PAKAIAN IMAM (15)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 28:31-38; 39:22-26, 30-31; Yes. 6:1;
Mzm. 133:2; Why. 1:13; Ef. 1:23
Dalam perlambangan, pakaian menandakan ekspresi. Teristimewa pakaian imam, pakaian itu untuk kemuliaan dan keelokan. Keelokan maupun kemuliaan kedua-duanya untuk ekspresi. Dalam berita sebelumnya telah kita tunjukkan bahwa secara manusiawi, pakaian adalah sebagai penutup, untuk penghangat, dan untuk keelokan. Namun, dalam catatan tentang pakaian imam ini, penekanannya terletak pada keelokan dan kemuliaan. Keelokan adalah insani, kemuliaan adalah ilahi. Karena itu, pakaian imam merupakan ekspresi keelokan insani dan kemuliaan ilahi Kristus.
Pakaian yang dikenakan oleh imam besar memang luar biasa. Pertama-tama adalah sebuah kemeja yang panjangnya sampai pergelangan kaki. Di bagian luar kemeja ada jubah yang panjangnya sampai ke kaki, dan di bagian depan jubah itu terdapat efod. Di depan efod terdapat tutup dada dan dua buah tutup bahu. Semua benda ini mengandung aspek-aspek lambang yang bermakna, tentang Kristus dan gereja.
EKSPRESI ALLAH
Kristus adalah ekspresi Allah. Kristus yang berinkarnasi adalah perwujudan Allah, dan perwujudan ini merupakan suatu ekspresi. Tak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (Yoh. 1:18). Penyataan Allah di dalam Kristus ini merupakan ekspresi Allah. Ini berarti Kristus adalah ekspresi Allah yang tidak kelihatan dan misterius itu. Sebagai ekspresi Allah, Kristus membuat Allah bisa tertampak dan riil. Sewaktu kita berkontak dengan Kristus, kita berkontak dengan Allah yang kelihatan dan riil itu. Sekarang Allah bukan lagi hanya Allah yang misterius dan yang tidak kelihatan; di dalam Kristus, Dia adalah yang riil dan kelihatan. Kristus sebagai ekspresi Allah telah membuat Allah bisa dilihat dan riil bagi kita.
Ekspresi Allah bersifat individual juga bersifat korporat. Sebagai ekspresi Allah, Kristus tidak hanya bersifat individual, tetapi juga korporat. Ketika Kristus berada di bumi, Ia adalah ekspresi Allah yang individual. Tetapi setelah kematian dan kebangkitan-Nya, ekspresi ini menjadi korporat. Dalam keempat kitab Injil kita melihat Kristus yang individual. Namun, dalam Kitab Kisah Para Rasul, Surat-surat Kiriman, dan Kitab Wahyu, Kristus tidak lagi hanya bersifat individual, karena Ia telah menjadi korporat. Dalam Surat-surat Kiriman, dan Kitab Wahyu, kita melihat Kristus yang korporat.
KEPENUHAN KRISTUS
Dalam berita ini kita akan membahas jubah yang dikenakan oleh imam besar. Menandakan apakah jubah panjang ini dalam perlambangan? Untuk memperoleh jawabannya, baiklah kita kembali ke Yesaya 6:1, “Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” Menurut ayat ini, Yesaya melihat suatu visi, yaitu Tuhan duduk di Bait Suci. Perkataan “ujung jubahnya” ditujukan kepada punca jubah panjang Tuhan. Yesaya tidak memberi tahu kita berapa panjangnya punca ini, tetapi ia mengatakan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Tak seorang pun pernah melihat pengantin perempuan yang gaun pengantinnya demikian panjang sehingga memenuhi tempat pesta. Tidak ada pengantin yang mempunyai kepenuhan seperti itu. Akan tetapi, karena Tuhan demikian penuh, maka punca jubah-Nya memenuhi bait Allah, tempat kediaman-Nya.
Menandakan apakah jubah panjang ini? Jubah panjang menandakan ekspresi kebajikan Kristus (lihat Yoh. 12:41). Kepenuhan Tuhan diperlihatkan dalam segala kebajikan-Nya. Andaikata Tuhan sangat kekurangan kebajikan, maka dalam hal itu Ia tidak dapat diekspresikan melalui sebuah jubah panjang dengan ujungnya yang memenuhi bait, sebab Ia tidak mempunyai kepenuhan sedikit pun. Jika seseorang memakai pakaian yang tidak menutupi tubuhnya dengan wajar, menunjukkan bahwa orang tersebut kekurangan kebajikan. Tetapi jika ia tertutup secara wajar, itu menunjukkan bahwa ia penuh dengan kebajikan. Tuhan penuh dengan kebajikan. Karenanya, ketika Ia duduk di tempat kediaman-Nya, ujung jubah-Nya yang panjang memenuhi bait suci. Ini berarti tempat kediaman Tuhan penuh dengan kebajikan-Nya.
Mazmur 133 juga menunjukkan jubah panjang imam besar. Ketika minyak urapan ilahi dituangkan ke atas Harun, imam besar itu, minyak itu mengalir turun dari kepala ke janggut dan kemudian ke leher jubahnya. Selain itu, dalam Wahyu 1:13, Tuhan Yesus berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki. Ini merupakan satu tanda bahwa kebajikan Tuhan sangat luas sehingga menjadi kepenuhan-Nya.
Janganlah kita mengira bahwa jubah panjang Tuhan itu tidak bermakna. Berdasarkan pemakaian kata dalam Alkitab, jubah panjang seperti itu pasti menunjukkan kebajikan Kristus, dan kebajikan ini adalah ekspresi-Nya. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia mengekspresikan Allah dalam kebajikan ilahi. Jika kehidupan insani-Nya kekurangan kebajikan tersebut, tidak mungkin Ia bisa mengekspresikan Allah. Allah diekspresikan di dalam Yesus melalui kebajikan ilahi. Tatkala Ia hidup di bumi, Ia hidup dengan cara yang penuh dengan kebajikan. Ekspresi-Nya benar-benar memiliki ujung jubah yang panjang. Sebagai contoh, ketika Ia berada di rumah kecil di Betania, ujung jubah panjang-Nya memenuhi rumah itu. Demikian juga, ketika Ia berjalan-jalan di lorong-lorong di Yerusalem, kebajikan-kebajikan-Nya memenuhi kota itu. Itulah ekspresi Allah. Karena itu, dalam Alkitab, jubah yang panjang dengan ujungnya yang panjang itu menandakan kepenuhan dari kebajikan orang yang mengenakan pakaian itu.
Apakah kepenuhan Kristus di alam semesta ini? Efesus 1:23 mengatakan bahwa gereja adalah kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Betapa besarnya Kristus ini! Ia adalah yang almuhit (all inclusive) dan alwasi (all extensive), yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Karena Dia demikian besar, almuhit, alwasi, maka sudah tentu Ia memerlukan suatu kepenuhan untuk mengekspresikan segala yang ada pada-Nya. Kepenuhan ini adalah gereja.
BUMI DIPENUHI DENGAN EKSPRESI KEBAJIKAN KRISTUS
Ujung jubah Kristus melingkupi seluruh bumi. Mula-mula ujung jubah ini berada di surga. Kemudian turun ke Yerusalem dan menyebar ke Antiokhia, Filipi, Korintus, dan Roma. Akhirnya menyebar pula ke Asia dan ke belahan bumi bagian barat. Sekarang ujung jubah panjang Kristus membungkus seluruh bumi. Dibandingkan dengan jubah ini, bumi sangatlah kecil. Bumi tertutup oleh gereja. Sekalipun gereja telah merosot, namun tak dapat disangkal bahwa dalam sejarah manusia, tidak ada sesuatu yang lebih jaya dan yang jangkauannya lebih jauh daripada gereja.
Ketika saya meninggalkan daratan China tiga puluh tiga tahun yang lalu, waktu itu jumlah orang Kristen di sana tidak lebih dari empat juta. Belum lama ini saya membaca sebuah artikel surat kabar yang mengatakan bahwa sekarang di China ada empat puluh juta orang beriman. Lagi pula, kita pun tahu bahwa di sebuah kabupaten dari suatu propinsi saja ada seratus empat puluh ribu orang beriman mendoabacakan dan menyeru nama Tuhan Yesus. Ini membuktikan bahwa Allah itu hidup dan Kristus berkuasa. Negara-negara komunis dikenal sebagai negara ateis dan mengekang setiap kegiatan kekristenan. Namun, setelah tiga puluh tiga tahun, pada hari ini terdapat kaum beriman lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan tahun 1949. Ini adalah perentangan dan perpanjangan dari jubah panjang Kristus. Ujung jubah-Nya tak dapat diputuskan. Semakin orang-orang Kristen dianiaya, semakin jauhlah jangkauan jubah panjang-Nya.
Saya juga pernah membaca bahwa di Rusia dewasa ini jumlah orang-orang yang menghadiri kebaktian-kebaktian gereja adalah lima kali lipat lebih banyak daripada jumlah orang yang menghadiri kebaktian di Inggris. Hal ini mengingatkan saya kepada suatu tulisan yang pernah saya baca pada tahun 1944. Saat itu Stalin minta bantuan ekonomi kepada Amerika Serikat. Presiden Roosevelt memberi tahu dia, karena demikian banyak pembayar pajak di Amerika Serikat adalah orang Kristen, maka Rusia harus membuka kembali gereja-gereja sebelum bantuan itu diberikan. Roosevelt menunjukkan bahwa rakyatnya tidak dapat memberi bantuan kepada orang-orang yang menganiaya orang-orang Kristen. Stalin mengira karena gereja-gereja telah ditutup selama bertahun-tahun, mungkin tidak banyak orang Kristen yang tersisa. Maka, ia berjanji kepada Roosevelt untuk membuka kembali gereja-gereja. Namun, Stalin terkejut, sebab pada hari Paskah tahun 1944 itu, sekelompok besar orang Kristen berhimpun di gedung-gedung gereja untuk merayakan Paskah.
Kristus Tuhan penuh dengan atribut ilahi dan kebajikan insani. Dalam sejarah tidak pernah ada seorang yang memiliki atribut dan kebajikan sebanyak itu. Sekarang ekspresi dari atribut dan kebajikan-kebajikan-Nya menyusun suatu jubah yang panjang, yang menutupi seluruh bumi. Jubah ini adalah, kepenuhan Kristus gereja. Terpujilah Dia karena kita semua adalah bagian dari jubah panjang Kristus!
KRISTUS DENGAN GEREJA
Kemeja, jubah panjang, efod, tutup dada, tutup bahu, melambangkan Kristus dengan gereja. Ditinjau dari keseluruhannya, pakaian-pakaian ini menunjukkan Kristus yang mengekspresikan Allah. Inilah makna dasar dari pakaian imam. Namun, pada tutup dada terukir nama-nama umat tebusan Allah. Ini pasti menunjukkan gereja. Jadi, pada pakaian imam terdapat tutup dada. Ini berarti pada Kristus, yang dilambangkan oleh pakaian-pakaian itu, terdapatlah gereja, yang dilambangkan oleh tutup dada dan kedua tutup bahu. Selain itu, tutup dada serta kedua tutup bahu ini diletakkan ke dalam efod. Ini menunjukkan bahwa gereja berada di dalam Kristus. Kristus mempunyai kepenuhan-Nya, dan kepenuhan ini adalah gereja. Tutup dada, tutup bahu, dan jubah yang panjang, semuanya melambangkan gereja.
Kalau kita memperhatikan pakaian-pakaian yang dikenakan oleh imam besar, kita akan melihat bahwa bagian yang paling elok dan mustika adalah tutup dada, tutup bahu; dan bagian yang paling panjang adalah ujung jubah itu. Bagian yang paling elok dan mustika dan paling panjang menunjukkan gereja. Jika tutup dada serta tutup bahu diambil, dan ujung jubah itu dipotong, maka pakaian-pakaian itu akan tidak memiliki keelokan dan kepenuhannya. Ini menunjukkan bahwa tanpa gereja, ekspresi Kristus akan kekurangan unsur kepenuhan dan keelokan. Hari ini keelokan Kristus dan kepenuhan Kristus berada di dalam gereja. Dengan kata lain, gereja adalah kepenuhan Kristus.
Gambaran pakaian imam besar dengan jelas menunjukkan bahwa keelokan dan kepenuhan pakaian terdiri atas tutup dada, tutup bahu, dan ujung yang panjang. Ini berarti keelokan serta kepenuhan Kristus hari ini berada di dalam gereja. Menurut pandangan kita, mungkin gereja telah merosot dan keadaannya menyedihkan. Akan tetapi, Tuhan mempunyai pandangan-Nya sendiri terhadap gereja. Menurut pandangan-Nya, gereja adalah yang tercinta. Ia tidak kecewa. Apa yang telah diperbuat musuh, Iblis, boleh diibaratkan ulah seorang anak yang nakal. Pada suatu hari Tuhan akan berkata: “Iblis, apakah tidak ada lagi yang lain yang dapat kauperbuat? Jika tidak, pergilah ke lautan api. Sekarang Aku akan datang untuk membereskan situasi ini.” Dalam pandangan Tuhan, gereja sangat elok. Bahkan sampai hari ini juga demikian. Haleluya atas gambaran Kristus dengan gereja yang terlukis dalam pakaian-pakaian imam besar!
Unsur-unsur utama dari pakaian imam adalah lenan, emas, dan batu-batu permata. Lenan menandakan keinsanian, emas menandakan keilahian, dan batu-batu permata menandakan pengubahan. Ada pula beberapa warna: biru menandakan kesurgawian, ungu menandakan jabatan imam, kirmizi menandakan penebusan. Kalau kita memperhatikan pakaian-pakaian imam besar, kita sungguh-sungguh melihat suatu gambaran dari Kristus dengan gereja.
DIPEGANG, DITOPANG, DAN DIPERSATUKAN
Sesuai dengan gambaran pakaian imam ini, Kristus memegang gereja dan menopang gereja. Tutup dada dipegang oleh efod, dan tutup bahu ditunjang oleh efod. Sekarang kita harus melihat bahwa jubah panjang itu menandakan gereja dipersatukan dengan Kristus. Dari sini kita memperoleh suatu kesan, yaitu di mana gereja berada. Gereja berada di dalam Kristus, di atas dada-Nya; gereja berada di atas Kristus, di atas kedua bahu-Nya; dan gereja dipersatukan dengan Kristus.
Baju itu disebut baju efod, sebab baju itu terutama untuk efod. Pada efod ini kita melihat Kristus dengan gereja. Karena itu, jubah panjang adalah untuk Kristus dengan gereja. Penafsiran dasar dari jubah panjang ini menandakan Kristus yang individual dan yang korporat sebagai ekspresi penuh Allah. Dalam ekspresi ini kita melihat Kristus dan juga gereja yang dipersatukan dengan Kristus.
CIRI KHAS JUBAH ITU
Semuanya Biru
Menurut Keluaran 28:31, jubah panjang dari efod itu semuanya biru (Tl.). Ini menunjukkan bahwa gereja seluruhnya bersifat surgawi. Demikianlah wahyu tentang gereja yang diberikan oleh Perjanjian Baru kepada kita. Gereja bukan berada di surga, tetapi gereja bersifat surgawi. Sifat dan posisi gereja bukan bersifat duniawi, melainkan bersifat surgawi. Yohanes 3:7 menunjukkan bahwa kita telah dilahirkan dari atas. Ini mewahyukan bahwa sumber kita adalah surga, bukan bumi. Karena itu, sekalipun kita berada di bumi, kita dilahirkan dari atas, dari surga, dan mempunyai hayat surgawi dengan sifat surgawi. Bahkan posisi kita pun surgawi.
Leher Jubahnya
Keluaran 28:32 mengatakan: “Lehernya haruslah di tengah-tengahnya; lehernya itu harus mempunyai pinggir sekelilingnya, buatan tukang tenun, seperti leher baju zirah haruslah lehernya itu, supaya jangan koyak.” Ayat ini menunjukkan bahwa jubah panjang itu ditenun sedemikian rupa sehingga merupakan potongan yang utuh. Keliling lehernya ditenun dengan kuat sekali, seperti pada leher baju zirah yang dipakai untuk berperang. Referensi baju zirah dalam ayat 32 menunjukkan bahwa pelayanan keimaman merupakan suatu peperangan (Bil. 4:23, bahasa aslinya “berperang”). Sementara kita melayani sebagai imam-imam, kita juga berperang sebagai pejuang-pejuang. Jubah kita adalah pakaian imam, tetapi lehernya seperti leher baju zirah. Ayat 32 mengatakan bahwa lehernya seperti leher baju zirah supaya “jangan koyak”. Ini berarti sesuatu bisa terjadi sehingga merusak pakaian.
Hari ini kita di sini sebagai kesaksian Tuhan. Akan tetapi kita tidak dapat menghindari peperangan. Kita tidak ingin berperang, tetapi sering kali kita diserang oleh orang-orang lain. Karena itu, pakaian imam kita haruslah memiliki jenis leher yang menunjukkan bahwa ministri kita adalah suatu peperangan.
Buah-buah Delima dan Giring-giring
Ayat 33-34 mengatakan, “Pada ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis itu, dan di antaranya berselang-seling giring-giring emas, sehingga satu giring-giring emas dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada ujung gamis itu.” Ayat 33 mengatakan tentang buah-buah delima dan giring-giring, sedang ayat 34 mengatakan tentang “satu giring-giring emas dan satu buah delima”. Sewaktu pakaian itu dibuat, delima-delima itu mendahului giring-giring. Namun, menurut fungsinya, giring-giring mendahului delima-delima itu.
Seperti yang telah kita tunjukkan ujung jubah adalah suatu tanda kepenuhan, dan kepenuhan Kristus adalah gereja. Karena itu, delima-delima dan giring-giring yang terletak di ujung gamis tentunya merupakan perkara-perkara yang bertalian dengan gereja. Delima-delima dan giring-giring bukanlah bagian dari kemeja, yang bukan melambangkan gereja. Delima-delima dan giring-giring itu adalah bagian bawah dari jubah, yang menunjukkan gereja. Ini berarti kita perlu memperhatikan delima-delima dan giring-giring yang bertalian dengan gereja.
Delima-delima yang terbuat dari lenan menunjukkan keinsanian, sedang giring-giring yang terbuat dari emas menunjukkan keilahian. Jadi, pada delima-delima itu kita memiliki keinsanian, sedang pada giring-giring kita memiliki keilahian. Dalam kehidupan gereja kita selalu mempunyai keinsanian dan keilahian. Keinsanian bertalian dengan delima-delima, dan keilahian, dengan giring-giring.
Jika Anda memperhatikan sebuah delima yang telah masak dengan biji-bijinya, Anda akan terkesan bahwa buah delima penuh dengan hayat. Dalam Alkitab, delima melambangkan kepenuhan hayat. Gereja dalam keinsaniannya seharusnya penuh dengan hayat. Inilah makna delima yang terbuat dari lenan.
Perbedaan gereja dengan Kristus ialah Kristus tidak pernah berbuat salah, sedang gereja pernah berbuat salah. Anda dan saya sering berbuat salah, terutama kalau kita bertindak terlalu tergesa-gesa. Karena alasan inilah kita memerlukan giring-giring emas untuk memperingatkan kita, supaya tidak berjalan terlampau cepat atau ceroboh. Kepenuhan hayat diekspresikan di dalam keinsanian gereja, tetapi suara peringatan diekspresikan di dalam keilahian gereja, seperti yang dilambangkan oleh giring-giring emas. Perkataan yang tepat dari gereja selalu berasal dari keilahian-Nya. Jika di dalam gereja, kita berbicara dari diri kita sendiri, itu sangat menyedihkan. Kita semua perlu belajar menjadi bel-bel kecil yang mengeluarkan bunyi yang bersumber pada keilahian, bukan keinsanian. Bunyi suara semacam itu sangat menyenangkan dan lemah lembut, sebab ia bukan berasal dari giring-giring baja, melainkan dari giring-giring emas. Yang diperlukan gereja bukanlah beberapa giring-giring yang besar, melainkan sejumlah besar giring-giring yang kecil.
Saya dapat bersaksi bahwa dalam hidup gereja sepanjang tahun ini, saya telah berkali-kali diingatkan oleh persekutuan saudara saudari muda. Ketika bersidang, mereka ada kalanya berdiri dan mengatakan sesuatu, dan itu menjadi satu peringatan bagi saya. Seolah-olah saya mendengar suara giring-giring emas kecil yang memperingatkan saya untuk tidak berjalan dengan ceroboh. Ini adalah suatu gambaran aspek khas dari hidup gereja; pembicaraan gereja berasal dari keilahian, berdasarkan kepenuhan hayat dalam keinsanian.
Kapan kala kita semua mengekspresikan kepenuhan Kristus sebagai hayat dalam keinsanian kita, maka di antara kita akan terdapat banyak giring-giring emas. Lalu itu akan menjadi pembicaraan Allah, yaitu suara Allah yang diekspresikan melalui keilahian gereja. Dalam diri kita masing-masing terdapat sejumlah kadar keilahian. Dari unsur keilahian ini keluarlah suatu suara yang kecil, ibarat gemerincing bel kecil. Mula-mula kita mempunyai ekspresi kepenuhan hayat dan kemudian suara-suara dari bel-bel kecil, yaitu penuturan dari keilahian gereja. Gereja memiliki keinsanian bagi ekspresi kepenuhan hayat dan juga keilahian untuk gemerincing suara giring-giring emas. Pertama-tama kita mempunyai kepenuhan hayat, buah-buah delima, dari sini kita lalu mempunyai suara giring-giring. Akan tetapi, sulit sekali untuk mengatakan yang mana yang duluan, suara giring-giring atau ekspresi kepenuhan hayat. Keduanya ada di dalam gereja sebagai ujung jubah panjang Kristus.
Di dalam gereja-gereja lokal kita mempunyai delima-delima dan giring-giring. Akan tetapi, kalau Anda mengunjungi bagian kekristenan yang telah merosot itu, Anda tak akan mendapatkan delima-delima maupun giring-giring. Tak peduli apa yang Anda katakan atau bagaimana tindakan Anda, Anda takkan mendengar suara peringatan apa pun. Akan tetapi, di dalam gereja-gereja terdapat banyak suara peringatan, suara-suara yang berasal dari kepenuhan hayat.
Dalam gereja kita tidak berada di bawah kontrol manusia. Sesungguhnya tak ada seorang pun yang mengontrol cara yang kita pikirkan. Saya dapat bersaksi bahwa saya tidak mengontrol penatua di Anaheim dan mereka pun tidak mengontrol saya. Akan tetapi, kita semua dikontrol oleh delima-delima serta giring-giring itu. Hidup gereja yang wajar penuh dengan ekspresi hayat dalam delima-delima dan peringatan-peringatan dari suara giring-giring emas. Tahukah Anda apakah tanda-tanda dari hidup gereja yang wajar? Tanda-tandanya tak lain adalah delima-delima dan giring-giring.
Menurut Keluaran 28:34, delima-delima dan giring-giring diletakkan berselang-seling, satu giring emas diseling dengan satu delima. Ini menunjukkan bahwa suara ilahi saling bersangkut paut dengan hayat ilahi. Allah tidak memerintahkan Musa hanya memiliki giring-giring pada punca jubah. Jika di dalam hidup gereja kita hanya memiliki giring-giring tanpa delima-delima, maka gereja akan penuh dengan gosip dan kritik, tidak ada gemerincing giring-giring emas. Tetapi jika delima-delima ditempatkan secara selang-seling dengan giring-giring, gosip-gosip dan kritik-kritik akan lenyap, yang ada adalah suatu suara ilahi yang wajar.
Dalam hidup gereja, jika delima-delima ini ingin terletak berselang-seling dengan giring-giring, maka perlu lah kita bertumbuh di dalam hayat dan akhirnya berbunga dalam hayat. Kemudian kita akan menjadi delima-delima. Sebagai pengganti gosip, kita akan mengeluarkan suara ilahi. Lagi pula, pertumbuhan hayat ini akan mempengaruhi orang lain dan menyebabkan gosip serta kritik diganti oleh suara giring-giring emas kecil yang wajar. Jika ini adalah pengalaman seorang saudara, maka ia datang ke sidang dan bersaksi tentang bagaimana ia telah ditanggulangi oleh Tuhan dalam hal tertentu. Melalui kesaksiannya, saudara-saudara lainnya akan diperingatkan, karena mereka akan mendengar suara giring-giring emas yang terletak secara selang-seling dengan delima-delima itu.
Jika gereja normal dan sungguh-sungguh adalah kepenuhan Kristus, yakni ujung jubah-Nya, maka pada ujung itu akan terdapat delima-delima dan giring-giring. Dalam gereja akan terdapat ekspresi hayat dan suara ilahi. Saya telah mempelajari semua perkara ini melalui pengalaman dan pengamatan dalam hidup gereja.
Hanya melalui pengalaman barulah kita dapat mengerti makna perlambangan jubah panjang dengan delima-delima dan giring-giring. Mula-mula kita melihat delima-delima dan giring-giring yang dibubuhkan pada ujung gamis. Ini menunjukkan bahwa semuanya ini berhubungan dengan hidup gereja. Tambahan pula, delima-delima ini menandakan kepenuhan hayat, dan giring-giring adalah untuk mengeluarkan bunyi. Tetapi bunyi ini bukan berasal dari sumber manusia, melainkan dari sumber ilahi, bahkan keilahian, seperti yang ditunjukkan oleh fakta bahwa giring-giring terbuat dari emas. Apa pun yang kita bicarakan dalam gereja haruslah yang asli ilahi, dari sumber yang ilahi. Bersamaan dengan itu, kita perlu kepenuhan hayat diekspresikan dalam lenan, yakni dalam keinsanian. Karenanya, di dalam gereja kita mempunyai keelokan hayat yang diekspresikan dalam keinsanian kita dan bunyi suara ilahi yang berasal dari giring-giring emas. Inilah tanda-tanda dari hidup gereja yang wajar.