← Daftar isi Bagaimana Mempelajari Alkitab · bab 4/5

PRAKTEK MEMPELAJARI ALKITAB I. MENGALOKASI WAKTU

Setiap pembaca Alkitab harus mengatur waktu setiap hari untuk mempelajari Alkitab secara khusus. Waktu ini harus dipisahkan dari pembacaan yang ia lakukan saat “penyegaran pagi”. Pengalaman memberi tahu kita bahwa tidak baik juga jika kita terlalu banyak meluangkan waktu untuk belajar. Ketika kita menggunakan terlalu banyak waktu, kita biasanya tidak bisa mempertahankannya, hasilnya malah tidak menguntungkan. Kita harus memakai standar untuk diri kita sendiri yang memungkinkan kita bisa berhasil. Hamba Tuhan tidak perlu meluangkan waktu lebih dari dua jam setiap hari untuk mempelajari Alkitab. Biasanyam ketika kita mempunyai lebih banyak waktu, kita bisa belajar sampai tiga jam. Kita harus memutuskan hal ini setelah baik-baik mempertimbangkannya. Sekali kita membuat keputusan, kita harus setia melakukannya untuk beberapa tahun mendatang. Kita jangan mengubah jadwal kita setelah dua atau tiga bulan. Kita harus belajar ketat dan disiplin. Pembacaan kita jangan berubah-ubah. Kebebasan, tidak disiplin, dan pembacaan “inspirasi” jangan kita ikuti. Banyak orang terlalu ceroboh dalam pembacaan mereka. Mereka membaca selama beberapa jam dalam satu hari, kemudian tidak melakukannya di hari berikutnya. Ini menunjukkan kekurangan ketekunan. Sungguh kebiasaan yang sangat buruk. Kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan setelah kita mempertimbangkannya baik-baik dan berdoa untuk hal itu, dan setelah kita memutuskan, kita harus setia melakukannya dengan segenap hati.

Setelah kita putuskan untuk meluangkan waktu, misalnya satu jam per hari, kita harus membuat rencana untuk satu jam itu. Waktu itu bisa dibagi ke dalam beberapa periode, dan kita bisa menggunakan metode yang berbeda untuk setiap periode. Beberapa metode seperti menanam pohon yang baru bisa dilihat hasilnya setelah delapan atau sepuluh tahun mendatang. Metode lainnya malah seperti kebun sayur yang menuai setiap tahun. Metode yang tidak menghasilkan selama delapan atau sepuluh tahun seringkali membuat orang mudah putus asa. Itulah sebabnya perlu metode “kebun sayur”, metode yang menuai hasil setelah dua atau tiga bulan yang bisa mendorong orang untuk terus maju melakukannya. Akan mudah melelahkan jika kita melakukan hal yang sama selama satu jam, dan akhirnya kita mudah menyerah ketika kita tidak melihat hasilnya dengan cepat. Itulah sebabnya sangat masuk akal jika kita membagi waktu belajar kita ke dalam beberapa periode.

A.

Periode Pertama—untuk Subjek yang Lebih Serius

Misalnya kita punya dua puluh menit untuk periode pertama. Dua puluh menit ini dipakai untuk subjek yang lebih serius di dalam Alkitab. Perlu waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan hasil dari cara belajar seperti ini. Subjek seperti nubuat, lambang, dan kematian Tuhan Yesus perlu waktu bertahun-tahun sebelum kita bisa mendapatkan hasilnya. Mempelajari bagian peristiwa di atas gunung, nubuat di Bukit Zaitun, perumpamaan dalam Matius 13, perintah terakhir Tuhan dalam Injil Yohanes, dan pengajaran mengenai empat dispensasi jaman tidak akan memberi hasil dengan cepat. Kita harus meluangkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum kita bisa melihat sesuatu dari perkara tersebut. Jika kita ingin menemukan sesuatu dalam Perjanjian Lama pada subjek-subjek tersebut, kita harus mempelajari Kitab Kejadian dan Kitab Daniel. Kita juga harus membaca Kitab Keluaran, Kitab Imamat, dan Kitab Yosua. Jika kita ingin mengetahui lebih banyak mengenai nubuat-nubuat, kita harus mempelajari Kitab Zakaria. Buku pertama untuk dipelajari dalam Perjanjian Baru adalah Kitab Matius, setelah itu Kitab Roma. Setelah itu kita harus mempelajari kitab Wahyu atau Kitab Ibrani. Kemudian kita harus mempejari Injil Yohanes atau Surat-surat kepada gereja di Efesus maupun Gereja di Galatia. Setelah kita selesai mempelajari kitab-kitab ini, kita telah meletakkan dasar bagi diri kita dalam Perjanjian Baru. belajar seperti ini tidak memberikan hasil dengan cepat; kita harus membacanya berulang-ulang sebelum kita bisa mendapatkan sesuatu. Belajar seperti ini harus dilakukan pada periode pertama. Selama periode ini pikiran kita paling jelas, dan kita harus memperhatikan subjek yang lebih serius. Tentu saja, saya hanya memberikan suatu prinsip di sini. Semuanya kembali lagi pada bagaimana kita menghabiskan waktu kita secara spesifik.

Kita harus memperhatikan satu hal: setelah belajar selama dua puluh menit, kita mungkin tergoda untuk belajar sampai tiga puluh menit. Kita harus menang atas godaan ini. Jika kita telah memutuskan untuk belajar selama dua puluh menit, harus harus menjalankannya. Jika kita bisa menghindari godaan untuk menambah waktu, kita juga akan bisa menang atas godaan untuk mengurangi waktu, dari dua puluh menit menjadi sepuluh menit. Sekali kita sudah membuat keputusan di depan Tuhan, kita harus disiplin dan setia. Lebih baik kita tetap melakukannya selama sepuluh tahun daripada kita merdeka setelah sepuluh hari melakukannya. Kita jangan pernah kendor dan ceroboh. Kita harus belajar disiplin.

B. Periode kedua—untuk Subjek yang Lebih Ringan

Selama dua puluh menit, kita bisa mempelajari subjek yang lebih ringan, misalnya mempelajari kata-kata khusus. Di dalam Alkitab ada sedikitnya dua sampai tiga ratus kata yang harus dipelajari secara mendalam. Contohnya, kata darah yang dipakai dalam Alkitab sebanyak empat ratus kali. Kita harus melihat semua ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai darah, membuat catatan pada bagian yang penting, dan mengelompokkan ayat yang bermakna sama. Dengan cara ini kita menyusun sebuah konkordansi untuk diri kita. Ini lebih bermakna daripada membeli sebuah buku konkordansi di toko. Jika kita bisa menghafalkannya juga sangat baik. Setelah itu Roh Allah akan memberi kita wahyu. Ketika wahyu datang, kita bisa mengingat kembali ayat-ayat mengenai subjek itu. Kata panggilan telah dipelajari oleh beberapa saudara, yang mengelompokkan ayat-ayat mengenai kata itu ke dalam sepuluh bagian (lihat pada bagian XXVI dalam bab lima, “Berbagai Rencana untuk Mempelajari Alkitab”). Kita bisa meluangkan waktu dua puluh menit setiap hari mempelajari kata-kata tersebut. Dua puluh menit cukup untuk belajar seperti ini. Jangan berharap untuk menyelesaaikan belajar suatu kata dalam satu hari. Beberapa kata perlu waktu dua bulan. Belajar Alkitab itu perlu waktu. Kita tidak bisa sembarangan. Jika tidak, kita tidak akan memiliki pedang Roh melainkan hanya sebuah buluh yang tidak berguna. kiga harus menyelam ke dalam Firman dengan solid. Jika kita belajar dengan solid, pemberitaan kita pun akan solid. Jika kita belajar dengan sembarangan, pemberitaan yang kita lakukan pun akan sembarangan. Misalnya, ada seorang datang kepada kita dan memberitahu kita bahwa darah bisa memberi kita hidup yang baru. Jika kita mempelajari kata darah dengan teliti, kita tahu bahwa ajaran ini salah. Hidup yang ada di dalam darah adalah hidup dari jiwa, bukan kehidupan yang baru. Kita harus memperlengkapi diri kita dengan pengajaran mendasar dari seluruh Alkitab. Jika tidak, kita akan mudah menerima ucapan orang dan disimpangkan oleh kekeliruan mereka. Pengetahuan akan pengajaran mendasar dari seluruh Alkitab tidak datang kepada kita secara instant. Kita harus mempelajari setiap kata dengan harti-hati sebelum kita bisa mengetahui apa yang seluruh Alkitab katakana. Saudara saudari muda harus serius dalam belajar kata-kata Alkitab. Jika kita bisa mempelajari beberapa kata dalam satu tahun, kita akan bisa mempelajari dan menguasai kata-kata penting dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam waktu sepuluh tahun.

C.

Periode Ketiga—Mengumpulkan Fakta

Dalam periode ketiga, kita harus meluangkan waktu mengumpulkan fakta-fakta. Kita harus melakukan hal ini setiap hari. Apa yang harus kita kumpulkan? Semua benda-benda material dalam Alkitab, seperti emas, perak, tembaga, dan besi, yang memiliki makna khusus. Batu-batu berharga dalam Alkitab juga memiliki makna khusus. Kita jangan menganggapnya hal yang kecil. Benda-benda tersebut menempati bagian penting dalam menginterpretasikan Alkitab. Mengapa ular tembaga? Mengapa Wahyu 1:15 mengatakan bahwa kaki Tuhan bagaikan ”tembaga membara di dalam perapian”? Mengapa kepala patung dalam mimpi Nebukadnezar adalah emas? Mengapa beberapa perkakas dalam bait terbuat dari emas? Mengapa tabut dilapisi emas, bukan perak? Mengapa dasar tabut terbuat dari perak? Dalam Zakaria 5 kita menemukan pimpinan. Hal itu mengacu pada apa? Kita harus mempelajari hal tersebut secara seksama sebelum kita bisa memahami maknanya. Selama periode waktu ini, kita harus mengumpulkan semua fakta dan menulis ayatnya satu per satu. Kemudian, kita menggunakan waktu peride pertama untuk mempelajari dan memahaminya, atau kita bisa melakukannya pada periode waktu yang kedua. Dengan kata lain, selama periode ketiga kita mengumpulkan bahan untuk dipelajari pada periode waktu pertama dan kedua. Kitab Efesus menyebutkan mengenai roh sebanyak lima belas kali. Kita bisa menggunakan periode waktu ketiga untuk menemukan contoh kelima belas ayat tersebut. Efesus 1:3 mengatakan mengenai meterai Roh, dan kita bisa menuliskan semua ayat dalam Perjanjian Baru yang berbicara mengenai meterai. Efesus 1:17 mengatakan mengenai roh hikmat dan wahyu, dan kita bisa mencatat semua ayat yang berhubungan dengan roh hikmat. Setelah kita mengumpulkan dan meringkas fakta-fakta itu, kita bisa mempelajarinya selama dua puluh menit pertama atau pada periode waktu yang kedua. Jika kita tidak memiliki fakta yang terkumpul dan meringkasnya, belajar kita akan tidak berdasar dan akurat.

D.

Periode Keempat—Parafrase

Periode keempat adalah sepuluh menit memparafrasekan Alkitab. Ketika kita memiliki pemahaman yang segar atas bagian Firman, kita harus menulis seluruh bagian itu secara sederhana dan mudah dimengerti orang lain. Seorang yang terlatih dengan latihan ini akan menemukan makna dan hubungan setiap bagian dalam Alkitab. Ini perlu kerja yang halus. Perlu beberapa hari memparafrasekan satu ayat. Kita harus menjamah pemikiran Roh Kudus dengan roh kita, dan kita harus membuka diri kita menerima kesan yang tepat. Pemikiran kita harus sesuai dengan pemikian penulis Alkitab. Kita harus menggunakan ekspresi dasar yang sama, lalu dengan hanya sedikit penjelasan kita untuk memperjelas artinya.

Parafrase harus dilakukan paragraf demi paragraf. Memparafrasekan sebuah ayat pada satu waktu terlalu sedikit, dan memparafrasekan sebuat pasal pun terlalu singkat. Kita harus mengelompokkan beberapa ayat bersama yang membentuk sebuah bagian, membaca seluruh bagian, dan kemudian memparafrasekannya ayat demi ayat.

Parafrase berbeda dari menerjemahkan. Menerjemahkan itu singkat, tidak detail. Tentu saja, kita jangan terlalu banyak menulis dalam parafrase kita, jika tidak kita akan menemukan ternyata kita terlibat dalam sebuah penjelasa. Parafrase melibatkan penerjemahan dan sedikit penjelasan. Parafrase terdiri dari kedua hal tersebut. Penjelasan merupakan suatu pemaparan Alkitab dengan kalimat kita sendiri, sedangkan parafrase merupakan pengutaraan dari suatu bagian dalam pengertian sang penulis Alkitab itu sendiri. Terjemahan hanya memindahkan arti dari teks asli, sedangkan parafrase menambahkan sedikit penjelasan kita atas bagian itu. Itulah sebabnya parafrase merupakan pekerjaan yang berdasar pada penjelasan dan penerjemahan. Dalam parafrase kita mempertahankan keaslian sang penulis Alkitab, sementara di sana sini kita menambahkan penjelasan kita sendiri. Parafrase seperti ini membantu orang lain memhami kata-kata di dalam Alkitab yang tidak mereka mengerti. Mari kita lihat lagi beberapa contoh berikut.

Roma 1:1 mengatakan, “Paulus, hamba Yesus Kristus…”(KJV). Kita bisa memparafrasekannya dengan mengatakan, “Paulus, seorang budak Yesus Kristus.” Paulus memakai kata hamba dengan pemikiran dirinya adalah seorang hamba yang terikat, seorang budak yang tidak memiliki kemerdekaan atas dirinya. Kita bebas ingin menafsirkan arti kata budak atau tidak. Tetapi ini melibatkan parafrase jenis lain. Parafrase, bagaimana pun juga, tidak perlu penafsiran. Jika kita mencoba untuk menafsirkan ayat ini, kita bisa menulis demikian, “Aku, Paulus, terjual kepada dosa. Tetapi darah Tuhan Yesus telah membeli aku, dan sekarang aku telah menjadi budak-Nya”. Jika kita menulis orang lain akan lebih mengerti mengenai hak Tuhan dan persembahan diri kita. Kita terjual kepada dosa tetapi Tuhan telah menebus kita. Sekarang kita suka melayani Dia, memilih melayani Dia, dan kita rela memberi diri kita untuk melayani_nya. Kita menjadi budak-Nya atas dasar pembelian-Nya dan melalui pilihan kita. Ketika kita memerinci alasan Paulus menjadi seorang hamba, kita membuat perkataannya menjadi jelas.

Frase berikutnya mengtakan, “Dipanggil menjadi rasul.” Kita mudah untuk berpikir bahwa Paulus dipanggil menjadi seorang rasul. Sebenarnya, frase ini harusnya diterjemahkan “rasul yang terpanggil” atau “dipanggil sebagai rasul” menurut bahasa aslinya. Dia tidak dipanggil untuk menjadi seorang rasul, dia adalah rasul yang terpanggil. Dalam ayat 7 kita menemukan hal yang sama: “Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus” (KJV). Kata menjadi mewakili masalah yang sama. Banyak orang telah menjadi orang percaya selama hidup mereka, tetapi mereka tetap tidak menganggap diri mereka sebagai orang kudus. Menurut bahasa aslinya, kata yang sebenarnya adalah “dipanggil menjadi orang-orang kudus”. Ini artinya mereka dipanggil sebagai orang kudus. Bukan dipanggil untuk menjadi kudus. Kata dipanggil merupakan kata sifat, bukan kata kerja. Ini menunjukkan jenis rasul dan jenis orang kudus sebelumnya yang menjelaskan suatu kondisi, bukan tindakan. Keuntungan dari parafrase adalah menemukan fakta-fakta Alkitab melalui setiap frase dan ekspresi.

Mari kita lihat Roma 6:6 yang mengatakan, “Manusia lama kita telah turut disalibkan dengan-Nya.” Ayat ini bisa diekspresikan dalam berbagai cara yang berbeda. Misalnya, “Sejak manusia lama saya telah disalibkan dengan-Nya, saya tidak perlu lagi disalibkan.” Jika penekanan kita pada bagaimana manusia lama kita disalibkan denga-Nya, kita bisa berkata, “Karena Allah telah meletakkan kita di dalam Kristus, kita disalibkan juga bersama dengan-Nya.” hal ini berdasar pada ayat 11, yang mengatakan, “Kamu telah mati terhadap dosa…dalam Kristus Yesus.” Karena kita ada di dalam Dia sehingga kita bisa bersama dengan-Nya. Dasar kita bisa bersama dengan-Nya adalah karena kita ada di dalam-Nya. Tanpa berada di dalam Kristus, kita tidak akan pernah bisa bersama dengan-Nya. Mereka yang tidak di dalam Kristus tidak bisa disalibkan dengan-Nya. Hanya mereka yang yang ada di dalam Kristus yang bisa disalibkan dengan-Nya. Karena Allah telah meletakkan kita di dalam Kristus, kita bisa disalibkan dengan-Nya. Tujuan membuat parafrase adalah membuat sebuah kalimat menjadi jelas. Setiap ayat memiliki beberapa kata penting, dan kita harus memperhatikan kata-kata-kata itu. Jika kita menjumpai ayat yang tidak kita mengerti, kita harus meminta Tuhan menerangi kita sehingga kita bisa mengekpresikan ayat itu dengan bahasa yang lebih sederhana daripada bahasa aslinya dan mendapatkan pengutaraan yang lebih singkat daripada penjelasannya. Setiap kali kita menggarap suatu ayat, kita harus bertanya, ”mengapa ayat ini sulit dimengerti?” Kita harus menghadapi semua istilah penting di dalam Alkitab sebelum kita bisa memparafrasekannya. Sebagai contoh, jika kita mempelajari kata “tersalib” dalam bahasa Yunani, kita akan menemukan bahwa kata itu mengacu pada fakta yang sudah rampung. Itulah sebabnya, kita bisa menulis ulang ayat ini: “Diri kita yang tersalib dengan Kristus nerupakan fakta yang sudah rampung; ini bukan pengalaman yang harus kita kejar.” Kristuslah yang sudah tersalib. Bagi Dia ini merupakan suatu pengalaman, tetapi bagi kita tidak perlu lagi penyaliban yang terpisah; kita sudah disalibkan di dalam Dia. Bagi kita ini suatu fakta. Maa, ada lebih dari satu cara untuk memparafrasekan ayat ini. Setiap orang memiliki caranya sendiri. Semua bergantung pada berapa banyak dia memerlukan penjelasan pada suatu subjek. Apapun yang kita tulis, kita harus melakukannya sedemikian rupa sehingga mereka yang tidak mengerti ayat itu akan bisa memahaminya.

Misalnya lagi 1 Korintus 3:1 yang mengatakan, “Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.” Kata tetapi ini memiliki makna yang dalam. Artinya, “Kamu telah menadi orang percaya selama ini. Kamu harus tahu apakah artinya menjadi rohani dan apakah artinya di bawah pendisilinan Roh Kudus. Tetapi dalam banyak hal kamu masih di bawah pengaruh daging, dan kamu harus tunduk pada kuasa Roh itu. Saya tidak bisa membantu tetapi saya menganggap kamu sebagai manusia duniawi.” Jika kita mempertimbangkan sejenak ekspresi yang dipakai Paulus bayi di dalam Kristus, kita akan menyadari bahwa Paulus sebenarnya ingin mengatakan, “Kamu telah menghabiskan terlalu banyak waktu. Bagi seorang beriman baru jika ia di bawah pengarauh daging masih bisa dimaafkan. Tetapi kamu sudah menjadi orang yang percya selama bertahun-tahun, dan kamu masih di bawah kuasa daging. Bahkan sampai hari ini, kamu masih belum bertumbuh di dalam Kristus, dan saya masih harus menyusui kamu.” Apapun pengertian kita mengernai bagian ini, kita harus mencatatnya. Dengan cara ini, ketika kita membaca tulisakn kita lagi, kita akan jelas mengenai arti bagian ini. Jika kita berlatih menerapkan hal ini selama sepuluh menit setiap hari, setelah kita menyelesaikan kitab 1 Korintus kita akan menangkap pemikiran Paulus dalam surat ini.

Pembagian waktu di atas dilakukan pada pengalaman setiap orang. Dalam prakteknya, setiap orang bisa membuat pengaturan yang tepat berdasarkan keperluannya di hadapan Allah.

II. MEMBUAT CATATAN

Saat kita membaca Alkitab, kita harus membuat catatan. Setiap murid Alkitab harus membuat catatan. Kita perlu buku notes kecil, dan kita juga perlu notes besar. Kita harus selalu membawa notes kecil di saku kita untuk mencatat pemikiran kita setiap waktu. Kita juga harus menuliskan pertanyaan kita. Selain itu, kita juga perlu membawa notes besar, sebagai catatan gabungan. Kita harus menuliskannya secara sistematis di dalam buku ini semua hal yang muncul dalam pikiran kita dan semua bahan yang telah kita kumpulkan. Kita harus mengkategorikan informasi ini sebagai referensi kita. Walnya kita tidak perlu membuat pembagian yang terperinci; kategorinya bisa dalam bentuk umum. Jika kita ingin mengkategorikan bahan kita dalam subjek teologi, kita bisa membaginya dalam lima bagian, mengenai Bapa, Putra, Roh, gereja, dan jaman yang akan datang. Boleh juga membuat pembagian yang lebih terperinci. Nubuat mengenai gereja bisa dikategorikan di bawah topik mengenai gereja. Semua doktrin dari pembenaran sampai pengudusan bisa dikelompokkan di bawah topic gereja. Awalnya kita bisa mempunyai lima notebook, masing-masing untuk setiap kategori. Ketika kita ada bahan lebih, kita bisa membuat pembagian lagi.

Kita harus berlatih mencatat. Misalnya, ketika membaca kita Roma, kita harus mencatat raja atau meraja yang dipakai sebanyak lima kali dalam 5:14, 17, dan 21. Kata terlebih lagi dipakai empat kali dalam ayat 9, 10, 15, dan 17. Kita harus membuat catatan mengenai semua hal ini. Markus 13:9 mengatakan, “Bagi keperluan-Ku,” ayat 13 mengatakan “Karena nama-Ku,” dan ayat 20 mengatakan, “Karena orang-orang pilihan.” Mengapa ayat-ayat tersebut mengatakan tiga hal yang berbeda? Mari kita lihat Matius 24 dan 25. Berapa banyak pertanyaan yang diajukan oleh murid-murid kepada Tuhan di bukit Zaitun? Berapa banyak ayat yang menjawab suatu pertanyaan dan berapa banyak jawaban pertanyaan yang lain? Murid-murid terbatas dalam pengetahuan mereka. Pertanyaan mereka tidak saling berhubungan. Itulah sebabnya pertanyaan mereka tidak dicatat terlalu banyak. Tetapi Tuhan Yesus dalam jawaban-Nya mengutarakan hal yang luar biasa. Kita harus memperhatikan perkataan ini dan mencari jawaban Yesus dimulai dari ayat berapa dan mana jawaban-Nya yang merupakan perkataan tambahan dari-Nya. Dengan cara ini, kita bisa menangkap semua nubuat yang diberikan di atas bukit Zaitu. Pikirkan juga mengenai “Kataku” dalam Yesaya 6:5, 8, dan 11. “Kataku” yang pertama merupakan pengakuan, yang kedua adalah konsikrasi, yang ketiga adalah persekutuan. Kita harus mencatat semua hal ini. Bahan-bahan seperti ini sangat bermanfaat bagi kita dan saudara saudari. Semua pembaca Alkitab yang baik adalah orang-orang yang rajin. Mereka tidak menjadi baik karena kebetulan.

III.PERLENGKAPAN

Mempelajari Alkitab seperti bekerja pada suatu proyek; kita perlu peralatan dan perlengkapan yang tepat.

A. ALKITAB

Kita harus mempunyai dua Alkitab berukuran besar untuk kita baca. Kita juga perlu Alkitab berukuran kecil untuk dibawa dalam perjalanan dan saat kita bersidang. Jika kita tidak bisa mempunyai dua Alkitab untuk kita baca, sedikitnya kita harus punya satu. Jangan yang berukuran terlalu kecil, karena jika terlalu kecil, kita bisa kehilangan makna yang ada di dalamnya. Ukuran hurufnya sedikitnya ukuran lima. Atau lebih baik lagi berukuran empat atau tiga. Ukuran dua terlalu besar dan biasanya dipakai untuk orang –orang tua. (Catatan: ukuran ini mengacu pada huruf Mandarin, ukuran besar maka hurufnya lebih kecil. Perbandingan dalam ukuran Inggris adalah ukuran lima kira-kira sembilan, dan ukuran dua kira-kira dua puluh empat.) Untuk belajar, jika kita punya dua Alkitab itu akan sangat baik. Dalam Alkitab yang satu kita bisa membuat tanda dan catatan. Yang satunya jangan dicoret-coret dengan catatan. Saat membaca Alkitab yang tanpa catatan, kita tidak akan dipengaruhi dengan pembacaan kita sebelumnya, dan setiap kali kita membaca suatu bagian, akan seperti membacanya pertama kali. Alkitab lainnya harus dipakai untuk tanda dan pemahaman. Kita bisa membuat catatan, menggaris bawahi dan melingkari suatu kata, atau menghubungkan bagian yang sama. Tetapi kita janga menghabiskan waktu terlalu banyak atau terlalu detail dengan hal ini. Untuk kesehatan kerohanian kita setiap hari, kita bisa memakai Alkitab yang tidak ditandai. Sedangkan untuk penelitian, kita bisa memakai Alkitab dengan catatan yang telah kita buat.

Versi Alkitab Mandarin yang terbaik adalah The Chinese Union Version. Terjemahan ini merupakan terjemahan terbaik yang ada di dunia saat ini. Salah satu alasannya adalah karena terjemahan ini diambil dari teks bahasa Yunani. Terjemahannya juga sangat tepat, bahkan lebih akurat daripada versi King James. Contohnya, dalam versi King James tidak membedakan “Yesus Kristus” dan “Kristus Yesus”. Tetapi versi Chinese Union sangat akurat dalam perbedaan itu. Jika kita bisa membeli beberapa Alkitab dengan versi yang berbeda itu akan sangat baik sehingga kita bisa membandingkannya. Salah satu terjemahan lain yang bagus adalah versi Wen-li (classical) Union. Dalam beberapa contoh, karakter Mandarin yang dipakai lebih baik daripada versi Chinese Union. Logat bahasa Mandarin tidak muncul seperti bahasa Mandarin kuno ketika ada terminology khusus. Misalnya, arti kata “menjadikan hidup” dan “membangkitkan” diterjemahkan fu-hwo dalam logat Mandarin. Tetapi Mandarin kuno membuat perbedaan antara keduanya. Yang satu ditulis fu-chi dan satunya fu-hwo.Dalam beberapa kasus logat Mandarin lebih ketat daripada Mandarin kuno, dan dalam beberapa kasus, keduanya juga benar. Salah satu versi lain yang bisa dipertimbangkan adalah versi Joseph (?). Dia adalah seorang Yahudi, dan setelah dia menjadi seorang Kristen, dia merasa perlu menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Mandarin. Untuk itu dia belajar Mandarin dan menerjemahkan Alkitab sendiri. Kita juga bisa membandingkan terjemahan Perjanjian Baru versi “Shin-Ju-Ku”. Penerbit The Christian Gospel Book Room juga telah mengerjakan terjemahan Injil Matius. Terjemahan itu bisa dipakai juga sebagai referensi. Akan tetapi versi terbaik tetap versi Chinese Union dan Wen-li Union version. Jika seorang membaca bahasa Inggris, dia bisa mencoba terjemahan Darby.

B. Konkordansi

Selain Alkitab, kita juga harus memiliki konkordansi. Salah satu yang terbaik adalah tulisan Courtenay H. Fenn. Meskipun isinya tidak terlalu lengkap. Di masa mendatang kita berharap akan menerbitkan sebuah konkordansi menurut bahasa Yunani asli. Jika Tuhan merahmati kita juga bisa menerbitkan konkordasi Perjanjian Lama.

C. Kamus Alkitab

Selain kedua perlengkapan di atas, kita juga perlu kamus Alkitab. Contohnya, kita perlu kamus untuk memberi tahu kita arti Urim dan Tumin, sejarah keenam Maria, dsb. Kamus bisa memberikan semua informasi ini. Tetapi kita harus memakai kamus yang memberikan bukti doctrinal. Salah satunya adalah Bible Encyclopedia tulisan Ou-Er. Buku ini bisa dianggap sebagai kamus Alkitab. Sayangnya, belum ada terbitan Mandarin. Mungkin ada yang bisa menemukan cetakan ini di perpustakaan atau di toko buku kuno.

D. Garis Besar Alkitab

Kita perlu buku lain untuk membantu kita membuat garis besar yang baik dari Alkitab. Kami sarankan buku Once a Year through the Bible (lih. Volume 2 Collected Works. Buku ini memiliki garis besar yang sangat baik. Banyak orang-orang di kekristenan memakai garis besar ini dalam studi mereka.

Buku-buku referensi ini berguna dalam studi Alkitab kita. Buku-buku ini adalah alat-alat yang tak tergantikan.