← Daftar isi Bagaimana Mempelajari Alkitab · bab 5/5

BERBAGAI RENCANA UNTUK MEMPELAJARI ALKITAB

Alkitab merupakan sebuah buku yang luar biasa. Di dalamnya ada enam-puluh enam buku dan ditulis oleh tiga puluh sembilan sampai empat puluh orang yang berbeda. Isinya benar-benar kaya. Untuk membaca buku ini, kita harus memiliki rencana. Tanpa rencana, kita tidak akan bisa mendapat keuntungan dari pembacaan kita. Dari sumber-sumber yang berbeda, kita telah mengumpulkan dua puluh delapan rencana untuk mempelajarinya. Jika kita memiliki waktu, kita bisa mencoba semua rencana ini satu per satu. Saudara yang lebih tua boleh memilih beberapa rencana.

I. TOKOH-TOKOH UTAMA

Ada banyak tokoh dalam Perjanjian Lama, seperti Adam, Habel, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Yosua, Daud, dan Salomo. Kita harus mempelajari sejarah mereka dengan sangat hati-hati. Kita harus belajar dari sejarah mereka tidak hanya dari Perjanjian Lama tetapi juga dari Perjanjian Baru.

Kesan umum yang bisa didapatkan adalah sejarah Adam hanya dapat ditemui dalam pasal dua dan tiga kitab Kejadian. Tetapi jika membaca dengan teliti, kita akan menemukan di dalam kitab Roma dan 1 Korintus ada pembahasan mengenai Adam, dan apa yang tertulis di dalamnya cukup penting. Hal lebih lanjut juga bisa ditemui dalam Efesus 5. Saat mempelajari sejarah Adam, kita harus mengetahui posisi Adam dalam rencana Allah, penciptaannya, ketidak berdosaan dan awal mula dosanya, hubungannya dengan Hawa, penghukuman dari Allah dan janji yang diterima setelah kejatuhannya, diusirnya dia dari Taman Eden, penghidupannya di luar Taman Eden, dan akhirnya hubungannya dengan Adam yang akhir. Jika kita meluangkan waktu tiga sampai empat bulan mempelajari hal ini dengan terperinci, kita akan mengerti banyak hal mendasar di dalam Alkitab.

Setelah kita mempelajari sejarah Adam, kita bisa melanjutkan dengan sejarah Habel. Kita harus membaca sejarahnya tidak hanyadalam kitab Kejadian tetapi juga dalam Ibrani 11. kita harus membaca semua catatan di dalam Alkitab yang berbicara mengenai Habel untuk menemukan pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Apakah alasan Allah menerima persembahan Habel dan menolak persembahan Kain? Banyak orang beranggapan bahwa persembahan Habel diterima karena ada darah. Tetapi hal ini terlalu kabur di dalam Perjanjian Baru dan tidak menjelaskan akar penyebab mengapa Allah menerima persembahan Habel. Tanggung jawab manusia di Taman Eden adalah menjaga dan memeliharanya. Setelah manusia berdosa, dia harus menggarap tanah untuk kebutuhan hidupnya, tetapi dalam keadaannya yang berdosa dia tidak boleh mempersembahannya kepada Allah. Kain mempersembahkan hasil tanah kepada Allah, sama dengan dia melupakan kejatuhan akibat dosa. Itulah sebabnya persembahannya tidak diterima. Jika seorang anak melakukan kesalahan besar dan tetap mendekati orang tuanya seperti tidak terjadi apa-apa, dia pasti tidak akan dimaafkan. Allah tidak bisa dipuaskan dengan orang berdosa yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Masalahnya dengan Kain adalah dia bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, meskipun dia telah berdosa. Namun Habel, mengetahui fakta mengenai dosa. Pada masa itu, manusia tidak memelihara domba sebagai makanan mereka. Hanya setelah peristiwa air bah manusia mulai makan daging (Kej. 9:3). Tujuan memelihara domba adalah untuk dipersembahkan kepada Allah. Domba dibunuh dan kulitnya dipakai sebagai pakaian yang menutupi (3:21). Allah ingin manusia mengakui dirinya adalah orang dosa. Habel datang kepada Allah menurut keinginan Allah tersebut, dan Allah menerima dirinya.

Kita bisa melanjutkan belajar kita dengan sejarah Nuh dan sejarah Abraham, Ishak, Yakub, dsb. dengan cara yang sama.

II. PEREMPUAN

Perempuan menempati garis khusus dalam Alkitab. Kita bisa mempelajari semua perempuan sebagai satu kategori. Kita bisa mempelajari Hawa dan menyelidiki penciptaannya, perkataannya, kelakuannya yang independen, kejatuhan dan penghukuman yang diterimanya, dan janji yang diterimanya dari Allah untuk menjadi ibu semua makhluk hidup. Kita bisa melanjutkannya dengan sejarah Sarah, Rebekah, Tamar, Ruth, Rahab, Hannah, Abigail, Sulami, dsb. kita bisa melanjutkan dengan perempuan dengan anak laki-laki yang disebutkan dalam Wahyu 12, pelacur besar dalam pasal tujuh belas, dan pengantin Anak Domba dalam pasal sembilan belas. Kita bisa melihat garis yang jelas di sini. Semua perempuan secara positif dan negatif melambangkan aspek perempuan—yaitu gereja.

III. LAMBANG-LAMBANG

Untuk mempelajari lambang-lambang dalam Perjanjian Lama, kita harus memiliki dasar Perjanjian Baru terlebih dulu. Perjanjian Baru bicara mengenai Kristus, penebusan-Nya, gereja, dan Roh Kudus. Keempat perkara tersebut merupakan perkara rohani yang sangat besar. Lambang-lambang utama yang ada dalam Perjanjian Lama merupakan lambang keempat perkara tersebut. Lambang-lambang itu juga mengenai Kristus, penebusan, gereja, atau Roh Kudus. Dalam Perjanjian Lama, kita melihat foto sebelum kita melihat personanya. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat personanya, kemudian kita kembali pada Perjanjian Lama untuk melihat fotonya. Jika kita telah melihat realitas Kristus, penebusan, gereja, dan Roh Kudus, akan lebih mudah bagi kita melihat lambang-lambang dalam Perjanjian Lama.

Penciptaan ulang dalam Kejadian 1 merupakan lambang penciptaan yang baru. Dalam pasal dua Hawa adalah lambang gereja dalam keadaannya yang tidak berdosa. Ketika kita sedang berpikir, kita memikirkan dosa karena kita tidak tepisah dari dosa. Tetapi Akkah menunjukkan kepada kita hubungan antara Kristus dan gereja yang terpisah dari dosa, karena hubungan mereka dimulai dalam Kejadian 2 bukan Kejadian 3. Adam berhubungan dengan Hawa dalam Kejadian 2. namun, hubungan mereka tidak ada kaitannya dengaan dosa, sama seperti Kristus dan gereja yang tidak terlibat dalam dosa. Ketika kita melihat gereja kita jangan pernah berpikir mengenai dosa. Di mata Allah gereja tidak ada dosa. Kematian Tuhan Yesus untuk orang-orang berdosa bertujuan ntuk pengampunan dosa. Tetapi kematian-Nya untuk gereja bukan untuk dosa melainkan untuk hayat. Dalam Kejadian 3 kita melihat daun pohon zaitun dan kulit binatang. Dalam pasal empat kita melihat persembahan. Kemudian, kita melihat Ishak. Siapakah Ishak? Apakah dia lambang gereja, Roh Kudus, penebusan, atau Tuhan Yesus? Ketika membaca Perjanjian Baru, kta bisa melihat bahwa Ishak melambangkan Tuhan Yesus. Ishak bukan hanya dilahirkan dari Abraham dan Sarah, melainkan dilahirkan dari janji. Maka, Ishak melambangkan Tuhan Yesus. Bagi Sarah, Ishak adalah putra tunggal yang dimilikinya. Ini sekali lagi sama dengan Tuhan Yesus. Bagi Abraham, segala sesuatu yang dimiliki Ishak merupakan warisan darinya, dan Ishak dengan sederhana menikmati semua warisannya. Dalam hal ini ia juga melambangkan Tuhan Yesus. Allah mengutus Roh Kudus ke dalam dunia. Roh menjamin gereja dan mempersembahkannya kepada Kristus sebagai istri Anak Domba. Ayah Ishak mengutus hambanya yang tua pergi ke negerinya dan mencari istri untuk anaknya, Rebekah, menjadi istri Ishak. Di sini ada hubungannya. Jika kita membandingkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita bisa menemukan banyak kesamaan lambang. Dalam kitab Galatia, Ishak melambangkan orang-orang kristen yang rohani. Ismail melambangkan orang-orang yang bersifat daging di dalam gereja, orang-orang yang berjalan menurut daging; sedangkan Ishak melambangkan orang-orang yang berjalan menurut roh. Ismail dilahirkan bagi Abraham melalui Hagar, yaitu daging. Abraham melambangkan usaha manusia. Ishak dilahirkan setelah Abraham menyerah tidak akan memiliki anak; dia dilahirkan dari janji Allah. Maka, dia melambangkan pekerjaan Roh Kudus. Ini hanya contoh dari salah satu lambang. Jika kita melihat pasal demi pasal dalam Alkitab, kita akan menemukan banyak lambang yang berbeda. Kitab yang paling banyak memiliki lambang adalah kitab Kejadian. Kita bisa mengatakan bahwa kitab Kejadian memberi banyak benih dalam seluruh Alkitab untuk bertumbuh.

Kitab Keluaran merupakan lambang keselamatan kita dari dunia. Paskah melambangkan pemecahan roti. Menyebrang Laut Merah merupakan lambang baptisan. Menggerutu dan berjalan di padan gurun merupakan lambang anak-anak Allah dalam kondisi mereka yang beraneka ragam. Air hidup melambangkan Roh Kudus

Tabernakel adalah lambang Tuhan Yesus saat Dia hidup di bumi. Juga melambangkan perjalanan hidup kita di dunia. Tabernakel tidak dibangun di atas lantai, tetapi dipasang di padang gurun. Kita harus menunggu sampai Yerusalem Baru sebelum kita bisa melihat jalan dari emas. Ketika kita menyebarangi dunia ini, kita memiliki hubungan yang mulia dengan Tuhan. Tujuan Allah bagi kita adalah Kanaa; Dia tidak mau kita tinggal di padang gurun.

Selanjutnya, kita melihat kitab Bilangan dimana bangsa Israel melewati empat puluh dua pos setelah mereka keluar dari Mesir sampai ke Kanaan. Setiap pos memiliki maknanya tersendiri. Ketika membaca nama-nama pos ini kita mendapatkan gambaran kondisi perjalanan manusia sampai ia masuk ke Kanaan.

Persembahan, perjamuan, dan segala peraturan mengenai pembersihan adalah lambang-lambang yang harus kita pelajari.

Kitab Yosua merupakan kitab dengan lambang-lambang yang sangat unggul. Saya tidak mengatakan semua lambang di dalamnya unggul, melainkan ada banyak hal yang unggul di dalam kitab ini. Untuk mengerti makna bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan dan peperangannya di Kanaan, kita terlebih dulu harus tahu Kanaan itu melambangkan apa. Beberapa orang berpikir Kanaan adalah surga. Tetapi jika Kanaan melambangkan surga, apakah akan ada peperangan di surga? Jika kita membaca dengan sangat teliti, kita akan menyimpulkan bahwa Kanaan tidak mungkin melambangkan surga. Kanaan merupakan lambang posisi kita yang surgawi. Ini sama denga perkara-perkara surgawi yang disebutkan dalam kitab Efesus. Di satu pihak, kita telah duduk bersama dengan Kristus di surga. Di pihak lain, kita berjuang melawan kekuatan roh di angkasa (Ef. 6:12). Ketika mempelajari lambang-lambang ini, kita jangan berhenti pada kitab Yosua; kita juga harus mempelajari kitab Efesus. Sebaliknya, kita juga harus mempelajari kitab Ibrani. Masuk ke Kanaan dalam kitab Yosua melabangkan dua hal: peperangan rohani (dalam kitab Efesus) dan perhentian (dalam kitab Ibrani). Perhentian di sini melambangkan kerajaan. Maka, Kanaan bukan lambang surga tetapi lambang perhentian kerajaan. Tidak semua orang yang melewati darah anak domba atau makan domba Paskah bisa masuk tanah Kanaan; melainkan hanya dua orang. Sisanya mati di padang gurun. Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dilih. Maka, Kanaan adalah lambang kerajaan. Masuk ke Kanaan melambangkan kemenangan kita meraja dalam kerajaan. Ketika kita jelas akan hal ini, kita akan melihat bagian mana dalam kitab Yosua yang menjadi lambang posisi yang surgawi di dalam surga hari ini dan bagian mana yang menjadi pahala di masa mendatang.

Tindakan-tindakan yang melanggar hukum dalam kitab Hakim-Hakim melambangkan hidup manusia yang bebas yang akhirnya berantakan.

Dalam kitab Samuel, kita melihat pemerajaan manusia dan kuasa Allah yang dipercayakan kepada manusia. Sebelum ada manusia yang sesuai dengan hati Allah dibangkitkan, sebelumnya ada manusia yang berkenan di hati manusia. Daud adalah manusia yang sesuai dengan hati Allah, tetapi sebelum dia ada manusia yang sesuai dengan hati manusia, yaitu Saul. Sangatlah jelas bahwa Saul melambangkan kemenangan antikristus. Kita melihat bagaimana raja yang dipilih Allah berperang dan bagaimana dia menikmati kedamaian. Kita melihat riwayat peperangan Daud dan kemuliaan Salomo. Kemenangan Saul melambangkan kondisi selama kesusahan besar, kemenangan Daud melambangkan kondisi setelah kesusahan besar, dan kemenangan Salomo melambangkan millenium. Semuanya merupakan lambang-lambang yang sangat jelas.

Pembangunan bait suci yang dilakukan oleh Salomo sekali lagi melambangkan Kristus yang mebangun gereja. Bait ada di Yerusalem, melambangkan sidang-idang gereja dan penyembahan dalam nama Tuhan, karena Allah menaruh nama-Nya di Yesualem. Hanya di Yerusalemlah yang diakui oleh Allah dan dimana Dia menaruh nama-Nya (1 Raja.14.:21). Ketika Yerobeam muncul, dia membangun mezbah di Betel dan Dan untuk penyembahan, dan Allah menghakiminya. Allah ingin manusia hanya menyembah di tempat dimana nama-Nya ada. Dia tidak ingin manusia menyembah di tempat lain. Selama waktu-waktu pemulihan, ada raja-raja yang memindahkan mezbah. Tetapi beberapa raja lainnya tidak memindahkannya. Ini adalah lambang bahwa banyak pemulihan dilakukan di dalam gereja. Kemudian, bait dihancurkan; ini lambang gereja menjadi sunyi. Setelah itu, Nehemia, Zakariah, Zerubabel kembali membangun bait. Meskipun bait yang dibangun tidak semulia bait yang telah dihancurkan, namun ada permulaan pemulihan untuk kembali pada tumpuan dasar. Inilah lambang pemulihan gereja. Pemulihan ini akan dilengkapi saat Tuhan datang kali kedua. Saat itu, gereja akan menjadi gereja yang mulia.

IV. NUBUAT

Sepertiga dari Alkitab berisi nubuat. Kita bisa mengelompokkan nubuat-nubuat di dalam Alkitab ke dalam dua kategori, yaitu mengenai kedatangan Kritus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua. Nubuat mengenai kedatangan-Nya kali pertama bisa ditemukan dalam lima kitab Taurat—Pentateuch, kitab Mazmur, dan kitab para nabi. Tuhan Yesus telah datang, dan kelihatannya nubuan mengenai kedatang-Nya tidak terlalu menggembirakan. Namun, untuk mempelajari nubuat, kita harus memperhatikan kedatangan-Nya kali perma. Kita haru mencari semua nubuat dalam Perjanjian Lama mengenai kedatangan-Nya yang pertama dan mencatat semuanya karena ini akan mengajari kita prinsip mengenai nubuat. Nubuat mengenai kedatangan-Nya kali kedua akan digenapi seperti nubuat kedatangan-Nya yang pertama.

Ada aturan untuk penjelasan segala sesuatu yang tertulis di dalam Alkitab. Apapun yang harus ditafsirkan secara rohani akan tertulid dengan teks itu sendiri. Contohnya, Wahyu 1 berbicara mengenai tujuh bintang di tangan kanan Tuhan sebagai pembawa pesan ketujuh gereja. Ini tidak seharusnya ditafsirkan secara literal, dan teksnya mengatakan demikian. Tujuh kaki dian, dimana Tuhan berjalan di tengah-tengah, mengacu pda gereja-gereja. Ini juga jelas tercantum dalam teksnya. Setiap lambang harus ditafsirkan secara roani. Dalam lambang, Adam tidak mengacu pada Adam secara literal, tetapi kepada Kristus, dan Hawa mengacu pada gereja. Akan tetapi, nubuat bisa ditafsirkan menurut dua perbedaan prinsip dasar. Nubuat bisa ditafsirkan secara rohani, dimana penggenapannya merupakan penggenapan dalam makna, atau bisa juga ditafsirkan secara literal, yang penggenapannya adalah literal. Misalnya, Matius 2:17-18 mengatakan, ”Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui nabi Yeremia:’Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-naknya dan ia tidak mau dihibur sebab mereka tidak ada lagi’.” Ini digenapi dalam makna. Pertimbangkan contoh Kis. 2:16 yang mengatakan, ”Tetapi itulah yang difirman Allah dengan perantaraan nabi Yoel.” Situasi yang bisa dilihat pada hari Pentakosta sama seperti yang dilukiskan dalam kitab Yoel. Ini juga penggenapan dalam makna. Menjelang kedatangan kali pertama Tuhan Yesus, banyak nubuat digenapi secara literal. Perawan mengacu pada perawan. Mesir mengacu pada Mesir. Tidak ada satu tulang pun yang dipatahkan bermakna tepat seperti itu. Semua digenapi secara literal. Karena banyak penggenapan secara literal mengenai kedatangan Tuhan kali pertama, maka kebanyakan penggenapan dari kedatangan-Nya kali kedua pun akan sama.

Beberapa nubuat berbicara mengenai orang-orang Yahudi, lainnya mengenai orang-orang Kafir, dann sisanya mengenai gereja. Setiga jenis nubat ini semuanya berbeda. Kebanyakan nubuat Musan dan Bileam berkaitan dengan orang Yahudi. Tentu saja, kita menemukan juga nubuat mengenai orang-orang Yahudi dalam kitab para nabi. Nubuat mengenai orang Kafir bisa dilihat dalam kitab Daniek. Kita harus memperhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan ketika Ia di dunia dalam Matius 24. wahyu 8-11, 13, 15-16, dan 18 semuanya nubuat mengenai orang Kafir. Nubuat mengenai gereja bisa ditemukan dalam Matius 13, Wahyu 2-3, 12, 14-15, 1 Kor. 15, dan 1 Tes 4. kita harus tahu dengan jelas mana nubuat yang mengacu pada orang Yahudi, orang Kafir, dan gereja.

Nubuat mengenai orang Yahudi bisa dibagi menjadi dua batang besar: mengenai hari Tuhan dan mengenai berkat bumiah dalam kerajaan.

Mengenai nubuat orang Kafir, kita harus memberi perhatian khusus yang dicuapkan selama ”masa orang Kafir” setelah pemusnahan bangsa Yahudi. Misalnya Daniel pasal 2, 4, dan 7, tujuh puluh minggu dalam pasal sembilan, dan seterusnya, termasuk kitab Wahyu, berisi nubuat untuk orang Kafir. Secara sederhana nubuat-nubuat ini pertama menggambarkan periode dari pemusnahan bangsa Yahudi sampai habis, yang mencakup seluruh sejarah dalam patung besar dalam Daniel 2. kedua, nubuat ini bicara mengenai sepuluh tanduk (sepuluh raja) di jaman akhir, tanduk lainnya (raja-raja yang lain), dan antikristus. Ketiga, nubuat ini bicara mengenai berkat yang dinikmati oleh orang Kafir dalam millenium.

Mengenai gereja, ada nubuat yang menggambarkan sejarah gereja selama dua ribu tahun, pengangkatan, meja penghakiman, kerajaan, dan kekekalan.

V. JAMAN-JAMAN

Allah menanggulangi manusia menurut jaman. Dalam setiap jaman Allah memiliki cara tersendiri dalam menghadapi manusia. Di satu jaman, Dia memakai satu cara. Di jaman yang lain, Dia memakai cara yang berbeda. Dalam satu jaman manusia diselamatkan melalui satu maksud. Di satu jaman lain Allah memiliki satu syarat akan tingkah laku manusia. Dalam jaman yang lain Dia memiliki syarat yang lain terhadap manusia. Jika kita tidak jelas mengenai perbedaan jaman, kita akan berpikir bahwa pernyataan dalam Alkitab itu terlalu membingungkan. Tetapi saat kita bisa membedakan jaman, kebingungan itu akan hilang.

Beberapa orang penyelidik Alkitab telah memisahkan sejarah ke dalam tujuh jaman. Tetapi menurut Alkitab, seharusnya hanya ada empat. Jaman pertama adalah jaman nenek moyang. Jaman ini dimulai dari Adam karena Roma 5:14 jelas mengatakan, ”Dari Adam sampai Musa.” Ini jaman pertama. Yang kedua adalah jaman hukum taurat, dari Musa sampai Kristus. Tetapi sampai poin mana jaman dalam sejarah Kristus ini berakhir? Tuhan Yesus mengatakan bahwa hukum taurat dan para nabi diakhiri oleh Yohanes Pembaptis (Mat. 11:13; Luk. 16:16). Maksud-Nya ialah jaman ini diakhiri oleh Yohanes. Jaman ketiga adalah jaman kasih karunia, dari kedatangan Kristus kali pertama sampai kedatangan-Nya kali kedua (Kis. 3:20-21). Meskipun Tuhan masih memperhatikan orang Yahudi di periode waktu ini, fokus perhatian-Nya ada pada orang Kafir. Kita berada dalam jaman kasih karunia. Jaman keempat adalah kerajaan, dari kedatangan Kristus kali kedua sampai akhir masa akhir jaman kerajaan (Why. 20).

Dalam setiap jaman kita harus memperhatikan posisi manusia yang sebermula, tanggung jawabnya, kejatuhannya, dan cara Allah menanggulanginya. Setelah kita mempelajari poin-poin ini dengan teliti, kita akan mudah memecahkan masalah yang kelihatannya bertentangan.

VI. TOPIK

Alkitab berisi banyak topik, termasuk: 1) penciptaan, 2) manusia, 3) malaikat, 4) dosa, 5) kerajaan satani, 6) keselamatan, 7)pertobatan, 8) persona Kristus, 9) pekerjaan Kristus, 10) hayat Kristus, 11) Roh Kudus, 12) kelahiran kembali, 13) hayat kekal, 14) jaminan kekal, 15) pengudusan, 16) pembenaran, 17) pemilihan, 18) pengampunan, 19) keadil benaran, 20) kebebasan, 21) hukum taurat, 22) inspirasi, 23) wahyu, 24) Tubuh Kristus, 25) para minister firman, 26) kedaulatan Allah, 27) kedatangan Kristus kali kedua, 28) penghakiman, 29) kerajaan, 30) kekekalan, dsb. Awalnya kita bisa mempelajari satu topik setiap tahun. Setelah sejangka waktu kita bisa belajar dua topik, bahkan sampai empat topik.

Misalnya, persona Kristus adalah suatu topik yang besar. Bagaimana kita harus memulainya? Kita bisa membagi topik ini ke dalam subtopik: 1) Dia adalah Allah, sebagai Allah, Dia memiliki aspek sebagai Firman, sama seperti aspek Diri-Nya sebagai Putra Allah. 2) Dia adalah manusia. Ini berhubungan dengan bagaimana Dia menjadi Yesus dan bagaimana Dia mengekspresikan Diri-Nya sebagai manusia. 3) Dia adalah Allah dan manusia. Dia tidur di atas perahu; ini menunjukkan bahwa Dia adalah manusia. Tetapi Dia bangun menghardik angin dan ombak; ini menunjukkan bahwa Dia adalah Allah. Dia menghadiri perjamuan nikah; ini menunjukkan Dia sebagai manusia. Tetapi pada pesta perjamuan itu Dia mengubah air menjadi anggur; ini menunjukkan Dia adalah Allah. Dia meminta air dari seorang perempuan Samaria; ini menunjukkan Dia sebagai manusia. Tetapi Dia menjelaskan kepadanya mengenai air hidup, yang menunjukkan Diri-Nya adalah Allah. 4) sejarah-Nya. Ini mengacu ketika Dia hidup di bumi. 5) Posisi-Nya hari ini, yaitu posisi setelah keterangkatan-Nya. 6) Posisi-Nya di masa yang akan datang, tempat-Nya dalam kemuliaan setelah Dia datang kembali.

Kita juga bisa mengelompokkan pekerjaan Kritus ke dalam kategori yang berbeda: 1) hubungan antara Persona dan pekerjaan-Nya, 2) Substitusi-Nya, 3) kepuasan-Nya atas permintaan Allah akan penebusan dosa, 4) pendamaian-Nya untuk manusia kepada Allah, 5) penerimaan-Nya atas manusia, 6) keimaman-Nya, dan 7) pekerjaan perataraan-Nya.

Hayat Kristus bisa dibagi ke dalam kategori berikut ini: 1) Kelahiran-Nya, 2) kematian-Nya, 3) kebangkitan-Nya, 4) keterangkatan-Nya, dan 5) kedatangan-Nya kembali. Saat membahas mengenai kelahiran-Nya kita harus mengetahui apa itu inkarnasi. Pandangan inti dari inkarnasi-Nya adalah segala sesuatu yang abstrak dan ilahi sudah menjadi konkrit dan manusiawi. Apakah kesabaran Allah? Kita tidak tahu apa itu, dan kita tidak bisa mengetahuinya. Tetapi Tuhan Yesus sudah datang. Bukan hanya Firman yang menjadi daging, tetapi Kesabaran pun menjadi daging. Kesabaran yang abstrak dan tidak bisa dilihat sekarang bisa diraba. Prinsip inkarnasi adalah prinsip Kasih menjadi daging, Kekudusan menjadi daging, Sukacita, Ketaatan, dsb. menjadi daging. Dengan kata lain, kebajikan Allah yang tidak terjamah sekarang terjamah. Ketika Allah menjadi manusia, apa yang abstrak menjadi bisa diraba. Yesus adalah standar manusia Allah yang dicari oleh Allah. Kita tidak bisa mencapai standar Allah. Alasan mengapa kita tidak bisa mendekati Allah adalah karena ada selubung, dan ketika selubung itu semakin terlihat cantik, semakin sulit bagi manusia untuk masuk. Tetapi syukur kepada Allah karena ada kematian. Apakah arti kematian? Di satu sisi, artinya penebusan; di sisi lain, artinya pengakhiran manusia lama. Kematian adalah akhir ciptaan lama, dan kematian Kristus adalah akhir dari seluruh ciptaan. Selubung atau tirai ini robek dari atas sampai bawah; inilah kematian. Setelah itu ada kebangkitan yang merupakan permulaan yang baru. Inilah ciptaan Allah. Ada hayat yang baru dan hayat ini tidak terikat oleh kematian. Kematian tidak bisa menahan hayat ini untuk hidup lagi. Kematian tidak memiliki kekuatan ini. Kebangkitan berarti melewati kematian dan pencobaan; inilah tanda kekuatan-Nya. Kemudian ada kenaikan, yang menang atas Iblis secara posisi. Iblis ada di bawah kit. Kenaikan Kristus telah membawa kita dalam tumpuan yang sama dengan diri-Nya. Kita sekarang menikmati kemenangan-Nya. Kedatangan Tuhan kembali merupakan manifestasi merupakan fajar dari urutan kekuasaan yang baru. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa inkarnasi berbicara standar Allah. Kematian membicarakan tentang pengakhiran ciptaan lama yang telah jatuh dan tidak memenuhi standar Allah. Kebangkitan membicarakan tentang permulaan yang baru, sedangkan keterangkatan berbicara mengenai posisi yang baru. Kedatangan-Nya kali kedua adalah manifestasi-Nya dalam kemuliaan. Betaa berharganya semua perkara ini di pandangan Allah!

VII. HUBUNGAN ALLAH DENGAN MANUSIA

Ada yang mengelompokkan hubungan Allah dengan manusia di dalam Alkitab menurut: 1) Allah, 2) manusia secara umum, yaitu keinsanian secara umum, 3) individu, 4) Allah-manusia, 5) Allah dan manusia, 6) Allah dalam manusia, 7) Allah atas manusia. Ini pembagian yang baik. Pertama, kita memiliki Allah; ini cukup jelas. Kedua, kita memiliki semua manusia, yaitu insani. Ini termasuk kejatuhan Adan dan dosa dan segala sesuatu yang tercakup dalam Adam. Ketiga, kita memiliki individu, yang mencakup dosa perorangan dan penghakimannya. Keempat, kita memiliki Allah-manusia, yang bisa kita lihat dalam kitab-kitab Injil; Tuhan Yesus adalah Allah-manusia. Kelima, kita memiliki Allah dan manusia, yang mencakup kebenran injil yang diberitakan dalan surat-surat kiriman. Keenam, kita memiliki Allah di dalam manusia, yang membahas semua pekerjaan Allah dalam manusia, termasuk kebenaran paling dalam yang ada dalam surat-surat kiriman. Ketujuh, kita memiliki Allah atas manusia, yang mengacu pada jaman kerjaan, ketika Allah akan menjadi Raja atas semua manusia. Ini termasuk semua kejadian yang akan datang. Kita bisa meniru cara ini dan mencatat semua subjek ini dalam tujuh buku catatan yang berbeda.

VIII. KRONOLOGI

Mempelajari kronologis Alkitab mungkin tidak akan cepat melihat hasil keuntungannya. Tetapi setidaknya dengan mempelajarinya akan membantu pembaca untuk mengembangkan kebiasaan yang teliti saat membaca Firman. Alkitab berisi catatan kronologis yang jelas. Dan jika ingin mempelajarinya, seorang bisa menghitung waktu yang tepat dari penciptaan manusia sampai kelahiran Tuhan Yesus. Mulai dari Adam sampai air bah ada 1,656 tahun. Alkitab dengan jelas memberi kita catatan tahun untuk setiap periode waktu. Maka, kita tahu berapa tahun yang diperlukan untuk keluar dari Mesir sampai masuk ke tanah Kanaan. Kita bisa mengetahui berapa lama mereka hidup dalam jaman hakim-hakim, jaman raja-raja, dan sampai jaman Daniel lalu berapa lama sampai waktu Tuhan Yesus. Ada sejumlah tahun-tahun yang bisa ditemukan dalam perkataan Stefanus. Kita bahkan menemukan catatan mengenai orang-orang tertentu yang tidur di sebelah kanannya dan berapa lama mereka tidur di sebelah kirinya (Yeh. 4:4-6). Dari waktu pembangunan kembali Yerusalem sampai kedatangan Tuhan Yesus adalah enam puluh sembilan minggu (483 tahun). Dengan demikian kita bisa menelusuri tahun-tahun dari Adam sampai Tuhan Yesus. Sejak Kejadian Allah telah meletakkan sebuah kronologi, dan kronologi ini tidak pernah terputus. Untuk mempelajari Alkitab, kita harus belajar berhati-hati dan memperhatikan.

Saat belajar kronologi kita akan menemukan hal-hal uang tidak pernah temukan. Contohnya, ketika kita belajar sejarah nenek moyan, kita ternyata mendapati Adam masih hidup ketika Henokh hidup. Kita mungkin beranggapan seorang yang sudah melihat Allah pasti sudah terangkat. Tetapi pada akhir Henokh terangkat, Adam tidak terangkat. Ini pelajaran bagi kita. Setelah itu kita menemukan nama Metusalah, yang artinya ”ketika dia mati, sesuatu akan terjadi.” pada saat Metusalah mati, air bah datang. Ini juga menunjukkan keakuratan Alkitab.

Paulus memberi tahu kita dalam Galatia 3 bahwa kasih karunia datang sebelum hukum taurat dan bukan sesudahnya. Kita harus mengetahui kronologi, sehingga kita bisa melihat bahwa kasih karuni yang dijanjikan sudah ada 430 tahun sebelum hukum taurat diberikan.

Untuk mencari kronologi dalam kitab Kejadian sangat mudah. Setelah itu lebih sulit mencari kronologi. Tetapi kesulitan ini bersumber pada keengganan manusia mempelajari Firman. Berapa tahun bangsa Israel keluar dari Mesir sampai pembangunan bait suci oleh Salomo? Satu Raja-raja 6:1 mengatakan, ”Dan terjadilah pada tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluat dari Mesir, pada tahun keempat setelah Salomo menjadi raja atas Israel dalam bulan Ziw, yakni bulan yang kedua, maka Salomo mulai mendirikan rumah bagi Tuhan. Tetapi Kis. 13:18-22 mengatakan, ”empat puluh tahun lamanya Dia bersabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun...selama kita-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada jaman nabi Samuel...Allah memberi mereka Saul... selama empat puluh tahun. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka.” Tahun-tahun ini jika dijumlahkan maka semuanya berjumlah 530 tahun. Ketika Daud meraja selama empat puluh tahun (1 Raj. 2:11) dan tahun ketiga Salomo membangun bait suci, jumlah tahun menjadi 573 tahun. Jadi catatan 1 Raja memiliki kekurangan sembilan puluh tiga tahun jika dibandingkan dengan catatan Kis. 13. Apakah alasan perbedaan ini? Menurut catatan Hakim-hakim, bangsa Israel ditawan sebanyak lima kali. Yang pertama delapan tahun (3:8), kedua delapan belas tahun (ay. 14), ketiga dua puluh tahun (4:2-3), dan keempat tujuh tahun (6:1), terakhir empat puluh tahun (13:1). Jumlah tahun-tahun tersebut tepat sembilan puluh tiga tahun. Kelihatannya catatan dalam 1 Raja kurang sembilan puluh tiga tahun. Sebenarnya, catatan itu sengaja menghilangkan tahun-tahun penawanan. Jadi perlua da tambahan catatan pada kitab Hakim-hakim. Catatan dalam Alkitab itu seperti rantai, tidak boleh ada yang hilang. Setiap rantai harus berkaitan. Allah telah meletakkannya seperti itu, dan yang harus kita lakukan adalah mencari kaitannya. Maka, belajar kronologi sangat berguna untuk melatih kita agar akurat.

IX. ANGKA-ANGKA

Banyak angka-angka dalam Alkitab yang memiliki arti. Contohnya sebagai berikut.

Satu melambangkan satu-satunya Allah.

Dua melambangkan persekutuan.

Tiga melambangkan Allah karena Dia Tritunggal. Satu mengacu pada kesatuan Allah, dan tiga mengacu pada kelengkapan Allah.

Empat terdiri dari satu ditambah tiga. Maka, empat merupakan angka penciptaan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan penciptaan diwakili dengan angka empat. Misalnya, ada empat penjuru bumi, empat musim, empat angin, dan empat sungai yang mengalir di taman Eden. Patung dalam mimpi Nebukadnezar memilki empat bagian. Empat makhluk keluar dari laut. Semua makhluk hidup mewaikili makhluk ciptaan dilambangkan dengan angka empat. Tuhan Yesus hidup di bumi dicatat dalam empat kitab Injil. Segala sesuatu yang dihasilkan Allah merupakan angka empat.

Lima merupakan angka pemisahan manusia. Tangan kiri memiliki lima jari, demikian juga dengan tangan kanan. Dari sepuluh gadis, lima bodoh dan lima bijaksana. Lima juga melambangkan tanggung jawab manusia di hadapan Allah. Telinga merupakan salah satu dari lima organ manusia, ibu jari merupakan salah satu bagian dari kelima jari, dan jempol kaki merupakan bagian dari jari-jari kaki kita. Mengoleskan darah pada telinga kanan, jempol pada tangan kanan, dan jempol kaki kaki kanan melambangkan pemisahan manusia untuk mengemban tanggung jawab di hadapan Allah.

Enam melambangkan angka manusia. Manusia diciptakan pada hari keenam. Tujuh melambangkan kesempurnaan. Enam kurang dari tujuh. Ini artinya apa pun yang manusia lakukan tidak akan bisa sesuai dengan kehendak Allah.

Tujuh merupakan angka sempurna. Kesempurnaan ini mengacu pada kesempurnaan sementara ini, bukan kesempurnaan kekal. Tiga melambangkan Allah. Empat melambangkan makhluk ciptaan. Gabungan Pencipta dengan ciptaan adalah sempurna. Allah ditambah manusia sama dengan sempurna. Tetapi ini hanya tiga ditambah empat, kesempurnaan yang sementara. Segala sesuatu yang sementara di dalam Alkitab dilambangkan dengan angka tujuh. Mislanya, ada tujuh haru dalam seminggu, tujuh perumpamaan dalam Matius 13, tujuh gereja dalam kitab Wahyu, tujuh kaki dian, tujuh pembawa pesan, tujuh meteran, tujuh sangkakala, dan tujuh cawan. Semua ini mengacu pada kesempurnaan sementara dibandingkan kesempurnaan dalam kekekalan.

Delapan adalah angka kebangkitan. Tujuh seperti lingkaran. Delapan adalah angka setelah tujuh. Tuhan Yesus bankit pada hari kedelapan. Maka, delapan adalah angka kebangkitan.

Sembilan adalah tiga kali tiga, pelipat gandaan angka Allah. Kesaksian Allah bukan hanya firman Allah melainkan juga pembicaraan Allah di dalam kita.

Sepuluh melamabngkan kesempurnaan manusia. Angka sempurna manusia adalah sepuluh. Misalnya, ada sepuluh jari pada tangan dan sepuluh jari pada kaki.

Sebelas tidak memiliki banyak arti di dalam Alkitab.

Dua belas juga merupakan angka kesempurnaan, tetapi kesempurnaan ini mengacu pada kesempurnaan kekekalan. Ada dua angka kesempurnaan: tujuh dan dua belas. Tujuh merupakan kesempurnaan yang ilahi, tetapi tidak berkaitan dengan kekekalan. Yang menarik adalah dalam langi baru dan bumi baru, tidak ada lagi angka tujuh. Yerusalem Baru memiliki dua belas pintu gerbang, dua belas pondasi, dua belas nama rasul, dua belas jenis batu-batu berharga, dan dua belas permata. Tembok kota seratus empat puluh empat kubik, dua belas kali dua belas. Semua ini akan ada selamanya. Maka, dua belas melambangkan kesempurnaan kekal. Mengapa tujuh merupakan kesempurnaan sementara dan dua belas kesempurnaan kekal? Tiga ditambah empat adalah Allah ditambah manusia, Pencipta ditambah ciptaan. Tetapi tiga kali empat adalah Pencipta dilipatgandakan oleh ciptaan. Ini artinya keduanya berbaur jadi satu. Ada perbedaan antara tambahan dan lipat ganda. Dalam pelipatgandaan, Allah dan manusia tidak lagi terpisah. Antara Allah pencipta dan ciptaan telah menjadi satu. Kesatuan ini bersifat kekal. Jadi, kesempurnaan dilambangkan dengan angka dua belas yang merupakan kesempurnaan kekal.

X. PERUMPAMAAN

Kita bisa melihat semua contoh perumpamaan dalam Alkitab. Setelah mempelajari beberapa perumpamaan dengan teliti, kita akan menyadari ada beberapa prinsip untuk menafsirkannya. Kita tidak bisa sembarangan menafsirkannya. Ketika kita mengenal prinsip-prinsip ini, kita akan mengetahui bagaimana menafsirkan perumpamaan yang lain ketika kita mempelajarinya.

Setiap perumpamaan memiliki subjek dan sub subjeknya. Dalam menafsirkannya, kta harus bisa membedakan antara pikiran utama dan sub pikirannya. Subjek utama harus ditafsirkan poin demi poin. Sub pikirannya bisa ditafsirkan secara detail, atau bisa dilewati. Misalnya, Tuhan mengatakan tujuh parabel dalam Matius 13, yang pertama adalah mengenai penabur. Ada satu jenis benih dan empat jenis tanah. Firmannya sama, tetapi hatinya berbeda. Ini satu subjek. Kita harus memperhatikan firman dan keempat jenis tanah ini. Poin lain seperti benih yang dimakan burung atau arti hasil benih yang berbuah lipat ganda, tidak terlalu penting. Ada benih yang bisa berbuah tujuh kali ganda atau bahkan dua belas kali ganda. Tetapi Tuhan tidak mengatakan apapun mengenai hal ini. Ini artinya hasil secara angka tidak penting. Jika kita perhatikan memperhatikan ukuran burung, bagaimana dia terbang, atau jumlah ”lipat ganda”, kita sudah salah jalur. Hal pertama yang harus dilakukan saat menafsirkan perumpamaan adalah membedakan subjek dan sub subjek.

Poin lain yang harus diperhatikan adalah tidak ada perumpamaan yang ditafsirkan secara harafiah. Misalnya, dalam perumpamaan tentang penabur, yang tidak berarti benar-benar seorang penabur, ladang bukan dalam pengertian ladang yang sesungguhnya, dan benih bukan berari biji pohon. Ini jelas. Semua perumpamaan memiliki makna rohani dan harus ditafsirkan secara rohani. Tetapi ini tidak berarti setiap poin di dalam perumpamaan harus memiliki makna rohani di dalamnya. Maksudnya, setiap poin penting dalam perumpamaan harus ditafsirkan secara rohani. Sedangkan sub poinnya bisa ditafsirkan secara harafiah. Beberapa orang mencoba menafsirkann setiap poin penting dan setiap poin sampingan. Ini salah. Matius 13 merupakan contoh pertama dimana Tuhan memberikan maknanya. Ia tidak menafsirkan semuanya. Dengan poin yang sama, Ia memberikan penafsirannya. Di poin lain, Ia tidak menafsrikannya sama sekali. Misalnya, saat menunjukkan makna ”tanah yang baik”, Ia memberi tahu kita bahwa tanah mengacu pada hati manusia, sedangkan baik mengacu pada keadaan luhur dan baik (Luk. 8:15). Tuhan telah mengartikan maknanya untuk kita. Kita jadi mengetahui bahwa hati yang luhur dan baik merupakan subjek yang dimaksud di sini. Tuhan tidak mengembangkan arti ”buah lipat kali”. Jadi, perkara buah bukan poin utamanya. Jika kita menangkap setiap detail, kita akan kehilangan pandangan rohani dari setiap bagian, dan belajar kita akan salah. Tidaklah mudah menafsirkan perumpamaan. Kita harus mencari terang mengenai setiap perumpamaan sebelum kita bisa menafsirkannya dengan tepat.

XI. MUKJIZAT

Kita harus memperhatikan mukjizat Tuhan Yesus. Atau bisa juga mempelajari mukjizat yang lain. Untuk Perjanjian Lama kita bisa mempelajari Elia dan Elisa. Untuk Perjanjian Baru kita bisa mempelajarinya dari Paulus. Jika kita memperhatikan mukjizat sebagai subjek khusus, kita akan menemukan bahwa setiap mukjizat memiliki cirinya tersendiri. Misalnya, ada perbedaan antara mukjizat pernyembuhan orang buta dengan penyembuhan orang lumpuh. Mata berkaitan dengan penglihatan, orang buta harus melihat. Lumpuh berkaitan dengan kekuatan, lumpuh harus bisa berjalan. Untuk mempelajarinya, kita harus menemukan ciri khusus dalam setiap kasus dan melihat bagaimana Tuhan menyembuhkan mereka. Ini akan memberi kita terang bagaimana Ia menangani masalah rohani kita.

Tuhan juga memberikan pengajaran dalam setiap mukjizat. Misalnya, dalam kasus seorang laki-laki yang lahir buta dalam Yohanes 9, Ia dengan jelas mengatakan bahwa Ia akan membuat orang buta melihat dan orang yang melihat menjadi buta (ay. 39). Kemudian dalam kebangkitan Lazarus, Tuhan jelas megnatakan bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup (11:25).

Beberapa mukjizat tidak dijelaskan secara eksplisit oleh pengajaran Tuhan. Tetapi ada pengajaran yang terkandung dalam mukjizat, dan kita harus meminta Tuhan menunjukkan pengajaran-pengajaran ini. Misalnya, dalam kasus menyembuhkan orang lumpuh, ada pengajaran di dalamnya. Pada saat Tuhan menyembuhkannya, Ia berkata, ”Dosamu sudah diampuni.” Tetapi Dia tidak hanya mengampuni begitu saja; Ia juga berkata, ”Bangun, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Orang itu bangkit, mengangkat tilamnya dan pergi di hadapan semua orang (Mrk. 2:3-12). Di sini kita melihat prinsip rohani; tidak cukup hanya dosa diampuni, kita harus menunjukkan manifestasi tanda hayat dan kemampuan untuk berjalan secara rohani. Tidak ada yang bisa mengatakan bahwa dia memaafkan mereka yang tidak bisa bangkit untuk berjalan. Mereka yang diampuni pasti akan berjalan. Pengampunan ada sebelum berjalan, dan berjalan adalah hasil pengampunan. Kita melihat gambaran yang jelas sekali di sini.

XII. PENGAJARAN TUHAN DI BUMI

Kita bisa mempelajari semua pengajaran yang Tuhan berikan, termasuk Matius 5, 6, 7, 13, 24, 25. Injil Lukas dan Yohanes juga memuat pengajaran Tuhan. Yohanes 14, 15, dan 16 juga merupakan pasal terpenting mengenai ajaran Tuhan. Ketika kita membacanya kita harus memperhatikan dimanakah Tuhan berbicara saat itu. Apakah Dia mengajar di tanah Yudea atau Galilea? Dia berbicara kepada murid-murid ataukah orang kafir? Apakah Dia berbicara kepada mereka atau hanya kepada murid-murid saja? Jika kita mempelajari demikian, kita akan mendapatkan berita utamanya. Jika kita ingin bekerja bagi Tuhan, setidaknya kita harus mempelajari perumpamaan, mukjizat, dan pengajaran. Jika tidak, kita tidak akan memiliki bahan untuk maju. Tangan kita akan kosong, dan kita tidak bisa memenuhi keperluan orang.

XIII. MEMBANDINGKAN KEEMPAT KITAB INJIL

Ini juga merupakan cara yang penting untuk mempelajari Alkitab. Mengapa Roh itu tidak menulis satu injil yang lengkap, tetapi menulis empat injil yang berbeda? Mengapa catatan dalam keempat injil itu kelihatannya berbeda dalam waktu dan urutan kejadian? Kadang-kadang angkanya pun tidak sama. Jika kita tidak mempelajarinya dengan hati-hati, kita tidak akan menyadari keajaiban di balik inspirasi Roh itu.

Saat membaca keempat kitab Injil, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membaginya ke dalam beberapa bagian. Bagian-bagian ini harus detail. Kita bisa menyiapkan sebuah buku catatan besar dan mencatat semua kejadian yang ada dalam keempat kitab Injil tersebut dalam empat kolom. Misalnya, catatan silsilah Tuhan, kita bisa menarus Matius 1:1-17 di kolom pertama dan Lukas 3:23-38 dalam kolom ketiga. Injil Markus dan Yohanes tidak ada catatan mengenai silsilah, jadi kita bisa mengosongkan kolom kedua dan keempat. Beberapa peristiwa hanya dicatat di dalam satu kitab Injil, sedangkan ada juga peristiwa yang dicatat dalam keempat kitab tersebut. Setelah kita menyelesaikan ini, kita bisa membaca kembali catatan kita sehingga semuanya menjadi jelas. Jika kita membandingkan semua bagian dalm setiap kolom, kita akan menemukan kesamaan dan perbedaan antara catatan ini. Perbandingan demikian akan menyingkapkan perbedaan dan perbedaan ini akan menunjukkan kepada kita pengaturan kedaulatan Roh Kudus.

Silsilah yang dicatat dalam kitab Matius dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari empat belas generasi: dari Abraham sampai Daud, Daud sampai penawanan di Babel, dan dari penawanan sampai Kristus. Silsilah dalam catatan Lukas menelusur secara mundur. Kitab Matius memulainya dari Abraham sampai Daud, sedangkan Lukas memulainya dari Daud sampai Abraham. Kitab Matius mencatat dari Daud sampai penawanan di Babel, sedangkan Lukas memulainya dari Sealtiel sampai Daud. Kitab Matius memulai dari Abraham sampai kepada keturunannya, sedangkan Lukas dari Abraham kembali kepada Adam. Jadi, silsilah dalam Matius dibagi menjadi tiga bagian, sedangkan dalam Lukas empat bagian. Silsilah dalam Lukas dimulai dengan Maria, dan kitab Matius diakhiri dengan Yusuf. Pembagian ini harus ditandai dengan jelas sebelum kita bisa menangkap makna darinya.

Pernah ada seseorang yang menghubungkan empat binatang dalam kitab Wahyu dengan keempat kitab Injil. Keempat binatang itu adalah singa—raja makhluk buas, kambing—hamba yang rajin, wajah manusia, dan burung rajawali. Dalam Perjanjian Lama Allah pernah mengatakan bahwa Dia akan memikul bangsa Israel di atas sayap-Nya seperti burung rajawali (Kel. 19:4; Ul. 32:11-12). Matius mencatat Tuhan Yesus sebagai Raja. Markus mencatat Dia sebagai Hamba, Lukas mencatat Dia sebagai manusia, dan Yohanes mencatat Dia sebagai Allah. Jadi keempat binatang yang disebutkan sesuai dengan gambaran Tuhan yang terdapat dalam keempat kitab Injil.

Matius menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus adalah Raja. Maka, dalam silsilah, ia khusus mencatat Yesus itu keturunan Daud. Kitab Lukas menunjukkan Tuhan Yesus sebagai manusia. Inilah alasan mengapa silsilah yang ditulisnya mundur ke belakang sampai pada nenek moyang pertama—Adam. Kitab Markus menunjukkan Tuhan Yesus sebagai hamba, dan Yohanes menunjukkan Dia sebagai Putra Allah.

Keempat kitab Injil berbicara mengenai kedatangn Tuhan Yesus. Tetapi penjelasan mengenai kedatangan-Nya berbeda. Matius mengatakan, ”Lihat, Rajamu datang kepadamu” (21:5). Markus mengatakan bahwa Anak Manusia datang untuk melayani (10:45), Lukas mengatakan bahwa Anak Manusia datang untuk mencari (19:10), dan Yohanes mengatakan bahwa Tuhan datang untuk memberi kita hayat (10:10). Kit bisa menemukan banyak perbedaan di dalam kitab Injil. Jika kita meluangkan waktu untuk mempelajarinya, kita akan menemukan ciri khas dari setiap kitab tersebut.

Akhir keempat kitab Injil sangat bermakna. Matius mencatat mengenai kebangkitan (28:6), Markus mengenai kenaikan (16:19), Lukas mengenai janji datangnya Roh Kudus (24:49), dan Yohanes mengenai kedatangn Tuhan kali kedua (21:22). Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia terangkat naik ke surga. Setelah kenaikan, ada pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Kelak Tuhan akan datang kembali. Pengaturan luar biasa dari keempat kitab Injil ini sesuai dengan urutan peristiwa ini.

Matius tidak mengatakan apapun mengenai kenaikan Tuhan Yesus, karena ia mengatakan Tuhan ada bersama dengan murid-Nya sampai akhir jaman. Markus berbicara kenaikan Tuhan, mengatakan, ”Ia duduk di sebelah kanan Allah” (16:19). Ini dsiebabkan karena Dia mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati untuk merampungkan pekerjaan-Nya. Itulah sebabnya kama Allah sangat meninggikan Dia. Lukas mencatat kenaikan Tuhan. Allah mengingat manusia ini, yang telah merendahkan diri-Nya lebih rendah daripada malaikat, agar Dia dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Tuhan Yesus naik dalam posisinya sebagai manusia, yang artinya suatu hari kelak Dia akan memimpin banyak putra ke dalam kemuliaan. Yohanes tidak mengatakan apa pun mengenai kenaikan karena ia mencatat Tuhan sebagai hayat dan hidup di dalam kita.

Catatan Matius diatur menurut kebenaran jaman, bukan menurut kronologi. Lukas ”menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya”; itulah sebabnya catatannya ”teratur” (1:3). Beberapa bagian ditulis menurut urutan kronologis, sedangkan lainnya menurut urutan subjek. Markus dan Yohanes ditulis menurut urutan peristiwa yang mereka alami.

Kita bisa membeli buku yang hanya berisi keempat kitab Injil itu dan membagi kitab Matius ke dalam lima atau sepuluh bagian. Kemudian kita bisa mempelajari setiap bagian dengan hati-hati dan mempertimbangkan apa yang dikatakan dalam kitab injil lainnya. Bagian yang sama bisa dikelompokkan jadi satu, yang tidak sama harus tandai. Yang tidak sama harus ada pemisahan yang sangat jelas. Misalnya, perumpamaan mengenai penabur dalam Matius 13 yang juga terdapat dalam kitab Lukas. Kita harus membuat pemisahan yang baik ebelum kita bisa mengetahui perbedaan dalam catatan keduanya. Kita harus memisahkannya sampai kita bisa melihat kesamaan dan perbedaannya. Ini perlu banyak waktu. Setidaknya perlu waktu dua tahun untuk menghabiskan keempat kitab injil ini. Hanya mengkopi dan mencatat mungkin hanya perlu waktu tiga bulan.

XIV. PASAL-PASAL PENTING

Alkitab terdiri dari banyak pasal-pasal penting, seperti Kejadian 2 dan 3, Bilangan 21, Ulangan 8, Mazmur 22 dan Yesaya 53, karena banyak dari bagian itu yang dikatakan dalam Perjanjian Baru yang digenapi. Daniel 9 juga pasal yang besar. Dalam Perjanjian Baru Matius 5—7, 13, 24, 25, merupakan pasal-pasal penting, demikian juga dengan Yohanes 14—16 dan 1 Korintus 13. Di dalam Alkitab ada tiga puluh sampai empat puluh pasal-pasal penting, dan kita harus mengerti makna dari setiap pasal.

XV. LAMPAU, KINI, DAN AKAN DATANG

Metode ini cukup sederhana. Kita bisa mengelompokkan semua peristiwa yang sudah lalu yang ada dalam Perjanjian Baru ke dalam satu kelompok, dilanjutkan dengan peristiwa masa kini dan peristiwa yang akan datang. Pekerjaan Kristus di bumi, pencurahan Roh Kudus, dan permulaan gereja masuk kelompok pertama. Pekerjaan permohonan Tuhan, perantaraan-Nya, ministri gereja, pendisplinan dan berhuninya Roh Kudus, dan arti kasih karunia semuanya termasuk perkara hari ini. (Dalam beberapa kejadian kasih karunia diberikan kepada kita secara langsung. Di waktu lain Allah memberikan kasih karunia melalui makna khusus, seperti saat bersidang, pemecahan roti, baptisa, dan penumpangan tangan. Allah mencurahkan roh kepada manusia tidak secara langsung, melainkan melalui makna-makna ini. Itulah sebabnya disebut kasih karunia yang bermakna.) Kebangkitan, keterangkatan, penebusan, kemuliaan, dan ciptaan baru Allah merupakan perkara akan datang, masa depan. Meskipun penebusan merupakan kejadian masa lalu, tetapi belum sepenuhnya lengkap. Bagian dari penebusan masih akan digenapkan, yaitu penebusan tubuh kita. Karena tubuh daging kita tidak diperhatikan, penebusan belum sepenuhnya rampung. Penebusan Tuhan Yesus di kayu salib memberikan dasar ini. Pekerjaan penebusan tidak akan lengkap tanpa penebusan tubuh kita kelak. Kita harus membedakan perkara yang telah Allah lakukan dengan perkara yang sedang Ia kerjakan dan yang akan Dia rampungkan.

XVI. KESELAMATAN, PENGUDUSAN, DAN MINISTRI

Keselamatan berkaitan denan hayat yang telah kita terima, pengudusan dengan penghidupan kita, dan ministri dengan pekerjaan kita. Kita bisa mengelompokkan subjek ini sebagai panggilan Tuhan, darah-Nya, dan pekerjaan-Nya ke dalam kelompok keselamatan; kita bisa mengelompokkan pekerjaan Roh Kudus ke dalam kategori pengudusan; dan subjek ketekunan, kesaksian, dan kuasa Roh Kudus ke dalam ministri. Salib Kristus ke dalam kelompok keselamatan, salib kita ke kelompok pengudusan, dan ”kematian Yesus” atau ”pembunuhan Yesus” ke dalam ministri. Iman kita masuk kelompok keselamatan, ketaatan kelompok pengudusan, dan kekuatan Roh Kudus kelompok ministri. Kita juga bisa memakai tiga kata preposisi untuk ketiga kategori ini: untuk kita, di dalam kita, dan melalui kita. Segala sesuatu yang sudah dikerjakan bagi kita adalah keselamatan, segala sesuatu yang dikerjakan di dalam kita adalah pengudusan, dan segala sesuatu yang dilakukan melalui kita adalah ministri. Ketika sesuatu dikerjakan untuk kita, kita menyebutnya keselaatan. Ketika dikerjakan di dalam kita, disebut pengudusan. Ketika dikerjakan melalui kita disebut ministri atau pelayanan. Kita bisa mengelompokkan semua pengajaran ini ke dalam kategori ini; pengajaran ini bisa sesuatu yang telah Allah kerjakan untuk kita, sedang Ia kerjakan di dalam kita, atau yang akan Ia lakukan melalui kita. Sayangnya, banyak orang tidak jelas dengan perbedaan Allah bagi kita dan Allah di dalam kita. Misalnya, penyaliban Kristus dan diri kita yang disalibkan bersama dengan-Nya merupakan perkara yang telah Allah lakukan untuk kita. Tetapi Roma Katolik mebuat hal ini menjadi Allah lakukan di dalam kita. Ini salah. Salib dikerjakan di dalam kita ketika kita mulai memikul salib kita. Kita memikul salib; bukan tersalib di atas salib. Kita mengalami memikul, tetapi Tuhan mengalami penyaliban. Ini menunjukkan kepada kita perbedaan antara ajaran Prostestan dengan ajaran Katolik. Penyaliban yang disebutkan di dalam Alkitab adalah pekerjaan yang telah Allah rampunkan bagi kita. Bukan sesuatu yang akan Dia kerjakan di dalam kita. Roma 6 mengatakan mengenai penyaliban, Roma 8 mengenai diletakkan dalam kematian, sedangkan 2 Korintus 4 mengenai ”pembunuhan.” itulah sebabnya Roma 6 bicara mengenai keselamatan, Roma 8 mengenai pengudusan, dan 2 Korintus 4 mengenai ministri. Kita harus jelas di depan Tuhan bahwa penyaliban masuk kategori keselamatan, sesuatu yang telah Tuhan kerjakan. Kita hanya mewarisi apa yang telah Ia kerjakan. Akan tetapi, diletakkan dalam kematian salib merupakan pengalaman kita. Pada saat yang sama ”pembunuhan” ini melepaskan Roh Kudus yang ada dalam alam ministri. Kita jangan berpikir bahwa ini klasifikasi sederhana. Banyak orang tidak jelas mengenai diri mereka yang telah tersalib dengan Kristus. Hasilnya, mereka tidak jelas mengenai diletakkan dalam kematian. Fakta penyaliban bukan di dalam kita, tetapi di dalam Kristus. Segala sesuatu yang ada di dalam Kristus berhubungan dengan keselamatan, segala sesuatu di dalam kita berhubungan dengan pengudusan, dan segala sesuatu yang melalui kita berhubungan dengan ministri. Semua ini merupakan pemahaman dasar. Kita harus jelas akan firman Allah.

XVII. BAHAN-BAHAN

Alkitab berbicara mengenai semua jenis mineral dan batu-batuan, yang memiliki makna. Kita harus mempelajarinya. Ini tidak berarti semua bahan ini memiliki wahyu tersendiri. Tetapi ketika Allah memberi kita wahyu, Ia berbicara kepada kita melalui bahan-bahan ini. Kita harus memiliki fakta alkitabiah dalam simpanan kita sebelum kita bisa memakainya saat diperlukan.

Emas melambangkan kemuliaan Allah. Segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah dilambangkan oleh meas. Perak melambangkan penebusan Tuhan. Alkitab tidak mengatakan bahwa kita harus memberli segala sesuatu dengan emas, melainkan dengan perak. Perak melambangkan penebusan. Dengan kata lain, emas melambangkan persona Allah, sedakan perak melambangkan pekerjaan-Nya. Emas melambangkan kemuliaan-Nya sedangkan perak penebusan-Nya. Tembaga melambangkan penghakiman, besi melambangkan kekuasaan manusia, dan lead melambangkan dosa. Pondasi Yerusalem Baru dibangun dengan semua jenis batu berharaga, salah satunya berwarna hijau. Hijau merupakan warna dasar, warna kehidupan di atas bumi. Maka, hijau mengacu pada pekerjaan Roh Kudus. Saat mempelajari bahan-bahan ini, kita harus mencari sifat dan warnanya. Merah dan kirmizi merupakan warna yang berbeda. Merah mengacu pada darah, sedangkan kirmizi mengacu pada dosa. Demikian juga dengan warna putih, hitam, atau ungu semua memiliki maknanya tersendiri. Kita harus mengelompokkan semua itu dan mencari maknanya.

XVIII. GEOGRAFI

Alkitab juga berisi banya bangsam kota, gunung, sungai, tembok, dsb. Semua ada maknanya. Ada bangsa Asyur, Mesir, Babel, Yunani, dan Persia. Ada kota Samarian, kota Yerusalem, Kaesarea, Sodom, Gomora, Babel, Ur, Sikhem, Betel, Mahanaim, Gilgal, dsb. Kota-kota itu memiliki makna tersendiri. Namun ada juga yang menyimpang dari arti katanya sendiri, dan ada juga yang menyimpang dari sejarah y ang berkaitan dengannya. Sikhem artinya bahu dan melambangkan bisa memikul, bertanggung jawab, atau memikul sesuatu. Ini ditandai dengan arti kata itu sendiri. Saat pembagian tanah dijaman Yosua, ada banyak nam-nam kota. Yang semuanya memiliki makna yang rohani, dan kita harus mencari maknanya. Tentu saja dengan banyaknya istilah-istilah alkitabiah kita harus melihat juga kamus bahasa Ibrani untuk mencari maknanya. Teapi ada juga beberapa kata yang artinya tercantum di dalam Alkitab, sehingga orang-orang yang tidak mengerti bahasa Ibrani pun bisa mengetahui makna nama-nama ini.

Kita juga bisa menemukan nama-nama gunung, seperti gunung Sinai, Horeb, Libanon, Pisga, bukit Zaitun, dsb. Gunung-gunung juga memiliki maknanya. Gunugn Horeb sama sengan gunung Sinai. Tetapi mengapa kadang-kadang Alkitab menyebut gunung Horeb dan kadang-kadang gunung Sinai? Kita harus mencari alasannya. Kemudian ada disebutkan mengenai dua lembah, seperti lembah anak Hinom, lembah Yosafat, dsb.

Ada juga disebutkan mengenai sungai Efrat, sungai Mesir, sungai Yordan, dsb.

Banyak hal di dalam Alkitab yang termasuk kategori geografi. Kita harus mempelajari semua poin yang ada. Akan tetapi, kita tidak usah terlalu banyak menghabiskan waktu mempelajarinya, tiga sampai empat bulan sudah cukup.

Semua nama-nama geografi menyimpang dari sumbernya. Entah menyimpang dari arti kata itu sendiri maupun dari sejarah yang berkaitan dengannya. Nama seperti Yerusalem, Betel, dan Mahanaim menyimpang dari arti katanya. Golgota setengah menyimpang dari arti katanya dan setengah menyimpang dari sejarahnya. Golgota berarti tempat engkorak, dan salib. Sungai Efrat juga sama. Sejarah memberi tahu kepada kita bahwa semua serangan yang dilakukan pada Yerusalem datang dari arah sungai Efrat. Bahkan kitab Wahyu memberi tahu kita mengenai hal ini. Maka, namanya berarti pemberontakan dan perlawanan. Filistea berarti kekuatan kegelapan satani. Yang artinya juga menyimpang dari makna sejarahnya, bukan dari arti katanya. Nama penting lainnya adalah Silo, karena topik mengenai gereja sangat berkaitan dengan Silo. Jika kiga ingin mempelajarinya, maka semua ini akan berguna bagi kita kelak.

XIX. NAMA-NAMA ORANG

Dalam Alkitab juga ada banyak nama orang. Arti nama orang-orang yang penting ada di dalamnya. Maka untuk membantu pemahaman kita, kita perlu kamus bahasa Yunani. Nama seperti Adam, Hawa, Kain, Set, Habel, Nuh, Melkisedek, Abraham, Sarah, Yakub, Israel, Musa, Yosua, Samuel, Daud, Salomo, Mikah, Zakaria, Petrus, dll. memiliki makna tersendiri. Jika kita sedikit menyelidikinya, kita akan menemukan maknanya. Ini merupakan cara lain yang bisa kita kumpulkan di waktu lain.

XX. CHORUSES

Dalam Alkitab kita terkadang menemukan bagian yang ditulis dengan cara yang berbeda dari biasanya. Gaya penulisan bagian ini dalam bahasa Yunani berbeda dari teks sebelumnya, dan mirip dengan bait-bait puisi. Biasanya bagian ini tidak panjang seperti paragraf, tetapi hanya satu atau dua kalimat. Karena kekurangan kosa kata yang lebih baik kita menyebutnya ”choruses”. Hanya orang-orang yang mengerti bahasa Yunani bisa menemukan ”choruses” ini. Termasuk contoh: 1 Tim. 1:15; 3:15-16; Titus 3:4-8; Rm. 10:8-10; 2 Tim. 2:11-13; Ef. 4:8-9; 5:16; dan 1 Tes. 4:14-17. Struktur dan gaya penulisan bagian ini ditulis dalam bentuk lagu. (Faktanya, seluruh Roma 9—11 ditulis dalam gaya ini.) Ketika kita mempelajarinya, kita harus menyadari bahwa setiap bagian membahas satu masalah atau satu doktrin. Bagian ini membahas segala keselamatan sampai keterangkatan. Karena Roh Kudus menulis kedelapan bagian ini dalam bentuk lagu maka itu berarti ada makna yang berharga di dalamnya.

XXI. DOA

Kita mempunyai da Abraham untuk kota Sodom dan Gomora, doa Musa untuk bangsa Israel yang memberontak, doa-doa Daud dalam kitab Mazmur, doa Ezra dalam kitab yang ditulisnya dalam pasal sembilan, doa Nehemia dalam pasal sembilan kitabnya, doa Daneil dalam pasal sembilan kitabnya, doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 6, doa Tuhan dalam Yohanes 17, doa Paulus dalam Efesus, dsb. Jika kita memepelajari doa-doa ini satu per satu, kita bisa menangkap subjek keseluruhan doa-doa itu. Kita akan mengetahui bahwa perkataan manusia harus dipakai ketika dia berdoa kepada Allah dan perkataannya akan menerima jawaban. Hati kita di depan Tuhan sangat penting, demikian juga perkataan kita. Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Siro Fenisia, ”Karena kata-katmu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu” (Mrk. 7:29). Ini menunjukkan betapa pentingnya perkataan yang kita pakai dalam doa kita. Jika perkataaan kita tidak tepat, doa kita tidak akan dijawab. Seringkali ketika kita menghampiri Allah, tidak ada sesuatu pun yang terjadi meskipun kita sudah memanjatkan permohonan yang tidak putus-putusnya. Tetapi ketika hanya satu dua kata saja keluar dari mulut kita, sepetinya apa yang ingin kita utarakan sudah keluar semua, dan doa kita dijawab. Seorang saudara pernah sakit radang pernafasan. Saudara saudari kuatir keadaan saudaranya akan lebih parah dan menderita pneumonia. Mereka banyak berdoa tetapi tidak ada perubahan. Kemudian ada seorang saudari yang hanya berdoa satu kalimat, ”tidak ada pujian di neraka dan tidak ada ucapan syukur dalam alam maut.” ternyata berhasil. Sore harinya saudara itu bisa bangun dari tempat tidurnya. Jawaban doa kita sangat berkaitan dengan kata-kata yang kita pakai. Jika kata-katanya tepat, kita akan melihat keajaiban. Kita harus belajar membiasakan diri kita berdoa dengan tepat.

XII. BAGIAN-BAGIAN SULIT

Ada beberapa prinsip dasar ketika berhadapan dengan bagian yang sulit dalam Alkitab. Pertama, kita harus percaya bahwa Alkitab berisi kesulitan. Jika ada bagian yang sulit, itu dikarenakan kita yang bias dan tidak paham.

Kedua, untuk memecahkan kesulitan ini, tidak cukup hanya menafsirkannya menurut bagian itu saja. Tidak ada bagian dalam Firman yang memiliki interpretasinya sendiri. Ketika kita menermukan bagian yang sulIt, kita harus mempelajari hubungannya dengan bagian lain sebelum kita bisa menarik sebuah kesimpulan. Tidak ada bagian yang sulut yang bertentangan dengan pengajaran yang ada di bagian lain dalam Alkitab. Ketika Allah menulis Alkitab, Ia tidak menulis satu bagian yang terpisah dari bagian lainnya. Jika ada kelainan, masalahnya ada pada pikiran kita.

Ketiga, meskipun beberapa kata hanya bisa ditemukan di satu tempat, tidak ditempat lain, kita tetap harus mempercayainya. Kita jangan meragukan firman Allah hanya karena anggapan dan alasan kita semata.

Keempat, kita harus melihat bukti-bukti guna memecahkan kesulitan-kesulitan yang ada, yaitu bukti-bukti yang alkitabiah seperti bukti yang logis. Firman Allah sudah pasti masuk akal. Dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak logis.

Kelima, kesulitan yang kita bicarakan di sini adalah kesulitan menginterpretasikan dan memahami suatu doktrin. Jika ada pertentangan dalam angka yang dipakai dalam Alkitab, kita jangan menganggapnya sebagai kesulitan. Bisa saja ini kesalahan penulisan. Baru-baru ini, ada sebuah manuskrip yang ditemukan di Gunung Sinai. Ada banyak kesalahan penulisan. Ketika manuskrip itu ditulis, gereja sedang mengalami penganiayaan, Alkitab dihancurkan, sehingga tidak mudah menemukan salinannya. Menyalin dari kesalahan tidak terhindari, namun tidak berarti ada masalah dengan interpretasinya. Perlu orang untuk mempelajari kesalahan ini.

Setelah kita setuju dengan semua prinsip di atas, kita bisa mengelompokkan bagian-bagian yang sulit ini. Misalnya, ada kata ”anak-anak Allah” dalam Kejadian 6:2, ”turun hidup-hidup ke lembah maut” dalam Bilangan 16:30, ”Seorang tua muncul...Saul mengetahui itu Samuel” dalam 1 Sam. 28:14, ”Mengenai hari dan waktu, tidak seorang pun yang tahu, bahkan Anak Manusia pun tidak” dalam Matius 24:36, dua pedang dalam Lukas 22:38, ”Kamu mengampuni dosa orang, dosanya akan diampuni” dalam Yoh. 20:23, ”Memperbaharui diri mereka sampai pertobatan” dalam Ibrani 6:6, ”Tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa” dalam Ibrani 10:26, ”Roh-roh di dalam penjara” dalam 1 Ptr. 3:19 dan ”Injil telah diberitakan kepada orang-orang mati” dalam 1 Ptr. 4:6. Bagian-bagian tersebut bisa dianggap bagian yang sulit diiterpretasi. Contoh mengenai seekor unta yang bisa melewati lubang jarum dalam Mat. 19:24 sudah tidak lagi dianggap bagian yang sulit. Perjalanan Paulus ke Yerusalem dalam Kis. 21 juga bukan lagi interpretasi yang sulit.

Memakai prinsip-prinsip di atas, mari kita mencoba menerapkannya pada satu bagian yang sulit dalam Perjanjian Lama.

Kejadian 6 membicarakan mengenai anak-anak Allah. Ini sangat berkaitan dengan kedatangan Tuhan kali kedua, karena Tuhan berkata, ”Dan sama seperti terjadi pada jaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari Anak Manusia” (Luk. 17:26). Seperti apakah jaman Nuh itu? Pada jaman itu anak-anak Allah menikah dengan perempuan-perempuan manusia. Banyak penafsir-penafsir Alkitab mengira mereka adalah anak-anak Set yang menikah dengan anak perempuan Kain. Bahkan banyak juga versi-versi Alkitab yang menafsirkannya demikian, tetapi ini terlalu dibuat-buat. Ketika anak-anak Allah menikah dengan anak perempuan manusia, keturunan mereka disebut nephilim. (versi King James menerjemahkannya raksasa. Makna aslinya berarti ”yang jatuh”.) Bagaimana mungkin anak-anak Set menikahi anak perempuan Kain dan melahirkan keturunan nephilim? Set adalah manusia. Demikian juga Kain. Bagaimana mungkin hasilnya bisa sesuatu yang tidak lain? Interpretasi ini terlalu berlebihan.

Siapakah anak-anak Allah ini? Kita harus mencari jawabannya dari bagian lain dalam Perjanjian Lama. Jika kita mencari, kita akan menemukan bukti bahwa anak-anak Allah yang dimaksudkan di sini adalah malaikat-malaikat. Ayub memberikan bukti yang kuat akan hal ini. Kitab Ayub ditulis jauh sebelum kitab Kejadian ditulis. Kitab Ayub ditulis sebelum kitab Kejadian ditulis oleh Musa, kitab ini ditulis pada jaman Abraham. Kitab yang terakhir seringkali memakai istilah dari buku sebelumnya. Dalam Ayub 1, 2, dan 38, anak-anak Allah mengacu pada malaikat. Maka, anak-anak Allah dalam Kejadian 6 pasti mengacu pada malaikat. Tuhan Yesus pernah berkata, ”Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Mat. 22:30). Ini tidak berarti malaikat tidak bisa menikah, melainkan berarti mereka tidak menikah. Allah melarang malaikat menikah, karena mereka adalah roh. Tetapi dalam Kejadian 3 terjadi perusakan yang luar biasa: Iblis masuk ke dalam binatang paling rendah—yaitu ular. Itulah sebabnya, dalam Kejadian 3 kita melihat kesatuan roh iblis dengan binatang paling rendah. Kejadian 6 roh itu juga bersatu dengan manusia. Malaikat seharusnya tidak menikah, tetapi mereka menikah dengan anak-anak perempuan manusia. Maka hasilnya adalah nephilim, raksasa. Ketika raksasa dihasilkan, Allah harus menghancurkan mereka. Allah menginginkan malaikat dan manusia, tetapi Dia tidak menginginkan raksasa. Dia tidak membuat ras seperti ini. Allah menciptakan segala sesuatu ”menurut jenisnya”. Tetapi setan-setan datang dan berbaur bersatu dengan manusia. Hasilnya adalah raksasa. Allah harus menghakiminya dengan serius. Allah kemudian menghancurkan Anakim karena dia juga seorang raksasa. Sebenarnya, raksasa sudah dihancurkan sebelum terjadi air bah. Tetapi di Kanaan mereka masih ada. Inilah alasannya mengapa mereka harus dihancurkan. Allah tidak akan membiarkan makhluk itu hidup di bumi.

Yudas 6 mengatakan mengenai malaikat-malaikat ”yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka.” ini mengacu pada malaikat-malaikat yang menikahi anak-anak perempuan manusia. 2 Ptr. 2:4 mengatakan mengenai malaikat-malaikat yang berdosa, juga mengacu pada hal yang sama.

Terjemahan bahasa Inggris Kejadian 6:3 cukup jelas:” Berfirmanlah Tuhan: ’Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging (lit.juga daging), tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja’.” Teks bahasa Ibraninya lebih jelas dibandingkan terjemahan bahasa mandarin yang membuang kata juga. Dalam bahasa aslinya ayatnya dibaca, ”Dia juga daging.” Apakah makna juga? Artinya yang kedua. Misalnya kita berkata, ”Kamu makan, saya juga makan.” Kata juga berarti ada orang kedua yang juga makan. Ketika Allah berkata bahwa manusia juga daging, artinya ada sebelumnya yang adalah daging. Makhluk apakah yang bisa dibandingkan dengan manusia? Hanya para malaikat. Jika manusia juga adalah daging itu artinya malaikat adalah daging. Dengan bukti ini, kita bisa dengan yakin mengatakan bahwa anak-anak Allah di sini mengacu pada para malaikat.

Tentu saja manusia sudah berdosa ketika dalam Kejadian 3. tetapi dosa dalam Kejadian 3 berbeda dari manusia menjadi daging dalam Kejadian 6. Berdosa merupakan suatu tindakan; tidak menjelaskan sifat dari suatu perbuatan. Menjadi daging mengacu pada seluruh diri manusia yang jatuh di bawah pengaruh daging; menjadi daging berkaitan dengan sifat seseorang. Kita jangan hanya memperhatikan kejatuhan manusia dalam pasal 3, tetapi kita harus menyadari ada kemajuan dalam kejatuhan manusia. Adam, melakukan tindakan dosa. Kain, ada ekspresi hawa nafsu. Saat air bah akan datang, dosa semakin berkembang; manusia menjadi daging, dan dosa sudah menjadi kebiasaan mereka. Setelah manusia berdosa, Roh Kudus terus bergumul dengan manusia. Tetapi ketika manusia menjadi daging, pergumulan dihentikan. Kejadian 6:3 mengatakan, ”Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia.” Sejak peristiwa Taman Eden sampai datangnya air bah, Roh Kudus sudah bergulat dengan manusia. Teapi ketika manusia tinggal dalam hawa nafsu dan menjadi daging, Roh Kudus tidak lagi bergumul dengannya. Kita harus memperhatikan hal ini karena Alkitab mengatakan, ”Dan sama seperti terjadi pada jaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia” (Luk. 17:26). Kita harus memperhatikan hal ini. Sebelum kedatangan Anak Manusia, roh jahat Iblis akan turun ke bumi, dan malaikat-malaikat berdosa akan mengenakan daging. Kapankala ”anak-anak Allah” ini membuat masalah, Allah akan melaksanakan penghakiman-Nya yang serius kepada mereka. Penghakiman dengan air bah belum pernah terjadi sebelumnya, dan penghakiman di Kanaan pun sangat serius. Pada hari kedatangan Anak manusia, saat itu juga akan terjadi enghakiman besar, dan Tuhan akan menghakimi para malaikat yang meninggalkan tempat kediaman mereka.

Apakah para malaikat dari sepertiga malaikat jatuh yang disebutkan dalam Wahyu 12:4 sama dengan para malaikat yang meninggalkan tempat kediaman mereka, ataukah mereka berbeda? Saya yakin mereka berbeda dari sepertiga malaikat jatuh yang mengikuti Satan. Bagian pertama kitab Yudas 6 mengatakan, ”Dan para malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka.” Kata ”batas-batas kekuasaan” diterjemahkan ”daerah asli” oleh Darby. Kata ini tidak hanya mengacu pada tempat asli mereka tetapi pada keadaan asli mereka. Awalnya, para malaikat tidak menikah. Ketika mereka tidak tinggal dalam batas-batas mereka artinya mereka menikah. Batas-batas kekuasaan mereka mengacu pada keadaan mereka sedangkan tempat kediaman mengacu pada tempat mereka. Apa yang sudah terjadi dengan para malaikat ini? Bagian akhir ayat 6 mengatakan bahwa para malaikat ini ”menunggu sampai hari penghakiman datang.” Ayat 7 memberi penjelasan lebih lanjut dan tidak mengacu pada sesuatu yang baru. Grammar yang dipakai oleh Darby dan terjemahan Steven menunjukkan bahwa ayat 7 merupakan penjelasan lebih lanjut dari ayat 6. Para malaikat ini sama seperti di ”Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar.” Mereka dijadikan sebagai ”peringatan” dan akan ”menanggung siksaan api kekal.” Ayat ini tidak mengatakan mengenai orang-orang Sodom dan Gomora yang melakukan percabulan tetapi mengatakan mengenai para malaikat yang melakukan percabulan sama seperti orang-orang Sodom dan Gomora. Faktanya, mereka melakukan percabulan. Mereka lupa segalanya dan hanya tahu melakukan percabulan. Mereka ”datang dalam bentuk daging yang berbeda.” maka, ”mereka dijadikan sebagai peringatan, yang menantikan penghukuman siksaan api kekal.” Kita bisa mengatakan bahwa Yudas 6 dan 7 merupakan penjelasan atas Kejadian 6.

Mari kita gunakan bagian yang sulit dalam Alkitab sebagai ilustrasi. Yohanes 20:23 mengatakan, ”Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni.” Ini bagian yang sulit. Bagaimana mungkin manusia berkuasa mengampuni dosa orang lain? Orang-orang Roma Katolik memakai ayat ini sebagai dasar mereka menarik orang. Sebenarnya, ayat ini harus dihubungkan dengan ayat sebelumnya yang berbicara mengenai menerima Roh Kudus. Dengan kata lain, Tuhan telah memberikan Roh Kudus kepada gereja-Nya sehingga gereja, sebagai wadah dan wakil-Nya, bisa mengampuni orang lain. Kita menyebutnya sebagai ”alat mengampuni”. Misalnya saya sedang memberitakan injil, dan saya menghampiri orang dosa. Dia mengaku bahwa dia adalah orang dosa dan meminta pengampunan dari Allah. Dia menangis, meratap, bbertobat, dan sungguh-sungguh menerima Tuhan Yesus, tetapi dia masih belum mengerti perkara pengampunan. Jika ada seorang dalam gereja yang berdiri dan mengatakan kepadanya, ”Allah sudah mengampuni dosa-dosamu,” maka perkataan ini akan sangat membantu dia. Gereja bisa memutuskan siapa yang bersyarat untuk dibaptis dan siapa yang memenuhi syarat datang pada meja Tuhan karena harus terlebih dahulu menerima Roh Kudus. Di bawah kuasa Roh Kudus, gereja bisa melatih kuasanya untuk mengampuni dosa dan menyatakan dosa orang tetap ada. Gereja bisa memafkan asalkan gereja tinggal dan bersatu dengan Roh Kudus dan menghirup Roh Kudus. Tidak ada orang yang bisa mengampuni jika dia berdiri dalam daging. Jika kita menyadari pengampunan ini sebagai alat mengampuni, kita tidak akan ada masalah dengan bagian ini.

Ayat-ayat di atas memberikan dua ilustrasi mengenai bagaimana menghadapi bagian yang sulit dalam Alkitab. Interpretasi dari setiap bagian yang sulit harus didukung oleh bukti-bukti yang memadai dan harus memperhatikan konteks bagian itu. Tidak boleh keluar dari konteks atau berprasangka.

XXII. KITAB DEMI KITAB

Kita juga bisa mempelajari kitab demi kitab. Kita bisa mempelajari kitab Pentateukh, kitab-kitab sejarah, Mazmur, dan kitab nabi-nabi. Isi dari setiap kitab harus dihafal. Saat mempelajari kitab nabi-nabi kita harus mencari berapa jumlah nabi yang hidup sebelum penawanan, selama penawanan, dan setelah penawanan. Mempelajari Perjanjian Baru juga harus demikian. Kiga harus mengetahui bagian sejarah dari Perjanjian Baru. Kita harus mengetahui surat-surat kiriman kepada gereja, surat kiriman untuk pribadi, dan nubuat-nubuat. Seorang anak Allah mungkin tidak perlu menelurusi setiap kitab dalam Alkitab, namun setidaknya dia harus mengetahui isi setiap kitab. Kita harus sedikitnya menghabiskan waktu dua tahun untuk melihat keseluruhan enam puluh enam kitab. Jika kita ingin lebih mengetahuinya, kita harus menghabiskan lima sampai enam tahun. Ketika kita sudah terbiasa dengan isi setiap kitab, kita akan mengetahui sifat setiap kitab, dan kita bisa menghubungkannya satu sama lain. Misalnya kita bisa menghubungkan Perjanjian Lama yang kita pelajari dengan kitab Roma, Efesus, dan Kolose. Semua ini merupakan ketrampilan dasar dan kita harus memperhatikannya.

XXIII. MENDALAMI BEBERAPA KITAB

Setelah kita mempelajari secara menyeluruh semua kitab, kita harus memilih beberapa kitab dan mendalaminya. Kita perlu menyelidikinya secara mendalam.

Untuk Perjanjian Lama, setidaknya kita harus mempelajari kitab Kejadian, Daniel, dan Kidung Agung. Jika memungkinkan kita juga bisa menambahkan kitablain seperti Pentateukh, Keluaran, Bilangan, atau Imamat. Untuk nubuat, kita bisa menambahkan kitab Zakharia. Kitab Yesaya sudah pasti memiliki nilai khusus, tetapi banyak nubuat dalam kitab tersebut yang sudah tergenapi. Kitab Zakharia seperti kitab Daniel karena banyak nubuat yang belum tergenapi. Itulah sebabnya kami menyarankannya.

Untuk Perjanjian Baru, kita harus mempelajari setidaknya empat kitab: Matius, Roma, Efesus, dan Wahyu. Kitab-kitab ini merupakan kitab dasar. Jika kita masih ada waktu, kita juga bisa mempelajari Injil Yohanes, dan 2 Korintus. Jika kita membiasakan diri kita dengan lima atau enam kitab, lalu perlahan-lahan menambah lagi daftar yang dipelajari, kita akan memiliki pengetahuan yang mendalam dari sepuluh sampai dua puluh kitab dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun.

XXIV. KRISTUS

Banyak orang pernah mengatakan bahwa Alkitab merupakan kitab khusus mengenai Kristus. Tujuan dari Alkitab adalah menuntun manusia pada pengetahuan akan Kristus. Melalui Perjanjian Lama dan Baru, kita melihat garis Kristus. Kita bisa menemukan Kristus dalam kitab Kejadian. Dalam 1:26 ada pertemuan Ke-Allahan yang membahas penciptaan manusia. Ayat 27 menunjukkan kepada kita bagaimana Dia menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya. Ayat 26 mengatakan, ”Mariah Kita,” ayat 27 seharusnya memakai kata mereka. Tetapi ayat 27 memakai kata dia. Dia, di sini dengan jelas mengacu pada Kristus, karena hanya Dia satu-satunya dalam Ke-Allahan yang memiliki gambar. Itulah sebabnya, dalam penciptaan, manusia diciptakan menurut gambar-Nya.

Kejadian 3 mengatakan mengenai benih perempuan. Matius 1 menunjukkan kepada kita bahwa anak Maria adalah meturunan perempuan. Dari Kejadian sampai Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, kita melihat Alkitab penuh dengan Kristus. Kita melihat Kristus dalam sejarah Daud. Kita melihat Kristus dalam kitab-kitab sebelum penawanan dalam kitab nabi-nabi seperti kitab Yesaya dan Yunus. Kitab-kitab nabi selama penawanan dan dalam kitab setelah mereka kembali dari penawanan juga penuh dengan Kristus.

Kita menemukan Kristus tidak hanya dalam nubuat-nubuat tetapi dalam semua upacara hukum-hukum. Baik kitab Kejadian dan Imamat membicarakan mengenai persembahan. Bahkan setelah pembangunan baik, tetap ada persembahan. Pertama, kita melihat Kristus dalam persembahan dan korban-korban. Kedua, kita melihat Kristus dalam peraturan mentahirkan orang kusta, membersihkan dengan debu dari lembu merah dan pentahiran para imam. Ketiga, kita melihat Kristus dalam keimaman, dalam jubah imam, dan dalam tugas-tugas mereka di depan Allah. Keempat, kita melihat Kristus dalam semua perjamuan.

Banyak juga tokoh-tokoh melambangkan Kristus. Beberapa melambangkan Dia secara eksplisit, yang lainnya secara koresponden. Apakah yang dimaksud secara eksplisit? Tuhan Yesus berkata, ”Sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo” (Luk. 11:31). Ini menunjukkan bahwa Salomo adalah lambang Tuhan Yesus. Tuhan juga berkata, ”Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat. 12:40). Ini merupakan pernyataan langsung bahwa Yunus adalah lambang dari Kristus. Galatia 3 secara eksplisit menunjukkan bahwa Ishak adalah lambang Kristus. Yusuf, bukan lambang lansung. Meskipun beberapa pengalaman Yusuf berhubungan dengan Kristus, kita tidak bisa menemukan satu bagian pun yang mengatakan Yusuf adalah lambang Kristus. Itulah sebabnya, tidak hanya kita bisa menemukan secara langsung orang yang melambangkan Kristus, teapi kita juga bisa menemukan orang yang berkorespon dengan Kristus. Adam, Nuhm Yusuf, Daud, dan Yosafat termasuk dalam kategori ini.

Ada juga lambang Kristus yang lain, seperti manna, ular tembaga, tabut, tangga Yakub, dsb. dalam Perjanjian Lama Kristus juga dilambangkan degan dua ekor burung dara, dua raja-raja, kedua imam, dan kedua pelopor. Kedua burung dara melambangkan kematian dan kebangkitan. Kedua raha-raja melambangkan peperangan dan perdamaian. Kedua imam melambangkan perkara bumiah (Harun) dan perkara surgawi (Melkisedek). Kedua pelopor berkaitan dengan keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan masuk ke tanah Kanaan. Semua ini melambangkan Kristus.

Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan sejarah Kristus, pengajaran, mujizat, dan nubuat. Dalam Kisah Para Rasul kita melihat pemerajaan-Nya hari ini. Dalam surat-surat kiriman kita melihat kediaman-Nya. Dalam kitab Wahyu kita melihat pemerajaan-Nya di masa mendatang. Menelusuri garis Kristus merupakan latihan yang sangat baik, kita bisa melakukannnya dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu.

XXV. WORD STUDY

Cara ini merupakan cara paling penting untuk mempelajari Alkitab, dan ruang lingkupnya cukup luas. Kita harus membahas metode belajar suatu subjek secara khusus. Kelihatannya, belajar word study sama seperti belajar suatu topik, tetapi sebenarnya keduanya berbeda. Belajar topik penekanannya pada subjek; kata-kata di dalam Alkitab tidak perlu sesuai dengan subjeknya, tetapi kita bisa menganggap isi dan makna rohani terks itu, menaruh teks yang isi dan maknanya sama dalam satu kelompok. Ini artinya belajar suatu subjek. Akan tetapi, belajar word study itu berarti mencari semua ayat-ayat yang berisi kata-kata khusus dan mempelajarinya. Saat melakukan word study, kita bisa menggunakan konkordansi. Berikut ini beberapa kata yang bisa dipakai untuk word study: 1) dosa, 2) kematian, 3) pertobatan, 4) iman, 5) pengampunan, 6) pendamaian, 7) rahmat, 8) kasih karunia, 9) kebenaran, 10) Hukum Taurat (yaitu hukum-hukum yang tertulis), 11) hukum (mis. Hukum akal budi, hukum roh, dsb.), 12) hayat, 13) pekerjaan, 14) tua, 15) baru, 16) penyaliban, 17) darah, 18) keselamatan, 19) penebusan, 20) penggantian, 21) dibangkitkan, 22) anak, 23) imam, 24), persembahan, 25) kekudusan, 26) kasih, 27), harapan, 28) hati, 29) roh, 30) trang, 31) sukacita, 32) damai sejahtera, 33) kebenaran, 34) kemuliaan, 35) doa, 36) berkat, 37) janji, 38) penghiburan, 39) makanan, 40) ketaatan, 41) penderitaan, 42) pencobaan, 43) dunia, 44) daging, 45) bersifat daging, 46) kutuk, 47) pikiran, 48) kelahiran, 49)siapa saja, dan 50) gunung. Jika kita ingin menambahkan pada daftar tersebut, kita bisa dengan mudah menambahkan dua tiga atau empat kali. Tetapi mestinya daftar kata-kata di atas sudah cukup untuk para pemula. Pendekatan ini membuat kita memperhatikan makna kata-kata dan frekuensi penggunaannya. Jika mengumpulkan semua ayat bersama-sama dan menyusunnya, kita akan menemukan bahwa Allah telah mengatakan kata-kat ini.

Misalnya, ketika mempelajari kata sukacita, kita bisa mencari semua ayat yang berisi kata ini. Kita bisa mencatat berbagai ajaran yang berhubungan dengan sukacita dan mengelompokkannya secara berurutan. Kapan kita harus bersukacita? Darimanakah asal sukacita kita? Orang seperti apa yang tidak bisa bersukacita? Bagaimana kita bisa bersukacita? Jika kita melakukan hal ini, kita akan mengetahui subjek dari sukacita.

Kata lain yang ditemukan di dalam Alkitab adalah makanan. Mari kita lihat beberapa ayat mengenai makanan. Yohanes 4:34 mengatakan, ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Mazmur 37:3 mengatakan, ”Makanlah atas kasih setia-Nya (lit).” Ketika dua belas orang pengintai kembali dari pengintaian mereka di Kanaan, mereka berkata, ”Orang-orang yang tinggi perawakannya . juga kami lihat di sana orang-orang raksasa...dan kami lihat diri kami seperti belalang.” Tetapi Yosua dan Kaleb berkata, ”Janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis (lit. Mereka menjadi roti kita) (Bil. 13:25—14:9). Jika kita mengelompokkan kta makanan ini kita akan melihat tiga jenis makanan. Pertama, ada makanan yang melakukan kehendak Bapa. Semakin kita melakukan kehendak Bapa, kita semakin kuat karena kita memiliki makanan untuk dimakan. Tuhan mengutus murid-murid-Nya mencari makanan karena dia meras lapar. Tetapi ketika mereka kembali membawa makanan, Tuhan berkata, ”Aku memiliki makanan untuk dimakan.” Murid-murid heran dan saling bertanya, ”Apakah ada orang yang telah memberikan makanan kepada-Nya?” Tuhan berkata, ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang menguutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:32-34). Ini menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan kita tidak boleh melemahkan kita. Sebaliknya, pekerjaan kita harus menguatkan kita. Tidak hanya doa itu menyuplai mengenyangkan kita, tetapi pekerjaan pun menyuplai kita. Jika kita melyani Allah di ladang-Nya sama seperti yang Tuhan kerjakan, kita pun akan langsung merasa disuplai saat kita bekerja karena makanan kita adalah melakukan kehendak Bapa. Kedua, kesetiaan Allah adalah makanan kita. Allah adalah Allah yang setia, dan kita bisa makan atas kesetiaan-Nya. Setiap kali Allah menjawab doa kita, iman kita semakin dikuatkan. Setiap kali kita percaya pimpinan Tuhan, kita disuplai. Semakin kita percaya ke dalam Allah, semakin kita dipuaskan dan dikuatkan. Kesetiaan Allah menjadi makanan kita. Ketiga, bahkan raksasa pun menjadi makanan kiga. Setiap raksasa yang kita makan menguatkan diri kita. Kiga kita makan satu hari ini, kita bisa makan dua besok, dan empat pada hari berikutnya. Kita akan semakin kuat dan semakin puas saat memakan mereka. Banyak orang merasa lemah karena mereka tidak pernah menang atas raksasa yang ada di Kanaan. Dengan kata lain, setiap kesulitan merupakan makan dari Allah untuk kita makan. Jika kita tidak memakannya, kita akan menjadi lapar. Jika kita memakannya, kita akan menjadi kuat, dan pencobaan ada dibelakang kita.

Ada seorang saudara yang pernah mempelajari kata panggilan. Dia meletakkan lusinan ayat bersama-sama dan mengelompokkannya menjadi sepuluh bagian. Untuk contoh, saya menulisnnya berikut ini:

Bagian Satu—Sumber panggilan kita:

1.

Sumber utama—Allah (1 Tes. 2:12).

2.

Sumber kedua—Yesus Kristus (Rm. 1:6).

Bagian Dua—Orang-orang yang dipanggil:

1.

Ruang Lingkup (secara umum)—semua manusia (1 Kor. 1:24).

2.

Ruang Lingkup (Secara rohani)—orang-orang berdosa (Luk. 5:32).

3.

Penilaian Allah—bejana belas kasihan (Rm. 9:23-24).

4.

Kondisi sebenarnya—bukan orang-orang berhikmat (1 Kor. 1:26).

Bagian Tiga—Tujuan panggilan kita:

1.

Pertobatan (Luk. 5:32).

2.

Keselamatan (2 Tes. 2:13-14).

3.

Damai sejahtera (Kol. 3:15).

4.

Terang (1 Pet. 2:9).

5.

Persekutuan (1 Kor. 1:9).

6.

Pelayanan (Rm. 1:1).

7.

Kebebasan (Gal. 5:13).

8.

Kekudusan (1 Kor. 1:2).

9.

Penderitaan (1 Pet. 2:21).

10.

Hayat kekal (1 Tim. 6:12).

11.

Warisan kekal (Ibr. 9:15).

12.

Kemuliaan kekal (1 Pet. 5:10).

Bagian Empat—Prinsip panggilan:

1.

Menurut rencana Allah (Rm. 8:28).

2.

Menurut kasih karunia Allah (2 Tim. 1:9).

3.

Tidak menurut perbuatan manusia (2 Tim. 1:9).

Bagian Lima—cakupan panggilan kita:

1.

Dalam Tuhan (1 Kor. 7:22).

2.

Dalam kasih karunia (Gal. 1:6).

3.

Dalam damai sejahtera (1 Kor. 7:15).

4.

Dalam pengudusan (1 Tes. 4:7).

5.

Dalam satu Tubuh (Kol. 3:15).

Bagian Enam—Cara kita dipanggil:

1.

Melalui injil (2 Tes. 2:14).

2.

Melalui Kasih karunia Allah (Gal 1:15).

3.

Melalui kemuliaan Allah (2 Pet. 1:3).

4.

Melalui sifat ilahi ( 2 Pet. 1:3).

Bagian Tujuh—sifat panggilan kita:

1.

Kudus (2 tim. 1:9).

2.

Dari atas ( Fil. 3:14).

3.

Surgawi ( Ibr. 3:1).

4.

Rendah hati ( 1 Kor. 1:26).

Bagian Delapan—Syarat panggilan kita:

1.

Tinggal di dalamnya (1 Kor. 7:20, 24).

2.

Berjalan menurut panggilan (1 Kor. 7:17).

3.

Berpadanan dengan panggilan (Ef. 4:1).

4.

Rajin (2 Pet. 1:10).

Bagian Sembilan—Dorongan panggilan kita:

1.

Pengharapan (Ef. 1:18; 4:4).

2.

Pahala (Fil. 3:14).

Bagian Sepuluh—Jaminan panggilan kita:

1.

Sifat Allah—setia (1 Ko. 1:9; 1 Tes. 5:24).

2.

Rencana Allah (Rm. 8:30).

3.

Kasih karunia Allah (Rm. 11:29).

Semua ayat-ayat di atas berisi kata panggilan. Saudara tersebut menyusun semua ayat ini dan membaginya menjadi sepuluh bagian. Setelah selesai, kita bisa melihat gambaran yang jelas akan panggilan kita. Jika kita menggunakan kata ini berulang-ulang, kita akan mendirikan dasar pengetahuan Alkitab yang teguh bagi diri kita.

Ketika membaca kitab Kejadian, kita harus memperhatikan kata keturunan. Misalnya, 5:1 mengatakan, ”Inilah daftar keturunan Adam.” Saat membaca kitab Keluaran kita harus memperhatikan frase Tuhan memerintahkan. Dalam kitab Imamat kita menemukan kata kudus berulang kali. Dalam kitab Mazmur kita menemukan ekspresi firman-Mu, musuh-musuh, menunggu dan sela. Dalam kitab Amsal kita menemukan kata hikmat, kebohongan, jahat, kemalasan, kesombongan, hati, mulut, bibir, dan mata berulang kali. Dalam kitab Pengkhotbah kita menemukan kata kesia-sian, di bawah matahari berulang-ulang. Dalam kitab Kidung Agung kita menemukan kata kasih, dan mur. Dalam kitab Matius kita menemukan kata kebenaran dan kerajaan surga. Juga kata gunung; dalam kitab Matius sedikitnya ada delapan kali disebutkan kata gunung: 4:8; 5:1; 14:23; 15:29; 17:1; 24:3; 26:30; 28:16, dan setiap kali terjadi sesuatu yang penting. Dalam kitab Markus kita menemukan kata segera. Dalam Lukas kita menemukan kata Anak Manusia. Dalam kitab Yohanes kita menemukan kata diutus, dunia, Bapa, dan tinggal. Dalam Kisah Para Rasul kita menemukan kata roh. Dalam kitab Roma, kematian, iman, dan kebenaran. Kitab Galatian memakai kata kasih dan tidak memakai kata kekudusan sama sekali. Kita harus memperhatikan semua fakta ini dan tidak melewatkannya begitu saja. Kadang-kadang kata yang sama dipakai beberapa kali dalam satu bagian atau beberapa bagian firman. Misalnya, 1 Tawarikh 16 dan Mazmur 71 memakai kata terus menerus sebanyak tujuh kali: 1 Taw. 16:6, 11, 37, 40; Maz. 71:3, 6, 14. Mazmur 86 memakai kata untuk sebanyak delapan kali, Yosua 23 memakai kata Yehovah Allahmu sebanyak tiga belas kali, dan Ezra 7 memakai tujuh perkara berkaitan dengan Allah (tangan Allah, hukum Allah, rumah Allah, kehendak Allah, mezbah rumah Allah, minister rumah Allah, dan hikmat Allah). Paulus memakai kata apapun yang kau perbuat sebanyak tiga kali dalam surat kirimannya. ”Apapun yang kau lakukan...lakukanlah dalam nama Tuhan Yesus” (Kol. 3:17). ”Apapun yang kau perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan” (3:23), ”Apapun yang kau lakukan, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Tuhan” (1 Kor. 10:31). Injil Yohanes dan sura kiriman Yohanes mengatakan kata dipenuhi sebanyak enam kali: Yoh. 3:29; 15:11; 16:24; 17:13; 1 Yoh. 1:4; 2 Yoh. 12. Surat kiriman Paulus memakai kata syukur kepada Allah sebanyak lima kali: Rm. 6:17; 7:25; 1 Kor. 15:57; 2 Kor. 2:14; 9:15. kata menang dalam kitab Wahyu, berharga dalam surat kiriman Petrus, dan sukacita dalam kitab Filipi memiliki arti yang sangat khusus dan tujuan yang mendalam dalam penggunaanya. Saat membaca Alkitab, kita harus menggali kata-kata ini dan menyusunnya menjadi garis besar kebenaran. Hal ini ada mendatangkan manfaat yang luar biasa bagi kita.

XXVI. DOKTRIN

Kira-kira dalam Alkitab ada tujuh doktrin mendasar. Antara lain adalah: 1) Allah Bapa, 2) Anak Allah, 3) Roh Kudus, 4)dosa, 5) penebusan, 6) Hayat dan penghidupan orang Kristen, dan 7) peristiwa masa depan. Semuanya merupakan doktrin-doktrin penting. Semuanya merupakan teologi.

Mengenai Allah Baoa, kita bisa melihat pada nama-Nya, hati-Nya, sifat-Nya, atribt-Nya, kuasa-Nya, otoritas-Nya, hubungan-Nya dengan Putra, jalan penebusan-Nya, dll. Kita juga harus mengelompokkan ayat-ayatnya.

Ketika Tuhan Yesus datang ke bumi, Dia dengan jelas memproklamirkan diri-Nya sebagai Putra. Maka, untuk selamanya dan sampai kekal Tuhan Yesus adalah Putra. Namun pengesahan diri-Nya sebagai Putra baru muncul setelah kebangkitan-Nya. Ibrani 1:5 mengatakan, ”Engkau telah kuperanakkan pada hari ini.” ini mengacu pada kebangkitan Tuhan. Roma 1:4 juga mengatakan, ”dan menurut Roh Kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”

Setelah kita menyelesaikan doktrin mengenai Bapa dan Putra, kita bisa melanjutkan dengan doktrin Roh Kudus. Untuk memahami Roh Kudus, sedirikitnya kita harus mengetahui pekerjaan-Nya dalam manusia dan pekerjaan-Nya di luar manusia. Kita harus dengan jelas membedakan antara pekerjaan Roh Kudus di atas manusia dan pekerjaan-Nya di dalam manusia. Jika kita tidak bisa membedakannya, kita tidak akan memiliki pengertian yang jelas mengenai Roh Kudus.

Kita juga harus melihat perkara dosa, penebusan, dan penghidupan anak0anak Allah di bumi hari ini, dan peristiwa yang akan terjadi kelak. Hampir semua teologian mempelajari ketujuh doktrin tersbut. Saat kita jelas dengan ketujuh perkara tersebut, kita akan memiliki tingkat kepastian mengenai pengajaran mendasar dari Alkitab.

XXVII. KEMAJUAN DOKTRIN DALAM ALKITAB

Setiap pembaca Alkitab harus mengetahui satu hal: Alkitab adalah wahyu Allah yang diberikan kepada kita dalam banyak cara dan bagian (Ibr. 1:1). Allah memberi kita wahyu tidak hanya dalam banyak bagian tetapi juga dalam banyak cara, dan setiap kali Ia memberi kita wahyu yang baru, wahyu itu semakin maju. Kita harus menemukan kemajuan kebenaran Allah melalui Alkitab. Saya tidakbermaksud mengatakan bahwa wahyu Alkitab tidak lengkap. Wahyu Allah ada dalam seluruh dan Alkitab dan sudah lengkap. Akan tetapi, wahyu ini semakin maju. Dalam tahap pertama Allah mewahyukan diri-Nya dengan cara tertentu. Dalam tahap kedua wahyu-Nya semakin ditambahkan pada tahap pertama. Dalam tahap berikutnya semakin banyak wahyu yang ditambahkan. Hal ini dilakukan sampai semuanya lengkap. Kita tidak bisa mengatakan bahwa wahyu Allah tidak sempurna dalam suatu tahap. Namun, ketika dibandingkan dengan keseluruhan wahyu, setiap wahyu itu belum lengkap. Wahyu Allah kepada Abraham sempurna dan lengkap pada jaman itu. Teapi kita harus menelusuri wahyu Allah melalui Adam, Nuh, Abraham, bangsa Israel, Musa, dll., secara lengkap dan menyeluruh. Wahyu-Nya selalu maju.

Kita juga harus belajar membedakan kebenaran jaman Allah dari kebenaran kekal-Nya. Dalam Alkitab, beberapa doktrin hanya untuk satu jaman tertentu, sedangkan doktrin lainnya berlaku untuk semua jaman. Terkadang Allah memberikan perintah dalam satu jaman, dan perintah-Nya ini tidak dimaksud untuk sepanjang jaman sampai nanti pada kekekalan. Misalnya, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk membunuh orang-orang Kanaan. Ini kebenaran pada satu jaman, tidak dimaksudkan sampai kekekalan membunuh mereka. Kita harus bisa membedakan kebenaran satu jaman dengan kebenaran kekal. Ini sangat penting. Beberapa kata dipakai dalam sifat jaman itu. Dipakai untuk manusia pada satu jaman dan bukan sepanjang jaman. Namun ada juga kata-kata yang berlaku sampai kekal dan diterapkan kepada manusia sepanjang jaman. Saat membaca Alkitab kita harus membedakan antara kebenaran jaman dan kebenaran kekal. Kita harus mengetahui mana kata yang bisa diterapkan pada satu jaman dan mana yang bisa diterapkan pada sepanjang jaman. Kita harus membedakan keduanya dengan sangat jelas. Jika kita kita akan berhadapan dengan halangan yang tidak bisa diatasi.

Banyak orang yang salah konsep dengan mengatakan bahwa perkataan dalam Perjanjian Lama hanya untuk orang-orang yang hidup pada masa itu. Mereka menganggap perkataan dalam Perjanjian Lama hanya berlaku untuk jaman itu. Ada lagi orang lain yang berpikir sebaliknya, dan mereka mengambil kebenaran Perjanjian Lama sebagai kebenaran kekal. Tetapi kita harus membedakan kebenaran setiap jaman dari kebenaran kekal. Jika perkataan Allah kepada manusia hanya bisa diterapkan pada jaman tertentu saja, maka disebut kebenaran jaman itu. Jika perkataan-Nya bisa untuk sepanjang jaman, maka disebut kebenaran kekal. Kebenaran kekal itu terus berlanjut. Dalam satu jaman Allah mungkin hanya mengatakan satu atau dua kata saja. Di jaman berikutnya Allah mungkin lebih sedikit berbicara. Namun, kita harus mengetahui kemajuan kebenaran hanya bisa dilihat dari Alkitab. Doktrin yang berkembang terpisah dari Alkitab tidak bisa dianggap sebagai kebenaran yang maju.

Saat membaca kitab Kejadian, kita menemukan Allah sebagai Pencipta, Penguasa, Pemberi hukum taurat, Hakim, dan juga Penebus. Kemajuan mengenai Allah dalam Perjanjian Lama terus maju dan berkembang. Kelima aspek tersebut dibahas dalam seluruh Perjanjian Lama. Dalam kitab Kejadian kita juga melihat bahwa penciptaan manusia begitu mulia dan kejatuhannya begitu memalukan. Manusia perlu keselamatan, dia mencari Allah, dan ia mencoba menyelamatkan dirinya dengan bekerja. Inilah yang dikatakan dalam kitab Kejadian mengenai doktrin manusia; namun Perjanjian Baru lebih detail mengenai lima kebenaran mengenai manusia. Inilah yang kami maksud dengan kemajuan kebenaran.

Dari Adam sampai Samuel, kita menemukan teokrasi, yaitu Allah mengatur umat-Nya secara langsung. Dari Daud dan Salomo sampai penawanan ke Babel, kita melihat monarki yaitu Allah mengatur umat-Nya melalui raja-raja. Dari penawanan di Babel sampai kedatangan Tuhan Yesus, kita melihat nabi-nabi dan para imam. Pertama ada teokrasi, kemudian monarki, kemudian para nabi dan imam. Dari awal sampai akhir, ada kemajuan dari peraturan luaran sampai peraturan batini. Secara luaran semuanya kelihatan gagal. Tetapi secara batini ”kebenaran” datang. Inilah kemajuan kebenaran.

Dalam Perjanjian Baru kita melihat Kristus dengan jelas dalam keempat kitab Injil. Ini jelas suatu kemajuan. Kita bisa membedakan keempat kitab Injil menjadi tujuh bagian.

Dalam bagian pertama Tuhan Yesus membukan bahwa Diri-Nya adalah Mesias. Ini terjadi di Yerusalem, Yudea, dan Samaria dan dicatat dalam Yohanes 1—4.

Dalam bagian kedua, setelah Mesias, subjek mengenai kerajaan surga diperkenalkan. Kita dapat melihatnya dalam Matius4, isi kerajaan surga dalam pasal lima sampai tujuh, dan misteri kerajaan dalam pasal tiga belas. Bagian kedua berkembang pada perkara kerajaan surga.

Dalam bagian ketiga ada pekerjaan Anak Allah, dimulai saat Tuhan memberi makan lima ribu orang. Injil Yohanes secara khusus memperhatikan hal ini. Meskipun injil yang lain juga menulisnya, catatan Yohanes lebih memberikan makna khusus. Yohanes menekankan bahwa Tuhan memberi makan kepada lima ribu orang bertjuan membuktikan diri-Nya sebagai Allan Allah. Dari poin inilah ada pengakuan Petrus akan Kristus dan Anak Allah di Kaesarea. Kemudian dalam transfigurasi Tuhan di atas gunung. Semua ini membuktikan siapa Tuhan Yesus itu.

Dalam bagian keempat, setelah gunung perubahan, Tuhan mengarahkan pandangan-Nya pada Yerusalem. Kristus sekarang menjadi Yang menderita, Seorang yang menuju kematian (Mat. 16:21; Luk. 9:51).

Dalam bagian kelima Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem dan berbicara mengenai kedatangan-Nya kali kedua. Setelah itu kita melihat nubuat yang diberikan-Nya di atas bukit Zaitun dalam Matius 24—25.

Dalam bagian keenam, pada malam Paskah, Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya di atas loteng mengenai pencurahan Roh Kudus, perumpamaan mengenai pokok anggur, dsb. (Yoh. 14—17).

Dalam bagian ketujuh, Kristus yang bangkit memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan injil.

Saat membaca kitab Injil kita pertama-tama harus mengenlai ketujuh bagian mengenai sejarah Kristus. Setelah itu baru kita akan memahami pekerjaan dan tindakan Tuhan Yesus.

Dalam kitab Kisah Para Rasul kita menemukan tiga perkara penting: 1)kebangkitan Tuhan Yesus, 2) pemerajaan-Nya, dan 3) pengampunan-Nya. Kristus yang bangkit hari ini sedang meraja, dan Ia memberitakan kabar pengampunan kepada semua manusia. Ini menunjukkan bahwa kitab Kisah Para Rasul lebih maju dibandingkan dengan kitab Injil.

Setelah itu ada tulisan-tulisan Paulus. Kita harus memperhatikan bahwa urutan suratnya berbeda dari waktu penulisannya. Menurut urutan waktu seharusnya demikian: 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Roma, Filemon, Kolose, Efesus, Filipi, 1 Timotius, Titus, 2 Tiomtius. (Jika kita menganggap kitab Ibrani sebagai tulisan Paulus maka kita bisa menaruhnya sebelum 1 Timotius. Tulisan-tulisan Paulus bisa dibagi menjadi empat kategori;

1) 1 dan 2 Tesalonika pada kedatangan Tuhan.

2) 1 dan 2 Korintus ditambah Galatia untuk membetulkan kesalahan kaum beriman.

3) Roma, Filemon, Kolose, Efesus, dan Filipi mengenai Kristus.

4) 1 dan 2 Timotius dan Titus mengenai administrasi dan urutan dalam gereja. Kitab-kitab ini tidak terlalu banyak membahas mengenai wahyu. Wahyu Allah kepada Paulus mencapai puncaknya dalam kitab Efesus.

Dari pembagian di atas kita melihat bahwa kebenaran terus maju. Pada jaman Paulus, gereja sudah berdiri, kesalahan kaum beriman sudah dikoreksi, kekayaan gereja ditampilkan, dan kedatangan Kristus sudah diberikan. Ini suatu kemajuan. Surat-surat kiriman lainnya, seperti Ibrani, Yakobus, 1 dan 2 Petrus, dan Yudas, berbeda sifat; kitab-kitab tersebut memiliki karakteristiknya tersendiri. Ada yang menyebutnya ”surat kiriman biasa.” kitab Ibrani menunjukkan perjanjian yang baru. Yakobus menunjukkan pekerjaan. Satu dan 2 Petrus menunjukkan kepada kita enderitaan dan harapan. Yudas menunjukkan keteguhan iman. Surat-surat kiriman ini membahas berbagai hasil seorang kristen; di dalamnya tidak ada wahyu yang berkembang. Akhirnya, kita memiliki surat Yohanes dan Wahyu. Di sini, kita melihat Yohanes membuat satu perkembangan lain. Paulus memberikan kebenaran, sedangkan Yohanes memberikan teologi. Yohanes secara khusus membahas realitas di balik kekristenan, yaitu hayat Allah. Surat kiriman Yohanes dan Wahyunya membawa kita kembali kepada Allah.

Kebenaran di dalam Alkitab terus maju. Setiap kebenaran ada puncaknya. Wahyu yang disingkapkan dalam satu kitab akan diteruskan dengan wahyu di kitab lainnya. Ketika kemajuan mencapai disatu kitab, maka wahyu mencapai punaknya. Sebagai contoh, saat mempelajari subjek kebenaran, kita harus memulainya dari kitab Matius dan melihat bagaimana topik ini pertama kali disingkapkan. (Kita bisa melewatkan ketiga kitab injil lainnya). Saat kita sampai pada kitab Roma dan Galatia, kita harus memulainya dari Matius 16. Dalam kitab Efesus, perkara ini sudah dibahas. Untuk subjek hayat, kita bisa memulainya dengan surat Yohanes, subjeknya mencapai puncaknya dan perkara itu sudah selesai.

Jika kita mendalami kitab demi kitab, kita akan menemukan dimana subjek itu pertama kali dibicarakan, dimana subjek itu berkembang dan diperluas, dan dimana subjek itu ada. Yang menarik adalah setelah subjek itu ada, tidak subjek itu tidak dibahas lagi dalam kitab lainnya, atau kitab-kitab itu melewatkannya. Tidak ada wahyu yang baru yang ditambahkan ke dalam subjek itu. Setelah seluruh Alkitab selesai, seluruh wahyu Allah mencapai puncaknya. Wahyu Allah selalu maju. Maju terus sampai segalanya menjadi lengkap.

Itulah sebabnya, saat membaca Alkitab kita harus melakukan dua hal. Pertama, kita harus mencari wahyu Alkitab, yaitu kita harus mencari kapan pertama kali kebenaran itu disebutkan. Kedua, kita harus mencari dimana arti baru dan wahyu baru ditambahkan. Kita harus menelusuri kebenaran setahap demi setahap dan menandainya. Satu kitab mungkin memberikan pengenalan. Kitab lainnya mungkin memberikan penjelasan lebih lanjut. Kitab yang ketiga mungkin memberi kita wahyu yang baru. Kita harus mencatat dan menyusun semua penjelasan dan wahyu yang baru ini. Setelah kita mengumpulkannya dan melakukan analisis, kita bisa memberikan pernyataan khusus mengenai kebenaran tersebut. Inilah teologi. Teologi yang tepat adalah mempelajari kebenaran Alkitab. Kita bisa menyebutnya teologi doktrinal. Jika kita mempelajari Alkitab dengan cara demikian, kita akan memiliki pemahaman yang jelas mengenai kebenaran Alkitab.

Kami akan menyimpulkan pembahasan kita mengenai cara belajar Alkitab.

Akhir kata, saya akan mengulangi perkataan saya sebelumnya, bahwa orang yang mempelajari Alkitab haruslah orang yang tepat. Dengan kata lain, seorang mungkin bisa mencoba semua dua puluh delapan cara belajar, tetapi dia tidak akan mendapatkan keuntungan. ”Huruf mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2 Kor. 3:6). Kami tidak bermaksud mengatakan bahwa seorang harus membaca Alkitab setelah dia sepenuhnya siap dan sempurna. Kami mengatakan bahwa, saat dia belajar Alkitab, dia harus melihat kondisi dirinya di depan Tuhan. Kondisi kita harus tepat, di sisi lain kita harus rela meluangkan banyak waktu mempelajari metode belajar yang berbeda. Hal ini akan sangat memastikan kita untuk menuai banyak hasil dan suplai yang limpah.