← Daftar isi Keluaran (8) · bab 18/19

PAKAIAN IMAM (16)

Pembacaan Alkitab: Kel. 28:36-43; 39:27-31

Sejauh ini kita telah membahas tentang pakaianpakaian tertentu yang hanya dikenakan oleh imam besar: efod, tutup bahu, tutup dada, dan jubah panjang (gamis) dengan buah-buah delima dan giring-giring emas. Tutup dada dan tutup bahu melekat pada efod, dan efod terletak di depan gamis. Di bawah gamis adalah kemeja, yang sama seperti yang dipakai oleh imam-imam lainnya.

LIMA BARANG LAINNYA

Keluaran 28:36 mengatakan, “Juga haruslah engkau membuat patam dari emas murni dan pada patam itu kau ukirkan lah, diukirkan seperti meterai: Kudus bagi TUHAN.” Keluaran 39:30 menunjukkan bahwa patam ini adalah “jamang yang kudus dari emas murni”. Imamat 8:9 membicarakan tentang “patam emas, yakni jamang yang kudus”. Bahasa Ibrani “patam” dalam Keluaran 28:36 dapat juga diterjemahkan “bunga”. Patam ini adalah sebuah bunga dan bunga adalah jamang yang kudus. Patam ini, jamang ini, dilekatkan di atas serban (Kel. 28:37).

Serban yang dikenakan oleh imam besar adalah sejenis ikat kepala. Pada kepalanya, imam besar mengenakan ikat kepala khusus yang terbuat dari lenan. Patam emas murni diletakkan pada serban, penutup kepala yang terbuat dari lenan. Jadi, patam dan serban berpadanan.

Menurut Keluaran 28:40, kemeja-kemeja dibuat untuk Harun dan anak-anaknya. Ini menunjukkan bahwa kemeja-kemeja dikenakan oleh imam besar dan imam-imam lainnya. Kemeja adalah sebuah jas atau jubah panjang, mungkin sedikit lebih pendek dari jubah yang dikenakan imam besar. Bagi imam besar, kemeja ini merupakan jubah bagian dalam. Namun, untuk imam-imam lainnya, kemeja ini merupakan jubah bagian luar, karena mereka tidak mengenakan jubah panjang di atas kemeja itu.

Ayat 39 dan 40 menunjukkan bahwa imam besar dan imam-imam lainnya mengenakan ikat pinggang. Ayat 39 mengatakan tentang “ikat pinggang dari tenunan yang berwarna-warna.” Ayat 40 mengatakan tentang dibuatnya ikat-ikat pinggang untuk anak-anak Harun. Ayat 42 dan 43 membicarakan tentang celana-celana lenan yang dikenakan Harun dan anak-anaknya, “Buatlah celana-celana lenan bagi mereka untuk menutupi daging auratnya: celana itu haruslah dari pinggang sampai paha panjangnya. Harun dan anak-anaknya haruslah memakainya, apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan atau apabila mereka datang ke mezbah untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus, supaya mereka jangan membawa kesalahan kepada dirinya, lalu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya baginya dan bagi keturunannya.” Celana-celana lenan ini adalah celana pendek, yang panjangnya sampai lutut, sehingga bisa menutupi daging auratnya; dari pinggang sampai paha. Karena itu, celana-celana ini menandakan Kristus menutupi ketelanjangan daging yang telah jatuh. Fakta bahwa celana-celana lenan ini dipakai oleh imam-imam setiap kali mereka bertugas melayani menunjukkan bahwa kita memerlukan Kristus untuk menutupi kita setiap kali kita melayani sebagai imam-imam.

Dalam Keluaran 28:36-43 kita mempunyai lima barang: patam, serban, kemeja, ikat pinggang, dan celana. Hanya imam besar sajalah yang mengenakan patam emas, sedang serban, kemeja, ikat pinggang, dan celana dikenakan oleh semua imam. Imam besar mengenakan kemeja, jubah panjang dengan buah-buah delima dan giring-giring, efod, tutup bahu, tutup dada, dan patam. Sedang imam-imam lainnya semua mengenakan kemeja, serban, ikat pinggang, dan celana. Dalam berita-berita terdahulu kita telah membahas makna efod, tutup bahu, tutup dada, dan gamis dengan delima-delima dan giring-giring emas. Kita masih harus melihat makna patam emas yang terletak pada serban lenan. Lagi pula, kita perlu mengetahui makna pakaian yang dikenakan oleh semua imam: serban lenan, kemeja, ikat pinggang, dan celana.

KEKUDUSAN DAN KEBENARAN

Jika kita ingin memahami makna berbagai aspek dari pakaian imam, perlulah kita melihat prinsip bahwa semua pakaian ini adalah untuk ekspresi. Pakaian-pakaian itu merupakan tanda-tanda, simbol-simbol, ekspresi-ekspresi. Kalau kita membaca dengan cermat catatan tentang pakaian imam dan mempelajarinya, kita akan tahu bahwa pakaian-pakaian ini merupakan tanda-tanda. Pakaian-pakaian ini tidak hanya untuk keelokan dan kemuliaan, tetapi juga untuk menandakan, mengekspresikan, dan melambangkan sesuatu. Selain itu, penting sekali kita pahami bahwa Keluaran 28:36-43 merupakan kata-kata terakhir tentang pakaian imam. Biasanya kata penutup memberi kita makna sebenarnya dari suatu perkara. Ketika kita mulai membicarakan sesuatu, kata-kata kita mungkin agak tidak jelas. Namun, kata kesimpulan membuat masalahnya menjadi sangat jelas. Prinsip ini juga dipakai dalam tulisan tentang pakaian-pakaian imam dalam Kitab Keluaran.

Kesimpulan dari catatan tentang pakaian imam meliputi kekudusan dan kebenaran. Kekudusan dengan jelas dinyatakan oleh patam emas yang terukir dengan kata-kata “Kudus bagi TUHAN”. Misalkan seorang imam besar dengan pakaian lengkap berdiri di depan Anda, Anda akan melihat gamis, efod, tutup bahu, tutup dada, dan serban. Di atas serban ada sebuah patam emas yang terukir kata-kata “Kudus bagi TUHAN”. Sudah tentu Anda akan terkesan dengan hal kekudusan. Kekudusan adalah tanda dari pakaian-pakaian imam besar, dan bahkan dicap di atas patam emas. Jadi, dilihat secara keseluruhan, pakaian imam besar menandakan kekudusan Allah.

Kedua, serban, kemeja, ikat pinggang, dan celana, semuanya terbuat dari kain lenan. Menurut perlambangan dalam Alkitab, lenan menunjukkan kebenaran. Sebagai contoh, Wahyu 19:8 mengatakan bahwa lenan halus adalah perbuatan-perbuatan benar orang beriman. Karena itu, patam emas adalah tanda kekudusan, sedang serban, kemeja, ikat pinggang, dan celana, yang semuanya terbuat dari lenan, adalah tanda kebenaran.

Kalau kita memperhatikan pakaian-pakaian yang dikenakan oleh imam besar, kita melihat emas pada tutup ba-hu, pada tutup dada, dan pada tutup kepala. Allah merupakan unsur utama baik pada tutup bahu maupun tutup dada. Namun, yang lebih bermakna adalah patam pada ikat kepala yang terbuat dari emas. Unsur utama pakaian imam lainnya adalah lenan. Seperti yang telah kita tunjukkan, emas menandakan keilahian, dan lenan menandakan ke insanian. Pada keilahian kita menerima suatu kesan ke kudusan, dan pada keinsanian ada suatu kesan kebenaran. Kekudusan bukan berarti kesempurnaan tanpa dosa; kekudusan adalah sifat ilahi. Sifat ilahi adalah kudus. Karena itu, kekudusan berhubungan dengan keilahian. Akan tetapi, kebenaran adalah kebajikan insani. Kebajikan insani yang paling penting, yaitu kebajikan yang meliputi semua adalah kebenaran. Jika Anda bukan orang yang benar, Anda tak kan memiliki kebajikan lainnya. Namun, jika Anda adalah orang yang benar, kebenaran Anda akan mencakup kebajikan lainnya. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, kekudusan dan kebenaran merupakan hal yang sangat ditekankan.

Tuhan Yesus mempunyai dua sifat, yakni sifat ilahi dan sifat insani. Kita yang percaya kepada-Nya juga mempunyai dua sifat, sifat insani dan sifat ilahi. Baik kita maupun Tuhan Yesus memiliki sifat ilahi untuk kekudusan dan sifat insani untuk kebenaran. Karenanya, kita ini kudus dan benar, ilahi dan insani. Kekudusan adalah atribut ilahi yang utama, sedang kebenaran adalah kebajikan insani yang utama. Dalam Efesus 4:24, Paulus mengatakan bahwa insan baru, gereja, diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Di satu pihak, kita kudus dalam sifat ilahi. Di pihak lain, kita harus benar dalam keinsanian kita.

ORANG YANG NORMAL DAN WAJAR

Setelah membicarakan perkara kekudusan dan kebenaran, kita harus melanjutkan pembicaraan tentang imam-imam itu sendiri. Imam-imam adalah orang-orang yang normal dan wajar. Sebagai seorang manusia, jika Anda bukan seorang imam yang melayani Allah, Anda bukanlah seorang yang normal. Seorang manusia yang wajar adalah seorang imam, yaitu seorang yang melayani Allah. Kalau seorang pengacara atau guru besar tidak melayani Allah, ia bukan seorang yang wajar. Mungkin Anda mengira bahwa Anda sangat baik, bahkan unggul. Namun, tidak peduli betapa baiknya kita, bila kita bukan imam, kita tidak wajar dan normal. Terpujilah Tuhan karena kita bisa menyatakan bahwa kita adalah imam-imam yang melayani Allah. Ini berarti kita adalah orang-orang yang normal dan layak.

Untuk menjadi imam-imam, kita harus kudus dan benar. Ini berarti terhadap Allah kita harus memiliki kebajikan yang kudus; terhadap manusia kita harus memiliki kebajikan yang benar. Kekudusan dan kebenaran ini dilambangkan oleh pakaian imam. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, pakaian macam apa yang kita kenakan. Jika kita adalah imam-imam, yakni orang-orang yang normal dan wajar, tentu kita mengenakan kekudusan dan kebenaran sebagai pakaian-pakaian kita. Pakaian imam kita adalah kekudusan dan kebenaran.

Kesimpulan atas bagian tentang pakaian imam ialah bahwa pakaian-pakaian para imam itu mengekspresikan kekudusan dan kebenaran. Inilah ekspresi seorang yang normal dan wajar, seorang imam yang melayani Allah. Seorang imam selalu mengenakan kekudusan dan kebenaran sebagai pakaiannya, kekudusan di dalam keilahian dan kebenaran di dalam keinsanian.

PATAM EMAS

Marilah sekarang kita membahas dengan lebih rinci tentang patam pada serban, kemeja, ikat pinggang, dan celana. Patam emas merupakan suatu jamang kudus, mahkota, atau bunga. Patam ini adalah dari emas murni, yakni dari sifat ilahi yang murni. Pengukiran “Kudus bagi TUHAN” menunjukkan bahwa keimaman adalah kudus bagi TUHAN. Karena itu, pakaian imam menandakan kekudusan di dalam sifat ilahi. Imam-imam dipisahkan bagi Tuhan dari segala sesuatu yang di luar Allah. Inilah makna dari ukiran: “Kudus bagi TUHAN”. Seperti yang telah kita tunjukkan, kekudusan ini merupakan ekspresi sifat ilahi. Akan tetapi, karena kekurangan wahyu, maka kebanyakan orang Kristen mempunyai suatu pengertian yang berbeda tentang kekudusan ini, yaitu suatu pengertian yang jauh dari yang Alkitabiah.

Ayat 37 mengatakan: “Haruslah patam itu engkau beri bertali biru, dan haruslah itu dilekatkan pada serban, di sebelah depan serban itu” (Tl.). Patam emas diikatkan dengan sebuah tali biru menandakan bahwa patam itu di ikat dengan kekuatan surgawi. Kekuatan surgawilah yang mengikat patam itu pada serban. Ini menunjukkan bahwa kekudusan sejati berhubungan dengan kesurgawian. Setiap perkara yang duniawi tidak lah kudus. Tetapi jika sesuatu itu kudus, pastilah surgawi, sebab kekudusan berhubungan dengan kesurgawian.

Ayat 37 memberi tahu kita bahwa patam yang terbuat dari emas murni terletak di bagian depan serban. Ini menandakan suatu pernyataan. Patam emas yang terletak di atas serban yang dikenakan oleh imam besar menyatakan bahwa ia kudus bagi Tuhan. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, di atas dahi-Nya ada suatu pernyataan kepada seluruh malaikat, Iblis, dan alam semesta bahwa Ia adalah kudus bagi Allah. Demikian juga keadaan-Nya di surga pada hari ini. Kata-kata “Kudus bagi TUHAN” itulah cap-Nya, pernyataan-Nya. Segenap diri-Nya menyatakan bahwa Ia adalah kudus bagi Allah.

KEEMPAT TAHAP KEKUDUSAN

Ayat 38 mengatakan, “Patam itu haruslah ada pada dahi Harun, dan Harun harus menanggung akibat kesalahan terhadap segala yang dikuduskan oleh orang Israel, yakni terhadap segala persembahan (pemberian) kudusnya; maka haruslah patam itu tetap ada pada dahinya, sehingga Tuhan berkenan akan mereka.” Ayat ini menunjukkan bahwa Harun mengemban tanggung jawab untuk menguduskan pemberian kudus (holy gift) bangsa Israel, sehingga mereka bisa diperkenan di hadapan Tuhan. Ini sulit untuk dimengerti.

Semua orang Israel mengusahakan tanah permai dan akhirnya menuai hasil. Dan sepersepuluh dari hasil yang terbaik dibawa ke pesta dan dipersembahkan kepada Allah sebagai pemberian kudus (holy gift). Ayat 38 membicarakan tentang pemberian kudus, bukan kurban kudus. Kurban persembahan berhubungan dengan penebusan atau pengampunan dosa, mempersembahkan kurban kepada Allah adalah untuk pengampunan dosa. Akan tetapi, pemberian-pemberian kudus tidak berhubungan dengan pengampunan dosa. Sebagai contoh, jika seseorang memberi Anda suatu hadiah, ini tidak berarti ia telah bersalah kepada Anda dan ingin memberi sesuatu agar Anda memaafkan kesalahan nya. Tidak, suatu pemberian adalah untuk persekutuan; itu adalah suatu tanda hubungan yang akrab.

Selama masa perayaan, orang Israel memang mempersembahkan kurban untuk dosa dan kurban untuk pelanggaran. Namun, dari kelima persembahan utama hanya kedua persembahan inilah yang berhubungan dengan penebusan atau pengampunan dosa. Ketiga persembahan utama lainnya kurban bakaran, kurban unjukan, dan kurban pendamaian adalah untuk persekutuan dengan Allah. Kurban pendamaian menyangkut hal berdamai dengan Allah; kurban unjukan adalah untuk dinikmati bersama Allah dan dimakan bersama dengan-Nya; dan kurban bakaran adalah untuk hubungan yang penuh, persekutuan yang sempurna dengan Allah. Istilah “pemberian kudus” menandakan perdamaian dengan Allah, persekutuan dengan Allah, dan ke-nikmatan bersama Allah. Pada saat perayaan berlangsung, orang-orang Israel membawa hasil-hasil terbaik dari tanah itu untuk dipersembahkan kepada Allah, sehingga mereka dapat berdamai dengan Allah, mempunyai kenikmatan dengan Allah, dan mempunyai persekutuan dengan Allah. Inilah pemberian kudus.

Ada satu bagian dari pemberian kudus yang dipersembahkan kepada Allah dipisahkan untuk dinikmati Allah sendiri, dan sisanya untuk kenikmatan orang banyak. Terlebih dulu orang-orang bekerja di tanah yang permai itu, dan menuai hasilnya. Kemudian mereka membawa sepersepuluh hasil yang terbaik ke perayaan dan mempersembahkannya kepada Allah, serta bersekutu dengan-Nya. Dari barang yang dipersembahkan kepada Allah itu ada satu bagian yang dipisahkan untuk Allah; dan sisanya untuk umat Israel. Bagian yang dipisahkan untuk Allah itu semuanya harus untuk Allah saja. Bagian tersebut bukan untuk siapa pun kecuali bagian-bagian tertentu yang telah ditunjuk untuk para imam. Hanya imam-imamlah yang berhak menikmati bagian ini. Peraturan ini, ketetapan ini, harus dipelihara dengan ketat. Ini adalah tanggung jawab Harun sebagai imam besar untuk memperhatikan hal ini. Jika bagian yang telah ditentukan untuk Allah itu disentuh oleh siapa pun yang bukan imam, maka hal itu merupakan suatu pelanggaran yang serius. Dalam pandangan Allah, hal itu merupakan dosa yang besar, dan imam besar harus bertanggung jawab atas dosa tersebut.

Sekarang kita mengerti lebih jelas tentang makna kata-kata “Kudus bagi TUHAN”. Di sini kita mempunyai empat rangkap kekudusan. Pertama-tama umat itu mengusahakan tanah yang kudus itu. Kedua, sebagai hasil pekerjaan mereka, mereka menuai hasil yang kudus. Ketiga, sepersepuluh dari hasil kudus ini dipersembahkan kepada Allah.

Ini berarti perpuluhan ini juga kudus. Keempat, dari bagian perpuluhan yang merupakan hasil terbaik ini ada satu bagian yang dipisahkan secara mutlak untuk Allah kudus bagi Dia. Mereka yang tidak melayani Allah sebagai imam-imam tidak boleh menjamahnya. Sebagian dari bagian ini dibakar di mezbah dan dipersembahkan kepada Allah untuk kepuasan-Nya; sisanya untuk kenikmatan para imam. Mereka yang bukan imam tidak dapat menikmati bagian ini, karena semuanya itu diperuntukkan bagi Tuhan. Inilah kekudusan yang mutlak, dan inilah makna “Kudus bagi TUHAN”.

Apakah Anda melihat keempat tahap dari kekudusan ini? Tahap-tahap ini meliputi tanah yang kudus, hasil yang kudus, perpuluhan yang kudus, dan bagian kudus yang telah dipisahkan bagi Allah dan imam-imam-Nya, bagian ini adalah yang paling kudus. Karena itu, kita berawal dari tahap kekudusan yang pertama, tanah itu, ke tahap kedua, hasil yang kudus; kemudian ke tahap ketiga, perpuluhan yang kudus, dan akhirnya tahap yang keempat, bagian yang dipisahkan bagi Tuhan. Imam besar bertanggung jawab atas bagian yang paling kudus ini. Bagian ini mutlak untuk Allah dan imam-imam-Nya. Siapa saja yang menjamahnya berarti melanggar ketetapan “kekudusan” Allah. Harun ditetapkan Allah untuk bertanggung jawab atas pelanggaran semacam itu. Ini berarti imam besar harus menjaga bagian yang kudus ini mutlak bagi Tuhan. Karena alasan inilah ia mengenakan patam emas yang menyatakan “Kudus bagi Tuhan”.

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, kita semua adalah kaum beriman, yaitu orang-orang yang kudus. Akan tetapi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri di tahap kekudusan yang manakah kita berada? Apakah Anda kudus dalam tahap yang pertama, atau Anda kudus di tahap kedua, ketiga, atau keempat? Apakah Anda memiliki keempat rangkap kekudusan, ataukah hanya memiliki satu, dua, atau tiga rangkap? Dapatkah kekudusan Anda dibandingkan dengan tanah kudus, hasil kudus, atau pemberian kudus? Kita telah melihat bahwa pemberian yang kudus itu dipisahkan untuk dipersembahkan kepada Allah sewaktu perayaan. Pada saat perayaan berlangsung, umat Allah menikmati pemberian-pemberian kudus ini. Dari pemberian-pemberian itu ada satu bagian yang terbaik dipisahkan bagi Allah dan imam-imam-Nya. Tidak semua orang Lewi dapat ikut mengambil bagian dalam persembahan-persembahan kudus ini. Ketika kita membahas tahap-tahap kekudusan ini, kita perlu menyadari di manakah kita berada hari ini. Ya, memang kita adalah kaum beriman. Namun, apakah kita ini kaum beriman yang berada di tanah kudus? Dengan hasil kudus? Dengan pemberian-pemberian kudus? Ataukah dengan bagian yang terbaik dari pemberian kudus yang mutlak dipisahkan bagi Allah? Pemberian-pemberian kudus ini sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab Kristus, Imam Besar kita. Haruslah ada bagian terbaik yang kudus seperti ini untuk kenikmatan Allah.

Sebagai Imam Besar kita, Kristus mengemban tanggung jawab yang berat. Ia bertanggung jawab memperhatikan tahap kekudusan yang tertinggi. Kita telah melihat bahwa pakaian imam pertama-tama menandakan kekudusan dalam sifat ilahi. Sekarang kekudusan ini perlu mencapai tahap yang tertinggi; yaitu ia harus maju dari tanah kudus, hasil kudus, dan pemberian kudus ke persembahan kudus yang paling top. Inilah kekudusan tertinggi yang diperhatikan oleh Kristus. Karena itulah Ia mengenakan patam yang menyatakan “Kudus bagi TUHAN”. Ia bertanggung jawab menjadikan kita tidak saja kudus dalam tahap yang pertama, kedua, dan ketiga, tetapi juga dalam tahap yang keempat. Ia bertanggung jawab membawa kita ke dalam kekudusan yang rangkap empat.

KEMEJA, IKAT PINGGANG, DAN SERBAN

Keluaran 28:39 mengatakan, “Haruslah engkau menenun kemeja dengan ada raginya, dari lenan halus, dan membuat serban dari lenan halus dan haruslah kaubuat ikat pinggang dari tenunan yang bewarna-warna.” Di sini kita melihat kemeja, serban, dan ikat pinggang. Kemeja dari lenan halus yang ditenun ini menandakan penutupan kebenaran yang sempurna dalam keinsanian yang telah ditanggulangi. Serban dari lenan halus menandakan kemuliaan dari kebenaran yang sempurna. Ikat pinggang buatan seorang penyulam menunjukkan penguatan pekerjaan penyusunan dari Roh itu.

Ayat 40-43 membicarakan tentang pakaian-pakaian para imam. Ayat 40-41 mengatakan, “Juga bagi anak-anak Harun haruslah kaubuat kemeja-kemeja dan haruslah kau buat ikat-ikat pinggang bagi mereka, dan destar-destar haruslah kaubuat bagi mereka untuk kemuliaan, untuk keelokan (Tl.). Maka semuanya itu haruslah kaukenakan kepada abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya, kemudian engkau harus mengurapi, mentahbiskan dan menguduskan mereka, sehingga mereka dapat memegang jabatan imam bagi-Ku.” Kemeja-kemeja ini menandakan Kristus yang dialami sebagai keelokan; ikat pinggang menandakan Kristus yang dialami sebagai penguatan; dan serban menandakan Kristus yang diekspresikan sebagai kemuliaan.

DITUTUPI OLEH KRISTUS SEBAGAI KEBENARAN

Ayat 42 mengatakan tentang anak-anak Harun: “Buatlah celana-celana lenan bagi mereka untuk menutupi daging auratnya; celana itu haruslah dari pinggang sampai paha panjangnya.” Ayat ini membicarakan tentang daging aurat, khususnya bagian tubuh yang terletak antara pinggang sampai paha. Mungkin bagian ini dipandang sebagai bagian tubuh manusia yang paling tidak bersih. Kata “daging aurat” di sini menunjukkan manusia yang telah jatuh, berdosa, dan najis. Sebagai orang-orang dosa, kita adalah daging yang telanjang. Kata “telanjang” ini seharusnya mengingatkan kita kepada pengalaman Adam dan Hawa di Taman Eden. Setelah mereka berbuat dosa, mereka baru mengetahui ketelanjangan mereka. Setelah menyadari ketelanjangan mereka, maka mereka “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (Kej. 3:7). Tetapi Allah datang dan membuat penutup lain bagi mereka: “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kej. 3:21). Menurut Alkitab, dalam pandangan Allah, daging yang telanjang menunjukkan manusia yang telah berdosa.

Serban, kemeja, ikat pinggang, dan celana semuanya berhubungan dengan penutupan atas seorang imam sebagai manusia yang telah jatuh. Serban menutupi kepalanya, dan kemeja menutupi seluruh tubuhnya. Ikat pinggang berfungsi untuk memperkuat penutupan tersebut. Sekalipun kemeja menutupi pinggang sampai paha, namun celana berfungsi sebagai penutup ganda terhadap bagian tubuh ini. Bahu dan dada tidak memerlukan penutup ganda ini, tetapi karena daerah dari pinggang sampai ke paha begitu najis, maka perlulah ditutup secara ganda. Penutup-penutup lenan ini, menunjukkan Kristus sebagai kebenaran kita untuk menutupi keseluruhan insan kita yang telah jatuh, agar kita dapat menjadi imam-imam. Seorang imam adalah seorang yang secara keseluruhan ditutupi oleh Kristus sebagai kebenarannya.

Keinginan Paulus ialah senantiasa ditemukan di dalam Kristus, bukan dengan kebenarannya sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan melalui iman Kristus, yakni kebenaran yang berasal dari Allah, yang berdasarkan iman (Flp. 3:9). Paulus tidak ingin ditemukan dalam apa pun selain Kristus sebagai kebenarannya. Kristus adalah serban, kemeja, ikat pinggang, dan celana Paulus. Kristus menutupi yang paling najis dari insannya yang telah jatuh.

Ayat 43 mengatakan, “Harun dan anak-anaknya haruslah memakainya, apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan atau apabila mereka datang ke mezbah untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus, supaya mereka jangan membawa kesalahan kepada dirinya, lalu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya baginya dan bagi keturunannya.” Jika seorang imam tidak berpakaian dengan wajar, ia harus bertanggung jawab atas kesalahan nya dan mati. Tidak memakai pakaian yang pantas akan menyebabkan kematian. Karena itu, imamat harus selalu dipertahankan dalam ruang lingkup hayat. Kita harus menjauhkan diri dari alam lingkungan maut dan terpelihara dalam atmosfer hayat. Bila kita tidak tertutup sepenuhnya oleh Kristus, kita akan mendatangkan maut.

Sebagai manusia yang telah jatuh, kita perlu ditutupi. Daging yang telanjang menunjukkan bahwa kita memerlukan Kristus sebagai kebenaran untuk menutupi kita. Saya tidak menyetujui praktik para pendeta dan pastor yang mengenakan jubah-jubah atau toga panjang. Namun, dalam aspek rohaninya saya setuju bahwa seluruh insan kita perlu tertutup dengan Kristus. Seorang imam harus seluruhnya tertutup oleh Kristus dan dengan Kristus. Kristus adalah serban, kemeja, ikat pinggang, dan celananya. Kristus adalah segala sesuatu yang kita perlukan untuk menutupi seluruh insan kita.

Selain itu, Kristus yang menutupi kita harus pula menjadi imam besar, cap, dan pernyataan kita bahwa kita kudus bagi TUHAN. Dalam pengalaman kita, Ia juga harus menjadi Persona yang bertanggung jawab untuk menjadikan kita kudus secara empat rangkap dan memelihara kita dalam kekudusan, tidak terjamah oleh apa pun selain Allah. Dengan kekudusan dalam keilahian dan kebenaran dalam keinsanian seperti inilah, kita akan mempunyai ekspresi yang wajar sebagai seorang yang hidup di hadapan Allah dan melayani-Nya. Kita semua harus menjadi orang-orang yang demikian. Kita semua harus menjadi imam-imam yang berpakaian kekudusan dan kebenaran.