← Daftar isi Bagaimana Mempelajari Alkitab · bab 1/5

TIGA SYARAT

I. Perlu Rohani

A. “Perkataan-Perkataan Yang Kukatakan … Adalah Roh”

Dalam Yohanes 6:63 Tuhan Yesus berfirman, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh.” Perkataan di dalam Alkitab bukan hanya huruf tetapi roh. Kita juga harus mengingat firman Tuhan di dalam Yohanes 4:24: “Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.” Di sini Tuhan menunjukkan suatu prinsip dasar: Allah itu Roh, dan manusia hanya dapat menyentuh Dia dengan rohnya. Allah itu Roh, dan kita hanya dapat menyembahNya dengan roh kita; kita tidak dapat menyembah Dia dengan hal lain selain roh. Allah itu Roh, dan kita tidak dapat menyembah Dia dengan pikiran, emosi, atau tekad kita. Kolose 2:23 berbicara tentang “ibadah buatan sendiri”. Ini berarti penyembahan dengan tekad. Hal ini tidak benar karena Allah itu Roh, dan oleh sebab Dia adalah Roh, mereka yang menyembahNya harus menyembah di dalam roh. Yohanes 6 berkata bahwa perkataan Tuhan adalah roh. Prinsip dasarnya sama: karena perkataanNya adalah roh, kita harus membacanya di dalam roh. Dengan kata lain, kita hanya dapat menyentuh hal-hal rohani dengan roh.

Alkitab bukan hanya sebuah buku dengan berlembar-lembar kata-kata atau huruf-huruf yang tercetak. Sifat dasar dari Alkitab adalah roh. Karena alasan ini, setiap orang yang membacanya harus mendekatinya dengan roh; harus dibaca dengan roh. Roh yang kita maksudkan adalah roh yang dimiliki oleh setiap orang yang telah dilahirkan kembali. Kita menyebut roh ini sebagai “roh kelahiran kembali”. Tidak setiap orang memiliki roh ini. Oleh sebab itu, tidak semua orang dapat membaca Alkitab dengan baik. Hanya mereka yang memiliki roh ini yang dapat membaca Alkitab dengan baik; mereka yang tidak memiliki roh ini tidak dapat membacanya dengan baik. Roh ini diperlukan untuk menyembah Tuhan. Roh yang sama diperlukan untuk membaca Alkitab dengan baik. Tanpa roh ini, manusia tidak dapat mengenal Allah. Tanpa roh ini, dia juga tidak dapat mengenal Alkitab. Mungkin kita dilahirkan dalam suatu keluarga Kristen. Sebelum kita dilahirulangkan, kita mungkin telah membaca Alkitab, tetapi kita tidak dapat mengerti. Kita memahami sejarah dan fakta-fakta yang tercatat di dalam Alkitab, tetapi kita tidak memahami Alkitab itu sendiri. Ini tidak mengherankan, karena firman Allah adalah roh. Jika kita tidak menggunakan roh kita, kita tidak dapat membaca buku ini. Kapan manusia dapat mulai memahami Alkitab? Pada hari ia menerima Tuhan, ia dapat memahami Alkitab. Mulai sejak saat itu, Alkitab akan menjadi buku baru baginya; ia akan mulai memahami dan memustikakan buku ini. Meskipun ia mungkin tidak mengerti segala sesuatu di dalamnya, ia akan mulai mencintainya. Ia akan membacanya setiap hari dan setiap tahun. Jika ia melewatkan pembacaannya, ia akan merasa lapar; ia akan merasa ada yang hilang di dalam hidupnya. Ketika ia membaca firman Tuhan dengan cara yang demikian, ia akan mulai memahaminya. Ia dapat memahaminya karena ia telah dilahirkan kembali. “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yohanes 3:6). Kita harus mengambil Yohanes 4:24, 6:63, dan 3:6 secara bersamaan: “Allah itu Roh”, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan … adalah roh”, dan “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh”. Perkataan di dalam Alkitab adalah roh. Hayat yang didapatkan manusia ketika dilahirulangkan adalah roh, dan perlu manusia dengan roh untuk membaca perkataan-perkataan roh. Hanya dengan demikian Alkitab akan bersinar di dalam dia, dan hanya dengan demikian itu akan bermanfaat untuknya.

Tidak peduli betapa pandai dan berpendidikannya seseorang, selama dia belum dilahirkan kembali, buku ini akan menjadi suatu misteri baginya. Seorang yang dilahirkan kembali mungkin tidak begitu terdidik, tetapi dia lebih bersyarat untuk membaca Alkitab dibandingkan dengan seorang profesor yang belum dilahirulangkan. Yang pertama memiliki roh kelahiran kembali, yang berikutnya tidak memiliki roh semacam itu. Alkitab bukan dipahami dengan talenta, riset, atau kepandaian. Karena firman Allah adalah roh, hanya seseorang dengan roh kelahiran kembali yang dapat memahaminya. Akar, sifat dasar, dari Alkitab adalah rohani. Jika seseorang tidak memiliki roh kelahiran kembali, dia tidak dapat memahami buku ini; Alkitab akan memjadi buku yang tertutup baginya.

Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 6:55, “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” Orang Yahudi yang belum percaya dikejutkan oleh perkataan semacam itu. Bagaimana bisa daging Tuhan menjadi makanan dan darahNya menjadi minuman? Tetapi setiap orang yang dilahirkan kembali tahu bahwa hal ini mengacu kepada Putra Allah. Ia menundukkan kepalanya dan mengaku, “Aku menerima hidupku dari dagingMu dan darahMu. Tanpa dagingMu, aku tidak akan memiliki hidup hari ini. Tanpa darahMu, aku tidak dapat hidup hari ini. Sesungguhnya Engkau makananku”. Seseorang dengan roh kelahiran kembali tidak akan merasa terganggu dengan firman Tuhan tetapi sebaliknya akan bersyukur dan memuji Dia.

Tuhan berkata, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (ay. 63). Di sini kita melihat dua ruang lingkup. Yang satu adalah ruang lingkup roh, dan yang lain adalah ruang lingkup daging. Dalam ruang lingkup roh, semuanya hidup dan menguntungkan. Dalam ruang lingkup daging, segala sesuatunya tidak menguntungkan. Tak peduli betapa berpendidikannya, logis, dan beralasannya seseorang, ia tidak dapat memahami Alkitab jika ia tidak memiliki roh ini.

Allah itu Roh. Kita mengenal Allah hari ini karena kita memiliki roh. Ketika beberapa orang yang belum percaya berargumentasi dengan kita, kita mungkin tidak dapat menandingi mereka dalam hal pandai berbicara atau hikmat, dan kita mungkin tidak dapat memberitahu mereka pengajaran yang mula-mula, tetapi kita memiliki keyakinan bahwa kita mengenal Allah karena kita dilahirkan kembali. Kita memiliki roh kelahiran kembali, dan kita dapat menyentuh Allah dengan roh ini. Bukan masalah apakah kita dapat menghubungkan doktrin atau tidak. Faktanya adalah kita menyentuh telah Allah. Orang yang belum percaya hendak mencari Allah melalui analisa, percampuran, dan alasan. Tetapi bahkan jika analisa, percampuran, dan alasan dapat ditemukan dengan baik, mereka masih tidak percaya kepada Allah, karena Allah tidak pernah dapat dianalisa atau dicampurkan. Ayub berkata, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?” (Ayub 11:7). Tidak seorang pun dapat menemukan Allah dengan penelitian. Hanya ada satu cara untuk menemukan Allah – dengan roh kelahiran kembali. Mereka yang menyentuh Allah dengan roh ini akan secara langsung mengenali Dia. Tidak ada cara lain kecuali cara ini. Untuk mempelajari Alkitab, seseorang harus memiliki roh kelahiran kembali, dengan cara yang sama dia juga harus memiliki roh kelahiran kembali untuk menyentuh Allah. Misalnya seseorang telah memasang lampu elektik di rumahnya. Ia ingin menghubungkan lampu dengan sumber tenaga, tetapi yang ia punya hanya kayu, bambu, dan kain; ia tidak memiliki kawat tembaga. Meski ada tenaga pada perusahaan listrik, tenaga itu tidak dapat membuat lampu menyala. Tak peduli berapa banyak kain, bambu, dan kayu yang ia miliki, ia tak dapat terhubung pada listrik. Seorang yang lain mungkin tidak memiliki kain, bambu, atau kayu, tetapi ia memiliki sepotong kecil kawat. Dengan kawat kecil itu ia dapat menyalakan lampu karena kawat menghantarkan listrik. Dengan cara yang sama, seseorang harus memiliki roh kelahiran kembali sebelum ia dapat menyentuh Allah. Ia harus memiliki roh kelahiran kembali sebelum ia dapat menyentuh firman Tuhan.

Hanya satu bagian dari diri kita yang dapat mempelajari Alkitab – roh kelahiran kembali. Jika kita menggunakan bagian yang lain untuk menyentuh Alkitab, kita melakukan sesuatu diluar Allah, dan pekerjaan semacam itu tidak akan menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Alkitab dapat menjadi perkara daging bagi seseorang atau perkara roh baginya. Jika seseorang tidak memiliki roh yang dilahirkan kembali, dan segala sesuatu yang dia miliki adalah daging dan hal-hal tentang daging, Alkitab akan menjadi perkara daging baginya. Jika seseorang memiliki roh yang dilahirkan kembali , dan roh semacam itu berfungsi di dalam dia, dia akan menyentuh roh ketika dia menyentuh firman Allah. Ini bukanlah berarti bahwa Alkitab dapat menjadi sesuatu selain roh. Alkitab itu sendiri selalu adalah roh. Tuhan Yesus berkata, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna, perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Firman Tuhan selalu adalah roh. Dan itu adalah roh hanya bagi mereka yang percaya kepada-Nya; bagi orang-orang Yahudi yang tidak percaya firman-Nya diterima sebagai perkara daging. Cara banyak orang mempelajari Alkitab sangat mengherankan. Alasan mereka melakukannya karena mereka kekurangan roh. Seseorang tidak dapat mempelajari Firman Allah menurut pikirannya sendiri atau kepandaiannya sendiri. Dia harus memiliki roh ini sebelum belajar firman Allah.

B. “Menafsirkan perkara rohani kepada manusia rohani”

Beberapa mungkin bertanya, “Aku sudah dilahirkan kembali, dan aku memiliki roh kelahiran kembali. Tetapi mengapa aku tidak dapat belajar Alkitab dengan baik? Mengapa Alkitab seperti buku yang tertutup bagiku?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat pada satu perikop dalam Kitab Suci—1 Korintus 2. Pertama mari kit abaca ayat 1 sampai 4: “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,” Subyek dari pasal ini adalah pemberitaan Paulus tidak disampaikan dengan kata-kata hikmat. Baca juga ayat 5 sampai 7: “supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini…Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.” Baca juga ayat 9 sampai 13: “Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.” Di tepi halaman pada Versi American Standard kita menemukan bahwa terjemahan lain untuk bagian akhir ayat 13: “ Menafsirkan hal-hal rohani kepada manusia rohani.” Ini adalah terjemahan yang lebih baik dari bahasa aslinya. Subyek dari pasal tiga adalah berbagai macam orang. Karena itu, pada akhir pasal dua tidak dapat membicarakan hal-hal. Ini berlawanan dengan aturan penafsiran untuk menjelaskan suatu kata dari dua cara berbeda pada halaman yang sama. Paulus mengatakan bahwa hal-hal rohani hanya bias dikomunikasikan kepada manusia-manusia rohani. (Kata menafsirkan dalam bahasa Yunani dapat berarti terikat bersama, berbaur barsama, koordinasi bersama. Karena itu, dapat diterjemahkan “berkomunikasi”—membicarakan perkara rohani kepada manusia-manusia rohani.)

Dalam membaca bagian ini, kita menemukan hubungan antara Roh itu dan Alkitab. Paulus berkata di sini tentang firman yang diwahyukan oleh Roh itu, diajarkan oleh Roh itu, dan perkataan hikmat dari Roh itu, bukan perkataan hikmat dari manusia. Apakah itu perkataan hikmat dari manusia? Apa yang dilihat oleh mata, apa yang didengar oleh telinga, dan apa yang timbul di dalam hati—inilah perkataan-perkataan manusia. Darimanakah wahyu yang diterima Paulus? Wahyunya datang dari Roh Kudus, karena hanya Roh Kudus yang mengetahui hal-hal tentang Allah. Bagaimana manusia mendapatkan wahyu dari Roh Kudus? Paulus memberitahu kita bahwa untuk memilikinya, kita perlu memiliki Roh Allah. Ini sama denagn apa yang kita lihat sebelumnya pada Injil Yohanes. Disana dikatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengerti hal-hal tentang Allah selain Roh Allah. Kemudian, karena itu, siapa saja yang tidak memiliki Roh Allah tidak mengerti hal-hal tentang Allah. Paulus melajutkan lebih jauh bahwa dia tidak mengucapkan perkatan-perkatan ini menurut pemberitaan yang unggul atau hikmat, juga bukan dari perkataan hikmat ajaran manusia, tetapi di dalam perkataan yang diajarkan oleh Roh itu, membicarakan perkara rohani kepada manusia rohani.

Di sini Paulus berkata bahwa hal-hal rohani hanya dapat dikomunikasikan kepada manusia rohani. Tidak mungkin membicarakan beberapa hal kepada beberapa orang; hal seperti ini tidak sesuai dengan orang-orang tersebut. Ayat 14 berkata, “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah.” Manusia duniawi bukan hanya tidak menerima hal-hal rohani, tetapi “karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan.” Dia akan berpikir bahwa kaum beriman adalah orang-orang bodoh. Seorang manusia duniawi tidak akan tahu, “dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Firman ini menyentuh puncak dari bagian ini. Ini menunjukkan kepada kita bahwa hal rohani hanya dapat dikenali oleh orang yang rohani. Seorang yang duniawi tidak dapat membedakan dan tidak mengerti hal-hal tersebut. Ini tidak ada hubungannya dengan meluangkan waktu atau tidak meluangkan waktu untuk berlatih. Bahkan jika seorang yang duniawi meluangkan seluruh waktunya untuk mengenali, ia tidak dapat dan tidak akan tahu hal-hal tersebut. Dia kekurangan satu karunia yang vital. Suatu deskripsi yang lebih ilmiah tentang manusia duniawi adalah manusia jiwa, manusia di bawah kontrol jiwanya sendiri. Berbicara secara rohani, adalah manusia yang belum dilahirkan kembali. Dia sama seperti Adam, jiwa yang hidup, yang tidak memiliki roh Allah di dalamnya dan yang tidak dapat mengenal perkara-perkara Allah.

Sebagai suatu aturan, setelah seseorang menjadi Kristen, dia seharusnya mengenal perkara-perkara Allah. Tetapi mengapa banyak saudara saudari yang tidak mengenal perkara tersebut? Alasannya adalah meskipun mereka telah memiliki roh kelahiran kembali, mereka tidak benar-benar manusia rohani. Penekanan Paulus dalam 1 Korintus 2 dan 3 adalah bukan hanya roh tetapi menjadi rohani. Penekanan Yohanes adalah roh, penekanan Paulus adalah menjadi rohani. Seseorang bukan hanya harus memiliki roh tetapi juga harus menjadi rohani seturut dengan roh tersebut. Seseorang harus memiliki roh; tanpa roh seseorang tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi hanya memiliki roh saja tanpa hidup di bawah prinsip roh tersebut, yaitu, tanpa hidup di dalam roh dan hidup seturut dengan roh ini untuk menjadi manusia rohani, adalah sia-sia.

Seandainya anda membawa seorang yang dilahirkan buta ke suatu taman dan berkata kepadanya bahwa dia sedang berdiri di depan sebuah pohon mangga. Anda dapat menjelaskan kepada orang buta tersebut bagaimana bentuk buahnya. Tetapi akankah dia mengerti perkataan anda? Bahkan jika dia sangat pandai, mempunyai daya pembeda yang baik, dan memiliki telinga yang sangat tajam, dia akan tetap tidak mengerti bagaimana rupa pohon mangga. Anda dapat mengatakan betapa hijaunya, tetapi dia tidak akan mengerti apa itu hijau. Alam suara berbeda dengan alam penglihatan, dan alam penglihatan berbeda dengan alam pikiran. Dengan cara yang sama, seseorang harus melatih rohnya sebelum ia dapat menyadari alam rohani. Mereka yang memiliki mata mungkin tidak benar-benar melihat; seseorang harus melatih fungsi matanya sebelum ia dapat melihat. Orang buta tidak dapat melihat pohon mangga. Orang dengan mata yang baik hanya akan dapat melihat pohon mangga jika ia membuka matanya. Orang buta tidak dapat melihat pohon mangga dengan telinganya. Seseorang yang normal juga tidak dapat melihat jika ia hanya menggunakan telinganya. Permasalahan hari ini adalah yang buta tidak memiliki mata untuk melihat pohon mangga, sementara yang memiliki mata sehat berusaha mendengarkan pohon mangga dengan telinga mereka. Manusia duniawi tidak dapat mengenal Allah; tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Dia dengan menggunakan perasaan duniawi. Akan tetapi orang yang memiliki roh kelahiran kembali juga tidak akan dapat mengenal Allah jika ia hanya menggunakan jiwanya. Ini bukan berarti bahwa siapa pun yang memiliki roh dapat mengenal Allah. Bahkan setelah roh Allah masuk ke dalam seseorang, masih mungkin bagi orang tersebut untuk tidak mengenal Allah. Hikmat dan kepandaian tidak menolong orang yang belum percaya untuk mengenal Allah; juga tidak dapat membantu orang Kristen mengenal Allah. Pengetahuan tidak membantu orang yang belum percaya memahami Alkitab; juga tidak membantu seorang Kristen untuk memahami Alkitab. Cara untuk memahami Alkitab adalah dengan roh. Ini bukan hanya perkara memiliki roh, tetapi perkara menjadi rohani. Tidaka ada seorang pun yang berkata bahwa ia memiliki roh tetapi tidak perlu hidup seturut dengan rohnya itu dan sebaliknya dapat hidup dengan caranya yang lama. Cara yang demikian tidak dapat diterima ketika seseorang tidak memiliki roh kelahiran kembali; juga tidak dapat diterima sekarang setelah ia memiliki roh kelahiran kembali. Cara dasar untuk memahami Alkitab adalah melalui roh. Inilah alasan yang Paulus tunjukkan kepada kita dalam 1 Korintus 2 bahwa permasalahannya bukan pada memiliki roh atau tidak memiliki roh, tetapi pada rohani atau tidak rohani. Perkara rohani hanya dapat dikenali oleh manusia rohani.

1 Korintus 3:1 mengatakan “Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.” Di sini ada satu kata yang lain: daging. Kaum beriman Korintus adalah bayi-bayi di dalam Kristus; mereka bersifat daging. Inilah alasan ayat 2 berkata, “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras.” Untuk meyakinkan, mereka ini tidak benar-benar mengacuhkan perkara rohani. Tetapi mereka hanya dapat menyentuh wahyu yang paling jelas; mereka tidak dapat menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Mereka bersifat daging, dan oleh sebab itu mereka hanya dapat minum susu, bukan makanan keras. Susu adalah bagi mereka yang masih dalam tahap awal hidup mereka. Ini berarti bahwa mereka hanya dapat menerima wahyu dasar di dalam kekristenan. Makanan keras, di sisi yang lain, adalah untuk orang dewasa hingga sepanjang hidupnya. Ini mengacu kepada wahyu yang lebih dalam dan berat. Manusia tidak terus menerus minum susu; hanya sejangka waktu yang singkat di dalam hidupnya ketika ia harus minum susu. Namun ada manusia yang, seperti kaum beriman Korintus, minum susu terus menerus. “Sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.”

I Korintus 2 dan 3 menunjukkan kepada kita tiga jenis manusia:

Pertama, manusia duniawi. Manusia semacam ini hanya memiliki kemampuan jiwani. Kita dapat menyebutnya manusia jiwani. Manusia duniawi adalah manusia yang belum dilahirkan kembali; ia tidak memiliki roh kelahiran kembali dan tidak memiliki organ yang tepat untuk memahami firman Allah. Orang semacam ini tidak dapat memahami Alkitab.

Kedua, manusia daging. Manusia jenis ini memiliki hayat dan Roh Allah di dalamnya. Tetapi ia hidup tidak menurut roh itu tetapi menurut daging. Ia memiliki roh kelahiran kembali, tetapi ia tidak menggunakan rohnya atau menyerahkan dirinya pada pengaturan rohnya. Ia memiliki roh, tapi ia tidak tunduk di bawah pengaturan roh itu atau mengijinkan roh itu mengambil alih segala sesuatu. Alkitab menyebut orang ini daging. Ia memiliki pemahaman yang sangat terbatas mengenai Alkitab. Ia hanya dapat minum susu, bukan makanan keras. Susu adalah sesuatu yang dicerna dahulu oleh seorang ibu. Ini mengacu kepada wahyu tidak langsung, wahyu yang tidak datang kepada seseorang secara langsung. Orang yang minum susu tidak dapat menerima wahyu langsung dari Allah. Ia menerima wahyu dari orang rohani lainnya, yang mengalihkan wahyu itu kepadanya.

Ketiga, manusia rohani. Orang macam ini memiliki Roh Allah. Ia bekerja di bawah kuasa Roh yang hidup dan berjalan sesuai dengan prinsip roh. Banyaknya wahyu yang ia terima tidak terbatas. Firman Allah berkata bahwa perkara rohani hanya dapat dikenali oleh manusia rohani.

Untuk mempelajari Alkitab, kita harus mengingat tiga syarat dasar ini: kita harus menjadi rohani dan hidup menurut roh.

II. Konsikrasi

A. Hati Yang Terbuka

Alkitab adalah firman Allah. Dia penuh dengan terang Allah. Akan tetapi terang ini hanya akan menerangi mereka yang terbuka kepadaNya. 2 Korintus 3:18 “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung.” Syarat dasar untuk diterangi dengan kemuliaan Allah adalah memandang Dia dengan muka yang tidak berselubung. Jika seseorang datang kepada Tuhan dengan muka yang berselubung, kemuliaan tidak akan menerangi dia. Terang Allah hanya akan menerangi mereka yang terbuka kepadaNya. Jika seseorang tidak terbuka kepada Allah, ia tidak akan menerima terang Allah. Permasalahan beberapa orang adalah mereka tertutup kepada Tuhan. Roh, hati, tekad, dan pikiran mereka semua tertutup kepada Allah. Akibatnya, terang kitab suci tidak akan mencapai mereka. Meskipun matahari penuh dengan terang dan menyinari seluruh dunia, terangnya tidak akan mencapai orang yang duduk di dalam suatu ruangan dengan pintu dan jendela tertutup. Masalahnya bukan pada terang itu tetapi pada orangnya. Terang hanya akan menyinari mereka yang terbuka kepadanya. Hal ini benar untuk terang yang fisik, dan juga untuk terang yang rohani. Kapankala kita mengunci diri kita, terang tidak dapat menyinari. Beberapa orang tertutup kepada Alah; mereka tidak akan dapat melihat terang Allah. Kita tidak seharusnya hanya menaruh perhatian kepada membaca dan belajar; tetapi, kita seharusnya bertanya apakah kita terbuka dihadapan Tuhan. Jika kita tidak memiliki muka yang tidak berselubung, kemuliaan Allah tidak akan menyinari kita. Jika hati kita tidak terbuka kepadaNya, Allah tidak dapat memberi terang kepada kita.

Terang bekerja menurut suatu hukum. Ia menyinari mereka yang terbuka kepadanya, dan besarnya penyinaran tergantung pada besarnya keterbukaan. Ini adalah suatu hukum. Jika semua pintu dan jendela suatu ruangan tertutup tetapi hanya ada satu celah yang terbuka, terang akan tetap masuk. Tidak sulit untuk mendapatkan terang. Selama seseorang mengikuti hukum ini, ia akan menerima terang. Namun jika ia bertindak berlawanan dengan hukum ini, ia tidak akan mendapatkan terang. Seseorang yang tertutup kepada Allah mungkin saja belajar dan banyak berdoa, tetapi ia akan tetap tidak peka jika menyangkut hal memahami Alkitab. Sulit bagi seseorang untuk mengharapkan terang ketika ia tidak terbuka kepada Allah. Terang Allah tidak datang tanpa syarat. Untuk memiliki terang Allah, seseorang harus terlebih dahulu memenuhi syarat untuk menerimanya.

Setiap anak Allah memiliki Alkitab di tangan mereka, akan tetapi banyaknya terang yang dimiliki tiap-tiap orang berbeda. Beberapa benar-benar tidak peka terhadap apa yang dikatakan Alkitab. Yang lainnya mendapat beberapa terang dari pembacaan itu. Sisanya penuh dengan terang ketika mereka membacanya. Alasan untuk perbedaan itu adalah orang-orang yang membacanya berbeda. Orang yang terbuka kepada Allah dapat memahami Alkitab. Lainnya yang tertutup kepada Allah tidak dapat memahami Alkitab. Beberapa orang sepenuhnya tertutup, dan akibatnya mereka sepenuhnya berada di dalam kegelapan. Beberapa orang tertutup sebagian, dan sebagai akibatnya mereka menerima terang sebagian. Kurangnya penglihatan di dalam pengalaman kita, baik besar ataupun kecil, sepenuhnya atau sebagian, menunjukkan kita berada di dalam kegelapan. Kita tidak seharusnya menganggapnya suatu perkara kecil ketika kita menemui kesulitan untuk memahami Alkitab. Jika kita kesulitan memahami Alkitab, hanya dapat berarti satu hal: kita tinggal di dalam kegelapan! Ini suatu perkara yang serius untuk membaca Firman Allah dan tidak memahaminya atau menerima terang darinya.

Selanjutnya, kita perlu bertanya apa artinya menjadi terbuka kepada Allah? Keterbukaan datang dari konsikrasi yang tanpa syarat dan mutlak. Keterbukaan kepada Allah bukan sikap yang sementara; itu suatu sifat yang permanen yang dibangun seseorang dihadapan Allah. Bukan suatu sifat yang sementara, melainkan dilakukan terus menerus. Keterbukaan kepada Allah hanya dapat datang dari konsikrasi yang tanpa syarat dan mutlak. Jika konsikrasi seseorang kepada Allah sempurna dan mutlak, ia tidak akan memiliki keengganan kepada Allah dan tidak akan tertutup dalam hal apapun. Ketertutupan mencerminkan kekurangan pada persembahan diri seseorang. Kegelapan adalah akibat dari ketertutupan, dan menjadi tertutup adalah akibat dari kekurangan konsikrasi. Kapankala ada kekurangan konsikrasi, akan ada keengganan. Ketika seseorang menolak untuk merendahkan dirinya di hadapan Allah dalam perkara apapun, ia akan mencoba untuk membenarkan dirinya sendiri. Sebagai konsekuensinya, ia tidak dapat memahami kebenaran kitab suci yang berhubungan dengan perkara tersebut. Pada saat ia menyentuh perkara tersebut, ia akan berusaha untuk menghindarinya. Inilah alasan kita mengatakan bahwa kegelapan datang dari ketertutupan, dan ketertutupan datang dari kurangnya konsikrasi. Semua jenis kegelapan datang sebagai akibat dari ketertutupan, dan ketertutupan dalam perkara apapun adalah hasil dari kurangnya konsikrasi dan ketaatan.

B. Mata yang tunggal

Banyak bagian dalam Alkitab secara jelas berbicara tentang terang. Dalam Matius 6:22 Tuhan Yesus berbicara tentang terang dari hati, dikatakan, “Mata adalah pelita tubuh.” Tuhan tidak berkata bahwa mata adalah terang tubuh. Sebaliknya, Dia berkata bahwa mata adalah pelita tubuh. Terang berhubungan dengan Allah, sedangkan lampu berhubungan dengan kita. Terang adalah dalam firman Allah, sedangkan lampu berhubungan dengan kita. Lampu adalah tempat dimana terang ditahan. Dengan kata lain, lampu adalah tempat dimana kita mempertahankan dan melepaskan terang. Supaya firman Tuhan bersinar di dalam kita, kita harus memiliki lampu di dalam kita. Kampu ini adalah mata kita. “jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”(ay. 22-23). Supaya seluruh tubuhmu penuh dengan terang, Tuhan memberikan satu syarat—mata kita harus tunggal.

Apa artinya memiliki mata yang tunggal? Meskipun kita memiliki dua mata, hanya ada satu focus; mereka hanya melihat satu hal dalam satu waktu. Mata kita akan sakit bila melihat dua fokusdan melihat dua obyek dalam satu waktu; dan juga tidak akan ada penglihatan yang jelas. Mereka tidak tunggal. Supaya mata dapat melihat jelas, mereka harus hanya memiliki satu focus; tidak bias memiliki dua focus. Dalam menerima penyinaran adalah perkara terang, dan juga adalah perkara melihat dengan mata. Jika kita tidak pernah mengalami kasih karunia dan belas kasihan, kita tidak akan pernah mengalami terang menyoroti kita. Masalah berikutnya bukanlah pada terang, tetapi pada mata kita. Jika mata kita tidak tunggal, kita tidak dapat mengenali terang. Banyak orang matanya tidak tunggal; mereka melihat bukan hanya satu hal tetapi dua hal bersamaan. Kadang-kadang mereka melihat satu hal seakan-akan itu adalah dua hal. Terang tidak pernah jelas bagi mereka. Faktanya, mereka mungkin dalam kegelapan total.

Tuhan berkata, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."(6:24). Banyak orang tidak memiliki terang karena mata mereka tidak tunggal. Alasan mata mereka tidak tunggal adalah karena mereka kurang konsikrasi di hadapan Tuhan. Apakah konsikrasi? Adalah melayani Yehovah saja. Manusia tidak dapat melayani dua tuan. Ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain; ia tidak dapat melayani keduanya dengan baik. Dia tidak mampu mempertahankan keseimbangan itu. Tidak seorangpun dapat melayani Allah di satu sisi dan melayani mammon di sisi yang lain. Siapa yang mencoba melayani dua tuan akan menemukan cepat atau lambat bahwa mereka akan mengasihi yang satu dan membenci yang lain. Kita mempersembahkan diri kita mutlak kepada Tuhan, atau kita sepenuhnay melayani mammon. Tuhan berkata bahwa mata harus tunggal. Ini berarti pelayanan kita dan konsikrasi kita haruslah tunggal. Hati yang tunggal menunjukkan konsikrasi yang tunggal.

Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita prinsip yang dasar. Jika kita mau membaca alkitab, mengerti pengajaran-pengajaran, dan menerima wahyu-wahyu, kita harus memikul satu tanggung jawab di ahdapan Tuhan: Kita harus mempersembahakn diri kita sepenuhnya kepada Dia. Hanya inilah yang akan memberi terang melalui Alkitab. Sekali kita memiliki masalah dengan konsikrasi kita, kita memiliki masalah dengan penglihatan kita. Ketika kita memiliki masalah denagn penglihatan kita, itu berarti bahwa kita mula-mula memiliki masalah denagn konsikrasi kita. Kita harus sepenuhnya mengakui bahwa tidak satu orangpun yang dapat melayani dua tuan.

Tuan yang lain mempunyai nama—mamon. Mamon melambangkan uang dan kesejahteraan. Banyak terang dari Alkitab terselubung karena uang. Banyak orang terselubung dari terang dalam alkitab karena mammon. Banyak orang gagal untuk melihat kebenaran dalam Alkitab karena mereka punya masalah dengan uang. Sebagai tambahan diri Allah, mereka memiliki uang, dan mereka tidak bersedia meninggalkan pengejaran mereka akan uang. Ada pertentangan antara kebenaran dan keinginan pribadi mereka. Jika saja mereka dapat mengesampingkan keinginan pribadi mereka dan mengejar kebenaran berapapun harganya, Alkitab akan menjadi sangat jelas bagi mereka. Banyak orang mengorbankan pengajaran Alkitab karena mereka bermasalah dengan mammon. Jika semua orang Kristen berhenti dalam perkara mammon, akan ada kenaikan yang besar dalam jumlah orang yang taat. Kita harus memperhatikan peringatan ini dari Tuhan. Kapankala kita ceroboh dan berpaling sedikit saja kepada keinginan pribadi kita, terang Allah akan terpotong. Supaya melihat terang , kita tidak dapat melayani mammon. Kita tidak dapat memiliki dua keinginan. Kita tidak dapat mempertahankan keinginan Allah sebagaimana keinginan kita pribadi. Kita hanya dapat mempertimbangkan satu keinginan—keinginan Allah. Sekali keinginan pribadi kita mulai dipertimbangkan, kita memiliki dua tuan, dan mata kita tidak lagi tunggal. Orang yang bercabang tidak dapat mempelajari ALkitab; tidak juga mereka yang memberi ruang bagi keinginan pribadi. Hanya mereka dengan mata yang tunggal yang dapat emmpelajari Alkitab.

Bagaiman mata kita dapat tunggal? Tuhan berkata, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (6:21). Perkara yang luar biasa adalah ketika mammon berada di bawah pengendalian kita, itu tidak akan menyakiti kita tetapi membantu kita. Ketika hati kita untuk mammon, kita mencintai uang, dan itu akan sulit untuk hati kita tertuju kepada Allah. Tetapi jika kita mampu mengarahkan harta kita, kita akan mampu mengarahkan hati kita. Inilah sebabnya kita harus belajar melepaskan harta kita. Tuhan berkata, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Ketika seseorang menyimpan hartanya di pihak Allah, secara spontan hatinya akan berada di pihak Allah. Jika seseorang menyimpan hartanya di surga, hatinya akan berada di surga. Dimana harta kita berada, disanalah juga hati kita. Jika segala yang kita miliki ada bersama dengan Allah, hati kita juga secara spontan bersama dengan Allah, dan mata kita akan tunggal.

Untuk memahami Alkitab, kita perlu konsikrasi yang mutlak. Tanpa konsikrasi, hati kita tidak akan pergi kepada Allah. Ciri-ciri yang khusus dari konsikrasi adalah itu membawa hati kita kepada Allah. Ketika kita menerahkan segalanya kepada Allah, hati kita juga akan mengikuti kita karena harta kita telah berpindah. Ada dua macam konsikrasi. Yang satu, hati pergi lebih dulu. Yang satunya lagi, hati mengikuti kemudian. Beberapa orang mempersembahkan harta mereka setelah hati mereka terjamah. Yang lain hati mereka mengikuti, setelah mereka mempersembahkan harta mereka. Tidak peduli apakah kita berpikir hati kita akan mengikuti kita atau tidak, kita hanay perlu memperhatikan konsikrasi kita. Apapun yang kita pegang paling berharga harus pergi lebih dulu. Kita harus mempersembahkan itu di dalam nama Tuhan kepada mereka yang memerlukan. Ketika barang-barang kita diberikan, hati kita pergi kepada Tuhan. Ketika segala kita bersama denagn Tuhan, hati kita akan menjadi tunggal.

Ketika mata kita menjadi tunggal, maka akan menjadi jelas, dan terang akan meninari. Tuhan berkata, “teranglah seluruh tubuhmu” (ay. 22). Apakah artinya memiliki seluruh tubuh penuh dengan terang? Artinya memiliki terang yang cukup bagi kaki kita untuk berjalan, tangan kita untuk bekerja, dan pikiran kita untuk berpikir. Dengan kata lain, kita memiliki terang di seluruh daerah. Terang memenuhi emosi, tekad, pikiran, kasih, langkah, dan jalan kita. Kita melihat segala sesuatu, kareana mata kita tunggal.

Sebelumnya, kita telah mengatakan bahwa hanya orang rohani yang dapat mengerti ALkitab. Sekarang kita menambahkan satu hal lagi: Hanya mereka yang berkonsikrasi yang dapat mengerti Alkitab. Jika seseorang tidak berkonsikrasi, dia tidak dapat emmbaca Alkitab dengan baik.Begitu dia membuka Alkitab, dia akan berjumpa dengan tempat-tempat dimana dia menahan untuk berkonsikrasi, dan kegelapan akan menyertainya. Begitu dia melanjutkan membaca, dia akan lebih jauh berjumpa dengan tempat-tempat yang belum dikonsikrasikan, dan kegelapan akan menyertainya lagi. Ketika kegelapan menyertai seseorang, dia tidak dapat menerima apapun dari Allah. Seseorang harus mutlak untuk Allah. Dia tidak dapat melayani Tuhan di satu sisi, dan mengharapkan untuk mengambil jalannya sendiri di sisi lain. Beberapa orang berdebat bahwa mereka sungguh-sungguh dalam mencari kehendak Allah, namun mereka tidak mengerti apa yang Alkitab ajarkan. Mereka mengatakan mereka tidak tahu masalahnya dimana. Tetapi ini adalah alas an; bukan fakta. Seseorang tidak tahu karena mereka tidak mau mengambil jalan Allah. Jika dia sungguh-sungguh serius untuk mengambil jalan Tuhan, dia akan menemukan jalan yang jelas dan pasti di depannya. Orang yang tidak pernah jelas adalah mereka yang matanya tidak tunggal.

C. Keperluan akan ketaatan yang berkesinambungan

Allah memberikan wahyu kepada kita akan pengajaran alkitabiah sesuai denagn ukuran ketaatan yang kita berikan kepadaNya. Semakin kita taat padaNya, semakin banyak terang yang kita terima. Jika kita terus menerus taat kepada Allah, kita akan terus menerus melihat. Tanpa konsikrasi, kita tidak dapat melihat. Tanpa ketaatan yang berkesinambungan, kita tidak dapat melanjutkan melihat. Jika konsikrasi kita tidak menyeluruh, sorotan tidak akan besar. Jika ketaatan kita tidak halus dan cukup detil, terang yang kita terima tidak akan halus dan cukup detil. Karena itu, permasalahan yang mendasar adalah konsikrasi. Jika seseorang tidak mengerti arti konsikrasi, dia tidak dapat mengerti Alkitab. Orang yang berkonsikrasi tidak seharusnya hanya memiliki konsikrasi yang mula-mula, mendasar, tetapi dia harus mempertahankan ketaatan di hadapan Tuhan sepanjang waktu. Hanya dengan demikian dia akan tetap melihat. Banyaknya terang yang diterima seseorang tergantung pada banyaknya ketaatan yang dia pertahankan setelah konsikrasi yang mula-mula. Jika kita sempurna dalam ketaatan kita, kita akan sempurna dalam penglihatan kita.

Kita harus memperhatikan perkataan Tuhan dalam Yohanes 7:17: “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.” Jika seseorang mau melakukan kehendak Allah, dia akan tahu. Dengan kata lain, ketaatan adalah syarat untuk tahu. Keputusan untuk melakukan kehendak Allah adalah syarat untuk tahu ajaran Allah. Jika seseorang tidak ada keinginan untuk melakukan kehendak Allah, namun dia ingin tahu ajaran Allah, orang itu harus lebih dulu mau melakukan kehendak Allah. Keputusan ini berhubungan dengan sikap seseorang. Allah mau kita pertama memiliki sikap yang taat. Jika seseorang taat kepada Allah dalam sikapnya, Pengajaran Allah akan menajdi jelas baginya. Kita tidak seharusnya bertanya apa yang Alkitab ajarkan. Sebaliknya, kita harus bertanya apakah kita bersedia untuk mentaati firman-Nya. Masalahnya adalah pada sikap kita; itu tidak ada hubungannya dengan pengajaran Alkitab. Apakah Alkitab akan terbuka kepada kita atau tidak tergantung pada sikap kita terhadap Allah. Kita bertanggung jawab atas sikap kita, sedangkan Tuhan bertanggung jawab pada pengajaran-Nya. Jika sikap kita tepat, Allah akan mewahyukan Diri-Nya sendiri kepada kita dan segera membuka mata kita. Jika kita menambahkan dengan ketaatan kita, sikap kita akan benar sekali lagi dan Allah akan memberikan wahyu yang lebih jauh. Pertama ada sikap yang benar, dan kemudian ada wahyu. Jika kita merespon wahyu dengan ketaatan, kita akan memiliki sikap benar yang lebih dan akan menerima lebih banyak wahyu.

Banyak orang mengatakan bahwa mereka telah melihat kebenaran dalam Alkitab. Sebenarnya, hanya mereka yang memutuskan untuk melakukan kehendak Allah akan melihatnya. Hanya mereka yang dapat mengatakan bahwa penglihatan mereka jelas dan menyeluruh. Tuhan harus bekerja banyak di dalam kita sebelum kita dapat “memutuskan” seperti ini. Jangan berpikir bahwa terang dating tanpa harga. Setiap penglihatan diiringi oleh harga yang tinggi; kita harus membayar harga untuk melihat. Kadang-kadang Allah harus membawa seseorang melewati dua atau tiga pengalaman sebelum dia melihat sesuatu. Terang Allah seringkali dating kepada kita secara memantul. Pertama ia menerangi perkara lain, dan kemudian memantul kepada kita. Terang Allah seringkali secara pantulan. Kita harus melihat terang dari sudut yang satu sebelum kita dapat melihat terang dari sudut yang lain dan kemudian dari sudut yang ketiga. Kadang-kadang kita perlu untuk melewati beberapa pengalaman seeblum melihat terang. Jika kita tidak taat di satu perkara, kita kehilangan wahyu. Inilah cara terang Allah bertindak. Banyak kali kita hanya dapat melihat jelas setelah kita memposisikan diri kita di sudut-sudut yang berbeda. Semakin banyak harga yang kita bayar di hadapan Tuhan, semakin banyak terang yang kita lihat. Satu pengalaman akan ketaatan akan memimpin kepada pengalaman yang lain dan kemudian kepada ketaatan yang semakin banyak. Satu penaglaman akan terang akan memimpin kepada pengalaman yang lain dan kemudian kepada terang yang lebih banyak. Kehendak Allah ada dibalik setiap pengaturang yang Dia buat. Kapanpun seseorang melewatkan dua atau tiga kesempatan untuk taat pada Allah, dia menderita kerugian di hadapan Allah.

Tidak peduli berapa banyak keyakinan yang kita miliki dalam konsikrasi dan ketaatan, kita harus menyadari bahwa ada yang salah dengan konsikrasi kita kapanpun kita terselubung. Kapanpun kita gagal untuk melihat, mata kita adalah salah. Allah tidak pernah kekurangan terang, tetapi kapanpun Dia melihat ketidak relaan di pihak kita, Dia akan menahan pembicaraan-Nya. Allah tidak pernah memaksa siapapun untuk emlakukan apapun, tetapi Dia juga tidak akan melepaskan perkataan-Nya dengan cara yang murahan. Jika ada ketidakrelaan di pihak kita, Roh Kudus akan malu; Dia akan berbalik dan tidak melepaskan Diri-Nya sendiri dengan cara yang murah. Jika ada yang salah dengan konsikrasi seseorang, Allah tidak akan memberikan Dia terang. Ini bukanlah hal yang kecil untuk seseorang gagal memahami Alkitab, karena hal itu menekankan ada masalah dengan konsikrasinya. Penglihatan rohani melibatkan harga; itu tidak gratis. Setiap penglihatan melibatkan harga. Tidak ada penglihatan yang gratis.

III. Terlatih dalam pengalaman

Ibrani 5:14 menyatakan bahwa “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat.” Kata terlatih dapat diterjemahkan sebagai suatu ‘kebiasaan’. Disini terlihat ada satu kondisi yang disyaratkan untuk menerima Firman Tuhan- ia haruslah seseorang yang dewasa. Hanya orang dewasalah yang dapat menerima makanan yang keras. Mengapa seseorang itu harus bertumbuh dewasa dulu baru dapat menerima makanan keras? Ini berhubungan dengan kebiasaan. Seseorang yang dewasa dapat menerima makanan yang keras karena ia terbiasa memakannya. Panca inderanya terlatih dan dia dapat membedakan antara yang baik daripada yang jahat. Ayat 13 mengatakan tentang menjadi terlatih dalam kebenaran. Untuk menjadi terlatih dalam perkataan kebenaran berarti terlatih dalam Firman Tuhan. Kata terlatih dalam bahasaYunani memiliki hubungan dengan keahlian dalam bidang industri; sehingga harus benar-benar menguasai. Beberapa pekerja tidak memiliki keahlian sementara yang lain sangatlah menguasai. Seseorang pekerja yang ahli telah menempuh sejumlah pelatihan dan telah terlatih karenanya. Seseorang yang terlatih dalam perkataan Tuhan adalah mereka yang terlatih dengan baik dalam Firman. Jika seseorang ingin mempelajari Alkitab dan memahami perkataan Tuhan, dia haruslah seseorang yang berpengalaman dalam latihan ini.

Alkitab menyorot keadaan kita. Apa adanya kita menentukan dalam pembacaan Alkitab. Jika kita ingin mengetahui seperti apakah seseorang dalam karakter dan kebiasaan maka yang harus kita lakukan adalah menunjukkan pasal dalam Kitab suci dan melihat bagaimana ia menerjemahkannya. Tipe orang seperti apa dia akan menentukan jenis pembacaan yang dia miliki. Seseorang yang ingin tahu akan menemukan bahwa Alkitab penuh dengan hal yang menuai pertanyaan. Seseorang yang intelek akan menemukan Alkitab penuh dengan alasan. Seseorang yang sederhana akan menemukan bahwa Alkitab hanya sekumpulan ayat-ayat. Sebuah fakta yaitu karakter dan kebiasaan seseorang akan terlihat dalam cara pembacaan Alkitabnya. Jika seseorang tidak didisiplinkan oleh Tuhan dalam karakter dan kebiasaan maka ia akan jatuh dalam kesalahan yang fatal dan pembacaan Alkitabnya tidak akan membuahkan apa-apa.

Karakter dan kebiasaan seperti apakah yang harus dimiliki oleh seseorang ketika membaca Alkitab?

A. Tidak Subyektif

Setiap pembaca Alkitab harus belajar menjadi orang yang subyektif. Tidak ada orang subyektif yang dapat memahami Alkitab. Orang yang subyektif tidak layak untuk jadi pelajar. Jika kita berbicara dengan orang yang obyektif, maka ia akan mengerti setelah kita berbicara sekali. Tetapi jika dengan orang yang subyektif maka ia akan dapat mengerti setelah kita berbicara tiga kali. Kebanyakan orang tidak mengerti apa yang orang lain bicarakan, bukan karena mereka tidak pandai tetapi karena mereka terlalu subyektif. Mereka terbatas hidup pada alam pikirannya sendiri, tidak dapat menerima perkataan orang lain. Mereka penuh dengan pikiran, opini dan usulannya sendiri. Perkataan orang lain tidak dapat menemukan pijakan dalam diri mereka. Pikiran mereka terpusat pada air, sedangkan pikiran orang lain berbicara tentang pegunungan. Mereka menerjemahkan apa yang mereka dengar dan mengambil pegunungan ketika yang dimaksud adalah pegunungan dengan air. Orang yang subyektif tidak dapat memahami perkataan orang lain dengan tepat, terlebih lagi mendengar perkataan Tuhan. Dia tidak dapat memahami hal-hal yang duniawi apalagi hal-hal yang rohani.

Satu hal yang menarik tentang mereka yang mempelajari Alkitab adalah mereka adalah orang yang cepat mendengar. Sekali orang bicara, mereka memahami dengan tepat apa yang dikatakan. Orang yang obyektif dapat mendengar orang lain dan dia juga dapat memahami Alkitab. Kebalikannya, beberapa orang tidak menangkap ide yang dibicarakan orang lain walaupun telah mendengar dua tiga kali. Mereka memiliki banyak hal dalam kepala mereka. Mereka penuh dengan pemikiran, opini dan usulan. Orang dapat mengulang hal yang sama dua tiga kali namun tetap saja mereka tidak dapat memahaminya. Untuk mengetahui apakah kita subyektif atau tidak, maka kita perlu bertanya pada diri kita sendiri apakah kita mengerti apa yang orang lain katakan. Dapatkah kita mengerti apa yang dikatakan dengan jelas? Hari-hari kita di atas muka bumi amatlah terbatas. Jika kita terlalu subyektif, maka waktu yang diberikan kepada kita akan sangat tereduksi. Seorang yang obyektif dapat menggali lebih dari pembacaan Alkitabnya dalam sekali baca dibandingkan orang yang subyektif setelah membaca sepuluh kali. Seseorang yang subyektif akan segera lupa apa yang telah dibacanya setelah membaca satu kali, dua kali, bahkan sembilan atau sepuluh kali. Alkitab akan digelincirkan dengan gaya orang seperti itu dan tidak berkesan apa-apa di dirinya.

Mari kembali mengenang cerita tentang Samuel. Ketika Tuhan memanggilnya, dia pergi lagi ke Imam Eli dan lagi karena dia berpikir bahwa Eli sedang memanggilnya (I Sam.3:4-10). Tuhan sedang memanggil dia, namun dia berpikir Elilah yang memanggilnya. Dia telah mendengar suara Eli beberapa kali tapi kali ini, suara tersebut seperti bukan suara Eli. Dapatkah dia mengenali perbedaannya? Subyektivitas Samuel membuat dia berpikir bahwa Eli memanggil dia. Inilah alasan dia tidak dapat membedakan mana suara Eli dengan suara Allah.

Masalah dengan kebanyakan orang adalah mereka tidak membiarka Tuhan mendobrak kesubyektivitasan mereka. Tidak peduli berapa banyak mereka mempelajari Alkitab, mereka tidak mendapat kesan dari pembacaan tersebut. Tampak seakan-akan mereka tidak pernah mendengar perkataan Tuhan. Ketika kita datang pada Tuhan untuk membaca perkataanNya, pikiran kita harus terbuka padaNya. Opini kita, perasaan, hati dan segalanya harus dengan baik terbuka. Dengan kata lain, kita tidak dapat subyektif. Kita harus menyadari pentingnya hal ini. Jika seseorang tidak ditanggulangi dalam hal ini maka dia tidak dapat membaca Alkitab dengan baik. Orang yang obyektif penuh dengan penungguan; dia menunggu Allah untuk berbicara. Manusia batiniahnya menunggu dengan tenang perkataan Tuhan. Jika seseorang berada dalam tingkatan ini maka dia dapat dengan mudah memahami apa yang Tuhan katakan ketika dia terbuka terhadap perkataan Tuhan. Tidaklah perlu menanyakan apakah seseorang itu rohaniah atau tidak. Yang perlu dipertanyakan adalah apa yang dia terima ketika dia membaca beberapa pasal dari Alkitab. Beberapa yang membaca tidak dapat mengatakan apa yang telah mereka baca. Mereka adalah orang-orang seperti dalam Ibrani 5:11 “lamban dalam hal mendengarkan.” Beberapa orang penuh dengan banyak hal dan perkataan orang lain tidak mendapat tempat dalam diri mereka. Subyektivitas adalah perkara yang serius. Orang yang subyektif tidak dapat mendengar perkataan Tuhan dan tidak dapat menyentuh hal rohaniah.

B. Tidak lalai

Kedua, tidak lalai dalam pembacaan Alkitab. Alkitab adalah buku yang sangat tepat. Tidak ada satupun kata dalam Alkitab yang dapat disalahartikan atau digantikan. Jika seseorang itu lalai maka dia dapat kehilangan perkataan Tuhan. Orang yang subyektif akan kehilangan perkataan Tuhan dan orang yang lalai pun akan kehilangan perkataan Tuhan. Kita perlu hati-hati. Semakin kita mengetahui perkataan Tuhan, semakin kita hati-hati. Orang yang ceroboh memiliki pembacaan Alkitab yang ceroboh. Segera setelah kita mendengar saudara yang berbicara tentang Alkitab, kita bisa tahu apakah orang tersebut ceroboh atau tidak. Dalam pembacaan maupun dalam menghafal ayat, banyak orang yang dapat ceroboh dengan kata-kata yang penting. Ini adalah kebiasaan yang buruk. Sangatlah mudah bagi kita untuk menjadi orang yang lalai dalam memahami Alkitab. Dalam beberapa kasus, kelalaian kita dapat menyebabkan pemahaman yang tidak tepat dalam perkataan Tuhan. Mari kita simak beberapa contohnya.

Alkitab memberikan perhatian pada perbedaan bentuk tunggal dan jamak. Kita perlu membedakan bentuk kata yang tunggal dengan yang jamak; kita tidak boleh lalai akan hal-hal seperti itu. Dosa dan dosa-dosa adalah sesuatu yang berbeda dalam bahasa aslinya. Dosa dalam bentuk yang tunggal mengacu pada sifat dosa manusia sedangkan dosa-dosa dalam bentuk yang jamak mengacu pada tindakan atau perbuatan dosa kita. Ketika Alkitab berbicara tentang pengampunan Allah terhadap dosa-dosa manusia, yang digunakan adalah bentuk yang jamak. Tuhan tidak pernah memaafkan dosa manusia-sifat manusia. Sifat dosa tidak dapat diampuni. Kita memerlukan pemindahan dari sifat dosa kita (bentuk tunggal dari dosa) tetapi tindakan berdosa kita perlu dimaafkan (bentuk jamak dosa). Alkitab memberikan perbedaan yang mendasar di antara keduanya.

Ada juga perbedaan antara dosa dengan hukum dosa. Jika seseorang tidak dipindahkan dari hokum dosa, dia tidak dapat dipindahkan dari dosa. Roma 6 berkaitan dengan pemindahan dari dosa sedangkan Roma 7 tentang hukum dosa. Jika kita lalai sedikit saja maka kita akan berpikir bahwa kedua hal tersebut adalah kurang lebih sama. Ketika membaca Roma 6, kita mungkin berpikir bahwa masalah dosa sepenuhnya terletak pada akhir dari pasal ini, karena pada akhirnya Paulus mengantisipasi awal dari pasal 12, dimana menyerahkan pada satu tubuh dan anggota-anggotanya dibicarakan. Bagaimanapun juga Paulus mengetahui dengan jelas agar supaya dipindahkan dari dosa, kita perlu mengetahui hukum dosa, dan untuk mengatasi hukum dosa, ada keperluan dari hukum Roh hayat dalam pasal 8. Jika kita lalai, kita mungkin tidak berpikir ada banyak perbedaan antara dosa dengan hokum dosa dan mungkin karenanya kita mencari perkataan Tuhan. Perkataan Tuhan adalah murni; setiap kata memiliki penekanan tersendiri. Jika pembicaraan kita tidak hati-hati, maka kita akan berpikir bahwa perkataan Tuhan juga tidak tepat, dan hal ini akan membingungkan kita dari pemahaman tentang perkataanNya.

Dalam Roma 7, dengan adanya hukum taurat, maka ada juga hukum maut. Jika kita tidak hati-hati maka mungkin kita berpikir bahwa hukum dosa dengan hukum maut kurang lebih sama. Tetapi keduanya adalah dua hal yang berbeda. Dosa berkaitan dengan ketidakmurnian seseorang sementara maut mengacu pada ketidakmampuan seseoang. Menginginkan berbuat baik namun tidak mampu melakukannya karena hukum dosa sedangkan keinginan untuk menghindari dosa tetapi tidak mampu menghindar dari operasi hukum maut. Dosa memimpin seseorang melakukan dosa yang dia tidak inginkan untuk diperbuat, sedangkan maut mengarahkan dia ke untuk melakukan apa yang dia inginkan. Kita dipindahkan dari hukum dosa melalui kematian Kristus dan kita dipindahkan dari hukum maut melalui kebangkitan Kristus. Roma 7 menunjukkan bukan hanya hukum dosa tetapi juga hukum maut. Jika kita tidak hati-hati, kita akan kehilangan kebenaran. Oleh karenanya sangatlah penting bagi mereka untuk hati-hati dan tepat dalam mempelajari Alkitab dengan baik.

Saya telah mendengar beberapa mengatakan tentang jubah kebenaran Tuhan Yesus, yaitu Allah yang telah memberikan keadilbenaran dari Kristus sebagai jubah kebenaran kita sehingga kita dapat menghampiriNya. Tetapi Alkitab tidak mengajarkan perihal seperti itu. Tidak ada dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus telah diberikan kepada kita sebagai kebenaran kita. Alkitab menyatakan bahwa Allah memberikan Tuhan Yesus sebagai kebenaran kita. Dia tidak merobek setengah dari kebenaran dari Kristus dan memberikannya sebagai kebenaran kita. Dia telah memberikan Tuhan Yesus, persona itu sebagai kebenaran kita. Ada perbedaan yang besar di sini! Orang yang lalai akan berpikir bahwa kebenaran dari Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus sebagai kebenaran kurang lebih sama. Sedikit yang menyadari bahwa kebenaran dari Tuhan Yesus mengacu kepada diriNya sendiri; hal tersebut tidak dapat dipindahkan ke kita. Setiap orang perlu benar di hadapan Allah dan Tuhan Yesus pun juga harus benar di hadapan Allah. Tetapi kebenaranNya adalah untuk diriNya sendiri. KebenaranNya adalah kebenaran yang diperhidupkanNya selagi Dia di atas bumi. Jika kita dapat benar dengan mengandaikan kebenaranNya, mengapa Tuhan harus mati? Kebenaran dari Tuhan Yesus tidak dapat dipindahkan. KebenaranNya adalah milikNya seorang, tidak ada orang yang dapat berbagian dengan hal ini. Kebenaran kita adalah persona dari Tuhan Yesus; kebenaran kita bukanlah kebenaranNya. Dalam seluruh Perjanjian Baru kita hanya dapat menemukan Tuhan Yesus sebagai kebenaran kita (kecuali dalam 2 Petrus 1:1, yang berarti sesuatu yang berbeda), tidak pernah kebenaran Tuhan Yesus sebagai kebenaran kita. KebenaranNya melayakkan kita Dia menjadi penyelamat kita. Karena Dia benar, Dia tidak perlu penebusan bagi DiriNya sendiri. Tuhan Yesus sepenuhnya dibenarkan oleh Allah.

Beberapa mengatakan bahwa darah Tuhan Yesus memberikan kita hayat. Hal tersebut berarti bahwa hayat baru kita bergantung pada darah Tuhan Yesus. Mereka mengatakan bahwa ketika kita minum darah Tuhan, kita dapatkan hayatNya. Mereka mencuplik dari Imamat 17:14 yang menyatakan bahwa hayat itu ada di dalam darah. Jika kita membaca dengan cara yang tidak biasa, kita mungkin setuju dengan pernyataan tersebut. Tetapi darah tidak memberikan kita hayat baru. Darah adalah untuk penebusan; hal tersebut untuk memuaskan tuntutan Allah. Keluaran 12:13 memberikan satu prinsip tentang darah:” Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu.” Darah adalah untuk Tuhan. Darah untuk memuaskan permintaan Tuhan, bukan permintaan kita. Hanya ada satu kasus dalam Alkitab yang menyatakan bahwa darah dibicarakan sebagai bagian dari kita. Dikatakan bahwa darah diaplikasikan pada hati nurani kita (Ibr.9:14). Bagaimana pun juga hati nurani untuk Allah.

Jadi sekarang apa yang dimaksud dalam Imamat 17 tentang hayat? Kata hayat mengacu pada jiwa dalam bahasa aslinya. Mengacu pada hayat jiwa. Tuhan Yesus memberikan hayat jiwaNya kepada maut. Tuhan Yesus memberikan darahNya sampai kepada maut untuk merampungkan penebusan. Dia berseru ketika berada di atas salib, “Bapa ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu (Lukas 23:46). Setelah mengatakan hal tersebut, Dia menyerahkan nyawaNya. tubuhNya tergantung di kayu salib, dan jiwaNya melalui darah, dicucurkan untuk perampungan penebusan. (Ciri dari seorang manusia adalah jiwaNya. Jiwa yang berdosa harus mati; yaitu kedudukan dari personalitas seseorangnya harus mati). Pada saat yang sama, Dia menyerahkan nyawaNya kepada Allah.

Yohanes 6 mengatakan bahwa mereka yang memakan tubuh Tuhan serta meminum darahNya akan berbagian dengan hayatNya. Juga dikatakan bahwa mereka yang memakan dagingNya akan berbagian dengan hayatNya. Tetapi tidak ada yang menekankan bahwa dengan meminum darahNya akan berbagian dengan hayatNya. Jika seseorang meminum darahNya, dia juga harus makan dagingNya sebelum dia memiliki hayat. Kita harus belajar menjadi orang yang hati-hati. Jika kita mencampur apa yang Allah pisahkan maka kita akan berakhir dengan pemahaman yang salah dari apa yang Dia katakan. Kita tidak dapat membaca Alkitab sembarangan. Kita perlu belajar dengan hati-hati, menemukan ratusan ayat dimana darah dibicarakan dan mempelajariNya satu persatu sebelum mendapat terang. Darah bertujuan untuk memuaskan tuntutan Allah; bukan memuaskan tuntutan kita.

Misalnya John Wesley datang kepada kita dan berkata,”Darah Tuhan Yesus akan membersihkan hati kita dan menghapus akar dari dosa dan kita tidak akan berdosa lagi.” Apa yang akan kita katakan? Kita harus mengatakan,”Darah Tuhan Yesus tidak pernah membersihkan hati kita. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa darah Tuhan Yesus akan membersihkan hati kita. Tuhan telah memberikan kita hati yang baru. Hati manusia lebih jahat dari hal apapun dan tidak akan dapat dibersihkan.” Darah adalah untuk penebusan, bukan untuk penyucian. Hal tersebut untuk pengampunan bukan untuk pengudusan. (Ada perbedaan yang besar antara pengudusan di hadapan Allah dengan pengudusan di depan manusia). Beberapa mungkin bertanya,”Apakah Ibrani 10 tidak memberi tahu kita bahwa darah Tuhan Yesus membersihkan hati kita?” (Catatan penterjemah:Hal tersebut mengacu pada versi Union China.). Tidak! Kitab Ibrani berbicara tentang pembersihan hati nurani (10:22). Hati nurani hanyalah suatu bagian dari hati. Bagian satu-satunya di dalam manusia yang menyadari dosa adalah hati nurani. Darah memuaskan permintaan Allah dan juga memuaskan teriakan hati nurani kita. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus telah menebus kita dari dosa, secara spontan hati nurani kita tidak akan lagi menyadari dosa. Fungsi darah di dalam hati nurani kita bukan untuk membebaskan kita dari dosa tetapi untuk menghilangkan kesadaran kita akan dosa. Bebas dari dosa adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus. Pekerjaan darah berbeda dengan pekerjaan Roh Kudus; kita tidak seharusnya dibingungkan oleh keduanya.

Dihadapan Tuhan kita harus membangun kebiasaan untuk menjadi akurat. Jika kita tidak akurat, kita akan mengorbankan keakuratan Tuhan. Jika kita memiliki kebiasaan tidak akurat, kita tidak akan mendapatkan apa-apa ketika membaca Alkitab. Kita harus menyadari betapa akuratnya Alkitab. Alkitab sangat akurat hingga tidak ada ruang untuk kebingungan apapun. Kita harus dilatih oleh Tuhan untuk menjadi akurat.

C. Tidak Menjadi Penasaran

Ketiga, ketika mencoba menjadi akurat, kita tidak boleh menjadi penasaran. Firman Tuhan adalah akurat, tetapi kita tidak seharusnya menyelidiki dengan pikiran yang penasaran. Jika kita menyelidiki firman Tuhan dengan pikiran yang penasaran, kita akan kehilangan nilai rohani dari kitab tersebut. Alkitab adalah buku rohani, dan kita harus melatih roh kita sebelum kita memahami buku ini. Jika tujuan dari mendapatkan ketepatan adalah untuk memuaskan keingintahuan kita, bukan untuk kepuasan kebutuhan rohani kita, kita berada di jalur yang salah. Sangat disayangkan banyak orang membaca Alkitab dengan tujuan menggali keluar hal-hal yang aneh. Beberapa orang telah menghabiskan banyak waktu untuk mencoba menemukan apakah pohon pengetahuan baik dan jahat adalah pohon anggur atau bukan. Pembelajaran Alkitab jenis ini adalah sia-sia. Kita harus ingat bahwa Alkitab adalah buku rohani. Kita harus menjamah hayat, menjamah roh, dan menjamah Tuhan. Ketika kita menjamah perkara rohani, kita akan secara spontan mengenali keakuratan dari Firman karena semua perkara rohani akurat pada dasarnya. Tetapi jika dasar kita bukan untuk mengejar perkara rohani, kita akan berada di jalur yang salah.

Beberapa orang ingin mengambil jalan penasaran. Pembelajaran mereka tentang bernubuat didorong oleh rasa penasaran. Mereka belajar bernubuat bukan untuk menantikan kedatangan Tuhan, tetapi karena mereka ingin tahu tentang masa depan. Ada perbedaan besar antara menjadi rohani dan tidak menjadi rohani. Jika kita adalah orang yang penasaran, semua perkara rohani dan berharga akan menjadi tidak rohani dan mati ketika jatuh ke tangan kita. Ini adalah perkara serius. Di hadapan Tuhan, kita harus membedakan perkara yang penting dan yang tidak penting. Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum taurat” (Mat. 5:18). Tetapi Ia juga berkata bahwa ada “yang terpenting dalam hukum taurat” (23:23). Hukum taurat sangat akurat hingga satu iota atau titik pun tidak akan ditiadakan. Namun ada juga yang lebih penting di dalam hukum taurat. Orang yang penasaran akan mengambil perkara yang lebih ringan dan mempelajarinya. Jika mereka terus mengambil perkara yang ringan, mereka akan berakhir menjadi orang yang ringan. Seperti Tuhan Yesus berkata, mereka mengusir nyamuk dan menelan unta (ay. 24). Mereka mengusir hal yang terkecil dan menelan hal yang terbesar. Pembacaan macam ini juga salah. Kesalahan ini berasal dari sifat seseorang untuk ingin tahu. Jika kita tidak merubah sifat kita, kita tidak dapat berharap untuk membaca Alkitab dengan baik.

Sifat yang disebutkan di atas – subyektif, ceroboh, dan penasaran – adalah kegagalan yang umum di antara manusia. Kita harus berusaha mengalahkan kegagalan ini di hadapan Tuhan. Kita harus menjadi obyektif, akurat, dan tidak penasaran. Karakter yang obyektif, akurat, dan tidak penasaran tidaka akan mendatangi kita dalam satu atau dua hari; kita harus mendisiplinkan diri untuk mendapatkan kebiasaan semacam itu. Ketika kita mengambil Alkitab, kita harus membacanya dengan obyektif, akurat, dan tidak penasaran. Ketika kita memiliki karakter dan kebiasaan yang tepat, kita akan mengetahui bagaimana membaca Alkitab dengan tepat.