PERTUMBUHAN DALAM HAYAT DAN HASILNYA (1)
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 2:1-4, 6-8
GAMBARAN DARI HIDUP GEREJA
Satu Petrus 1 adalah bagian yang lengkap dari kitab ini. Bagian ini dengan jelas mewahyukan bahwa Allah Tritunggal bekerja atas umat pilihan-Nya untuk melaksanakan ekonomi-Nya dan untuk membawa mereka ke dalam partisipasi penuh akan diri-Nya, sehingga mereka dapat menikmati Dia sebagai anugerah. Ketika umat pilihan Allah menikmati Allah Tritunggal sebagai anugerah, mereka memiliki damai. Karena itu, damai adalah hasil dari kenikmatan akan anugerah. Butir pertama yang dibahas dalam pasal 1 adalah Allah Tritunggal bekerja atas umat pilihan-Nya, agar mereka menikmati diri-Nya sebagai anugerah, sehingga mereka memiliki damai.
Pasal 1 selanjutnya mewahyukan bahwa pekerjaan Allah Tritunggal menghasilkan keselamatan yang sempurna. Pertama kita memiliki pekerjaan Allah bagi ekonomi-Nya, dan bekerja ini mendatangkan keselamatan sempurna Allah. Keselamatan sempurna Allah mencakup kelahiran kembali Bapa, penebusan Putra, dan pengudusan Roh itu. Ini adalah keselamatan sempurna yang dirampungkan oleh pekerjaan Allah Tritunggal.
Keselamatan sempurna Allah Tritunggal menghasilkan dua hal: kehidupan yang kudus bagi ekspresi Allah, dan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas terhadap semua orang kudus. Kedua hal ini, kehidupan yang kudus dan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, adalah gambaran dari hidup gereja (church life) yang sejati. Di satu pihak, dalam hidup gereja yang riil kita nampak ekspresi Allah; di pihak lain, dalam hidup gereja yang sedemikian ada kasih yang tulus ikhlas terhadap satu sama lain. Karena itu, kekudusan dan kasih adalah hasil dari keselamatan sempurna yang dirampungkan oleh pekerjaan Allah Tritunggal atas orang-orang pilihan-Nya. Ini adalah ringkasan yang jelas dan lengkap dari pasal 1.
Satu Petrus 1 adalah suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri. Jika kita memiliki pandangan menyeluruh terhadap pasal ini, kita akan sangat memustikakannya. Saya dapat bersaksi bahwa dalam hari-hari ini saya memustikakan tulisan Petrus lebih dari yang sebelumnya. Saya harap semua orang kudus mulai mengapresiasi Petrus sama seperti mereka mengapresiasi Paulus. Selain itu, saya harap kita semua akan mulai memustikakan 1Petrus 1 dan tiga butir penting yang diwahyukan di sana mengenai pekerjaan Allah Tritunggal bagi ekonomi-Nya, keselamatan sempurna yang dirampungkan oleh pekerjaan Allah Tritunggal atas kaum pilihan-Nya, dan hasil dari kehidupan yang kudus untuk mengekspresikan Allah dan di dalam kasih persaudaraan yang tulus ikhlas terhadap kaum beriman. Dalam hidup gereja kita perlu menempuh suatu kehidupan yang mengekspresikan Allah kita yang kudus dan mengasihi semua saudara kita.
Dalam hidup gereja kita memiliki keluarga yang sangat besar. Bapa kita telah melahirkan kita kembali, dan semua anak-Nya adalah kerabat kita, saudara dan saudari kita. Keluarga gereja bersifat universal. Ini adalah gereja tanpa perpecahan atau denominasi. Dalam keluarga universal gereja tidak ada diskriminasi. Kita dapat mengatakan bahwa ini adalah gereja umum yang sejati. Tentu saja, kita tidak ada kaitan dengan Gereja Katolik Roma, tetapi kita adalah gereja umum yang sejati. Tidak hanya demikian, di dalam lokalitas kita, kita memiliki ekspresi yang riil dari gereja umum yang sejati, gereja di mana kita mengekspresikan Bapa yang kudus dan mengasihi semua orang kudus.
MEMBUANG LIMA HAL YANG NEGATIF
Dalam 2:1 Petrus melanjutkan perkataannya, “Karena itu, buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.” Ayat ini dimulai dengan “karena itu.” Ini menunjukkan bahwa anjuran dalam 2:1-10 berdasar pada apa yang diwahyukan dalam pasal 1. Tiga hal pokok yang dirampungkan dalam kaum beriman oleh Allah Tritunggal ditekankan dalam pasal 1: Kelahiran kembali oleh Bapa (1:3, 23), penebusan Putra (1:2, 18-19), dan pengudusan Roh itu (1:2). Hal itu membuat kaum beriman menjadi orang-orang kudus yang menempuh hidup kudus (1:15-16). Berdasarkan hal itu, Petrus menasihati kaum beriman untuk bertumbuh dalam hayat (2:2) guna membangun suatu rumah rohani (2:5).
Meskipun pasal 1 lengkap dalam isinya, tetapi menurut pengalamannya, Petrus masih banyak perkataan. Karena itu, berdasarkan pasal 1, dia meneruskan untuk memberi dorongan yang terdapat dalam pasal 2. Dia mulai dengan menyuruh kaum beriman membuang segala kejahatan, segala tipu muslihat, segala macam kemunafikan, kedengkian, dan fitnah. Dari ratusan hal dosa, Petrus memilih lima: kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, dengki, dan fitnah. Saya minta Anda meluangkan waktu untuk melihat apakah sebenarnya kelima butir ini.
Lima butir negatif yang disebutkan di sini membentuk satu urutan. Kejahatan adalah akarnya, sumbernya, fitnah adalah ekspresinya. Di dalam kita mungkin ada tipu muslihat, kejahatan, sebagai akar. Akhirnya, akan ada fitnah sebagai ekspresi dari kejahatan ini. Perkembangan dari kejahatan kepada fitnah mencakup tipu muslihat, kemunafikan, dan dengki. Jika pada kita ada tipu muslihat, pada kita juga akan ada kemunafikan; dan jika ada kemunafikan, akan ada dengki. Jadi, akarnya adalah kejahatan, perkembangannya mencakup tipu muslihat, kemunafikan, dan dengki, dan ekspresi yang terakhir adalah fitnah.
Bahkan ayat seperti 2:1 ini tidak seharusnya dibaca secara ceroboh. Kita tidak seharusnya menganggap ayat mana pun memang harus demikian atau tidak mau mempelajarinya dengan serius. Sebaliknya, kita seharusnya mempelajari setiap ayat dengan tujuan dan pengharapan memasuki kedalaman dari ayat tersebut. Sesungguhnya, kedalaman dari firman adalah realitas dari firman. Realitas ini adalah kebenaran. Jika kita memperhatikan ayat 1 dengan teliti, kita akan nampak akar, perkembangan, dan ekspresi. Dalam terang dari ayat ini kita nampak bahwa semua kejahatan perlu dibuang.
RINDU AKAN AIR SUSU FIRMAN
YANG MURNI DAN ROHANI
Ayat 2 mengatakan, “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu (firman) yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” Melalui kelahiran kembali (1:3, 23), kaum beriman dilahirkan menjadi bayi-bayi yang bersandarkan rawatan susu rohani dapat bertumbuh dalam hayat kepada keselamatan yang lebih lanjut, untuk pembangunan Allah.
Kata “murni” dalam bahasa aslinya berarti “jujur”, berlawanan dengan tipu muslihat dalam ayat 1. Susu yang murni adalah susu yang tanpa tujuan palsu, tanpa sasaran lain, selain merawat jiwa.
Kata Yunani yang diterjemahkan “firman” (air susu murni) adalah logikos. Firman ini, dalam Roma 12:1 (LAI: sejati) adalah kata sifat yang diturunkan dari kata benda logos — firman; karena itu, firman di sini memiliki arti yang berhubungan dengan pikiran (lawan dari tubuh), berhubungan dengan kemampuan rasional; jadi, berarti rasional, logis, beralasan. Susu firman bukanlah susu untuk tubuh, melainkan susu untuk jiwa, yaitu manusia batiniah. Susu ini disalurkan oleh firman Allah untuk merawat manusia batiniah kita melalui pemahaman pikiran rasional kita, dan diasimilasikan dengan kemampuan mental kita.
Dari segi tata bahasa, ayat 1 adalah penjelasan dari subyek ayat 2. Sebagaimana telah kita tunjukkan, “murni” (jujur, Tl.) dalam ayat 2 berlawanan dengan “tipu muslihat” dalam ayat 1. Versi yang lain menerjemahkan “susu firman yang murni” atau “susu firman yang sejati”. Mungkin kata “murni” (jujur) yang dipakai Petrus ini mencakup makna murni dan sejati. Namun, tujuan tulisan Petrus di sini adalah menunjukkan kontras antara kemurnian (kejujuran) dengan tipu muslihat yang berasal dari kejahatan.
Apakah yang dapat menelan atau menyingkirkan tipu muslihat kita? Perawatan yang terdapat dalam susu firman yang murni adalah antibiotik terhadap tipu muslihat. Dalam firman Allah ada perawatan yang adalah susu bagi manusia batiniah kita. Sama seperti tubuh fisik kita dirawat dengan susu, demikianlah manusia batiniah kita, jiwa kita, perlu dirawat dengan susu firman yang murni. Susu ini mengandung unsur yang dapat menyingkirkan unsur tipu muslihat kita. Karena itu, susu firman adalah susu yang murni.
Dalam 2:1-2, Petrus menunjukkan bahwa sebagai bayi-bayi yang baru lahir, kita perlu membuang segala kejahatan, juga perlu mendambakan susu firman yang murni. Tujuan dari membuang akar kejahatan adalah agar kita mendambakan, menginginkan susu firman. Saya percaya bahwa Petrus menulis ini tidak berdasarkan doktrin, melainkan berdasarkan pengalaman rohaninya. Jika tidak memiliki pengalaman yang memadai, kita tidak akan mampu mengerti apa yang Petrus katakan.
Jika Anda penuh dengan kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, dengki, dan fitnah, Anda tidak akan memiliki selera terhadap firman. Anda tidak akan lapar atau haus akan firman Allah. Anda tidak akan memiliki kedambaan, keinginan untuk minum susu firman yang murni. Jika Anda ingin lapar dan haus akan firman Allah, jika Anda damba minum susu yang ada dalam firman, Anda perlu membenci kejahatan Anda dan tidak mengucapkan perkataan yang jahat kepada orang lain.
Misalkan, selama sejangka waktu, mungkin lebih dari satu tahun, seorang saudara dipenuhi dengan kejahatan. Saudara-saudara tertentu, khususnya penatua, tidak disukai-nya. Karena dia penuh dengan kejahatan dan juga penuh dengan tipu muslihat, kemunafikan, dan kedengkian, dengan spontan dia mulai berbicara negatif tentang orang lain. Dia mungkin mengatakan yang jahat mengenai saudara dan saudari, baik yang tua maupun yang muda. Pembicaraan yang jahat ini bersumber dari kejahatan yang ada di dalam dia. Jelas, saudara yang berada dalam kondisi itu tidak akan memiliki selera terhadap firman. Dari pengalaman saya tahu bahwa dia tidak akan lapar dan haus terhadap perawatan dalam firman Allah.
Namun, mari kita mengandaikan bahwa suatu hari saudara ini menerima belas kasihan dari Tuhan untuk menyadari kedosaannya. Menyadari keperluannya akan Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah, dia bertobat, mengakui dosa-dosanya dan berdoa, “O Tuhan, ampunilah aku. Sekian lamanya aku telah dipenuhi dengan kejahatan, dan aku telah mengatakan yang jahat tentang orang lain. Tuhan, hal ini menunjukkan kepadaku bahwa ada dosa di dalamku. Tuhan, meskipun aku telah dilahirkan kembali, aku masih memiliki dosa di dalamku, karena sifatku yang jatuh berdosa. O, Tuhan aku memerlukan-Mu sebagai kurban penghapus dosaku. Aku mengambil Engkau dan menerapkan Engkau sebagai kurban penghapus dosaku. Oh, kiranya darah kurban penghapus dosa membersihkan aku. Tuhan! Aku menyadari bahwa pembicaraanku yang jahat mengenai saudara dan saudari adalah suatu pelanggaran dan kesalahan. Tuhan, aku penuh dengan pelanggaran! Ampunilah aku dan bersihkan aku. Aku mengambil Engkau tidak hanya sebagai kurban penghapus dosa, tetapi juga sebagai kurban penebus salah. Sepanjang hari, Tuhan, aku ingin menikmati Engkau.”
Jika saudara tersebut seperti itu, dia akan mulai memiliki selera terhadap susu firman. Dia akan damba datang kepada firman untuk menerima perawatan. Dia akan datang kepada Alkitab bukan untuk memperoleh pengetahuan doktrin, tetapi untuk meminum susu yang merawat. Dengan spontan ketika dia membaca Alkitab, dia akan meminum susu firman Allah yang murni. Akhirnya, susu ini akan masuk ke dalam manusia batiniahnya dan berfungsi sebagai antibiotik untuk membunuh kuman kejahatan. Selain itu, saudara ini akan mulai mengasihi semua orang beriman. Dia mungkin mengatakan, “Oh, aku mengasihi saudara dan saudari. Aku mengasihi semua penatua. Semua penatua baik, dan mereka semua lebih baik daripada aku.”
PEMAHAMAN ATAS PENGALAMAN
Pemahaman terhadap ayat 1 dan 2 sedemikian ini berasal dari pengalaman. Petrus menulis ayat-ayat ini menurut pengalamannya. Melalui pengalaman jugalah saya bisa memahami tulisan Petrus. Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, ketika saya membaca bagian dari firman ini, saya tidak dapat memahaminya, karena saya tidak memiliki pengalaman yang memadai. Tetapi setelah bertahun-tahun, saya memiliki lebih banyak pengalaman rohani, dan sekarang saya memahami apa yang Petrus katakan. Saya percaya bahwa banyak orang beriman juga memiliki pemahaman akan 2:1-2 menurut pengalaman mereka.
Jangan sekali-kali membaca firman dengan cara yang alamiah atau dengan cara yang ceroboh. Namun, banyak orang Kristen membaca Alkitab dengan cara yang alamiah dan menganggapnya memang seharusnya demikian. Tetapi jika kita masuk ke kedalaman firman, kita akan diterangi. Kemudian kita akan memiliki banyak perasaan yang batini dan juga memiliki pengutaraan untuk membicarakan apa yang kita lihat.
PERTUMBUHAN YANG SEJATI
Menurut perkataan Petrus dalam ayat 2, kita seharusnya mendambakan susu firman yang murni sehingga olehnya kita dapat bertumbuh. Bertumbuh adalah masalah hayat dan di dalam hayat. Kita menerima hayat ilahi melalui kelahiran kembali, dan kita perlu bertumbuh dalam hayat ini dan dengan hayat ini melalui dirawat dengan susu yang disalurkan oleh firman Allah.
Kita seharusnya mendambakan susu yang murni dari firman tidak hanya untuk memiliki antibiotik rohani, tetapi juga untuk menerima perawatan sehingga kita dapat bertumbuh. Susu firman yang murni merawat kita, dan melalui perawatan ini kita bertumbuh.
Banyak orang Kristen berpikir bahwa bertumbuh adalah memiliki lebih banyak pengetahuan. Setelah seorang beriman baru dibaptis, yang lain mungkin mendorong dia untuk menghadiri semacam penelaahan Alkitab. Dia mungkin terdorong untuk memperoleh banyak pengetahuan. Namun, dia mungkin tidak mendengar perkataan yang membantu dia menyadari bahwa melalui kelahiran kembali dia telah menerima hayat ilahi, dan bahwa sekarang keperluannya adalah bertumbuh dalam hayat. Dia mungkin hanya dibantu mendengar cerita-cerita dalam Kitab Injil dan kemudian cerita-cerita dalam Perjanjian Lama. Sedikit demi sedikit, dia mungkin mengambil lebih banyak pengetahuan Alkitab, dan beberapa mungkin menganggap hal ini sebagai pertumbuhan. Namun konsepsi pertumbuhan semacam itu sepenuhnya berlawanan dengan apa yang ada dalam Perjanjian Baru. Menurut Perjanjian Baru, pertumbuhan adalah pertambahan dalam kapasitas hayat. Pengetahuan tidak membantu kita bertumbuh dalam kapasitas hayat.
Bagaimana anak-anak bertumbuh? Mereka bertumbuh dengan menerima perawatan. Jika seorang bayi memiliki makanan yang sehat dan setiap hari menerima makanan yang merawat, secara bertahap dia akan bertumbuh. Pertumbuhan ini adalah pertambahan dari semua makanan yang dia makan. Akhirnya, sebagai orang dewasa yang bertumbuh, ia akan menjadi suatu dari susunan apa yang dia makan. Mungkin pada waktu lahir dia hanya memiliki berat badan 3 kg. Tetapi ketika dewasa, dia menjadi seorang pria yang memiliki berat badan 90 kg. Dia telah mengalami pertumbuhan yang sejati dalam hayat, pertumbuhan yang berasal dari makan makanan yang sehat, mencernanya, dan mengasimilasinya ke dalam sel-selnya sehingga menjadi selsel dari apa adanya dia. Ini adalah suatu ilustrasi dari pertumbuhan yang sejati dalam hayat.
Kita perlu mendambakan susu firman yang murni sehingga dengannya kita dapat memiliki pertumbuhan yang sejati dalam hayat. Pertumbuhan yang sejati adalah per-tambahan kapasitas hayat. Jika kita bertumbuh dalam hayat, unsur hayat di dalam kita akan bertambah, dan akan ada pertambahan dalam perawakan rohani kita (Ef. 4:13).