GARIS PENGETAHUAN MENYUSURI SELURUH ALKITAB
Kita telah melihat bahwa Alkitab dimulai dengan dua pohon: pohon hayat yang menghasilkan hayat dan pohon pengetahuan yang menghasilkan pengetahuan. Namun penge-tahuan adalah kepalsuan, karena pohon pengetahuan sesungguhnya adalah pohon kematian, mendatangkan maut. Jadi, sejak awal Alkitab kita telah melihat dua garis menyusuri seluruh Alkitab. Garis yang pertama ialah garis hayat, yang dimulai dengan pohon hayat dan menyusuri seluruh Alkitab sampai berakhir pada kota Yerusalem Baru, di sana kita ju-ga nampak pohon hayat (Why. 22:1-2, 14). Garis yang kedua ialah garis pengetahuan, dimulai dengan pohon pengetahuan dan menyusuri seluruh Alkitab sampai berakhir pada lautan api. Dalam berita ini kita akan melihat garis pengetahuan yang menyusuri seluruh Alkitab. Melalui setiap kitab dalam Alkitab, kita dapat melihat bahwa pengetahuan mendatang-kan kesusahan, kerusakan, pembunuhan, dan kehancuran. Sekarang kita akan memeriksa keadaan orang-orang yang hidup, bekerja, bergerak, dan bertindak menurut pengetahu-an, tidak menurut hayat.
1. Kain
Kain, anak laki-laki Adam yang pertama dan generasi manusia yang kedua, adalah manusia pertama yang hidup menurut pengetahuan. Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya kepada Tuhan sebagai kurban persembahan (Kej. 4:3). Meskipun hal ini nampaknya sangat baik, tetapi sesungguhnya salah, karena Kain mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah menurut caranya sendiri, tidak menurut cara Allah. Cara Allah ialah menghendaki manusia yang telah jatuh mempersembahkan kurban penebusan dosa untuk mengontak Allah. Tetapi Kain hanya mempersembahkan hasil tanah, tidak mempersembahkan darah penebusan dosa. Persembahan Kain adalah menurut apa yang dipikirkannya sendiri, menurut caranya sendiri. Persembahan demikian berasal dari pikiran manusia. Kita harus berhati-hati. Sebagaimana telah kita bicarakan, prin-sip pohon pengetahuan adalah merdeka terhadap Allah. Hal ini berarti kita dengan merdeka membuat keputusan sendiri. Meskipun Kain melakukan suatu hal yang baik, tetapi mer-deka terhadap Allah. Akibat dari segala sesuatu yang baik namun tidak bersandar Allah adalah kematian. Hal ini sama dengan penyekat yang menyumbat aliran listrik. Tak peduli bahan apa yang digunakan sebagai penyekat, mungkin berlian, aliran listrik akan tetap terputus. Masalahnya bukan-lah bahan itu baik atau buruk, tetapi hal itu telah menjadi penyekat. Demikian juga jika ada sesuatu yang memisahkan kita dengan Allah, tak peduli betapa baiknya hal itu, tetap mendatangkan maut.
Sebagai akibat perbuatan Kain yang tidak bersandar kepada Allah, Kain pergi dari hadapan TUHAN (Kej. 4:16). Hal ini sungguh menakutkan! Tak peduli bagaimana baiknya kita, asal kita meninggalkan hadirat Allah, itulah celaka! Kita boleh baik atau buruk, tetapi jika kita meninggalkan hadirat Allah, akibatnya akan sama.
Sekali manusia berbuat menurut caranya sendiri dan pergi dari hadapan Allah, lalu mendambakan mendirikan suatu bangunan untuk dirinya sendiri. Kain mendirikan se-buah kota dan diberi nama Henokh, menurut nama anaknya (Kej. 4:17). Kain tidak menamainya menurut nama Allah; ia membuat suatu nama untuk manusia. Inilah suatu pernya-taan bahwa manusia merdeka terhadap Allah.
2. Nimrod
Nimrod adalah seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan Tuhan (Kej. 10:8-11). Dialah orang yang berkuasa di bumi, orang yang mutlak merdeka terhadap Allah. Ia membangun kerajaan untuk dirinya sendiri, dan Babel itulah permulaan kerajaannya. Banyak orang Kristen menge-tahui tentang manusia membuat menara dan kota Babel, namun sedikit sekali mengetahui bahwa kerajaan Babel di-dirikan oleh Nimrod. Dalam sejarah manusia, kerajaan per-tama mungkin adalah kerajaan Babel yang didirikan oleh Nimrod, yang juga pendiri kota besar Niniwe di Asyur. Bangunannya menandakan bahwa manusia sepenuhnya merdeka terhadap Allah. Berkebalikan dengan itu, Abraham tidak mendirikan menara apa pun kecuali mezbah kecil. Ia tinggal di kemah. Demikian juga Nuh tidak mendirikan apa pun selain sebuah bahtera dan mezbah. Orang yang bersan-dar kepada Tuhan tidak mengerjakan banyak aktivitas pem-bangunan. Makin kita menaruh keyakinan kepada Allah, akan makin sedikit kita mempunyai bangunan merdeka. Hanya pekerja-pekerja raksasa yang tidak bersandar kepada Allah, yang mau membangun menara-menara tinggi mereka.
3. Orang-orang di Babel
Orang-orang di Babel mengadakan perundingan (Kej. 11:3). Mereka tidak berdoa atau bertanya kepada Tuhan apa yang harus dilakukan atau ke mana harus pergi. Sejarah manusia merupakan suatu sejarah dewan. Setelah Perang Dunia I, dibentuklah Liga Bangsa-bangsa dan liga ini se-sungguhnya adalah suatu dewan. Setelah Perang Dunia II berakhir, Liga Bangsa-bangsa diubah menjadi Persatuan Bangsa-bangsa yang memiliki bangunan megah di New York, dan hampir setiap hari mengadakan konferensi. Dewan-dewan manusia semacam itu mutlak merdeka terhadap Allah. Akibat dewan di Babel itu ialah membangun sebuah menara tinggi bagi nama manusia, dan mendirikan sebuah kota bagi milik manusia.
4. Lot
Walaupun Lot adalah seorang yang beroleh selamat, namun ia terhanyut keluar dari garis hayat, karena ia memilih menurut pandangannya sendiri (Kej. 13:10-11; cf. 14-15). Ketika Lot memisahkan diri dari Abraham, ia me-layangkan pandangannya seraya melihat lembah Yordan dan membuat keputusan menurut pandangannya sendiri. Ia tidak berdoa, “Tuhan, aku tak tahu apa yang harus aku kerjakan. Aku harus bagaimana? Tuhan, belaskasihanilah aku. Biar Engkau saja yang memilih. Aku ingin Engkau yang memilihkan.” Lot tidak berdoa demikian, tetapi memilih menurut pandangannya sendiri. Akibatnya, ia pindah ke Sodom, kota kejahatan (Kej. 13:12-13; cf. ayat 18). Ingat, kapan Anda memilih jalan merdeka terhadap Allah, niscaya jalan Anda akan terus menurun. Jalan Anda akan mengarah ke Sodom, kota yang penuh dosa.
5. Esau
Jika kita membaca sejarah Esau, kita tahu bahwa di-tinjau dari norma-norma kehidupan, ia tidak melakukan apa-apa. Yakublah yang malahan lebih buruk. Tetapi sebagai seorang pemburu, Esau berburu untuk kepuasannya sendiri (Kej. 25:27, 29). Esau berburu tidak bersandar kepada Allah, akhirnya untuk memuaskan seleranya, ia menjual hak ke-sulungannya (Kej. 2:30-34). Semua orang yang merdeka terhadap Allah sudah menjual hak kesulungannya, yaitu kenik-matan akan Allah. Karena Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya agar menjadi ekspresi-Nya, berarti manusia sejak lahir telah berhak mengekspresikan Allah. Jadi setiap orang sejak lahir mempunyai hak untuk mengekspresikan Allah. Tetapi setiap orang telah menjual hak kesulungannya karena merdeka dari Allah. Apakah maksud-nya bertobat dan percaya Tuhan Yesus? Bertobat berarti memalingkan angan-angan kita, pikiran kita. Dahulu membelakangi Allah, tetapi setelah mendengar Injil, kita berbalik menghadap Allah. Percaya Tuhan Yesus artinya kembali kepada hak sulung manusia kita, kembali kepada kenikmatan akan Allah dan mengekspresikan Allah. Inilah arti bertobat dan percaya Tuhan Yesus. Esau tidak demikian, sebaliknya bergerak pada arah yang berlawanan.
6. Firaun
Dalam kitab Keluaran 1-12, kita melihat betapa Firaun itu seorang yang merdeka terhadap Allah. Ia bukan saja merdeka terhadap Allah, bahkan membangkang terhadap Allah. Ia pernah bertanya, “Siapakah Allah?” (Kel. 5:2). Firaun tidak mempedulikan Allah dan ia tidak mau tahu tentang Allah. Jadi hati Firaun degil, ia mengeraskan hatinya dan karena itu Allah pun mengeraskan hatinya (Kel. 7:13, 22; 8:15, 19, 32; 9:34-35). Sekali demi sekali hati Firaun bertambah keras. Hari ini hati manusia di seluruh dunia menge-ras karena mereka tidak mempedulikan Allah. Mereka mem-perhatikan dewan-dewan, rencana-rencana, siasat-siasat mereka, tetapi tidak mempedulikan Allah. Karena itu Allah pun membiarkan mereka dan hati mereka menjadi keras.
7. Harun
Nama Harun adalah nama yang baik. Walaupun ia seorang Imam Besar dan berada pada garis hayat, namun Harun bertindak menurut garis pengetahuan. Ketika Musa di gunung menikmati Allah sebagai pohon hayat, Harun dan orang-orang Israel berada di kaki gunung. Mereka tidak ber-doa juga tidak menengadah kepada TUHAN. Ketika umat itu mengusulkan kepada Harun untuk membuat ilah dari emas bagi mereka, ia mengabulkan permintaan mereka (Kel. 32:1, 4, 24). Kadangkala kita tidak seharusnya mendengarkan perkataan orang-orang, karena perhimpunan itu mungkin mengusulkan suatu anjuran yang menentang Allah. Harun menerima anjuran mereka untuk membuat patung dari emas tanpa bertanya kepada Allah lebih dulu. Patung itu sangat menarik, bukan dari tanah liat, melainkan dari emas. Sewaktu Musa turun dari puncak gunung, ia bertanya kepada Harun apa yang terjadi. Harun menjawab bahwa ia melemparkan emas ke dalam api, dan keluarlah lembu emas itu (Kel. 32:24). Harun seolah-olah hendak membela dirinya sendiri, agar Musa jangan menyalahkannya; jelas ia menganggap dirinya tidak berbuat keterlaluan. Tetapi selama kita merdeka terhadap Allah, tak peduli kita berbuat banyak atau sedikit, atau sama sekali tidak berbuat apa-apa, anak lembu emas itu tetap akan muncul. Kita tidak perlu melakukan banyak, asal tidak bersandar kepada Allah, akibatnya muncul anak lembu emas.
8. Nadab dan Abihu
Nadab dan Abihu mempersembahkan kepada Allah api asing dengan ukupan mereka (Im. 10:1-2). Meskipun ukupan itu baik, tetapi api itu asing, bukan api yang diambil dari mezbah penebusan dosa. Api yang mereka gunakan itu dapat diterima oleh konsepsi mereka, tetapi api itu asing bagi Allah. Api yang asing itu adalah menurut cara mereka sendiri, tidak menurut wahyu Allah, karena itu mendatangkan maut atas diri mereka.
9. Miryam dan Harun
Miryam dan Harun mengatai Musa karena Musa meng-ambil seorang perempuan Kusy (Bil. 12:1-2). Jelas, dalam hal ini Musa memang bersalah. Namun Miryam dan Harun menentang Musa, bukan karena akibat mengontak Allah, tetapi karena motivasi mereka sendiri. Sumber penentangan mereka terhadap Musa bukan dari Allah, melainkan dari mereka sendiri, dari pengetahuan mereka. Hal ini menda-tangkan amarah Allah kepada mereka, menyebabkan Miryam kena kusta dan selama 7 hari dikucilkan di luar tempat per-kemahan (Bil. 12:9-15).
Catatan Alkitab memberi tahu kita bahwa hanya satu pimpinan yang selamanya tidak pernah salah — yaitu pimpinan Tuhan Yesus. Pimpinan lain ada saja kekurangannya. Berbeda dengan pimpinan Tuhan Yesus, semua pimpinan lain selalu ada kesalahannya. Meskipun demikian, kita harus sangat hati-hati untuk tidak melontarkan serangan, sekalipun orang yang memimpim itu salah.
10. Dua Belas Pengintai
Kegagalan sepuluh pengintai itu ialah mereka melihat situasi negeri itu dari sudut pandangan mereka sendiri (Bil. 13:28, 32-33). Ketika mereka mengintai negeri itu, mereka melihat raksasa-raksasa dan kota-kotanya berkubu, lalu me-reka takut. Mereka tidak memalingkan pandangan mereka kepada Allah, seperti Yosua dan Kaleb. Mereka gagal karena mereka bersandar kepada pengetahuan mereka, dan mereka menolak bersandar kepada Tuhan (cf. Bil. 13:30; 14:6-9). Bila Anda berada dalam situasi yang sulit, janganlah menyeli-dikinya menurut pandangan Anda sendiri. Berbuat demikian hanya akan memalingkan Anda dari Allah. Dalam keadaan sulit, hendaklah Anda menutup mata, di dalam roh berpaling kepada Allah sambil berdoa kepada-Nya. Dengan demikian Anda akan tertolong. Karena sepuluh pengintai itu melihat keadaan itu melalui pandangan mereka sendiri, maka me-reka tidak bersandar kepada Tuhan seperti halnya Kaleb dan Yosua. Yosua dan Kaleb seolah memberi tahu orang-orang, “Lupakanlah keadaan itu dan bersandarlah kepada Tuhan. Tuhan lebih tinggi daripada kubu-kubu kota dan lebih besar daripada semua raksasa.” Perbedaan di antara sepuluh peng-intai dengan Yosua dan Kaleb ialah yang dua orang bersandar kepada Tuhan dan yang sepuluh menyelidiki keadaan kota itu demi pengertian mereka sendiri, yaitu menanggapi seturut pengetahuan mereka sendiri.
11. Korah dan Rombongannya
Korah dan rombongannya menyerang kekuasaan per-wakilan Allah (Bil. 16:1-3). Setiap penyerangan terhadap ke-kuasaan Allah, baik yang beralasan maupun yang tanpa alasan, bersumber dari pikiran manusia sendiri. Hari ini da-lam gereja, prinsipnya sama. Mungkin Anda menyerang para pemimpin karena Anda merasa mereka “berbuat keterlalu-an”, tetapi serangan Anda yang bersumber dari pikiran ma-nusia membawakan kematian rohani bagi Anda. Korah dan rombongannya menderita kematian oleh karena mereka menyerang kekuasaan Allah. Mungkin Anda mengira menye-rang pemimpin-pemimpin gereja adalah benar, tetapi Anda harus tahu akibatnya — kematian atau hayat? Jika Anda sungguh-sungguh benar, akibat serangan Anda tentu hayat. Saya dapat bersaksi bahwa di masa lampau, saya pernah melihat beberapa serangan terhadap pimpinan dalam gereja, namun setiap serangan itu telah membawa kebinasaan bagi si penyerang sendiri. Alangkah serius! Anda harus bertanya kepada diri sendiri, “Apakah seranganku berasal dari roh, dari takhta Allah atau dari pikiranku?” Menyerang ke-kuasaan perwakilan Allah, tak peduli apa alasannya, berarti berada pada garis pengetahuan yang menghasilkan maut.
Penyerangan Korah dan rombongannya dikarenakan fakta bahwa mereka mengabaikan penyertaan Allah (Bil. 16:19). Jika mereka mengindahkan penyertaan Allah, mereka akan tertolong dari perkara serangan mereka terhadap Musa dan Harun. Mereka akan berpaling dari garis pengetahuan ke garis hayat.
12. Saul
Saul tidak melakukan dosa amoral seperti Daud. Tetapi ia menumpas musuh menurut kesenangannya (1 Sam. 15:8). Allah memberi tahu dia untuk menumpas semua musuhnya, tetapi Saul menyisakan beberapa yang baik menurut pan-dangannya. Saul bertindak berdasarkan diri sendiri, tanpa menuruti Tuhan (1 Sam. 15:11, 22-23). Akibat dari perbuat-an yang tidak bersandar kepada Allah ini, Saul kehilangan takhta dan kerajaannya.
13. Absalom
Absalom memberontak terhadap ayahnya, raja Daud (2 Sam. 15:10-13). Menurut catatan 2 Samuel 13-18, ia seorang yang mutlak bertindak menurut dirinya sendiri dan penge-tahuannya sendiri. Dia tidak bersandar kepada Allah, dan akibatnya tak lain adalah maut.
14. Ahab
Ahab adalah seorang raja yang jahat. Ia mengawini Izebel, seorang perempuan milik Iblis, penyembah berhala, dan membuat mezbah untuk Baal, berhala yang paling ter-nama waktu itu (1 Raj. 16:30-32). Meskipun Ahab dilahirkan di tengah-tengah bangsa milik Allah, namun ia lebih rusak daripada orang yang tidak bersandar kepada Allah. Sedikit pun tidak mempunyai pikiran terhadap Allah. Sama sekali merdeka terhadap Allah.
15. Imam-imam Kepala dan Ahli-ahli Taurat
Sekarang sampailah kita pada Perjanjian Baru. Imamimam kepala dan ahli-ahli Taurat mengetahui Alkitab. Ketika raja Herodes menanyakan di mana Kristus akan di-lahirkan, mereka segera bisa memberi jawaban (Mat. 2:4-6). Pengetahuan Alkitab tidak ada salahnya, namun hanya memegang pengetahuan Alkitab seperti imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, itu berbahaya sekali. Mereka tahu bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem, tetapi tak seorang pun dari mereka yang pergi ke sana. Hal ini membuktikan bahwa mereka berada di garis pengetahuan, tidak pada garis hayat. Orang-orang majus dari Timur, yang tidak mempunyai pengetahuan Alkitab, berada pada garis hayat. Mengikuti bintang di langit, mereka datang ke tempat Kristus berada dan menyembah-Nya. Jelaslah, orang-orang majus dari negeri kafir mempunyai hayat, sedangkan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mempunyai pengetahuan Alkitab, tetapi akibat dari pengetahuan mereka itulah maut. Pengetahuan tidak bisa memberikan hayat.
16. Nikodemus
Nikodemus adalah orang yang baik. Namun ketika per-tama kali ia datang kepada Tuhan, ia berada pada garis pengetahuan (Yoh. 3:1-2). Ia berkata kepada Yesus, “Rabi, ka-mi tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah.” Dalam jawaban-Nya, Tuhan memalingkan Niko-demus dari pengajaran dan pengetahuan ke garis hayat (Yoh. 3:3). Tuhan seolah-olah memberi tahu Nikodemus, “Kamu ti-dak perlu pengajaran. Kamu perlu kelahiran baru dan hayat baru. Nikodemus, kamu tidak perlu pengetahuan yang lebih banyak. Sebagai guru Taurat Musa, kamu sudah cukup ber-pengetahuan. Apa yang kamu perlukan adalah hayat baru.”
17. Perempuan Samaria
Sekalipun perempuan Samaria ini adalah orang yang amoral, dia tetap beragama. Dia mempunyai pengetahuan agama yang tradisional, tetapi dia hidup dalam dosa tanpa kepuasan (Yoh. 4:15-20). Hal ini membuktikan bahwa agama tidak dapat menolong manusia. Perempuan Samaria berada pada garis pengetahuan. Tuhan Yesus memimpin dia kepada Allah, Roh itu, sebagai air hayat bagi kepuasannya (Yoh. 4:21-24, 14). Walaupun dia berada pada garis pengetahuan, Tuhan memalingkannya ke garis hayat.
18. Para Penganut Agama Yahudi
Sekarang kita tiba pada para penganut agama Yahudi. Menurut Yohanes 5, Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang telah sakit selama 38 tahun. Hal ini terjadi pada hari Sabat, sebab itu orang-orang Yahudi merasa tersinggung (Yoh. 5:1-16). Mereka hanya mempedulikan hari Sabat, tetapi tidak mempedulikan perhentian yang sejati orang lain. Orang lumpuh tadi sudah 38 tahun tidak mempunyai perhentian, bahkan pada hari Sabat pun. Baru setelah Tuhan Yesus menyembuhkannya, ia mengalami perhentian yang sejati. Orang-orang Yahudi menyalahkan Tuhan Yesus. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal . . . namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (ayat 39-40). Dengan per-kataan lain, Tuhan memberi tahu mereka bahwa mereka menyelidiki Alkitab karena mereka mengira di dalamnya ada hayat yang kekal, namun mereka tidak mau datang kepada Tuhan untuk mendapat hayat sejati itu.
Prinsipnya sama dengan yang terjadi pada orang-orang hari ini. Banyak orang Kristen menyelidiki Alkitab dengan anggapan di dalamnya ada hayat yang kekal, namun mereka tidak mau datang mengontak Tuhan yang hidup itu. Mung-kin saja kita membaca banyak ayat dan pasal dalam Alkitab tanpa mengontak Tuhan. Jangan kita sekali-kali memisah-kan pembacaan Alkitab kita dengan berkontak dengan Tuhan. Dua hal ini haruslah satu. Setiap kali kita membaca Alkitab, kita harus berkata, “Tuhan Yesus, biarlah aku mengontak Engkau dalam firman kudus ini. Tuhan Engkau adalah firman hidup. Tanpa Engkau sebagai firman hidup, aku tak dapat menerima hayat dari kata-kata itu. Tuhan, aku harus mengontak Engkau. Meskipun Engkau sangat misterius, aku memuji Engkau, karena Engkau telah mem-beriku firman yang dapat dijamah. Firman ini solid, kukuh, dan konkret. Aku berterima kasih atas firman yang dapat kudoa-bacakan itu. Tetapi, Tuhan, yang kubutuhkan bukan-lah tulisan-tulisan hitam di atas putih, melainkan diri-Mu sendiri, Sang Roh hayat.” Inilah cara menggunakan Alkitab yang benar. Sekali-kali jangan merdeka terhadap Tuhan se-waktu mengontak Alkitab. Anda tidak perlu membaca buku novel yang amoral untuk mengalami maut. Jika Anda mem-baca Alkitab tanpa di dalam roh, Anda juga akan mengalami maut. Jadi, bahkan membaca Alkitab pun bisa berada pada garis pengetahuan yang menuju kepada maut.
19. Ahli-ahli Taurat dan Orang-orang Farisi
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempertahankan pengetahuan hukum Taurat, tetapi masih tetap berada di bawah perbudakan dosa (Yoh. 8:5, 9, 34). Mereka membawa perempuan pelaku dosa kepada Tuhan, dan seturut penge-tahuan mereka menuntut Tuhan memberikan jawaban ya atau tidak terhadap apa yang seharusnya mereka lakukan terhadap perempuan itu. Mereka berkata bahwa Musa me-merintahkan, terhadap orang yang demikian, harus dilem-pari batu sampai mati. Kitab Yohanes menunjukkan bebe-rapa kali Tuhan Yesus ditantang supaya memberi jawaban ya atau tidak, namun Tuhan selalu menolaknya. Tuhan tidak menjawab bukan karena Ia kurang cakap, melainkan karena Ia hanya mempedulikan hayat. Kitab Yohanes adalah kitab hayat. Hayat itu murni hayat, bukan pengetahuan ya atau tidak, baik atau buruk. Ya atau tidak, baik atau buruk adalah milik pohon pengetahuan. Tuhan tidak mau men-jawab mereka dengan cara itu. Ia membungkuk seraya me-nulis-nulis di tanah, kemudian Ia menjawab, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama me-lemparkan batu kepada perempuan itu.” Ketika Tuhan ber-kata demikian, perkataan-Nya menyentuh hati nurani me-reka sehingga pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang paling tua. Tak seorang pun di antara mereka yang tanpa dosa. Satu-satunya orang yang tanpa dosa ialah Tuhan Yesus. Jadi, jawaban Tuhan menunjukkan bahwa diri-Nya sendiri adalah pohon hayat.
20. Murid-murid Tuhan
Janganlah mengira bahwa kita yang adalah murid-murid Tuhan, pasti berada pada garis hayat. Murid-murid yang beserta Tuhan masih tetap mempertahankan pengetahuan tradisi agamanya pada waktu mereka melihat seorang yang buta sejak lahir (Yoh. 9:1-3). Berdasarkan pengetahuan agama mereka, mereka bertanya, “Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Tuhan menjawab, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyata-kan di dalam dia.” Tuhan tidak memberi mereka jawaban ya atau tidak, melainkan memimpin mereka kepada Allah. Ya atau tidak adalah milik pohon pengetahuan baik dan jahat, tetapi Allah adalah pohon hayat. Tuhan membimbing murid-murid-Nya dari garis pengetahuan menuju garis hayat.
21. Marta
Marta adalah seorang murid Tuhan. Namun dia dimiliki oleh garis pengetahuan, mempertahankan pengetahuan ajaran-ajaran tentang kebangkitan di akhir zaman (Yoh. 11:24). Marta mengeluh kepada Tuhan, jikalau Tuhan ada di sana, Lazarus tentunya tidak akan mati. Ketika Tuhan berkata bahwa saudaranya akan bangkit, Marta segera me-nanggapi perkataan-Nya, bahwa ia tahu Lazarus akan bangkit pada kebangkitan akhir zaman (Yoh. 11:23-24). Ia me-nunda kebangkitan yang ada sekarang sampai akhir zaman kelak. Jawaban Tuhan adalah menunjukkan hayat kebang-kitan sekarang ini, tetapi Marta, oleh pengetahuan agama-nya, menanggapi perkataan Tuhan dengan menunda kebang-kitan itu sampai waktu kelak. Hal ini sangat menakutkan! Marta menguraikan Alkitab sangat baik dan sangat men-dasar; tetapi Tuhan memimpinnya kepada kebangkitan sekarang dengan berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Seolah-olah Tuhan memberi tahu Marta, “Tidak perlu menunggu sampai kelak. Kamu tidak perlu menunggu sampai akhir zaman. Akulah hayat kebangkitan sekarang juga. Jangan sekali-kali mengubah perkataan-Ku dengan tafsiranmu yang mendasar yang agamis itu. Justru sekarang Akulah kebangkitan.”
22. Petrus
Segera setelah menerima visi dari Bapa yang di surga (Mat. 16:17), Petrus kembali ke pikirannya dan diperalat oleh Iblis untuk menghalangi Tuhan disalibkan (Mat. 16:21-23). Tuhan mencelanya, “Enyahlah Iblis . . . sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Berpikir adalah perihal di dalam pikir-an dan milik pengetahuan. Jika kita menggunakan pikiran kita di dalam garis pengetahuan tanpa bersandar kepada Tuhan, itu sangat mudah dijajah dan diperalat oleh Iblis. Meskipun Petrus berada pada garis hayat, namun tanpa di-sadarinya ia telah bergeser ke garis pengetahuan. Kita se-mua harus berhati-hati terhadap pikiran kita! Jika tidak, kita akan direbut Iblis, sumber maut.
23. Yudas
Yudas adalah salah seorang dari kedua belas murid Tuhan, tetapi di dalam pikirannya ia selalu menghitung-hitung uang (Yoh. 12:4-6). Secara mutlak ia berada pada garis pengetahuan yang mematikan dan tidak pada garis ha-yat. Meskipun ia sering bersama-sama dengan Tuhan Yesus, Sang pohon hayat itu, namun karena pikirannya dipenuhi dengan angan-angan terhadap uang, ia membuka dirinya ke-pada Iblis yang menyusupkan pikiran untuk mengkhianati Tuhan ke dalam hatinya (Yoh. 13:2). Akhirnya, “ia kerasuk-an Iblis” (Yoh. 13:27), dan dengan tiga puluh keping perak ia mengkhianati Tuhan (Mat. 26:15). Akibatnya, ia tidak saja tidak mendapatkan keuntungan uang itu, malahan sebaliknya menggantung diri (Mat. 27:5).
24. Orang-orang Yahudi
Orang-orang Yahudi mempertahankan hukum Tauratnya dan berdasarkan hukum itu menjatuhkan hukuman mati atas diri Tuhan Yesus (Yoh. 19:7). Mereka berkata, “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu ia harus mati, sebab ia menganggap dirinya sebagai Anak Allah.” Me-nurut hukum mereka, Tuhan telah menghujat Allah dengan mengatakan dirinya Anak Allah. Jadi, menurut hukum Taurat itulah mereka menjatuhkan hukuman mati atas diri Tuhan. Kita harus hati-hati dalam menggunakan dan mengutip Alkitab. Kita menggunakan Alkitab pada jalan hayat atau pada jalan pengetahuan. Alkitab haruslah sebagai pohon hayat yang membawakan hayat kepada kita, tetapi Alkitab dapat juga menjadi pohon pengetahuan yang membawakan maut kepada kita. Jadi, dalam hal menggunakan Alkitab pun kita harus hati-hati.
25. Saulus dari Tarsus
Saulus dari Tarsus adalah seorang penganut agama yang terkemuka. Di dalam agama Yahudi dia jauh lebih maju daripada teman sebayanya yang ada di antara bangsanya, seorang yang sangat rajin memelihara istiadat nenek moyangnya. Akhirnya ia menganiaya gereja (Gal. 1:13-14). Agama dengan pengetahuan tradisinya selalu merupakan penganiayaan terhadap gereja yang hidup. Bagaimana Allah mengalihkan Saulus dari Tarsus ini ke garis hayat? Tatkala Saulus sedang menganiaya gereja-gereja, Allah menyatakan Anak-Nya di dalamnya, supaya ia hidup demi Dia (Gal. 1:16; 2:20). Saulus sangat agamis. Tak seorang pun berpikir bahwa agama itu salah, tetapi agama seluruhnya berada pada garis pengetahuan. Hanya ketika Anda berpaling kepada Kristus yang hidup, barulah Anda beralih dari garis pengetahuan ke garis hayat.
26. Orang-orang Korintus
Kaum beriman di Korintus mempunyai segala macam pengetahuan, tetapi mereka sombong dan tetap sebagai bayi di dalam Kristus (1 Kor. 1:5; 8:1; 3:1). Pengetahuan tidak bisa membantu orang bertumbuh satu inci pun, sebaliknya hanya bisa membuat orang tetap sebagai bayi dalam rohani-nya. Jika Anda lebih condong kepada pengetahuan, Anda akan lebih lama tinggal sebagai bayi di dalam Kristus. Dalam suratnya yang pertama kepada orang-orang Korintus, Paulus mengalihkan mereka dari pengetahuan kepada per-tumbuhan hayat, supaya mereka mengalami perubahan bagi bangunan Allah (1 Kor. 3:6-12). Paulus berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan.” Seolah-olah ia memberi tahu orang-orang Korintus, “Kalian tidak memerlukan pengetahuan yang lebih banyak. Yang ka-lian perlukan adalah pertumbuhan hayat. Pertumbuhan hayat ini untuk perubahan yang menghasilkan bahan-bahan berharga bagi bangunan Allah. Kalian perlu pertumbuhan hayat agar kalian bertumbuh dari manusia duniawi menjadi manusia rohani yang sejati, sehingga kalian dapat menjadi batu-batu permata bagi bangunan Allah.”
27. Kaum Gnostik
Pada zaman para rasul, ada suatu filsafat yang disebut gnostikisme. Gnostikisme merupakan gabungan alam pe-mikiran orang-orang Mesir, Babilonia, Yahudi, dan Yunani. Filsafat yang eklektis ini lambat laun menjalari hidup gereja dan dilukiskan dalam Kolose 2:8 sebagai filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia. Filsafat ini menawan dan merusak banyak orang yang me-nerima Kristus sebagai hayat mereka. Saat itu pemerintah-an Roma tidak merusak kaum beriman sedahsyat agama Ibrani atau filsafat Yunani. Maksud Paulus menulis Surat kepada orang-orang Kolose ialah menyuruh mereka berpaling kepada Kristus yang telah mereka terima. Karena mereka telah menerima Kristus, wajiblah mereka juga hidup di dalam Dia (Kol. 2:6), bukan menurut filsafat, pendapat ma-nusia, atau pun ajaran-ajaran dunia.
28. Para Pemecah-belah di dalam Gereja
Kitab Perjanjian Baru menyebutkan para pemecah-belah di dalam gereja. Dalam Roma 16:17 Paulus menasihati kita supaya waspada terhadap para pemecah-belah itu. Mereka mempertahankan ajaran-ajaran yang bertentangan, menimbulkan perpecahan dan godaan-godaan. Mereka membual mu-luk-muluk, berkata manis-manis, dan berpura-pura mem-bantu orang. Jika mereka tidak berkata dengan kata-kata manis, tak seorang pun yang akan mendengarkan mereka. Paulus menghendaki kita berhati-hati terhadap para pemecah-belah, karena mereka suka memberi pengajaran lain dan berbantahan bagi ajaran-ajaran yang bertentangan. Te-tapi kita menguji perkataan pemecah-belah bukan dengan standar baik atau buruk, benar atau salah, melainkan kita harus bertanya, “Apakah ini membangun atau meruntuh-kan? Mempertahankan kesatuan atau menimbulkan per-pecahan? Membantu orang terus maju atau membuat orang jatuh?” Sebelum mendengar perkataan pemecah-belah, Anda hidup, tetapi setelah mendengar selama satu jam, Anda mati. Itu membuktikan bahwa perkataan pemecah-belah itu menyebabkan maut. Jangan menguji pemecah-belah menu-rut pengetahuan benar atau salah, kalau berbuat demikian, Anda akan mengalami pohon pengetahuan baik dan jahat. Anda harus menguji semua pendapat pemecah-belah menurut maut atau hayat. Setelah Anda mendengar perkataan pemecah-belah, Anda hidup atau mati? Jika Anda benar-benar hidup, maka dengarlah sebanyak mungkin. Tetapi jika Anda mengalami maut, Anda harus pergi kepada Tuhan dan mohon Tuhan membersihkan Anda dan menyelamatkan Anda dari maut. Beberapa puluh tahun yang lalu saya me-lihat banyak pemecah-belah. Kita harus sadar bahwa tidak ada satu gereja yang keadaannya selalu benar. Namun per-soalannya bukan terletak pada benar atau salah, melainkan terletak pada hidup atau mati. Jangan sekali-kali menguji perkataan pemecah-belah dengan standar benar atau salah, melainkan ukurlah selalu dengan maut atau hayat. Segala sesuatu yang menghidupkan Anda dan memberi Anda hayat, boleh diterima. Tetapi segala sesuatu yang mematikan dan membunuh Anda, patutlah ditolak.
Paulus berpesan kepada Timotius supaya tinggal di Efesus untuk melakukan suatu hal — menasihati para pemecah-belah agar tidak mengajarkan ajaran lain, melainkan hanya memperhatikan ekonomi Allah, yaitu menyalurkan Allah sebagai hayat (1 Tim. 1:3-4). Sekali lagi kita melihat bahwa hayat itulah pengujinya. Jika perkataan seseorang menyalurkan Allah ke dalam Anda sebagai hayat, itu baik. Jika tidak memberi Anda hayat malahan sebaliknya, membunuh Anda, tentu itu berada pada garis pengetahuan.
29. Bileam, Nikolaus, dan Izebel
Wahyu 2 menyebutkan doktrin Bileam, doktrin Niko-laus, ajaran Izebel, dan seluk-beluk Iblis (Why. 2:14, 15, 20, 24). Gereja-gereja sebermula telah tertipu oleh ajaran-ajaran itu dan meninggalkan hal makan Tuhan dan pesta bersama Tuhan. Karena itu, untuk memulihkan gereja-gereja ber-paling dan menikmati diri-Nya, Tuhan berjanji kepada gereja-gereja bahwa kalau mereka meninggalkan ajaran semacam itu, Ia akan memberikan diri-Nya kepada mereka untuk dimakan. Dalam wahyu 2:7 Tuhan berjanji memberi mereka makan dari pohon hayat. Dalam Wahyu 2:17 Ia berjanji memberi mereka manna yang tersembunyi. Dalam ayat 2 ini kita melihat pohon yang ada di dalam Taman Eden dan manna yang ada di padang gurun, yang kedua-duanya justru adalah Kristus sendiri. Tuhan tidak mengajarkan bah-wa Ia akan memberi mereka ajaran-ajaran atau menawarkan suatu doktrin yang super. Bileam dan Nikolaus mempunyai doktrin-doktrin mereka sendiri, Izebel mempunyai ajarannya, dan Iblis mempunyai seluk-beluknya, Tuhan Yesus mempunyai pohon hayat dan manna yang tersem-bunyi. Menurut Wahyu 3:20, Tuhan berjanji kepada setiap orang yang membuka pintu bagi-Nya saat Ia mengetuk, bahwa orang itu akan makan bersama-sama dengan Tuhan. Apakah artinya makan pohon hayat, mengambil bagian atas manna yang tersembunyi, dan berpesta bersama-sama dengan Tuhan Yesus? Ini berarti kita terus menikmati Tuhan di atas garis hayat. Jika di tengah-tengah kekacauan dan perpecahan, kita mengikuti ajaran-ajaran, niscaya kita akan terbunuh. Tetapi bila kita memperhatikan menikmati Tuhan, yaitu berada pada garis hayat, kita akan menerima hayat dan menjadi hidup.
30. Antikristus
Antikristus adalah orang yang sama sekali di dalam pikirannya disertai tekad yang kuat dan merdeka. Jadi, ia sepenuhnya dimiliki oleh Iblis bahkan menjadi penjelmaan Iblis (Why. 13:5-8). Ia disebut “manusia durhaka”, “anak binasa”, sebab ia hendak meninggikan dirinya sebagai Allah (2 Tes. 2:3-4). Ia adalah raksasa pada garis pengetahuan di dalam Alkitab, sedikit pun tidak tahu atau memperhatikan garis hayat. Nasibnya akan menderita maut selama-lamanya bersama Iblis, sumber maut (Why. 19:20; 20:10).
31. Pada Umumnya
Sebagai kesimpulannya, saya ingin memakai 2 Korintus 3:6 yang mengatakan, “Hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” “Hukum” di sini mengacu kepada Perjanjian Lama. Perkataan Yunani yang sama dalam 2 Timotius 3:15 diterjemahkan sebagai “Kitab Suci”, di mana Paulus menyebutkan bahwa sejak kecil Timotius sudah mengenal Kitab Suci. Namun Alkitab dengan huruf-huruf yang mati adalah milik pohon pengetahuan, itu membunuh; sedangkan Roh yang adalah milik pohon hayat, ini memberi hidup. Kita harus memilih! Puji Tuhan atas pilihan ini! Pilihan hayat! Selain garis pengetahuan, masih ada garis hayat. Kita harus memilih salah satu di antara maut dan hayat.