← Daftar isi Keluaran (8) · bab 13/19

PAKAIAN IMAM (11)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 28:22-30;39:15-21; Bil. 27:21; Ul. 33:8a, 10a

ALLAH BERBICARA MELALUI URIM DAN TUMIM

Keluaran 28:30 mengatakan, “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN.” Dalam buku David Baron yang berjudul “The Ancient Scripture and the Modern Jew” (Alkitab kuno dan Yahudi Modern) ada tulisan tambahan mengenai Urim dan Tumim. Menurut tulisan ini, kedua belas nama pada tutup dada mengandung delapan belas dari kedua puluh dua huruf dalam abjad Ibrani. Empat huruf sisanya terdapat pada bagian yang disebut Tumim. Kata “Tumim” dalam bahasa Ibrani berarti “penyempurnaan” atau “pelengkap”. Jadi pada tutup dada dengan keping-keping tambahan yang disebut Tumim, kedua puluh dua huruf dalam abjad Ibrani semuanya dapat ditemukan di sana. Sebagaimana kedua puluh enam huruf-huruf dalam abjad Inggris pada tombol-tombol huruf mesin ketik yang dapat dipakai untuk menyusun sebuah kata, frase, kalimat, atau alinea, demikian juga kedua puluh dua huruf dalam abjad Ibrani pada tutup dada dan Tumim itu dapat dipakai untuk mengeja kata-kata dan kalimat-kalimat.

Selain itu, menurut tulisan ini, Urim merupakan suatu alat penerangan yang terletak dalam tutup dada di bawah kedua belas batu permata. Dalam bahasa Ibrani “Urim” berarti “terang”. Tentang hal ini dalam buku David Baron dikatakan bahwa Urim bisa diisi minyak untuk dinyalakan, dan api yang dipakai untuk menyalakan minyak ini berasal dari mezbah. Sarjana Ibrani yang bertanggung jawab atas tulisan ini juga mengatakan bahwa Urim ini mempunyai dua belas alat penerangan, yang masing-masing menerangkan sepotong batu permata pada tutup dada. Kemudian batu-batu yang tembus cahaya ini dapat bercahaya.

Bila Urim dan Tumim ditambahkan pada tutup dada, maka tutup dada ini menjadi tutup dada pernyataan keputusan. Sebelum Urim dan Tumim ditambahkan, tutup dada hanyalah untuk suatu peringatan belaka. Ketika Allah membawa umat-Nya ke padang belantara. Ia berbicara kepada mereka melalui Musa. Allah berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka. Tetapi setelah Musa mati, Yosua menerima pimpinan dari Allah tidak secara langsung seperti Ia berbicara kepada Musa, melainkan melalui Urim dan Tumim di atas tutup dada yang dikenakan oleh imam besar. Karena itu, setiap kali Yosua memerlukan pimpinan yang menyangkut pergerakan orang-orang Israel, ia harus pergi kepada imam besar yang kemudian menerima pimpinan dari Allah melalui perantara Urim dan Tumim. Jadi, Allah berbicara melalui Urim dan Tumim.

Penulis buku ini menggambarkan fungsi Urim dan Tumim melalui menunjuk kasus Yosua dan Akhan. Orang-orang Israel dikalahkan di Ai karena dosa Akhan (Yos. 7). Bagaimanakah dosa Akhan bisa terungkap? Menurut tulisan ini, setiap wakil dari kedua belas suku bangsa itu datang ke Kemah Suci dan berdiri di depan imam besar yang memakai tutup dada. Tiba-tiba satu di antara kedua belas batu pada tutup dada itu menjadi gelap. Dan batu itu adalah dari suku Yehuda. Dengan jalan inilah Yehuda disisihkan. Yosua 7:16-18 mengatakan, “Maka didapatilah suku Yehuda. Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum-kaum Yehuda, maka didapatinya kaum Zerah. Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum Zerah, seorang demi seorang, maka didapatilah Zabdi. Ketika disuruhnya keluarga orang itu tampil ke muka, seorang demi seorang, maka didapatilah Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda.” Melalui gelapnya batu-batu tertentu pada tutup dada itu keluarga dan akhirnya orang yang dimaksud itu bisa ditemukan. Dalam keadaan ini tutup dada berfungsi seperti mesin ketik rohani dan surgawi untuk mengeja nama Akhan.

Tulisan ini menyebutkan contoh-contoh lain dari penggunaan Urim dan Tumim. Disebutkan bahwa Yosua mengundi Tanah Kanaan untuk suku-suku bangsa itu melalui Urim dan Tumim (Yos. 18:6-10), dan juga berperang melawan musuh-musuh menurut pimpinan Allah yang dinyatakan melalui Urim dan Tumim (Hak. 1:1-12; 20:18, 27; lihat Bil. 27:21). Selain itu, ketika Raja Saul tidak setia terhadap Allah, Allah tidak lagi menjawabnya melalui Urim dan Tumim (1Sam. 28:6). Ketika imam-imam itu dibunuh oleh Saul, salah satu anak imam melarikan diri kepada Daud, dan Daud kemudian mengikuti Tuhan melalui Urim dan Tumim.

Kita telah menunjukkan bahwa tutup dada disebut tutup dada pernyataan keputusan. Ulangan 33:8 dan 10 mengatakan, “Tentang Lewi ia berkata: ‘Biarlah Tumim dan Urim-Mu menjadi kepunyaan orang yang Kaukasihi . . . Mereka mengajarkan peraturan-peraturan-Mu kepada Yakub, hukum-Mu kepada Israel.’” Karena Urim dan Tumim berada pada orang-orang Lewi, imam-imam, maka mereka dapat mengajar umat Israel tidak saja dengan hukum Allah, tetapi juga dengan keputusan-keputusan-Nya.

Apa yang telah kita ungkapkan sejauh ini mengenai Urim dan Tumim adalah beberapa dari fakta-fakta historis menurut pengetahuan para pakar. Kita masih belum melihat apa-apa mengenai penerapan rohaninya atas Urim dan Tumim ini. Dalam berita ini saya tidak berbeban membicarakan fakta-fakta historisnya, melainkan menunjukkan penerapan rohaninya.

MEMBACA KAUM BERIMAN

Tutup dada menandakan gereja dengan semua orang beriman dibangun bersama-sama menjadi satu wujud. Semua orang beriman yang diubah dan dibangun menjadi satu wujud yang dikenal sebagai Tubuh Kristus, gereja, adalah huruf-huruf tempat Allah berbicara kepada kita. Ini berarti hari ini, dalam zaman Perjanjian Baru, Allah berbicara kepada gereja melalui semua orang beriman. Kita bisa melihat hal ini dari Surat-surat Kiriman yang ditulis oleh Paulus. Ketika menulis kepada gereja tertentu, Paulus memperhatikan kaum beriman di dalam gereja lokal tersebut. Dengan kata lain, ia memperhatikan kondisi dan situasi kaum beriman di lokal itu. Kemudian ia menggunakan kondisi dan situasi kaum beriman itu sebagai huruf-huruf dalam abjad rohani untuk menyusun sebuah surat. Surat-surat Kirimannya selalu ditulis berdasarkan kondisi dan situasi kaum beriman pada lokal mereka. Jadi, kaum beriman itu menjadi huruf-huruf yang dipakai oleh Paulus dalam menyusun huruf-huruf rohani sebuah suratnya.

Apakah arti hal ini bagi kita hari ini? Ini tak lain berarti bahwa dalam suatu gereja lokal para pemimpin perlu mencari pimpinan Tuhan melalui membaca situasi dan kondisi kaum beriman yang sebenarnya. Sebagai contoh, misalnya para pemimpin sedang mempertimbangkan apakah gereja perlu mengadakan sidang pemberitaan Injil atau tidak. Sebelum memutuskan, mereka harus memperhatikan kaum beriman dalam lokal mereka, mengetahui bagaimanakah kondisi kaum beriman. Kemudian berdasarkan pembacaan mereka atas kondisi dan situasi kaum beriman, para pemimpin itu akan menerima pimpinan Tuhan. Hal ini akan memungkinkan mereka mengetahui apakah saat itu mereka harus memberitakan Injil atau tidak.

Orang-orang Israel maju ke depan berdasarkan pimpinan yang mereka terima dari pembacaan tutup dada imam besar dengan Urim dan Tumim di hadapan Allah. Hari ini penting sekali bagi para pemimpin untuk membaca kondisi dan situasi kaum beriman di lokal mereka. Dengan jalan ini mereka akan menerima pimpinan Tuhan untuk kemajuan gereja.

Bagi kita hari ini tutup dada adalah gereja, dan batu-batu pada tutup dada adalah kaum beriman. Setiap orang beriman mengemban beberapa huruf. Karena itu, pada diri kaum beriman kita memiliki huruf-huruf dari abjad surgawi dan rohani. Tidak hanya demikian, melalui pembacaan kondisi dan situasi kaum beriman, kita bisa mendapatkan “kata-kata” tertentu. Bila kata-kata ini kita rangkaikan, kita akan mempunyai suatu kalimat yang lengkap, suatu pikiran yang lengkap. Inilah perkataan Allah melalui kaum beriman tebusan-Nya sebagai huruf-huruf. Dengan jalan inilah jemaat Tuhan tahu harus bagaimana berjalan maju ke depan.

SYARAT UNTUK MEMILIKI URIM DAN TUMIM

Urim dan Tumim ditambahkan pada tutup dada berdasarkan apa adanya tutup dada tersebut. Ada benda-benda tertentu yang diperlukan agar Urim dan Tumim ditambahkan ke dalam tutup dada. Harus ada dua belas batu berharga, dan pada batu-batu itu tertulis nama-nama dari dua belas suku, pembangunan batu-batu itu menjadi satu wujud, dihubungkan dan dirangkaikannya oleh rantai-rantai, tali-tali dan gelang-gelang, dan efod dengan tutup bahu. Karena itu, penambahan Urim dan Tumim memerlukan semua benda dasar ini. Ini menunjukkan apa adanya Kristus, apa adanya gereja, dan bagaimana gereja diikatkan pada Kristus adalah dasar untuk penambahan Urim dan Tumim. Jika kita sebagai umat tebusan Allah tidak diubah, jika kita tidak dibangun sebagai satu wujud, dan jika kita tidak dihubungkan oleh keilahian dan keinsanian Kristus untuk ekspresi-Nya, maka kita tidak mempunyai dasar untuk Urim dan Tumim. Jika kondisi kita miskin, seperti halnya kebanyakan orang Kristen, maka kita tidak mempunyai dasar, tidak ada kedudukan untuk Urim dan Tumim. Jadi penting sekali kita melihat bahwa perkara-perkara dasar mengenai tutup dada yang kita bahas dalam berita-berita ini adalah syarat untuk memiliki Urim dan Tumim.

Dalam Roma 8:14 Paulus mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Pimpinan Roh itu didasarkan atas hal-hal yang dibahas dalam ketiga belas ayat pertama dari Roma 8. Bila perkara-perkara dasar ini dirangkai, semua itu sebenarnya sama dengan pimpinan Roh. Hal ini dapat dibandingkan dengan matematika, bila bilangan-bilangan tertentu ditambahkan, maka akan terdapat suatu jumlah. Pimpinan dalam Roma 8:14 merupakan jumlah, total dari hal-hal rohani yang terliput dalam Urim dan Tumim. Penambahan Urim dan Tumim tergantung pada tutup dada, dua belas batu, pengukiran, untaian rantai, tali-tali, dan gelang-gelang. Tanpa semua unsur ini, sia-sialah usaha untuk menambahkan Urim dan Tumim.

DIUBAH, TEMBUS CAHAYA, DITULISKAN, DAN DITERANGI

Menurut lampiran dalam buku David Baron, Urim mempunyai dua belas alat penerang yang menerangi kedua belas batu permata yang tembus cahaya itu. Namun, andai kata tidak ada huruf-huruf yang tertulis pada batu-batu itu, apakah yang akan ditampilkan oleh penyinaran penerang-penerang melalui batu-batu itu? Tak akan ada sesuatu pun yang ditampilkan, karena tak ada huruf-huruf pada batu permata yang diterangi. Sekalipun batu-batu itu disinari oleh penerang-penerang dan dengan demikian bercahaya, tetapi tidak akan berisi apa-apa. Isinya tergantung pada huruf-huruf yang dituliskan pada batu-batu tersebut.

Sama prinsipnya dengan huruf-huruf hidup dari Kristus dalam 2Korintus 3. Bila Kristus terukir ke dalam insan kita, barulah kita menjadi surat-surat-Nya yang hidup. Sebagaimana Allah tidak dapat berbicara melalui tutup dada kecuali batu-batu permata itu telah terukir dengan huruf-huruf, demikian juga Allah tidak dapat berbicara melalui umat tebusan-Nya kecuali mereka telah terukir dengan Kristus. Ya, Tuhan memang berbicara melalui umat tebusan-Nya. Akan tetapi, sebenarnya Ia berbicara melalui Kristus yang telah terukir di dalam mereka. Ini berarti kita memerlukan isi Kristus terukir sebagai huruf-huruf dalam insan kita. Kalau tidak, Allah tidak mempunyai cara untuk berbicara melalui kita, karena tidak adanya huruf-huruf yang terukir di dalam kita.

Berapakah orang Kristen hari ini yang memiliki Kristus terukir dalam mereka? Hanya sedikit yang benar-benar tertulis dengan Kristus. Bahkan dari yang sedikit ini pun, jumlah Kristus yang terukir mungkin tidak terlalu banyak. Selain itu, kebanyakan orang Kristen tidak tembus cahaya. Bagaimanakah Tuhan dapat berbicara melalui orang-orang yang tidak terukir dengan Kristus dan tidak tembus cahaya? Ini tidak mungkin. Jika batu-batu permata yang diletakkan pada tutup dada itu mulai pudar, sekalipun penerang-penerang Urim menyinari mereka, mereka tidak akan bisa bercahaya melalui batu-batu buram semacam itu. Demikian juga, karena sangat banyak orang Kristen yang buram, Kristus tidak mempunyai jalan untuk bersinar melalui mereka. Kita perlu diubah, kita perlu menjadi tembus cahaya, dan kita perlu memiliki Kristus terukir di dalam kita. Dengan demikian terang itu akan bersinar melalui kita, orang lain akan bisa membaca huruf-huruf itu, isi hati Kristus akan terukir ke dalam kita. Namun, jika kita tidak diubah dan tidak jernih, dan jika kita tidak terukir dengan Kristus, tetapi kita hanya batu-batu permata yang buram, tanpa huruf apa pun yang terukir ke dalam kita, maka tidak mungkinlah Allah berbicara melalui kita.

DIBANGUNKAN MENJADI SATU WUJUD

Perkara dasar lainnya yang bertalian dengan tutup dada dengan Urim dan Tumim adalah kedua belas batu permata pada tutup dada itu tidak tercerai-berai, melainkan dibangun bersama-sama sebagai satu wujud. Ini menandakan umat tebusan Allah dibangun bersama sebagai satu wujud, yaitu gereja. Akan tetapi, orang-orang Kristen hari ini terpencar-pencar, terpisah-pisah, dan tercerai-berai. Sebab itu, tidak ada pembangunan. Kesatuan seperti yang digambarkan oleh tutup dada itu tidak ada.

Kita harus ingat bahwa kedua belas batu permata pada tutup dada disusun dalam tiga jajaran dengan masing-masing terdiri atas empat batu permata, menandakan keinsanian berbaur dengan keilahian untuk membentuk suatu satuan yang lengkap untuk ekspresi Allah yang penuh dan pemerintahan kekal-Nya. Inilah makna angka dua belas, dan ini juga merupakan syarat dasar untuk memiliki Urim dan Tumim.

Orang-orang Kristen sering membicarakan perihal bimbingan Allah dan pimpinan Tuhan. Sebenarnya, sebagian besar dari mereka tidak memiliki dasar untuk mengetahui pimpinan Tuhan. Apa yang mereka miliki sebenarnya bukanlah pimpinan atau bimbingan-Nya. Sebaliknya, sering kali itu adalah sesuatu yang menurut imajinasi serta perbuatan mereka sendiri. Bagaimana mungkin memiliki pimpinan Tuhan jika kita tidak memenuhi syarat-syarat dasar yang dilambangkan oleh tutup dada? Tidak mungkin kita memiliki pimpinan-Nya dalam situasi seperti itu. Butir-butir yang telah kita bahas tentang tutup dada adalah yang mendasar dan diperlukan untuk memiliki pimpinan Tuhan. Jika kita tidak mempunyai unsur-unsur dasar tersebut, tidak ada jalan untuk memiliki pimpinan Tuhan.

Saya ingin Anda memperhatikan sekali lagi cara kerja Urim dan Tumim yang tercatat dalam Keluaran 28:30. Ayat ini mengatakan, “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim.” Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Urim dan Tumim ditambahkan pada sesuatu yang sebelumnya telah dibuat. Pertama-tama tutup dada dengan semua unsurnya dipersiapkan, kemudian Urim dan Tumim, dua benda tambahan ditaruh ke dalamnya. Tanpa tersedianya tutup dada tidak mungkinlah Urim dan Tumim itu dimasukkan ke dalamnya. Urim dan Tumim sebenarnya menandakan pembicaraan Tuhan. Mereka tidak dapat ditambahkan ke tutup dada sebelum tutup dada ini benar-benar tersedia. Ini menunjukkan fakta, jika kita hari ini tidak memiliki tutup dada, Tuhan pun tidak ada jalan untuk berbicara kepada kita. Adanya perkataan Tuhan adalah hasil dari tersedianya atau siapnya tutup dada.

PERNYATAAN KEPUTUSAN ALLAH DAN PIMPINAN-NYA

Menurut Keluaran 28:29 dan 30, tutup dada tidak saja merupakan suatu peringatan di hadapan Allah, tetapi juga merupakan sebuah pernyataan keputusan. Setelah Urim dan Tumim dibubuhkan pada tutup dada, tutup dada itu menjadi tutup dada pernyataan keputusan. Ayat 29 dan 30 membicarakan pernyataan keputusan, bukan pimpinan atau bimbingan. Keputusan-keputusan yang dimaksud dalam Ulangan 33:10 bertalian dengan Urim dan Tumim dalam Ulangan 33:8 yang memberi tahu kita bahwa imam-imam, orang-orang Lewi, harus memiliki Urim dan Tumim. Keputusan-keputusan dalam Ulangan 33:10 ditujukan kepada keputusan dalam Keluaran 28:29 dan 30. Dalam kedua bagian firman tersebut keputusan berkaitan dengan Urim dan Tumim.

Dalam bahasa Inggris, “keputusan” (judgment) bisa berarti tindakan menghakimi atau keputusan penghakiman. Namun, itu bukanlah pengertian yang tepat atas kata keputusan yang dipakai dalam ayat-ayat ini. Dalam Ulangan 33:10, keputusan adalah bagian dari hukum Taurat Allah yang merupakan keseluruhan peraturan Allah. Biasanya bila kita memikirkan hukum Taurat Allah, kita mengaitkannya dengan Kesepuluh Perintah. Akan tetapi, hukum Taurat meliputi lebih banyak daripada Kesepuluh Perintah. Seperti yang telah kita lihat, Kesepuluh Perintah yang tercatat dalam Keluaran 20 dilengkapi dengan peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan yang tercatat dalam Keluaran 21—23. Semua ketetapan itu adalah keputusan. Karena itu, hukum Taurat tidak hanya mencakup Kesepuluh Perintah, tetapi juga mencakup ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan. Beberapa dari peraturan-peraturan tersebut menyinggung hukuman bagi orang yang memukul orang lain, dan beberapa lainnya berhubungan dengan ganti rugi karena merusak milik orang lain. Semua ketetapan itu adalah keputusan.

Kata “judgment” dalam bahasa Inggris yang dipakai untuk menerjemahkan Ulangan 33:10 dan Keluaran 28:29 dan 30 bisa menyesatkan. Mungkin kata itu dianggap sebagai suatu tindakan keputusan atau bahkan sebagai suatu opini, sebab keputusan kita mengacu kepada opini kita. Selain itu, keputusan juga mengandung penilaian (evaluasi). Tetapi ini bukanlah makna keputusan sehubungan dengan tutup dada pernyataan keputusan. Kata keputusan dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai suatu peraturan mengenai setiap perkara di antara umat-Nya. Semua peraturan akan menghasilkan keputusan, dan keputusan-keputusan ini menjadi pimpinan Allah. Jadi, pimpinan Allah berasal dari keputusan-Nya yang didasarkan pada peraturan-peraturan-Nya.

Ketika kita meninjau Keluaran 21—23, kita telah menunjukkan bahwa pasal-pasal tersebut merupakan tam-bahan pada Kesepuluh Perintah. Mula-mula Allah memberikan Kesepuluh Perintah, lalu Ia mengeluarkan berbagai peraturan dan ketetapan sebagai pelengkap atas perintah-perintah itu. Kesepuluh Perintah adalah prinsip peraturan-peraturan Allah, tetapi pelengkap-pelengkap dalam Keluaran 21—23 memberikan rincian dari peraturan-peraturan tersebut. Dalam peraturan-peraturan yang rinci ini kita memiliki keputusan Allah. Keputusan ini membawa kita kepada keputusan-keputusan tertentu. Alhasil, kita memiliki pimpinan Allah.

Peraturan-peraturan Allah selalu mencakup keputusan-Nya. Karena alasan itu, jika kita mau menerima pimpinan Tuhan, banyak hal mengenai diri kita perlu dihakimi oleh Allah. Daging kita, kesalahan-kesalahan kita, dan hayat alamiah kita harus dihakimi oleh Dia. Peraturan-peraturan Allah menuntut semua perkara itu untuk dikesampingkan. Apa yang tersisa setelah itu adalah yang betul-betul berasal dari Allah. Dengan cara demikian barulah kita mengetahui pimpinan Allah.