Wesley meneruskan, “Memeteraikan di dalam kami wujud rupa-Mu”, yang artinya mengubah kita menjadi bentuk dan rupa Tuhan. Nyanyian ini berakhir dengan suatu doa bahwa “Adam yang akhir” akan membangkitkan kita dalam kelimpahan-Nya. Kita semua harus memuji Tuhan bahwa Ia telah tinggal di dalam kita, dan Ia sekarang menghancurkan kepala ular di dalam kita. Dia adalah benih perempuan yang menang itu.

b. Para Pemenang

Benih pemenang ini juga membuat kita jadi para peme-nang. Kita menang bersama Kristus, karena di dalam kita ada benih pemenang. Dalam Roma 16:20 Allah berjanji akan segera menghancurkan Iblis di bawah kaki kita. Tetapi, se-bagai pemenang-pemenang bersama Kristus, kita diserang dan didakwa oleh ular (2 Kor. 12:7, Why. 12:10). Ular ber-usaha menelan kita (Why. 12:4), tetapi kita dapat mengatasinya. Kita bukan menang bersandarkan jerih lelah kita, me-lainkan bersandarkan darah Anak Domba dan oleh perkata-an kesaksian kita (Why. 12:11). Kita harus mengumumkan perkataan kesaksian kita, memberi tahu ular: “Kau telah dihancurkan”. Kita tidak hanya mengabarkan Injil kepada orang-orang, tetapi juga mengumumkan kepada ular fakta-fakta tentang benih perempuan yang menang. Jika Anda tergoda ingin marah, janganlah mencoba mengatasinya. Kata-kan saja kepada Iblis: “Iblis, jangan menggoda aku. Tidak-kah kau tahu bahwa kau telah dihancurkan?” Lain kali, katakan demikian kepada Iblis ketika ia menggoda Anda untuk marah-marah. Tidak perlu harus berdoa, ingatkan saja kepada ular bahwa ia telah dihancurkan. Katakan ke-padanya “Hai Iblis, bacalah Alkitab. Bacalah Ibrani 2:14. Aku mengingatkan kamu bahwa kamu telah dihancurkan.” Kita mengalahkan dengan perkataan kesaksian kita, dengan menyatakan apa yang telah Yesus perbuat. Inilah kemenangan kita. Lagi pula, pemenang-pemenang tidak menyayangi jiwa mereka, bahkan sampai mati.

Akhirnya, kita akan meraja bersama dengan Kristus, memerintah bangsa-bangsa dengan tongkat besi (Why. 2:26-27). Wahyu 2:26-27 adalah kutipan dari Mazmur 2, suatu nubuat tentang Kristus yang menubuatkan pemerintahan-Nya atas bangsa-bangsa. Tetapi penggenapan nubuat ini ber-hubungan dengan pemenang-pemenang. Melalui ini kita tahu bahwa Alkitab sesungguhnya menggabungkan Kristus dan semua pemenang-Nya sebagai satu Tubuh. Ini lebih menguat-kan lagi alasan kita bahwa anak laki-laki dalam Wahyu 12 bukan hanya Kristus sendirian, melainkan Kristus sebagai Kepala dan semua pemenang sebagai Tubuh-Nya. Dalam nubuat Mazmur 2, Kristus dinubuatkan akan memerintah seluruh bangsa-bangsa dengan tongkat besi. Dalam peng-genapan Wahyu 2:26-27, pemenang-pemenang dinyatakan akan memerintah bangsa dengan tongkat besi. Nubuat dan penggenapannya menggabungkan Kristus dan pemenang-pemenang-Nya sebagai anak laki-laki. Karena itu Wahyu 12:5 mengatakan bahwa anak laki-laki ini akan memerintah seluruh bangsa dengan tongkat besi. Haleluya! Kita meme-rintah bersama-sama Kristus. Menurut Wahyu 20:1-6, kita juga akan meraja bersama-sama Kristus dan memerintah bersama-sama Dia di dalam Kerajaan Seribu Tahun.

4. Akibatnya

Sekarang kita sampai pada akibatnya. Benihnya ter-dapat dalam Kejadian 3:15, akibatnya serta hasil tanaman-nya terdapat di Wahyu 20 sampai 22. Ketiga bagian ini masing-masing bertumbuh dari benih menjadi bentuk yang sudah masak. Ular telah tumbuh menjadi naga besar (Why. 12:9, 20:2), perempuan individu itu tumbuh menjadi perempuan korporat, dan keturunan perempuan individu itu telah tumbuh menjadi anak laki-laki korporat.

a. Ular akan Dilemparkan ke dalam Lautan Api

Wahyu 20:10 menyatakan bahwa ular pada akhirnya akan dilemparkan ke dalam lautan api. Inilah panen yang diperoleh Iblis. Nasib Iblis dan tempat tujuan akhirnya ialah lautan api.

b. Perempuan akan Berkesimpulan pada Yerusalem Baru

Perempuan itu sendiri akan berkesimpulan pada Yerusalem Baru (Why. 21:2, 9-10). Inilah tuaian perempuan itu. Nasib dan tujuan terakhir perempuan itu adalah Yerusalem Baru.

c. Keturunan Perempuan

akan Menjadi Inti Yerusalem Baru

Bagaimana dengan keturunan perempuan itu? Keturunan perempuan akan menjadi inti Yerusalem Baru (Why. 21:22-23; 22:1). Inilah tuaian keturunan perempuan. Nasib dan tujuan terakhir keturunan perempuan ialah menjadi inti Yerusalem Baru.

Saya percaya bahwa Tuhan telah dengan jelas menunjukkan kepada kita tentang ular, perempuan, dan keturunan perempuan. Benih dari ketiga butir ini ada dalam Kejadian 3:15 dan tuaiannya ada dalam Wahyu 20—22.