PAKAIAN IMAM (12)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 28:30; Im. 8:8; Bil. 27:21; Ul. 33:8-10;
Ezr. 2:63; 1Sam. 23:6, 9-12; 28:6
Dalam berita ini kita akan meneruskan pelajaran kita tentang Urim dan Tumim. Keluaran 28:30 mengatakan, “Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila Ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN.” Saya percaya bahwa Urim dan Tumim adalah bagian yang paling misterius dari seluruh pakaian yang dikenakan oleh imam besar. Jika kita ingin memahami Urim dan Tumim, kita harus mempelajari Perjanjian Lama dan juga memperhatikan pengalaman rohani kita.
LAMBANG-LAMBANG KRISTUS
Dalam mempelajari Urim dan Tumim, kita perlu mengikuti prinsip bahwa lambang-lambang dalam Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan adalah lambanglambang Kristus. Dalam kitab-kitab ini ada lambang Kristus yang individual dan juga Kristus yang korporat, yaitu gereja. Ini berarti dalam kelima kitab pertama dari Perjanjian Lama ada lambang-lambang dari Kristus itu sendiri dan lambang-lambang dari Kristus dengan gereja. Sebagai contoh, kita memiliki tabut yang melambangkan Kristus, dan Kemah Suci, yang terbuat dari empat puluh delapan lembar papan, melambangkan gereja. Lagi pula dari pakaian imam kita memiliki lambang-lambang Kristus dan gereja. Efod melambangkan ekspresi Kristus, dan tutup dada yang dikenakan oleh imam besar melambangkan gereja. Karena itu, tutup dada yang terletak di atas efod melambangkan gereja yang dipikul oleh Kristus.
Saya menganjuri kaum beriman baik-baik meluangkan waktu untuk mempelajari lambang-lambang Kristus dengan gereja dalam kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena selama bertahun-tahun ketika bersama-sama dengan Kaum Saudara, saya mempelajari lambang-lambang Alkitab. Kebanyakan lambang-lambang itu bukanlah hal yang baru bagi saya. Akan tetapi, mengerti penerapan dari lambang-lambang ini pada pengalaman kita memerlukan kajian lebih lanjut. Dalam berita ini kita mempelajari Urim dan Tumim menurut Perjanjian Lama dan juga mencoba menerapkan lambang ini pada pengalaman kita menurut keperluan hari ini.
PENERAPAN URIM DAN TUMIM
DALAM PERJANJIAN LAMA
Selain dalam Keluaran 28:30, ada sejumlah referensi tentang Urim dan Tumim dalam Perjanjian Lama. Imamat 8:8 mengatakan, “Dikenakannyalah tutup dada kepadanya dan dibubuhnya di dalam tutup dada itu Urim dan Tumim.” Menurut Bilangan 27:21, mengenai Yosua, Tuhan berkata kepada Musa: “Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.” Ezra 2:63 dan Nehemia 7:65 juga membicarakan tentang Urim dan Tumim berkenaan dengan situasi historis yang sama. Ezra 2:63 mengatakan, “Dan tentang mereka diputuskan oleh kepala daerah, bahwa mereka tidak boleh makan dari persembahan maha kudus, sampai ada seorang imam bertindak dengan memegang Urim dan Tumim.” Tentang Urim dan Tumim juga disinggung dalam Ulangan 33:8-10 dan 1Samuel 23:6, 9-12 dan 28:6.
Mengenai Urim dan Tumim, kita dibantu oleh catatan tambahan dalam buku David Baron yang berjudul The Ancient Scriptures and the Modern Jew. Urim dan Tumim adalah dua benda yang ditaruh dalam tutup dada di samping kedua belas batu permata. Dalam bahasa Ibrani “Urim” berarti “terang”, “benda penerang”, sedang “Tumim” berarti “pelengkap”, “penyempurna”. Penempatan Urim dan Tumim dalam tutup dada menyebabkan tutup dada menjadi tutup dada pernyataan keputusan.
Harun
Menurut sejarah dalam Perjanjian Lama, Urim dan Tu-mim ditempatkan pada beberapa macam orang. Pemakaian pertama adalah pada Harun (Im. 8:8). Walaupun Harun mengenakan tutup dada dengan Urim dan Tumim, namun diragukan apakah ia pernah mempergunakannya. Selama Harun menjabat sebagai imam besar, Musa masih hidup. Musa adalah seorang yang luar biasa; Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah berbicara dengan dia secara langsung, tanpa perantara, alat, atau penengah apa pun. Keluaran 33:11 mengatakan, “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Bilangan 12:8 menyatakan bahwa Tuhan berbicara dengan Musa dengan “Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki.” Karena Tuhan berbicara dengan Musa secara langsung dan akrab seperti itu, maka selama hidupnya, Tuhan tidak memerlukan Urim dan Tumim untuk menyatakan kehendak-Nya kepada Harun. Harun mati lebih dulu daripada Musa. Karena itu, sekalipun Harun mengenakan efod dan tutup dada serta Urim dan Tumim, ia tidak pernah menggunakannya. Dengan kata lain, selama masa Harun menjadi imam besar, Allah tidak berbicara dengan umat-Nya lewat Urim dan Tumim, karena Ia memiliki seseorang, Musa, yang dengan-Nya Ia berbicara dengan berhadapan muka.
Eleazar bagi Yosua
Urim dan Tumim kemudian dikenakan kepada Eleazar, putra Harun. Sesudah Harun dan Musa mati, Yosua berdiri pada posisi sebagai pemimpin umat Israel. Akan tetapi, Allah tidak berbicara dengannya seperti Ia berbicara dengan Musa. Malahan Allah menyuruh Musa memberi tahu Yosua, jika ia ingin mengetahui maksud atau pimpinan Allah, ia harus pergi ke imam besar (Bil. 27:21). Pada waktu itu, yang menjabat imam besar adalah Eleazar. Karena itu, Yosua harus pergi ke Eleazar untuk menerima wahyu kehendak Allah melalui Urim dan Tumim.
Menurut catatan tambahan dalam buku David Baron, melalui Urim dan Tumim didapati bahwa Akhanlah yang berdosa, sehingga menyebabkan kekalahan umat Israel di Ai. Kisah ini dicatat dalam Yosua 7:16-21. Melalui Urim dan Tumim, maka suku-suku, keluarga, dan perorangan telah ditemukan.
Imam-imam Orang Lewi bagi Israel
Setelah Eleazar, Urim dan Tumim dikenakan oleh setiap imam besar orang Lewi bagi umat Israel (Ul. 33:8-10; Ezr. 2:63; Neh. 7:65). Dalam Ulangan 33:8-10 kita melihat orang yang bagaimanakah yang memenuhi syarat untuk memperoleh wahyu melalui Urim dan Tumim. Orang ini bukan saja harus kudus, tetapi juga saleh. Menjadi orang yang saleh berarti menunjukkan ibadah, yaitu menjadi orang yang bersatu dengan Allah. Orang yang saleh tidak hanya untuk Allah, lebih-lebih bersatu dengan Allah. Seorang yang benar-benar kudus boleh jadi untuk Allah, tetapi seorang yang ibadah adalah orang yang bersatu dengan Allah. Ulangan 33:8-9 mengatakan, “Tentang Lewi ia berkata: ‘Biarlah Tumim dan Urim-Mu menjadi kepunyaan orang yang Kaukasihi, yang telah Kaucoba di Masa, dengan siapa Engkau berbantah dekat mata air Meriba; yang berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya. Sebab orang-orang Lewi itu berpegang pada firman-Mu dan menjaga perjanjian-Mu.’” Ayat 9 menunjukkan bahwa di antara orang-orang beriman ini dengan Allah tidak ada sekatan. Anggota-anggota keluarga mereka pun tidak dapat memisahkan mereka dari Allah. Ini sangat mirip dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam kitab Injil: “Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:37). Tuhan Yesus juga berkata, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapak-nya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:26). Bahkan dalam Perjanjian Lama pun Musa mengajarkan hal yang prinsip-nya sama dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Hubungan kita dengan keluarga kita tidak boleh memisahkan kita dari Tuhan.
Selanjutnya Ulangan 33:10 mengatakan, “Mereka mengajarkan peraturan-peraturan-Mu kepada Yakub, hukum-Mu kepada Israel; mereka menaruh ukupan wangi-wangian di depan-Mu dan kurban yang terbakar seluruhnya di atas mezbah-Mu.” Menurut ayat ini, orang yang layak memakai Urim dan Tumim adalah orang yang juga mempersembahkan kurban bakaran dan membakar ukupan. Baik kurban bakaran maupun ukupan adalah bau-bauan harum kepada Tuhan. Dalam pelambangan hanya ada dua benda yang memberikan bau-bau wangi yang menyenangkan Allah. Allah mencium bau wangi dari kurban bakaran, dan yang paling Ia senangi adalah bau harum dari ukupan yang ada di dalam Kemah Suci. Baik kurban bakaran maupun ukupan adalah lambang dari Kristus. Jadi, seorang yang saleh mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran dan sebagai ukupan yang wangi. Membakar ukupan berarti mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai ukupan yang harum semerbak. Jika kita benar-benar bersatu dengan Allah, kita harus mempersembahkan kurban bakaran, dan membakar ukupan, agar Dia bisa menikmati bau yang harum.
Sekarang kita dapat melihat kelayakan imam, yaitu orang yang bisa mengemban tugas memakai Urim dan Tumim, supaya Allah bisa berbicara kepada umat-Nya. Imam adalah orang yang saleh. Orang yang memelihara persekutuan langsung dengan Allah, dan mempersembahkan kurban bakaran serta ukupan kepada Allah. Hal ini memung-kinkan imam untuk mempergunakan Urim dan Tumim.
Abyatar untuk Daud
Dalam Kitab 1Samuel kita melihat bahwa situasi di antara umat Allah menjadi tidak normal. Sebagian besar dari imam telah dibunuh oleh Raja Saul, dan Imam Abyatar melarikan diri kepada Daud. Satu Samuel 23:6 mengatakan, “Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya.” Tidak diragukan, Urim dan Tumim melekat pada efod. Satu Samuel 23:9-12 menunjukkan bahwa Abyatar menggunakan Urim dan Tumim untuk memperoleh jawaban Tuhan terhadap pertanyaan Daud mengenai diri Saul. Setelah memberi tahu Abyatar, imam itu, untuk membawa efod, Daud berkata, “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini” (ayat 10-11). Tuhan, melalui Urim dan Tumim, memberi tahu Daud bahwa Saul akan datang dan warga kota Kehila akan menyerahkan Daud ke tangan Saul. Karena itu, Daud menerima jawaban dari kedua pertanyaan yang riil itu melalui Urim dan Tumim yang dikenakan oleh Imam Abyatar. Daud diberi jawaban yang jelas melalui mesin ketik surgawi dari Urim dan Tumim.
Tidak untuk Saul
Karena Daud adalah orang yang saleh, maka Tuhan menjawab melalui Urim dan Tumim. Akan tetapi, Raja Saul bukanlah orang yang saleh, maka ia tidak menerima jawaban apa pun dari Urim dan Tumim. Jadi, Urim dan Tumim bekerja untuk Daud, tetapi tidak untuk Saul, Daud adalah orang yang saleh, tetapi Saul tidak. Faktanya, ketika saatnya tiba, Allah tidak bersangkut paut lagi dengannya. Satu Samuel 28:6 mengatakan, “Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi.” Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Urim dan Tumim tidak berguna bagi Saul.
Satu Samuel 28:6 memperlihatkan Allah mewahyukan sesuatu dengan tiga cara: melalui mimpi, Urim, dan nabi-nabi. Dari ketiga cara ini, cara manakah yang lebih Anda sukai? Saya tidak menyukai cara mimpi. Saya lebih suka Allah berbicara kepada saya secara langsung daripada melalui sebuah mimpi. (Namun demikian, dari pengalaman saya mengetahui bahwa ada mimpi yang memang berasal dari Allah dan memang Ia mewahyukan perkara-perkara tertentu melalui mimpi). Apakah Anda lebih suka Allah berbicara kepada Anda melalui nabi? Sebab-sebab timbulnya nabi-nabi adalah karena imam-imam dan raja-raja telah gagal di pandangan Allah. Karena Allah tidak mempunyai jalan untuk maju ke depan bersama imam dan raja; maka nabi-nabi dibangkitkan oleh-Nya. Inilah sebabnya, dalam Perjanjian Lama pertama-tama kita memiliki imam-imam, lalu raja-raja, dan kemudian nabi-nabi. Namun demikian, sebagian orang Kristen lebih suka mendengar seseorang berbicara dengan gaya nabi-nabi dalam Perjanjian Lama dan mengucapkan: “Demikianlah firman Tuhan.” Jika Anda menyenangi cara berbicara seperti ini dan lebih suka Allah berbicara melalui nabi-nabi, ini boleh jadi merupakan suatu tanda bahwa Anda tidak akrab dengan Tuhan. Jika Anda adalah seorang yang akrab dengan Tuhan, Anda akan menjadi seorang imam yang memiliki Urim dan Tumim. Kita akan lebih suka Allah berbicara bukan melalui mimpi atau melalui nabi-nabi, melainkan melalui Urim dan Tumim. Kita bukanlah pemimpi-pemimpi atau nabi-nabi; kita adalah imam-imam yang memiliki Urim dan Tumim.
KRISTUS SEBAGAI SAKSI DAN PENERANG
Urim dan Tumim adalah lambang-lambang Kristus. Sangatlah bermakna bahwa yang dibubuhkan pada tutup dada ialah dua benda, bukan satu atau tiga. Dua adalah angka kesaksian, dan kedua benda ini, Urim dan Tumim, menyatakan bahwa Kristus adalah saksi, kesaksian. Ia adalah Urim dan Tumim. Sebagai alat bagi Allah untuk berbicara kepada kita, Kristus adalah suatu kesaksian. Dia adalah saksi yang hidup. Dalam Wahyu 3:14, Ia menunjuk pada diri-Nya sebagai saksi yang setia dan benar. Dari pengalaman kita mengetahui dan memahami bahwa Kristus benar-benar adalah saksi Allah, kesaksian Allah.
Urim melambangkan Kristus sebagai terang, penerang. Tak usah diragukan lagi, Kristus adalah terang, dan Ia juga adalah penerang yang sejati. Hal ini mudah dipahami, karena dalam Perjanjian Baru Kristus mengatakan tentang diri-Nya sendiri, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12). Selain itu, Paulus menyatakan bahwa Kristus menyinari kita dan menerangi kita: “Itulah sebabnya dikatakan, ‘Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu’” (Ef. 5:14).
KRISTUS BERSINAR MELALUI ROH ITU DAN MELALUI SALIB
Tambahan dalam buku “The Ancient Scriptures and the Modern Jew” mengatakan bahwa Urim berisi minyak yang dinyalakan dengan api yang berasal dari mezbah. Api itu berasal dari Allah. Karenanya api itu adalah api ilahi, api surgawi, yang menyalakan minyak dalam Urim untuk memberikan terang. Ini sangat bermakna. Minyak melambangkan Roh itu dan api berasal dari mezbah yang melambangkan salib. Sebagai penerang, Kristus sudah tentu memiliki minyak, Roh itu. Roh membakar melalui salib. Hari ini Kristus, Penerang, bersinar melalui Roh yang terbakar itu.
Saya minta Anda merenungkan makna Urim dan Tumim menurut pengalaman rohani Anda. Sekalipun pengalaman Anda mungkin terbatas, tetapi Anda pasti memiliki beberapa pengalaman tentang Kristus bersinar di dalam Anda. Tidakkah Anda menyadari bahwa Kristus yang bersinar ini bekerja melalui Roh itu dan juga melalui salib? Mungkin kita tidak memiliki kata-kata untuk menerangkan hal ini, tetapi dalam pengalaman kita menyadari bahwa ketika Kristus bersinar di dalam kita, Roh pemberi-hayat membakar, dan salib pun bekerja. Dalam pengalaman kita atas Kristus sebagai Penerang, Persona yang menyinari, kita memiliki salib, Roh itu, dan Kristus itu sendiri.