PENANGGULANGAN ALLAH TERHADAP KEJATUHAN MANUSIA KALI PERTAMA (1)
Dalam berita yang lalu, kita telah melihat kejatuhan manusia kali pertama serta membahas tentang penyebab, proses, dan akibat kejatuhan manusia. Betapa mengerikan penyebab, proses dan akibatnya. Syukur kepada Allah bahwa Kejadian 3 tidak berhenti di sini! Kejadian 3 tidak hanya menyingkapkan penyebab, proses, dan akibat kejatuhan manusia kali pertama, tetapi juga mewahyukan jalan Allah menanggulangi kejatuhan ini. Yaitu dengan jalan keselamat-an. Berita atau perkataan mengenai jalan ini disebut Injil. Sekarang, kami justru sedang memberitakan Injil kepada segenap pembaca berita ini. Perberitaan Injil kali pertama di alam semesta ini tercantum dalam Kejadian 3. Jangan menganggap Kejadian 3 adalah pasal yang negatif; tidak! Pasal ini sangat positif. Meskipun pasal ini dimulai dengan ular yang jahat, licik, tetapi ular itu justru membuka jalan masuk bagi keturunan perempuan. Ini sungguh ajaib!
Siapa keturunan perempuan itu? Dia adalah Yesus! Yesus dilahirkan dari perempuan, bukan dari laki-laki. Beberapa orang yang disebut kritikus kelas tinggi, menyerang kitab Kejadian dan kitab Wahyu, mengatakan bahwa Yesus tidak dilahirkan dari seorang dara, melainkan dilahirkan dari Yusuf, tukang kayu. Pendapat demikian merupakan hu-jat paling besar terhadap Tuhan Yesus. Tuhan Yesus bukan putra tukang kayu yang kemudian menjadi suami dara Maria; Dia lahir dari dara Maria. Jadi, Tuhan Yesus bukan keturunan laki-laki, melainkan keturunan perempuan — dara; seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya (Yes. 7:14), tergenap dalam (Matius 1:23) dan dibuktikan oleh Paulus (Gal. 4:4). Dalam Galatia 4:4 Paulus mengatakan bahwa Kristus dilahirkan oleh seorang perempuan. Jadi, Tuhan Yesus bukan keturunan laki-laki, Dia keturunan perempuan, untuk menggenapi janji yang Allah berikan sebagai Injil dalam Kejadian 3:15. Kejatuhan manusia kali pertama membuka jalan masuk bagi keturunan perempuan. Inilah Injil.
d. Jalan Allah Menanggulangi Kejatuhan Manusia Kali Pertama
Sekarang kita melihat bagaimana jalan Allah menanggulangi kejatuhan manusia kali pertama. Allah tidak langsung menghakimi manusia. Segera setelah jatuh, baik Adam maupun Hawa sadar bahwa mereka tidak benar. Mereka menyalahkan diri sendiri, bersembunyi, dan menutupi diri dengan dedaunan (Kej. 3:7-8). Adam dan Hawa bersembunyi dari hadapan Allah. Mereka tahu bahwa mereka telah melanggar larangan Allah, makan buah pohon pengetahuan, dan tahu bahwa akibat pelanggaran mereka itu ialah maut. Mereka lalu bersembunyi dari hadapan Allah, menunggu keputusan hukuman mati. Allah datang, namun tidak mengumumkan hukuman mati, melainkan memberitakan Injil. Allah tidak mengumumkan hukuman mati, malahan menyiarkan kabar gembira dari Injil.
(1) Mencari Manusia
Tahukah Anda apa kalimat pertama dari pemberitaan Injil kali itu? Yaitu pertanyaan yang terdapat dalam Kejadian 3:9: “Di manakah engkau?” Pada masa awal ministri saya, saya sering menggunakan pertanyaan ini sebagai judul pemberitaan Injil saya. Saya bertanya kepada orang-orang, “Di manakah engkau? Tuan-tuan, di manakah engkau? Nyonya-nyonya, di manakah engkau? Pemuda pemudi, dokter, profesor, di manakah engkau? Kalian semua harus tahu di manakah kalian.” Pertanyaan ini bukan pengumuman suatu hukuman, melainkan suatu pembukaan kabar gem-bira. Allah sedang mencari manusia, Dia bertanya, “Di manakah engkau?”
Setelah jatuh, manusia tidak lagi tulus dan jujur. Jika Adam jujur, pada saat Allah bertanya di manakah dirinya, tentunya ia akan mengakui pelanggarannya. Namun, dia tidak berbuat demikian. Dalam jawabannya, Adam berkata bahwa dirinya telanjang (ayat 10). Lalu Allah bertanya, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Seharusnya Adam mengaku dengan jujur, “Ya Allah, aku memang memakan buah pohon itu. Ampunilah aku.” Namun, Adam tidak dengan tegas mengakui pelanggarannya, ia malahan meletakkan tanggung jawab itu kepada perempuan. Adam berkata, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (Kej. 3:12). Jawabannya menyiratkan bahwa itu salah Allah, mengapa memberinya perempuan yang kemudian memberinya makan buah pohon itu. Setelah berkata demikian, barulah Adam mengaku telah makan. Seolah-olah Adam berkata, “Ini bukan salahku. Allah, Engkau yang harus bertanggung jawab atas masalah yang disebabkan oleh perempuan pemberian-Mu itu. Jika Engkau tidak memberiku perempuan itu, aku takkan makan buah pohon itu. Engkau memberiku perempuan itu, dialah yang memberiku makan, sehingga aku memakannya.” Meskipun demikian, Allah tidak memarahi Adam, karena kedatangan Allah bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menye-lamatkan. Allah datang kepada manusia di taman, ini sama dengan Putra-Nya yang datang beberapa abad kemudian. Ia datang untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi (Yoh. 3:17).
Selanjutnya Allah bertanya kepada perempuan itu, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Sama seperti Adam, demikian juga Hawa, tidak dengan tegas mengakui kesalahannya. Hawa berkata, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Sejak kejatuhan manusia kali pertama, manusia selalu bersikap demikian. Setiap kali seorang anak berbuat salah, ia tidak mau mengakuinya, malahan menyalahkan orang atau sesuatu lainnya. Bahkan mungkin seorang anak kecil sudah tahu melemparkan tanggung jawabnya kepada seekor kucing dengan berkata, “Mama, jika tidak ada kucing itu, aku tidak akan melakukan hal itu. Itu bukan kesalahanku, tetapi kesalahan mama memelihara kucing itu.”
Jelaslah, Allah menanggulangi kejatuhan manusia kali pertama dengan jalan mencari orang yang hilang itu. Ini seperti yang terjadi di kemudian hari, Putra-Nya datang mencari dan menyelamatkan orang yang hilang (Luk. 19:10). Allah mencari manusia bukan untuk menghakiminya, tetapi untuk memberitakan Injil kepadanya.
(2) Menghakimi Ular
Ketika Allah mendatangi Adam dan Hawa, Ia meng-ajukan pertanyaan kepada mereka; tetapi ketika berpaling kepada ular, Allah tidak mengajukan pertanyaan, melainkan langsung mempersalahkan ular itu. Allah tidak menanyai ular, “Hai ular, benarkah engkau yang mendalangi hal ini?” Kepada Adam Allah pernah bertanya, “Di manakah engkau?” “Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang?” dan “Apakah Engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Allah juga bertanya ke-pada Hawa, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Allah ber-tanya kepada Adam dan Hawa bukan dengan maksud untuk menyalahkan mereka, melainkan untuk memimpin mereka agar mengaku dosa. Namun ketika Allah berpaling kepada ular, Ia tidak bertanya apa pun; Allah langsung berkata kepada ular, “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala bina-tang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu.” Inilah penghakiman Allah terhadap ular.
(a) Menjalar dengan Perut —
Hanya Boleh Bergerak di Bumi
Menjalar dengan perutnya dan makan debu tanah seumur hidupnya, ini tentu merupakan kutukan bagi ular.
Dalam kutukan ini tersirat suatu arti yang tersembunyi. Allah demikian menghakimi ular, berarti membatasi Iblis se-hingga Iblis hanya bisa bergerak di bumi. Burung bebas dan dapat terbang tinggi dengan sesukanya di udara. Tetapi ular tidak mempunyai kebebasan itu; ia hanya terbatas pada bu-mi. Asal kita melampaui bumi, ular itu — Satan, Iblis — tidak dapat menjamah kita. Ketika kita melampaui segala sesuatu, kita mengalahkan Iblis. Namun jika kita juga men-jalar di bumi, kita akan bersama dengan Iblis, menjadi te-mannya, menjalar bersama-sama dengannya beserta bina-tang-binatang melata lainnya. Namun kita tidak menjalar di bumi ini, kita melampauinya.
(b) Makan Debu Tanah —
Hanya Boleh Makan Barang Bumiah
Aspek kedua dari kutukan ini ialah ular hanya dapat makan debu tanah. Debu tanah adalah makanan ular. Kita dibuat dari debu tanah. Jika kita bumiah, menempuh hidup yang bumiah, niscaya kita akan menjadi makanan ular dan ia akan menelan kita (1 Ptr. 5:8). Jika Anda adalah orang yang bumiah, hidup bersama istri atau suami Anda dengan sikap dan tingkah laku bumiah, niscaya Anda akan menjadi makanan Iblis. Banyak keluarga yang telah ditelan seluruh-nya oleh Iblis, karena mereka terlalu bumiah. Mengapa hidup pernikahan Anda hampir ditelan oleh Iblis? Sebab hidup pernikahan Anda adalah bumiah, penuh debu tanah.
Dalam kutukan Allah terhadap ular, Ia memberi Iblis suatu pembatasan: ular tidak dapat bergerak melampaui bu-mi, ia tidak dapat makan apa pun selain debu tanah. Allah menciptakan manusia dengan roh, jiwa, dan tubuh. Meski-pun tubuh dan jiwa itu bumiah, tetapi roh tidak. Berhubung roh kita bukan yang bumiah, maka roh kita tidak bisa menjadi makanan Iblis. Ular hanya diizinkan makan debu tanah. Tubuh dan jiwa kita yang telah jatuh adalah makan-an Iblis, tetapi roh kita tidak. Roh manusia bukanlah yang bumiah, ia tidak dapat dimakan Iblis. Kapan kita hidup menurut daging, kita merupakan santapan yang lezat bagi Iblis; kapan kita menjadi jiwani, kita juga menjadi santapan Iblis. Tetapi kapan kita berpaling ke dalam roh, melupakan tubuh dan jiwa, Iblis tidak memiliki makanan apa-apa. Ketika kita berpaling ke dalam roh, Iblis akan terbatasi. Puji Tuhan! Ketika Allah menghakimi ular, ular telah dibatasi sedemikian rupa.
Kita tidak perlu menjalar di tanah, juga seharusnya tidak menjadi bumiah. Saudari-saudari, ketika suami atau anak Anda menyulitkan Anda, janganlah Anda tinggal di bumi. Anda dapat melatih roh Anda untuk segera terbang tinggi ke langit, demikian Iblis tidak dapat menjamah Anda. Ular itu terbatas hanya di bumi dan hanya diizinkan makan yang ada di bumi. Jika Anda terbang ke langit tingkat ketiga, Anda akan berkata, “Iblis, apa yang sedang kau laku-kan di sana? Kamu hanya bisa bermain-main dengan suami atau anakku yang nakal. Iblis, aku di sini, di langit tingkat ketiga. Kamu tidak bisa menjamahku, kamu tidak dapat me-nelanku. Namun aku dapat menginjakmu di bawah kakiku.” “Allah sumber damai sejahtera, segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu” (Rm. 16:20). Untuk menginjak Iblis, kita harus melampauinya. Jika kita di bawahnya, bagaimana Allah dapat menaruhnya di bawah kaki kita? Berhubung ular telah dibatasi di bumi ini saja, maka sangatlah mudah bagi kita untuk menginjaknya. Puji Tuhan! Sewaktu meng-hakimi ular, Allah juga memberitakan Injil. Allah telah membatasi aktivitas dan makanan Iblis. Setelah meng-umumkan penghakiman ini, Allah memberitakan kabar gembira ini dalam Kejadian 3:15.
(3) Janji kepada Manusia
Dalam Kejadian 3:15 kita nampak, setelah manusia jatuh, Allah memberi sebuah janji yang ajaib. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan melukai kepalamu dan engkau akan melukai tumitnya” (Tl.). Janji ini sungguh merupakan kabar gembira.
(a) Latar Belakangnya
Latar belakang janji Allah ini disebabkan manusia telah ditipu oleh ular dan jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:13). Saat itu, manusia takut kepada Allah, sedang menunggu keputusan hukuman mati (Kej. 3:8, 10). Tetapi Allah tidak menghukum manusia. Allah justru menghakimi ular (Kej. 3:14).
(b) Isinya
1) Ada Permusuhan antara Ular dan Perempuan
Dalam Kejadian 3:15, Allah berkata kepada ular, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perem-puan ini.” Kita tidak menyukai kata “permusuhan” ini, ka-rena kita tidak ingin terlibat dalam peperangan. Tetapi Allah berkata bahwa Ia akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan. Allah tidak melepaskan pengaturan-Nya terhadap situasi itu, Allah juga tidak mengizinkan perempuan dan ular itu hidup menyendiri. Seolah-olah Allah berkata, “Aku akan mengendalikan situasi ini. Aku tetap akan mengatur segala sesuatu. Aku akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan.” Segera, kita akan melihat siapakah perempuan ini. Dalam Kejadian 3:15 Allah selanjutnya berkata bahwa Ia akan mengadakan permusuhan antara keturunan perempuan; keturunan perempuan akan melukai kepala ular dan ular akan melukai tumit ke-turunan perempuan. Hal ini menyatakan bahwa keturunan ular dan keturunan perempuan akan saling bermusuhan; keturunan perempuan akan melukai kepala ular dan ular akan melukai tumit keturunan perempuan. Melukai kepala ular berarti meremukkannya, membunuhnya. Menurut Kejadian 3:15, keturunan perempuan akan meremukkan ular, tetapi ular hanya dapat melukai tumit keturunan perempuan.
Seperti banyak hal yang disebutkan dalam Kejadian 1 sampai 3, Kejadian 3:15 merupakan suatu benih, yakni benih Injil yang sangat penting. Dalam Kejadian 3:15, Allah per-tama kali mengabarkan Injil-Nya yang sempurna. Karena itu kita perlu memakai lebih banyak waktu untuk ayat ini, guna melihat siapakah perempuan ini, siapakah keturunan ular, dan siapakah keturunan perempuan. Kita harus sangat kenal terhadap tiga golongan orang ini — perempuan, keturunan ular, dan keturunan perempuan. Pertama-tama mari kita lihat siapakah perempuan ini.
Sebagaimana telah saya sebutkan, hampir segala sesuatu dalam Kejadian 1 sampai 3 merupakan benih-benih, juga tanda-tanda atau lambang-lambang. Karena itu kita perlu memberikan kiasan atas bagian Alkitab ini. Setelah membaca berita yang lalu, kita harus menyadari bahwa kedudukan manusia yang tepat adalah sebagai perempuan. Kita, baik laki-laki atau perempuan, kedudukan kita di hadapan Allah adalah perempuan. Jika kita mengatakan bahwa kita laki-laki di hadapan-Nya, kita akan segera di-telan oleh Iblis. Jelas, perempuan yang disebut dalam Kejadian 3:15 adalah Hawa, dan Hawa itu melambangkan semua umat Allah, yaitu semua orang yang berkedudukan sebagai perempuan yang bersandar kepada Allah. Asalkan kita bersandar kepada Allah, maka kita adalah umat-Nya, adalah istri-Nya. Jadi, perempuan pada Kejadian 3:15, pertama-tama ditujukan Hawa, dan kemudian ditujukan semua orang yang percaya dan bersandar kepada Allah. Singkatnya, semua umat Allah adalah perempuan. Jadi, permusuhan antara ular dan perempuan adalah permusuhan antara Iblis dan Hawa, antara Iblis dan seluruh umat Allah. Hawa me-lambangkan seluruh umat Allah.
Dalam Wahyu 12:1 kita nampak tanda seorang perem-puan universal. Perempuan ini adalah satu tanda besar; ia berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepala-nya. Jadi perempuan ini bukanlah perempuan tunggal, lokal, individual; dia adalah perempuan universal, suatu tanda yang melambangkan seluruh umat Allah dari Adam sampai Abraham, dari Ishak sampai Musa, dari Musa sampai para rasul, dan dari para rasul sampai zaman sekarang ini. Selu-ruh umat manusia tersusun menjadi perempuan ini dan se-mua termasuk di dalamnya. Kedua belas bintang mewakili para nenek moyang seperti Adam, Habel, Henokh, Abraham, dan Yakub. Mereka adalah bintang-bintang, belum terbentuk menjadi kesatuan. Selanjutnya adalah umat Israel. Mereka hidup di masa malam yang gelap, maka mereka dilam-bangkan oleh bulan. Namun sewaktu Tuhan Yesus datang, hari telah fajar dan matahari bersinar terang. Maka, umat gereja diwakili oleh matahari. Jadi seluruh umat Allah: para nenek moyang, orang-orang Israel dalam Perjanjian Lama, gereja dalam Perjanjian Baru, termasuk semua orang ber-iman, bersama-sama terbentuk menjadi perempuan univer-sal ini. Perempuan universal pada Wahyu 12 ini telah dilam-bangkan oleh perempuan individu, Hawa, pada Kejadian 3:15. Hawa dalam Kejadian 3 merupakan lambang dari perempuan universal ini.
Dalam kabar gembira yang diberitakan Allah pada Kejadian 3:15, Allah berkata bahwa Ia akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan. Hal ini berarti bahwa sepanjang abad Iblis akan terus-menerus berperang melawan semua umat Allah. Ular tidak hanya akan ber-perang melawan Hawa, tetapi juga akan berperang dengan umat Allah di setiap generasi. Habel dibunuh oleh Kain, ini adalah sebuah contoh. Menurut 1 Yohanes 3:12, perbuatan pembunuhan ini tidak melulu merupakan kejahatan yang dilakukan oleh Kain, lebih-lebih dosa yang dilakukan oleh si jahat itu, yaitu ular. Ular memperalat Kain untuk mem-bunuh Habel. Jika kita tidak percaya dan bersandar kepada Allah, kita bukanlah umat Allah. Jika kita bukan umat Allah, kita adalah satu golongan dengan Iblis dan ia tidak akan berperang melawan kita. Tetapi begitu sekali Anda ber-paling kepada Allah dan menjadi orang beriman dan ber-sandar kepada-Nya, ular segera siap menyerang Anda. Inilah permusuhan antara ular dan perempuan.
2) Ada Permusuhan
antara Keturunan Ular dan Keturunan Perempuan
Tadinya, Adam dan Hawa sedang menunggu kematian, menganggap dirinya berada di bawah hukuman mati. Sebab itu, ketika Allah menyebut tentang keturunan, ini meru-pakan kabar gembira bagi mereka. Mereka mengira akan segera mati dan tidak mungkin mempunyai keturunan lagi. Ketika Adam mendengar bahwa perempuan itu akan mem-punyai keturunan, segera ia menamai istrinya: Hawa. Da-lam bahasa Ibrani, Hawa berarti “hidup”. Ketika Adam dan Hawa sedang takut dan gentar sambil menunggu hukuman kematian, tiba-tiba datanglah kabar gembira bahwa perem-puan itu akan mempunyai keturunan. Dengan spontan Adam berkata, “Hidup! Engkau tidak akan mati, engkau hidup! Namamu Hawa, sebab engkau hidup.” Dalam berita ke-17 telah kita nampak bahwa pertama kali Adam melihat Hawa dalam Kejadian 2, ia sangat girang dan berkata, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Dalam Kejadian 3, Adam juga sangat girang. Ia tidak menerima putus-an hukuman dosa, sebaliknya, ia mendengar Injil. Maka Adam menamakan istrinya “Hidup”. Jika Anda bertanya, siapakah nama saya, saya akan menjawab bahwa nama saya adalah “Hidup”.
Dalam ayat 15 Allah memberitakan Injil, dalam ayat 20 tercatat reaksi Adam terhadap Injil. Jika Adam tidak memiliki reaksi terhadap Injil, ia tentu akan memanggil istri-nya “Mati”, dan berkata, “Oh, perempuan yang kasihan, tidakkah kau tahu bahwa kaulah penyebab kematian? Na-mamu seharusnya adalah ‘Mati’”. Namun sebaliknya, sete-lah Adam mendengar berita Injil Allah, dengan gembira ia menamakan istrinya Hawa — “Hidup”. Hari ini seluruh dunia berada di bawah hukuman kematian, kita harus pergi kepada mereka untuk memberitakan Kejadian 3:15. Ketika orang-orang dunia mendengar kabar gembira dari Kejadian 3:15, mau menerima Injil ini, dan bereaksi, mereka pasti akan berseru, “Sekarang aku hidup. Puji Tuhan!”
a) Permusuhan antara Keturunan Ular dan Keturunan Perempuan
Keturunan ular adalah orang-orang yang mengikuti Iblis. Alkitab menggunakan berbagai istilah untuk melukis-kan mereka. Dalam Matius 3:7 mereka disebut “keturunan ular berbisa”. Matius 13:38 menyebut mereka “anak-anak si jahat”. Dalam Yohanes 8:44 Tuhan Yesus mengatakan bah-wa mereka berasal dari bapa mereka yaitu Iblis. Dalam 1 Yohanes 3:8, rasul Yohanes berkata bahwa setiap orang yang berbuat dosa berasal dari Iblis; ia juga menggunakan istilah “anak-anak Iblis” (ayat 10). Semua sebutan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mengikuti Iblis adalah keturunan ular. Baik mereka disebut keturunan ular berbisa, anak-anak si jahat, atau anak-anak Iblis, artinya sama saja, yaitu keturunan ular yang menganiaya dan berperang melawan Tuhan Yesus beserta para pemenang.
Keturunan perempuan adalah Tuhan Yesus. Dia dilahir-kan oleh anak dara yang bernama Maria (Yes. 7:13; Mat. 1:23; Gal. 4:4). Ia benar-benar keturunan perempuan. Dia adalah keturunan perempuan yang dinubuatkan dalam ka-bar gembira yang diberitakan oleh Allah sendiri dalam Kejadian 3:15. Dialah yang menghancurkan ular. Orang-orang pengikut Iblis sangat bermusuhan dengan Tuhan Yesus.
b) Keturunan Perempuan Melukai Kepala Ular
Tuhan Yesus, keturunan perempuan, telah melukai kepala ular. Tuhan Yesus telah memusnahkan Iblis, si pemegang kuasa maut. Hal ini diungkapkan sepenuhnya dalam Ibrani 2:14 dan 1 Yohanes 3:8.
c) Ular Melukai Tumit Keturunan Perempuan
Di atas salib, Tuhan Yesus menghancurkan si ular, dan si ular melukai tumit-Nya. Hal ini berarti bahwa Iblis me-lukai Tuhan Yesus dengan memaku kaki-Nya di salib (Mzm. 22:17).
d) Permusuhan antara Ular dan Para Pemenang
Siapakah para pemenang? Kita telah melihat bahwa perempuan dalam Kejadian 3:15, pertama-tama ditujukan kepada Hawa, kemudian ditujukan kepada semua umat Allah, termasuk anak dara Maria yang dilambangkan oleh Hawa. Jadi keturunan perempuan terutama ditujukan kepada Tuhan Yesus yang dilahirkan oleh Maria. Dalam Wahyu 12 masih terdapat banyak catatan mengenai keturunan perempuan. Perempuan yang dinubuatkan dalam Wahyu 12 dan yang dilambangkan dalam Kejadian 3:15 adalah seorang pe-rempuan universal, di dalamnya terkandung sebagian yang disebut anak laki-laki (Why. 12:1, 2, 5). Menurut makna Al-kitab, perempuan mewakili kelemahan, karena perempuan adalah bejana yang lemah (1 Ptr. 3:7). Laki-laki, khususnya anak laki-laki, mewakili kekuatan. Perempuan universal dalam Wahyu 12 mempunyai dua bagian: bagian luar yaitu perempuan itu sendiri dan bagian dalam yaitu anak laki-laki. Bagian luar yaitu perempuan itu adalah bagian yang lemah, sedangkan bagian dalam yaitu anak laki-laki adalah bagian yang kuat. Semua umat Allah adalah perempuan yang lemah, tetapi di antaranya ada bagian yang kuat, yaitu anak laki-laki atau para pemenang. Dalam gereja ada kaum saleh mungkin agak lemah, merupakan bagian dari perempuan, namun ada juga yang sangat kuat, merupakan bagian dari anak laki-laki. Anak laki-laki ini juga boleh dianggap se-bagai bagian dari keturunan perempuan. Anak laki-laki ini adalah bagian yang kuat di antara umat Allah. Seluruh umat Allah adalah perempuan ini dan bagian yang kuat di antara umat Allah adalah anak laki-laki. Jadi, anak laki-laki juga merupakan bagian dari keturunan perempuan.
Saya suka membandingkan Wahyu 12 dengan Kejadian 3. Dalam Kejadian 3:15 terdapat tiga istilah penting: ular, perempuan, dan keturunan perempuan. Kita menjumpai tiga istilah yang sama dalam Wahyu 12; di sana kita nampak ular tua, perempuan universal, dan anak laki-laki. Sudah-kah Anda melihat keserasian kedua pasal ini? “Ular tua” dalam Wahyu 12:9 adalah ular dalam Kejadian 3; perempuan universal dalam Wahyu 12:1 adalah perempuan dalam Kejadian 3:15; dan anak laki-laki dalam Wahyu 12:5 adalah bagian dari keturunan perempuan yang juga disebutkan dalam Kejadian 3:15. Jika Anda tidak mengerti Wahyu 12, Anda tidak akan jelas terhadap Kejadian 3:15. Hanya dalam ayat yang pendek ini telah diungkapkan tiga persona penting — ular, perempuan, dan keturunan perempuan. Sulit untuk mengerti tiga persona ini tanpa membaca seluruh Alkitab. Ketika sampai pada wahyu 12, kita akan nampak bahwa ular pada Kejadian 3:15 adalah Iblis, karena Wahyu 12:9 mengatakan, “Si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan.”
Perempuan itu tidak hanya mengacu kepada Hawa saja, juga mengacu kepada semua orang yang percaya dan bersandar kepada Allah, termasuk anak dara Maria. Sebab seluruh umat Allah berkedudukan sebagai perempuan di hadapan-Nya. Selain itu, kita pun melihat bahwa di dalam perempuan itu terkandung bagian yang kuat, disebut anak laki-laki. Maka, anak laki-laki dalam Wahyu 12 merupakan bagian dari keturunan perempuan yang disebutkan dalam Kejadian 3:15.
Mungkin ada yang bertanya, siapakah anak laki-laki itu? Mengenai ini, di kalangan kekristenan terdapat berbagai penjelasan. Ada yang mengatakan bahwa anak laki-laki itu adalah Tuhan Yesus. Dalam salah satu aspek, saya setuju dengan ini; karena Tuhan Yesus adalah kepala, inti, reali-tas, hayat, dan hakiki anak laki-laki itu. Namun anak laki-laki itu bukan individu, melainkan korporat. Karena perem-puan itu sendiri tidak individu, melainkan universal dan korporat, maka anak laki-laki itu pasti juga universal, kor-porat. Anak laki-laki yang korporat ini meliputi Tuhan Yesus yang sebagai kepala, inti, realitas, hayat, dan hakikinya. Ini bisa dibuktikan oleh Alkitab. Mazmur 2:8-9 menubuatkan bahwa Tuhan Yesus sebagai Sang Terurap Allah akan me-merintah bangsa-bangsa dengan gada besi; Wahyu 2:26-27 mengatakan bahwa para pemenang dalam gereja akan me-merintah bangsa-bangsa dengan tongkat besi; sedang Wahyu 12:5 memberi tahu kita bahwa Anak laki-laki akan meng-gembalakan semua bangsa dengan gada besi. Jadi, menurut catatan Alkitab, Tuhan Yesus sendiri beserta para peme-nang-Nya akan memerintah bangsa-bangsa dengan tongkat besi. Jelas, Anak laki-laki dalam Wahyu 12:5 meliputi Tuhan Yesus dan para pemenang dalam gereja. Selain itu, Wahyu 20:4 mengatakan bahwa Kristus dengan para pemenang yang bangkit akan memerintah sebagai raja selama seribu tahun. Karena itu, Anak laki-laki dalam Wahyu 12 bukan mengacu kepada Tuhan Yesus secara individu, atau para pemenang yang terpisah dari-Nya, melainkan Tuhan Yesus beserta para pemenang. Kristus sendiri adalah pemenang yang terkemuka (Why. 3:21). Sebagai pemenang kepala, Dia adalah kepala, inti, realitas, hayat, dan hakiki para pe-menang. Di antara umat Allah di atas bumi terdapat bagian yang kuat, termasuk Tuhan Yesus dengan para pemenang. Jadi, Tuhan Yesus dengan para pemenang-Nya adalah pem-bentuk Anak laki-laki itu.
Permusuhan antara ular dan keturunan perempuan yang disebut dalam Kejadian 3:15 mengatakan bahwa akan ada permusuhan antara ular dengan keturunan perempuan; hal ini ternyata seluruhnya dalam Wahyu 12. Dalam Wahyu 12 kita nampak bahwa ular tua berusaha sekuatnya untuk memerangi Anak laki-laki dan perempuan itu (ayat 4, 13-17). Saat itu, permusuhan dalam Kejadian 3:15 tergenapi seluruhnya.
Tuhan Yesus adalah Anak laki-laki, namun Ia dilahir-kan dari perempuan. Apa artinya ini? Menurut arti rohani-nya, Tuhan Yesus dilahirkan dari sumber yang bersandar kepada Allah. Perempuan adalah sumber keturunan ini, dan keturunan ini lebih kuat daripada perempuan, di dalam ke-turunan ini ada satu bagian sebagai anak laki-laki yang mengalahkan musuh. Sumber anak laki-laki itu adalah perempuan, bukan laki-laki; sumbernya adalah yang bersandar kepada Allah, bukan orang yang menyatakan merdeka terhadap Allah. Anak laki-laki adalah keturunan perempuan yang bersandar kepada Allah. Tuhan Yesus adalah keturunan dari sumber yang demikian.
Demikian pula, kita semua seharusnya adalah keturunan perempuan, keturunan dari sumber yang bersandar kepada Allah. Jika kita mengaku diri sebagai laki-laki di hadapan Allah, pasti tamatlah hubungan kita dengan Allah, dan kita tidak lagi menjadi milik Allah. Setiap orang milik Allah seharusnya perempuan di hadapan-Nya. Jika saudara-saudara pemimpin dalam gereja berkata, “Kita tahu harus berbuat apa,” niscaya mereka sudah tidak lagi sebagai perempuan di hadapan Allah, melainkan mengambil posisi sebagai laki-laki. Saudara-saudara pemimpin harus berkata, “Ya Tuhan, Engkau tahu betapa lemahnya kami. Kami bersandar kepada-Mu. Lepas dari diri-Mu kami tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam segala sesuatu kami beriman dan bersandar kepada-Mu.” Jika saudara-saudara pemimpin mem-punyai sikap yang demikian, mereka benar-benar perempuan di hadapan Allah. Kejadian 3:15 tidak menyebutkan keturunan laki-laki, sebab hanya keturunan perempuan, bukan keturunan laki-laki, yang mempunyai kedudukan di hadap-an Allah.
Di satu aspek, kita adalah perempuan, di aspek lain, kita juga keturunan perempuan. Kita adalah orang-orang yang bersandar kepada Allah. Inilah sumber kita. Kita pun keturunan yang dilahirkan dari sumber yang bersandar kepada Allah; karena itu, kita menjadi kuat. Hanya ke-turunan yang dilahirkan dari sumber yang bersandar kepada Allah yang dapat menjadi kuat. Mereka bukan kuat di dalam diri sendiri, melainkan kuat di dalam Allah. Tuhan Yesus sendiri memimpin orang-orang yang demikian. Dialah Kepala anak laki-laki. Sekarang Dia menjadi inti, realitas, hayat, dan hakiki anak laki-laki. Bagaimana mungkin Iblis, si musuh itu, dapat menyerang anak laki-laki ini?
(c) Intinya
Inti dan fokus Kejadian 3:15 ialah keturunan perempuan — Tuhan Yesus, akan datang dan akan menghancurkan Iblis di atas salib. Inilah deklarasi yang paling kuat dalam pemberitaan kabar gembira. Saya ulangi, ketika Adam dan Hawa ketakutan dan gentar sambil menunggu ke-putusan hukuman mati, Allah datang tidak mencela mereka, sebaliknya menginjil kepada mereka, ini sungguh menak-jubkan mereka. Tadinya Adam dan Hawa takut akan Allah dan benci kepada ular, karena itu dalam kabar gembira-Nya Allah menyatakan bahwa “keturunan perempuan” akan da-tang, Ia akan menghancurkan ular. Inilah Injil. Janji menge-nai keturunan perempuan dan kehancuran ular merupakan kabar gembira yang diberitakan kepada orang dosa generasi pertama.
(d) Penggenapannya
1) Pada Umat Allah
Selama berabad-abad, dari zaman ke zaman, janji dalam Kejadian 3:15 telah tergenap. Mula-mula janji ini tergenap pada semua umat Allah. Sejak saat janji ini diberikan, Iblis telah menjadi musuh umat Allah. Ia akan menjadi musuh umat Allah sampai saat ia dilemparkan ke dalam jurang tak berdasar (Why. 20:1-3). Akhirnya, ia akan dilemparkan ke dalam lautan api (Why. 20:7-10). Sebelum Iblis dilemparkan ke dalam lautan api, dia tetap menjadi musuh umat Allah.
2) Pada Semua Pemenang
Janji ini juga tergenap pada semua pemenang, sampai saat mereka terangkat. Hal ini diwahyukan dalam Wahyu 12.
3) Pada Tuhan Yesus
Janji ini tergenap sepenuhnya pada Tuhan Yesus. Mulamula tergenap pada saat Ia dilahirkan (Mat. 2:13-22). Begitu Tuhan Yesus dilahirkan, ular membangkitkan permusuhan yang sengit, yang mengakibatkan banyak nyawa anak-anak terbunuh. Kemudian janji ini tergenap di dalam kehidupan Tuhan Yesus sewaktu di bumi. Jika kita membaca keempat kitab Injil, kita akan nampak betapa Iblis terus-menerus menyulitkan Tuhan Yesus, memburu Tuhan, menantang Tuhan. Akhirnya, Iblis melukai tumit Tuhan di atas salib, sesuai dengan yang dinubuatkan oleh Mazmur 22:16.
Janji dalam Kejadian 3:15 mewahyukan bahwa Iblis adalah musuh umat Allah. Akhirnya, Tuhan Yesus datang; Dia adalah keturunan perempuan yang menghancurkan musuh. Hari ini kita sedang menikmati penggenapan janji ini.