PERTUMBUHAN DALAM HAYAT DAN HASILNYA (2)
Pembacaan Alkitab: 1Ptr 2:1-4, 6-8
Satu Petrus 2:1-2 mengatakan, “Karena itu, buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemu-nafikan, kedengkian dan fitnah. Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu (firman) yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.”
Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa kita perlu melakukan dua hal. Pertama, kita perlu membuang segala kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah. Kedua, kita perlu mendambakan susu firman yang murni sehingga olehnya kita dapat bertumbuh dalam hayat. Seperti telah kita lihat, pertumbuhan yang sejati dalam hayat adalah pertambahan dalam kapasitas hayat.
BERTUMBUH DAN BEROLEH KESELAMATAN
Menurut perkataan Petrus dalam 2:2, dengan susu murni dari firman kita dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan. Kata “dan beroleh” dalam bahasa aslinya juga berarti “meng-hasilkan”. Pertumbuhan dalam hayat menghasilkan keselamatan. Keselamatan di sini adalah hasil pertumbuhan dalam hayat, bukan keselamatan awal. Keselamatan sempurna dan lengkap dari Allah memiliki sejangka waktu yang cukup panjang, dimulai dari kelahiran kembali (termasuk pembenaran), hingga pemuliaan (Rm. 8:30). Ketika kita dilahirkan kembali, kita menerima keselamatan awal. Kemudian kita perlu bertumbuh melalui makan Kristus sebagai susu yang penuh gizi dalam firman Allah, mencapai keselamatan sempurna, mencapai kematangan dan dimuliakan. Kesela-matan ini akan ternyata sebagai keselamatan jiwa kita, pada waktu Tuhan Yesus menyatakan diri (1:5, 9-10, 13). Namun, menurut konteksnya, “dan beroleh keselamatan” di sini mengacu langsung kepada “pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani” dalam ayat 5, dan mengacu kepada “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar” (kebajikan-kebajikan Allah) dalam ayat 9.
Jika kita bertumbuh dan beroleh keselamatan, kita akan mengalami keselamatan dari kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah, lima hal negatif yang dibicarakan dalam ayat 1. Untuk diselamatkan dari kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah, kita tidak bisa berusaha sendiri. Ini tidak dapat dilakukan melalui perbaikan diri, pembenahan, atau koreksi. Sebaliknya, diselamatkan dari hal-hal yang negatif ini adalah perkara yang batini.
Sebagai suatu ilustrasi, misalkan dalam tubuh seseorang ada bakteri yang menyebabkan dia sakit. Bakteri ini berada di dalam darahnya dan di dalam jaringan tubuhnya. Apa gunanya mencoba memecahkan masalah ini dengan membasuh orang itu dengan sabun? Itu hanya bisa membersihkan lapisan luar dari kulitnya. Pembersihan itu tidak akan berkhasiat melawan bakteri yang berada di dalam tubuhnya. Untuk menanggulangi bakterinya, orang itu memerlukan antibiotik. Dia juga perlu menerima gizi yang tepat untuk tubuh jasmaninya sehingga ia dapat bertumbuh. Pertumbuhan ini akan membantu menyembuhkan dia dari penyakitnya. Demikian pula, hanya dengan pertumbuhan yang batini sehingga beroleh keselamatan, kita diselamatkan secara spontan dari “kuman” kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah.
Lima puluh tahun yang lalu, saya sulit mengatasi temperamen saya. Tetapi sekarang setelah lebih dari lima puluh tahun mengalami Tuhan, saya dapat bersaksi bahwa saya sulit untuk marah. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa hal itu dikarenakan saya sekarang adalah orang tua yang tidak lagi memiliki masalah dengan temperamen saya. Pendapat itu tidaklah tepat. Sesungguhnya, temperamen seseorang biasanya makin bertambah sejalan dengan usia. Karena alasan ini, orang tua sering kritis terhadap yang lain dan tidak bisa bersabar terhadap orang lain. Secara alamiah, semakin tua kita, semakin banyak masalah yang kita hadapi dengan temperamen kita. Dalam Tuhan dan di hadapan Tuhan saya dapat bersaksi bahwa semakin tua saya, semakin berkurang temperamen saya. Alasan dari perubahan ini adalah selama bertahun-tahun saya telah mengalami pertumbuhan dalam hayat yang menghasilkan keselamatan dari temperamen saya. Inilah ilustrasi dari fakta bahwa secara riil kita perlu bertumbuh dan beroleh keselamatan.
Keselamatan dalam ayat 2 bukanlah keselamatan dalam tahap awal atau dalam tahap penyempurnaan; ini adalah keselamatan dalam tahap pertumbuhan, dalam tahap transformasi (pengubahan). Tepatlah jika kita memahami ayat ini bahwa kita perlu bertumbuh dan beroleh transformasi. Memang, kata transformasi tidak digunakan di sini. Namun, keselamatan dalam ayat ini menyiratkan transformasi. Kelahiran kembali berada pada keselamatan tahap awal; transformasi berada pada keselamatan tahap pertumbuhan; dan pemuliaan, berada pada tahap penyempurnaan. Kita tidak berada pada tahap awal atau pada tahap penyempurnaan. Kita berada pada tahap pertumbuhan dari keselamatan, yaitu dalam tahap transformasi.
Transformasi berbeda dari sekadar perubahan. Transformasi melibatkan perubahan dari suatu bentuk kepada bentuk yang lain. Namun, hal itu melibatkan suatu perubahan yang batini dalam sifat atau susunan, bukan hanya suatu perubahan luaran dalam bentuk. Sebagai contoh, misalkan seseorang sakit, dan air mukanya terlihat tidak sehat. Dia mungkin mencoba memperbaiki penampilannya dengan bersolek (berdandan). Saya tidak suka bersolek semacam itu, karena itu mengingatkan saya kepada pekerjaan tukang rias mayat, yang mencoba mengubah wajah mayat agar terlihat semenarik mungkin. Hari ini banyak orang, termasuk orang Kristen, terlibat dalam pekerjaan perbaikan secara luaran, pekerjaan yang dapat dibandingkan dengan pekerjaan merias mayat. Perubahan luaran semacam itu mutlak berbeda dengan transformasi yang hidup, yang batini.
Akhir-akhir ini, saya sakit. Tetapi hari demi hari istri saya melayani saya dengan makanan yang bergizi. Akhirnya makanan itu membuat saya sehat dan memulihkan warna kulit yang sehat pada wajah saya. Ketika istri saya melihat raut wajah saya, dia gembira. Saya tidak perlu merias wajah saya, karena warna kulit yang sehat berasal dari perawatan yang di dalam. Saya makan, mencerna, dan mengasimilasi makanan yang bergizi. Gizi ditransmisikan ke dalam sel saya, susunan saya, dan bahkan ke dalam kulit saya, membuat saya memiliki warna kulit yang sehat. Ini adalah sebuah ilustrasi dari transformasi.
Petrus mendorong kita untuk mendambakan susu firman yang sejati yang dengannya kita dapat bertumbuh dan beroleh transformasi. Kita tidak bertumbuh dan beroleh koreksi luaran atau pembenahan luaran atau perbaikan luaran. Sebaliknya, kita bertumbuh dan beroleh transformasi batiniah oleh hayat dan di dalam hayat.
DASAR DARI SEMUA PERTUMBUHAN ROHANI
Makanan yang merawat hanya akan menghasilkan transformasi bila diberikan kepada sesuatu yang hidup dan organik. Jika Anda mencoba memberikan perawatan kepada sesuatu yang tidak hidup dan tidak organik, hal itu akan menjadi membusuk dan cemar. Tidaklah mungkin sesuatu yang tidak berhayat menerima bantuan dari makanan yang merawat. Jelaslah tidak berguna mencoba memberikan makanan kepada mayat. Tidak diragukan, susu sejati dalam firman dapat memberi kita makanan dan merawat kita. Namun, hal itu hanya dapat memberi makan dan merawat mereka yang hidup dan organik. Tanpa hayat, tidak akan ada sesuatu di dalam kita yang bekerja sama dengan perawatan ini.
Petrus memulai 2:2 dengan perkataan “Seperti bayi yang baru lahir”. Kata “bayi yang baru lahir” menunjukkan suatu organisme yang hidup. Seorang bayi yang baru lahir itu hidup dan organik. Sebagai bayi yang baru lahir yang sedemikian, kita perlu minum susu yang murni dari firman. Kemudian susu itu akan memberikan perawatan yang hidup, yang organik. Dengan spontan hayat di dalam kita akan bekerja sama dengan perawatan susu itu sehingga kita dapat bertumbuh. Namun, jika kita tidak memiliki unsur yang hidup dan organik di dalam kita melalui kelahiran kembali, perawatan di dalam susu firman tidak akan berakibat apa-apa, karena tidak akan ada kerja sama di pihak kita.
Dalam 1:23 Petrus mengatakan bahwa kita telah dilahirkan kembali. Dalam 2:2 dia mendorong kita untuk menjadi seperti bayi yang baru lahir yang damba akan susu. Baik kelahiran kembali dalam 1:23 dan bayi yang baru lahir dalam 2:2 menunjuk kepada hal yang sama — kelahiran kembali dengan hayat ilahi. Kelahiran kembali ini adalah dasar dari pertumbuhan kita dalam hayat dan bagi penyucian dari manusia batiniah kita. Di dalam kita semua ada hayat ilahi yang kita terima dalam kelahiran kembali sebagai dasar dari semua pertumbuhan rohani. Untuk bertumbuh dan disucikan, kita harus memiliki dasar ini. Karena itu, sebagai bayi yang baru lahir, kita seharusnya mendambakan susu firman yang murni sehingga melaluinya kita dapat bertumbuh dan beroleh transformasi.
MENGECAP BAHWA TUHAN ITU BAIK
Dalam ayat 3 Petrus melanjutkan, “jika kamu benar-benar telah mengalami (mengecap) bahwa Tuhan itu baik.” Tuhan dapat dikecap, dan rasa-Nya menyenangkan dan baik. Jika kita pernah mengecap-Nya, kita akan mendambakan susu yang penuh dengan gizi dalam firman-Nya. Kata Yunani yang diterjemahkan “baik” dalam ayat ini juga berarti “menyenangkan”, “rahmani”.
Petrus yakin bahwa orang-orang yang dia kirimi surat telah dilahirkan kembali. Tetapi dia tidak yakin bahwa mereka telah mengecap Tuhan. Karena alasan ini dia berkata, “Jika kamu benar-benar telah mengecap bahwa Tuhan itu baik.” Tentunya kaum beriman adalah bayi-bayi yang baru lahir, tetapi sebagaimana ditunjukkan dalam ayat 3, beberapa dari mereka mungkin belum pernah mengecap bahwa Tuhan itu baik. Hari ini, jutaan orang beriman benar-benar telah dilahirkan kembali, tetapi banyak yang tidak pernah mengecap bahwa Tuhan itu baik.
Baiklah kita menggunakan sebuah contoh untuk menunjukkan betapa seseorang mungkin dilahirkan kembali tetapi belum mengecap bahwa Tuhan itu baik. Seorang wanita setengah baya telah diselamatkan selama dua tahun. Dia telah ditebus dan dilahirkan kembali. Setelah menghadiri sidang-sidang kita sejangka waktu, suatu hari dia berdiri memberikan kesaksian. Dia berkata bahwa suaminya telah kehilangan pekerjaannya, dan mereka tidak mampu membayar uang sewa rumah. Selain itu, anak mereka sakit. Dia terus berkata bahwa dia berdoa kepada Tuhan tentang situasi itu. Dia memuji Tuhan karena Tuhan memberi suaminya pekerjaan yang baik, menyediakan tempat tinggal yang lebih baik bagi mereka, dan bahkan menyembuhkan anak mereka. Dia mendeklarasikan, “Haleluya, Tuhan Yesus hidup dan mampu!”
Baiklah kita memperhatikan kesaksian ini dengan teliti dan menanyakan apakah itu adalah kesaksian dari orang yang telah mengecap Tuhan. Saya akan berkata dengan tegas bahwa ini bukanlah kesaksian dari seorang yang telah mengecap bahwa Tuhan itu baik. Beberapa tahun yang lalu perasaaan saya terhadap hal ini tidak demikian, saat itu saya akan berkata bahwa perempuan ini benar-benar telah mengecap Tuhan itu baik. Sesungguhnya, dalam kesaksiannya dia berkata, “Betapa baiknya Tuhan bagiku! Dia itu nyata, hidup, dan baik. Kami berdoa, dan Dia memberi kami pekerjaan yang baik dan rumah yang baik, dan Dia menyembuhkan anak kami. Haleluya! Tuhan itu baik.” Tetapi meskipun dia berbicara tentang kebaikan Tuhan, ini bukanlah kesaksian mengecap bahwa Tuhan itu baik.
Lalu, apakah kesaksian yang sejati tentang mengecap Tuhan? Misalkan saudari yang sama bersaksi tentang sesuatu seperti ini, “Suamiku telah kehilangan pekerjaannya, kami telah kehilangan tempat tinggal kami, dan putra kami sakit. Semakin kita berdoa, tampaknya semakin banyak kesulitan yang kita alami. Tetapi, saudara dan saudari, saya dapat bersaksi bahwa semakin sulit situasi kita, semakin bahagia kita dalam batin. Oh, betapa saya menikmati Tuhan! Saya telah mengalami sedikit dari apa yang Paulus alami ketika dia meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan duri itu dan Tuhan menolak, berkata bahwa anugerah-Nya cukup bagi Paulus. Tuhan mendorong Paulus untuk menikmati anugerah-Nya. Dia meletakkan Paulus ke dalam suatu lingkungan yang khusus sehingga dia terpaksa menikmati anugerah. Dia tidak menyingkirkan duri itu. Di satu pihak, Paulus menderita karena duri itu. Tetapi di pihak lain, dia menikmati anugerah Tuhan yang menopang. Dalam perkara kita, beberapa bulan berlalu, dan Tuhan masih belum melakukan apa pun bagi kita secara luaran. Tetapi aku dapat bersaksi bahwa aku sedang menikmati Dia sebagai anugerahku. Ketika ibuku mengetahui situasi kami, dia berkata, ‘Apa ini? Di manakah Yesusmu? Apakah Dia hidup dan riil? Mengapa Dia tidak melakukan segala sesuatu bagimu? Lebih baik kamu pergi kepada tokoh agama lain.’ Tetapi tidak peduli apa yang dia katakan kepadaku, aku terus menikmati anugerah Tuhan.” Ini adalah kesaksian tentang mengecap Tuhan.
Mengecap Tuhan tidak berada dalam keajaiban luaran. Sebaliknya, berada dalam perawatan batini hayat. Tidak peduli lingkungan macam apa yang kita hadapi, kita ditopang oleh Tuhan. Kita dapat berkata bersama Paulus, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Kita dapat menghadapi ujian kekayaan dan kemiskinan, lingkungan yang menyenangkan dan yang sulit, karena kita tidak memperhatikan situasi luaran tetapi perawatan dalam batin. Perawatan dalam batin ini adalah pengecapan sejati akan Tuhan. Dalam ayat-ayat ini Petrus menunjukkan bahwa jika kita telah mengecap bahwa Tuhan itu baik, kita pasti mendambakan susu firman.
BATU HIDUP BAGI PEMBANGUNAN ALLAH
Dalam ayat 4 Petrus melanjutkan membicarakan Kristus sebagai batu yang hidup: “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah.” Batu hidup tidak hanya memiliki hayat, tetapi juga bisa bertumbuh dalam hayat. Batu hidup ini adalah Kristus bagi pembangunan Allah. Di sini Petrus mengubah perkataan kiasannya dari benih yang termasuk hayat nabati (1:23-24) kepada batu yang termasuk mineral. Benih adalah untuk penanaman hayat; batu adalah untuk pembangunan (2:5). Pemikiran Petrus terus maju dari penanaman hayat kepada pembangunan Allah. Untuk menjadi hayat kita, Kristus adalah benih, untuk pembangunan Allah, Dia adalah batu. Setelah menerima Dia sebagai benih hayat, kita perlu bertumbuh agar kita dapat mengalami Dia sebagai batu yang hidup di dalam kita. Karena itu, Dia juga akan membuat kita menjadi batu hidup, diubah dengan sifat batu-Nya, supaya kita dapat terbangun bersama orang lain menjadi rumah rohani di atas diri-Nya sebagai dasar dan batu penjuru (Yes. 28:16).
Kata “dihormati” juga berarti “berharga”. Berbeda dengan kata “mahal” di dalam 1:19. Kata dalam 1:19 itu menunjukkan kemustikaan dalam esensnya; di sini menunjukkan kemustikaan yang diakui dan dihormati oleh manusia.
Dalam ayat 6-8 banyak dikatakan mengenai Kristus sebagai batu. Ayat 6 mengatakan, “Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu, sebuah batu penjuru yang terpilih dan mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.’” Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah batu yang dipilih Allah menjadi batu penjuru bagi pembangunan-Nya (Ef. 2:20). Dalam Efesus 2:20 Paulus berbicara tentang “Kristus Yesus sebagai batu penjuru”. Dalam ayat itu, sebagaimana di sini, Kristus bukan ditujukan sebagai dasar (Yes. 28:16), tetapi sebagai batu penjuru, karena yang diutamakan di sini bukanlah dasarnya, melainkan batu penjuru yang mempersatukan kedua tembok, satu tembok adalah kaum beriman Yahudi, dan tembok yang lain adalah kaum beriman kafir. Ketika tukang-tukang bangunan Yahudi menolak Kristus, mereka menolak Dia sebagai batu penjuru (Kis. 4:11; 1Ptr. 2:7), Orang yang akan mempersatukan orang kafir dengan mereka untuk pembangunan rumah Allah.
Dalam 2:7 Petrus melanjutkan, “Karena itu, bagi kamu yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: ‘Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan (gilingan) dan suatu batu sandungan.’” Kristus yang dipilih oleh Allah sebagai batu adalah batu penjuru yang berharga dalam pandangan Allah, berharga bagi orang yang percaya kepada-Nya; tetapi bagi orang yang tidak percaya, Dia adalah batu yang ditolak dan dibuang.
“Tukang bangunan” di dalam ayat ini mengacu kepada para pemimpin Yahudi dalam agama Yahudi (Kis. 4:11), yang seharusnya membangun rumah Allah. Mereka sama sekali menolak Kristus. Tuhan pernah menubuatkan bahwa mereka akan melakukan hal ini (Mat. 21:38-42).
Dalam kebangkitan, Kristus telah menjadi batu penjuru. Dalam pemberitaannya yang semula, Petrus sudah menyampaikan hal ini kepada orang-orang Yahudi (Kis. 4:10-11).
Ayat 8 mengatakan, “Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan mereka juga telah ditentukan untuk itu.” Karena ditolak, Kristus yang dapat dipercayai (ayat 6) telah menjadi batu sandungan, yang menyandung penganut agama Yahudi yang menolak-Nya (Mat. 21:44). Kata “itu” mengacu kepada ketidaktaatan orang Yahudi yang mengakibatkan tersandungnya mereka.
Dalam ayat 4 Petrus membuat suatu loncatan dari susu firman ke batu yang hidup. Sepertinya tidak ada hubungan atau keterkaitan antara susu dengan batu. Mula-mula, Petrus menunjukkan bahwa Tuhan adalah susu dan firman untuk perawatan. Kemudian dia melanjutkan membicarakan Dia sebagai batu hidup.
MENGALAMI KRISTUS SEBAGAI SUSU DAN BATU
Menurut ayat 4, kita perlu datang kepada Kristus sebagai batu yang hidup. Tetapi apakah jalan untuk datang kepada Dia? Kita datang kepada Tuhan melalui minum susu firman. Pernahkah Anda menyadari bahwa ketika Anda meminum susu firman, itu berarti Anda datang kepada Tuhan? Apakah susu dalam firman? Susu itu adalah Tuhan sendiri. Karena itu, ketika kita minum susu, kita datang kepada Tuhan. Apakah Anda memiliki cara yang lain untuk datang kepada makanan yang Anda makan? Bagaimana cara Anda datang kepada makanan? Tidakkah Anda datang melalui memakannya? Kita semua datang kepada makanan melalui memakannya. Demikian pula datang kepada Kristus sebagai batu yang hidup. Dalam ayat 4 kata “datang” sama dengan minum. Karena itu, ketika kita meminum susu, kita datang kepada Tuhan.
Kita telah menunjukkan bahwa Petrus seolah-olah meloncat dari “Kristus-susu” kepada “Kristus-batu”. Hal ini menyiratkan bahwa susu menjadi batu. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Bagi kita, ini mustahil, tetapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, karena Dia almuhit. Sebagai Sang Almuhit, Kristus adalah susu, dan Dia juga batu. Kita tidak mampu menjelaskan semua aspek Kristus. Dia adalah susu, Dia adalah roti, dan sekarang kita nampak Dia adalah batu. Menurut 2:6-8, Kristus bukan hanya batu bagi bangunan, tetapi juga batu sandungan dan batu gilingan. Bahkan sebagai batu Kristus almuhit: Dia dapat membangun kita, atau Dia dapat menyebabkan kita tersandung, dan bahkan menggiling kita.
Kita perlu lebih banyak pengalaman atas Kristus sebagai susu dan batu. Di pagi hari kita seharusnya minum Kristus sebagai susu firman. Kemudian selama siang hari proses transformasi akan terjadi di dalam kita. Sore hari kita seharusnya menghadiri sidang-sidang gereja dan bersekutu dengan kaum saleh. Inilah pembangunan. Di sini kita nampak bahwa di pagi hari Kristus adalah susu, dan di sore hari Dia menjadi batu. Sepanjang hari susu melakukan pekerjaan transformasi di dalam kita untuk menghasilkan batu.
Mereka yang tidak mengalami Kristus sebagai susu mungkin terserak atau berdiri sendiri. Para penatua mungkin mengunjungi mereka dan mendorong mereka menghadiri sidang-sidang. Namun, kaum saleh ini tidak ingin menghadiri sidang-sidang. Seorang saudara yang sedemikian boleh jadi berkata, “Selama orang itu ada dalam sidang, aku tidak ingin ikut. Aku tidak ingin melihat wajahnya. Aku tidak suka menghadiri sidang-sidang hanya karena mereka hadir.” Tetapi setelah sejangka waktu Tuhan melakukan sesuatu dalam keadaan tersebut. Saudara ini bertobat akan sikapnya terhadap orang-orang tertentu. Kemudian dia mulai damba minum susu firman. Karena dia minum susu firman, dia damba datang kepada sidang-sidang gereja. Akhirnya dia sepenuhnya didamaikan dengan kaum saleh bagi pembangunan.
Terlebih dulu Tuhan adalah susu untuk merawat kita. Melalui perawatan dalam susu firman, transformasi terjadi. Kemudian kita memiliki bangunan, di mana Tuhan sendiri adalah batu. Ini adalah alasan bahwa dalam pasal 2 kita mula-mula memiliki susu, kemudian batu.