MENGGARAPKAN ALLAH KE DALAM MANUSIA SEBAGAI HAYAT
Dalam berita ini sampailah kita pada akhir Kejadian 2. Sekalipun Kejadian 1 dan 2 sangat ringkas, namun kedua pasal ini memuat banyak butir yang mendasar. Sebelumnya telah kita tunjukkan bahwa hampir setiap hal dalam dua pasal ini merupakan benih-benih kebenaran ilahi, dan benih-benih ini memerlukan seluruh Alkitab untuk menjelaskan dan mengembangkannya. Wahyu ilahi dalam Alkitab menyingkapkan hal-hal rohani, dan hal-hal rohani ini mis-terius, abstrak, dan secara manusiawi tidak nyata. Karena terbatasnya kemampuan kita untuk mengerti, maka Allah terpaksa memperlihatkan wahyu ilahi-Nya melalui gambar-an dan kiasan. Kejadian 2 ditulis secara kiasan, dan semua hal yang ditemukan di sini merupakan gambaran-gambaran. Kita jangan mengartikan gambaran-gambaran itu secara harfiah yang luaran saja, tetapi haruslah memahami gam-baran-gambaran itu secara mendalam. Pohon hayat dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, kedua-nya adalah kiasan. Apakah pohon hayat? Sukar dimengerti orang. Meskipun demikian, ini adalah pohon hayat. Dalam kejadian 2, kita juga nampak sebuah sungai yang dalam alirannya terdapat emas, damar bedolah (mutiara), dan batu krisopras. Menunjuk kepada apakah semua benda itu? Apa-kah maknanya? Seperti yang telah kita lihat dalam berita-berita yang lalu, semua hal itu adalah kiasan-kiasan yang mengandung gambaran.
Secara manusiawi, akhir pembicaraan Kejadian 2 mudah dimengerti, karena berhubungan dengan cerita pernikahan. Adam telah diciptakan, tetapi ia belum mempunyai istri. Kemudian Allah memberinya seorang istri. Ini seperti-nya bukan kiasan. Jika kita hanya membaca Kejadian 2 saja, kita tidak akan mengerti bahwa ini juga suatu kiasan. Namun jika kita membaca Alkitab secara keseluruhan, kita akan mengerti bahwa pernikahan yang terdapat dalam Kejadian 2 sesungguhnya adalah suatu kiasan. Mengapa kita berkata demikian? Sebab, selanjutnya, dalam Perjanjian Lama Allah bersabda kepada umat-Nya, “Sebab yang men-jadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau” (Yes. 54:5). Pencipta manusia adalah suami manusia, ini berarti, di da-lam alam semesta ini satu-satunya laki-laki adalah Allah sendiri. Setiap laki-laki yang diciptakan Allah sebenarnya bu-kan laki-laki, tetapi perempuan. Ada pertanyaan yang saya tujukan kepada semua laki-laki yang membaca berita ini: Anda laki-laki atau perempuan? Saya adalah perempuan, se-bab saya adalah bagian dari istri. Pertama-tama, Allah ada-lah pencipta saya. Kemudian, Ia menjadi penebus saya. Se-karang, Ia adalah suami saya.
Konsepsi ini secara tuntas berkembang dan dijelaskan dalam Perjanjian Baru. Walaupun banyak orang mengira Yesus Kristus adalah guru yang agung, dan yang lain memandang Dia sebagai Juruselamat mereka, namun keempat kitab Injil juga mewahyukan Dia sebagai mempelai laki-laki. Memang tak dapat disangsikan bahwa Dia adalah guru dan Juruselamat. Tetapi, Dia juga mempelai laki-laki yang da-tang untuk memperoleh mempelai perempuan (Yoh. 3:29). Suatu hari, murid-murid Yohanes datang ke hadapan Tuhan Yesus dan bertanya, mengapa murid-murid-Nya tidak ber-puasa (Mat. 9:14-15). Jawaban Tuhan Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah mempelai laki-laki. Tuhan bertanya kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?” Selain itu, Paulus, rasul yang terbesar, dengan jelas menga-takan kepada kita bahwa gereja ialah istri dan Kristus ialah suami. Dalam 2 Korintus 11:2 ia mengatakan, “Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Jadi kita adalah istri Kristus. Selain itu, dalam Efesus 5 Paulus membicarakan tentang pernikahan bahwa laki-laki akan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Dalam Efesus 5:32 Paulus mengungkapkan bahwa per-nikahan itu mengacu kepada rahasia besar yang berkaitan dengan Kristus dan gereja.
Adam dalam Kejadian 2 adalah lambang, gambar dari Kristus. Secara kiasan kita boleh mengatakan bahwa Adam adalah Kristus. Ketika kita melihat Adam dalam Kejadian 2, kita melihat Kristus. Lalu, Hawa melambangkan apa? Pada lahirnya ia seorang perempuan, istri Adam. Namun jika kita memiliki visi rohani dari Efesus 5, kita akan nampak bahwa Hawa yang di Taman Eden adalah gambar gereja. Jika kita mempunyai pandangan yang tembus seperti ini, kita akan tahu bahwa peristiwa yang terjadi atas diri Adam dalam Kejadian 2 adalah pengalaman Kristus, dan peristiwa yang terjadi atas Hawa berhubungan dengan gereja. Kita harus secara demikian memahami Kejadian 2. Secara kiasan, Adam itu Kristus dan Hawa itu gereja.
Ini sama dengan foto seseorang. Misalnya saya mempunyai foto saudara A. Jika Saya menunjukkan foto ini ke-pada Anda dan bertanya siapakah ini. Tentunya benar, bila Anda menjawab ini saudara A. Namun Anda harus hati-hati, karena ini adalah foto saudara A, bukan diri saudara A. Ini hanyalah foto saudara A, yang menggambarkan wajahnya dan memberi Anda kesan bagaimana perawakannya. Demi-kian juga dalam Kejadian 2, kita melihat sebuah kiasan atau gambaran dari Kristus dan gereja melalui Adam dan Hawa. Jika kita meneliti gambar Adam dan Hawa, kita akan paham bagaimana terjadinya gereja. Kita sukar mengerti, bila kita hanya membicarakan tentang Kristus dan gereja; namun jika kita melihat gambaran ini, kita bisa mengerti dengan jelas. Gambar sangat menghemat perkataan. Sekali-pun saya menggambarkan bagaimana rupa saudara A de-ngan banyak perkataan, Anda tetap sukar membayangkan bagaimana rupa saudara A yang sebenarnya. Tetapi jika saya menunjukkan fotonya kepada Anda, Anda segera jelas akan dia. Meskipun foto itu bukan orangnya sendiri, namun foto itu sanggup memberi Anda beberapa kesan tentang orangnya, sehingga Anda tak perlu menerka-nerka lagi. Allah memakai gambar Adam dan Hawa dalam Kejadian 2 untuk memberikan wahyu yang jelas dan tepat kepada kita tentang Kristus dan gereja. Tanpa pasal ini, kita tidak bisa mengerti dengan jelas hubungan antara Kristus dan gereja. Gambaran inilah yang menunjukkan bagaimana terjadinya gereja.
Ingatlah, Kejadian 1 dan 2 mewahyukan dua hal yang penting. Kejadian 1 mewahyukan tujuan kekal Allah, yaitu melalui manusia mengekspresikan diri-Nya dan melalui manusia melaksanakan pemerintahan-Nya. Manusia diciptakan untuk mengekspresikan dan mewakili Allah. Selanjut-nya Kejadian 2 menunjukkan jalan yang dipakai Allah un-tuk mencapai tujuan-Nya. Allah mempunyai tujuan, tetapi Ia harus mempunyai cara untuk mencapai tujuan-Nya. Apa-kah cara Allah untuk mencapai tujuan-Nya? Seperti telah kita lihat, cara-Nya ialah hayat. Allah ingin masuk ke da-lam manusia menjadi hayat dan suplai hayat manusia. Selain itu, Kejadian 2 mewahyukan bahwa prosedur Allah meliputi tiga langkah. Pertama, Allah menciptakan manusia sebagai suatu wadah untuk diisi diri-Nya sebagai hayat. Karena manusia dibuat sebagai suatu wadah untuk diisi Allah, maka manusia dapat hidup bersandar Dia, meng-ekspresikan Dia, dan mewakili Dia. Langkah kedua, Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat. Kita tahu bah-wa pohon hayat mewakili Allah sendiri. Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat, hal ini menyatakan bahwa Allah menghendaki manusia menerima diri-Nya ke dalam diri manusia, agar manusia bisa diubah menjadi bahan yang berharga untuk pembangunan gereja.
4. Langkah Ketiga —
Menggarapkan Allah ke Dalam Manusia
Sebagai Hayat — 2:18-25
Sekarang sampailah kita pada langkah ketiga. Langkah pertama adalah pembuatan wadah, langkah kedua adalah menaruh wadah di depan pohon hayat, dan langkah ketiga adalah menggarapkan Allah ke dalam manusia sebagai hayat. Bagaimana Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia sebagai hayat? Puji Tuhan, kita memiliki gambar-an yang bisa menolong kita untuk mengerti hal ini. Kita per-lu jelas mengenai gambaran ini. Sekalipun Anda sangat hafal tentang kisah pernikahan Adam, tetapi mungkin Anda be-lum mempunyai kesan yang dalam akan makna kisah ini.
a. Latar Belakang — 2:18-20
Allah menciptakan langit untuk bumi, dan bumi untuk manusia. Kemudian Allah menciptakan manusia, manusia untuk Allah, mempunyai roh untuk menerima Allah. Lakilaki melambangkan Allah sebagai suami universal yang sejati, yang mencari istri bagi diri-Nya sendiri.
(1) Tidak Baik kalau Allah Itu Sendirian Saja
Setelah manusia diciptakan, Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadi-kan penolong baginya” (Kej. 2:18). Sekalipun manusia di-ciptakan sempurna, tetapi belum lengkap. Sebagai contoh, kepala manusia itu sempurna, tetapi jika tanpa tubuh, itu belum lengkap. Setiap orang bagaikan belahan semangka yang hanya separuh. Belahan semangka yang separuh, tentu tidak lengkap. Meskipun ia sempurna, tetapi ia memerlukan pasangan agar menjadi lengkap. Menyatukan dua belahan semangka barulah merupakan semangka yang lengkap utuh. Demikian juga, suami dan istri bagaikan dua belahan semangka, keduanya bersama-sama membentuk satu unit yang utuh. Inilah sebabnya mengapa saya sering berkata ke-pada orang-orang muda supaya mereka menikah. Jika Anda tidak menikah, meskipun Anda sempurna, Anda tetap tidak utuh. Karena itu ketika Allah melihat Adam, ia seolah-olah berkata, “Adam, engkau sempurna, tetapi engkau hanya se-tengah unit. Engkau terlalu kesepian. Aku akan menjadikan seorang penolong bagimu, Aku akan menjadikan pasangan yang sepadan denganmu.”
Laki-laki adalah lambang Allah sebagai suami univer-sal yang sejati. Sebelum Allah memperoleh manusia yang tepat, Ia masih sendirian. Dan tidak baik kalau Allah sen-dirian saja. Sekalipun Allah mutlak dan selamanya sempurna, tetapi Ia masih belum lengkap. Mangatakan Allah tidak sempurna adalah perkataan hujat. Allah kita selamanya sempurna. Namun tanpa gereja Ia belum lengkap. Tanpa gereja Ia seperti seorang suami tanpa istri atau kepala tanpa tubuh. Oleh karena itu, ketika Allah mengatakan bahwa Adam sendirian tidak baik, itu berarti Allah sendirian juga tidak lengkap dan tidak baik. Adam memerlukan seorang istri, melambangkan dan menggambarkan Allah perlu mem-punyai pasangan. Jika kita melihat hal ini, maka setiap aspek dalam Kejadian 2 akan terlihat dengan jelas.
(2) Tidak Ada Satu pun yang Menyerupai Allah
yang Bisa Menjadi Pasangan-Nya
Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala bina-tang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah se-muanya itu kepada Adam (Kej. 2:19). Allah membawa seekor kuda kepada Adam, mungkin Adam berkata, “Ini adalah kuda. Binatang ini tak sepadan denganku, sebab ia mempunyai 4 kaki, sedang aku hanya 2.” Ketika Allah membawa seekor sapi ke hadapan Adam, mungkin Adam berkata, “Ini adalah sapi. Dia mempunyai 2 tanduk. Itu tidak sepadan denganku dan mustahil menjadi pasanganku.” Allah mem-bawa setiap macam makhluk ciptaan-Nya kepada Adam dan Adam memberi nama kepada semua makhluk itu, kepada burung-burung di udara, dan semua binatang satwa, namun di antara semua itu, baginya sendiri ia tidak menemukan pasangan (Kej. 2:20) yang sepadan dengan dirinya. Walau-pun Adam memiliki hikmat untuk memberi nama semua makhluk ciptaan itu, namun ia seolah-olah berkata, “Semuanya berbeda jauh denganku. Mereka tidak serupa de-nganku. Bagaimana aku dapat memilih mereka sebagai pasanganku?” Setelah selesai memberi nama-nama kepada ciptaan-ciptaan itu, Adam, di satu aspek boleh dikatakan ia merasa kecewa. Di antara semua ciptaan itu, ia tidak me-nemukan satu pun yang sepadan dengan dirinya, yang bisa menjadi pasangannya. Tetapi Allah tahu benar apa yang Ia lakukan.
Kemudian dengan rusuk yang diambil dari Adam, Tuhan Allah membentuk seorang perempuan, lalu dibawa-Nyalah kepada manusia itu (Kej. 2:22). Ketika Adam bangun dari tidurnya, ia melihat Hawa lalu berkata, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej. 2:23). Seolah-olah Adam berkata, “Kali ini tidak seperti yang dulu. Sebelum ini, mereka adalah singa, kuda, merpati, kura-kura, . . . Kali ini adalah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Sudah tentu ini adalah bagian lain dari diriku, bagian keduaku. Inilah pasanganku yang benar-benar sepadan denganku.” Ketika Adam dan Hawa bersatu, mereka menjadi satu daging, membentuk satu unit yang utuh. Dari sini kita bisa melihat bahwa istri, Hawa, adalah pelengkap bagi suami, Adam. Tanpa Hawa, Adam belum lengkap. Hawa berasal dari Adam dan dikembalikan kepada Adam sehingga keduanya menjadi satu daging. Kalau kita melihat hal ini, kita akan mempunyai pengertian dasar terhadap makna kiasan dalam Kejadian 2.
Dengan pengertian yang sama, sebagaimana Hawa adalah pasangan Adam, gereja adalah pasangan Kristus. Secara kiasan, di dalam kekristenan terdapat hal-hal seperti “kuda, ternak, kura-kura, merpati”; karena mereka tidak berasal dari Kristus, maka mereka tidak sepadan dengan Kristus. Hanya orang-orang yang dilahirkan oleh Kristus, seperti gereja yang hidup bersandar kepada Kristus, baru sepadan dengan Kristus dan menjadi pelengkap-Nya. Ketika Kristus melihat hal ini, Dia pasti berkata, “Inilah dia, tulang dari tulang-Ku dan daging dari daging-Ku” (cf. Ef. 5:30).
b. Prosesnya — 2:21-24
Sekarang perlu kita melihat prosesnya. Apa yang Allah lakukan agar memperoleh pasangan bagi diri-Nya?
(1) Menjadi Manusia — Adam Tercipta
Pada suatu hari Allah menjadi manusia (Yoh. 1:14). Manusia ini dilahirkan oleh seorang gadis di kota Betlehem dan diberi nama Yesus. Allah menjadi manusia dilambang-kan oleh penciptaan manusia. Sebelum penciptaan, tidak ada manusia. Dengan kedaulatan penciptaan Allah, tiba-tiba muncul seorang manusia. Demikian juga, sebelum kelahiran Tuhan Yesus dalam palungan di kota Betlehem, Allah adalah Allah saja. Tetapi melalui inkarnasi, Allah telah menjadi manusia. Manusia ini adalah Adam yang sejati. Adam di Kejadian 2 adalah sebuah foto (Rm. 5:14); melalui kelahiran Tuhan Yesus di dalam tubuh daging, Adam yang sejati telah datang. Berdasarkan Alkitab, Adam di dalam taman Eden disebut Adam yang pertama, sedang Tuhan Yesus sebagai Adam sejati disebut Adam yang terakhir (1 Kor. 15:45). Adam yang terakhir inilah Adam yang sejati.
(2) Melewati Kematian — Adam Tertidur
Pada suatu hari Adam sejati dibuat tidur di atas kayu salib, tidur selama 6 jam, mulai pukul 09.00 pagi sampai pukul 15.00 petang (Mrk. 15:25, 33). Ini dinyatakan melalui kalimat di dalam Kejadian 2 yang mengatakan bahwa “TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak” dan “Ia mengambil salah satu rusuknya” untuk membuat seorang istri baginya (Kej. 2:21). Tertidurnya Adam ini merupakan lambang kematian Kristus di atas salib untuk menghasilkan gereja. Ini adalah kematian Kristus yang membebaskan hayat, menyalurkan hayat, membiakkan hayat, yang digambarkan oleh sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, kemudian darinya tumbuh banyak butir gandum (Yoh. 12:24), guna pembuatan roti yang tidak lain adalah Tubuh, yaitu gereja (1 Kor. 10:17). Terwujudnya gereja da-lam jalan ini berarti Allah di dalam Kristus digarapkan ke dalam manusia sebagai hayat. Pertama-tama Allah menjadi manusia. Kemudian manusia yang memiliki hayat dan sifat ilahi ini diperbanyak melalui kematian dan kebangkitan ke dalam orang-orang beriman, sehingga mereka menjadi ba-nyak anggota untuk pembentukan Hawa yang sejati yang sepadan dengan-Nya dan bisa menjadi pasangan-Nya. Melalui proses inilah Allah di dalam Kristus dengan hayat dan sifat ilahi-Nya digarapkan ke dalam manusia, agar manusia dapat memiliki hayat dan sifat yang sama dengan Dia, sehingga sepadan dengan-Nya sebagai pasangan-Nya.
(3) Mengalirkan Hayat-Nya — Rusuk Adam Diambil
Menjelang akhir dari penyaliban Kristus, orang-orang Yahudi tidak menginginkan tubuh para pidana yang tersalib tetap tergantung di atas salib pada hari Sabat, maka mereka minta kepada Pilatus untuk mematahkan kaki-kaki mereka (Yoh. 19:31). Ketika prajurit-prajurit datang kepada Yesus hendak mematahkan kaki-Nya, mereka menemukan bahwa Ia telah mati, sehingga mereka tak perlu lagi mematahkan tulang-Nya. Dengan demikian tergenaplah kata-kata yang tertulis dalam Alkitab, “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan” (Yoh. 19:32-33, 36; Kel. 12:46; Bil. 9:12; Mzm. 34:21). Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh. 19:34). Darah untuk pengampunan (Ibr. 9:22; 1 Ptr. 1:18-19). Dan air menunjuk kepada apa? Dalam Keluaran 17:6 kita menemukan lambang batu karang yang dipukul (1 Kor. 10:4). Setelah batu karang dipukul, ia terbelah dan air hidup mengalir keluar. Yesus di atas salib te-lah dipukul dengan tongkat Musa, yaitu oleh hukum Allah. Ia terbelah. Lambung-Nya ditikam dan air mengalir keluar. Air ini adalah arus hayat ilahi-Nya yang berarti hayat yang menghasilkan gereja.
Hayat ini dilambangkan oleh tulang rusuk, sebatang rusuk telah dikeluarkan dari diri Adam, yang menghasilkan dan membentuk Hawa. Karena itu tulang melambangkan hayat ilahi, yang dinyatakan dengan mengalirnya air dari rusuk Yesus. Tidak ada tulang yang dipatahkan. Ini berarti hayat ilahi-Nya tidak dapat dipatahkan. Hayat jasmani-Nya bisa dibunuh, namun tidak ada sesuatu pun yang bisa mem-bunuh hayat ilahi-Nya yang mengalir keluar untuk meng-hasilkan gereja.
(4) Bangkit — Adam Terjaga
Setelah Allah merampungkan karya-Nya membentuk Hawa selama Adam tertidur, Adam pun bangun dari tidur-nya. Tertidurnya Adam melambangkan kematian Kristus; terjaganya Adam melambangkan kebangkitan Kristus. Se-telah terjaga, Adam menjadi orang yang lain bersama Hawa yang dihasilkan darinya. Demikian juga setelah bangkit dari kematian, Kristus menjadi Persona yang lain bersama gereja yang terlahir dari-Nya. Setelah bangun dari tidurnya, Adam memperoleh Hawa sebagai pasangannya, demikian juga se-telah bangkit dari kematian, Kristus memperoleh gereja se-bagai pasangan-Nya.
(5) Menghasilkan Gereja — Hawa Dijadikan
Begitu Adam bangun dari tidurnya, ia segera menemu-kan Hawa, yang dibentuk dari tulang rusuknya. Demikian juga, begitu Kristus bangkit dari kematian (1 Kor. 15:20), gereja dihasilkan oleh hayat ilahi-Nya. Melalui kematian-Nya, hayat ilahi yang di dalam-Nya dibebaskan; melalui ke-bangkitan-Nya, hayat ilahi yang dibebaskan ini disalurkan kepada orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu Alkitab mengatakan bahwa melalui kebangkitan-Nya, kita dilahir-kan kembali (1 Ptr. 1:3). Ia adalah butir gandum yang telah jatuh ke dalam tanah, mati, dan menghasilkan banyak butir gandum yang lain (Yoh. 12:24). Kita adalah butir-butir gandum yang banyak itu, yang telah dilahirkan kembali oleh hayat kebangkitan-Nya. Sebagai orang-orang yang telah di-lahirkan kembali yang memiliki Dia sebagai hayat dan hidup bersandar Dia, kita tersusun menjadi gereja-Nya, yakni Hawa yang sejati di dalam kebangkitan.
Ketika Adam melihat Hawa, ia berkata, “Inilah dia, tu-lang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej. 2:23). Demikian juga Kristus melihat gereja, Ia mungkin berkata, “Aku telah melihat ternak, singa, kura-kura, ikan, dan burung-burung, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang sepadan dengan-Ku. Inilah dia, tulang dari tulang-Ku dan daging dari daging-Ku, karena gereja ini dihasilkan melalui kematian dan kebangkitan-Ku. Gereja berasal dari diri-Ku. Gereja dan Aku dapat menjadi satu.”
Banyak orang Kristen yang membicarakan tentang ge-reja. Ada orang yang beranggapan bahwa gereja adalah bangunan material yang kelihatan, dan mereka sering berkata, “Pergi ke gereja.” Tetapi setelah melihat makna dari lambang Adam dan Hawa dalam Kejadian 2, kita tidak seharusnya mengartikan gereja dengan bangunan gedung. Sebuah bangunan bukanlah gereja; itu hanyalah bangunan yang didirikan dari kayu dan bata. Ada orang yang lebih maju sedikit, mengatakan gereja adalah sekelompok orang Kristen sejati. Namun, sekelompok orang Kristen sejati belum tentu membentuk gereja. Mereka boleh jadi masih tetap sebagai orang-orang alamiah, yakni orang-orang Amerika, Tionghoa, Jepang, dan Mexico yang sebanyak itu saja. Sekelompok orang alamiah seperti ini bukanlah gereja.
Lalu apakah gereja itu? Gereja adalah bagian dari Kristus; bahkan adalah Kristus itu sendiri. Gereja adalah elemen Kristus yang di dalam orang-orang beriman. Elemen-elemen yang di dalam orang-orang beriman ini dijumlah, itulah ge-reja. Gereja tidak terdiri dari orang-orang Amerika, Mexico, Jepang, dan Tionghoa. Gereja adalah jumlah total Kristus yang di dalam umat-Nya. Sekalipun kita adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali, tetapi jika kita hidup dan bertindak menurut sifat alamiah kita, secara realitas kita bukan anggota-anggota dari Tubuh Kristus. Hanya di dalam pengertian yang dangkal barulah dapat dikatakan bahwa kita adalah anggota-anggota Tubuh-Nya. Ketika kita hidup dan bertindak menurut sifat alamiah kita, mungkin saja kita ini orang-orang Amerika, Yahudi, atau Tionghoa teladan, na-mun secara riil kita bukan anggota-anggota Kristus. Apakah sebenarnya anggota Kristus itu? Yaitu orang-orang yang dihasilkan dari elemen Kristus, Sang Roh pemberi-hayat, di dalam roh kita. Kristus sebagai Roh pemberi-hayat berhuni di batin kaum beriman-Nya. Jika Kristus yang di dalam se-luruh umat beriman-Nya ditambahkan, jumlahnya itulah gereja. Karena itu kita semua harus menanggalkan orang lama kita, menanggalkan segala hayat alamiah hingga Kris-tus yang hidup diekspresikan dari dalam roh kita, barulah kita dapat memiliki realitas. Dalam gereja, manusia baru ini, tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, orang Barbar atau orang Skit, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam semua (Kol. 3:11). Segala sesuatu yang kita perhidupkan, jika bukan Kristus, itu bukan gereja. “Bukan lagi aku sen-diri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Inilah gereja! “Inilah dia” tulang dari tulang-Nya! Segala sesuatu yang berasal dari hayat alamiah manusia, seperti segala macam organisasi manusia dan semua jenis aktivitas manusia di dalam kekristenan, bukanlah gereja, dan tidak dapat menjadi pasangan Kristus yang sepadan dengan-Nya. Secara kiasan, hal-hal ini tidak bisa dianggap sebagai Hawa, melainkan makhluk-makhluk lainnya yang diberi nama oleh Adam.
Perhatikan gambaran yang terlukis di dalam keempat Kitab Injil. Ketika Tuhan Yesus datang sebagai Adam dan melihat kaum agamawan Yahudi, Ia seolah-olah menga-takan, “Ini adalah kuda dan itu adalah kura-kura.” Dalam Matius 16, Ia menegur Petrus dengan menyebutnya “Iblis”. Tuhan seolah-olah berkata, “Ini bukan jodoh-Ku. Mereka ti-dak sepadan dengan Aku. Mereka tidak dapat menjadi pa-sangan-Ku.” Karena itu, Tuhan Yesus harus mati. Ia harus tertidur di atas salib, sehingga Ia membebaskan hayat-Nya, untuk menghasilkan pasangan-Nya yang sejati yang sepadan dengan Dia. Setelah Ia bangkit dari kematian, Ia nampak gereja. Saat itu, khususnya pada hari Pentakosta, Ia bisa berkata, “Inilah dia, tulang dari tulang-Ku dan daging dari daging-Ku.”
Hanya yang berasal dari Kristus, yang bisa diakui oleh Kristus; hanya yang berasal dari Kristus, yang bisa kembali kepada Kristus dan sepadan dengan Dia; hanya yang berasal dari hayat kebangkitan Kristus, yang bisa menjadi pelengkap dan pasangan-Nya, yaitu Tubuh Kristus; hanya yang berasal dari Kristus dan yang adalah diri Kristus, yang dapat bersatu dengan Kristus.
Surat-surat Kiriman dalam Perjanjian Baru mewahyukan bahwa setelah hari Pentakosta, banyak hal negatif yang menyusup ke dalam gereja. Binatang-binatang seperti kuda dan kura-kura muncul lagi. Mau tak mau Tuhan Yesus harus berkata lagi, “Ini bukan, itu pun bukan.” Sekarang Ia sedang menantikan hari pernikahan yang akan datang. Pada hari pernikahan itu, Ia akan melihat pemenang-pemenang dan berkata, “Inilah dia, tulang dari tulang-Ku dan daging dari daging-Ku.”
Dalam perjalanan kita hari ini menuju ke pesta pernikahan itu, kita harus menyingkirkan semua hal alamiah, segala sesuatu milik manusia alamiah, hal-hal yang di luar Kristus. Saya sendiri telah melewati banyak perkara. Saya terlahir dalam kalangan Kristen dan dibesarkan dalam ka-langan Kristen. Ketika saya melewati dan memperhatikan perkara-perkara itu, hayat kebangkitan dalam saya lalu berkata, “Ini bukan dan itu pun bukan.” Suatu hari saya ber-jumpa dengan perkara yang benar, hayat kebangkitan di dalam saya lalu berkata, “Inilah dia!” Sering kali bahkan di antara kita, hayat di dalam saya berkata, “Ini bukan”, namun sering kali pula hayat kebangkitan berkata, “Inilah dia”. Kita perlu mendengar suara Kristus, Sang hayat kebangkitan di dalam kita, dan berjalan menurut ini sepan-jang waktu.
(6) Bersatu dengan Manusia —
Adam dan Hawa Menjadi Satu Daging
Dalam lambang, Adam dan Hawa menjadi satu daging (Kej. 2:23-24); dalam realitasnya, Kristus dan gereja adalah satu Roh, sebab yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia (1 Kor. 6:17). Menurut kiasan, semua orang beriman milik Kristus adalah “anggota tubuh-Nya, daging-Nya, dan tulang-Nya.” Kesatuan dalam pernikahan suami dan istri adalah “Rahasia ini besar . . . ialah hubungan Kristus dan gereja” (cf. 5:29-32).
Jika kita memiliki visi seperti ini dalam pembacaan Alkitab, niscaya kita mengerti Kidung Agung: Kristus adalah kakanda terkasih kita dan kita adalah adinda terkasih-Nya. Demikian juga kita akan mengerti seluruh Perjanjian Baru di dalam jalan hayat, bukan secara alamiah atau pengeta-huan. Kita akan mengerti bahwa kita semua telah dilahirkan kembali dan diciptakan kembali melalui Kristus, sehingga kita sekarang menjadi satu roh dengan-Nya, juga dengan pa-ra saleh yang lain; dan hari ini di atas bumi kita menempuh hidup pernikahan dengan suami kita yaitu Kristus. Kita bu-kan hanya menunggu waktu yang akan datang, tetapi hari ini juga kita menempuh hidup pernikahan secara korporat. Dalam pengertian yang satu, kita telah memiliki kehidupan pernikahan, dan sekarang kita sedang menempuh hidup ber-sama suami kita. Dalam pengertian yang lebih sempurna, yang kita nikmati hari ini hanyalah pencicipan pendahuluan dan kita sedang menunggu kenikmatan yang sempurna dalam pernikahan yang akan datang. Pernikahan ini akan terlaksana dalam Wahyu 19. Selanjutnya, gereja akan men-capai kesempurnaannya sebagai Yerusalem Baru, menjadi mempelai perempuan Kristus yang sempurna sampai se-lama-lamanya. Kristus dan istri yang sempurna ini akan menikmati kehidupan pernikahan untuk selama-lamanya. Istri ini sudah tentu bukan orang-orang individu, melainkan korporat, ekspresi pembangunan, yaitu Yerusalem Baru.
Dalam Kejadian 2 kita melihat penciptaan manusia dan pohon hayat yang menunjukkan Allah sebagai hayat dan suplai hayat manusia. Ketika Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, manusia mulai mengalami aliran hayat, dan pada aliran hayat terdapat bahan-bahan berharga — emas, mutiara, dan batu krisopras. Akhir Kejadian 2 menampakkan kepada kita pembangunan seorang perempuan. Semua benda berharga yang dimaksud dalam pasal ini ada-lah untuk membangun perempuan ini. Jika kita hanya memiliki Kejadian 2, kita tidak bisa mengerti hal ini dengan jelas dan memadai. Namun pada akhir Alkitab kita juga me-nemukan seorang perempuan, yaitu Yerusalem Baru. Perempuan ini adalah kota yang dibangun dengan emas, mutiara, dan batu-batu permata. Dalam Kejadian 2, benda-benda ini kita temukan pada aliran hayat, tetapi dalam keadaan be-lum dibangun. Pada akhir Alkitab semua benda ini sudah dibangun menjadi sebuah kota, yakni perempuan yang ter-akhir dan yang kekal. Dalam Kejadian 2, kita dapat melihat bayang-bayang Yerusalem Baru yang diwujudkan lebih dulu oleh Hawa, dan dalam Wahyu 21, kita melihat Hawa yang telah mencapai totalitas kesempurnaan sebagai Yerusalem Baru, mempelai perempuan korporat bagi Anak Domba yang dibangun dengan tiga bahan yang berharga. Jadi, sekali lagi kita menemukan bahwa hampir segala sesuatu yang kita jumpai dalam Kejadian 1 dan 2 merupakan benih yang tumbuh melalui seluruh Alkitab dan menjadi matang serta dituai dalam kitab Wahyu.
Hari ini kita bukan berada di awal maupun di dalam penggenapannya, melainkan sedang dalam perjalanan. Saya tidak merasa puas hanya berada pada Efesus 5, saya ingin juga berada pada Wahyu 19:1-6, pada pesta pernikahan Kristus. Untuk mencapai ini, kita harus menanggalkan perkara-perkara alamiah yang sebagai kura-kura, lembu, kuda, dan sebagainya. Mungkin sifat Anda seperti kuda liar. Anda harus tanggalkan hayat alamiah itu. Puji Tuhan, di dalam kita ada hayat yang lain, elemen yang lain — yakni Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Kita harus hidup demi hayat ini, baik pagi maupun malam menanggalkan orang lama kita, dan mengenakan manusia baru. Dengan jalan ini kita akan diubah dan diserupakan dengan gambar-Nya, disiapkan bagi pesta pernikahan pada waktu Dia datang kembali. Akhirnya, kita akan menjadi Yerusalem Baru dan tujuan kekal Allah tercapai dengan sempurna.
c. Hasilnya
(1) Memperoleh Mempelai Perempuan —
Adam Memperoleh Hawa
Adam tidur, rusuknya dibuka, diambil sebuah tulang rusuknya, akibatnya diperolehnya Hawa sebagai pasangan yang sepadan dengannya. Ini melambangkan kematian Kristus, sisi rusuk-Nya tertikam, mengalirkan hayat ilahi-Nya, akibatnya Ia memperoleh gereja sebagai pasangan-Nya. Sejak itu, Allah tidak sendirian lagi. Kristus telah memperoleh mempelai perempuan yang sepadan dengan-Nya. Wahyu 21-22 menunjukkan bahwa di dalam kekekalan, Yerusalem Baru sebagai perampungan gereja, akan menjadi mempelai perempuan Kristus, menjadi pasangan Allah yang sempurna dan sepadan dengan Dia selama-lamanya.
(2) Bersatu dengan Manusia —
Adam dan Hawa Menjadi Satu daging
Akhirnya Adam dan Hawa menjadi satu daging, menjadi satu unit yang lengkap. Hal ini merupakan gambaran kesatuan antara Allah dengan manusia. Keinginan Allah yaitu bersatu dengan manusia. Ia telah mencapai tujuan ini melalui kematian dan kebangkitan Kristus yang menghasilkan gereja; gereja mewakili insani yang tepat yang sepadan dengan Dia sebagai suaminya. Dalam kesatuan ini, insani bersatu dengan ilahi; sampai selama-lamanya. Yerusalem Baru yang akan datang benar-benar adalah kesatuan antara Allah dan manusia, suatu unit yang hidup dan lengkap, terdiri dari keilahian dan keinsanian.
(3) Hidup Bersama Manusia —
Adam Hidup Bersama Hawa
Adam dan Hawa menjadi satu, hidup bersama. Ini menggambarkan bahwa Allah, suami universal, akan se-lama-lamanya hidup bersama manusia yang telah dilahirkan kembali. Kehidupan pernikahan universal antara Allah dan manusia ini diwahyukan dengan sempurna dalam Wahyu 21. Di dalam kekekalan, di dalam Kristus, Allah adalah pu-sat, realitas, dan hayat kehidupan manusia. Manusia akan hidup oleh hayat Allah yang di dalam Kristus. Manusia akan mengekspresikan kemuliaan Allah dan menerapkan ke-kuasaan Allah, mengatur bumi baru. Allah dan manusia, manusia dan Allah, akan hidup bersama-sama dalam ke-hidupan pernikahan sampai selama-lamanya.
Jadi, Kejadian 1:1—2:3 adalah gambar tujuan Allah, sedang pasal 2:4-5 adalah gambar cara mencapai tujuan Allah. Dua bagian ini bisa dianggap sebagai cetak biru rencana pembangunan. Kejadian 3 sampai Wahyu 20 bisa dipandang sebagai proses pembangunan; dan Wahyu 21 dan 22 bisa dipandang sebagai foto dari bangunan yang sudah rampung.