BAGAIMANA MENUNAIKAN KEWAJIBAN SEKERJA DAN PENATUA (2)
GARIS BESAR
I. Berhati-hati terhadap :
D. Tidak diserupakan dengan kematian Kristus tidak menyangkal (mematikan) ego, manusia alamiah, watak yang didapat dari lahir, daging, selera, dan ambisi Anda - Flp. 3:10b; Mat. 16:24; Gal. 2:20; 5:24.
E. Tidak berjalan dan tidak membiarkan diri kita dengan ketat menuruti roh perbauran - Rm. 8:4.
F. Tidak meletakkan pikiran Anda di atas roh perbauran - Rm. 8:5-6.
G. Tidak memperbesar Kristus dengan memperhidupkan Dia melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus - Flp. 1:19-2 1.
H. Tidak hidup dengan Kristus, tidak berjalan, bekerja, dan bergerak dengan Dia.
I. Tidak membiarkan Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati Anda melalui manusia batin Anda dikuatkan oleh Bapa menurut kekayaan kemuliaan-Nya dengan kuat kuasa melalui RohNya sampai kepada kepenuhan (ekspresi) Allah Tritunggal - Ef. 3:16-21.
J. Tidak mengerjakan keselamatan Anda sendiri dengan takut dan gentar, karena Allah itulah yang mengerjakan di dalam Anda baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya - Flp. 2:12-13.
Dalam bab ini kami ingin melanjutkan untuk melihat perkara-perkara yang perlu kita waspadai saat menunaikan kewajiban sekerja dan penatua. Dalam bab sebelumnya, kita telah membahas tiga perkara di sisi negatif yang membuat kita perlu berhati-hati, yaitu ambisi, keangkuhan, dan pembenaran diri. Dalam bab ini, kita ingin melihat bahwa kita perlu khawatir karena tidak melakukan beberapa perkara positif. Alkitab menyebutkan banyak perkara positif. Selain itu, perkara-perkara yang disebutkan dalam buku saudara Nee dan dalam buku saya adalah perkara-perkara positif yang disebutkan dalam Alkitab. Saya sudah menyampaikan tiga sampai empat ribu berita di Amerika Serikat yang membahas semua perkara positif ini. Apa yang perlu kita waspadai adalah "tidak" seiring dengan perkaraperkara positif ini. Di dalam kita ada terIalu banyak "tidak". Sesungguhnya, Alkitab membicarakan banyak perkara positif, demikian pula dengan saudara Nee dan saya, kami juga telah membicarakan perkara-perkara ini selama berpuluhpuluh tahun. Tetapi hanya sedikit yang mempraktekkan apa yang telah mereka dengar dan banyak yang tidak mempraktekkannya.
Ada yang mengatakan, "Saudara Lee, apakah ini berarti bahwa kita tidak mencintai Tuhan." Banyak orang dalam pemulihan Tuhan benar-benar mencintai Tuhan dan mau membayar harga, mereka juga telah melihat terang dan wahyu sehingga mereka mengenal ekonomi Allah dan bahkan mengenal pemulihan Tuhan, selain itu mereka juga menempuh kehidupan gereja dalam pemulihan Tuhan dan sedang belajar membangun Tubuh Kristus. Itulah sebabnya saya benar-benar menyembah Tuhan. Tetapi, ketika saya mengamati dengan teliti, saya menyadari bahwa pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh sekerja dan keadaan gereja-gereja yang ada di bawah penggembalaan para penatua belum eukup memuaskan kita. Kita tidak puas, karena kita tidak mempraktekkan apa yang kita lihat. Banyak wahyu yang jelas telah kita lihat dalam. Alldtab dan telah disampaikan di tengah-tengah kita serta dicetak dalam bukubuku, dan juga. banyak kidung yang telah ditulis. Tetapi, pertama-tama saya sering kali bertanya pada diri sendiri, apakah saya hidup sesuai dengan terang dan wahyu dalam Alkitab atau tidak. Saya mengaku di hadapan Tuhan bahwa meskipun Ia telah memberi saya inspirasi untuk menyampaikan berita-berita ini dan menggubah kidung yang berkualitas tinggi ini, saya tidak dengan ketat hidup menurut wahyu dan inspirasi Tuhan kepada saya tersebut.
Stanza pertama dari kidung nomor #225 mengatakan, "Kristus mulia, Juruselamat, /perwujudan mulia Allah; /Asal Allah nan tak batas (dalam kekekalan, Allah itu tidak terbatas - Tl.), Jadi insan dalam waktu (Namun, dalam waktu menjadi manusia yang terbatas - TI)." Allah yang tidak terbatas dalam kekekalan ini datang untuk menjadi manusia yang terbatas dalam waktu. Di manakah Ia menjadi manusia yang terbatas? Ia berada di dalam kita sebagai seorang manusia yang terbatas. Apakah kita telah mengalami kedua baris dari kidung ini? Tuhan, yang adalah perwujudan Allah yang agung, adalah Allah yang tidak terbatas dalam kekekalan, namun hari ini Ia datang ke dalam kita, umat manusia yang begitu kecil, untuk menjadi seorang manusia yang terbatas. Puji Tuhan, bahwa bagi kita hidup adalah Dia, yaitu Allah yang tidak terbatas, Allah dalam kekekalan. Meskipun kita adalah manusia yang terbatas dalam waktu, hari ini Ia hidup ch dalam. kita. Kita harus belajar menerapkan kebenaran dengan cara seperti ini. Kalau tidak, meskipun kita. memiliki Alkitab dan kidung yang sangat baik, kita tidak dapat menerapkannya ke atas diri kita.
Koor kidung ini mengatakan, "Kristus mulia, jelmaan Allah, ajaib, limpah, tak bersudah! /Maha Kudus, Maha Insan dalam rohku jadi bah'gia (0 Kristus, ekspresi Allah, sang Khalik, tidak terduga, kaya, dan manis! /Allah berbaur dengan keinsanian Tinggal dalamku menjadi segalaku - T1)." Kita perlu belajar menerapkan perkataan ini dalam hidup sehari-hari kita.
Stanza 2 mengatakan, "Di dalam-Mu limpah Allah; /pancarkan mulia Allah; /dalam daging g'nap tebusan; /di roh kini d’nganku esa." Kata-kata ini benar-benar bagus, tetapi kita tidak boleh sekadar mengapresiasi semua itu. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, inikah kehidupan yang kita tempuh. Kemuliaan Allah dinyatakan di dalam. Dia, tetapi apakah hari ini Dia dinyatakan di dalam kita?
Selanjutnya, apakah Roh itu esa denganku hari ini? Suami, ketika Anda berkata-kata kepada istri, apakah Kristus esa dengan Anda? Mungkin dalam pengalaman, Anda hanya dapat mengatakan, "Dalam daging, Ia genapkan tebusan," tetapi Anda tidak dapat mengatakan, "Sebagai Roh itu, Ia esa denganku." Karena itu, meskipun kita menyanyikan lagu ini, kita tidak memiliki realitasnya.
Stanza 3 mengatakan, "Punya Bapa warisan-Mu; /dalam, Roh semua ada-Mu; /Roh di rohku realitas-Mu, Aku dapat alami Dikau (Segala milik Bapa adalah milik-Mu; /Segala ada-Mu di dalam Roh adalah milikku; /Roh membuat Engkau riil bagiku, /Sehingga Engkau dapat kualami - Tl)." Inilah stanza yang luar biasa. Segala yang dimiliki Bapa diterima oleh Putra, dan segala adanya Putra diberikan kepada Roh. Roh ini datang ke dalam, rohku untuk menjadi realitas kita sehingga Kristus yang almuhit dapat menjadi pengalaman kita. Pernahkah kata-kata ini menjadi pengalaman kits? Apakah kita memiliki realitas ini dalam, hidup kita? Jika kita meneliti keadaan kita, kita, harus mengatakan bahwa kita kekurangan pengalaman sedemikian.
Dalam bab sebelumnya kita melihat bahwa kemerosotan gereja dikarenakan kita tidak menikmati Kristus yang ada di dalam roh kita. Dua Timotius 4:22 mengatakan, "Tuhan menyertai rohmu. Kasih karunia-Nya menyertai kamu." Untuk menang terhadap kemerosotan kekristenan hari ini, kita perlu menikmati Kristus dalam roh kita sebagai bagian kita untuk menjadi kasih karunia yang berlimpah bagi kita. Saudara-saudara, kita perlu sujud dan mengaku bahwa kita kekurangan hal ini. Di tengah-tengah kita, ada terang dalam buku-buku dan kidung, tetapi kita mengabaikan pengalaman praktis dalam hidup kita.
Meskipun kita menyanyikan kidung yang berkualitas tinggi, suami dan istri masih bertengkar. Kita tidak mengijinkan Roh itu membuat Tuhan menjadi hil bagi kita sehingga Tuhan dapat kita alami. Pengalaman kita bukan "Roh itu membuat Engkau riil bagiku." Sebaliknya, kita membuat temperamen dan watak kita riil bagi kita. Ketika menyanyikan kidung yang demikian, kita harus menyanyikannya dengan air mata serta berkata kepada Tuhan, "Tuhan, segala milik Bapa adalah milik-Mu, Segala ada-Mu dalam Roh adalah milikku; Roh itu membuat Engkau riil bagiku, sehingga Engkau dapat kualami. Ampuni aku, Tuhan, Aku tidak seperti ini. Aku perlu Roh-Mu untuk membuat Engkau riil bagiku sehingga Engkau dapat menjadi pengalamanku." Kita perlu menangis ketika menyanyi. Inilah yang harus kita miliki, bahkan setiap hari. Kekristenan itu miskin, terang yang kita miliki itu kaya. Tetapi kita jarang menerapkan kekayaan-kekayaan ini dalam hidup sehari-hari kita. Sebagai akibatnya, sangat sedikit kekayaan Kristus dinyatakan dalam hidup kita. Itulah sebabnya beban di atas diri saya hari ini sangat berat. Saya sangat gembira memiliki sidang yang sedemikian. Sejumlah sekerja dan penatua dalam pemulihan Tuhan di seluruh bumi ada di sini. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk membicarakan perkataan kasih. Saudara-saudara, bangunlah! Kita memiliki berita-berita dan kidung-kidung, tetapi kita kekurangan kehidupan yang praktis.
Stanza 4 dari kidung ini mengatakan, "Demi Sabda-Mu yang hidup, /Roh riilkan di batinku; /trima Sabda, menjamah Roh, /Dikau jadi jaminanku (Roh hayat menyebabkan Engkaul oleh Firman-Mu ditransfer ke dalamku. /RohMu dijamah, Firman-Mu diterima, /Dengan demikian, hayat-Mu terkandung di dalamku-Tl.)." Dalam, hidup seharihari kita, apakah kita membiarkan Roh itu membuat Tuhan dinyatakan di dalam kita, melalui Firman-Nya yang hidup? Apakah kita, dari saat ke saat, menjamah Roh itu dan menerima perkataan Tuhan sehingga kita dapat menerima Tuhan sebagai suplai kita?
Jika kita membandingkan kata-kata puitis dalam kidung ini dengan kehidupan kita, kita akan menemukan bahwa ada ketidak sesuaian. Kita memiliki kidung sedemikian, tetapi kita memiliki sedikit sekah realitas dari apa yang dikatakannya. Betapa kasihannya kehidupan kita ketika kita bandingkan dengan kekayaan-kekayaan-Kristus yang tidak terduga itu. Paulus mengatakan bahwa ia mengumumkan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus yang tidak terduga itu sebagai Injil (Ef. 3:8). Jika kita ingin mengumumkan kepada orang-orang kekayaan-kekayaan Kristus yang tidak terduga itu, kita perlu mengalami Dia secara berlimpah dalam, kehidupan kita. Kekayaan- kekayaan Kristus itu. tidak terduga, tetapi seberapa banyak realitas yang kita miliki di dalam kita? Karena itu, ini adalah peringatan, ini adalah sesuatu yang perlu kita waspadai.
D. Tidak Diserupakan dengan Kematian Kristus
Paulus mengatakan, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya" (F1p. 3:10). Diserupakan dengan kematian Kristus adalah menerima kematian Kristus sebagai cetakan hidup kita. Dalam kehidupan Anda, kematian Kristus telah bekerja di dalam Anda sampai tingkat yang sedemikian sehingga Anda justru adalah kematian Kristus. Anda telah dicetak ke dalam bentuk kematian-Nya, Anda justru adalah bentuk kematian Kristus. Jika seorang sekerja atau penatua datang terlambat ke dalam sidang dan masih berjalan dengan tegap (sombong) ke depan serta duduk di baris pertama, apakah ini adalah bentuk dari kematian Kristus? Karena Anda terlambat, Anda seharusnya merendahkan diri dan tidak duduk di depan, duduk di belakang juga boleh. Ketika Anda dengan rendah hati duduk di belakang, Anda seharusnya sujud dan berdoa kepada Tuhan, "Ampuni saya, Tuhan, karena saya datang terlambat ke dalam sidang." Inilah bentuk kematian Kristus. Ketika Anda sedang duduk di sana, Anda justru adalah bentuk kematian Kristus. Kemudian pada saat yang tepat, Anda dapat berdiri dan berkata, "Saudara saudari, saya selalu mendorong Anda untuk datang ke dalam sidang lebih pagi, bahkan paling lambat lima menit sebelum sidang dimulai. Hari ini saya sungguh malu, karena saya datang ke sini terlambat lima menit. Saya benar-benar memalukan, saya tidak layak duduk di depan. Saya akan duduk di sini, di belakang. Saya harap, Anda semua memaafkan saya." Inilah bentuk kematian Kristus. Anda justru adalah pernyataan kematian Kristus. Jika Anda terlambat dan masih duduk di baris pertama dengan gagahnya, itu bukan kematian Kristus, itu adalah bentuk keangkuhan yang fantastis.
Demikian juga suami dan istri tidak seharusnya saling menyalahkan, sebaliknya mereka harus selalu saling memaafkan. Dengan demikian, suami dan istri, keduanya adalah kematian Kristus dan mereka memperhidupkan kematian Kristus. Siapa saja yang melihat mereka akan diperlengkapi. Alkitab memberi tahu kita bahwa bahkan amat mendisiplin anak-anak, kita tidak boleh membangkitkan amarah mereka (Ef. 6:4). Mendisiplin anak-anak tanpa membangkitkan amarah adalah sesuatu yang justru tidak dapat kita lakukan dalam manusia alamiah kita. Kita dapat molakukan hal ini hanya melalui diserupakan dengan kematian Kristus dan dengan hidup oleh Dia. Jika kita tidak diserupakan dengan kematian Kristus, segala yang kita miliki adalah daging, keangkuhan, dan pertengkaran. Jika Anda tidak diserupakan dengan kematian Kristus, ini berarti Anda tidak menyangkal (mematikan) ego, manusia alamiah, watak yang Anda peroleh dari lahir, daging, selera, dan ambisi (Flp. 3:10b; Mat. 16:24; Gal. 2:20; 5:24). Ini adalah sesuatu yang perlu kita waspadai.
E. Tidak Berjalan dengan Ketat
Mengikuti Roh Perbauran
Kita memiliki Roh perbauran di dalam kita. Roh perbauran ini adalah Roh Allah, yaitu Roh Tuhan, bersatu dan berbaur dengan roh kita menjadi satu roh. Roh yang disebutkan dalam Roma 8:4-6 mengacu kepada roh perbauran yang sedemikian. Dalam hidup kita, kita harus berhati-hati agar jangan tidak berjalan dan tidak membiarkan diri kita dengan ketat menuruti roh perbauran (Rm. 8:4).
F. Tidak Meletakkan Pikiran di atas Roh Perbauran
Pikiran kita selalu adalah "makhluk aneli" yang menguasai kita. Jika Anda tidak dapat tidur, ini adalah karena makhluk aneh ini. Jika hati Anda terganggu dan gelisah, ini juga karena makhluk aneh ini. Alkitab mengatakan agar kita jangan gelisah dalam hal apa pun, tetapi apakah kita seperti ini? Apakah kita meletakkan pikiran kita di atas roh (Rm. 8:5-6)? Jangan pisahkan pikiran Anda dari roh anda, sebaliknya, biarkan roh Anda menjadi roh pikiran Anda (Ef. 4:23 - lihat bahasa aslinya). Roh pikiran yang demikian adalah roh yang memperbarui. Diperbarui berarti kita di perbarui di dalam roh pikiran kita. Ketika roh kita dan pikiran kita dibaurkan, kita dapat memuji tanpa khawatir sedikit pun, kita dapat penuh dengan damai sejahtera tanpa kegelisahan sedikit pun, kita dapat beristirahat tanpa pergolakan apa pun. Jika tidak, kita akan menderita imsomnia, khawatir, gelisah, memiliki angan-angan aneh, dan memiliki imajinasi liar. Pikiran kita adalah seperti kuda liar. Kita harus mengekang pikiran kita dan meletakkannya di atas roh sehingga pikiran kita dapat berada di bawah kendali rob. kita. Saudara saudari, apakah kita mempraktekkan meletakkan pikiran kita di atas roh perbauran dalam hidup sehari-hari kita?
G. Tidak Memperbesar Kristus
melalui Memperhidupkan Dia
Selanjutnya, kita perlu berhati-hati terhadap tidak memperbesar Kristus dengan memperhidupkan Dia melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19-21). Suplai yang limpah lengkap adalah suatu misteri, dan Roh Yesus Kristus juga adalah suatu misteri. Roh Yesus Kristus bukanlah sekadar Roh Allah tetapi juga adalah Roh dari Dia yang berinkarnasi, yang menempuh kehidupan insani, dan yang mati serta bangkit. Roh Yesus Kristus yang sedemikian memiliki suplai yang limpah lengkap. Apakah Anda perlu kesabaran? Ia adalah kesabaran. Apakah Anda perlu kelemahlembutan? Dia itulah lemah lembut. Apa pun yang Anda perlukan, Dia adalah. Ia adalah suplai yang limpah lengkap.
Sering kali, bukannya memperhidupkan Kristus, kita memperhidupkan diri sendiri, dan bukannya memperbesar Kristus, kita memperkecil Dia. Kita adalah budak-budak Kristus, namun kita menempuh kehidupan yang penuh kekhawatiran, menyalahkan orang lain, mengkritik orang lain, tidak puas, dan menggerutu. Jika kita tidak memperhidupkan atau memperbesar Kristus, bagaimana mungkin kita dapat melayani Allah dan melayankan kepada gerejagereja?
Saudara saudari yang terkasih, kita tidak boleh sekadar membaca butir-butir ini dan membiarkannya lewat begitu saja. Kita perlu menelitinya butir demi butir dan waspada terhadapnya. Kita tidak boleh hanya khawatir terhadap ambisi, keangkuhan, dan pembenaran diri, yang memang tidak mematikan tetapi adalah serigala keeil dan kutu kecil. Lebih-lebih kita perlu waspada terhadap butir-butir yang diberikan dalam bab ini, yang semuanya mematikan.
Apa yang kita bicarakan dalam bab ini adalah seperti banyak penyakit dalam tubuh kita. Hari ini kita perlu berjaga-jaga terhadap darah tinggi, penyakit jantung, dan banyak penyakit lain. Kutu tidak berarti apa-apa. Serigala kecil yang berkeharan dalam taman juga tidak begitu berarti. Tetapi, jika tubuh kita sepenuhnya sakit, itu baru fatal. Karena itu kita perlu berhati-hati. Jika sidang kita tidak hidup, tidak segar, tidak tinggi, atau kaya, itu terutama dikarenakan kita, sekerja dan penatua yang memimpin, telah lalai dalam butir-butir penting ini, tidak berjaga-jaga terhadapnya.
H. Tidak Hidup dengan Kristus
Sekerja dan penatua juga harus waspada terhadap tidak hidup dengan Kristus, tidak berjalan, bekerja, dan bergerak dengan Dia. Banyak orang berjalan, tetapi tidak dengan Kristus; mereka bekerja, tetapi tidak dengan Kristus; dan mereka bergerak, tetapi tidak dengan Kristus. Namun mereka mengakui bahwa Kristus hidup di dalam mereka. Tentu saja Kristus hidup di dalam kita, tetapi kita sering kali mengacuhkan Dia. Saya tidak tahu berapa banyak saya mengakui dosa saya kepada Tuhan dengan mengatakan, "Tuhan, saya baru saja menelepon, tetapi saya tidak melakukannya bersama-Mu." Cara yang tepat untuk melakukannya adalah mengatakan, "Tuhan, sekarang saya mau menelepon. Saya ingin Engkau menelepon bersama saya dan dengan demikian saya menelepon dengan-Mu." Betapa indahnya perkara ini! Kadang-kadang saya merasa bahwa istri saya memiliki kekurangan dalam aspek tertentu. Kemudian saya berdoa, "Tuhan, saya ingin bersekutu dengan dia. Pergilah bersama saya. Jika Engkau tidak pergi bersiama saya, itu berarti Engkau tidak ingin saya melakukannya, maka saya tidak akan melakukannya. Jika Engkau ingin saya melakukannya, Engkau harus melakukannya dengan saya dan saya dengan Engkau." Inilah pengalamanku hidup dengan Kristus dalam hidup pribadiku.
Dalam kidung yang baru, ada dua baris kalimat : "Bukan lagi aku sendiri yang hidup, /tetapi Allah hidup bersamaku." Hidup sehari-hari kita haruslah "Allah hidup bersama saya." Kita tidak dapat sekadar mengatakan hal ini dalam doa-doa kita dan menyanyikan hal ini dalam kidung-kidung kita, dan tidak hidup bersama dengan Allah dari hari ke hari. Kita terlalu bebas. Jika kita ingin menelepon, kita melakukannya dengan segera. Jika kita ingin menulis surat, kita melakukannya dengan segera. Kita kekurangan pengalaman hidup dengan Kristus. Sering kali, begitu saya berdiri dan pergi untuk melakukan sesuatu, saya harus duduk lagi karena saya pergi sendirian tanpa Tuhan. saya harus meminta maaf kepada Tuhan karena bertindak sendirian. Bayangkan, sebagai seorang Kristen, berapa banyak perkara yang telah Anda lakukan dengan diri sendiri dan bukan Anda dengan Tuhan. Menjadi sekerja, Anda harus melakukan segala sesuatu dalam pekerjaan bersama Tuhan; menjadi penatua, Anda harus melakukan segala sesuatu dalam kepenatuaan dengan Tuhan, bahkan untuk menggembalakan saudara saudari, Anda harus melakukan segala sesuatu dengan Tuhan. Tuhan adalah Gembala Kepala kita dan Gembala Agung kita. Dia itulah yang di dalam kita mendorong kita untuk menggembalakan orang lain. Jika Tuhan tidak melakukan penggembalaan, bagaimana kita dapat menjadi gembala-gembala? Ketika kita mengunjungi seorang saudara dan Tuhan pergi dengan kita, itu akan benar-benar berbeda.
Ketika Anda mengunjungi seorang saudara, Anda harus pergi bersama Tuhan. Anda tidak boleh pergi hanya karena Anda memiliki beban dan kemauan untuk pergi. Jika Anda pergi secara demikian, kunjungan Anda akan sia-sia. Anda tidak memiliki Roh, hayat, atau Tuhan; Anda bertindak tanduk sendirian. Sebelum Anda pergi, Anda harus berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, saya berdoa agar Engkau memberi saya beban yang sejati untuk mengunjungi saudara ini. Saya takut dan gentar di hadapan-Mu, Tuhan. Saya takut membawa diri saya sendiri ke sana untuk mengunjungi dia. Rahmatilah saya, Tuhan. Jika Engkau tidak pergi bersama saya, saya tidak pergi. Engkau harus pergi bersama saya. Dan juga, buatlah saya dapat berbicara bersama Engkau, dan Engkau harus berbicara dengan saya. Meakipun saya adalah gembala saudara ini, saya ingin mengambil Engkau oebagai Gembala saya. Jika Engkau tidak menggembalakan saya, bagaimana saya dapat menggembalakan dia?" Jika Anda melakukan hal ini, Anda adalah seorang yang sepenuhnya hidup bersama Kristus. Anda tidak berada dalam ciptaan lama, tetapi dalam ciptaan baru dalam kebangkitan. Dengan demikian, ketika Anda pergi, rasa, citarasa, dan atmosfir yang Anda berikan kepadanya tidak lain adalah Kriatus. Inilah melayankan Kristus, mendispensikan Kristus. Aka tidak, mendispensikan Kristus dan melayankan Kristus akan menjadi sekadar istilah yang ditemukan dalam berita-berita dan kidung-kidung kita tetapi jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari kita.
1. Tidak Membiarkan Kristus Membuat Rumah-Nya,
di dalam Hati Kita
Selanjutnya, kita perlu waspada terhadap tidak membiarkan Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati kita weialui manusia batin kita dikuatkan oleh Bapa menurut kekayaan kemuliaan-Nya dengan kuat kuasa melalui RohNya sampai kepada kepenuhan (ekspresi) Allah Tritunggal (Ef. 3:16-21). Butir ini sangat tinggi. Allah Bapa sedang menguatkan manusia batin kita, yaitu roh kita, menurut kemuliaan-Nya dengan kuat kuasa melalui Roh-Nya. Ketika kita dikuatkan secara demikian, Kristus dapat membuat rumah-Nya dalam hati kita, selangkah demi selangkah, secara mulus tanpa halangan. Jika kita ingin membiarkan Kristus membuat rumah-Nya dalam hati kita, kita harus memberi Dia ruangan sehingga Dia dapat membuat rumahNya dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Dengan demikian kita menjadi tempat kediaman-Nya. Kita sepenuhnya diduduki oleh dan diresapi dengan Dia untuk menjadi kepenuhan Allah Tritunggal. Bukan hanya kita dipenuhi dengan Allah tetapi kita juga adalah kepenuhan Allah itu. Kepenuhan Allah adalah perluasan Allah. Dalam Kejadian 1 Allah adalah sekadar Allah sendiri tanpa kepenuhanNya, tetapi sekarang Ia telah mendapatkan banyak anak. Ketika anak-anak ini dikuasai oleh-Nya dan membiarkan Din membuat rumah-Nya dalam setiap bagian diri mereka, mereka menjadi Dia untuk menjadi kepenuhan-Nya. Kepenuhan ini adalah ekspresi Allah. Ketika berkumpul, kita seharusnya mengekspresikan Allah. Ketika orang-orang mengunjungi rumah kita, apa pun yang mereka lihat seharusnya adalah ekspresi Allah.
Kita telah dengan jelas membicarakan dan menyampaikan banyak berita mengenai membiarkan Kristus membuat rumah-Nya di dalam kita. Tetapi, ketika saya mengamati keadaan orang-orang kudus dalam pemulihan Tuhan, hal ini benar-benar membuat saya berkeluh kesah. Di satu pihak, saya bersyukur kepada Tuhan bahwa Ia telah menyebarkan pemulihan-Nya ke berbagai tempat di seluruh bumi, di lain pihak, keadaan sebenarnya dari orang-orang kudus membuat saya sedih karena kita kekurangan realitas. Hari ini Allah kita batasi dan tidak dapat membuat rumah-Nya di dalam kita. Ia bersama kita di dalam roh kita, tetapi Ia dilialangi dan dipenjara dalam roh kita, tidak diijinkan untuk menyebar keluar ke dalam setiap bagian dari hati kita, termasuk pikiran, emosi, dan tekad kita. Kita memiliki Dia di dalam roh kita, tetapi tidak di dalam pikiran, emosi, atau tekad kita. Dia benar-benar terhalang di dalam kita.
Setelah Paulus berbicara mengenai kebenaran-kebenaran yang unggul dalam Efesus pasal satu dan dua, dalam pasal tiga ia sujud kepada Bapa agar Dia membuat orangorang kudus di Efesus dikuatkan sehingga mereka dapat membiarkan Kristus membuat rumah-Nya dalam hati mereka hingga mencapai kepenuhan Allah. Hari ini di tengahtengah kita kekurangan hal ini, inilah yang membuat saya menderita. Di satu pihak, saya menyembah dan bersyukur kepada Tuhan bahwa kita mencintai Tuhan dan mengenal jalan Tuhan dalam pemulihan-Nya. Tetapi kita masih perlu rahmat Tuhan, karena kehidupan praktis kita sangat jauh dari perkara-perkara yang disebutkan di sini.
J. Tidak Mengerjakan Keselamatan Kita
Jika kita berhati-hati terhadap enam "tidak" di atas, yaitu jika kita diserupakan dengan kematian Kristus, berjalan dan membuat diri kita dengan ketat mengikuti roh perbauran, meletakkan pikiran kita di atas roh perbaruan, memperbesar Kristus dengan memperhidupkan Dia melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus, hidup, berjalan, bekerja, dan bergerak bersama Kristus, serta membiarkan Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati kita melalui manusia batin kita dikuatkan oleh Bapa menurut kemuliaan-Nya dengan kuat kuasa oleh Roh itu sampai boada kepenuhan, ekspresi Allah Tritunggal, maka kita baru depat mencapai butir terakhir ini, yaitu mengerjakan keselamatan kita sendiri.
Filipi 2:12 mengatakan, "Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar." Ketika muda, saya tidak dapat memahami ayat ini. Martin Luther menekankan bahwa kita bukan diselamatkan oleh pekerjaan-pekerjaan tetapi dibenarkan oleh iman. Mengapa dalam ayat ini, yaitu dalam Filip 2, dikatakan bahwa kita perlu mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar? Kemudian saya melihat bahwa meskipun pembenaran oleh iman dan pemilihan Allah dalam kekekalan yang ditekankan oleh teologi reformed itu benar, tetapi itu hanyalah sebagian dari kebenaran. Alkitab memberi tahu kita bahwa meskipun kita telah menerima keselamatan, kita masih harus memperhidupkannya secara praktis. Ketika kita memperhidupkan keselamatan kita, itulah mengerjakan keselamatan kita sendiri. Kita telah menerima keselamatan organik Allah, tetapi ketika kita mengamati sikap para suami terhadap istri dan reaksi para istri terhadap suaminya, kita melihat bahwa apa yang diperhidupkan bukanlah keselamatan. Ini berarti kita tidak mengerjakan keselamatan kita sendiri. Karena itu kita harus takut dan gentar mengerjakan keselamatan kita. Takut adalah motivasi di dalam, gentar adalah sikap di luar. Kita harus takut di dalam dan gentar di luar, kalau tidak kita tidak mengerjakan keselamatan kita.
Dalam Filipi 2:13 Paulus melanjutkan berkata, "Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam Anda baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Allah ini adalah Allah Tritunggal, Allah yang adalah Kristus dan Roh pemberi hayat. Allah inilah yang mengerjakan di dalam kita agar baik kemauan kita di dalam maupun pekerjaan kita di luar dapat sesuai dengan perkenan-Nya (kerelaan-Nya). Hal ini membuat kita dapat memperhidupkan keselamatan Allah. Memperhidupkan keselamatan Allah secara demikian memerlukan kita untuk memiliki butir-butir yang disebutkan di atas. Jika kita waspada terhadap keenam butir yang disebutkan sebelumnya, maka akibatnya kita akan dengan takut dan gentar memperhidupkan keselamatan organik yang telah kita terima.
Saya harap, butir-butir yang telah disebutkan dalam bab ini akan menjadi kehidupan praktis dalam rumah para saudara dan saudari kita dan kehidupan praktis dalam gerejagereja. Pekerjaan yang kita lakukan bagi Tuhan harus menghasilkan hasil yang semacam ini. Jika pekerjaan kita tidak menghasilkan hasil yang demikian, maka pekerjaan kita tidak akan memuaskan Allah pun manusia. Ketika kita dibaptis, kita masuk ke dalam kematian Tuhan dan dikubur. Kita telah mati bersama Kristus dan sekarang bukan kita lagi yang hidup. Inilah sikap yang seharusnya kita miliki dalam kehidupan kita sehingga kita dapat mengerjakan keselamatan Allah.