← Daftar isi Keluaran (8) · bab 11/19

PAKAIAN IMAM (9)

Pembacaan Alkitab: Kel. 28:15-21; 39:8-14

Kita telah membicarakan bahwa cara pembuatan maupun bahan tutup dada sama dengan cara pembuatan dan bahan efod, dan berbentuk empat persegi serta berlipat dua. Tutup dada menandakan gereja memiliki pembentukan dan unsur pokok yang sama dengan Kristus, gereja juga adalah satu kesaksian yang sempurna yang berada di dalam tangan Kristus. Sekarang kita akan melanjutkan membahas kedua belas batu permata pada tutup dada itu.

SATU WUJUD YANG TERDIRI ATAS

DUA BELAS BATU PERMATA

Tercatat dalam ayat 21: “Sesuai dengan nama para anak Israel, permata itu haruslah dua belas banyaknya; dan pada tiap-tiap permata haruslah ada, diukirkan seperti meterai, nama salah satu suku dari yang dua belas itu.” Nama kedua belas suku Israel terukir pada dua belas batu permata menandakan seluruh umat tebusan Allah. Kedua belas batu permata ini bukan menandakan umat tebusan Allah secara terpisah atau individual, melainkan secara korporat. Batu-batu permata itu memang merupakan potongan-potongan yang terpisah-pisah, tetapi tidak terpecah belah. Sebaliknya, mereka digabungkan, diletakkan bersama-sama. Dengan istilah Perjanjian Baru, batu-batu itu telah dibangun bersama. Kedua belas batu permata dibangun bersama-sama menjadi satu wujud bangunan, dan nama dari wujud itu adalah tutup dada.

Tuhan memikul kita secara korporat, bahkan secara gabungan. Tuhan Yesus membangun kita bersama, Ia telah menggabungkan kita ke dalam suatu wujud. Tutup dada adalah satu wujud yang tersusun dari dua belas batu permata yang terpisah, yang individual. Ini menyatakan bahwa kaum beriman jelas adalah individu-individu yang berbeda, tetapi mereka tidak terpecah belah. Memang kita adalah potongan-potongan yang terpisah-pisah, tetapi kita bukanlah wujud yang terpisah-pisah, yang individualistis. Akan tetapi, orang-orang Kristen hari ini telah terpisah-pisah dan terpecah belah. Menurut pengertian mereka, Tuhan memikul mereka secara individualistis. Jika demikian keadaannya, maka seorang yang dipikul Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan kaum beriman lain yang dipikul-Nya. Namun, Tuhan tidak memikul kita secara individualistis. Sebaliknya Ia memikul satu wujud, gereja, yakni Tubuh-Nya. Jika kita telah menerima terang dari Tuhan, kita akan berduka atas situasi di antara orang Kristen hari ini. Kita akan merasa sedih atas perpecahan di antara umat Allah.

Memang, bani Israel ada dua belas suku, tiap suku diwakili oleh sebuah batu permata pada tutup dada. Namun, semua batu itu dibangun bersama menjadi satu wujud. Karena itu, tutup dada sebenarnya adalah satu bangunan dari batu-batu permata yang diikat dengan emas. Emas adalah unsur yang memungkinkan kedua belas batu permata itu menjadi satu bangunan.

MENANDAKAN PENGUBAHAN

Kedua belas batu pada tutup dada adalah batu-batu permata. Batu-batu permata ini menandakan pengubahan sifat insani oleh dan bersama sifat ilahi. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa batu-batu ini menandakan pengubahan? Kita mengetahuinya dari fakta bahwa batu-batu ini adalah batu-batu permata. Batu-batu permata bukanlah sesuatu yang semula diciptakan oleh Allah, melainkan terbentuk menjadi batu-batu permata melalui proses pengubahan. Melalui proses inilah tanah liat atau bahan-bahan lainnya diubah menjadi batu-batu permata.

Sebuah gambaran dari proses pengubahan ini dapat ditemukan pada cara perubahan kayu menjadi kayu yang membatu. Selama sejangka waktu, air menjenuhi kayu itu sambil mengangkut keluar unsur-unsur alami kayu itu dan menggantikannya dengan unsur-unsur jenis lain. Pada akhirnya kayu itu berubah menjadi batu.

Kehidupan orang Kristen meliputi suatu proses pengubahan dari hari ke hari. Alkitab mengatakan bahwa manu-sia diciptakan dari debu tanah: “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7). Pada suatu hari aliran surgawi berikut mineral-mineral ilahi masuk ke dalam insan kita. Mineral-mineral ilahi ini adalah sifat ilahi (2Ptr. 1:4), dan airnya adalah hayat ilahi, Roh ilahi. Ketika air hayat ini masuk ke dalam kita, air hayat ini mulai menghanyutkan hayat alamiah kita dan menambahkan unsur-unsur ilahi lebih banyak ke dalam diri kita. Inilah pengubahan. Hari demi hari kita memperhidupkan suatu hayat pengubahan. Kita semua sedang mengalami pekerjaan pengubahan yang dilakukan oleh Allah.

Dalam pemulihan Tuhan kita sangat memperhatikan masalah pengubahan. Akan tetapi, penulis-penulis lain tidak banyak menulis tentang pentingnya pengubahan ini. Namun demikian, adalah suatu fakta bahwa semua orang beriman pada akhirnya akan diubah. Jika proses pengubahan ini tidak bisa digenapi pada zaman ini, Allah akan mempunyai akal untuk menggenapinya pada zaman yang akan datang. Dalam Yerusalem Baru, semua orang beriman akan diubah menjadi batu-batu permata. Babel dibangun dengan batu-batu bata, tetapi di Yerusalem Baru semua orang beriman akan diubah menjadi batu-batu permata. Babel dibangun dengan batu-batu bata, tetapi di Yerusalem Baru tidak terdapat batu-batu bata. Kota ini akan dibangun dengan bahan-bahan yang telah diubah; yaitu akan disusun dengan kaum tebusan Allah, umat yang telah diubah. Kalau demikian orang-orang Kristen yang bagaimanakah yang mengambil bagian dalam Kerajaan Seribu Tahun? Mereka adalah orang-orang yang telah diubah selama masa hidup mereka. Namun, dalam kekekalan di Yerusalem Baru, seluruh umat Allah akan berada di sana sebagai orang-orang yang telah diubah. Hayat orang Kristen adalah hayat pengubahan. Setiap hari Allah selalu berusaha mengubah kita.

Pengubahan ini adalah pengubahan sifat insani oleh dan bersama sifat ilahi. Ini berarti suatu bahan yang lebih baik akan digarapkan ke dalam kita. Alhasil, meskipun kita terbuat dari debu tanah, kita akan diubah menjadi sesuatu yang berharga dan bening. Ini terjadi karena kita telah dijenuhi dengan bahan-bahan yang lebih baik, yaitu dengan bahan-bahan surgawi.

Saya dapat bersaksi bahwa saya masih memerlukan lebih banyak pengubahan. Saya tahu bahwa saya sesungguhnya belum sempurna dan proses pengubahan itu masih belum tergenapi. Akan tetapi, saya dapat bersaksi bahwa saya sekarang sangat berbeda dari keadaan saya bertahun-tahun yang lampau. Ketika saya masih seorang Kristen muda, saya adalah seorang yang tersusun dari tanah liat. Namun, setelah bertahun-tahun, saya telah mengalami banyak pengubahan dari Roh itu. Sebab itu, dengan sungguh-sungguh saya dapat bersaksi bahwa saya hari ini lebih banyak diubah dibandingkan dengan tahun-tahun yang silam. Banyak orang beriman dapat bersaksi demikian, karena kita semua menempuh suatu kehidupan pengubahan.

Kedua belas batu permata terletak pada ikatan emas (ayat 17, 20). Ini menandakan bahwa kaum beriman terjaga di dalam sifat ilahi Kristus.

EMPAT JAJAR PERMATA

Kedua belas batu permata itu disusun dalam empat jajar. Sekali lagi, angka empat yang dipakai di sini menandakan makhluk ciptaan. Keluaran 28:17-20 mengatakan, “Haruslah kautatah itu dengan permata tatahan, empat jajar permata: permata yaspis merah, krisolit, malakit, itulah jajar yang pertama; jajar yang kedua: permata batu darah, lazurit, yaspis hijau; jajar yang ketiga: permata ambar, akik, kecubung; jajar yang keempat: permata pirus, krisopras dan nefrit. Dengan berikatkan emas, demikianlah permata-permata itu dalam tatahannya” Dari sini kita melihat bahwa pada masing-masing jajar dari keempat jajar itu terdapat tiga batu permata. Mungkin kita ingin bertanya, mengapa kedua belas permata itu disusun secara demikian, karena batu-batu tersebut bisa disusun dengan banyak cara yang lain, dengan banyak pola dan bentuk lain. Akan tetapi, cara Allah adalah cara yang paling sederhana, cara yang kelihatannya tanpa keindahan yang artistik, namun merupakan cara yang penuh dengan makna rohani.

Keempat jajar batu permata dengan tiga batu permata pada masing-masing jajaran menandakan Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Angka empat menandakan makhluk ciptaan, sedang angka tiga tidak saja menandakan Allah Tritunggal, tetapi Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Supaya berada dalam kebangkitan, maka Allah Tritunggal harus melewati proses. Hari ini Allah yang kita nikmati adalah Allah Tritunggal yang telah melewati proses dalam kebangkitan. Sekarang Allah Tritunggal ini adalah Roh almuhit yang berhuni di dalam roh kita sebagai mineral-mineral yang unggul, yang bekerja di dalam kita untuk menjenuhi seluruh insan kita, sehingga kita bisa diubah. Dengan cara inilah, insan kita, insan alamiah kita diubah bersama mineral-mineral ilahi. Inilah makna kedua belas batu permata yang tersusun dalam empat jajar dengan tiga batu permata pada masing-masing jajaran. Ini bukanlah penafsiran saya.

Ini adalah cara yang telah direncanakan oleh Allah, dan yang cocok dengan keseluruhan wahyu Alkitab.

Pada tutup dada seluruhnya terdapat dua belas batu permata. Angka dua belas di sini terdiri atas tiga kali empat. Kedua belas batu permata menandakan perbauran Allah dengan manusia untuk menggenapkan kehendak kekal Allah dan administrasi pemerintahan Allah. Dalam Kitab Wahyu, angka tujuh sering dipakai, terutama pada pasal-pasal permulaan. Kita membaca tujuh kaki pelita, tujuh bintang, tujuh gereja, tujuh roh, tujuh meterai, tujuh sangkakala, tujuh cawan. Namun, pada akhir Kitab Wahyu, dalam melukiskan Yerusalem Baru, yang dipakai adalah angka dua belas; dua belas pintu gerbang, dua belas malaikat, dua belas batu dasar, dua belas rasul Anak Domba, dua belas mutiara, dua belas buah. Angka tujuh menandakan Allah Tritunggal (tiga) ditambah dengan makhluk ciptaan-Nya, manusia (empat). Hal ini semata-mata merupakan masalah penggabungan, atau penambahan; bukan masalah perbauran, perlipatgandaan. Akan tetapi, dua belas terdiri dari tiga kali empat, menunjukkan perbauran, perlipatgandaan.

Saya telah dipersalahkan sebagai bidah karena mengajarkan tentang perbauran Allah dengan manusia. Kebanyakan guru Kristen hanya mengajarkan tentang persatuan Allah dengan manusia atau bergabungnya Allah dengan manusia. Tetapi Alkitab tidak hanya mewahyukan persatuan atau penggabungan, lebih-lebih mewahyukan perbauran. Apa yang kita miliki dalam firman, adalah perlipatgandaan dan juga penjumlahan. Tiga ditambah empat merupakan penjumlahan, tetapi tiga kali empat merupakan perkalian. Akhirnya, dalam kekekalan, kita tidak menjadi angka tujuh, melainkan akan menjadi angka dua belas.

Sudah tentu adanya angka dua belas baik dalam tutup dada maupun Yerusalem Baru bukanlah suatu hal yang kebetulan. Hal ini pasti sesuai dengan apa yang telah Allah rencanakan dalam kekekalan. Rencana Allah adalah ingin memiliki sesuatu yang ditandai oleh angka dua belas, yaitu perbauran Allah Tritunggal dengan ciptaan-Nya. Dalam pandangan manusia, gereja-gereja hari ini berangka tujuh. Namun, dalam pandangan Allah dan menurut visi kekal-Nya, gereja-gereja berangka dua belas.

Bagi Allah sebenarnya tidak ada waktu, karena Ia memandang segala perkara dari kekekalan sampai kekekalan. Di surga, Allah tidak ada jam, yang ada hanya kekekalan. Jadi, menurut pandangan Allah, gereja berangka dua belas. Lagi pula, menurut makna tutup dada, apa yang dipikul Kristus di atas hati-Nya adalah suatu gereja yang kekal, bukan gereja yang sementara. Gereja yang dipikul Kristus adalah perbauran keilahian dengan keinsanian.

Hari ini ada sebagian orang menentang wahyu tentang perbauran antara Allah dengan manusia. Cepat atau lambat, para penentang yang adalah saudara-saudara sejati dalam Tuhan itu akan menerima hal ini dan menikmatinya. Saya percaya saatnya akan tiba, mereka akan mengakui bahwa mengatakan gereja yang kekal, gereja yang dipikul Kristus di atas hati-Nya, adalah suatu perbauran dari Allah Tritunggal dengan manusia yang telah ditebus itu mutlak benar dan alkitabiah. Kemudian orang-orang yang terkasih ini akan menikmati perkara yang pernah mereka tolak ini.

Dalam Perjanjian Baru terdapat empat belas Surat Kiriman yang ditulis oleh Paulus. Sebagian besar dari Surat-surat Kiriman tersebut membicarakan tentang gereja. Sekalipun demikian, dalam keempat belas Surat Kiriman itu kita tidak bisa menemukan perincian tentang gereja seperti yang ditunjukkan dalam lambang tutup dada dalam Keluaran 28. Karena itu, saya anjurkan Anda untuk mendoa bacakan Keluaran 28:15-21. Besar sekali manfaatnya bila Anda menggunakan berita ini untuk mendampingi doa baca Anda. Jika Anda menggunakan cukup banyak waktu untuk mendoabacakan seluruh ayat tersebut, saya percaya Anda akan menyembah Tuhan dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku memuji Engkau. Ayat-ayat ini menunjukkan kepadaku beberapa rincian yang mustika tentang gereja.”

Sebagaimana tutup dada tertunjang di atas hati imam besar, demikianlah gereja yang dilambangkan oleh tutup dada berada di atas hati Kristus. Kata “dada” dalam ayat-ayat ini sebenarnya menandakan hati, hati Kristus yang mengasihi dan memperhatikan. Gereja berada di atas hati Kristus dan di dalam jengkal perhatian yang pengasih. Haleluya, kita telah dibaurkan dengan hayat dan sifat ilahi, dan kita sedang mengalami proses pengubahan. Ketika kita diubah dan dibaurkan dengan Dia, dengan spontan kita akan menjadi bagian-bagian dari abjad surgawi yang dilambangkan oleh batu-batu permata pada tutup dada. Kemudian kita semua akan memikul huruf-huruf yang menyusun bahasa ilahi yang mewahyukan kehendak Allah itu.

Ketika membaca ayat-ayat mengenai tutup dada, kita mudah membacanya secara alamiah dan tidak begitu tertarik kepadanya. Kalau keadaan kita demikian, kita akan tidak mau meluangkan banyak waktu untuk membaca potongan firman ini. Namun, jika kita membaca ayat-ayat ini menurut wahyu Tuhan dan menurut visi ilahi, kita akan menyukainya dan senang membacanya berulang-ulang; karena dalam ayat-ayat ini kita melihat visi dari beberapa rincian gereja yang sangat halus.

Butir-butir mengenai gereja yang telah kita bahas dalam berita ini dan dalam berita-berita yang terdahulu sangat dalam. Gereja digambarkan oleh tutup dada dengan kedua belas batu permatanya. Kita telah melihat bahwa batu-batu permata ini dihasilkan melalui proses pengubahan. Ini menandakan bahwa gereja adalah sesuatu yang dihasilkan melalui proses pengubahan; pengubahan dari sesuatu yang alamiah menjadi sesuatu yang ilahi. Batu-batu permata itu bukanlah diciptakan Allah secara langsung, melainkan dihasilkan melalui pengubahan bahan lain yang diciptakan oleh Allah. Kedambaan Tuhan hari ini adalah memiliki sekelompok orang yang telah diubah, sekelompok orang beriman yang dilambangkan oleh kedua belas batu permata di atas tutup dada itu.

Memang sukar bagi penerjemah Alkitab mana pun untuk mengatakan dengan tepat bahan-bahan berharga apakah yang oleh kata-kata Ibrani dipakai untuk menunjukkan berbagai batu pada tutup dada. Tak bisa diragukan, pada zaman Musa, setiap kata dan setiap batu mempunyai makna tertentu. Sekarang, setelah lewat ribuan tahun, sulitlah bagi kita untuk mengartikan dengan pasti makna dari setiap kata Ibrani tersebut. Akan tetapi, sudah tentu bahwa kedua belas batu permata itu adalah batu-batu berharga yang telah mengalami pengubahan. Kita juga mengetahui bahwa batu-batu permata ini menandakan kaum beriman, umat tebusan Allah. Batu-batu permata itu bukan menandakan kaum beriman dari bangsa-bangsa atau kebudayaan yang berbeda-beda. Tidak, batu-batu ini menunjukkan sekelompok orang yang telah diubah, yakni mereka yang telah diubah dari sesuatu yang alamiah menjadi sesuatu yang ilahi. Tambahan pula, tersusunnya kedua belas batu permata dalam empat jajar dengan masing-masing terdiri atas tiga batu permata menyatakan bahwa kaum beriman bukan saja diubah, tetapi juga dibaurkan dengan Allah Tritunggal. Kaum beriman yang telah diubah dan dibaurkan ini juga diikat dengan emas, sifat ilahi Kristus, dan dengan demikian terbangun menjadi satu wujud. Orang-orang ini, yang berangka dua belas, menggenapkan kehendak kekal Allah dan menjadi administrasi pemerintahan ilahi di dalam alam semesta. Masalah administrasi pemerintahan Allah juga dinyatakan oleh angka dua belas. Gereja yang sedemikian ini berada di dalam hati Kristus dan berada di dalam jengkal tangan-Nya.

Karena lambang tutup dada yang menggambarkan aspek-aspek gereja tidak terliput dengan jelas dalam Perjanjian Baru, maka saya anjurkan kalian memperhatikan hal ini dengan cermat. Kita perlu melihat visi gereja yang disampaikan oleh tutup dada ini, dan setelah melihat visi ini, kita harus setia terhadapnya.

REPRODUKSI DALAM HAYAT

Perhatian kita dalam pemulihan Tuhan tidak seharusnya tertuju kepada jumlah atau perluasan pekerjaan di luar. Itu bukanlah cara Tuhan. Cara Tuhan adalah menciptakan Adam dan kemudian mengisi bumi dengan reproduksi dan perbanyakan dalam hayat. Dari hayat seorang manusia, Adam, timbullah milyaran manusia. Inilah cara Allah untuk mengisi bumi. Adam tidak membentuk dewan misi dan tidak membuat rencana-rencana, program-program, dan jadwal-jadwal untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Adam hanya hidup dan melahirkan anak-anak. Alhasil, bumi dipenuhi oleh manusia.

Mungkin kita mengira bahwa cara reproduksi dalam hayat adalah lambat. Hari ini banyak orang Kristen menempuh cara pekerjaan, program-program, organisasi-organisasi, dan rencana-rencana, tetapi itu bukanlah cara hayat. Saya anjurkan Anda setia kepada apa yang telah Tuhan tunjukkan kepada kita dan hiduplah menurut itu. Kalau kita melihat visi dan menempuh hidup sesuai dengan visi itu, pemulihan akan tersebar luas dan akan mengisi bumi ini.

Syukur kepada Tuhan bahwa kita adalah orang-orang Kristen yang sejati. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, supaya kita tidak hanya sejati, tetapi juga bernilai batu-batu permata, yang telah diubah dan dibaurkan dengan Allah, serta dibangun bersama menjadi kesaksian Allah. Inilah yang Tuhan inginkan hari ini.