KESELAMATAN SEMPURNA ALLAH TRITUNGGAL DAN HASILNYA (9)
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 1:22-25
MENYUCIKAN JIWA KITA
Dalam berita ini kita akan membahas 1:22-25. Ayat 22 mengatakan, “Karena kamu telah menyucikan dirimu (jiwamu) oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sunguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” Menurut kebiasaan penulisannya, dalam ayat ini Petrus menjajarkan banyak hal. Mula-mula dia berkata, “Karena kamu telah menyucikan jiwamu.” Kita tidak dapat menemukan ungkapan yang sedemikian di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Kita dapat membaca tentang menyucikan hati kita, tetapi tidak tentang menyucikan jiwa kita.
Penyucian jiwa kita adalah pengudusan Roh atas watak (sifat) kita, agar kita bisa menempuh kehidupan yang kudus dalam sifat kudus Allah (ayat 15-16). Ini lebih dalam daripada penyucian dosa-dosa kita (Ibr. 1:3) dan penyucian (pembersihan) dosa (1Yoh. 1:7). Dua hal yang disebut terakhir adalah penyucian perbuatan kita yang di luar; yang disebutkan pertama adalah penyucian bagian batin kita — jiwa, seperti penyucian air dalam firman dalam Efesus 5:26.
Dalam ayat 22 Petrus menggunakan bentuk kala purna ketika dia membicarakan tentang menyucikan jiwa kita. Tetapi kapankah hal ini terjadi? Dalam ayat 1-21 tidak disebutkan hal-hal yang sedemikian ini. Tetapi tiba-tiba dalam ayat 22, Petrus mengatakan, “Telah menyucikan jiwamu”. Dalam 21 ayat sebelumnya dia tidak mengatakan apa-apa tentang penyucian ini.
Jiwa kita terdiri atas pikiran, emosi, dan tekad kita, yang juga merupakan bagian dari hati kita. Jiwa kita disucikan berarti pikiran, emosi, dan tekad kita, sebagai bagian dari hati kita, disucikan dari segala macam kecemaran atau kekotoran (Kis. 15:9; Yak 4:8). Sebenarnya, ini berarti pikiran, emosi, dan tekad kita dilepaskan dari segala hal selain Allah, agar tertuju kepada Allah sebagai satu-satunya tujuan dan sasaran yang unik. Penyucian semacam ini dirampungkan oleh ketaatan kita kepada kebenaran, yaitu isi dan realitas kepercayaan kita. Ketika kita menaati kebenaran, yaitu taat kepada isi dan realitas kepercayaan kita dalam Kristus, seluruh jiwa kita terpusat pada Allah dan dengan demikian disucikan dari segala hal selain Allah. Inilah yang dimaksud dengan jiwa kita diselamatkan dari segala kenajisan dengan menerima firman yang tertanam (Yak. 1:21), yaitu kebenaran yang menguduskan (Yoh. 17:17).
Menurut perkataan Petrus dalam ayat 22, kita menyucikan jiwa kita oleh ketaatan kepada kebenaran. Di sini kita memiliki tiga hal: penyucian jiwa, ketaatan, dan kebenaran. Kita tidak seharusnya menganggap ini sudah semestinya. Sebaliknya, kita seharusnya bertanya, kebenaran apakah yang ada di sini dan juga apakah yang dimaksud dengan ketaatan kepada kebenaran. Selain itu, Petrus mengatakan bahwa penyucian jiwa kita oleh ketaatan akan kebenaran sehingga kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Di sini Petrus bukan hanya membicarakan kasih, dan kasih persaudaraan, tetapi tentang kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Sebab itu, dalam satu ayat ini Petrus membahas penyucian jiwa kita, ketaatan kepada kebenaran, dan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Kemudian dia melanjutkan untuk mendorong kita mengasihi satu sama lain dengan segenap hati. Ciri-ciri tulisan Petrus adalah meletakkan banyak butir secara bersama-sama dalam satu ayat.
Menurut pemahaman yang tepat dari bahasa, subyek dari “telah menyucikan dirimu” adalah “kamu”. Ini berarti Petrus sedang memberi tahu kaum beriman bahwa mereka telah menyucikan jiwa mereka.
Cara kita menyucikan jiwa kita adalah oleh ketaatan kita kepada kebenaran. Hal ini mungkin bukanlah hal-hal yang dalam seperti pengenalan dini Allah, tetapi hal ini sangat riil. Dibandingkan dengan hal-hal besar pada sisi ilahi, hal itu terlalu kecil. Walaupun demikian, itu sangat penting dalam kehidupan kristiani kita. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah dalam kehidupan kristiani kita, kita telah mengalami penyucian jiwa kita oleh ketaatan kepada kebenaran.
MENJAMAH REALITAS DALAM FIRMAN
Untuk dapat memahami apakah artinya menyucikan jiwa kita oleh ketaatan kepada kebenaran, kita harus jelas mengenai arti kebenaran dalam ayat ini. Kebenaran di sini adalah kebenaran yang menguduskan, yang adalah firman realitas Allah (Yoh. 17:17). Kebenaran dalam ayat ini bukanlah doktrin. Kebenaran adalah realitas yang terdapat dalam firman Allah dan yang disalurkan melalui firman Allah. Sebagai contoh, Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini.” Ini adalah perkataan ilahi. Namun, perkataan ini tidak seharusnya menjadi doktrin bagi kita, sebagaimana dengan banyak pembaca dari Yohanes 3:16. Membaca ayat ini hanya secara doktrinal berarti memiliki pengertian alamiah. Pengertian alamiah ini adalah milik Iblis, karena Iblis itu berada di belakang pengertian alamiah kita. Jika pengertian alamiah kita menduduki kita sepenuhnya, hal itu menjadi setani. Jika kita ingin melampaui pengertian alamiah dalam memandang Yohanes 3:16, kita perlu menjamah realitas yang ada dalam perkataan yang pendek ini dan yang disalurkan melaluinya. Ketika kita membaca, “Allah begitu mengasihi dunia,” kita perlu bertanya kepada diri sendiri apakah kita mengalami kasih ini. Kita seharusnya berkata, “Allah begitu mengasihi dunia. Apakah dunia ini termasuk aku? Apakah perkataan ini berarti bahwa Allah begitu mengasihi aku?” Setiap orang yang membaca Yohanes 3:16 dengan cara ini akan diselamatkan. Orang yang sedemikian ini akan berkata, “Ya Allah, terima kasih kepada-Mu karena dunia ini termasuk aku. Engkau mengasihi dunia, berarti Engkau mengasihi aku.” Inilah yang dimaksud mengambil Yohanes 3:16 sebagai kebenaran, sebagai realitas, dan tidak hanya sebagai doktrin.
Satu Timotius 3:15 mengatakan bahwa gereja adalah rumah Allah yang hidup. Ayat ini mengandung doktrin, tetapi bagi kita tidak seharusnya hanya doktrin belaka. Perkataan Paulus tentang gereja sebagai rumah Allah yang hidup seharusnya menjadi kebenaran, menjadi suatu realitas. Kita perlu bertanya, “Apakah gereja di tempatku adalah rumah Allah yang hidup?” Jika kita membaca ayat itu secara demikian, kita akan menjamah realitas, menjamah kebenaran. Kebenaran adalah isi yang solid, realitas, yang ada di dalam firman Allah dan yang disalurkan melalui firman Allah kepada kita.
Satu Petrus ditujukan kepada kaum beriman Yahudi yang tersebar yang berada di dalam agama Yahudi sebelum mereka diselamatkan. Mereka memiliki banyak pengetahuan tentang perlambangan dalam Perjanjian Lama. Ketika mereka mendengar Injil dan pengajaran para rasul, mereka menjamah realitas. Melalui pemberitaan Injil dan pengajaran para rasul, kebenaran, realitas dalam firman Allah diberitakan kepada orang-orang Yahudi. Hasilnya, mereka mendengar realitas yang terkandung dalam firman Allah. Inilah kebenaran.
Kita tidak seharusnya hanya menerima doktrin dari firman Allah — kita seharusnya menjamah realitas. Injil dan pengajaran para rasul berisikan realitas, dan realitas ini telah disalurkan kepada kaum beriman Yahudi. Kaum beriman Yahudi yang kepadanya Petrus menulis surat dalam Surat Kirimannya yang pertama telah menerima kebenaran, realitas dari Injil dan dari pengajaran para rasul.
MENYIAPKAN PIKIRAN KITA
DAN MENYUCIKAN JIWA KITA
Namun, setelah kaum beriman menerima kebenaran ini, realitas ini, para penganut agama Yahudi datang kepada mereka dan mengingatkan mereka akan latar belakang mereka dalam agama Yahudi. Pembicaraan para penganut agama Yahudi mengacaukan dan mengganggu dan menyebabkan pikiran kaum beriman Yahudi mengembara meninggal kan kebenaran. Mungkin salah seorang dari kaum beriman Yahudi berkata kepada istrinya, “Pengajaran Petrus itu nyata, bukan? Lalu mengapa hal itu bertentangan dengan banyak hal yang kita dengar dari orang tua kita? Bahkan kelihatannya beberapa pengajaran Petrus berlawanan dengan pengajaran Musa. Kita sungguh-sungguh ada masalah. Percayakah Anda bahwa bapa kita mengajarkan sesuatu yang salah? Mengapa Petrus mengajarkan hal-hal yang berbeda dengan apa yang kita dengar di waktu yang lampau?” Hal ini mengilustrasikan latar belakang Petrus menulis Surat Kiriman ini.
Dalam ayat 13 Petrus berkata, “Sebab itu, siapkanlah akal budimu (pikiranmu), waspadalah dan berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan kepadamu pada saat Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.” Kata “Sebab itu” pada permulaan ayat ini berdasar pada semua kebenaran ilahi yang ada dalam ayat 1-12. Masalah terpilihnya kita menurut pengenalan dini Allah tidak hanya doktrin, melainkan kebenaran, realitas. Adalah suatu realitas bahwa Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus telah melahirkan kita kembali kepada pengharapan yang hidup. Selain itu, adalah suatu kebenaran bahwa pengharapan yang hidup ini adalah suatu warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu, yang disimpan bagi kita di surga. Dalam kedua belas ayat ini kita memiliki sejumlah besar kebenaran, realitas.
Dengan semua kebenaran ini sebagai dasar, Petrus mendorong kita untuk menyiapkan pikiran kita dan waspada. Kita tidak seharusnya membiarkan pikiran kita mengembara, dan kita tidak seharusnya mabuk atau terbius. Waspada adalah tidak terbius, siuman dari pingsan. Karena itu, dalam ayat 13 Petrus menyuruh orang beriman Yahudi melupakan latar belakang agamawi mereka, waspada, dan tidak lagi mengembara dalam pikiran mereka.
Sebagaimana para penganut agama Yahudi mencoba mempengaruhi kaum beriman Yahudi, hari ini orang-orang tertentu mungkin mencoba mempengaruhi mereka yang berada dalam pemulihan Tuhan. Sebagai contoh, seorang saudara muda mungkin mengasihi pemulihan Tuhan dan memuji Tuhan karena dia berada dalam pemulihan. Tetapi kemudian seorang sanak keluarga yang adalah seorang pastur dengan gelar teologia mengunjungi saudara ini dan berkata, “Apa yang kamu maksud dengan ‘pemulihan’? Aku memiliki gelar master dari sebuah seminari, tetapi aku tidak pernah mendengar tentang pemulihan. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa Tuhan memiliki pemulihan?” Saudara muda itu mungkin tidak tahu harus berkata apa. Kemudian, dia mungkin merasa tidak gembira dan mulai ada keraguan di dalam pikirannya mengenai pemulihan. Dia mungkin berkata kepada diri sendiri, “Aku memang telah dibantu oleh ministri dalam pemulihan Tuhan. Tetapi bagaimana dengan pastur ini yang bergelar master dalam teologi? Dapatkah dia sepenuhnya salah tentang pemulihan?” Apa yang perlu saudara ini lakukan adalah menyiapkan pikirannya.
Menyiapkan pikiran kita sesungguhnya adalah menyu-cikan jiwa kita. Setiap kali pikiran kita mengembara, jiwa kita tidak bersih. Pikiran yang menyimpang membuat pikiran kita mengembara. Pikiran yang menyimpang ini bisa memasuki pikiran kita sebagai panah api. Ketika pikiran kita mulai mengembara, jiwa kita menjadi tidak bersih. Jika situasi kita demikian, kita perlu menyucikan jiwa kita. Tetapi bagaimana kita dapat menyucikan jiwa kita? Kita memurnikan jiwa kita melalui menyiapkan pikiran kita, menaruhnya pada satu hal, tidak mengizinkannya mengembara.
Panah api dari pikiran yang menyimpang tidak hanya mengganggu pikiran kita, tetapi juga mengotori emosi dan tekad kita. Akibatnya, kita tidak bersih di dalam Tuhan dan di hadapan Tuhan. Hal ini membuat kita sulit bagi kita untuk memuji Tuhan dengan tulus.
Marilah kita lihat lagi contoh dari saudara muda yang dipengaruhi oleh sanak keluarga yang adalah seorang pastur. Pembicaraan dari pastur itu membawa ketidakmurnian ke dalam emosi saudara tersebut. Tidak hanya pikiran yang menyimpang menyebabkan pikirannya mengembara dari sasaran pemulihan Tuhan, itu juga menyebabkan emosinya menjadi tidak bersih, tidak murni, yaitu memiliki lebih dari satu kasih. Emosi yang tidak murni dapat dibandingkan dengan wanita yang memiliki lebih dari satu kekasih. Dia mengasihi suaminya, tetapi dia juga mengasihi orang lain. Itu adalah perzinaan. Emosi kita seharusnya hanya ditujukan kepada Tuhan. Saudara yang mendengarkan perkataan dan pikiran yang berbeda itu telah membiarkan emosinya dicemari. Akibatnya, dia memiliki lebih dari satu tujuan. Di satu pihak, dia berada dalam pemulihan Tuhan; di pihak lain, dia memiliki keraguan terhadap pemulihan. Itu adalah suatu jenis pencemaran.
Pencemaran ini juga dapat merusak tekad kita. Kita sulit mengambil keputusan, karena kita memiliki dua sasaran. Karena itu, seluruh jiwa kita menjadi tidak murni. Pikiran kita mengembara, emosi kita terbagi, dan tekad kita terusak. Dalam kasus yang sedemikian ini, kita perlu penyucian jiwa kita.
Allah tidak akan menyucikan jiwa kita bagi kita. Kita perlu melakukan hal ini sendiri melalui ketaatan kita kepada kebenaran yang kita dengar dan terima. Misalkan seorang saudara bergumul sejangka waktu mengenai pemulihan Tuhan. Akhirnya, demi belas kasihan Allah dan pergerakan dari Roh yang menguduskan di dalam dia, dia menyatakan, “Puji Tuhan! Pikiranku disiapkan dengan satu tujuan. Emosiku sepenuhnya ditujukan kepada satu Persona yaitu Tuhan itu sendiri. Aku tidak memiliki sasaran yang lain untuk dikasihi. Karena itu, tekadku akan membuat keputusan yang kuat: aku bagi Tuhan, dan aku bagi pemulihan Tuhan. Aku tidak mempedulikan apa-apa lagi.” Ini adalah ketaatan kepada kebenaran. Ketaatan yang sedemikian ini kepada kebenaran menjadi sarana yang dengannya kita menyucikan jiwa kita. Karena itu, dalam ayat 22 Petrus memberi tahu kaum beriman Yahudi bahwa mereka telah menyucikan jiwa mereka dengan ketaatan kepada kebenaran. Kebenaran ini disalurkan dalam firman pengudusan Allah.
SEHINGGA KITA DAPAT MENGAMALKAN
KASIH PERSAUDARAAN YANG TULUS IKHLAS
Dalam ayat 22 Petrus mengatakan bahwa kita menyucikan jiwa kita oleh ketaatan kepada kebenaran sehingga kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Karena penyucian jiwa kita menyebabkan seluruh diri kita terpusat kepada Allah, maka kita dapat mengasihi-Nya dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita, dan dengan segenap pikiran kita (Mrk. 12:30), hasilnya ialah kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Kita dengan membara dari hati mengasihi semua orang yang Allah kasihi. Pertama, kelahiran kembali Allah menghasilkan kehidupan yang kudus. Kemudian pengudusan-Nya (penyucian) menghasilkan kasih persaudaraan.
Apa arti kata “tulus”? Artinya tidak berpura-pura atau tidak munafik; secara khusus, tulus berarti tidak mengenakan topeng. Berpura-pura berarti mengenakan topeng untuk menyembunyikan apa yang sesungguhnya kita rasakan. Berpura-pura adalah menjadi sesuatu yang bukan kita. Kasih persaudaraan yang tulus ikhlas adalah kasih persaudaraan yang murni, tanpa kepura-puraan, adalah kasih persaudaraan tanpa topeng apa pun. Dalam ayat 22, kata “tulus” ini sangat penting. Hal ini menunjukkan bahwa melalui penyu-cian jiwa kita, semua topeng telah disingkirkan.
Jika seorang saudara mempunyai pemikiran yang berbeda mengenai pemulihan Tuhan, dia mungkin masih mengasihi saudara-saudara, tetapi kasih itu akan pura-pura. Ini berarti kasihnya merupakan kasih bertopeng. Topeng itu terpasang karena saudara itu memiliki keraguan mengenai pemulihan. Jika dia tinggal dengan yang lainnya di perumahan saudara, dia kelihatannya masih mengasihi saudara-saudara lainnya. Tetapi dia tidak memiliki kasih yang tulus ikhlas, kasih yang tanpa topeng terhadap mereka. Namun, jika dia memutuskan untuk menaati kebenaran dan dengan ketaatan itu menyucikan jiwanya, penyucian itu akan menghasilkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Kemudian dia akan mengasihi saudara-saudara tanpa topeng.
Sering kali kaum saleh mengenakan topeng dalam hidup gereja. Mereka mungkin mengasihi satu sama lain, tetapi itu adalah kasih dengan topeng. Alasan bagi kasih yang pura-pura ini adalah kaum beriman tidak menyucikan jiwa mereka. Mereka tidak menyiapkan pikiran mereka bagi pemulihan Tuhan, agar memusatkan emosi mereka terpusatkan dan tekadnya dengan kuat membuat keputusan; karena itu, segala sesuatu yang mereka kerjakan, mereka kerjakan dengan topeng. Mereka mungkin menyadari bahwa selama mereka berada dalam hidup gereja mereka perlu berperilaku berdasarkan kasih. Tetapi secara batiniah mereka ragu-ragu, dan jiwa mereka, termasuk pikiran, emosi, dan tekad, telah tercemar. Kaum beriman ini perlu menyucikan jiwa mereka dengan menaati kebenaran.
Ketika kita menyucikan jiwa kita dengan ketaatan kita kepada kebenaran, kita dapat mengasihi satu sama lain dengan membara dari hati kita. Dalam ayat 22 terdapat penyucian jiwa kita dan mengasihi dari hati. Mengasihi dari hati berarti memiliki kasih yang tidak hanya berasal dari bagian jiwa kita, tetapi juga dari hati nurani kita. Hati nurani kita bersaksi bahwa kita mengasihi saudara-saudara dengan kasih yang tulus ikhlas. Ketika hati nurani kita memiliki kesaksian demikian, berarti kita mengasihi dari hati. Tetapi jika hati nurani kita tidak meneguhkan kasih kita atau bersaksi mengenainya, berarti kasih kita hanya berasal dari jiwa. Hal ini bukanlah kasih yang berasal dari hati, karena hati nurani bukanlah bagian dari jiwa, tetapi adalah bagian dari hati.
DILAHIRKAN KEMBALI MELALUI
FIRMAN ALLAH YANG HIDUP
DAN YANG BERHUNI
Bagian utama dari kalimat dalam ayat 22-23 adalah, “Bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas” adalah suatu klausa yang menerangkan subyek dari “Bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” Kemudian ayat 23 melanjutkan dengan kalimat penerang lain, “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah, yang hidup dan yang berhuni” (Tl.). Ayat ini menerangkan ayat 22. Setelah kita dilahirkan kembali, jiwa kita sudah disucikan untuk kasih persaudaraan. Kelahiran kembali dengan hayat ilahi adalah dasar, tumpuan, agar jiwa kita disucikan, dikuduskan, sehingga kasih persaudaraan kita tulus ikhlas. Bagian firman ini dimulai dan diakhiri dengan kelahiran kembali, yang menghasilkan kehidupan yang kudus terhadap Allah dan kasih persaudaraan terhadap orang kudus.
Ayat 23 menunjukkan bahwa kita telah dilahirkan kembali melalui firman Allah yang hidup dan yang berhuni. Kita tidak dilahirkan kembali dari benih yang dapat binasa. Benih adalah wadah hayat. Firman Allah, sebagai benih yang tidak binasa, mengandung hayat Allah. Karena itu, firman Allah hidup dan tinggal di dalam kita. Melalui firman ini kita dilahirkan kembali. Firman hayat Allah yang hidup dan yang tinggal di dalam kita inilah yang menyalurkan hayat Allah ke dalam roh kita untuk melahirkan kembali kita.
Kita boleh menafsirkan tulisan Petrus secara demikian: “Saudara dan saudari, tidakkah Anda tahu bahwa kita semua telah dilahirkan kembali? Kita telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang dapat binasa, tetapi dari benih yang tidak dapat binasa. Benih yang tidak dapat binasa ini ada di dalam firman yang hidup dan yang berhuni. Karena itu, kita telah dilahirkan kembali dari benih yang tidak dapat binasa melalui firman yang hidup dan yang berhuni. Perkataan Allah sesungguhnya bukan benih itu sendiri; sebaliknya, merupakan wadah dari benih itu. Karena alasan ini, benih datang melalui firman. Anda perlu menyadari bahwa Anda telah dilahirkan kembali dari benih yang tidak binasa yang disampaikan kepada kita dalam firman hidup Allah.”
Jika benih itu bukan firman Allah itu sendiri, lalu apakah itu? Benih itu adalah hayat kekal Allah. Hayat kekal Allah adalah benih yang mengandung gen ilahi. Kita semua telah dilahirkan kembali dari benih yang organik, ilahi, melalui firman ilahi.
Karena kita telah dilahirkan kembali secara demikian, kita perlu memperhatikan benih yang ada di dalam kita, dan kita seharusnya tidak mempedulikan perkataan apa pun yang menentang dari mereka yang beroposisi dengan pemulihan Tuhan. Kita tidak boleh mendengarkan perkataan mereka yang menentang, kita perlu memperhatikan benih ini. Kita seharusnya memeriksa segala sesuatu berdasarkan benih yang ada di dalam kita.
Selain itu, berdasarkan benih yang ada di dalam kita, benih ini diterima melalui kelahiran kembali, kita perlu menyucikan jiwa kita. Jangan mendengarkan perkataan yang menentang dari para agamawan. Sebaliknya, perhatikanlah benih yang ada di dalam. Siapkan pikiran Anda, konsentrasikan pada emosi Anda, dan kuatkan tekad Anda. Kemudian buatlah keputusan yang kuat bagi pemulihan Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan menyucikan jiwa kita. Jika Anda menyucikan jiwa Anda dengan cara ini, hasilnya adalah kasih persaudaraan yang tulus ikhlas.
Dalam ayat 24-25 Petrus melanjutkan perkataannya, “Sebab: ‘Semua daging (LAI: yang hidup) adalah seperti rum-put dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur. Tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’ Firman inilah Injil yang diberitakan kepada kamu.” Ayat-ayat ini tidaklah sedalam seperti ayat 22 dan 23, dan mudah dimengerti. Daging dalam ayat 24 mengacu kepada manusia yang jatuh. Seluruh umat manusia yang jatuh seperti rumput yang kering, dan kemuliaannya seperti bunga rumput yang gugur. Kaum beriman dulu seperti itu, tetapi firman Tuhan yang hidup dan yang tinggal, seperti benih yang ditaburkan ke dalam mereka melalui kelahiran kembali, telah mengubah sifat mereka, dan membuat mereka hidup dan tinggal selamanya.
Firman dalam ayat 23 mengacu kepada firman yang konstan (logos). Firman di sini (dipakai dua kali), mengacu kepada firman yang seketika (rhema). Ketika firman logos diucapkan kepada kita, firman itu menjadi firman rhema.
Dalam ayat 25 firman Tuhanlah yang tinggal selamanya. “Tuhan” mengacu kepada Allah dalam ayat 23, menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah.
Dalam ayat 25 Petrus berbicara mengenai “firman inilah Injil yang diberitakan kepada kamu.” Firman yang diberitakan oleh para rasul adalah Injil yang melahirkan kembali kaum beriman.