BAB TIGA
Kunci-Kunci Mempelajari Alkitab
I. Dengan Menyelidiki
Yohanes 5:39 berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci”. Kisah Para Rasul 17:11 berkata, “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika… setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci…” Hal pertama di dalam mempelajari Alkitab adalah memeriksanya. Kata memeriksa berarti “menyelidiki” di dalam bahasa aslinya. Dengan kata lain, jika kita ingin mencari apapun dalam Alkitab, kita harus menyelidikinya dari kitab suci itu sendiri. Kita harus mencarinya sama seperti kita mencari pakaian kita yang hilang di dalam lemari. Kita memeriksa segala sesuatu dengan tujuan menyelidiki satu hal. Di antara banyak firman yang telah Tuhan katakan, ada satu firman yang kita butuhkan pada saat itu. Ada satu firman yang akan memberikan bantuan rohani kepada kita pada saat tertentu untuk kesempatan tertentu. Kita mungkin menerima wahyu, dan kita perlu firman untuk menjelaskan dan mengekspresikannya. Atau kita mungkin perlu mencari wahyu Kitab Suci yang berkaitan dengan subyek tertentu. Untuk mencari perkara ini, kita perlu menyelidiki Firman Tuhan. Kita harus mendekati Alkitab dengan suatu pikiran yang menyelidiki. Menyelidiki artinya membaca dengan penuh pertimbangan dan menyerahkan waktu serta perhatian kepada bacaan kita. Kita harus mempelajari setiap kata hingga kita memahaminya. Ketika kita membaca kita perlu bertanya, “Kapankah ini ditulis? Siapa yang menulis? Apa tujuan dari penulisan ini?” Kita harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini satu persatu secara perlahan, mencari jawabnya dengan cermat, dan tidak berhenti hingga kita mendapatkan apa yang kita cari.
Kadang-kadang di dalam menjawab suatu pertanyaan, kita perlu menyelidiki seluruh Perjanjian Lama dan Baru untuk hal-hal yang berhubungan dengan subyeknya. Kita harus memeriksa seluruh Alkitab dengan cermat firman demi firman, kalau-kalau kita kehilangan sesuatu yang penting karena keloncatan membaca. Kadang-kadang kita mengetahui apa yang kita cari di dalam Firman Tuhan. Pada waktu lain kita bahkan tidak tahu apa yang kita cari. Terkadang kita hanya memerlukan satu hal, tetapi terkadang kita memerlukan banyak hal. Di dalam penyelidikan kita, kita perlu melatih perhatian dan kecermatan yang paling unggul. Kita tidak dapat membiarkan satu kata atau frase terlewat. Kita harus mengingat di dalam pikiran bahwa Alkitab adalah hembusan Allah (2 Tim. 3:16). Ini artinya setiap kata dan frase adalah firman Allah dan penuh dengan hayat. Kita harus mengabdikan perhatian kita yang terunggul kepada bacaan kita.
Kesabaran diperlukan pada saat membaca Alkitab. Jika kita tidak mengerti sesuatu, kita harus segera kembali kepadanya. Kita harus membaca sampai kita mengerti apa yang dikatakannya. Jika Tuhan menerangi kita dan membuka mata kita pada waktu pertama kali, kita dapat mengucap syukur pada Tuhan untuknya. Tetapi jika Ia tidak menerangi dan membuka mata kita pada saat pertama, kita harus kembali dan mempelajarinya dengan cermat untuk kedua, ketiga, dan bahkan keseratus kalinya. Ketika kita menemukan hal apapun di dalam Alkitab yang kita tidak mengerti, kita tidak perlu kuatir. Kita tidak perlu memaksa diri kita untuk menangkap atau memahaminya, dan tidak perlu memaksa untuk menerima terang darinya. Perkara-perkara yang keluar dari kepala tidak akan menghasilkan “amen” dari roh. Doktrin-doktrin yang disusun oleh pikiran akan ditolak oleh roh. Kita tidak boleh mempelajari Firman Allah menurut pikiran. Akan tetapi, kita harus bersabar, dan menyelidiki dengan pelan. Ketika saat Allah tiba, Ia akan menunjukkan sesuatu kepada kita.
Kesalahan besar yang dilakukan kebanyakan orang adalah mereka tidak menyelidiki Kitab Suci sendiri. Mereka membaca apa yang orang lain katakan. Tak peduli seberapa besar bantuan orang lain yang dapat diberikan kepada kita, kita harus membaca dan menyelidiki Kitab Suci sendiri. Kita tidak seharusnya mencari bantuan dari orang lain sepanjang waktu dan mengacuhkan untuk membaca Alkitab sendiri. Pada satu sisi, kita tidak meremehkan nubuat; kita memerlukan pengajaran para nabi sama seperti dari ministri yang lain. Namun pada saat yang sama kita perlu mempelajari Alkitab sendiri. Kita tidak dapat hanya menerima bantuan dari orang lain dan tidak membacanya sendiri.
II. Dengan Menghafal
Paulus memberitahu orang-orang Kolose, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu” (Kol.3:16). Untuk mendapatkan firman Kristus diam di dalam kita dengan kaya, paling tidak kita harus menghafalkan kitab suci. Tentu, penghafalan sendiri tidak akan menghasilkan firman Tuhan berdiam di dalam kita. Tapi kita dapat mengatakan jika seseorang tidak menghafalkan firman Tuhan, dia pasti tidak akan memilikinya dengan kaya di dalamnya. Jika seseorang hanya menghafalkan kitab suci dengan pikirannya, tetapi hatinya tidak menerima atau terbuka kepada Tuhan dan ia tidak tunduk atau lemah lembut, penghafalannya tidak akan menghasilkan firman Allah berdiam di dalam hatinya. Namun jika seseorang berpikir bahwa tidak perlu menghafal firman Allah karena ia hanya perlu untuk menjadi lemah lembut dan tunduk dan terbuka dan menerima Allah, ia juga tidak akan dapat memiliki firman Allah diam di dalam hatinya.
Paulus memberitahu orang Efesus, “perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kis. 20:35). Untuk mengingat firman Tuhan, kita harus menghafalnya. Jika kita tidak menghafalnya, kita tidak dapat mengingatnya. Tuhan Yesus menghafal kitab suci pada saat Ia berada di bumi. Ia mampu mengutip firman dari kitab Ulangan untuk menghadapi godaan-godaan satan (Mat. 4:1-10). Ketika Ia masuk sinagoge di Nazaret, Ia mampu membuka kitab Yesaya dan berbicara mengenai perintah dan amanat yang telah Ia terima dari Allah (Luk. 4:16-21). Ini memperlihatkan bahwa Tuhan kita sangat akrab dengan kitab suci. Untuk alasan ini kita harus memberikan semuanya untuk mempelajari dan menghafal Firman dengan lebih rajin. Jika kita tidak menghafalnya, kita akan melupakan apa yang telah kita baca, dan kita akan mendapat hasil yang sedikit darinya. Orang muda khususnya harus mencoba menghafal dan mengingatnya pada saat mereka membacanya dengan pikiran yang menyelidiki. Kita harus meluangkan waktu pada tahun-tahun awal kehidupan kristiani kita untuk menghafal kitab suci. Banyak bagian dari firman yang perlu dihafalkan. Sebagai contoh, Mazmur 23, Mazmur 91, Matius 5-7, Yohanes 15, Lukas 15, 1 Korintus 13, Roma 2-3, dan Wahyu 2-3 semuanya perlu dihafal. Mereka dengan ingatan yang kuat dapat menghafal lebih dari sepuluh ayat per hari. Mereka dengan ingatan yang kurang dapat menghafal paling tidak satu ayat dalam satu hari. Yang perlu kita lakukan adalah meluangkan lima sampai sepuluh menit per hari untuk mempelajari satu ayat secara menyeluruh dan menyelidiki serta menghafalnya. Dalam waktu kurang lebih enam bulan kita akan menghabiskan sebuah kitab seperti Galatia atau Efesus. Kitab seperti Filipi dapat diselesaikan dalam waktu empat bulan, dan kitab seperti Ibrani dapat diselesaikan dalam sepuluh bulan. Kitab Injil mungkin memerlukan waktu yang lebih lama. Namun, bahkan kitab seperti Injil Yohanes dapat dihafalkan dalam waktu delapan belas bulan. Jika saudara saudari muda mau mempelajari Alkitab dengan rajin dari awal penghidupan kristiani mereka dan menghafal paling tidak satu ayat sehari, mereka akan mampu menghafal sebagian besar ayat-ayat penting di dalam Perjanjian Baru dalam waktu empat tahun. Pembicaraan di atas adalah bagi mereka dengan ingatan yang kurang. Mereka yang ingatannya lebih baik dapat menghafal lebih baik. Tetapi bahkan mereka dengan ingatan yang kurang dapat menghafal satu ayat sehari selama empat tahun awal penghidupan kristiani kita. Jika mereka melakukan hal ini, mereka akan membangun dasar yang kuat bagi diri mereka sendiri untuk memahami Perjanjian Baru.
Jika hati kita terbuka kepada Tuhan dan lemah lembut di dalam sikap, akan lebih mudah bagi kita untuk menghafal kitab suci. Jika pikiran kita diletakkan di atas firman Tuhan sepanjang waktu, penghafalan akan menjadi tugas yang mudah. Ketika kita meraih setiap kesempatan yang ada untuk menghafal kitab suci, firman Allah akan berdiam di dalam kita dengan kaya. Jika kita tidak mengijinkan kitab suci berdiam di dalam hati kita, akan sulit bagi Roh Kudus untuk berbicara kepada kita. Pada saat Allah memberi kita suatu wahyu, Ia melakukannya melalui firman di dalam Alkitab. Inilah alasan kita harus memiliki firman Allah di dalam pikiran sepanjang waktu. Menghafal kitab suci bukan hanya untuk menghafal; itu juga berarti meletakkan dasar bagi kita untuk menerima wahyu. Jika kita sering menghafal kitab suci dan baik, akan menjadi mudah bagi kita untuk menerima wahyu dan terang, dan Roh Kudus akan menemukan bahwa lebih mudah bagiNya untuk berbicara kepada roh kita. Inilah alasan kita harus meluangkan waktu untuk menghafal firman, bukan hanya garis besar tetapi teks yang sebenarnya. Kita harus menghafalnya dengan tepat dan hati-hati.
Di samping bagian penting yang disinggung di atas, bagian penting lain juga harus dijadikan satu dan dhafalkan sebagai satu kesatuan. Sebagai contoh, perjalanan bangsa Israel adalah sepotong bagian penting. Perjalanan Elisa mengikuti Elia, perjalanan berhubungan dengan kotbah Petrus, dan perjalanan berhubungan dengan kotbah Paulus juga penting. Adalah yang terbaik untuk menghafal semua fakta ini. Jika kita dapat mengingat sejumlah tempat di Yudea dan Galilea di mana Tuhan Yesus bekerja, kita akan memiliki pikiran yang jelas tentang pekerjaan Tuhan secara keseluruhan di dalam kitab Injil. Pekerjaan Tuhan terbagi menjadi dua bagian, yang pertama dilakukan di Yudea dan yang kedua di Galilea. Juga perlu untuk meluangkan beberapa waktu untuk menghafal tujuh hari raya dan enam korban dalam kitab Imamat. Ini adalah kebenaran dasar. Ketika kita menghafalnya, kita akan menyedari kelimpahan firman Allah. Juga bukan ide yang buruk untuk menghafal dua doa Paulus di Efesus dan sepuluh referensi Roh Kudus di dalam kitab yang sama. Ayat semacam ini dapat ditemukan di seluruh Alkitab, dan akan baik bagi kita untuk menghafal itu semua. Jika itu adalah bagian yang penting, kita harus menghafal seluruh pasal. Jika itu beberapa ayat yang tersembunyi, kita harus menghafal ayat-ayat tersebut. Kita juga harus menghafal enam puluh enam kitab dalam Alkitab menurut urutan yang tepat.
III. Dengan Membandingkan
Mencari dan menghafalkan saja tidaklah cukup. Kita harus meletakkan bagian-bagian dari Firman bersama-sama dan membandingkan mereka.
Dalam 1Korintus 2 Paulus membicarakan hal-hal rohani dan manusia rohani. Jika kita membandingkan manusia rohani dan hal-hal rohani, kita akan melihat sesuatu.
Mazmur 36:9 berkata, “di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Tidaklah cukup untuk memiliki satu macam terang. Kita perlu dua macam terang. Sesungguhnya, satu terang menuntun pada terang yang lain. Terang menyeimbangkan terang dalam alkitab.
2Petrus 1:20 berkata, “nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.” Mudah bagi kita untuk mengerti ini dengan mengartikan bahwa nubuat-nubuat tidak diinterpretasikan oleh manusia. Tetapi menurut tata bahasa dari perkataan Petrus, ini berarti bahwa tidak ada nubuat dengan interpretasinya sendiri. Adalah miliknya (mengacu pada benda) buakn miliknya (mengacu pada orang). Jika ayat ini berarti bahwa tidak ada nubuat yang diinterpretasikan oleh manusia, Petrus akan terlalu sederhana, semua orang Kristen tahu bahwa nubuat Allah tidak dapat diinterpretasikan menurut gagasan manusia sendiri. Itu menjadi sesuatu yang tidak perlu Petrus katakan.tetapi ini bukan yang dimaksud oleh Petrus. Kata ditafsirkan menurut kehendak sendiri mengacu pada suatu interpretasi dari teks oleh teks itu sendiri. Ketika Petrus berkata bahwa seharusnya tidak ada nubuat yang diinterpretasikan menurut interpretasinya sendiri, dia mengatakan bahwa tiap nubuat memiliki arti yang berhubungan dengan teks itu sendiri. Tetapi perkataan Allah tidak akan lengkap hanya dengan satu teks saja. Dalam kitab-kitab nubuat kita diberitahu bahwa perkataan Allah adalah “disini sedikit, disana sedikit” (Yes 28:13). Karena itu, seharusnya tidak ada pelajar Alkitab yang menginterpretasikan suatu paragraf menurut paragraf itu sendiri. Ini adalah untuk menginterpretasikan menurut interpretasinya sendiri. Ketika kita membaca Daniel 9, kita tidak seharusnya hanya menginterpretasikannya menurut Daniel 9. dalam membaca Wahyu 13, kita tidak seharusnya hanya menginterpretasikannya menurut Wahyu 13. Jika kita menginterpretasikan kedua pasal ini hanya menurut kedua pasal ini, kita menginterpretasikan menurut interpretasi mereka sendiri, dan kita melanggar prinsip dari interpretasi nubuat.
Disini Allah menunjukkan pada kita sebuah prinsip: Kita harus membandingkan pembacaan kita atas satu paragraf dari Kitab Suci dengan paragraf yang lain. Kita tidak bisa mendasarkan interpretasi kita hanya diatas teks itu saja. Berkaitan dengan suatu pengajaran yang ditemukan dalam Alkitab, kita harus mencari penjelasan dari pengajaran ini dari paragraf-paragraf yang lain dalam Alkitab. Ini sangat penting. Banyak bidah dalam kekristenan adalah hasil dari manusia memegang teguh satu atau dua ayat dari Alkitab tanpa memeriksanya dengan paragraf-paragraf yang berhubungan. Setan juga mengutip Kitab Suci disini dan disana, tapi dia mengutipnya untuk mencobai manusia. Kita harus ingat bahwa semakin banyak kita membandingkan, semakin kecil kita mendasarkan pada interpretasi pribadi. Lebih aman bagi kita untuk membandingkan satu ayat dengan sepuluh ayat-ayat yang lain. Jika kita hanya menemukan lima ayat, itu lebih baik, tetapi tidak sebaik dengan sepuluh ayat. Semakin banyak perbandingan kita buat, itu semakin baik. Jika hanya satu ayat yang mengatakan sesuatu, kita harus hati-hati; kita tidak dapat membangun sesuatu yang besar diatas suatu isolated instance. Jika tidak, kita akan berakhir dengan masalah. Itu sangat tidak dipercaya untuk mendasarkan segala sesuatu diatas satu ayat. Dalam membaca alkitab kita harus membandingkan. Kita tidak dapat menginterpretasikan sesuatu dengan teks satu paragraf saja. Kita harus memiliki konfirmasi dari paragraf-paragaraf yang lain.
Sebagai contoh, Wahyu 19 berkata ketika Tuhan turun dari langit untuk berperang. Dia akan menyingkirkan semua musuh-musuh-Nya dengan pedang yang keluar dari mulut-Nya. Jika kita menginterpretasikan teks ini dengan teks itu sendiri, kita mungkin menyimpulkan bahwa mulut Tuhan mengandung sebilah pedang, dan kita mungkin bahkan mengatakan bahwa pedang ini begitu cepat, tajam, dan bersinar. Jika kita menyadari bahwa tidak ada Kitab Suci yang diinterpretasikan dengan interpretasinya sendiri, kita akan secepatnya mencari arti “pedang tajam” ketika kita tiba pada bagian ini, dan dari Efesus 6:17 kita akan menemukan bahwa pedang tajam mengacu pada perkataan Allah.
Mengacu pada siapakah sepuluh dara dalam Matius 25? Dalam pembacaan 2 Korintus 11:2, kita menemukan bahwa mereka mengacu pada gereja. (Dalam 2 Korintus, dara adalah bentuk tunggal dalam jumlah, mengacu pada satu gereja. Dalam Matius terdapat sepuluh dara, yang mengacu pada tanggung jawab tiap individual didepan Tuhan. Angka sepuluh terdiri dari dua kali lima, dan lima adalah nomor dari tanggung jawab manusia didepan Tuhan.) perbandingan yang sedemikian dalam pembacaan dapat memberi kita banyak terang.
Juga sangat penting untuk membandingkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Jika kita membandingkan lingkupan dari pembicaraan Allah dalam Perjanjian Lama dengan linglupan dari pembicaraan-Nya dalam Perjanjian Baru, kita secepatnya akan melihat bahwa Firman Allah adalah berkembang, bahwa perkataan dari wahyu adalah berkembang. Beberapa kata ditemukan dikeduanya baik dalam Perjanjian Lama dan Perjajian Baru. Sebagai contoh, tanpa kitab Daniel, tidak akan ada kitab Wahyu. Namun, dalam perbandingan, Wahyu lebih maju daripada kitab Daniel. Kita juga bisa membandingkan Wahyu 2 dan 3 dengan Matius 13, Wahyu 4 dan 5 dengan Filipi 2, dan Wahyu 6 dengan Matius 24. Kita juga dapat membandingkan pasal berikutnya dari Wahyu dengan Daniel. Ketika kita membandingkan paragraf-paragraf ini antara yang satu dengan yang lain dan menginterpretasikan yang satu berdasarkan yang lain, kita akan melihat bnyak hal yang sebelumnya tidak kita lihat.
Kita pun bisa membandingkan empat kitab Injil. Beberapa hal diutarakan dalam semua empat kitab Injil, sedangkan beberapa hal lain tidak disinggung dalam semua kitab Injil. Keadaan juga memikul makna yang lebih. Seperti contohnya, Matius tidak membicarakan kenaikan Tuhan Yesus; hanya membicarakan kebangkitan-Nya. Markus membicarakan tentang kenaikan Tuhan. Lukas berbicara tentang kenaikan Tuhan sama halnya dengan kedatangan Roh Kudus. Yohanes tidak mengatakan apa-apa tentang kenaikan Tuhan, tapi membicarakan tentang kedatangan-Nya kembali. Keempat kitab Injil berakhir dengan berbeda-beda. Kita harus bertanya mengapa mereka berbeda. Jika kita mencari jaabannya kita akan melihat sesuatu. Matius memberitahu kita bahwa Tuhan selalu menjadi Raja diatas muka bumi. Ini adalah alasan mengapa tidak dibicarakan apapun tentang kenaikan. Markus membicarakan tentang Tuhan sebagai Hamba yang dipilih Allah yang kembali kepada Allah. Oleh karena itu membicarakan tentang kenaikan. Lukas adalah diatas manusia yang dimuliakan. Karena itu, membicarakan tentang kenaikan sama halnya dengan kedatangan Roh Kudus. Yohanes berbicara bahwa Tuhan adalah Putra Sulung yang tetap berada di surga dan didalam ribaan Bapa. Ini adalah alasan tidak dibicarakannya kenaikan. Setiap kitab mempunyai karakternya sendiri-sendiri, dan kita hanya bisa menemukannya dengan perbandingan.
IV. Dengan Meditasi
Yosua 1:8 dan Mazmur 1:2 memberitahu kita bahwa kita harus bermeditasi dan tinggal dalam firman Tuhan sepanjang waktu. Di waktu-waktu biasa ( selain waktu kit abaca Alkitab), kita harus bermeditasi di atas firman Tuhan. Kita harus belajar untuk memncetak pikiran kita menurut pikiran-pikiran dalam Alkitab. Kita harus bermeditasi walaupun kita tidak sedang membaca Firman. Roma 8:6 berkata “pikiran yang diletakkan di atas roh.” Ini berarti kita harus memikirkan roh, meletakkan pikiran kita di atas roh, dan melekatkannya pada roh. Ayat ini tidak berarti bahwa kita harus meletakkan pikiran kita di atas roh saja, tetapi bahwa kita harus memiliki pikiran roh. Kita tidak saja berkonsentrasi pada roh, tetapi kita harus memiliki konsentrasi yang berasal dari roh. Dengan kata lain, kapankun roh kita berpaling, haruslah berpaling ke Firman Allah. Tidak peduli bagaimanapun keadaannya, pikiran kita harus selalu dilekatkan pada Firman Allah. Ini bukanlah perkara dari mengingatkan secara permukaan tetapi dari meditasi yang spontan. Biasanya, pikiran kita haruslah pikiran yang diletakkan di atas Firman. Pikiran kita tidak seharusnya diletakkan kepada Alkitab hanya ketika kita berpikir tentang Alkitab; seharusnya kepada Alkitab bahkan ketika kita tidak sedang memikirkannya. Kita seharusnya meningkat kea rah Firman Tuhan dalam cara yang spontan.
Ada dua sisi meditasi kita. Di satu sisi, kita meditasi ketika kita membaca Alkitab. Di sisi yang lain, kita meditasi sepanjang waktu. Ketika kita membaca Alkitab, pikiran kita seharusnya bermeditasi kepada Firman Allah. Tetapi ketika kita tidak sedang membaca Alkitab, kita harus juga melatih diri kita sendiri secara aktif dengan pikiran yang terlatih. Ini bukanlah perkara memaksa diri kita sendiri untuk berpikir tentang Kitab Suci. Roh Kudus akan memimpin pikiran kita kea rah ini, dan itu akan menjadi bagian dari kebiasaan kita. Satu kali kita mengembangkan hobi sedemikian, secara spontan kita akan menjadi kaya di dalam Tuhan.