← Daftar isi Bagaimana Mempelajari Alkitab · bab 2/5

MEMASUKI TIGA HAL YANG BERKAITAN DENGAN ROH KUDUS

Ketika kita ingin mempelajari Alkitab, kita perlu mengetahui tiga perkara tentang Roh Kudus. Hal tersebut sangat penting ketika membaca Perjanjian Baru yang berkaitan erat dengan ketiga hal tersebut.

Pertama-tama, Roh Kudus menginginkan kita dapat memasuki apa yang menjadi dambaanNya. Supaya kita memahami apa yang dimaksud dengan kata Roh Kudus, maka kita perlu mengarahkan pikiran kita ke pikiran Roh Kudus. Hal tersebut benar ketika berbicara tentang Surat-surat Kiriman. Kita perlu mengarahkan pikiran kita ke dalam Roh Kudus sebelum memahami tulisan ini.

Kedua, Roh Kudus telah merekam fakta-fakta dalam Alkitab. Kita perlu memasuki fakta-fakta dasar ini. Jika kita tidak masuk, maka kita tidak dapat memahami apa yang dimaksud dalam Firman. Lebih lanjut, Roh Kudus telah membuka fakta-fakta yang terekam dalam keempat Injil dan Kisah Para Rasul.

Ketiga, dalam pembacaan kita, Roh Kudus akan menuntun kita menyentuh sesuatu yang lain-yaitu roh. Pada kebanyakan kasus, tidaklah cukup mengetahui pikiran saja; kita perlu memasuki roh yang berada di balik pemikiran tersebut. Kita dapat menemukan contoh-contoh dalam Injil, Kisah Para Rasul, serta Surat-surat Kiriman.

Setiap orang yang membaca Alkitab, perlu memasuki tiga perkara. Mereka yang tidak terlatih dan tidak disiplinlah, tidak dapat mengenal hal-hal tersebut. Kita tidak dapat mentolerir hal tersebut sebagai metode mempelajari Alkitab karena hal tersebut berkaitan dengan orang yang membaca Alkitab. Seseorang perlu mengikuti beberapa pelatihan dasar; karena hal inilah yang diperlukan.

Marilah kita membicarakan bagaimana seseorang dapat memasuki ketiga hal tersebut.

I. MEMASUKI TIGA HAL YANG BERKAITAN DENGAN ROH KUDUS

Ketika menulis kitab, Roh Kudus memiliki tujuan dan pemikiranNya sendiri. Sebagai pembaca, kita tidak hanya belajar dan berusaha mengingatnya, tetapi menyentuh apa yang menjadi tujuan dari penulisan Roh Kudus pada saat kitab ditulis. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tidak sibuk dengan diri kita sendiri tetapi berusaha menyelami apa yang menjadi tujuan Roh menulis kitab tersebut. Kita perlu menekankan bahwa nilai dari firman tidak semata-mata di tulisannya namun makna yang terkandung di dalamnya.Tuhan berkata pada orang Saduki bahwa “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci” (Mat.22:29). Walaupun orang Saduki membaca Firman, mereka tidak dapat menyelaminya. Dalam pembacaan Firman Tuhan, kita perlu menemukan alasan Roh Kudus berbicara Firman seperti itu. Hal ini menunjukkan satu titik bahwa: Pikiran kita perlu didisiplinkan.

A. Menyatukan Pikiran Seseorang Dengan Pikiran Roh Kudus

Mereka yang membaca Alkitab perlu obyektif. Mereka tidak boleh bergantung pada pemikiran mereka sendiri. Roh Kudus memiliki pemikiran dan kita perlu memasuki pemikiranNya dan bergabung denganNya. Ketika Roh Kudus berpikir dalam cara tertentu maka kita perlu berpikir seperti itu pula. Keduanya perlu seperti aliran sungai dimana Roh itu bertindak sebagai arus yang utama dan yang lain arus sampingan. Roh Kudus seperti sungai yang besar dan kita anak sungainya. Ketika sungai mengalir ke timur, anak sungai pun turut mengalir ke timur. Anak sungai mungkin kelihatan kecil, tapi sepanjang dia berdekatan dengan sungai utama maka akhirnya mereka akan mencapai muara samudra.

Beberapa bagian dari Alkitab menekankan pada fakta ini, lainnya pada roh atau pada pemikiran. Mereka yang menekankan pada pemikiran tidak berada dalam roh dan fakta. Mereka yang menekankan pada fakta adalah tanpa roh dan pikiran. Mereka yang menekankan pada roh, tidak mengindahkan fakta dan pikiran. Ketika kita telah menjamah pemikiran dari Roh Kudus, maka kita perlu obyektif; keseluruhan diri kita perlu diselaraskan dengan pemikiran yang mengikuti di belakangnya oleh terang Tuhan. Beberapa tidak dapat melakukan hal tersebut. Kebanyakan mereka diam di dalam roh hanya sekitar 10 menit. Mereka hanya 10 menit di dalam roh, setelah itu pikiran mereka mengembara. Orang yang subyektif seperti itu tidak dapat membaca Alkitab dengan baik. Syarat dasar bagi seseorang dapat membaca Alkitab adalah persona orang tersebut perlu ditanggulangi.

Adalah benar ketika seseorang membaca Alkitab, dia perlu melatih pikirannya. Pikirannya harus mengikuti arah yang sama dan mengalir pada jalur yang sama dengan pemikiran Roh Kudus. Dimana saja Roh Kudus bergerak maka dai perlu mengikuti. Dia perlu menemukan apa yang berada di dalam pemikiran Roh Kudus dalam bentuk kalimat, paragraf, bab atau buku.pikiran keseluruhannya perlu diselaraskan dengan pemikiran Roh Kudus. Dia perlu menemukan apa yang Roh katakan dalam paragraf, apa yang Dia pikir dan pemikiran utama serta pemikiran minorNya. Pertanyaan pertama yang perlu kita ajukan ketika kita membaca cuplikan kecil dari Kitab adalah apa yang menjadi dasar pemikiran Roh dalam menulis kitab tersebut. Jika kita tidak mengetahui maksud hatiNya di balik tulisan tersebut maka kita bersyarat untuk menjadi salah ketika sejangka waktu kemudian mencuplik bagian tersebut; bahkan kita berputar-putar, tidak menemukan apa yang menjadi makna mendasar dari Roh Kudus. Tidaklah cukup bagi kita hanya sekedar membaca huruf harafiah atau mengingat kata-kata semata, atau mempelajari belajar makna dibalik itu semua. Ketika kita membaca Alkitab, perlu merasakan apa yang Roh Kudus tuju pada saat penulisan. Atau dengan kata lain, kita perlu meletakkan diri kita pada posisi Paulus, Petrus, Yohanes dan lainnya ketika Roh Kudus berbicara pada mereka. Pikiran kita perlu digabungkan dengan pikiran Roh itu sebelum memahami Alkitab.

Sebuah cerita diceritakan oleh kaum beriman sebelum mereka melakukan perjalanan napak tilas 42 pos yang dilewati oleh Bangsa Israel dari Mesir ke Palestina. Ketika Bangsa Israel berbalik, ia berbalik. Ketika mereka menyimpang, maka ia pun turut seakan-akan menyimpang. Dia mengikuti keselurahan perjalanan dengan cara seperti itu. Lalu ia menulis buku tentang mengulang kembali perjalanan tersebut. Dia tidak memilih jalurnya; dia mengambil jalur Musa. Inilah jalan yang perlu kita ikuti ketika membaca Alkitab. Kita tidak dapat memutuskan arah diri kita; kita perlu pergi ke mana dia Roh itu menentukan. Ketika Paulus pergi ke Yerusalem maka sikap kita perlu ikut pergi ke mana Paulus pergi. Dia merasakan dalam rasa yang berbeda dan pemikiran tertentu maka kita pun perlu merasakan dan berpikir seolah-olah menggabungkan diri kita dengan dirinya. Kita tidak boleh memiliki pemikiran sendiri. Kita perlu mengikuti pemikiran dari penulis Alkitab. Dengan kata lain, kita perlu mengikuti arah yang ditetapkan oleh Roh. Bahan pikiran dari para penulis Alkitab harus menjadi bahan pikiran para pembaca. Apa yang penulis Alkitab tulis tentang cara tertentu diinspirasikan oleh Roh Kudus. Jadi sepatutnyalah para pembaca Alkitab terinspirari juga oleh Roh Kudus untuk berpikir dengan cara yang sama. Jika pemikiran kita berdekatan dengan pemikiran Roh Kudus, maka kita akan memahami apa yang Alkitab katakan.

B. Menemukan “Batang” Dan “Cabang”

Beberapa bagian dari Alkitab penuh dengan teks, sementara yang lain berisi kata-kata penjelasan; beberapa di antaranya penting, sementara yang lainnya hanya sebatas memberi penjelasan. Beberapa berfungsi sebagai batang dari sebuah pohon dan yang lainnya berfungsi sebagai cabang dari pohon. Kita tidak sepatutnya mengikuti cabangnya dan kehilangan arah dari batang utama. Tentu saja, kita tidak hanya menuangkan perhatian pada batang saja dan melupakan cabangnya. Kita perlu menemukan apa yang Roh Kudus katakan dalam paragraf, bagaimana Dia mengatakannya dan berapa banyak hal yang dibicarakan serta berapa banyak kata-kata yang digunakan untuk mencapai tujuan ini. Pikiran kita seharusnya mengikuti hal-hal ini satu demi satu. Kita perlu menangkap apa yang menjadi pemikiran Roh Kudus. Roh Kudus memiliki subyek pembicaraan dan Dia juga memiliki kata-kata penjelasan dari subyek tersebut. Jika kita berada pada pertengahan jalan, kita mungkin tersimpangkan dengan sebuah kata penjelasan. Itu adalah “cabang”. Cabang tidak akan tumbuh mencapai langit. Begitu juga dengan Roh Kudus, Ia dapat menyimpang dari pemikiran utama dengan sebuah kata penjelasan untuk lima atau sepuluh kali, tetapi Ia akan selalu kembali pada ‘batang utama’. Kita seharusnya tidak tinggal terlalu lama pada penjelasan; kita perlu mengikuti Roh Kudus dan balik kembali kepada subyek. Kebanyakan Surat Kiriman diatur dalam suatu pola dimana kata-kata penjelasan digabungkan ke dalam bagian paragraph. Kita perlu membedakan mana yang “batang utama” dengan mana yang “cabang” sebelum kita memahami apa yang kita baca. Kita tidak dapat tergesa-gesa dalam pembacaan kita. Ketika Roh Kudus membuat suatu perjalanan maka kita perlu masuk ke dalam perjalanan tersebut. Ketika Roh Kudus berbalik dari subyek maka kita pun juga berbalik dari subyek. Kita perlu menjadi orang yang lembut dan sangat hati-hati untuk tidak memberikan kepercayaan pada diri kita sendiri atau yakin pada daging kita. Ini adalah cara agar dapat menangkap pemikiran dari Roh Kudus.

Dalam Firman Tuhan terdapat “batang utama” dan ”cabang”. Batang utama dan cabang ini terjalin membentuk suatu kesatuan. Misalnya dalam penulisan Kitab Roma, maksud Paulus tidak hanya tertuang dalam 3:23, 6:23 atau 8:1. Keseluruhan buku mencakup satu pemikiran yang penuh; suatu kesatuan yang lengkap. Tidak ada yang namanya bagian-bagian

C. Dua Macam Pelatihan

Ada dua macam cara untuk melatih pikiran kita. Pertama, kita dapat memisahkan teks utama dari ayat-ayat penjelas. Bukan ide yang buruk untuk membaca Perjanjian Baru dan memberi tanda kurung pada bagian-bagian yang Roh sediakan sebagai ayat-ayat penjelas. Ayat di dalam tanda kurung adalah “ranting”, sementara ayat di luar tanda kurung adalah “batang”. Jika kita melewatkan ayat-ayat di dalam tanda kurung dan membaca sisanya, kita akan mendapatkan ide dari subyek utama dari berbagai bagian.

Mari kita mencoba cara ini dengan menggunakan kitab Roma. Roma 1:1 berkata, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah”. Jelas ini adalah pembukaan dari kitab Roma. Ayat 2-4 berkata, “Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”. Ini adalah penjelasan dari injil. Oleh sebab itu, ketiga ayat ini adalah “ranting” yang dapat diletakkan ke dalam tanda kurung. Ayat 5 berkata, “Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya”. Sekali lagi ini adalah teks utama. Jika kita terus menggunakan cara ini hingga akhir kitab Roma, kita dapat menunjukkan ayat-ayat yang adalah teks utama. Kita dapat menggarisbawahi teks utama dengan pena berwarna tertentu dan ayat-ayat penjelas dengan pena berwarna lainnya. Pada putaran pertama, kita tidak perlu membaca seluruh ayat-ayat penjelas. Baca teks utamanya dahulu, dan kemudian ayat-ayat penjelasnya. Pertama, temukan pikiran utama dari Roh Kudus, dan kemudian masukkan bagian penjelas sedikit demi sedikit. Apakah injil ini? Ini adalah sesuatu yang “telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci”. Allah pertama menjanjikan injil dan kemudian mengirimkan Tuhan Yesus untuk merampungkan injil ini. Di dalam perampunganNya, ada dua bagian. Pertama, ada bagian yang menurut daging. Kedua, ada bagian yang menurut Roh. Bagian pertama berhubungan dengan hidupNya di atas bumi sebagai putra Maria. Bagian kedua berhubungan dengan hidupNya di surga sebagai putra Allah. Keempat kitab Injil mencakup bagianNya yang berhubungan dengan daging, sementara surat kiriman mencakup bagianNya yang berhubungan dengan Roh. Di dalam membaca bagian ini, kita dapat langsung loncat dari ayat 1 ke ayat 5 dan meninggalkan ayat 2 hingga 4 untuk kemudian. Selalu memperhatikan teks utama terlebih dahulu, dan ayat penjelas kemudian. Dengan cara seperti ini kita dapat masuk ke dalam pikiran rasul ketika ia menulis kitab ini. Kita harus membaca seluruh alkitab dengan cara yang demikian. Khususnya, kita harus membaca surat-surat kiriman dengan cara ini. Setiap pelayan Allah harus tahu bagian utama dari suatu kitab sebaik ia mengetahui bagian penjelasnya. Ini adalah langkah pertama.

Keuntungan apa yang kita dapatkan dengan melakukan langkah pertama? Ini memampukan kita untuk mengetahui seberapa banyak pengajaran di suatu bagian yang berhubungan dengan subyek dan seberapa banyak yang berhubungan dengan penjelasan. Di dalam melayani sebagai seorang pelayan firman, pembicaraan kita harus memiliki subyek utama dan penjelas. Meskipun fungsi kita sebagai pelayan firman tidak sesempurna dan sedalam rasul-rasul yang mula-mula, prinsipnya tetap sama. Ketika kita memisahkan teks utama dari penjelas, kita akan dengan etrkejut menyadari bahwa Alkitab selalu menyediakan penjelasan yang cukup, baik di dalam jumlah maupun tingkatan. Kita akan menyembah Tuhan untuk penggenapan firman yang mutlak. Kita juga akan menemukan segera ketika kita menggunakan sedikit terlalu banyak penjelasan dan ilustrasi, keseluruhan pemberitaan kita akan menjadi lemah. Kita harus memperhatikan cara Alkitab menjelaskan sesuatu. Kita tidak boleh terlalu banyak menjelaskan. Kita seharusnya hanya menyediakan penjelasan untuk bagian-bagian yang tidak dimengerti orang lain. Penjelasan adalah untuk tujuan membantu orang lain mengerti, tetapi kita tidak boleh terlalu banyak menggunakannya. Beberapa pembicara kurang di dalam penjelasan, sehingga kehilangan pendengarnya. Lainnya terlalu panjang di dalam penjelasan, sehingga melembamkan berita. Kita harus memperhatikan keseimbangan yang sempurna di dalam firman. Kita harus selalu belajar untuk memisahkan teks utama dari ayat penjelasnya. Untuk melakukan hal ini, kita harus menjadi obyektif. Sekali kita menjadi subyektif, kita pasti akan gagal.

Kedua, kita perlu mencoba memparafrase bagian utama dengan kalimat kita sendiri. Kita harus menulis ulang bagian utama dari Alkitab dengan kalimat yang dapat kita mengerti. Sebagai contoh, Roma 1:1, 5, dan 6 adalah ayat utama. Kata-kata di dalam ayat ini adalah milik Paulus. Setelah kita mengerti apa yang dikatakan oleh Paulus, kita harus mencoba untuk mengekspresikan hal yang sama dengan kata-kata kita sendiri. Pada awalnya kita hanya mencoba bagian utamanya; kita tidak perlu mencoba ayat-ayat penjelas yang ada di dalam tanda kurung. Latihan semacam ini sama seperti pengalaman kita sebagai para murid: para guru menceritakan sesuatu kepada kita, dan kita menuliskannya dengan kalimat kita sendiri. Kita harus mengetahui isi ceritanya sebelum kita dapat menuliskannya. Cara paraphrase ini mengharuskan kita menjadi obyektif, memahami arti Alkitab, dan kita tidak menambahkan pikiran kita sendiri di dalamnya. Kita harus melatih diri kita untuk menjadi pengikut pikiran Roh Kudus. Kita harus menyamakan pikiran kita menurut pemikiran Roh Kudus.

Tentu saja, kita dapat membuat kesalahan pada paraphrase kita. Hal yang dapat kita lakukan ketika kita membuat kesalahan adalah mengkoreksinya untuk waktu selanjutnya. Jika kita tetap membuat kesalahan, kita harus mengkoreksinya lagi. Semakin kita mengkoreksi diri kita, kita akan menjadi semakin akurat. Ketika seseorang mempelajari hal ini, akan menjadi mudah baginya untuk memahami Firman Allah. Yang paling penting adalah mengesampingkan diri kita. Sekali kita menjadi sombong atau subyektif maka kita akan habis. Kita harus belajar menjadi obyektif, lemah lembut, dan rendah hati. Pikiran yang lemah lembut dan rendah hati akan mudah mengikuti pikiran Roh Kudus. Setiap pembaca Alkitab harus mempelajari pelajaran ini.

II. MEMASUKI FAKTA-FAKTA YANG TERCATAT OLEH ROH KUDUS

A. Kesan Dari Fakta-Fakta

Ketika membaca Alkitab, permintaan Roh Kudus yang selanjutnya adalah supaya kita menangkap kesan dari fakta-fakta. Alkitab bukan semata-mata pengajaran. Bagian yang terbesar adalah fakta-fakta, sejarah, dan cerita-cerita menghasilkan kesan yang khusus di dalam kita. Sekali kita mendapatkan kesan akan fakta-fakta dari Roh Kudus, itu akan mudah bagi Dia untuk menyalurkan perkataan Allah kepada kita. Jika fakta-fakta ini tidak menghasilkan kesan di dalam kita, firman Allah tidak akan bertahan di dalam kita dan tidak akan menghasilkan pengaruh yang tepat di dalam kita.

Kesan yang kita bicarakan di sini bukan mengacu kepada pengenalan umum akan cerita-cerita. Itu mengacu kepada pandangan mengenai poin-poin cirri-ciri tertentu yang membuat kesan yang bertahan lama di dalam kita. Di dalam Alkitab setiap kejadian memiliki cirri-cirinya sendiri. Tanpa mengerti karakteristik-karakteristik ini, kita tidak dapat mengerti firman Allah. Dalam membaca surat kontrak, tidaklah cukup dengan memeriksa apakah ada tanda tangan di atasnya; kita harus memeriksa tanda tangan siapakah di atasnya. Kesan yang kita bicarakan di sini bukanlah kesan yang umum tetapi kesan dari ciri-ciri khususnya. Sekali kita menemukan ciri-ciri khusus, kita dapat belajar apa yang Allah mau katakana melalui mereka. Adalah mungkin bahwa seseorang dapat mengingat dan bahkan menghubungkan sebuah kejadian dalam Alkitab kepada orang lain tetapi tidak mampu untuk mengungkapkan cirri-ciri khususnya. Ini berarti bahwa dia tidak mengerti firman Allah. Perjanjian Baru mencakup empat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat kiriman, dan Wahyu. Untuk surat-surat kiriman, kita harus memasuki pikiran Roh Kudus. Untuk keempat Injil dan Kisah Para Rasul, bagaimanapun, hati kita harus terbuka kepada Roh Allah, dan kita harus mebiarkan Dia untuk mengesankan kita dengan fakta-fakta. Kita harus menyadari perbedaan antara fakta-fakta ini dan fakta-fakta yang lain, dan kita harus merasakan ciri-ciri khusus yang ada di balik fakta-fakta ini.

Suatu kesan bekerja seperti foto. Film di dalam kamera adalah sepotong kaca atau sebuah plastic yang dibungkus denagn bahan kimia—perak bromide. Beberapa decade yang lalu, film satu inchi persegi dapat memuat sepuluh ribu partikel-partikel perak bromide. Inilah alasan foto-foto yang dihasilkan saat itu tidak begitu tajam; penampilan mereka kasar. Kemudian, film berkembang, dan yang kasar-kasar semakin menghilang. Gambarnya sekarang lebih jelas karena setiap satu inchi persegi memuat jutaan partikel-partikel perak bromida. Dengan cara yang sama, semakin halus konstitusi batini kita, semakin banyak kesan yang akan menetap. Diri kita semakin kasar, semakin sedikit kesan yang akan tinggal. Jika hati dan roh kita terbuka kepada Allah, dan jika perasaan kita diperhalus, kilatan dari fakta oleh Roh Kudus di depan kita akan menghasilkan kesan yang kuat di dalam kita. Jika kita halus dan lembut, kita akan melihat dua hal. Pertama, kita akan menempatkan penekanan dalam firman Allah dan focus dari wahyu-Nya. Kedua, kita akan tahu apa yang mau Allah katakan di balik fakta-fakta, dan kita akan mampu untuk menyebutkan perbedaan antara fakta-fakta yang ini dan fakta-fakta yang lain.

Seorang yang kasar tidak akan pernah melihat poin-poin yang halus dalam Alkitab. Seseorang haruslah lembut, dan perasaannya haruslah sensitive sebelum firman Allah dapat mencetakkan gambar yang jelas di dalamnya. Dia tidak akan hanya menangkap sekedar bentuk umum, tetapi dia akan mendapatkan kesan yang tepat dari poin-poin dan baris-baris yang halus. Dia akan sangat jelas tentang setiap poin yang lembut dan rumit di balik fakta-fakta.

B. Perasaan Yang Lembut

Banyak orang mencari tahu aspek dari Alkitab yang halus dan lembut. Namun tanpa perasaan yang halus dan lembut, mereka tidak dapat menjamah poin-poin yang lembut ini. Pertimbangkan keempat kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Kelima kitab tersebut mencatat tentang Yesus. Lebih banyak fakta yang disingkapkan tentang Tuhan Yesus melalui kelima kitab ini daripada di seluruh surat-surat kiriman. Kita perlu memiliki kesan yang halus dan lembut mengenai fakta yang berhubungan dengan Tuhan Yesus ini. Mari kita mempertimbangkan beberapa contoh.

1. Contoh Perbandingan

a. Zakheus dan Dua Murid Yang Berjalan Ke Emaus

Di dalam membandingkan Lukas 19 dan Lukas 24, kita menemukan suatu tanda perbedaan antara tinggalnya Tuhan di rumah Zakheus dan masukNya ke rumah dengan dua orang murid yang berjalan ke Emaus. Tuhan bersedia secara sukarela untuk masuk ke dalam rumah Zakheus. Tetapi di dalam kasus dua orang murid, sepertinya Ia ingin untuk melanjutkan perjalananNya. Seseorang yang halus akan menyadari dua sikap Tuhan yang sangat berbeda di sini. Dengan Zakheus Tuhan berhubungan dengan pendosa yang hina. Dia bukan seorang pemungut cukai biasa; dia adalah kepala pemungut cukai. Tuhan tidak menunggu undangannya; Ia dengan sukarela memasuki rumahnya. Zakheus tak perlu diragukan lagi ingin melihat Tuhan. Tetapi ia sadar akan perawakannya yang kecil dan reputasinya yang buruk, dan ia terlalu malu untuk mengundang Tuhan. Di bawah situasi yang demikian, Tuhan berkata, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (19:5). Di sini adalah seorang pendosa yang mencari yang tidak berani mengundang Tuhan untuk tinggal bersamanya. Tuhan mengundang DiriNya sendiri ke rumahnya. Ia memahami Zakheus. PerasaanNya lembut. Jika perasaan kita cukup lembut, kita akan memahami Tuhan.

Kedua orang murid di dalam perjalanan ke Emaus adalah berkebalikannya. Mata mereka diselubungi, dan mereka tidak mengenal Tuhan. Tuhan berjalan bersama mereka, berbicara kepada mereka, dan menjelaskan kitab suci kepada mereka. Ketika mereka mendekati kampung, Dia berbuat seolah-olah Dia akan meneruskan perjalananNya (24:28). Sikap Tuhan kepada kedua murid berbeda dengan sikapNya kepada Zakheus. Zakheus menghadapi kesulitan yang besar; ia dihantui oleh perasaan malu yang tak terkatakan. Tuhan sangat lembut terhadapnya dan dengan sukarela pergi ke rumahnya. Kedua orang murid yang berjalan ke Emaus telah mengetahui Tuhan. Tetapi mereka menjadi undur. Meskipun mereka telah mendengar banyak dari Tuhan, mereka tetap menuju ke Emaus. Inilah alasan Tuhan berbuat seolah-olah Ia akan meneruskan perjalananNya. Ia tinggal setelah mereka memohon kepadaNya. Di kasus yang satu, ada seseorang yang datang kepada Tuhan. Di kasus yang lain, ada dua orang yang berjalan menjauhi Tuhan. Tampaknya, sikap Tuhan berbeda. Kita harus menjamah perasaan lembut Tuhan Yesus sebelum kita menyadari siapa Yesus dari Nazaret dan siapa Orang ini yang ingin disingkapkan oleh Allah kepada kita.

b. Dua Peristiwa Penting dari Pemancingan Petrus

Dalam Lukas 5, Petrus memancing semalaman dan tidak mendapatkan apa-apa. Walaupun begitu Tuhan Yesus mengatakan, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (ayat 4). Para nelayan menebarkan jalanya dan mendapat sejumlah ikan yang banyak. Sebelumnya mereka tidak mendapatkan apa-apa. Sekarang, dengan sangat mengejutkan mereka mendapat sejumlah ikan. Petrus jatuh dan tersungkur di depan Yesus dan berkata,” Tuhan, pergilah daripadaku karena aku ini seorang berdosa” (ayat 8). Dalam Yohanes 21 kita menemukan bahwa Petrus dan rasul lainnya memancing lagi. Tuhan bertanya pada mereka,”Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka,” Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka:’Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh” (ayat 5-6). Lalu mereka menangkap banyak ikan. Menangkap ikan di dalam Lukas 5 mewahyukan kemuliaan Tuhan Yesus kepada Petrus. Ketika kemuliaan ini ternyatakan kepada Petrus terlihat bahwa ia adalah orang dosa yang tidak layak. Pada ekspedisi penangkapan ikan setelah kebangkitan Tuhan, Petrus meloncat ke laut dan berenang ke tepi ketika dia mengenali Tuhan (Yohanes 21:7). Dia tidak lagi memiliki minat dalam menangkap ikan ketika mengenali Tuhan. Pada kedua kasus dia memiliki wahyu yang sama. Namun dalam kasus yang pertama, wahyunya menyebabkan dia mengenal dirinya sendiri dan memohon Tuhan menjauh darinya, karena dia bukanlah apa-apa. Pada kasus kedua, wahyunya menarik Petrus yang telah mengenal Tuhan terlebih dahulu untuk memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Sekali kita mengenali perbedaan antara dua kasus ini maka kita akan memiliki kesan yang tepat dari fakta yang disajikan. Pada semua kasus, kita perlu memiliki kesan yang padat.

c. Tuhan Memberi Makan Lima Ribu Orang dan Maria Mengurapi Tuhan Yesus

Dua kejadian tersebut dicatat dalam keempat Injil: Tuhan memberi makan lima ribu orang dan pengurapan dengan minyak oleh Maria. Setelah Tuhan memberi makan lima ribu, Dia menyuruh para murid mengumpulkan remahnya sehingga tidak ada yang terbuang (Yohanes 6:12). Hal tersebut sangat menarik. Tuhan menunjukkan keajaibab dengan memberi makan lima ribu orang dengan roti, lalu Dia masih menyuruh murid-muridNya untuk mengumpulkan sisanya sehingga tidak ada yang terbuang. Lalu ada seorang wanita yang memecahkan buli-buli pualamnya untuk mengurapi Tuhan dengan minyak. Beberapa dari para muridNya berkata,”Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?” Tetapi Tuhan Yesus menjawab,”Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu” (Markus 14:3-7). Di sini kita melihat dua peristiwa yang bertentangan satu sama lain: memberi makan lima ribu orang dan pengurapan Tuhan. Pada satu kasus, tidak ada yang diboroskan. Pada kasus yang lain, segala sesuatu sepertinya dihemat. Tidak ada yang dihasilkan dari keajaiban itu suatu pemborosan, begitu juga dengan 300 dinar yang dituang ke atas Tuhan dan tidak dihemat. Minyak tersebut dihargai tiga ratus dinar; dan tidak digunakan untuk memberi makan lima ribu orang tapi dihabiskan oleh Tuhan dalam waktu yang singkat. Bukanlah penghematan tapi pemborosan. Bukan dua belas bakul tapi sebuah buli-buli pualam. Semuanya ini saling bertentangan. Pada kasus dimana Tuhan menunjukkan keajaiban bahkan yang sisa dikumpulkan. Tetapi Dia tidak terlalu menganggap menerima konsekrasi sebagai sesuatu yang setara dengan dari tiga ratus dinar. Keempat Injil mencatat hal ini dan dimanapun manusia memberitakan, mereka selalu mengingat kisah ini. Konsekrasi pergi berbarengan dengan penginjilan. Dimanapun Injil diberitakan, korban mutlak terhadap Tuhanpun mengikuti di belakangnya. Pencapaian dari Injil juga adalah pencapaian dari minyak. Kita perlu memiliki kesan yang solid akan fakta ini.

d. Pengadilan Tuhan dan pengadilan Paulus

Kadang-kadang sangatlah bermakna untuk membandingkan empat kitab Injil dengan Kisah Para Rasul. Kita dapat membandingkan pengadilan yang Tuhan hadapi dengan pengadilan yang Paulus hadapi. Ketika Paulus diadili, dia berkata bahwa dia adalah seorang Farisi dan anak dari orang-orang Farisi (Kis. 23:6). Ini berbeda dengan kasus dari Tuhan Yesus. Kita memustikakan saudara Paulus. Tetapi anak terbaik yang bisa dihasilkan oleh dunia hanyalah anak manusia. Yesus orang Nazaret, bagaimanapun, adalah Putra tunggal Allah! Ketika kita membandingkan keduanya, kita menemukan bahwa yang satu adalah Putra tunggal Allah, sedangkan yang lain hanyalah anak Allah. Yang satu adalah Tuan, sedangkan yang lain adalah hamba. Yang satu adalah Guru, sedangkan yang lain adalah murid. Meskipun pencapaian Paulus tinggi, dia tidak dapat dibandingkan dengan Tuhannya. Kita haruslah halus dan lembut. Hanya dengan demikian kita dapat mengetahui Tuhan yang digambarkan dalam kitab-kitab Injil dan rasul-rasul yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul. Jika kita tidak lembut, kita tidak akan terkesan oleh apapun. Bahkan jika Tuhan mau menunjukkan sesuatu kepada kita, kita tidak akan mampu rebah di hadapan-Nya dan menyembah-Nya. Orang yang ceroboh memperlakukan Alkitab seperti kisah-kisah biasa. Dia melewatkan segala sesuatu, dan adalah sulit bagi Roh Kudus untuk mengesankan dia dengan apapun.

e. Tuhan yang ‘Lewat’ dan Paulus yang ‘Ditinggalkan’

Suatu ketika Tuhan Yesus membaca Kitab Suci di sinagoge di Nazaret. Setelah Dia selesai, Dia berbicara sedikit, tetapi kerumunan orang banyak menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.

Tetapi Ia, berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi (Luk. 4:29-30). Betapa khidmat dan agungnya Dia! Dia tidak seperti Paulus, yang diturunkan dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang (Kis. 9:25). Kita tidak bisa mengatakan bahwa Paulus salah. Kita mengatakan bahwa ada perbedaan dalam sifat. Tuhan berjalan lewati kerumunan dan pergi. Sedikit kata-kata ini, “berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk. 4:30), seharusnya memberi kita beberapa kesan. Ketika Tuhan melewati mereka yang mau membunuh Dia, kerumunan orang banyak hanya dapat melihat; mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Betapa agung dan mulia Tuhan kita!

2. Contoh-contoh kemiripan

a. Ketidakpuasan dengan Tuhan

Banyak kesan dalam Alkitab yang harus dipelajari secara berlawanan. Berikut adalah kasus dengan lima contoh yang disebutkan di atas. Contoh-contoh yang lain menunjukkan kemiripan, dan seseorang harus menggabungkan semuanya untuk membentuk gambaran lengkap.

1) Tuhan tertidur di dalam perahu

Matius 8:23-24 membicarakan suatu kejadian ketika Tuhan Yesus menyeberang laut bersama dengan murid-murid. Tiba-tiba angin badai dating. Tuhan tertidur, dan para murid ketakutan saat itu. Dalam catatan di Matius para murid berkata, "Tuhan, tolonglah, kita binasa." (ay. 25). Tetapi Markus 4:38 ada perkataan lain: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ini menunjukkan bahwa mereka sedang berpikir-pikir bagaimaan Dia dapat tidur demikian nyenyak. Tuhan Yesus menghardik angin dan ombak, dan merekapun menjadi tenang; kemudian Dia berbalik dan menegur para murid karena iman mereka yang kecil. (Perhatikan urutan kejadian menurut Markus dan Lukas. Sebelum Tuhan menegur para murid, Dia menghardik angina dan ombak.) Tuhan memiliki dasar untuk menegur para murid karena Dia telah mengatakan bahwa Dia akan menyeberang ke seberang. Karena Dia telah mengatakan demikian, itu pasti akan terjadi. Tidaklah perlu untuk kuatir bahkan jika ada angina, ombak, atau apapun sepanjang perjalanan.Tuhan Yesus sedang mengajar mereka tentang pelajaran iman. Iman mereka diletakkan pada apa? Mereka seharusnya percaya firman Tuhan: "Marilah kita bertolak ke seberang." (Markus 4:35). Karena Tuhan telah mengatakan bahwa mereka akan menyeberang ke sisi lain, maka tidaklah mungkin mereka akan berakhir di dasar laut. Bagaimanapun para murid tidak punya iman untuk hal ini. Inilah alasan Tuhan menegur mereka.

Ini sangatlah menarik bahwa kita tidak pernah menemukan Tuhan meminta maaf pada siapapun. Di bawah situasi yang normal, semakin banyak pelajaran yang dipelajari seseorang di hadapan Tuhan, semakin banyak dia harus meminta maaf kepada yang lain. Semakin disiplin seseorang, semakin banyak dia menemukan ketidakpuasan orang lain terhadapnya, dan semakin sering dia perlu untuk meminta maaf kepada mereka. Tuhan Yesus begitu unik bahwa Dia tidak pernah minta maaf pada siapapun. Seakan-akan para murid berpikir bahwa mereka benar dan Tuhan yang salah. Angin dan ombak mengancam, dan para murid binasa. Tidakkah ini masalah bagi Guru? Tetapi Tuhan tidak bangun untuk minta maaf. Ketiadaan permintaan maaf adalah ekspresi dari kemuliaan-Nya. Dia tahu bahwa Dia tidak tertidur, dan Dia tahu bahwa Dia tidak salah. Ketika Dia mengatakan untuk menyeberang ke seberang, maksud-Nya adalah mereka kan menyeberang ke seberang. Tidak ada satu katapun yang sia-sia apda Dia, dan tidak ada seorangpun yang dapat membuat-Nya minta maaf untuk apapun. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan Tuhan kita!

2) Jamahan perempuan yang sakit pendarahan

Dalam Markus 5 kita memiliki cerita tentang perempuan yang sakit pendarahan yang dating untuk menjamah Tuhan Yesus. Disini kita menemukan prinsip yang sama. Ketika perempuan itu menjamah Tuhan, Dia berbalik dan bertanya siapa yang menjamah Dia. Para murid berkata, "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" (ay. 31). Ini diucapkan dengan nada yang menegur. Tuhan tidak mengatakan, “Saya minta maaf; saya menanyakan pertanyaan yang salah.” Sebaliknya, Dia berpaling untuk melihat siapa yang menjamah Dia. Dia seakan-akan berkata, “Seseorang menjamah Aku, tetapi kamu tidak mengetahuinya. Matamu melihat mereka yang mendorong, tetapi mata-Ku kepada mereka yang menjamah.” Secara luaran, Tuhan tampaknya salah; seakan-akan para murid dihakimi di dalam kemarahan mereka yang beralasan. Tetapi pada kenyataannya kesalahan ada pada para murid, bukan pada Tuhan. Tuhan tidak pernah sekalipun minta maaf pada siapapun. Inilah yang paling mulia, dan hati kita tidak tertahan untuk menyembah Dia.

3) Kematian Lazarus

Dalam Yohanes 11 kita menemukan keadaan lain ketika orang-orang tidak puas pada Tuhan. Marta berkata pada Tuhan, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (ay. 21). Dia menyalahkan Tuhan yang dating terlambat. Dia sedang berkata dalam hatinya, “Aku mengirim orang kepada-Mu jauh-jauh hari. Mengapa Kau tidak dating lebih awal? Karena keterlamabatan-Mu, saudaraku telah meninggal dan dikubur.” Frase sekiranya Engkau ada disini menunjukkan puncak ketidaksenangan Marta. Tampaknya, perkataan Marta mutlak benar. Tetapi Tuhan melakukan segalanya dengan pertimbangan. Dia sengaja tinggal di tempat awal lebih lama dua hari (ay. 6). Dalam pandangan manusia ini adalah keterlambatan, tetapi Tuhan Yesus sengaja menunda kedatangan-Nya. Tuhan kita tidak pernah minta maaf pada siapapun, karena Dia tidak pernah salah. Kita minta maaf, karena kita sering salah. Jika kita menolak untuk minta maaf, itu artinya kita sombong. Semakin rendah hati dan lembut diri kita, kita akan semakin minta maaf. Meskipun Tuhan kita rendah hati dan lembut, Dia tidak pernah minta maaf, karena Dia tidak pernah salah. Ketika kita tidak senang dengan Dia, ketidaksenangan kita tidak membuat Dia merasa bersalah, karena Dia tahu apa yang Dia lakukan.

Kita dapat menemukan banyak kasus seperti ini dalam Perjanjian Baru. Dalam membaca Alkitab kita harus belajar untuk mengaplikasikan prinsip mengumpulkan semua bagian-bagian yang membicarakan hal-hal yang mirip. Dari ketiga contoh di atas, kita dapat menemukan satu fakta mulia: Tuhan tidak pernah menarik balik firman yang Dia ucapkan; Dia tidak pernah berbalik dari jalan yang telah Dia lalui. Betapa mulia perkara ini! Manakah yang lebih mulia bagi Lazarus untuk disembuhkan atau untuk dibangkitkan? Tuhan tahu bahwa adalah lebih mulia bagi Lazarus untuk dibangkitkan. Jika kita percaya, kita akan melihat kemuliaan Allah.

b. Tertantang untuk mengajar Tuhan

1) Sebab minyak ini dapat … diberikan kepada orang-orang miskin

Kadang-kadang manusia tidak saja merasa tidak puas dengan Tuhan; mereka bahkan mencoba untuk mengajar Tuhan. Para murid berkata, “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” (Mrk 14:4-5). Mereka sedang mengajar Tuhan. Para murid dapat berpikir tentang cara yang lain untuk memanfaatkan minyak narwastu—menjualnya dan memberikannya kepada orang miskin. Tetapi Tuhan tahu apa yang sedang Maria lakukan. Dia berkata bahwa dia sedang melakukan perbuatan baik. Tuhan tidak pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak jelas. Dia tidak perlu orang untuk mengoreksi Dia. Anya orang bodoh yang mencoba untuk mengkoreksi Tuhan atau mengajar Dia.

2) “Kiranya Allah menjauhkan hal itu!”

Ketika Tuhan menyiratkan kepada murid-murid bahwa Dia akan pergi ke Yerusalem, Petrus berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!” Apa yang Tuhan katakan? Dia berkata, "Enyahlah Iblis.” (Mat. 16:21-23). Petrus ingin mengajar Tuhan, tetapi itu tidak berhasil. Sebaliknya, dia hanya mengekspos kebodohannya.

3) “Orang apakah perempuan ini”

Suatu ketika Tuhan Yesus makan di rumah Simon orang Farisi. Seorang perempuan berdiri di depan kaki Tuhan menangis, membasahi kaki-Nya dengan air mata-Nya, dan menyekanya dengan rambut di kepalanya. Simon berpikir dalam hatinya,"Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (Luk. 7:39). Disini kita harus menaruh perhatian pada roh Simon. Dia seakan-akan berkata, “Lihat perempuan macam apakah dia. Bagaimana Kau dapat membiarkan dia mendekat pada-Mu di kaki-Mu?” Meskipun Simon tidak membuka mulutnya, Tuhan tahu apa yang sedang dipikirkannya, dan Dia berbicara tentang berbagai macam pengampunan. Sesungguhnya Tuhan sedang berkata, “Kau, Simon, tidak membasuh kaki-Ku, karena engkau menerima sedikit pengampunan. Perempuan ini menerima banyak pengampunan. Inilah alas an dia membasahi kaki-Ku dengan air matanya.” Ketika kita mendapatkan kesan sedemikian, kita akan menyadari betapa bodohnya untuk seseorang mencoba menjadi penasihat Tuhan! Pada saat yang sama, kita akan tahu siapa Yesus dari Nazaret yang tidak kita kenal sebelumnya.

c. Tuhan suka melihat manusia bertanya perkara-perkara yang besar dariNya

Di dalam mempelajari kitab injil dengan hati-hati, kita melihat bahwa Tuhan senang ketika orang-orang bertanya kepadaNya untuk pertolongan yang besar. Semakin besar permintaan mereka, semakin senang Tuhan menjawab mereka.

1) “Kalau Engkau Mau, Engkau Dapat Mentahirkan Aku”

Pertimbangkan cerita orang kusta di dalam Markus 1. Menurut peraturan orang Yahudi, seorang kusta tidak dapat berkontak dengan orang lain. Orang yang berkontak dengan orang kusta akan dicemarkan oleh kenajisan (Im. 13-14). Di sini orang kusta datang untuk melihat Tuhan Yesus. Perbuatan awal dari Tuhan Yesus cukup sombong. Kita harus memiliki kesan yang kuat akan fakta ini. Segera ketika orang kusta muncul, kita mungkin akan segera bereaksi. Kecuali orang yang bersedia mengkorbankan dirinya dan memberikan seluruh dirinya, ia akan melompat mundur begitu melihat orang kusta dan berkata, “Kamu menyakiti aku! Aku tidak dapat menyentuhmu. Mengapa kamu datang kepadaku?” Ketika orang kusta mendatangi Tuhan, ia tidak bertanya apakah Tuhan dapat mentahirkan dia. Malahan ia berkata, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” (Mrk. 1:40). Ini adalah suatu pernyataan yang langsung pada sasaran. Ia menaruh semua beban kepada Tuhan! Ini semua perkara apakah Tuhan mau atau tidak. Ini bukan doa yang biasa. Ini adalah sesuatu yang menguji hati Tuhan. Tuhan secara sederhana dapat berkata, “Jadilah tahir”, dan orang kusta itu akan tahir. Tetapi Tuhan tidak hanya mengutarakan suatu kata; Ia menjadikan DiriNya satu dengan situasi orang kusta itu. Ia menjamah orang kusta dengan tanganNya dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir!” (ay.41). Jika ia tidak tahir, maka Tuhan akan dicemari. Sungguh resiko yang sangat besar! Kita harus memiliki kesan yang tepat sebelum kita dapat memahami gambar yang sebenarnya. Tuhan telah menaruh DiriNya pada situasi orang kusta. Ia menggabungkan kekudusan dan kemurnianNya dengan orang kusta. Bisa jadi keduanya menjadi tahir atau keduanya akan menjadi cemar. Bisa jadi keduanya harus keluar dari perkemahan atau keduanya dapat kembali ke perkemahan. Tuhan bersedia membuang harga, dan betapa mahalnya itu!

2) “Mereka Membuka Atap”

Markus 2 mencatat empat laki-laki membawa seorang yang lumpuh kepada Tuhan Yesus. Tidak dapat membawa orang itu kepada Tuhan karena kerumunan orang, mereka membuka atap yang diatasNya, dan menurunkan orang lumpuh itu kepada Tuhan. (ay.3-4). Kita harus memiliki kesan terhadap gambaran ini. Banyak orang yang mengerumuni Tuhan. Dia sudah cukup sibuk. Tetapi sekarang ada kelompok lain yang menurunkan seseorang yang lumpuh dari atap! Kita harus menyadari bahwa Tuhan bukan hanya sibuk; Ia juga sedang berbicara di tempat sewaan. Ketika atap dibuka, pasti akan berbekas nantinya. Pasti akan menjadi masalah! Tetapi Tuhan tidak berkata, “Jangan lakukan ini lagi”. Sebaliknya Ia gembira melihat seseorang datang kepadaNya dengan permintaan yang demikian besar. Sepertinya semakin besar permintaan, semakin gembira Ia rasakan. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan kita ini. Jika kita tidak memiliki kesan yang jelas atas apa yang telah Ia lakukan, bagaimana kita bisa berkata bahwa kita mengenalNya?

3) “Yesus, Anak Daud, Kasihanilah Aku!”

Ketika Tuhan berkeliling, Bartimeus berteriak, “Yesus, anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk. 10:47). Banyak orang membentaknya dan berusaha mendiamkan dia. Tetapi ia terus berteriak makin keras. Tuhan Yesus tidak menyukai kebisingan dan suasana yang ramai. Matius 12:19 berkata, “Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.” Inilah Tuhan Yesus. Tetapi di sini ada seseorang yang berteriak dengan cara yang keras. Ia menginginkan Tuhan membelaskasihi dia, dan menyembuhkan dia. Tuhan senang melihat orang meminta hal-hal besar dariNya. Ia ingin mereka membuka mulut mereka lebar-lebar. Ia senang memberikan kasih karunia dengan tidak terbatas.

4) “Namun Anjing Itu Makan Remah-Remah Yang Jatuh Dari Meja Tuannya."

Cerita tentang perempuan Kanaan ini memberikan suatu gambar yang jelas tentang prinsip ini. Roti adalah untuk anak-anak. Namun dia berkata, "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." (Mat. 15:27). Ini adalah suatu permintaan yang sebenarnya tidak berhak ia ajukan. Akan tetapi Tuhan senang melihat manusia bertanya dengan cara yang demikian. Ia tidak hanya mengabulkan permintaannya dan menyembuhkan anak perempuannya; tetapi Ia memuji perempuan itu karena imannya. Kita dapat menemukan banyak contoh seperti ini di dalam kitab Injil. Jika kita membentuk kesan yang tepat mengenai hal ini, kita akan mengetahui Hati Tuhan melalui mereka.

4) "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”

Setelah Tuhan turun dari Gunung Pengubahan, seorang ayah membawa anaknya yang dirasuki roh jahat kepadaNya. Awalnya Tuhan membentak orang tersebut (Mrk. 9:14-29). Ia tidak menegur orang kusta yang datang kepadaNya, dan Ia tidak menegur orang lumpuh yang teman-temannya membuka atap itu. Mereka semua berani, tetapi Tuhan Yesus senang dengan apa yang mereka perbuat. Tetapi di sini ayah tersebut mula-mula membawa anaknya yang sakit kepada para murid. Ketika mereka tidak dapat menyembuhkannya, ia membawanya kepada Tuhan. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." Ia datang kepada Tuhan untuk penyembuhan, tetapi ia tidak yakin bahwa Tuhan dapat menyembuhkan. Ia berkata, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu”. Tuhan mengambil kata-katanya ini dan berkata, “jika Engkau dapat?”. Kemudian Ia berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!". Tuhan sepertinya berkata, “Mengapa engkau bertanya jika Aku dapat? Kamu harus menyadari bahwa segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya! Bukan masalah Aku bisa atau tidak, tetapi apakah engkau percaya”. Kita harus memvisualisasi situasi pada saat itu. Orang itu datang dengan setengah hati. Ia bermaksud datang kepada Tuhan, tetapi ia tidak memiliki iman. Ia tidak sepenuhnya percaya pada penyembuhan Tuhan. Ketika memohon belas kasihNya, ia menambahkan doanya dengan kata, “Jika Engkau dapat”. Tuhan menegur kata-kata ini dengan sangat keras. Ia tidak senang ketika orang meminta kurang. Ia tidak takut ketika orang berkata kepadaNya, “Engkau harus melakukannya tidak peduli Engkau mau atau tidak”. Tetapi ayah itu tidak berkata seperti ini. Malahan ia berkata, “Jika Engkau dapat, lakukanlah. Jika Engkau tidak dapat melakukannya, ya biarlah. Murid-muridMu tidak dapat melakukannya. Aku tidak akan memaksakan apapun jika Engkau juga tidak dapat menyembuhkannya”. Tuhan menegurnya dan berkata, "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (ay.23). Ketika Tuhan mengatakan hal ini, ayah tersebut, “berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (ay.24). Segera setelah ia ditegur dan kesalahannya dibuka, ia berpaling dan percaya. Ia menaruh seluruh tanggung jawab kepada Tuhan. Ini adalah suatu gambar yang indah! Semakin tinggi permintaan seseorang, Tuhan akan semakin disenangkan olehnya. Semakin sedikit yang diminta, semakin sedikit kesenangan Tuhan. Kita harus menjadi orang yang lembut dan mengijinkan Tuhan memberikan kesan ini kepada kita. Ketika kita melihat mereka, kita akan menyadari bahwa seluruh kitab Injil dipenuhi dengan kemuliaan Tuhan.

d. Contoh-Contoh Tertutup

1) “Siapakah sesamaku manusia?”

Di dalam cerita tentang orang Samaria yang baik dalam Lukas 10, kita harus memperhatikan perkataan Tuhan. Ahli taurat bertanya, “"Dan siapakah sesamaku manusia?" (ay. 29). Jawaban Tuhan berdasarkan sesuatu yang sangat berbeda. Ayat 27 mengatakan, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Kata dirimu sendiri mengacu kepada ahli taurat tersebut, dan sesama pasti seseorang selain ahli taurat itu. Sesungguhnya Tuhan berkata, “Jika engkau, ahli taurat, dapat mengasihi sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri, engkau akan mendapat hidup kekal”. Ayat 29 berkata, “Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?". Ia mengira bahwa Tuhan Yesus memintanya mengasihi sesama, dan ia ingin mengetahui siapa yang dimaksud dengan sesama. Tuhan merespon dengan cerita tentang orang Samaria yang baik, dan di akhir, bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (ay. 36-37). Ahli taurat bertanya siapakah sesamanya, dan Tuhan Yesus membalas dengan bertanya siapakah sesama orang yang jatuh ke tangan para perampok. Dengan kata lain, ahli taurat adalah orang yang jatuh ke tangan para perampok. Seseorang yang menunjukkan belas kasih kepadanya adalah sesamanya. Sesama tidak mengacu kepada siapa pun; itu mengacu kepada Juruselamat. Tuhan menunjukkan kepada ahli taurat bahwa sesamanya adalah Tuhan sendiri. Ia berkata, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”. Ini berarti bahwa ahli taurat harus berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengasihi orang Samaria itu. Banyak orang memutarbalikkan perumpaan itu. Mereka mengira Tuhan menginginkan mereka untuk menjadi orang Samaria itu. Mereka tidak menyadari bahwa mereka tidak dapat pergi kepada salib untuk menebus dosa, dan mereka tidak dapat ditinggikan untuk membawa turun Roh Kudus. Hanya Dia yang memiliki anggur dan minyak. Hanya Dia yang memiliki hewan, penginapan, dan dinar. Kita bukan orang Samaria itu. Suatu kesalahan yang besar meminta seseorang yang jatuh ke tangan para perampok untuk menjadi orang Samaria itu. Sesama yang dimaksud oleh Tuhan adalah orang Samaria itu. Ini berarti Tuhan datang untuk menjadi sesama kita; Ia datang untuk menyelamatkan kita, mempersiapkan kita dengan hewan, anggur, yang melambangkan pengampunan, minyak, yang melambangkan hayat, penginapan, yang melambangkan gereja, dan dinar, yang melambangkan karunia dan anugerah. Ini semua diberikan hingga kedatanganNya kembali. Ketika Tuhan memberitahu kita untuk mengasihi orang Samaria itu, Ia memberi tahu kita untuk mengasihi Dia. Kita harus belajar untuk menyentuh butir-butir halus pada bagian ini. Inilah cara membaca cerita di dalam Alkitab.

2) Martabat Dan Kemuliaan Tuhan

Ketika manusia ingin menangkap Tuhan di taman Getsemani, Ia melangkah maju dan berkata kepada mereka, “"Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia…. mundurlah mereka dan jatuh ke tanah” (Yoh. 18:4-6). Tuhan hanya berkata satu kalimat, dan mereka mundur dan jatuh ke tanah. Sungguh kemulian yang besar kita temukan di sini!

Tuhan kita berdoa di Taman Getsemani, tetapi Dia memohon apapun di pengadilan, di hadapan imam besar, atau di hadapan mahkamah. Orang ini jauh di atas segala sesuatu. Dia adalah Tuhan, tetapi Dia dihakimi. Siapa yang sebenarnya menghakimi siapa? Imam besar adalah orang yang dikacaukan. Dialah yang tersandung di dalam perkataan. Tuhan kita tetap tenang. Ketika Ia muncul dihadapan mahkamah agama, merekalah yang akhirnya menjadi gugup; dialah yang kebingungan di dalam pertanyaannya. Tuhan bahkan tidak terganggu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yesus orang Nazaret adalah Allah. Meskipun Ia diuji, Ia tidak kehilangan martabat atau kehormatanNya.

Di taman Getsemani, Ia memberitahu murid-murid untuk berjaga-jaga denganNya (Mat. 26:38), tetapi Ia tidak meminta mereka untuk berdoa bagiNya. Paulus memerlukan saudara-saudara di Roma untuk berdoa baginya (Rm. 15:30), tetapi Tuhan tidak memerlukan seorang pun berdoa bagiNya. Dia adalah Putra Allah, dan Dia tidak memerlukan orang untuk berdoa bagiNya. Ia meminta murid-murid untuk berdoa karena Ia tidak ingin mereka masuk ke dalam pencobaan (Mat. 26:41); Ia meminta mereka berdoa untuk diri mereka sendiri. Di sini dapat kita lihat lagi martabat dan kehormatan Tuhan.

Ia hidup di dalam kekurangan di bumi, tetapi Ia tidak meminta uang kepada siapa pun. Ia berdoa kepada Allah di taman, tetapi Ia tidak memohon kepada siapapun di pengadilan. Siapa yang seperti Putra Allah? Tahta adalah kemuliaan, tetapi kemuliaan penghakiman dan salib bahkan lebih besar. Kita harus menyembah Dia dan berkata, “Engkaulah Tuhan! Engkaulah Allah!”.

3) Tuhan Bersembunyi Dari DiriNya

Tuhan selalu menyembunyikan diriNya; Dia tidak suka memiliki nama bagi diriNya sendiri. Setelah Ia menyembuhkan orang kusta, Ia memerintahkan orang kusta itu untuk tidak memberitahu orang lain (Mat. 8:4). Setelah Ia mengusir sekumpulan roh jahat, Ia memerintahkan orang yang sebelumnya kerasukan itu untuk pulang dan berbicara tentang apa yang Allah telah kerjakan di atas dirinya (Luk. 8:39). Sesudah Ia mencelikkan mata dua orang buta, Ia memerintahkan mereka agar tidak ada orang lain yang mengetahui hal itu (Mat. 9:30). Sesudah Allah menampakkan diri kepada Petrus sebagai Kristus, Tuhan memerintah murid-murid untuk tidak memberi tahu yang lain (16:20). Di atas Gunung Pengubahan, Dialah satu-satunya yang bercahaya dalam kemuliaan. Tetapi ketika mereka turun dari atas gunung, Ia memerintahkan para murid untuk tidak memberi tahu yang lain akan apa yang telah mereka lihat (17:9). Kita menemukan kasus yang serupa di dalam Yohanes 7. Saudara-saudara Tuhan sendiri tidak mengenali Dia. Mereka memberi tahu Dia, "Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia." (ay. 3-4). Saudara-saudaraNya mengatakan ini karena bahkan mereka sendiri tidak percaya kepada Dia. Maka jawab Yesus kepada mereka: "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu” (ay.6). Setelah saudara-saudaraNya pergi, Ia juga pergi ke pesta, dan tidak melakukan mujizat apapun di sana, tetapi untuk mengajar. Di sini kita menjamah kemuliaan Tuhan kita. Setiap orang yang berusaha menarik perhatiaan kepada dirinya sendiri, ingin menunjukkan pekerjaannya di depan manusia. Namun Tuhan tidak pernah ingin mengekspos diriNya di depan manusia dengan sengaja. Kitab injil penuh dengan catatan semacam ini. Ia berdiri di depan orang hanya jika ada kebutuhan yang mutlak akan hal itu. Ia tidak suka memberitahu orang lain siapakah diriNya. Bahkan setelah Ia melakukan mujizat di atas diri orang buta, Ia tidak segera memberitahu orang itu siapa diriNya. Ia menyimpan wahyu tentang diriNya hingga Ia membawa orang itu ke dalam terang yang lebih jauh (Yoh. 9). Sebelumnya, Ia tidak memberi tahu siapa diriNya. Kita perlu mengenal Tuhan kita!

C. Kesan yang Dihasilkan dari Pelajaran

Untuk memahami sejarah baik di dalam Perjanjian Lama dan Baru, kita perlu memiliki kesan yang tepat. Untuk memiliki kesan yang tepat, kita harus menjadi orang yang lembut. Inilah alasan kita perlu melalui pelajaran yang tepat di hadapan Tuhan. Jika seseorang memiliki daya pembeda yang rendah, ia tidak dapat diharapkan untuk mengapresiasi martabat Tuhan Yesus ketika membaca kitab injil. Jika ia ditanggulangi meskipun sedikit, ia akan tahu apa itu martabat, dan jika ia datang kepada alkitab lagi, ia akan memiliki apresiasi yang lebih akan martabat uhan Yesus. Jika ia tidak mengetahui arti martabat dan kemuliaan, bagaimana ia bisa diharapkan untuk membentuk kesan tentang martabat dan kemuliaan Tuhan? Kita harus menerima pelajaran yang tepat dari Tuhan. SifatNya harus ditambahkan ke dalam kita setiap hari. Dengan cara ini, perasaan kita kepada firman Allah akan menjadi lebih halus dan lebih halus lagi setiap hari. Kita akan memiliki kesan yang lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap hari, dan kita akan memahami firmanNya lebih dan lebih lagi setiap hari. Kita harus ingat prinsip bahwa siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (Mat. 13:12). Kita tidak boleh mengacuhkan pelajaran kita. Jika tidak, kita akan kehilangan apa yang kita miliki.

III. MASUK KE DALAM ROH DARI KITAB SUCI

Untuk mempelajari Alkitab dengan baik, kita harus mengakrabkan diri kita sendiri denganpikiran dari Roh Kudus seperti juga fakta-fakta dari Roh Kudus. Sebagai tambahan, kita harus masuk kedalam roh dari Kitab Suci.

A. Menjamah Roh di balik Firman

Roh Allah mengendalikan manusia untuk menulis Kitab Suci, dan apakah itu sejarah atau doktrin, setiap bagian memiliki rohnya sendiri. Setiap bagian dalam Alkitab memiliki rohnya yang unik di balik firman. Roh Kudus mengekspresikan Diri-Nya sendiri melalui roh manusia. Ketika kita berkata bahwa Roh Kudus bersukacita, Roh Kudus tidak saja bersukacita di dalam Diri-Nya sendiri; tetapi, Roh Kudus juga bersukacita melalui roh manusia. Dalam cara yang sama, ketika kita berkata bahwa Roh Kudus berduka, Roh Kudus tidak saja berduka di dalam Diri-Nya sendiri; tetapi, Roh Kudus juga berduka melalui roh manusia. Karena itu, ketika Roh Kudus masuk ke dalam roh manusia, kondisi Roh Kudus menjadi kondisi roh manusia. Dengan kata lain, kita dapat mengatakan bahwa kondisi roh manusia adalah kondisi Roh Kudus. Ketika Roh Allah mencatat sejarah, Dia mencatat fakta-fakta sejarah. Bagaimanapun, sejarah ini tidak saja berisi fakta-fakta, itu juga menangkap roh tertentu. Kita dapat mengatakan bahwa perasaan-perasaan dan kondisi-kondisi tertentu dari Roh itu menjenuhi di dalam tiap bagian dari Firman. Dalam prinsip yang sama, dalam penulisan surat-surat rasul, Roh Kudus tidak saja menyampaikan doktrin-doktrin dan opini-opini. Di balik setiap bagian ada perasaan Roh itu. Alkitab bukan saja kitab yang penuh dengan fakta-fakta dan doktrin-doktrin. Di permukaan ada firman-firman. Di kedalaman firman-firman ada pemikiran, dan di balik pemikiran-pemikiran adalah roh. Jika kita hanya menjamah firman, pembacaan Alkitab kita terlalu dangkal. Jika kita dapat membentuk suatu kesan yang tepat dan masuk ke dalam pemikiran-pemikiran di balik firman-firman, kita telah bergerak lebih dalam. Bagaimanapun, jika kita bertahan dalam ala mini, pengertian kita masih sangat terbatas. Perasaan Roh Kudus dan kondisi dari penulis mengendalikan tulisan-tulisan ini. Ketika kita mempelajari Alkitab, kita harus menjamah roh di balik firman.

Ada kaitan yang tidak terpisahkan antara firman dan roh. Ministri firman adalah pembebasan dari roh. Seseorang yang berdiri untuk meministrikan firman haruslah membebaskan rohnya. Jika dia tidak dapat membebaskan rohnya, dia tidak dapat menjadi minister firman. Terlebih lagi, roh haruslah tepat. Seseorang harus memiliki roh yang tepat sebelum dia dapat memiliki ministry firman yang tepat. Kita sering gagal menjadi minister firman karena roh tidak dapat cocok dengan firman yang dilepaskan. Tidak ada yang salah denagn firman yang dibicarakan, tetapi ada yang salah dengan rohnya. Firman-firman adalah kuat, tetapi roh lemah. Bagaimanapun, minister-minister firman dalam Alkitab tidak memiliki masalah ini. Roh mereka cocok dengan isi dari tulisan-tulisan mereka. Di balik setiap bagian dan setiap kitab, ada roh yang tepat; roh ini menjenuhi ke dalam firman. Dalam melepaskan ministry firman, kita perlu firman di permukaan dan roh untuk menopang firman. Dalam menerima ministry firman, kita juga harus menjamah roh di balik firman. Ketika kita belajar Alkitab, tujuan kita adalah menerima ministry firman. Untuk itu, kita harus menjamah roh di balik firman. Jika kita tidak menjamah roh itu, pengertian kita akan Alkitab akan sangatlah dangkal. Kemungkinan besar kita akan menerima beberapa doktrin dan fakta; kita tidak akan menemukan perawatan rohani. Jika firman Allah hanyalah kesan-kesan dan pemikiran-pemikiran bagi kita, itu tidak dapat menjadi makanan kita. Firman Allah harus menjadi roh sebelum itu dapat menjadi makanan kita. Makanan kita dating ketika kita menjamah roh dibalik firman. Esens dari Alkitab adalah roh. Jika kita tidak menjamah roh di balik setiap bagian, kita belum menjamah bagian dari Roh itu. Dalam membaca Alkitab, kita harus menjamah roh, yaitu, roh tertentu di balik sebuah bagian Firman.

B. Bagaimana menjamah Roh itu di balik Firman

Bagaimana kita menjamah Roh itu di balik firman? Kita harus menunjukkan bahwa ini hanya bisa direalisasikan melalui pendisiplinan Roh Kudus, tidak dengan usaha manusia. Pendisiplinan Roh Kudus bararti bahwa Roh Allah masuk menggantikan pekerjaan manusia. Roh Allah mengatur segala sesuatu dalam lingkungan dan beroperasi sampai roh kita sesuai dengan roh dalam Kitab Suci. Meskipun kedua roh tidak dapat sama, tetapi bisa mirip dalam karakternya. Setelah itu kita akan menjamah roh di balik Firman. Hanya ketika kedua roh mirip kita dapat menjamah apa yang ada di balik Firman. Jika keduanya tidak mirip, kita tidak dapat menjamah apapun. Kita mencapai puncak tertinggi dalam pelajaran Kitab Suci ketika roh kita serasi dengan roh dari penulis-penulis Alkitab. Ketika roh kita sesuai dengan roh penulis, kita menjamah isi rohani dari Firman.

Roh yang ada di balik Firman adalah roh yang khusus. Dengan kata lain, ini sangat jelas; tidak tersembunyi di balik Firman dalm cara yang tidak jelas. Roh Kudus mula-mula membentuk penulis-penulis Alkitab; Dia memeteraikan pembuktian-Nya atas mereka. Kemudian Dia menggunakan mereka untuk menulis Kitab Suci. Roh mereka sempurna, dan melalui roh-roh mereka Roh Kudus bekerja menulis perkataan-perkataan yang menyusun Alkitab. Dengan kata lain, inspirasi Roh Kudus mencakup tidak saja suplai perkataan-perkatan kepada manusia tetapi juga persiapan atas orang-orang ini menjadi bejana-bajana yang tepat. Karena bejana-bejana ini dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka mampu untuk menulis perkaatan-perkatan yang telah mereka tulis. Namun, roh dalam Alkitab adalah sempurna, dinamis, tepat, dan akurat. Roh Kudus bekerja pada roh penulis dan meletakkan tanda bukti dan kepuasaan-Nya atasnya. Dia memastikan bahwa orang-orang ini tidak akan memperketat atau membatasi kebebasan-Nya; Dia bisa denagn bebas mengekspresikan pandangan-Nya. Bahkan nafas-Nya yang paling halus tidak dilewatkan oleh siapapun. Kita dapat mengatakan bahwa Alkitab adalah nafas Roh Kudus itu sendiri. Alkitab membawa roh manusia, tetapi ketika dilepaskan, itu juga membawa nafas Roh Kudus itu sendiri. Roh Kudus memiliki kebebasan yang mutlak dalam orang-orang ini. Roh mereka menjadi hampir tidak dapat dibedakan dengan Roh Kudus, dan manifestasinya hampir sama denga manifestasi Roh Kudus. Penulis Alkitab dipimpin oleh Roh Kudus denagn cara ini dalam penulisan mereka akan Kitab Suci. Ketika kita membaca Alkitab, roh kita harus juga dipimpin oleh Roh Kudus agar sesuai dengan roh mereka yang dikendalikan untuk menulis Alkitab. Inilah cara satu-satunya kita dapat menjamah roh di balik Firman Allah. Pembelajaran Alkitab bukanlah sekedar pembelajaran perkataan-perkataan dalam Alkitab. Bukanlah sekedar pemahaman akan arti dalam Alkitab. Tuhan harus memimpin kita sampai pada titik roh kita menjadi satu denagn roh di balik Firman.

Alkitab tercatat dalam perkataan-perkataan tertulis, bukan dengan suara audio. Kecuali beberapa mazmur yang menggunakan kata sela, tidak ada indikasi lain dalam seluruh Alkitab yang membuat kita harus mambacanya dengan keras atau lembut. Meskipun demikian ketika kita membacanya, kita harus tahu sesuatu dari penulisannya. Jika kita tidak dapat membedakan antara bagian-bagian yang “keras” dan bagian-bagian yang “lembut”, bagaimana kita dapat membedakan kondisi dari roh?

Banyak bagian-bagian dari Firman adalah kata-kata yng jujur dan menasihati. Mereka seperti nasihat-nasihat dan permohonan dari pemberita Injil ketika dia mengundang orang untuk percaya ke dalam Tuhan. Permohonan penginjil karena dia sadar akan penderitaan-penderitaan orang dosa dan melihat bahaya dari jalan mereka di hadapan Tuhan. Dia memohon karena dia penuh dengan belas kasih Tuhan, dan dia mau orang-orang dosa berpaling. Dia tahu bahwa bagian dari Kitab Suci adalah perkataan permohonan karena dia merasakan belas kasih, simpati, dan pemahaman untuk orang-orang dosa di balik Firman-firman. Jika kita membaca bagian ini tanpa perasaan di baliknya, itu akan sulit baginya untuk memahaminya.

Beberapa perkataan dalam Alkitab adalah perkataan menegur. Jika seseorang tidak pernah diremukkan Tuhan, dia tidak akan tahu arti dari perkataan-perkataan ini ketika dia membacanya. Dia tidak akan mengenal arti menegur di bawah tekanan roh; dia hanya akan mengerti untuk menegur ketika dia marah. Dia tidak akan menyadari bahwa roh di dalam perkataan-perkataan mungkin berbeda meskipun kata-kata teguran sama.

Kita harus belajar menjamah roh dalam Alkitab dengan roh kita. Untuk melatih roh kita, Roh Kudus mengatur segala lingkungan bagi kita. Kita harus menyadari bahwa pelatihan yang paling baik dan paling penting dalam hidup kita datang dari pendisiplinan Roh Kudus. Disiplin ini terletak di tangan Roh Kudus; itu tidak terletak di tangan kita. Dia mendispensikan disiplin ini secara bertahap. Ketika kita didisiplin terus-menerus, roh kita diubah kepada kondisi yang tepat. Roh kita diatur ulang di kiri dan di kanan; ia menerima sedikit pemukulan di sini, sedikit kesenangan di sana, dan sedikit kesabaran dan sedikit penyempitan di lain tempat. Sebagai hasilnya, roh kita disesuaikan secara tepat kepada paragraph yang sedang kita baca. Ketika roh kita disesuaikan kepada keadaan yang tepat, perkataan-perkataan akan menjadi transparan dan jelas bagi kita, bahkan pikiran yang mengendalikan perkataan-perkataan tidak berubah sama sekali. Ketika kita berbicara tentang perkataan-perkataan itu, yang timbul mungkin adalah perkataan-perkataan yang sama, dan pikiran di balik perkataan-perkataan itu mungkin tetap sama, tetapi kita akan mulai mengetahui dan jelas mengenai perkara-perkara yang kita bicarakan. Ini bukanlah hasil dari kejelasan dalam pikiran-pikiran atau perkataan-perkataan tetapi kejelasan di dalam roh. Ini adalah perkara yang lebih mendalam daripada perkataan-perkataan dan pikiran-pikiran. Sangatlah dalam bahwa satu-satunya hal yang dapat kita katakan adalah kita jelas, bahwa segala sesuatu menjadi transparan bagi kita. Inilah yang terjadi ketika Roh Allah sesuai dengan roh kita dengan roh dalam Firman-Nya.

Menjamah roh Alkitab bukanlah perkara metode-metode. Ini adalah perkara apakah seseorang telah ditanggulangi oleh Tuhan. Jika roh kita tidak dibawa kedalam keselarasan dengan roh dari penulis-penulis Alkitab, paling banyak kita dapat menjadi guru; kita tidak dapat menjadi nabi. Paling banyak kita dapat menjamah doktrin-doktrin; kita tidak dapat menjamah roh. Jika orang kita tidak pernah ditanggulangi dan didisiplin oleh Allah, dan jika Allah belum beroperasi di dalam kita secara sistematis, kita akan tertutupi dengan selubung ketika kita datang kepada Firman. Tidak peduli bagaiman kita berusaha, kita akan terpisahkan darinya dengan jarak yang besar. Roh kita harus ditanggulangi. Kita harus membiarkan Allah menanggulangi kita secara tuntas. Selama beberapa tahun pertama hidup orang Kristen kita, kita mungkin mengerti beberapa doktrin dan fakta, tetapi menjamah roh adalah perkara yang lebih sukar. Jika roh kita tidak siap, ia tidak dapat digunakan. Kita perlu sejumlah waktu tertentu, sedikitnya beberapa tahun, bagi Tuhan untuk mengatur ulang roh kita, untuk menyesuaikan, dan untuk meremukkannya. Sekali roh kita diremukkan, akan mudah bagi Roh Kudus untuk membawa kita ke dalam keharmonisan dengan kondisi dari Kitab-Kitab Suci. Sebenarnya, memerlukan beberapa tahun bagi roh kita untuk sesuai dengan roh Alkitab. Hikmat manusia tidak berguna dalam perkara ini. Mungkin membantu kita untuk lebih cepat memahami perkataannya, tetapi tidak akan membantu kita menjamah roh di balik Firman. Tidak peduli seberapa produktif imajinasi kita atau seberapa kuat persepsi kita, kita tidak dapat memasuki roh dalam Firman. Hanya Roh Kudus yang dapat membawa roh kita ke dalam keharmonisan dengan roh dari Alkitab. Hanya dengan demikian kita dapat memasuki roh dari porsi tertentu dalam Firman.

C. Berpindah Dari Persamaan Kualitas Kepada Penambahan Kapasitas

Roh Kudus menyesuaikan roh kita dengan roh dari Alkitab. Ini mengacu pada penyesuaian dalam kualitas, bukan pada kapasitas. Roh Tuhan Yesus ribuan kali lebih hebat daripada roh kita. Dia adalah Putra tunggal Bapa! Persaamaan dalam kualitas berarti kita memiliki sedikit bagian dalam roh yang Dia miliki. Mereka sama dalam jenis, tetapi mereka tidak sama dalam tingkatan. Bagaimanapun juga, pendisiplinan dari Roh Kudus dapat membawa kita lebih jauh lagi, mulai hanya dari penyesuaian kualitatif dari roh kita dengan roh dari Alkitab sampai pada peningkatan yang aktual dalam kapasitas roh kita. Tuhan menambahkan kapasitas roh kita dengan Roh-Nya. Ini menyangkut sebuah proses yang berjalan terus-menerus seperti pemberian makan. Hari ini Tuhan menyalurkan sesuati kepada kita. Besok Dia akan menyalurkan lebih banyak lagi kepada kita. Seiring dengan pertambahan penyaluran, kapasitas roh kita juga bertambah. Pada saat kita mulai untuk mengerti Alkitab, kita memulai proses pemberian makan, dan pada saat kita diberi makan, kapasitas kita pun bertampah. Titik awal dalam pemahaman kita akan alkitab adalah penyesuaian dalam kualitas roh-roh, sedangkan hasil perampungan dari pemahaman Alkitab adalah penambahan dalam kapasitas roh kita.

Seandainya seorang laki-laki mempunyai temperamen yang buruk. Dia tidak dapat membaca Firman Allah sekeras apapun dia mencoba. Setelah allah mendisiplinkannya, dia akan memiliki sedikit kesabaran. Kesabaran ini bukanlah hasil dari usaha sadar dari pihak dia, bukan juga ketekunan buatan manusia; ini adalah hasil spontan dari pekerjaan Roh Kudus. Setelah dia mendapatkan roh yang semacam ini, pembacaan Alkitab-nya akan menghasilkan perawatan Kristus. Firman Allah akan menyuplai dan memperkaya rohnya. Dia akan menerima lagi dan lagi, dan kapasitasnya akan dipertambah sedikit demi sedikit. Pendisiplian Roh Kudus pertama-tama membawa roh manusia dalam kesatuan/keharmonisan dengan roh Alkitab selama kualitas diutamakan. Selanjutnya juga akan ada penambahan kapasitas. Penambahan kapasitas ini datang dari pendisiplinan Roh Kudus melalui lingkungan, seperti juga melalui kata-kata dalam Alkitab. Roh Kudus melakukan pekerjaan pemecahan melalui pendisiplinan dalam lingkungan. Dalam waktu yang sama, melaui Firman dalam Alkitab, Dia membawakan kita suplaian sehingga kapasitas kita ditembahkan. Semakin banyak Roh Kudus meministrikan Firman-Nya kepada kita, semakin kayalah kita. Setiap perawatan Roh Kudus membawa semakin banyak kekayaan kepada kita. Melalui perawatan Roh Kudus yang terus-menerus melalui Firman, kapasitas kita secara berkelanjutan diperluas.

Jika kita secara terus-menerus diberi makan oleh Firman, Alkitab akan menjadi terus-menerus segar buat kita. Di dalam pandangan manusia, Alkitab telah diselesaikan seribu delapan ratus atau seribu sembilan ratus tahun yang lalu, dan tidak membawa arti penting apapun bagi kita hanya sekedar pengulangan dari pemikiran dan konsep-konsep yang disajikan pada waktu itu ditulis. Dalam realitasnya, bagaimanapun juga Roh yang disajikan pada saat Kitab Suci ditulis masih tetap bersama dengan kita hari ini. Ketika hari ini kita membaca Alkitab, kita seharusnya membacaNya seolah-olah ditulis hari ini. Kapanpun kita membaca Alkitab dengan roh kita, itu adalah buku yang baru buat kita. Meskipun menurut sejarah buku ini telah diselesaikan lebih dari seribu delapan ratus atau seribu sembilan ratus tahun yang lalu, bagaimanapun dia tidak tua, karena ini adalah buku yang ditulis didalam roh. Kita menjadi lelah atas banyak buku setelah membacanya beberapa kali. Tetapi kita tidak lelah atas alkitab walaupun telah membacanya lusinan kali. Ini adalah karena buku ini ditulis didalam Roh. Jika kita menjamah Alkitab berdasarkan huruf-huruf atau berdasarkan pemikiran kita, itu sebentar saja akan menjadi usang bagi kita. Tetapi jika kita membaca oleh roh, itu akan baru bagi kita setiap waktu. Kapan kala kita temukan sebagian dari Firman hambar, itu bukannya bagian itu yang hambar tetapi roh kitayang telah gagal berfungsi. Setiap bagian dari Alkitabpenuh dengan Roh. Jika rok kita cukup kuat, setiap paragraf akan menjadi berharga buat kita. Tetapi jika kita membaca Alkitab tanpa menggunakan roh kita, bahkan kitab yang berharga seperti Roma sekalipun atau sebuah paragraf yang menakjubkan seperti perkataan diatas gunung akan hambar dan tidak berarti bagi kita. Sebenarnya, bukanlah Alkitab yang menjadi tidak berarti, tetapi roh kita yang telah jatuh. Sekali roh kita menjadi jatuh, Alkitab menjadi hambar bagi kita. Ketika roh kita tidak kuat, kita kehilanganselera untuk membaca. Tetapi ketika roh kita kuat, Alkitab menjadi sebuah buku yang segar, seperti baru saja diselesaikan.

Roh Alkitab sudah pasti kaya. Seorang manusia tidak seharusnya menganggap rohnya kuat dan mampu memenuhi semua tuntutan. Hanya mereka yang telah menempuh penanggulangan-penanggulangan yang akan mengenal sedikit tentang Alkitab. Jumlah penanggulangan suatu pengalaman menentukan jumlah pengetahunya. Karena kita hanya mengalami penanggulangan yang terbatas, kita tetap berada ditempat kita sebelumnya, mengabaikan banyak hal. sangat penting bagi kita untuk melewati pendisiplinan Roh Kudus. Semakin banyak pendisiplinan yang kita tempuh, semakin banyak kita belajar. Di titik tertentu, ketika roh kita demikian cocok dengan roh Firman Allah, kita akan melihat terang. Wahyu akan datang, dan kita akan diberi makan.

D. Roh Menjadi Halus

Mengapa kita sangat memustikakan sebuah bagian dari Kitab Suci, sedangkan saudara yang lain tidak melihat sesuatu yang mustika tentang itu? Ini adalah karena kita menangkap roh dari bagian Kitab Suci tersebut, sedangkan saudara yang lain tidak. Saya tidak mengatakan bahwa saudara tersebut tidak memiliki roh. Saya mengatakan bahwa rohnya tidak setahap dengan bagian Firman ini. Ada kalanya, dia bisa memustikakan bagian lain dari Firman, tetapi kita tidak memiliki perasaan apapun tentang itu. Kita sangat dekat pada bagian itu sama seperti dia dekat pada bagian kita dari Firman. Roh kita harus halus, dan kita harus peka terhadap banyak hal. Sekali roh kita halus, kita akan menjadi peka terhadap berbagai situasi kita yang berbeda. Semakin halus roh kita, semakin lebar jangkauan pengetahuan kita akan Firman. Jangkauan pengetahuan kita akan Alkitab tergantung pada jumlah pendisiplinan yang kita dapat dari Roh Kudus. Perasaan-perasaan kita hanya akan menjadi kaya dan halus setelah kita melewati banyak pendisiplinan. Seiring dengan bertambahnya pendisiplinan, perasaan bertambah. Manusia mengerti bagian tertentu dari Firman hanya setelah ia melewati pendisiplinan tertentu. Karena itu, adalah penting bagi kita untuk mendapatkan pengalaman yang kaya melalui melewati penenggulangan-penanggulangan. Jika kita tidak kaya dalam pengalaman yang demikian, perasaan kita tidak akan kaya, dan jika perasaan rohani kita tidak kaya, pengetahuan kita akan Alkitab tidak akan kaya.

E. Dua Contoh

Marilah kita mempertimbangkan dua contoh dalam alkitab dan darinya mencari arti dari masuk ke dalam roh Firman.

1. Cerita Yakub

Yakub adalah orang yang pintar, licik, dan egois. Di dalam segala hal ia memikirkan dirinya terlebih dahulu, tidak pernah orang lain. Ia sangat licik, dan ia menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Inilah alasan Allah menangulangi dia. Ketika ia lahir, ia memegang tumit saudaranya dan bertarung dengannya. Tetapi Esau mendapat kasih ayahnya, sementara ia dikesampingkan. Yakub berusaha dengan segala cara untuk mengambil berkat saudaranya. Tetapi pada akhirnya yang ia dapatkan bukan berkat melainkan pengembaraan. Ia melayani Laban, yang mengubah gajinya hingga sepuluh kali. Ia ingin menikahi Rahel tetapi harus menikahi Lea terlebih dahulu. Di dalam perjalanan pulang ke tanah ayahnya, Rahel meninggal, sementara Lea bertahan hidup. Hatinya ada pada beberapa anaknya, secara khusus mengasihi Yusuf. Namun Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, yang mencelupkan jubahnya ke dalam darah dan menipu Yakub. Ia berpikir bahwa Yusuf dimakan binatang buas, dan berkata, “Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!” (Kej. 37:35). Kemudian ia mengalihkan semua harapannya kepada anak bungsunya, Benyamin; tetapi Benyamin ditawan di Mesir. Hari demi hari Yakub mengalami penanggulangan Allah. Hari-harinya keras. Amsal 13:15 berkata, “jalan pengkhianat-pengkhianat mencelakakan mereka”. Hari-hari Yakub penuh dengan penderitaan sebagai hasil dari kekeraskepalaannya dan kelicikannya.

Kita tidak seharusnya berpikir bahwa pengalaman Yakub di Pniel adalah murahan (Kej. 32:22-32). Ia memaksa Allah untuk memberkatinya. Seakan-akan ia berkata, “Ayahku harus memberkati aku. Setiap orang harus memberkati aku. Allah juga harus memberkati aku!” Ia adalah orang yang licik. Di dalam segala hal ia ingin mendapatkan sesuatu. Ia menginginkan berkat Allah, dan Allah berjanji bahwa ia akan dipanggil Israel. Namun berkatnya tidak datang dengan segera; itu datang berpuluh-puluh tahun kemudian. Di Pniel Allah menyentuh pangkal pahanya, dan ia menjadi pincang. Sejak hari itupekerjaan Allah mengambil alih di dalamnya. Tetapi hari berikutnya kita melihat Yakub yang lama di dalam perjalanan bertemu saudaranya Esau. Ia membagi anak-anaknya ke dalam kelompok, berpikir bahwa ia melindungi kelompok kedua jika yang pertama mengalami musibah. Ia menempatkan Yusuf dan Rahelnya yang terkasih di kelompok terakhir. Ia masih melatih hikmatnya. Ia masih memiliki perencanaan.

Meskipun Yakub licik, ia menjadi manusia yang rohani di masa tuanya. Ketika ia pergi ke Mesir di tahun-tahunnya yang lanjut, ia telah menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya. “Yusuf membawa juga Yakub, ayahnya, menghadap Firaun. Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun” (Kej. 47:7). Ini adalah suatu gambar yang indah. Firaun adalah pemimpin suatu bangsa, namun ketika ia berdiri di hadapan Yakub, Yakub tampak lebih tinggi dari dirinya! Manusia ini telah melalui tahun-tahun pergumulan dan pada akhirnya mengalami perhentian. Ketika ia berdiri, Firaun, yang adalah pemimpin suatu kerajaan pun merunduk! Jika Yakub yang lama ada di sana, ia mungkin akan melakukan tindakan yang sama dengan ketika ia bertemu dengan Laban, mengarahkan matanya pada apa yang dimiliki Laban. Milik Firaun berlipat-lipat lebih berharga daripada Laban. Tetapi Yakub adalah orang yang telah mengalami penanggulangan. Matanya tidak lagi mengarah pada perkara ini, tetapi pada pelajaran yang didapatnya dari Tuhan. Secara spontan, ia berdiri lebih tinggi dari pada Firaun. “Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub: "Sudah berapa tahun umurmu?" Jawab Yakub kepada Firaun: "Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing." (ay. 8-9). Di sini kita menemukan kelepasan roh manusia. Ia berkata, “Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya”. Ini menjelaskan seluruh hidupnya. Orang tua ini telah melalui banyak penderitaan sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata tersebut. Roh kita harus memasuki rohnya. Orang yang telah mengalami pekerjaan pemukulan Tuhan tidak akan pernah sombong. Kita harus mengingat janji Allah kepada Abraham: “Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya” (13:16). Allah juga berjanji kepada Isak, kataNya, “Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit” (26:4). Pada masa Abraham, hanya ada garis keturunan tunggal; tidak ada rumah tangga, terlebih suatu bangsa. Pada masa Yakub, ada tujuh puluh orang di dalam keluarganya. Janji Allah dinyatakan di dalam keluarganya. Namun Yakub tidak menyombongkan hal ini. Sebaliknya ia berkata, aku “tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing." Ia dapat berkata demikian karena ia telah dipukul dan direndahkan. “Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun, sesudah itu keluarlah ia dari depan Firaun” (47:10). Ia datang memberkati Firaun, dan ia pergi memberkati Firaun. Ia memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Sungguh suatu gambaran yang indah! Masa Yakub telah berubah. Sekarang ia adalah Israel; ia tidak lagi sama. Di sini kita harus menjamah rohnya.

“Dan Yakub masih hidup tujuh belas tahun di tanah Mesir, maka umur Yakub, yakni tahun-tahun hidupnya, menjadi seratus empat puluh tujuh tahun. Ketika hampir waktunya bahwa Israel akan mati” (47:28-29). Kita harus menyadari bahwa pada waktu ia dilahirkan ia dipanggil Yakub tetapi pada waktu meninggal ia dipanggil Israel. “dipanggilnyalah anaknya, Yusuf, dan berkata kepadanya: "Jika aku mendapat kasihmu, letakkanlah kiranya tanganmu di bawah pangkal pahaku, dan bersumpahlah, bahwa engkau akan menunjukkan kasih dan setia kepadaku: Janganlah kiranya kuburkan aku di Mesir, karena aku mau mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangku. Sebab itu angkutlah aku dari Mesir dan kuburkanlah aku dalam kubur mereka." Jawabnya: "Aku akan berbuat seperti katamu itu." Kemudian kata Yakub: "Bersumpahlah kepadaku." Maka Yusuf pun bersumpah kepadanya. Lalu sujudlah Israel di sebelah kepala tempat tidurnya” (ay. 29-31). Betapa indah gambar ini! Kita harus menjamah roh di sini. Di sini ada seseorang yang secara alamiah licik dan keras, yang akan melakukan apapun untuk memuaskan dirinya dan selalu meminta yang terbaik. Tetapi pada hari itu ia berkata kepada anaknya, “Jika aku mendapat kasihmu”. Betapa lembutnya! “Bersumpahlah engkau … menunjukkan kasih dan setia kepadaku”. Ia meminta kebaikan dan kebenaran. “Janganlah kiranya kuburkan aku di Mesir”. Tempat Allah bagi dirinya adalah Kanaan. JanjiNya tidak dapat digenapi di Mesir. Di bawah kedaulatan Allah ia hampir meninggal. Namun ia meminta kebaikan dan kebenaran bahwa ia akan dikuburkan di tanah yang dijanjikan Allah. Yakub tidak meragukan janji Allah. Sebaliknya, ia meminta Yusuf bersumpah karena ia percaya kepada Allah. Ia ingin Yusuf melihat keseriusan perkara ini. Kecuali kita menyentuh rohnya, kita tidak akan dapat memahami apa yang dia lakukan. “Lalu sujudlah Israel di sebelah kepala tempat tidurnya”. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa!

Mari kita baca juga Kejadian 48. Ayat 2 samapai 4 berkata, “Ketika diberitahukan kepada Yakub: "Telah datang anakmu Yusuf kepadamu," maka Israel mengumpulkan segenap kekuatannya dan duduklah ia di tempat tidurnya. Berkatalah Yakub kepada Yusuf: "Allah, Yang Mahakuasa telah menampakkan diri kepadaku di Lus di tanah Kanaan dan memberkati aku serta berfirman kepadaku: Akulah yang membuat engkau beranak cucu, dan Aku akan membuat engkau bertambah banyak dan menjadi sekumpulan bangsa-bangsa; Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu untuk menjadi miliknya sampai selama-lamanya”. Ia ingat janji Allah kepadanya. Ia tahu dengan jelas bahwa itu adalah berkat Tuhan sehingga ia memiliki tujuh puluh orang di dalam keluarganya. Allah telah berjanji bahwa ia akan beranak cucu dan bertambah banyak dan negeri Kanaan akan diberikan kepada keturunannya.

Ayat 5 berkata, “Maka sekarang kedua anakmu yang lahir bagimu di tanah Mesir, sebelum aku datang kepadamu ke Mesir, akulah yang empunya mereka; akulah yang akan empunya Efraim dan Manasye sama seperti Ruben dan Simeon”. Ia meletakkan dua anak Yusuf di bawah janji Allah. “sama seperti Ruben dan Simeon, mereka akan menjadi milikku”. Ia menerima kedua anak Yusuf sebagai anaknya sendiri. Di masa tuanya, Yakub jelas mengenai segala sesuatu.

Ayat 7 berkata, “Kalau aku, pada waktu perjalananku dari Padan, aku kematian Rahel di tanah Kanaan di jalan”. Peristiwa ini menyentuhnya amat dalam. Ia masih meningatnya pada saat ia akan meninggal. Betapa lembut, dewasa, dan manisnya orang yang telah melewati penanggulangan Allah! Betapa limpahnya! Yakub yang licik telah berubah; ia menjadi orang yang sepenuhnya berbeda.

Ayat 8 samapai 10 berkata, “Ketika Israel melihat anak-anak Yusuf itu, bertanyalah ia: "Siapakah ini?" Jawab Yusuf kepada ayahnya: "Inilah anak-anakku yang telah diberikan Allah kepadaku di sini." Maka kata Yakub: "Dekatkanlah mereka kepadaku, supaya kuberkati mereka." Adapun mata Israel telah kabur karena tuanya, jadi ia tidak dapat lagi melihat. Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta didekap oleh ayahnya”. Ketika Isak tua, matanya lemah dan ia tertipu. Ketika Yakub tua, matanya juga lemah, tetapi mata batininya sangat jelas. Berbeda dengan Isak di masa tuanya, yang serakah akan makanan daging, Yakub siap untuk memberkati. “Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta didekap oleh ayahnya”. Di sini kita merasakan aliran kasih sayang dari seorang yang tua.

Ayat 11 berkata, “Lalu berkatalah Israel kepada Yusuf: "Tidak kusangka-sangka, bahwa aku akan melihat mukamu lagi, tetapi sekarang Allah bahkan memberi aku melihat keturunanmu." Di sini kita menemukan lagi roh yang telah didisiplinkan oleh Allah.

Ayat 12 samapai 14 berkata, “Lalu Yusuf menarik mereka dari antara lutut ayahnya, dan ia sujud dengan mukanya sampai ke tanah. Setelah itu Yusuf memegang mereka keduanya, dengan tangan kanan dipegangnya Efraim, yaitu di sebelah kiri Israel, dan dengan tangan kiri Manasye, yaitu di sebelah kanan Israel, lalu didekatkannyalah mereka kepadanya. Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye -- jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung”.

Ayat 17 hingga 19 berkata, “Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye. Katanya kepada ayahnya: "Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya." Tetapi ayahnya menolak, katanya: "Aku tahu, anakku, aku tahu” Meskipun mata Yakub rabun, di dalam dirinya tidaklah rabun. Ia tahu apa yang Allah ingin ia lakukan. “Ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa." Kita perlu ingat bahwa Ishak tidak jelas dalam memberi berkat, tetapi Yakub sangat jelas didalam memberikan berkat.

Ayat 21 mengatakan, “Kemudian berkatalah Israel kepada Yusuf: "Tidak lama lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kamu dan membawa kamu kembali ke negeri nenek moyangmu.” Ini adalah iman. Betapa riil-nya penghidupan iman! Pada saat itu di dalam Mesir semua masa depan mereka tampak seperti bohong. Tidak ada keluarga yang memiliki harapan yang lebih baik daripada di tanah Mesir. Dan Yakub berkata, “Allah akan menyertai kamu dan membawa kamu kembali ke negeri nenek moyangmu. Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu, suatu punggung gunung yang kurebut dengan pedang dan panahku dari tangan orang Amori." Ada pada tangan siapa tanah itu pada saat itu? Bukan di tangannya. Dan ia berkata, “aku memberikan kepadamu .“ Pada kenyataannya ia berkata bahwa meskipun Yusuf adalah penguasa Mesir, tanahnya bukanlah Mesir, tetapi Kanaan. “Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu”. Dia tahu bahwa Efraim dan Manasye adalah dua orang dan karena itu Yusuf seharusnya memiliki bagian ganda.

Kejadian 49 memberikan kita suatu nubuat yang besar dalam Alkitab. Yakub menubuatkan apa yang akan terjadi kepada setiap anaknya dan setiap suku-suku. Ia memberkati dengan iman dan didalam ketaatan, dan segala sesuatu adalah jelas baginya.

Ayat 29-30 berkata, “Kemudian berpesanlah Yakub kepada mereka: "Apabila aku nanti dikumpulkan kepada kaum leluhurku, kuburkanlah aku di sisi nenek moyangku dalam gua yang di ladang Efron, orang Het itu, dalam gua yang di ladang Makhpela di sebelah timur Mamre di tanah Kanaan, ladang yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik”

Ayat 33 berkata, “Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.“ Pada saat kelahirannya ia sibuk berpegang pada tumit saudaranya. Pada saat kematiannya ia menggabungkan kakinya secara tepat diatas tempat tidur. Ia tidak terburu-buru atau tanpa perhentian dan tidak bergumul dengan Allah di dalam segala sesuatu.

Kita perlu mengobservasi alkitab dengan roh yang penuh. Ketika kita menjamah roh ini dengan roh kita, kita menjamah titik yang halus dan mustika dari Alkitab. Kita bukan hanya menjamah cerita-cerita dan doktrin-doktrin di dalam Firman. Kita harus menjamah roh dibalik alkitab dengan roh kita.

2. Paulus diwahyukan melalui 2 Korintus

Di antara Surat-surat Paulus, 2 Korintus adalah kitab yang mewahyukan rohnya daripada kitab-kitab lain. Surat-surat lain memberitahu kita wahyu-wahyu yang diterima Paulus, tetapi Surat ini mewahyukan kepada kita persona Paulus sendiri. Surat-surat yang lain berbicara tentang ministrinya, sedangkan Surat ini berbicara tentang personanya. Ini menunjukkan kepada kita kekayaan, kemurnian, dan kelembutan yang ada pada rohnya. Dia lebih disalahpahami oleh orang-orang Korintus daripada oleh yang lain. Orang-orang Korintus tidak tunduk dalam membicarakan segala hal tentang Paulus. Tetapi kita menemukan betapa jelas dan murni di dalam roh dari perkataan Paulus kepada mereka. Kita dapat mengatakan bahwa roh Paulus lebih terbebaskan melalui kesalahpahaman orang-orang Korintus daripada melalui pencobaan-pencobaan yang dia hadapi di pasala terakhir dari Kisah Para Rasul. Jika kita membaca melalui 2 Korintus kalimat demi kalimat, kita akan mengerti tidak saja pikiran-pikiran Paulus tetapi juga rohnya. Kita akan menyadari bahwa bahkan ketika dia menegur, rohnya tidak terprovokasi. Hanya mereka yang pebuh dengan kasih yang dapat menegur orang lain. Jika roh kita tidak dapat sama dengan roh Paulus dalam 2 Korintus, kita mungkin menganggap kebanggaannya kepada orang-orang Korintus sebagai keluhan. Tetapi kita harus menyadari bahwa sementara perkataan-perkataannya mungkin sama, tetapi roh dapat sepenuhnya berbeda. Dua orang dapat mengatakan hal yang sama dan memiliki arti yang samam; mereka bahkan menggunakan istilah yang sama. Tetapi roh-roh mereka dapat sangat berbeda.

Kita telah mendaftarkan dua contoh. Sepanjang Alkitab kita dapat menemukan roh sedemikian. Beberapa tempat lebih kelihatan, sedangkan yang lain lebih tidak kelihatan. Kecuali kita menyerah sama sekali membaca Alkitab, atau kita membawa roh kita naik ke taraf roh dari alkitab. Musa telah melewati banyak pencobaan Jika kita belum masuk ke dalam roh dari pencobaan-pencobaan, kita tidak akan mengerti bagian-bagian ini. Kitab Mazmur jauh lebih dalam dari kitab Yeremia. Jika roh kita tidak sesuai dengan roh dalam kitab-kitab di Perjanjian Baru, kita tidak dapat memahami mereka. Oleh karena itu, kita harus belajar beberapa pelajaran mendasar di hadapan Tuhan. Kita harus menjadi manusia rohani sebelum kita dapat membaca Alkitab. Kita harus berkonsentrasi, dan kita harus tidak subyektif, ceroboh, atau ingin tahu. Kita harus memiliki kesan akan fakta-fakta, dan kita harus masuk ke dalam pikiran-pikiran Roh Kudus. Setelah kita memiliki semua ini, kita masih perlu lebih. Roh kita harus naik kepada standar, dan kita harus ditanggulangi oleh Tuhan kepada titik di mana kita dapat mengidentifikasi dengan roh di balik setiap bagian dari Firman. Kita harus memiliki roh semacam ini sebelum kita mengerti Firman Allah. Jika kita tidak menjamah roh, kita hanya akan mimiliki huruf-huruf. Kita mungkin bahkan salah mengerti Firman Allah atau memutar balikkan artinya. Ketika seorang ayah berbicara kepada anak-anaknya, anak-anaknya harus menjamah roh dari perkataan-perkataan ayah mereka. Jika mereka tidak menjamah lalu menyebarkan perkataan-perkataannya kemana-mana, mereka kemungkinan pada akahirnya akan mengatakan hal yang sama sekali berbeda. Adar oh di balik semua perkataan-perkataan dalam Alkitab. Jika kita mengabaikan roh ini, kita tidak akan mengerti perasaan dan motif di balik perkataan-perkataan, dan kita akan mendapatkan resiko kehilangan isi dari percakapan itu sekaligus. Biar saya ulangi: Jika seseorang belum ditanggulangi oleh Tuhan, akanlah sulit baginya untuk membaca Alkitab. Kita harus ingat bahwa jalan untuk mempelajari Firman adalah melalui kita ditanggulangi oleh Allah.