← Daftar isi 1 Petrus (1) · bab 5/23

KESELAMATAN SEMPURNA ALLAH TRITUNGGAL DAN HASILNYA (2)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 1:5-9

Dalam berita ini kita akan membahas 1Petrus 1:5-9.

DIJAGA OLEH KEKUATAN ALLAH MELALUI IMAN

Dalam ayat 5 Petrus berkata, “Yaitu kamu, yang dijaga oleh kekuatan Allah melalui imanmu kepada keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir” (Tl.). Jika kita ingin menikmati warisan surgawi kita hari ini dan berbagian dalamnya, kita perlu dijaga. Ini berarti kita perlu dijaga dalam posisi yang tepat. Kadang-kadang kita terganggu dan tergeser dari posisi yang seharusnya untuk menikmati warisan surgawi. Pada masa lalu kita semua telah mengalami, sedikitnya pada tingkat tertentu, ketika kita diselewengkan dari Tuhan karena sesuatu, kita akan kehilangan kenikmatan atas warisan hayat kekal. Karena itu, kita perlu dijaga, dilindungi.

Syukur kepada Tuhan bahwa kita dijaga oleh kekuatan Allah melalui iman. Kekuatan Allah adalah penyebab kita dijaga. Iman adalah sarana kedua yang melaluinya kekuatan Allah dengan efektif menjaga kita. Jadi, kekuatan Allah adalah pada sisi Allah, dan iman adalah pada sisi kita. Ini menunjukkan bahwa kita perlu bekerja sama dengan kekuatan Allah. Jika kita bekerja sama secara demikian, kita akan berada dalam kedudukan yang tepat untuk menikmati warisan surgawi kita.

Kata “dijaga” dalam ayat 5 dalam bahasa aslinya ada-lah istilah militer, yang berarti dijaga dengan garnisun; dijaga oleh kekuatan Allah melalui iman kepada kesela-matan. Hasil dari penjagaan ini adalah keselamatan. Dalam ayat ini tiga preposisi digunakan mengenai kesela-matan kita yang akan datang: oleh, melalui, dan kepada. Oleh mengacu kepada penyebabnya, melalui mengacu kepada sarananya, dan kepada mengacu kepada hasilnya.

PENGHUKUMAN SEZAMAN

Keselamatan yang dibicarakan dalam ayat 5 adalah keselamatan yang sempurna, keselamatan yang puncak. Secara khusus, keselamatan ini bukan keselamatan dari kebinasaan kekal, melainkan keselamatan jiwa kita dari penghukuman sezaman oleh penanggulangan pemerintahan Tuhan. Penghukuman sezaman oleh penanggulangan pemerintahan Allah diabaikan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini. Mereka tampaknya tidak memiliki terang atau pengertian mengenai hal ini. Meskipun wahyu demikian terdapat dalam Alkitab, banyak orang Kristen tidak memilikinya dalam konsepsi mereka.

Meskipun kita sudah beroleh selamat, kita perlu bertanya kepada diri sendiri apakah kita sekarang siap berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus. Jika Tuhan Yesus datang kembali pada hari ini, siapkah Anda berdiri di hadapan takhta penghakiman-Nya? Dapatkah Anda berdiri di hadapan Dia dengan damai? Tidak diragukan, hati nurani Anda akan mengatakan bahwa dalam banyak hal Anda belum diselamatkan. Jika keadaan Anda demikian, terhadap diri Anda, penghakiman pada takhta penghakiman Kristus akan mendatangkan akibat yang negatif. Bagaimanapun, saya berharap kita semua akan mengalami akibat yang positif. Tetapi jika hasilnya negatif, kita akan mengalami beberapa jenis penghukuman. Ini bukan kebinasaan kekal, melainkan akan menjadi penghukuman sezaman dari penanggulangan pemerintahan Allah.

TIGA TAHAP KESELAMATAN SEMPURNA ALLAH

Tahap Awal

Keselamatan sempurna Allah Tritunggal berlangsung dalam tiga tahap dan meliputi banyak hal. Tahap awal, yaitu tahap kelahiran kembali, yang terdiri atas penebusan, pengudusan (atas posisi — 1:2; 1Kor. 6:11), pembenaran, pendamaian, dan kelahiran kembali. Dalam tahap ini Allah membenarkan kita melalui penebusan Kristus (Rm. 3:24-26) dan melahirkan kita kembali dalam roh kita dengan hayat-Nya oleh Roh-Nya (Yoh 3:3-6). Demikianlah kita mendapatkan keselamatan kekal Allah (Ibr. 5:9) dan hayat kekal (Yoh. 3:15), menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12-13), tidak binasa sampai selama-lamanya (Yoh. 10:28-29). Keselamatan awal ini telah menyelamatkan kita dari penghukuman Allah dan dari kebinasaan kekal (Yoh. 3:18, 16).

Tahap Pertumbuhan

Tahap kedua dari keselamatan, tahap pertumbuhan, yaitu tahap pengubahan, yang terdiri atas kemerdekaan dari dosa, pengudusan (terutama secara sifat — Rm. 6:19, 22), pertumbuhan hayat, pengubahan, pembangunan, dan pematangan. Dalam tahap ini Allah memerdekakan kita dari penguasaan dosa yang berhuni di dalam kita — hukum dosa dan hukum maut — dengan hukum Roh hayat, melalui pekerjaan subyektif dari khasiat kematian Kristus di dalam kita (Rm. 6:6-7; 7:16-20; 8:2), menguduskan kita oleh Roh Kudus-Nya (Rm. 15:16), dengan sifat kudus-Nya, melalui pendisiplinan-Nya (Ibr. 12:10) dan penghakiman-Nya atas rumah-Nya sendiri (1Ptr. 4:17), agar kita bertumbuh dalam hayat-Nya (1Kor. 3:6-7); mengubah kita de-ngan memperbarui setiap bagian dalam jiwa kita dengan Roh pemberi-hayat (2Kor. 3:6, 17-18; Rm. 12:2; Ef. 4:23) melalui kerja sama segala sesuatu (Rm. 8:28), membangun kita bersama menjadi satu rumah rohani bagi tempat kediaman-Nya (1Ptr. 2:5; Ef. 2:22); dan mematangkan kita dalam hayat-Nya (Why. 14:15) untuk merampungkan keselamatan sempurna-Nya. Dengan demikian kita berangsur-angsur dilepaskan dari kuasa dosa, dunia, daging, diri, jiwa (hayat alamiah), dan individualisme, mencapai kematangan dalam hayat ilahi untuk merampungkan kehendak kekal Allah.

Tahap Penyempurnaan

Tahap ketiga, tahap penyempurnaan, yaitu tahap pemuliaan, yang terdiri atas penebusan (transfigurasi) tubuh kita, penyerupaan dengan Tuhan, pemuliaan, mewarisi Kerajaan Allah, berbagian dalam jabatan rajani Kristus, dan kenikmatan yang paling tinggi atas Tuhan. Dalam tahap ini Allah akan menebus tubuh kita yang telah jatuh dan rusak (Rm. 8:23) dengan mengubahnya menjadi serupa dengan tubuh mulia Kristus (Flp. 3:21); menyerupakan kita dengan gambar mulia Anak Sulung-Nya (Rm. 8:29), agar kita sepenuhnya dan mutlak seperti Dia dalam roh kita yang dilahirkan kembali, jiwa yang diubah, dan tubuh kita yang ditransfigurasikan; dan memuliakan kita (Rm. 8:30), mencelup kita ke dalam kemuliaan-Nya (Ibr. 2:10), agar kita bisa masuk ke dalam kerajaan surgawi-Nya (2Tim. 4:18; 2Ptr. 1:11), yang ke dalamnya Dia telah memanggil kita (1Tes. 2:12), dan mewarisinya sebagai bagian paling tinggi dari berkat-Nya (Yak. 2:5; Gal. 5:21) — yaitu agar kita dapat memerintah bersama Kristus, sebagai sesama raja, berbagian dalam jabatan raja-Nya atas bangsa-bangsa (2Tim. 2:12; Why. 20:4, 6; 2:26-27; 12:5) dan berbagian dalam sukacita rajani-Nya dalam pemerintahan ilahi-Nya (Mat. 25:21, 23). Demikianlah tubuh kita akan dimerdekakan dari perbudakan kebobrokan ciptaan lama, dan masuk ke dalam ke-merdekaan kemuliaan ciptaan baru Allah (Rm. 8:21); jiwa kita juga akan diselamatkan, terlepas dari wilayah pencobaan dan penderitaan (1Ptr. 1:6; 4:12; 3:14; 5:9), masuk ke dalam satu wilayah baru yang penuh dengan kemuliaan (1Ptr. 4:13; 5:10), berbagian dalam dan menikmati segala apa adanya, milik, dan apa yang telah dirampungkan, dicapai, serta diperoleh Allah Tritunggal. Inilah keselamatan jiwa kita, yaitu keselamatan yang siap dinyatakan kepada kita pada zaman akhir, juga adalah anugerah yang akan dibawakan kepada kita pada saat Kristus menyatakan diri dalam kemuliaan (1Ptr. 1:13; Mat. 16:27; 25:31). Inilah hasil iman kita. Kekuatan Allah mampu menjaga kita sampai kita mencapai tahap ini, agar kita memperoleh hasil iman ini (1Ptr. 1:9). Kita harus mendambakan keselamatan yang demikian ajaib (Rm. 8:23), dan menyiapkan diri kita bagi penyataannya yang indah (Rm. 8:19).

DUA ASPEK PENGUDUSAN ROH ITU

Pada bagian ini saya akan lebih lanjut membicarakan pengudusan Roh itu. Pengudusan Roh itu beraspek dua: pengudusan Roh itu sebelum pembenaran, aspek pertama; dan pengudusan Roh itu setelah pembenaran, aspek kedua. Aspek kedua dari pengudusan Roh itu memiliki dua sisi — sisi posisi dan sisi watak (sifat). Setelah Allah membenarkan kita dan melahirkan kita kembali, Roh yang menguduskan itu segera melanjutkan pekerjaan pemisahan-Nya pada diri kita dan di dalam kita. Pertama, Roh yang menguduskan itu memisahkan kita secara posisi dari hal-hal yang umum dan duniawi. Pengudusan posisi ini obyektif. Secara bersamaan, Roh yang menguduskan itu mulai menguduskan watak kita. Ini berarti Roh itu menguduskan sifat kita. Ini adalah sisi subyektif dari pekerjaan pengudusan Roh Kudus. Pengudusan subyektif adalah pekerjaan pengubahan. Pengudusan subyektif mencakup pengubahan sifat dan bagian batiniah kita. Karena itu, pengubahan sifat kita adalah pengudusan watak oleh Roh itu.

Sekarang kita seharusnya sudah jelas mengenai dua aspek pengudusan ini. Aspek pertama terjadi sebelum pembenaran. Aspek kedua, dengan kedua sisinya terjadi setelah pembenaran. Setelah kita dibenarkan dan dilahirkan kembali, Roh itu bekerja untuk menguduskan posisi dan watak kita.

KEGEMBIRAAN PADA ZAMAN AKHIR

Dalam 1Petrus 1:5 Petrus mengatakan bahwa kita dijaga oleh kekuatan Allah melalui iman kepada keselamatan, dan keselamatan ini siap untuk dinyatakan pada zaman akhir. Zaman akhir mengacu kepada waktu Tuhan datang lagi (1:7). Zaman akhir ini tidak mengacu kepada suatu hari atau suatu jam. Sebaliknya, hal ini menunjukkan sejangka waktu. Pada akhir dari waktu khusus ini, Tuhan Yesus akan kembali.

Keselamatan sempurna Allah akan dinyatakan kepada kita, atau dibawa kepada kita oleh kedatangan Tuhan kembali. Pada saat itu keselamatan sempurna ini akan dengan utuh kita alami. Bahkan sekarang keselamatan ini siap untuk dinyatakan.

Dalam 1:6 Petrus melanjutkan perkataannya, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” Beberapa pembaca Alkitab mungkin mengira bahwa “hal itu” dalam ayat 6 adalah keselamatan. Pengertian ini tidak tepat. “Hal itu” tidak menunjuk kepada keselamatan, melainkan mengacu kepada zaman akhir. Ini berarti kita bergembira pada zaman akhir. Setiap kali kita berpikir tentang zaman akhir, kita harus bergembira, artinya, kita seharusnya bergembira dan bersukacita sampai puncaknya.

MENDERITA OLEH

BERBAGAI-BAGAI PENCOBAAN

Dalam ayat 6 Petrus tidak hanya berbicara tentang bergembira pada saat terakhir, tetapi juga berbicara tentang harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Berbagaibagai pencobaan ini mengacu kepada penderitaan-penderitaan yang menjadi ujian untuk menguji mutu.

Tujuan Surat 1Petrus adalah untuk meneguhkan dan menguatkan kaum beriman yang menderita. Mereka sudah dipilih oleh Allah, dikuduskan dari dunia bagi Allah oleh Roh itu, dipercik dengan darah penebusan Kristus, dan dilahirkan kembali oleh Allah Bapa kepada pengharapan yang hidup, kepada suatu warisan yang tersimpan di surga bagi mereka (1:1-4). Tetapi mereka masih merupakan pendatang yang mengembara di bumi (1:1, 17; 2:11). Dalam pengembaraan mereka, penderitaan tidak bisa dihindari. Penderitaan-penderitaan itu dipakai oleh Allah untuk membuktikan dan menguji iman mereka (1:7), untuk melihat apakah mereka mengikuti Kristus dalam penderitaan karena berbuat baik (2:19-23; 3:14-18). Penderitaan juga dipakai untuk mempersenjatai mereka dengan pikiran yang bertentangan dengan daging, agar mereka tidak hidup dalam hawa nafsu manusia, melainkan dalam kehendak Allah (4:1-2), supaya mereka bisa mengambil bagian dalam penderitaan Kristus dan bersukacita pada saat kemuliaan-Nya dinyatakan (4:12-19), agar mereka menjadi saksi penderitaan Kristus (5:1), dan agar mereka bisa diperlengkapi, diteguhkan, dikuatkan, dan dikokohkan bagi kemuliaan kekal yang ke dalamnya Allah sudah memanggil mereka (5:8-10). Ini sepenuhnya berada di bawah pemerintahan Allah, agar Allah dapat menghakimi umat pilihan-Nya (1:17), dimulai dengan penghakiman-Nya dari rumah-Nya sendiri (4:17). Karena itu, surat ini juga dapat dianggap sebagai surat yang membahas pemerintahan Allah.

Dalam ayat 6 Petrus menyisipkan frase “sekalipun sekarang ini kamu seketika harus”. Maksud Petrus adalah menghibur kaum beriman yang menderita. Kadang-kadang kita memerlukan beberapa pengujian tertentu, pengujian yang membuat kita sedih. Ketika kita sedih karena ujian tertentu, kita perlu menyadari bahwa pengujian semacam ini memang diperlukan. Namun, pengujian ini “sekarang ini . . . seketika”, “zaman akhir” sedang datang. Pada saat itu keselamatan sempurna Allah akan diwahyukan kepada kita. Karena itu, kita seharusnya bergembira pada zaman akhir.