← Daftar isi Keluaran (8) · bab 8/19

PAKAIAN IMAM (6)

Pembacaan Alkitab: Kel. 28:6-14; 39:2-9

Saya sangat memustikakan firman yang telah Tuhan sampaikan melalui Kitab Keluaran. Kitab ini adalah sebuah kitab yang penuh dengan pengalaman yang kaya atas Kristus. Beberapa butir tentang Kristus telah terlukis dalam kitab ini melampaui apa yang mampu kita tuturkan. Baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa China, saya tidak memiliki petah lidah yang memadai untuk mengekspresikan apa yang telah saya lihat tentang Kristus dalam kitab ini.

Dalam Perjanjian Baru kita mempunyai perkataan yang jelas tentang Kristus, pengalaman kita atas Kristus, dan gereja. Bahkan ada perkataan yang jelas tentang kemustikaan Kristus dan tentang kemustikaan kita dalam pandangan Allah. Namun, kita tak memiliki rincian yang lengkap mengenai perkara-perkara tersebut dalam Perjanjian Baru. Kebanyakan rincian itu terdapat pada lambang-lambang dalam Perjanjian Lama. Dengan anugerah Tuhan, dalam berita ini saya akan sekuatnya menunjukkan beberapa rincian yang ajaib dari kemustikaan Kristus dan kemustikaan kaum beriman dalam pandangan Allah. Rincian ini tidak mungkin kita temukan dalam Perjanjian Baru, tetapi semua itu terdapat dalam lukisan dalam Keluaran 28.

BAHAN-BAHAN EFOD DAN WARNA-WARNANYA

Bagian utama dari pakaian imam ialah jubah, sebuah jubah panjang yang nyaris mencapai lantai. Di atas jubah ini imam besar mengenakan sebuah kemeja, dan di atas kemeja ada efod. Keluaran 28:6 menunjukkan, “Baju efod itu harus dibuat mereka dari emas, kain biru dan kain ungu, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: buatan seorang ahli” (Tl.). Melalui membaca ayat ini kita mengetahui dengan bahan-bahan apa efod itu dibuat dan apa warna-warnanya. Bahan yang dipakai untuk membuat efod adalah emas dan kain lenan. Emas adalah mineral dan lenan adalah suatu bahan yang berasal dari hayat tumbuh-tumbuhan. Biru, ungu, dan kirmizi (merah tua) menunjukkan warna, bukan bahan. Akan tetapi, kita boleh mengatakan bahwa emas dan lenan juga berwarna. Emas tentu berwarna kuning emas, dan lenan itu putih polos. Karena itu, efod adalah seperangkat pakaian yang terbuat dari dua jenis bahan dan yang memiliki lima warna.

Saya tidak percaya dalam sejarah umat manusia selama ribuan tahun ini ada barang tenunan lain yang terbuat dari benang emas dan lenan. Pernahkah kalian mendengar adanya sebuah pakaian yang terbuat dari tekstil emas dan lenan? Sejauh yang menyangkut bahan, maka efod benar-benar merupakan sebuah jubah yang tidak lazim. Hari ini ada beberapa pakaian yang terbuat dari bahan dakron dan katun, dan ada juga yang terbuat dari wol dan polyester. Tetapi adakah pakaian yang terbuat dari lenan dan emas? Kalau hari ini ada orang mengenakan jaket yang terbuat dari emas dan lenan dengan warna-warna biru, ungu, dan kirmizi, pasti kita akan mengira itu sangat aneh. Saya yakin tak seorang pun di antara kita yang pernah melihat sehelai pakaian seperti ini. Namun, justru inilah sebuah lukisan efod yang dikenakan imam besar.

Efod terbuat dari benang lenan dan benang emas dan dengan lima warna: kuning emas, putih polos, biru, ungu, dan kirmizi. Tidak ada warna hitam atau kelabu pada efod. Karena ia dibuat dengan corak demikian, maka efod memiliki penampilan yang luar biasa. Andaikata Anda melihatnya, apakah warnanya yang dapat Anda katakan? Emas? Biru? Ungu atau kirmizi? Karena ia merupakan kombinasi dari berbagai jenis warna, maka sulitlah untuk melukiskannya dengan satu istilah. Siapa saja yang melihat efod dengan saksama akan menemukan kelima warna yang berbeda itu. Namun, ia pasti tidak dapat melukiskan keseluruhan warna pakaian ini dengan satu istilah.

PERBAURAN KEILAHIAN DAN KEINSANIAN

Dari Perjanjian Baru kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus merupakan satu Persona yang bersifat ganda: sifat ilahi dan sifat insani. Keilahian Kristus dilambangkan oleh emas, dan keinsanian-Nya dilambangkan oleh lenan. Emas dan lenan pada efod tidak dirangkai atau diikat bersama. Sebaliknya, keduanya itu ditenun atau dipintal menjadi satu, ini melambangkan perbauran sifat ilahi dan sifat insani di dalam Kristus.

Karena kita menggunakan istilah perbauran sehubungan dengan sifat ilahi dan sifat insani Kristus, maka kita sempat dikecam orang sebagai bidah. Ada beberapa yang masih menuduh dengan khilaf bahwa kita mengajarkan perbauran sifat ilahi dengan sifat insani Kristus menghasilkan sifat ketiga, yakni yang bukan sepenuhnya ilahi pun bukan sepenuhnya insani. Saya tidak pernah mengatakan perbauran sifat ilahi dengan sifat insani dalam Kristus menghasilkan sifat ketiga. Serat-serat emas dan benang-benang lenan yang dipakai untuk membuat efod bukan ditenun bersama sehingga menghasilkan suatu benda yang ketiga, yang bukan emas atau lenan. Tidak, ketika kedua bahan itu dipakai untuk membuat efod, baik emas maupun lenan masing-masing tidak kehilangan sifat-sifat khas mereka. Emas tetap emas, benda mineral, dan lenan tetap lenan, benda yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Sifat-sifat dari kedua bahan tersebut tetap bertahan sekalipun mereka tertenun bersama, berbaur menjadi satu. Demikian pula keilahian dan keinsanian Kristus. Sifat ilahi dan sifat insani Kristus berbaur, tetapi tidak menghasilkan sifat ketiga. Selain itu, dalam Kristus, baik sifat ilahi maupun sifat insani tidaklah kehilangan sifatnya masing-masing.

Yohanes 1:1 menerangkan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Menurut Yohanes 1:14 “Firman itu telah menjadi daging” (Tl.). Kita dapat berkata bahwa Firman itu, yaitu Allah, adalah emas, dan daging dalam Yohanes 1:14 adalah lenan. Jadi, tatkala Allah berinkarnasi, emas dan lenan, keilahian dan keinsanian, tertenun menjadi satu, yakni berbaur.

KELOMPOK AJARAN KRISTOLOGI

Sejak masa Paulus dan Yohanes pada abad pertama, sudah ada banyak ajaran yang berbeda-beda tentang Persona Kristus. Dalam teologi ada sebuah istilah khusus yang menunjukkan pengkajian atas Persona Kristus, yakni “kristologi”. Sebagaimana teologi adalah pengkajian atas Allah, maka kristologi adalah pengkajian atas Kristus. Selama berabad-abad ini terdapat banyak perdebatan tentang Persona Kristus. Sebagian besar guru-guru mengakui bahwa Kristus memiliki sifat ganda; sifat ilahi dan sifat insani. Namun demikian ada banyak ajaran-ajaran yang keliru mengenai kedua sifat Kristus tersebut. Banyak perdebatan yang timbul karena hal ini.

Buku kita yang berjudul “Mengenai Persona Kristus”, menyajikan tujuh jenis kelompok ajaran yang berbeda mengenai Persona Kristus. Dari ketujuh kelompok ajaran itu, enam adalah bidah, dan hanya satu yang alkitabiah. Saya menganjuri kalian membaca buku itu. Keenam kelompok ajaran bidah itu adalah: ajaran salah dari Docet, menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki sifat ilahi, tanpa sifat insani; ajaran bidah Ebion mengajarkan bahwa Kristus hanya mempunyai sifat insani, tanpa sifat ilahi; kesalahan ajaran Aria mengatakan bahwa sifat ilahi Kristus tidak lengkap dan Ia cuma merupakan makhluk tertinggi di antara semua ciptaan; ajaran Apollinan, yang tak masuk akal, mengatakan bahwa sifat insani Kristus tidak sempurna; ajaran Nestoria yang keliru mengatakan bahwa keilahian Kristus terpisah dengan keinsanian-Nya; dan ajaran sesat dari Eutychia menyangkal perbedaan dan koeksistensinya sifat ilahi dengan sifat insani Kristus, dan berpendapat bahwa kedua sifat tersebut bergabung menjadi satu. Namun, ajaran yang tepat dan rohani ialah: Kristus sekaligus memiliki sifat ilahi dan insani, keilahian maupun keinsanian-Nya itu lengkap, serta bersatu di dalam satu Persona. Kita menolak keenam kelompok ajaran yang bidah itu dan mengikuti ajaran yang alkitabiah.

MANUSIA-ALLAH

Dalam Perjanjian Baru kita dapat melihat dengan mudah bahwa Tuhan Yesus kita adalah Allah juga manusia. Karena Ia adalah Allah dan manusia, maka Ia adalah manusia-Allah. Namun kita justru dituduh orang secara khilaf sebagai bidah karena kita mengajarkan Kristus adalah Manusia-Allah. Akan tetapi banyak guru Alkitab yang sehat, fundamental, dan alkitabiah mengakui bahwa Kristus adalah Manusia-Allah. Ada beberapa orang bahkan mengarang buku tentang hal ini. Sebagai contoh, dalam buku yang berjudul “Life on the Highest Plane” terbitan Moody Press, Ruth Paxson berkata, “Juru Syafaat yang sedemikian harus sebagai oknum yang diterima dan dipercayai kedua belah pihak, yakni satu oknum yang mengambil bagian dalam sifat Allah dan sifat manusia . . . Seorang perantara sejati harus sebagai seorang Manusia-Allah. Kristus Yesus, Sang perantara, adalah Manusia-Allah. Ia bukan seorang manusia yang menjadi Allah, melainkan Allah yang menjadi manusia.” (Hal. 101kuning). Pada halaman 112, ia berkata selanjutnya, “Di dalam manusia-Allah ini, Allah membuat satu kesatuan baru dengan umat manusia.” Selain itu, pada sebuah keterangan tentang Yohanes 1:14 dalam buku “The Ryrie Study Bible” yang juga diterbitkan oleh Moody Press, dikatakan bahwa “Yesus Kristus memang unik sekali, sebab Ia adalah Allah dari semesta kekekalan, tetapi Ia menyatukan diri-Nya dengan manusia yang berdosa dalam inkarnasi. Manusia-Allah ini memiliki semua sifat ke-Allahan (Flp. 2:6) dan sifat-sifat yang umum ada pada manusia (kecuali dosa), dan Ia akan ada selama-lamanya sebagai manusia-Allah di dalam tubuh-Nya yang telah dibangkitkan (Kis. 1:11; Why. 5:6). Hanya manusia-Allahlah yang dapat menjadi Penyelamat yang tepat . . .” Melalui membaca Perjanjian Baru, kita mengetahui bahwa Tuhan kita adalah Allah juga manusia. Karena itu, menyebut-Nya manusia-Allah adalah mutlak benar.

KEILAHIAN DAN KEINSANIAN DIANYAM BERSAMA

Walaupun Perjanjian Baru mewahyukan Kristus sebagai manusia-Allah, namun kita tidak dapat menemukan sebuah ayat yang mengatakan kepada kita bahwa kedua sifat Kristus itu teranyam menjadi satu. Teranyamnya ke ilahian dan keinsanian Kristus terlukis dalam pelambangan efod. Emas dan lenan, kedua jenis bahan ini bukan ditumpuk bersama, atau dirangkai bersama, atau hanya diikat bersama, melainkan ditenun atau dianyam bersama. Namun demikian, banyak orang Kristen berkonsepsi bahwa sifat ilahi Kristus hanya ditambah di atas sifat insani-Nya, seolah sebatang emas dibungkus dalam lenan. Walau mereka tidak menyatakan demikian, tetapi banyak yang secara tidak sadar memiliki pengertian seperti itu.

Apakah pengertian kalian dahulu tentang kedua sifat Kristus? Bagaimana konsepsi kalian tentang bersatunya keilahian dan keinsanian Kristus? Apakah kalian mengira sifat ilahi dan sifat insani Kristus terangkai menjadi satu dengan suatu cara? Memang pasti kalian percaya dengan tegas bahwa Kristus adalah Allah dan manusia, tetapi pernahkah kalian memikirkan bagaimana kedua sifat Kristus itu menjadi satu? Apakah kedua sifat itu berdampingan di dalam Dia, atau sifat ilahi Kristus terletak di atas sifat insani-Nya? Atau sifat insani-Nya menutupi sifat ilahi-Nya? Dalam Alkitab terdapat sebuah lukisan yang memperlihatkan kepada kita bagaimana kedua sifat Tuhan kita itu berbaur menjadi satu. Bukan dengan menambahkan atau merangkaikannya, melainkan dengan menenun atau menganyam sifat ilahi dan insani itu, sehingga kedua sifat itu menjadi satu.

Sifat ilahi Kristus telah melalui berbagai proses, seperti halnya emas yang dipakai untuk membuat efod, yang telah melalui proses. Pertama-tama emas itu harus dimurnikan, kemudian ditempa menjadi lempengan-lempengan tipis, digunting menjadi benang, dipintal, dan dianyam bersama dengan lenan. Lukisan ini menunjukkan bahwa Kristus menjadi seorang manusia bukan dengan tiba-tiba turun dari surga ke bumi. Tidak, sebagai Allah, Ia telah dikandung dalam rahim seorang gadis. Sembilan bulan lamanya Ia berkembang di dalam rahim gadis itu. Lalu Ia dilahirkan di sebuah palungan di Betlehem. Ketika raja Herodes mengetahui kelahiran-Nya, ia mencoba membunuh-Nya. Karena itu, di bawah pimpinan Tuhan, Yusuf membawa bayi itu ke Mesir. Setelah Herodes mati, Yusuf kembali lagi ke Israel bersama-Nya, tetapi ia tidak berani tinggal di Tanah Yudea. Karena itu, Ia pergi ke utara, ke satu daerah terhina, yang disebut Galilea. Sebagai akibatnya, Tuhan Yesus dibesarkan di desa Nazaret yang kecil dan miskin. Tuhan dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga miskin. Pada zaman kuno, seorang tukang kayu seperti Yusuf tidak memiliki banyak uang. Selama bertahun-tahun Ia hidup di bumi, Tuhan mengalami penderitaan kehidupan sebagai manusia. Proses-Nya serta semua penderitaan-Nya dilukiskan dengan emas menjadi benang yang dianyam bersama lenan.

Sebagai Allah, Tuhan kita mengalami proses menjadi satu dengan manusia. Tanpa proses ini, bagaimana Ia dapat menjadi satu dengan manusia. Jika Ia tidak mengalami proses ini, “kain” yang diperlukan untuk membuat efod tidak dapat dihasilkan. Dalam hal ini kita melihat suatu aspek dari kemustikaan Kristus yang tidak diwahyukan dengan jelas dalam Perjanjian Baru.

Dalam lukisan efod kita pun melihat keinsanian Kristus telah tergarap ke dalam keilahian-Nya. Ini pun meliputi suatu proses. Lenan harus melalui suatu proses sebelum menjadi benang pintalan yang dipakai untuk membuat efod. Keluaran 28:6 menyinggung tentang lenan halus pintalan. Ini adalah lenan yang dibuat dari benang-benang yang dipintal bersama. Tatkala tali-tali lenan dipintal, maka jadilah benang-benang untuk ditenun. Lenan harus melalui suatu proses baru dapat menjadi benang pintalan. Pada akhirnya, kedua jenis benang itu, emas dan lenan pintalan, ditenun bersama untuk membuat efod.

Walaupun kita tak berdaya menjelaskan dengan tepat bagaimana sifat ilahi dan sifat insani Kristus telah ditenun bersama, jika kita melihat lukisan kain yang luar biasa yang dipakai untuk membuat efod dan memahami bahwa itu adalah lambang Kristus, niscaya kita akan berkata, “Tuhan Yesus, aku bersujud kepada-Mu. Engkau telah terlukis oleh emas dan lenan dari efod itu. Sifat ilahi-Mu telah mengalami suatu proses, dan sifat insani-Mu pun telah melalui suatu proses yang berbeda. Kemudian, baik sifat ilahi maupun sifat insani-Mu tertenun bersama menjadi suatu kain. Tuhan Yesus, ini benar-benar melukiskan Persona-Mu. Alangkah ajaibnya Engkau!”

Karena diduduki oleh teologi sistematik, banyak orang Kristen yang enggan menerima wahyu tentang Kristus dalam firman ini. Selain itu, mereka menentang kita ketika kita mengajarkan bahwa di dalam Kristus sifat ilahi telah berbaur dengan sifat insani, tertenun bersama. Namun, tak peduli bagaimana atau berapa banyaknya tentangan itu, dan tak peduli bagaimana orang lain berkata tentang kita, saya tak dapat menyangkal apa yang Tuhan wahyukan kepada kita melalui firman Allah yang murni. Saya sekali-kali tidak akan mengubah pengenalan saya terhadap persona Kristus ini. Saya telah melihat lukisan itu dari lambang Perjanjian Lama tentang apa adanya persona Kristus itu. Saya tak dapat mengatakan saya tidak melihat lukisan tersebut. Puji Tuhan atas lukisan dalam Kitab Keluaran ini! Dalam lukisan ini kita melihat rincian yang mustika yang tak dapat kita temukan dalam firman jelas dalam Perjanjian Baru.

KESURGAWIAN, JABATAN RAJA, DAN PENEBUSAN KRISTUS

Setelah melihat bagaimana emas dan lenan tertenun bersama melalui suatu proses yang mengandung penderitaan, baiklah kita sekarang meneruskan melihat warna-warna dari efod itu. Warna biru, melambangkan kesurgawian Kristus. Sebaliknya, coklat adalah warna tanah atau debu. Pada Kristus tidak ada sesuatu yang berwarna coklat, pada-Nya setiap benda berwarna biru, yakni surgawi.

Warna ungu melambangkan jabatan raja Kristus. Segala yang Ia lakukan selalu rajani. Sekalipun sebagai anak kecil yang dibesarkan dalam keluarga tukang kayu, perilaku-Nya selalu menurut pola rajani. Jika Anda membaca bagaimana cara Ia berbicara kepada orang tua-Nya ketika Ia berusia dua belas tahun, Anda akan mengetahui betapa Ia berbicara kepada mereka dengan pola rajani. Walaupun sebagai bocah berusia dua belas tahun, Ia dapat bertindak dan bertutur secara rajani (Luk. 2:46-52). Kalau Anda sekali lagi membaca keempat kitab Injil, Anda akan melihat bahwa dalam setiap perkataan yang Ia ucapkan, terlihat bahwa Tuhan adalah raja. Ia tidak merebut jabatan raja-Nya, melainkan menyatakannya dengan spontan.

Di dalam hayat alamiah kita sesungguhnya tidak ada yang surgawi dan rajani. Kita tidak mengekspresikan warna biru, malahan mengekspresikan warna coklat, yakni warna debu. Selain itu, kita tidak menyatakan pola hidup seperti raja, mungkin kita bertindak dengan pola yang sangat rendah. Ketika kita marah-marah, mungkin kita adalah “kalajengking”. Sekalipun kita sedang gembira, kita tetap tidak memiliki pola rajani. Namun, ketika Tuhan murka terhadap orang-orang dalam bait dan membuat sebuah cambuk dari tali untuk mengusir mereka, Ia murka dengan pola rajani (Yoh. 2:15-16). Tambahan pula, ketika Ia menangis di kuburan Lazarus, Ia pun bersikap demikian dengan pola rajani (Yoh. 11:35). Dalam menangis pun sifat rajani-Nya ternyata.

Kirmizi melambangkan penebusan. Selama Tuhan hidup di bumi, Ia bertindak dengan pola penebusan. Sebagai contoh, ketika Ia berkata kepada orang banyak, “Kamu harus memberi mereka makan” (Mat. 14:16), Ia menyatakan warna kirmizi, yaitu warna penebusan. Tuhan tidak ingin melihat orang banyak itu pulang dengan kelaparan. Hal ini mengandung arti penebusan. Demikian pula, ketika Tuhan Yesus menyembuhkan perempuan yang dirasuk roh jahat selama delapan belas tahun dan selalu dikekang oleh setan, Ia pun bertindak dengan pola penebusan. Kepada orang-orang yang mengkritik Dia, Ia berkata bahwa Ia tidak ingin melihat perempuan tersebut dikekang lagi oleh setan.

Seiring dengan warna-warna biru, ungu, dan kirmizi, kita melihat pula kuning emas dan putih polos. Kuning emas melambangkan ekspresi Allah. Tatkala Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ekor ikan, Allah telah dinyatakan. Warna kuning emas itu terpancar dari diri-Nya. Demikian pula, pada waktu Ia lapar dan menyucikan bait, Ia sekaligus menyatakan kerajanian-Nya dan kuning emas keilahian-Nya. Selain itu, pada kesempatan itu pun lenan polos yang melambangkan ekspresi keinsanian Kristus dapat pula tertampak.

Baik Allah maupun manusia, sifat ilahi atau sifat insani, semuanya telah dinyatakan dalam kehidupan Tuhan Yesus di bumi. Dalam kehidupan Manusia ini kita dapat melihat kesurgawian, jabatan raja, dan penebusan. Kita dapat melihat kecemerlangan sifat ilahi dan kepolosan sifat insani. Semua warna itu dapat kita temukan dalam kehidupan Tuhan Yesus.

MEMUSTIKAKAN LUKISAN KRISTUS

Dapatkah kalian menunjukkan satu pasal dari Perjanjian Baru yang melukiskan Tuhan Yesus seperti yang dilukiskan efod? Dalam Perjanjian Baru tidak terdapat satu pasal pun yang demikian, sebab lukisan yang sedemikian tidak mungkin dituturkan dengan perkataan; ia hanya dapat disajikan dengan sebuah lukisan. Dapatkah Anda melukiskan dengan tepat melalui perkataan tentang wajah seseorang? Sudah tentu tidak mungkin. Walau Anda memakai ribuan kata untuk melukiskan hidung atau telinga seseorang, lukisan Anda tetap tidak mungkin lengkap. Namun, sebuah gambar lebih baik daripada seribu kata. Itulah alasan saya memustikan lukisan Kristus dalam Keluaran 28.

Sangat menyedihkan sekali, sebab selama berabad-abad, orang Kristen, termasuk mereka yang mengasihi dan menuntut Tuhan, tidak menaruh perhatian sepenuhnya pada lukisan Kristus dalam Keluaran 28 ini. Sebagai akibatnya, apresiasi mereka atas Tuhan tidak cukup tinggi. Saya dapat bersaksi bahwa melalui membahas lukisan ini, saya mengapresiasi Tuhan lebih banyak, dan karena apresiasi saya ini saya memberikan sembah sujud baru kepada-Nya. Saya berkata, “Tuhan, aku telah melihat Engkau di dalam lukisan ini, dan aku mengapresiasi Engkau. Namun aku tak dapat menuturkan apa yang aku lihat dan apresiasikan ini. Tuhan, dalam Keluaran 28 aku melihat Engkau. Terima kasih Tuhan karena lukisan dari diri-Mu sendiri ini. Engkau adalah efod yang ditenun bersama emas dan lenan. Sifat ilahi dan sifat insani-Mu bersama-sama berada dalam satu Persona-Mu. Namun kedua sifat-Mu itu tetap ada, tidak hilang. Tuhan, aku memuji-Mu karena persona-Mu yang ajaib ini!”

Kita bersyukur kepada Tuhan karena lukisan efod yang menakjubkan berikut warna-warnanya yang indah itu. Warna-warna tersebut, warna pelangi, adalah warna yang paling indah dalam alam semesta. Warna apakah yang lebih indah daripada kelima warna dari efod ini? Saya tidak percaya kalian dapat menemukan warna-warna yang lebih indah daripada warna ini, sebab warna-warna ini terdapat pada kain yang melambangkan ekspresi persona Kristus.

Saya tidak menafsirkan lukisan dalam Keluaran 28 ini menurut kepintaran alamiah saya. Tambahan pula, saya bukan seorang yang melukis lukisan ini. Sebaliknya, saya telah menerima rahmat dari Tuhan untuk memahaminya sampai beberapa tingkat. Di sini, dalam Keluaran 28, kita memiliki sebuah lukisan yang memperlihatkan kepada kita bahwa di alam semesta ini ada satu kain yang tertenun dari benang emas dan lenan dan terdiri atas lima warna: kuning emas, putih polos, biru, ungu, dan kirmizi. Inilah efod yang dikenakan oleh Tuhan Yesus hari ini. Ia tetap mengenakan pakaian yang terbuat dari emas dan lenan berikut kelima jenis warnanya yang indah, dan yang selalu mengekspresikan sifat ilahi, sifat insani, kesurgawian, jabatan raja, dan penebusan-Nya. Alangkah menakjubkan!