KESELAMATAN SEMPURNA ALLAH TRITUNGGAL DAN HASILNYA (3)
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 1:5-9
Dalam berita yang lalu kita membahas 1:5-6. Dari ayat 5 kita nampak bahwa kita dijaga oleh kekuatan Allah melalui iman kepada keselamatan, dan keselamatan ini siap dinyatakan pada zaman akhir. Kekuatan Allah adalah penyebab yang olehnya kita dijaga, dan iman adalah sarana yang melaluinya kekuatan Allah dengan efektif menjaga kita. Kita juga nampak bahwa keselamatan yang dibicarakan dalam ayat ini menunjukkan keselamatan sempurna Allah Tritunggal dalam tiga tahap: tahap awal, tahap kelahiran kembali; tahap pertumbuhan, tahap pengubahan; dan tahap penyempurnaan, tahap pemuliaan. Keselamatan ini siap untuk dinyatakan pada zaman akhir, pada saat kedatangan Tuhan. Menurut ayat 6, Petrus memberi tahu kita bahwa kita seharusnya bergembira pada zaman akhir, meskipun untuk sementara, jika perlu, kita harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
PEMBUKTIAN IMAN KITA
Dalam ayat 7 Petrus melanjutkan, “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.” Dalam ayat ini Petrus memberikan alasan kita diletakkan dalam pengujian. Kita diletakkan dalam pengujian karena iman kita perlu diuji, dibuktikan.
Kata Yunani yang diterjemahkan “membuktikan” berarti pengujian untuk diperkenan. Yang bisa mendatangkan pujian, kemuliaan, penghargaan, bukan hakiki iman itu, melainkan pengujian iman, pembuktian iman. (Ini seperti ujian sekolah terhadap pelajaran murid: yang bisa mendatangkan perkenan adalah ujian itu, bukan hakiki pelajaran murid itu). Tentu saja, pembuktian iman berasal dari iman yang benar. Penekanannya di sini bukanlah pada iman, melainkan pada pembuktian iman dengan ujian yang datang melalui penderitaan.
Murid yang baik akan sungguh-sungguh menyambut dengan gembira kesempatan untuk diuji. Sebuah ujian akan membuktikan bagaimana dia telah belajar secara menyeluruh dan berapa banyak dia mengetahui bahan yang akan diujikan. Tanpa ujian, murid yang unggul tidak akan pernah dibuktikan menjadi terkenal. Seorang murid yang belajar dengan rajin mungkin mengharapkan suatu ujian, karena hal itu akan dibuktikan, baik untuk murid itu sendiri dan untuk yang lainnya bahwa dia adalah murid yang luar biasa. Ini adalah sebuah ilustrasi apa yang Petrus maksudkan dengan membuktikan iman kita.
Dalam ayat 7 Petrus berkata tentang membuktikan iman kita “yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api.” Kata “yang lebih tinggi nilainya daripada emas” tidak menerangkan imanmu, melainkan menerangkan membuktikan. Ini berarti pembuktian iman kita lebih berharga daripada pembuktian emas. Yang diperbandingkan di sini bukan emas dengan iman. Banyak orang Kristen memahami ayat 7 secara demikian; namun, pengertian seperti itu salah. Yang diperbandingkan di sini adalah pembuktian iman kita dengan pembuktian emas. Emas dibuktikan oleh api yang memurnikan. Demikian pula, iman kita dibuktikan oleh pencobaan. Pembuktian ini tentunya lebih berharga daripada pembuktian emas.
Dalam ayat 7 Petrus menggunakan kata sifat “tinggi nilainya” (berharga). Dalam kedua suratnya, Petrus menyajikan lima hal yang berharga: batu yang berharga (dihormati, LAI), yang adalah Tuhan itu sendiri (1Ptr. 2:4, 6-7); darah yang berharga (mahal, LAI) (1Ptr. 1:19); janji-janji yang berharga (2Ptr. 1:4); iman yang berharga (LAI, tidak mencantumkan kata berharga setelah kata iman) (2Ptr. 1:1); dan pengujian yang berharga (tinggi nilainya, LAI) (1Ptr. 1:7).
PENYATAAN YESUS KRISTUS
Dalam ayat 7 ditunjukkan bahwa pembuktian iman kita “sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.” Berbagai-bagai pencobaan dalam ayat 6 menimpa kita agar pembuktian iman kita bisa menghasilkan pujian, kemuliaan, dan kehormatan pada hari Tuhan menyatakan diri-Nya.
Istilah “menyatakan diri” yang digunakan Petrus dalam ayat 7 sangatlah penting. Hari ini Tuhan menyertai kita (Mat. 28:20), tetapi secara tersembunyi. Kedatangan-Nya kembali akan menjadi penyataan diri-Nya. Beberapa orang dengan keliru berpikir bahwa Tuhan Yesus tidak ada di sini hari ini. Tetapi Tuhan benar-benar ada di sini. Matius 28:20 mengatakan, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Meskipun Tuhan beserta dengan kita, Dia akan beserta dengan kita secara terselubung. Namun kadang-kadang, dalam pengalaman kita dengan Tuhan, kita tidak berselubung dengan Dia. Tetapi pada saat lain kita berselubung dengan Dia. Anda berada di balik selubung dengan Dia, atau di luar selubung?
Tidak tahukah Anda bahwa Tuhan akan datang kembali? Kedatangan Tuhan kembali akan menjadi penyataan-Nya. Ketika Dia menyatakan diri, kita yang berada di balik selubung dengan Dia juga akan menyatakan diri.
Sesungguhnya Tuhan Yesus beserta dengan kita hari ini. Tidakkah Anda percaya bahwa Tuhan beserta dengan kita? Saya harus bersaksi bahwa Tuhan berada dalam roh saya. Tetapi menurut konsepsi orang yang tidak percaya, Kristus tidak beserta kita. Bahkan kaum beriman tertentu yang fundamental dan yang menekankan aspek obyektif kebenaran mengatakan bahwa Kristus itu jauh di langit tingkat tiga di takhta di sebelah kanan Allah. Beberapa orang Kristen yang fundamental itu mungkin tidak percaya bahwa Kristus ini ada di dalam kita. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan yang kita kasihi tidak hanya berada di surga, tetapi juga berhuni di dalam kita.
Karena Tuhan sekarang tersembunyi, orang tidak dapat melihat Dia. Tetapi kedatangan-Nya akan menjadi penyataan-Nya. Dalam ayat 7 Petrus menekankan secara khusus bahwa kedatangan kembali Tuhan akan merupakan pe-nyingkapan selubung yang sekarang menutupi Dia. Pada saat itu, setiap orang akan melihat Dia. Sebelum waktu itu, kita dapat melihat Dia di dalam roh.
Dalam Yohanes 14:19-20 Tuhan Yesus berbicara tentang dilihat oleh murid-Nya, “Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Menurut Yohanes 14:19, orang dunia tidak dapat melihat Tuhan Yesus, tetapi kaum beriman dapat melihat Dia. Dalam Yohanes 14:20 Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Dia dan kita hidup bersama. Bagaimana kita dapat hidup bersama Tuhan tanpa melihat Dia? Sesungguhnya, apa yang telah kita gambarkan dalam Yohanes 14:20 bukan hanya hidup bersama Tuhan; ayat ini sesungguhnya membicarakan hidup saling huni dengan Dia, yaitu hayat Tuhan hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Dia. Karena kita menempuh hidup semacam ini, bagi kita Dia telah dinyatakan.
Ketika Tuhan Yesus dinyatakan dan kita dinyatakan bersama Dia, mereka yang menentang kita akan terkagum-kagum. Hari ini beberapa orang menentang kita dan memfitnah kita. Dalam beberapa hal, orang muda mungkin ditentang oleh orang tua mereka. Meskipun demikian, kadang-kadang orang tua terheran-heran pada kaum muda. Mereka mungkin berkata, “Kadang-kadang kalian melakukan hal-hal yang luar biasa. Kami tidak mengerti, bagaimana kalian dapat melakukan hal-hal ini?” Meskipun orang tua dari beberapa orang muda tidak mampu memahami mereka sekarang, mereka akan mengerti ketika selubung diambil dari Tuhan Yesus dan juga dari kita. Kemudian mereka akan mengenal Tuhan dan mereka juga akan mengenal kita. Ketika Tuhan Yesus dinyatakan, orang dunia akan melihat Dia, dan mereka akan melihat kita bersama Dia. Kemudian mereka akan mengenal Kristus, dan mereka juga akan mengenal kita.
Orang yang tidak percaya dan orang-orang dunia kadang-kadang menganggap kita antik dan aneh. Menurut pemahaman mereka, kita tidak normal. Mereka menikmati ber-bagai jenis kesenangan dunia, tetapi kita tidak ambil bagian dalam hal-hal itu. Sebagai contoh, seseorang di tempat kerja mungkin akan mendorong Anda untuk ambil bagian dalam suatu hiburan duniawi. Jika Anda menolak, dia mungkin mengatakan bahwa Anda aneh atau tidak normal. Orang yang tidak beriman akan memandang suatu hal secara berbeda ketika Tuhan Yesus dinyatakan. Ketika selubung ini diambil dan selubung kita disingkirkan, orang dunia akan mengatakan, “Sekarang aku tahu bahwa orang ini adalah seorang pengikut Yesus. Ketika aku mengenal dia dalam pekerjaan, dia adalah seorang yang mengasihi Tuhan dan mencari Dia. Sekarang aku mengerti mengapa aku merasa dia begitu aneh, begitu abnormal.” Begitulah keadaannya jika kita mengasihi Tuhan dan mengikuti Dia hari ini. Mes-kipun demikian, jika kita tidak mengasihi Tuhan, mengi-kuti Dia, dan mencari Dia, situasi kita akan sangat berbeda ketika Dia dinyatakan.
PUJIAN, KEMULIAAN, DAN KEHORMATAN
Jika pembuktian iman kita positif, pembuktian ini akan menghasilkan pujian, kemuliaan, dan kehormatan pada penyataan Yesus Kristus. Apa perbedaan antara pujian, kemuliaan, dan kehormatan? Ini adalah ciri khas Petrus bahwa dia tidak berhenti dengan kata “pujian”, tetapi berlanjut dengan menyebutkan “kemuliaan” dan “kehormatan”.
Kita dapat menggunakan kelulusan dari sekolah sebagai suatu ilustrasi untuk membedakan antara pujian, kemuliaan, dan hormat. Misalkan, seorang murid menerima nilai yang tertinggi pada ujian akhir. Pembuktian melalui ujian ini pertama-tama menghasilkan pujian, karena dia tentu akan menerima pujian dari pencapaiannya yang luar biasa. Pujian ini akan mendatangkan kemuliaan pada waktu kelulusannya, ketika dia dinyatakan sebagai murid yang paling menonjol di kelasnya. Ini tentu akan menjadi suatu kemuliaan, dan kemuliaan ini akan mendatangkan kehormatan baginya. Karena itu, pertama-tama ada pujian, lalu kemuliaan, dan kemudian kehormatan.
Kemuliaan adalah suatu keadaan, sedangkan kehormatan menempatkan kita ke dalam posisi yang khusus. Pada waktu kelulusan, murid yang menonjol di sebuah kelas berada dalam keadaan mulia dan juga berada dalam posisi terhormat.
Jika melalui berbagai pengujian kita memiliki pembuktian yang positif atas iman kita, pembuktian ini akan menghasilkan pujian, kemuliaan, dan kehormatan ketika Tuhan Yesus datang kembali. Pertama, Tuhan Yesus akan memberi tahu kita bahwa kita telah melakukan dengan baik. Setelah pujian itu, akan ada keadaan yang mulia dan, bersamaan dengan itu, posisi terhormat.
Sebelum kita melanjutkan ke ayat 8, saya akan menunjukkan bahwa ayat 3-12 sesungguhnya adalah satu kalimat yang panjang. Dalam tulisannya Petrus tidak peduli dengan bahasa yang baik, tata bahasa yang baik, atau komposisi yang baik. Cara penulisan Petrus menunjukkan bahwa dia peduli dengan wahyu ilahi dan pengalaman rohani yang sejati. Meskipun tulisan-tulisan Petrus tidak begitu dipandang oleh pakar-pakar tertentu, namun dalam ayat-ayat ini dia mengekspresikan apa yang hendak dikatakannya.
SUKACITA YANG MULIA
Mengutip Tuhan Yesus, Petrus melanjutkan perkataannya dalam ayat 8, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang (penuh) mulia dan tidak terkatakan.” Kaum beriman mengasihi orang yang belum pernah mereka lihat. Ini adalah sesuatu yang ajaib dan misterius. Kita mengasihi Dia yang belum kita lihat karena kita percaya, karena iman yang sudah diinfuskan ke dalam kita melalui mendengar firman yang hidup (Gal. 3:2). Karena itu, iman ini sedang dalam pembuktian, pengujian, seperti yang disebutkan dalam ayat 7.
Menurut ayat 8, kaum beriman “bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan.” Sukacita yang (penuh) mulia adalah sukacita yang tercelup dalam kemuliaan; karena itu penuh dengan kemuliaan, penuh dengan ekspresi diri Tuhan.
Kita juga memiliki sebuah lagu di dalam kidung kita yang syairnya mengatakan, “Alangkah gembiranya! Penuhlah mulia!” (Kidung suplemen nomor 202). Sesungguhnya, Petrus tidak mengatakan bahwa kita penuh dengan mulia. Sebaliknya, dia membicarakan sukacita yang mulia. Kita bergembira dengan sukacita yang tercelup dalam kemuliaan. Sukacita ini dicelupkan ke dalam Tuhan sebagai kemuliaan; karena itu, sukacita ini penuh dengan ekspresi diri Tuhan.
KESELAMATAN JIWA KITA
Ayat 9 melanjutkan, “karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” Ayat ini adalah lanjutan langsung dari ayat 7. Pembuktian iman kita akan mendatangkan pujian, kemuliaan, dan kehormatan, agar kita mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita.
Keselamatan dalam ayat 9 adalah keselamatan yang sempurna, keselamatan yang berada dalam tiga tahap — tahap awal, tahap pertumbuhan, dan tahap penyempurnaan. Kita memiliki tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Roh kita diselamatkan melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:5-6). Tubuh kita akan diselamatkan, ditebus, melalui transfigurasi yang akan datang (Flp. 3:21; Rm. 8:23). Jiwa kita akan diselamatkan, terlepas dari penderitaan, dan dengan sepenuhnya menikmati Tuhan pada waktu Dia menyatakan diri-Nya, pada waktu Dia kembali. Untuk itu dalam zaman ini kita harus menyangkal jiwa kita, yaitu hayat jiwani kita dengan segala kesenangannya, agar dalam zaman yang akan datang kita bisa mendapatkannya dalam kenikmatan atas Tuhan (Mat. 10:37-39; 16:24-27; Luk. 17:30-33; Yoh. 12:25). Pada waktu Tuhan menyatakan diri-Nya, melalui takhta penghakiman-Nya, sejumlah orang beriman akan masuk ke dalam sukacita Tuhan (Mat. 25:21, 23; 24:45-46), dan sejumlah lainnya akan menderita dalam ratapan dan kertak gigi (Mat. 25:30; 24:51). Masuk ke dalam sukacita Tuhan adalah keselamatan jiwa (Ibr. 10:39). Keselamatan ini lebih berharga daripada keselamatan tubuh yang didambakan oleh bani Israel.
Keselamatan sempurna Allah Tritunggal mencakup kelahiran kembali oleh Bapa, pengudusan atau penerapan Roh, dan penebusan Kristus. Keselamatan sempurna ini diwahyukan dalam 1:3-23. Ayat-ayat ini mewahyukan keselamatan sempurna Allah dalam tiga aspek menurut Trinitas. Kelahiran kembali oleh Bapa membawakan sesuatu ke dalam kita, dan juga membawa kita ke dalam sesuatu. Tahukah Anda apa yang dibawakan ke dalam kita dari kelahiran kembali oleh Bapa, dan ke dalam apa kita dibawa olehnya? Kelahiran kembali oleh Bapa membawakan hayat kekal ke dalam kita. Selain itu, kelahiran kembali oleh Bapa membawa kita ke dalam pengharapan, warisan hayat kekal. Karena itu, hayat kekal telah dibawakan ke dalam kita, dan kita telah dibawa ke dalam pengharapan, warisan hayat kekal. Sekarang kita memiliki hayat kekal, dan kita juga menikmati warisan hayat kekal. Ini adalah kelahiran kembali Bapa dengan hasilnya, akibatnya. Hasil dari kelahiran kembali Bapa adalah membawakan hayat kekal ke dalam kita dan membawa kita ke dalam kenikmatan yang penuh akan Allah sebagai suplai hayat kita. Suplai hayat ini adalah pengharapan yang hidup. Suplai hayat ini juga warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu. Warisan yang ajaib ini tersimpan di surga bagi kita, sehingga kita bisa menikmatinya dan mengambil bagian di dalamnya setiap hari, setiap saat, secara terus-menerus.
Pada bagian ini saya ingin mengatakan sebuah perkataan sisipan apresiasi untuk tulisan-tulisan Petrus. Injil Yohanes menakjubkan. Namun dalam beberapa hal Injil Yohanes tidak dapat dibandingkan dengan tulisan-tulisan Petrus. Surat-surat Kiriman Paulus juga luar biasa. Tetapi sedikitnya sampai tingkat tertentu, hal-hal rohani dalam tulisan-tulisan Paulus tertutup oleh bahasanya yang sangat baik. Sebagaimana telah kita tunjukkan, tulisan-tulisan Petrus, meskipun dalam kuantitas jauh lebih sedikit daripada tulisan-tulisan Paulus, tetapi mencakup jangka waktu dan ruang lingkup yang sama seperti tulisan-tulisan Paulus.
Dalam isi, Petrus memiliki beberapa “berlian” yang luar biasa yang tidak ditemukan dalam Surat-surat Kiriman Paulus. Sebagai contoh, Paulus tidak memberi tahu kita bahwa kelahiran kembali oleh Bapa telah membawa kita ke dalam pengharapan yang hidup, dan bahwa pengharapan yang hidup ini adalah warisan surgawi untuk kita nikmati hari ini dan sampai selama-lamanya. Karena Surat-surat Kiriman Petrus berisi mustika yang tidak terdapat di mana pun dalam Perjanjian Baru, kita sungguh-sungguh perlu menggali ke dalamnya dan mempelajarinya secara menyeluruh.
MENIKMATI PENGHARAPAN YANG HIDUP
Dalam 1:1-2, ada pekerjaan Allah Tritunggal: pemilihan Allah Bapa, pengudusan Roh itu, dan pemercikan darah Yesus Kristus. Kemudian dalam ayat-ayat selebihnya dari pasal 1 kita memiliki keselamatan sempurna Allah Tritunggal. Keselamatan sempurna ini tersusun dari kelahiran kembali oleh Bapa, penerapan Roh itu, dan penebusan Putra. Kelahiran kembali oleh Bapa telah membawakan hayat kekal-Nya ke dalam kita dan juga telah membawa kita ke dalam kenikmatan akan hayat kekal ini. Sekarang kenikmatan ini adalah pengharapan yang hidup bagi kita hari ini.
Ketika beberapa orang mendengar bahwa kita dapat menikmati pengharapan yang hidup hari ini, mereka mungkin menyanggah dan berkata, “Bagaimana Anda dapat menyatakan bahwa pengharapan yang hidup adalah hal yang sekarang? Sesuatu yang ada saat ini tidak mungkin menjadi suatu pengharapan. Roma 8 memberi kita gambaran tentang pengharapan. Pasal itu mengatakan bahwa pengharapan mengacu kepada hal-hal yang belum kita lihat.” Mereka yang ingin mencoba menyanggah demikian perlu menyadari bahwa pengharapan yang hidup, warisan, adalah milik kita hari ini, besok, dan sampai selamanya. Pada kenikmatan kita hari ini kita memiliki pengharapan. Ini berarti kenikmatan kita akan hayat ilahi adalah suatu pengharapan. Sebagai contoh, mungkin pada pagi hari Anda melakukan kegagalan dalam kehidupan kristiani Anda. Namun walaupun Anda telah gagal, Anda masih memiliki pengharapan. Anda dapat berkata kepada diri sendiri, “Aku sangat lemah, tetapi aku masih memiliki pengharapan. Aku mungkin kekurangan pengalaman, tetapi aku memiliki pengharapan. Mungkin meskipun agak lambat, hari ini pengalamanku akan dipertinggi.” Tidakkah Anda memiliki pengharapan yang hidup seperti ini di dalam Anda? Kita semua memiliki pengharapan yang hidup ini. Hari demi hari kita menempuh suatu kehidupan dengan pengharapan yang hidup.
Penyebab kita memiliki suatu kehidupan yang penuh dengan pengharapan adalah bahwa kita memiliki suatu warisan surgawi. Pengharapan ini, warisan ini, adalah hasil dari kelahiran kembali dari Bapa. Dalam ayat 3-9 kita nampak berbagai aspek dari warisan akan hayat yang kekal. Kenikmatan dan pengalaman kita akan hayat kekal adalah karena kelahiran kembali oleh Bapa.
Radang lambung yang saya alami akhir-akhir ini dapat dipakai untuk mengilustrasikan apa yang Petrus maksudkan dengan pengharapan yang hidup. Ketika saya menemukan bahwa saya menghadapi masalah, saya dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan dites. Setelah pemeriksaan dan tes itu selesai, saya mulai memiliki suatu pengharapan yang hidup setiap hari. Saya menyadari bahwa di dalam tubuh saya ada hayat yang dapat menyelesaikan masalah radang saya. Hayat ini menyebabkan saya memiliki pengharapan yang hidup. Akhirnya, saya sepenuhnya sembuh dan dipulihkan. Saya dipulihkan menurut pengharapan yang hidup yang saya miliki.
Pengharapan yang hidup tergantung pada hayat. Jika tidak ada hayat di dalam tubuh kita, kita tidak akan memiliki pengharapan untuk disembuhkan dari berbagai sakit atau luka. Tetapi karena kita memiliki hayat di dalam tubuh kita, kita memiliki pengharapan tubuh kita akan disembuhkan dari luka atau sakit. Kita tidak akan memiliki pengharapan yang sedemikian atas sesuatu yang tidak hidup. Sebagai contoh, misalkan sebuah kursi kayu rusak. Kursi itu tidak memiliki pengharapan untuk memperbaiki dirinya. Jika tidak ada orang yang datang untuk memperbaikinya, kursi itu akan tetap rusak tanpa ada harapan untuk diperbaiki. Tetapi ketika saya berada di rumah sakit, saya dapat memiliki pengharapan yang hidup karena hayat di dalam tubuh saya. Saya memiliki keyakinan bahwa hayat jasmani saya akan menyembuhkan masalah di dalam tubuh saya. Karena itu, saya memiliki pengharapan yang hidup.
Apakah pengharapan yang hidup? Pengharapan yang hidup adalah pengharapan yang berasal dari hayat. Pengharapan ini berasal dari unsur yang hidup dan organik di dalam kita.
Selain hayat jasmani, kita juga memiliki hayat ilahi di dalam kita melalui kelahiran kembali Bapa. Hayat ini adalah hayat yang paling kuat, paling kaya, dan paling tinggi. Sesungguhnya, hayat ini akan memelihara kita. Kita mungkin memiliki masalah dan kesulitan, tetapi kita memiliki pengharapan yang hidup karena hayat ilahi ada di dalam kita. Kita tidak mati — kita hidup. Karena itu, kita memiliki suatu pengharapan yang hidup, pengharapan bahwa situasi kita akan menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Kita memiliki hayat kekal, dan hayat ini memberi kita suatu pengharapan yang hidup. Pengharapan ini adalah warisan dari semua berkat dari hayat kekal.