KEJATUHAN MANUSIA KALI PERTAMA
Saya menyukai kitab Kejadian dan kitab Wahyu, sebab di dalam kedua kitab ini kita dapat melihat tujuan Allah dan penggenapannya. Kedua kitab ini juga mewahyukan bagai-mana musuh (si licik) itu masuk, dan terusir keluar. Mereka yang menamakan dirinya kritisi modern, yang tidak percaya kepada Alkitab, terutama akan menyerang kitab Kejadian dan Wahyu ini. Ketika kami masih muda, aliran kritisi kaum intelek paling mendapat angin, dan kami berperang melawannya. Kritikus-kritikus ini menyerang kitab Kejadi-an dan Wahyu, sebab ular yang licik itu, yang ada di dalam mereka, mengetahui bahwa tak ada kitab lain yang menelanjangi dia demikian banyak. Jika Anda ingin mengetahui bagaimana ular itu masuk dan bagaimana nasibnya kemudian, Anda perlu membaca pasal-pasal awal kitab Kejadian dan pasal-pasal terakhir kitab Wahyu. Wahyu 12:9 menyebut “ular tua yang disebut Iblis atau Satan.” Kata “tua” menandakan ular tersebut ialah yang terdapat dalam Kejadian 3. Karena itu, tanpa memiliki kitab Kejadian dan Wahyu, ular yang licik itu tak akan terbongkar dengan sempurna. Ular itu berusaha membangkitkan kritisi modern untuk mencoba menghilangkan kepercayaan terhadap kedua kitab itu.
Dalam Kejadian 1 dan 2 kita nampak sebuah taman, sedang dalam Wahyu 21 dan 22 kita nampak sebuah kota. Melalui pengubahan dan pembangunan, taman menjadilah kota. Antara Kejadian 2 dan Wahyu 21 terdapat banyak za-man dan angkatan. Ular pertama-tama muncul dalam Kejadian 3 dan aktif sampai sekarang; ia tak pernah tidur. Me-lalui semua generasi yang dimulai dari Kejadian 3, ular itu terus-menerus bekerja. Jika Anda membaca seluruh Alkitab dengan cermat, niscaya Anda nampak ular itu masuk di dalam Kejadian 3 dan di dalam Wahyu 20:10 ia dicampakkan ke dalam lautan api. Tak peduli dalam zaman mana pun, Iblis selalu aktif. Pada zaman pertama, yakni pada cara per-tama Allah menanggulangi manusia, Iblis sudah ada di sana. Iblis bukan hanya merusak pasangan manusia yang pertama, tetapi juga merusak manusia pada setiap zaman. Ketika Allah membangkitkan zaman yang lain, Iblis kem-bali ada di sana untuk merusak manusia. Satu generasi demi satu generasi, satu zaman demi satu zaman, Iblis selalu menampilkan diri, sehingga seolah-olah Allah pun tidak da-pat mengendalikan situasi itu. Namun sebenarnya bukanlah demikian. Allah itu besar. Kita hanya perlu memberi Dia sedikit kesempatan. Bagi Allah, seribu tahun sama dengan satu hari. Sejak Adam diciptakan sampai sekarang, bagi Allah tak lebih dari 6 hari. Kita perlu bersabar bersama-Nya.
Sampai pada zaman gereja, kita melihat suatu pepe-rangan yang paling hebat antara Iblis dengan manusia. Be-tapa dahsyatnya peperangan ini! Kitab Wahyu memberi tahu kita bahwa di dalam gereja, Allah telah memperoleh seke-lompok pemenang yang akan mengalahkan Iblis. Pada akhir zaman ini, Tuhan Yesus akan kembali dalam kemenangan. Tuhan Yesus masih belum kembali, sebab masih belum ada tumpuan kemenangan di mana Dia boleh meletakkan kaki-Nya. Ia senantiasa menunggu hal ini. Para pemenang akan membangun benteng tanjung bagi kembalinya Kristus yang mulia dalam kemenangan. Menurut Wahyu 12, pertama-tama Iblis akan dikalahkan oleh para pemenang; kemudian Iblis akan dicampakkan ke dalam jurang maut yang tak ber-dasar itu (Why. 20:1-3). Akhirnya, ia akan dicampakkan ke dalam lautan api (Why. 20:10).
Dalam Kejadian 3, Iblis datang dan dalam Wahyu 20, Iblis akan dicampakkan. Segera setelah dua pasal pertama kitab Kejadian, Iblis datang dan tepat sebelum dua pasal ter-akhir kitab Wahyu, Iblis akan dicampakkan. Jadi, di dalam keseluruhan Alkitab hanya ada empat pasal yang bebas dari jejak pencemaran musuh. Di luar keempat pasal ini, ia telah mencemari tiap zaman dan tempat. Hanya Kejadian 1 dan 2 serta Wahyu 21 dan 22 yang bebas dari pencemaran Iblis. Di antara Kejadian 2 dan Wahyu 21, kita bisa melihat semua aktivitas ular licik itu. Pernahkah Anda memperhatikan bahwa Iblis segera muncul setelah dua pasal yang pertama kitab Kejadian dan akan dilempar ke dalam lautan api se-belum dua pasal terakhir kitab Wahyu? Dalam berita ini kita hendak melihat betapa si licik itu datang.
Seperti telah kita lihat, Kejadian 1 mewahyukan tujuan kekal dan keinginan hati Allah, dan Kejadian 2 mewahyukan jalan Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Namun sebe-lum Allah merampungkan tujuan-Nya, Iblis datang. Dalam segala hal, Iblis selalu berusaha mendahului. Barang yang asli tidak takut agak terlambat, tetapi barang yang palsu selalu berebut untuk duluan. Karena itu, dalam banyak hal, adalah lebih baik bagi kita bila kita tidak melakukan sesuatu yang pertama. Misalnya seorang anak datang kepada ayahnya dan berkata, “Ayah, aku ingin membeli mainan baru.” Ayahnya seharusnya menjawab, “Anakku, tunggulah dua hari lagi. Baiklah kita melihat apa yang Tuhan katakan.” Menunggu dua hari mungkin ada baiknya. Karena Iblis selalu mendesak, maka kita jangan sekali-kali menerima usul yang pertama. Jika seorang saudara datang ke-pada Anda dan meminta saran atas suatu perkara, janganlah segera menjawabnya. Karena mungkin pertanyaan itu adalah aktivitas atau desakan Iblis. Anda perlu menunggu se-jenak. Setelah beberapa hari, boleh jadi saudara itu telah berubah pikiran. Saya sering menjumpai hal-hal seperti ini. Sifat orang muda cepat berubah; mereka memiliki tabiat yang tergesa-gesa. Mereka menyukai aktivitas yang cepat dan segera memperoleh jawaban. Sifat tergesa-gesa ini adalah sifat asli yang dimiliki oleh ular yang licik itu. Jika Anda mau menunggu, Allah akan datang. Dalam banyak hal, Allah tidak hadir dalam perkara yang pertama; si ular yang selalu berebut mendahului Allah, berusaha mengalahkan Allah.
Menurut Kejadian 3, Iblis datang duluan. Dalam Alkitab ada prinsip “pertama disebutkan”, yaitu apa yang pertama kali disebutkan dalam suatu keadaan, menjadilah prinsip keadaan itu pada kali selanjutnya. Jadi, Kejadian 3 adalah kali pertama menyebut aktivitas Iblis, yang menyatakan sebuah prinsip bahwa Iblis selalu datang mendahului Allah.
C. KEJATUHAN MANUSIA — 3:1—11:9
Menurut Kejadian 3 sampai 11, umat manusia mengalami empat kali kejatuhan. Dalam berita ini kita akan memperhatikan kejatuhan kali pertama.
1. Kejatuhan Kali Pertama
Secara umum, kebanyakan orang, sedikit banyak mem-punyai pengetahuan Alkitab. Bahkan beberapa orang yang bukan orang Kristen pun mengetahui tentang Adam dan Hawa yang telah makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Namun tidak banyak orang, termasuk orang Kristen mengetahui makna kejatuhan manusia kali pertama itu. Karena itu, kita perlu melihat masalah ini dari tiga arah. Pertama, kita harus menentukan sebab-musabab kejatuhan ini. Apakah penyebab dan faktor dasar kejatuhan manusia kali pertama? Kedua, kita harus mempelajari proses terjadinya kejatuhan kali pertama. Ketiga, kita perlu mencermati akibat kejatuhan manusia kali pertama. Inilah beban pem-bicaraan saya dalam berita ini. Saya tahu ini adalah berita yang sulit dibentangkan berhubung merupakan suatu pepe-rangan yang sengit. Musuh bersembunyi di dalam kita. Bahkan pengetahuan atas Kejadian 3 yang telah kita miliki menghalangi kita untuk memasuki kedalaman pasal ini. Kita harus menyelidiki hingga yang paling dalam tentang arti kejatuhan manusia kali pertama dan bukan melihat se-cara luaran saja.
a. Penyebabnya
(1) Godaan Ular
Jika saya bertanya kepada Anda tentang penyebab kejatuhan manusia kali pertama, tidak diragukan lagi, Anda pasti menjawab bahwa penyebabnya adalah Iblis. Ini benar. Namun, kita tidak boleh melemparkan semua tuduhan ini ke atas Iblis. Seperti yang akan kita lihat, penyebab kejatuh-an manusia kali pertama terutama bukan dari pihak Iblis, tetapi dari pihak manusia. Kita boleh menggunakan gambar-an tentang flu. Penularan flu memerlukan udara yang di-ngin. Namun, udara yang dingin saja tidak cukup untuk menyebabkan flu. Harus ada kuman-kuman flu. Kursi tidak dapat tertular oleh flu sekalipun ia ditaruh di tempat terbuka yang dingin, karena kursi tidak bisa dipengaruhi oleh kuman-kuman flu. Manusia mudah terkena flu, karena manusia memiliki kuman-kuman flu. Kita tidak bisa melempar seluruh tuduhan pada udara yang dingin, seharusnya lebih banyak menyalahkan kuman-kuman flu tersebut. Demikian juga, dalam hal kejatuhan ini, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Iblis, karena sebagian besar tanggung jawab ini terletak pada manusia sendiri. Namun, saya tetap menyalahkan Iblis sebagai penyebab pertama atas kejatuhan manusia. Iblis adalah faktor mula-mula kejatuhan ini. Iblis itu Iblis. Sekali-kali kita tidak bisa mengharapkan dia men-jadi lebih baik atau berubah sedikit.
(a) Si Penggoda
Iblis mempunyai nama yang khusus, yaitu “si penggoda” (Mat. 4:3). Ke mana pun ia pergi, selalu bertindak sebagai si penggoda; karena ini adalah sifat dan hakikinya. Tuhan Yesus menyebutnya sebagai si pendusta, kata-Nya, “Apabila ia berkata dusta, ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh. 8:44b). Apa pun yang keluar dari Iblis adalah dusta. Mustahillah kita mengharapkan dia bisa diperbaiki. Kita harus menjauhi dia.
1) “Iblis” Sendiri
Dalam Alkitab, Iblis disebut “Satan” (Why. 12:9; 20:2) yang berarti “si penghujat”. Ia menghujat Allah di hadapan manusia, juga menghujat manusia di hadapan Allah. Per-cakapannya dengan Hawa menyiratkan kata-kata hujatan terhadap Allah (Kej. 3:5). Hujatan Iblis selamanya adalah dusta. Melalui kata-kata dusta hujatan, ia mencobai manusia, dan dengan jalan ini mencobai Hawa.
2) “Si ular”, Jelmaan Iblis
Cara Iblis mendekati Hawa amatlah licik, yakni ia men-jelma menjadi makhluk lain, berlaku seolah-olah bukan dia yang datang. Ketika Tuhan Yesus berinkarnasi, Ia adalah Allah menjadi manusia. Setiap orang bisa melihat manusia ini, tetapi sedikit sekali yang menyadari bahwa manusia ini adalah Allah. Sebelum Allah berinkarnasi, Iblis telah mela-kukannya lebih dulu. Allah berinkarnasi dalam Yohanes 1; tetapi Iblis telah berinkarnasi dalam Kejadian 3. Banyak hal yang hendak Allah lakukan, namun Iblis telah bertindak lebih dulu dengan cara yang sama. Jadi, sebelum Allah ber-inkarnasi, Iblis telah menjelmakan dirinya sebagai ular yang licik.
Ular itu licik. Ini berarti ia sangat pandai, licin, dan cerdik. Ia berlaku seolah-olah bukan dirinya, agar dapat mendustai Hawa. Kita harus waspada terhadap segala se-suatu yang licik, kita harus waspada terhadap setiap orang yang cerdik; karena orang yang cerdik mudah ditunggangi ular. Iblis tidak mengambil bentuk kura-kura, karena kura-kura itu bodoh. Kita harus ingat dan berhati-hati terhadap segala sesuatu yang pandai dan licik, sebab Iblis mungkin saja bersembunyi di belakangnya.
Karena itu, secara lahiriah dapat dikatakan bahwa penyebab kejatuhan manusia kali pertama adalah Iblis. Tetapi selanjutnya kita akan nampak bahwa secara batiniah, penyebab kejatuhan manusia adalah diri manusia sendiri.
(b) Cara Menggoda
Saya mengharapkan, kaum muda khususnya, memperhatikan butir ini dengan serius. Butir ini merupakan prinsip dasar.
Cara yang dipakai Iblis untuk menggoda, pertama-tama ialah memberi usul kepada manusia (Kej. 3:1, 4), usul yang menimbulkan suatu tanda tanya terhadap firman Allah. Iblis selalu berusaha menggoda Anda, membujuk Anda, dan menjebak Anda dengan usul yang menimbulkan keragu-raguan terhadap firman Allah. Kapan saja Anda merasa ragu-ragu terhadap firman Allah, harus segera sadar bahwa keragu-raguan itu bukan berasal dari Anda sendiri, melain-kan dari si ular itu. Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang pendeta Baptis di Amerika Serikat dengan kata-kata sebagai berikut: “Tanda tanya berbentuk seperti seekor ular yang berdiri dan ber-tanya, ‘Benarkah Allah berkata demikian?’” Kita tidak se-harusnya meragukan kata-kata dalam Alkitab, sebaliknya kita harus berkata, “Amin,” terhadap setiap kata. Anda akan selamat bila berkata, “Amin,” dan berbahaya bila meragukan firman Allah. Sebuah tanda tanya terhadap firman Allah adalah usul yang berasal dari si penggoda.
Usul Iblis selalu membuat manusia ragu-ragu terhadap firman dan hati Allah. Si licik itu bagaikan seekor kalajengking dan usul-usulnya yang menimbulkan keraguan bagaikan racun dalam sengatnya. Ular itu berkata kepada Hawa, “Sekali-kali kamu tidak akan mati.” Sebenarnya ular itu bermaksud mengatakan, “Mengapa Allah melarang kamu makan buah pohon pengetahuan? Sebab Allah tahu, begitu kamu memakannya, kamu akan berhikmat seperti Allah.” Perkataan ini adalah racun, yaitu racun yang berasal dari sengat kalajengking. Hawa telah tersengat, dan racun ter-injeksi ke dalamnya. Karena itu, Hawa memandang pohon pengetahuan dan melihat bahwa buah pohon itu sangat baik dan sedap untuk dimakan, lagi pula menarik hatinya (Kej. 3:6). Inilah cara Iblis menggoda Hawa.
(2) Perempuan Mengambil Alih Kedudukan Sebagai Kepala
Sekarang kita harus melihat penyebab batiniah dari kejatuhan kali pertama manusia. Saya khusus menekankan butir ini. Karena penyebab batiniah dari kejatuhan manusia adalah karena perempuan mengambil alih kedudukan se-bagai kepala (Kej. 3:2-3, 6). Hawa tertipu oleh ular karena ia melupakan suaminya. Iblis sangat licik, tahu bahwa pe-rempuan lebih lemah daripada laki-laki (1 Ptr. 3:7), maka ia memilih perempuan sebagai sasarannya. Tidak peduli apa yang dikatakan perempuan itu kepada ular tersebut, selama ia masih berdiri di sana dan berkata-kata dengan ular itu, ia sudah bersalah, karena hal itu menyatakan bahwa ia su-dah mengambil alih kedudukan sebagai kepala. Jalan yang paling aman bagi perempuan itu ialah tidak bercakap-cakap dengan si jahat, melainkan kembali kepada suaminya dan bersembunyi di belakang suaminya. Jika Hawa melakukan hal ini, si licik akan mengalami kegagalan. Jadi, penyebab utama kejatuhan manusia kali pertama ialah istri bertindak sebagai kepala. Walaupun ia bersuami, tetapi ia bertindak sebagai kepala.
(a) Makna Perempuan
Makna perempuan ialah mewakili laki-laki di hadapan Allah. Yesaya 54:5 mengatakan, “Sebab yang menjadi suami-mu ialah Dia yang menjadikan engkau.” Allah adalah satu-satunya laki-laki dalam alam semesta ini. Entah kita laki-laki atau perempuan, semuanya adalah bagian dari istri-Nya. Kedudukan manusia bukan dalam posisi sebagai suami, melainkan dalam posisi sebagai istri. Allah adalah suami kita. Allah adalah Kepala, kita bukan kepala. Sekalipun kita adalah laki-laki, juga bukan kepala. Di hadapan Allah, posisi saudara sama dengan posisi saudari. Baik saudara maupun saudari, dalam pandangan Allah, semuanya adalah perem-puan.
(b) Kedudukan Perempuan
Allah adalah suami kita dan kepala kita, kita wajib senantiasa menaruh diri kita di bawah naungan-Nya. Perempuan harus menudungi kepalanya dan jangan menjadi kepala (1 Kor. 11:3, 5, 14-15). Karena Allah adalah kepala kita, maka kita harus selalu berpaling kepada-Nya. Oleh belas kasihan Tuhan, saya sudah mengenal Dia. Jika saya selaku Hawa yang ada di taman dan Iblis datang kepada saya, saya tidak akan mau memandangnya. Saya akan berpaling kepada suami saya dan bersembunyi di belakangnya. Saya akan membiarkan Adam menjadi kepala dan membiarkan dia melaksanakan pimpinannya. Niscaya tidak ada persoalan yang timbul.
(c) Kegagalan Perempuan
Kegagalan perempuan terjadi karena ia melancangi laki-laki dan dirinya sendiri yang menjadi kepala (bandingkan dengan 1 Tim. 2:14). Kegagalan di pihak Hawa, melam-bangkan manusia sok menjadi kepala dan melancangi Allah, mengesampingkan Allah. Prinsip yang sama masih berlaku sampai hari ini. Bila kita bertindak menurut diri kita sendiri dan mengesampingkan Tuhan, berarti kita telah dikalahkan. Jika kita berusaha menurut diri kita sendiri untuk meraih kemenangan, usaha kita ini adalah suatu kekalahan, karena hal ini membuat kita menjauhkan diri dari suami kita, ke-pala kita. Jangan sekali-kali melakukan sesuatu bersan-darkan diri sendiri. Melakukan sesuatu bersandarkan diri sendiri berarti mengambil kedudukan sebagai kepala dan melupakan kedudukan sebagai istri. Kita harus berhikmat dan selamanya tidak mengambil kedudukan sebagai suami.
Hawa yang ada di dalam Taman Eden mewakili kita semua. Hampir setiap orang di antara kita adakalanya bertindak menurut cara yang dilakukan Hawa. Kita telah menjadi Hawa. Situasi apa saja yang terjadi atas diri kita, kita selalu menampilkan diri kita sendiri. Meskipun kita mung-kin banyak berdoa, tetapi ketika suatu masalah datang, kita melupakan suami kita dan bertindak seolah-olah kita tidak mempunyai suami. Mengapa Anda tidak berpaling kepada suami Anda? Mengapa Anda selalu menghadapi masalah itu sendirian? Selama Anda menghadapi masalah berdasarkan diri Anda sendiri, itu berarti Anda telah meninggalkan suami Anda. Inilah sebab-musabab kejatuhan manusia kali pertama. Sebagai penyampai firman, saya harus belajar tidak berkata-kata bersandar diri saya sendiri. Ketika saya berkhotbah, saya harus bersandar suami saya. Saya harus menyembunyikan diri saya di dalam-Nya dan bersatu dengan-Nya. Jika saya tidak berbuat demikian, saya akan menjadi Hawa yang lain, dan saya pasti dikalahkan.
Sekarang kita bisa nampak bahwa kita tidak bisa menyalahkan Iblis terlalu banyak. Kita semua harus menya-lahkan diri kita sendiri, karena kita telah sok menjadi ke-pala dan tidak menghargai suami kita. Kita menjadi kepala karena kita lupa bahwa kita adalah istri. Para ibu yang mendidik anak-anaknya yang masih kecil, mungkin mendidik anak-anaknya sendirian. Mereka mungkin berkata, “Aku tahu bagaimana menjaga anak. Aku telah bertahun-tahun menjadi ibu. Aku tahu apa yang harus kulakukan dan bagai-mana melakukannya.” Jika Anda bersikap demikian, Anda segera menjadi Hawa. Sekalipun Anda melakukan sesuatu dengan sangat baik, tetapi sebenarnya Anda telah dikalahkan. Kita harus ingat prinsip kejatuhan manusia kali per-tama: manusia telah meninggalkan kedudukan sebagai istri dan mengambil kedudukan sebagai suami. Tidak peduli per-kara yang kita kerjakan itu sukses atau gagal, tidak ada bedanya. Asal kita menjauhi Allah dan mengira sanggup melakukan sesuatu tanpa Dia, niscayalah kita telah dikalahkan. Kita harus nampak hal ini.
Kita mungkin mengalami hal ini ketika kita menanggulangi temperamen kita. Terkalahkan oleh temperamen kita adalah hal yang kecil. Namun, jika kita berusaha mengatasi temperamen kita berdasarkan diri kita sendiri, kita sudahlah berdosa. Keinginan itu sendiri adalah dosa besar. Keinginan Anda sendiri untuk mengalahkan tempe-ramen Anda berarti Anda telah menjadi kepala. Anda harus belajar berkata, “Tuhan, aku tidak mempedulikan dapat atau tidak dapat mengalahkan temperamen. Tuhan, atas hal ini aku bersandar kepada-Mu. Menanggulangi temperamen-ku bukanlah tanggung jawabku. Tuhan, aku bukanlah suami. Engkaulah suamiku. Aku hanya bisa bersandar kepada-Mu. Aku tidak menggangap diriku sebagai pimpinan. Tuhan, Engkaulah kepalaku. Tuhan, Engkaulah yang mengurusi temperamenku.” Jika kita semua belajar pelajaran ini, me-melihara kedudukan ini di hadapan Tuhan, dengan sendiri-nya temperamen kita akan hilang, dan Iblis akan dikalah-kan. Kita harus belajar pelajaran prinsip ini.
b. Prosesnya
(1) Tidak Menggunakan Roh
Adam dan Hawa gagal karena mereka tidak meng-gunakan roh mereka. Jika Hawa kembali ke dalam roh, pas-ti tidak akan ada masalah. Suami kita beserta dengan roh kita. Jika kita tinggal di dalam pikiran kita, berarti kita yang sebagai kepala dan membiarkan pikiran bertindak sen-diri. Ini menakutkan juga berdosa. Kita harus tahu dengan jelas bahwa suami kita beserta dengan roh kita, karena itu kita harus menggunakan roh kita. Bahkan, sekalipun saat kita hampir marah-marah, kita masih perlu berpaling ke dalam roh. Mungkin Anda akan berkata bahwa dalam ke-adaan demikian, sangatlah sulit untuk berpaling ke dalam roh. Namun saya akan menjawab bahwa dalam keadaan yang sulit itu, lebih-lebih perlu untuk kembali ke dalam roh.
Jangan menanggulangi temperamen Anda; berpaling saja ke dalam roh. Belajarlah menggunakan roh Anda. Semua orang Kristen tahu bagaimana berdoa dan memohon Allah untuk menolong mereka, tetapi sedikit sekali yang tahu bahwa me-reka memiliki roh, dan mereka boleh berpaling ke dalam roh. Kita benar-benar mempunyai organ ini dan organ ini justru mempunyai fungsi yang ajaib. Karena Allah beserta dengan roh kita, kita perlu berpaling ke dalam roh kita. Jika kita belajar berpaling ke dalam roh dan menggunakan roh dalam segala situasi, hasilnya pasti sangat mengagumkan.
Bagaimana Anda tahu bahwa Anda menggunakan roh Anda? Ini sangat mudah. Setiap kali Anda melakukan sesuatu, atau berhubungan dengan seseorang, jika tanpa penyertaan Tuhan, itu membuktikan bahwa Anda tidak menggunakan roh Anda. Tidak peduli apa yang Anda laku-kan, jika Anda melakukannya tanpa bersandar Tuhan dan tanpa berkontak dengan Tuhan, itu membuktikan bahwa Anda tidak di dalam roh. Dalam keadaan demikian, Anda pasti menderita rugi. Kita semua harus belajar berkontak dengan Allah dalam segala hal. Selama kita berkontak de-ngan Dia, kita berada di dalam roh. Ketika berjalan, saya menggunakan kaki saya; ketika melihat, saya menggunakan mata saya; ketika berkontak dengan Allah, saya harus menggunakan roh saya, karena roh saya adalah organ untuk berkontak dengan Allah (Yoh. 4:24). Saya melihat sesuatu, berarti saya menggunakan mata saya. Demikian juga ketika saya berkontak dengan Allah, saya harus menggunakan roh saya. Ini adalah perkara yang sangat berharga dalam hidup sehari-hari kita; kita semua harus belajar mempraktek-kannya.
Jadi, langkah pertama dalam proses kejatuhan manusia ialah manusia tidak menggunakan rohnya. Sewaktu makan buah pohon pengetahuan, Adam dan Hawa tidak berkontak dengan Allah; malahan menaruh perhatian kepada benda-benda lain di luar Allah, tidak menjadikan Allah sebagai kepala.
(2) Menggunakan Jiwa
Manusia tidak menggunakan rohnya, malah meng-gunakan jiwanya. Ini menunjukkan bahwa manusia yang diwakili oleh jiwa telah mengambil alih pimpinan. Sering kali manusia enggan berdoa atau menggunakan rohnya, sebaliknya, suka berpikir, mempertimbangkan, dan menyelidiki. Mereka merasa sulit untuk berdoa, karena pikiran mereka terlalu aktif, penuh dengan angan-angan. Mereka tidak sanggup menenangkan pikiran mereka. Kita paham be-nar terhadap keadaan semacam ini. Banyak istri orang Kristen merasa mudah untuk mengobrol. Mereka bisa mengobrol dengan suami, teman, dan sanak famili mereka. Namun, jika Anda meminta mereka berdoa, mereka merasa sulit; ini dikarenakan mereka terlalu banyak menggunakan jiwa mereka. Pelajaran yang terbaik bagi kita semua adalah bel-ajar menenangkan pikiran kita. Jika kita sanggup menghen-tikan angan-angan kita dan masuk ke dalam doa, itu mem-buktikan bahwa kita adalah orang-orang yang berjalan ber-sama Tuhan dan hidup di hadapan-Nya. Namun, jika kita adalah orang yang banyak bicara, sangat aktif dan kuat dalam pikiran, kita pasti sulit menenangkan diri untuk ber-doa walau hanya beberapa menit saja. Orang macam ini ada-lah orang yang terus-menerus menggunakan jiwanya.
Di dalam proses kejatuhan, Hawa menggunakan jiwa-nya. Ketika ia berbicara dengan ular, pikirannya mempertimbangkan (ayat 2-3). Kemudian, emosinya menyenangi buah pohon pengetahuan (ayat 6). Setelah itu, tekadnya mengambil keputusan untuk mengambil buah itu dan memakannya (ayat 6). Pengalaman kita tidak terkecuali. Ketika kita dicobai oleh suatu perkara, pikiran kita menimbang-nimbang dan beralasan, emosi kita tergerak dan menyukai perkara itu, kemudian tekad kita mengambil keputusan. Pikiran, emosi, dan tekad kita adalah bagian-bagian dari jiwa kita yang tidak seharusnya kita sandari. Jangan percaya atau bersandar kepada pikiran, emosi, atau tekad kita; berpalinglah ke dalam roh kita. Ketika kita sedang mempertim-bangkan sesuatu, segeralah berpaling ke dalam roh kita.
Mari kita ambil contoh tentang hal berbelanja. Banyak saudara saudari pergi ke supermarket, ketika melihat barang yang mereka senangi, mereka berkata kepada diri sen-diri, “Aku memerlukan ini. Kebetulan sekarang sedang di-obral dan harganya sangat murah. Inilah satu-satunya ke-sempatan bagiku untuk membelinya dengan harga murah.” Semakin dipertimbangkan, barang itu terlihat semakin ba-gus. Kita semua mempunyai pengalaman seperti ini. Namun, setelah kita membelinya dan membawanya pulang, dengan cepat daya tarik barang itu sirna dan kita menyesal. Ketika Anda sedang mempertimbangkannya, si ular itu muncul dan merangsang emosi Anda, memperkuat tekad Anda dan berkata, “Belilah barang itu.” Dalam situasi semacam ini, Anda harus sadar bahwa Anda sedang mengulangi sejarah Hawa. Janganlah kita menertawai Hawa, karena rumah kita sendiri adalah Taman Eden dan kita sendiri sering berperan sebagai Hawa. Banyak saudari bukan sebagai Marta, Maria, atau Rut; melainkan Hawa. Ada saudari yang bernama Maria, namun sepertinya tidak ada yang mau memilih nama Hawa. Apakah ciri khas Maria? Dia diam tenang di hadapan Tuhan, tidak banyak beralasan dalam pikirannya. Kita semua perlu belajar pelajaran dasar ini.
(3) Tubuh Bergerak
Langkah ketiga dari proses kejatuhan manusia adalah tubuh bergerak. Ketika roh diabaikan dan jiwa digunakan, tubuh menjadi budak untuk mencapai kehendak. Mata melihat, tangan mengambil, dan mulut memakan. Sewaktu kita berbelanja, jika kita melupakan roh kita dan menggunakan jiwa kita, tubuh kita pasti akan membawa kita menuju ke supermarket.
c. Akibatnya
Sangatlah penting bagi kita untuk memahami akibat kejatuhan manusia kali pertama. Jika kita paham akibat-nya, kita akan mengerti di mana dan apakah diri kita pada hari ini.
(1) Jiwa Menjadi Rusak
Akibat pertama dari kejatuhan ialah jiwa manusia menjadi rusak, cemar, dan bejat. Jiwa tercemar, karena telah menerima pemikiran dan perkataan Iblis (ayat 7). Hawa se-harusnya tidak berbicara dengan si jahat itu, sebab saat ia berbicara dengannya, pemikiran yang jahat masuk ke dalam pikirannya. Jadi, sebelum Hawa memakan buah pohon penge-tahuan itu, pikirannya telah dicemari oleh konsepsi musuh. Jangan mengira bahwa setelah makan buah itu, Hawa baru tercemar. Saat ia berbicara dengan ular, konsepsi ular itu telah menyusup ke dalam pikirannya dan mencemarinya. Karena itu, pikiran Hawa telah dirusak. Akhirnya, setelah memakan buah itu, pikirannya menjadi rusak sama sekali.
(2) Tubuh Berubah Sifat
Karena ada unsur pohon pengetahuan yang juga adalah unsur Iblis masuk ke dalam tubuh, maka tubuh menjadilah tubuh daging (ayat 7). Sebermula, Allah menciptakan tubuh manusia sebagai wadah yang murni, hanya berisikan satu esens yang murni, yaitu unsur yang diciptakan Allah. Begitu manusia memakan buah pohon pengetahuan, unsur asing terinjeksi ke dalam tubuh manusia dan merubahnya menjadi tubuh daging. Tubuh yang semula murni dan tanpa dosa, kini berisi unsur si jahat, Iblis. Menurut Roma 7, unsur ini adalah dosa yang tinggal di dalam tubuh daging manusia. Dalam Roma 7:17 Paulus berkata, “Kalau demikian bukan aku lagi yang melakukannya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.” Esens jahat, sifat dosa, telah mencemari tubuh kita, dan hari ini masih tinggal di dalam tubuh daging kita. Karena itu, jangan sekali-kali kita mempercayai tubuh da-ging kita, sebab daging telah sepenuhnya diduduki dan di-susupi oleh dosa Iblis.
Kita boleh memakai suatu perumpamaan untuk men-jelaskannya. Seorang anak kecil diberi tahu ibunya agar tidak menyentuh botol yang berisi racun. Suatu hari, ketika ibunya sedang pergi, anak itu mengambil botol itu dan me-minum sedikit cairan racun tersebut. Ia melanggar larangan ibunya. Hal melanggar itu mungkin merupakan perkara kecil, tetapi perkara yang sangat serius telah terjadi, yaitu racun telah masuk ke dalam tubuhnya. Demikian juga, pada hari manusia memakan buah pohon pengetahuan, suatu esens jahat telah masuk ke dalam tubuh manusia. Jadi, ini bukan hanya perkara pelanggaran, tetapi juga perkara unsur yang beracun, dosa, sifat jahat, telah masuk ke dalam tubuh manusia. Tak seorang pun yang dapat menyangkal atau membantah fakta ini. Meskipun kita telah beroleh selamat bertahun-tahun, kita tetap memiliki unsur jahat ini di da-lam tubuh daging kita. Bahkan saat Anda membaca berita ini, unsur jahat dosa itu masih tinggal di dalam tubuh Anda.
(3) Roh Mati
Akibat kejatuhan, roh manusia menjadi mati, terisolir dari Allah, dan kehilangan daya fungsinya terhadap Allah (Kej. 3:8, 10). Walaupun roh telah mati, tetapi dosa atau Iblis tidak masuk ke dalam roh manusia. Untuk hal ini, kita ber-syukur kepada Allah. Namun bagaimanapun, roh di dalam manusia telah mati. Efesus 2 memberi tahu kita bahwa sebelum kita beroleh selamat, kita telah mati (ayat 1, 5). Bagi-an mana pada diri kita yang disebut telah mati? Bukan pada tubuh atau jiwa kita, melainkan pada roh kita. Apa artinya mati? Mati berarti telah kehilangan daya fungsi atau pera-saan. Jika tangan saya ini tidak mempunyai daya fungsi, berarti tangan saya mati. Melalui penciptaan Allah, kita semua mempunyai roh manusia (Za. 12:1). Melalui roh ini, kita bisa merasakan Allah, berkontak dengan Allah. Namun, akibat kejatuhan, roh manusia mati, kehilangan daya fungsi dan perasaan, tidak bisa lagi berkontak dengan Allah. Daya fungsi roh manusia untuk berkontak dengan Allah telah mati. Ketika kita bertobat dan menerapkan darah penebusan membersihkan hati nurani kita, saat itulah roh yang mati dihidupkan kembali sehingga roh kita kembali merasakan Allah dan bisa berkontak dengan Allah. Sekarang, semakin kita berkata, “Ya Tuhan, aku cinta pada-Mu,” roh kita semakin hidup. Semakin kita berkata, “Tuhan, bersihkan aku, basuh aku, tutupi aku dengan darah-Mu yang menang,” dan semakin kita mengaku dosa, semakin memuji Tuhan, roh kita semakin hidup.
Akibat kejatuhan, jiwa manusia rusak, tubuh berubah sifat, dan roh pun mati, kehilangan daya fungsinya terhadap Allah. Kita harus nampak bahwa ini bukan sekadar perkara pelanggaran di luar, lebih daripada itu, ini merusak bagian dalam diri manusia. Tiga bagian dari diri manusia — tubuh, jiwa, dan roh — telah menjadi rusak karena kejatuhan. Tubuh berubah sifat, jiwa dicemari, dan roh mati. Kita se-mua adalah manusia sedemikian. Jika Anda tidak disela-matkan, Anda masih serupa itu. Tubuh Anda dihuni oleh dosa, pikiran Anda telah rusak, jiwa Anda telah tercemar, dan Roh Anda telah mati. Betapa kita harus berterima kasih kepada Allah yang telah menebus kita dan membasuh kita demi darah Kristus, sehingga roh kita dihidupkan kembali, jiwa kita mengalami proses diperbarui dan diubah, dan tu-buh kita akan dibawa ke taraf dipimpin oleh roh kita.
(4) Menjadi Orang Dosa
Manusia yang jatuh menjadilah orang dosa (Rm. 5:19). Di dalam diri manusia yang telah jatuh terdapat suatu su-sunan, dan unsur utama dari susunan itu adalah sifat Iblis. Sifat Iblis telah masuk ke dalam diri manusia, menjadi unsur yang menyebabkan manusia menjadi orang dosa. Jangan mengira bahwa Anda menjadi orang dosa dikarena-kan Anda bersalah atau berdosa dalam perbuatan lahiriah Anda. Sebelum Anda melakukan dosa apa pun, Anda sudah sebagai orang dosa. Jika sebatang pohon bukan pohon yang tidak baik, pohon itu tidak akan menghasilkan buah yang tidak baik (Mat. 7:17-18). Demikian juga, jika Anda bukan orang dosa, Anda tidak akan dapat berdosa. Sebuah pohon bukan karena menghasilkan buah jelek baru menjadi pohon jelek, melainkan karena pohon jelek pasti menghasilkan buah jelek. Demikian juga, bukan karena kita berbuat dosa baru menjadi orang dosa, melainkan kita berbuat dosa ka-rena kita memang adalah orang dosa, kita telah tersusun menjadi orang dosa. Karena kita adalah orang dosa, dengan sendirinya kita memiliki bakat berbuat dosa.
Kita terbentuk menjadi orang dosa dan di dalam kita terdapat hayat jahat Iblis. Inilah yang disebut rasul Paulus sebagai “dosa yang ada di dalam aku” dan “yang jahat itu ada padaku” (Rm. 7:17, 20-21). Paulus menemukan bahwa ada unsur jahat di dalam dirinya, dan ia menyebutnya “dosa yang ada di dalam aku”. Paulus tahu, begitu ia mencoba ber-buat baik, si jahat itu makin menyertainya. Dalam bahasa Yunani istilah “jahat” dalam Roma 7:21 sama dengan istilah yang diterjemahkan sebagai “yang jahat” atau “si jahat” dalam Matius 6:13, 13:38, Yohanes 17:15, dan 1 Yohanes 5:19. Siapakah si jahat yang dimaksud? Iblis atau Satan. Kapan saja kita mencoba untuk berbuat baik, si jahat itu, yaitu Iblis, ada pada kita. Di dalam kita ada hayat dosa sedemikian, akibatnya, kita tersusun menjadi orang dosa.
(5) Dihukum
Karena kita telah melanggar perintah Allah, maka di dalam kita ada unsur dosa dan di luar kita ada perkara penghukuman (Rm. 5:18). Kita memiliki satu perkara dosa di dalam pengadilan surgawi. Perkara dosa ini didatangkan oleh Adam, bukan oleh kita. Berhubung kita semua ada di dalam Adam, maka perkara ini bukan hanya menyangkut Adam, tetapi juga kita semua.
(6) Jatuh ke Bawah Kutukan
Kejatuhan manusia kali pertama menyebabkan manusia jatuh ke bawah kutukan (Kej. 3:17-19). Kita boleh menyebut aspek-aspek dari kutukan itu sebagai: kutukan itu sendiri, susah payah, semak duri, rumput duri, dan peluh. Inilah isi dari kutukan. Meskipun kita adalah orang Kristen, kita se-ring menghadapi keadaan yang sulit dalam hal nafkah. Da-lam hal bercocok tanam, padi tidak cepat bertumbuh, sebaliknya, rumput liar cepat bertumbuh. Apa yang menye-babkan rumput-rumput liar itu bertumbuh demikian cepat? Hari ini kita cabut, tak lama kemudian, muncul lagi. Ini menunjukkan bahwa ribuan tahun yang lalu, tanah ini telah jatuh ke bawah kutukan. Selain itu, hampir dalam segala apa yang kita lakukan, kita selalu berpeluh. Tanpa berpeluh, seolah-olah kita tidak dapat mengerjakan sesuatu. Peluh adalah tanda bahwa manusia berada di bawah kutukan.
(7) Diusir dari Taman Eden
Akibat kejatuhan manusia, manusia diusir dari Taman Eden, keluar dari wilayah hayat (Kej. 3:23-24). Taman Eden adalah wilayah hayat, di dalamnya ada pohon hayat, dan di sana manusia bisa menerima hayat. Jadi, diusir dari Taman Eden berarti diusir dari wilayah hayat.
Menurut Kejadian 3:23-24, kita nampak begitu manusia diusir dari Taman Eden, Allah lalu menyuruh kerub dengan pedang yang bernyala-nyala menjaga pohoh hayat. Kerub menyatakan kemuliaan Allah, pedang menyatakan kebenar-an Allah, dan nyala api menyatakan kekudusan Allah. Ini mengandung makna bahwa kemuliaan Allah, kebenaran Allah, dan kekudusan Allah menjaga wilayah hayat, tidak mem-biarkan orang dosa mendekat, sampai saatnya Tuhan Yesus Kristus datang. Tuhan Yesus mati di atas salib, telah me-muaskan tuntutan kemuliaan, kebenaran, dan kekudusan Allah, serta kembali membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam wilayah hayat. Sekarang kita memiliki sebuah ja-lan yang baru dan yang hidup untuk masuk ke dalam tempat maha kudus guna berkontak dengan pohon hayat yang hidup (Ibr. 10:19-20).
(8) Mendatangkan Maut
Akibat terakhir dari kejatuhan manusia kali pertama adalah maut (Kej. 3:19; 5:5; Rm. 5:12). Mula-mula, roh ma-nusia mati; akhirnya, tubuh manusia juga akan mati. Me-lalui pelanggaran Adam seorang, dosa masuk ke dalam du-nia; maut pun masuk melalui dosa dan berkuasa atas se-luruh manusia (Rm. 5:14, 17). Demikianlah, “semua orang mati di dalam Adam” (1 Kor. 15:22 Tl.).