← Daftar isi Puncak Visi · bab 3/4

REALITAS TUBUH KRISTUS (1)

Doa: O Tuhan, kami berdoa agar Engkau membuka mata kami sehingga kami benar-benar dapat mengenal Engkau, bagaimana Engkau, yang adalah Allah, berinkarnasi, menempuh kehidupan manusia, disalibkan, dan masuk ke dalam kebangkitan untuk menjadi Allah yang rampung sempurna, memiliki keilahian, keinsanian, pengalaman kehidupan manusia, serta khasiat kematian dan kebangkitan. Tuhan, Engkau adalah Allah yang demikian. Engkau telah menjadi Roh itu, dan hari ini Engkau hidup di dalam kami, melaksanakan pekerjaan khusus di dalam kami untuk membuat kami menjadi Allah. O Tuhan, kami berdoa agar Engkau membuat kami melihat. Kami menginginkan penglihatan semacam ini. O Tuhan, hanya terang-Mu yang dapat membunuh kami dan hanya terang-Mu yang dapat menyingkirkan segala sesuatu yang kami lakukan. Tuhan, kami perlu belas kasih-Mu; benar-benar bersinarlah di dalam kami.

Berbicaralah kepada kami hari ini, bahkan dengan terang yang berlimpah-limpah, sehingga kami tidak hanya dapat memahami atau mengerti. Apa yang kami perlukan adalah melihat. Kami menerima Engkau sebagai terang. Sekali lagi, ampunilah kami karena kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan kami, dan karena kami tidak mutlak dan tidak setia. Kami benar-benar memerlukan pengampunan-Mu. Kami juga telah melakukan begitu banyak perkara tanpa Dikau, untuk semua itu kami memerlukan pengampunan-Mu dan pembasuhan darah adi-Mu. Kami tidak dapat menyandarkan jasa atau ketulusan dan kesempurnaan diri kami sendiri. O Tuhan, hanya dengan darah adi-Mu kami dapat diperkenan oleh-Mu dan hidup dalam persekutuan dengan-Mu. Dengan darah adi-Mu juga, kami dapat menang atas musuh yang menuduh. O Tuhan, karena musuh-Mu selalu berada di bawah tumit kami, kami hanya dapat memproklamirkan bahwa kami menang atas dia demi darah Anak Domba. Tuhan berilah kami sebuah persekutuan yang baik. Amin.

Saudara-saudara, saya benar-benar berbeban untuk bersekutu dengan Anda mengenai satu hal, yaitu bagaimana Allah menjadi manusia dan juga bagaimana Ia membuat manusia menjadi Allah (hanya dalam hayat dan sifat). Hasil dari perkara Allah menjadi manusia dan manusia menjadi Allah adalah suatu organisme. Organisme ini adalah kesatuan dan perbauran antara Allah dengan manusia, dan organisme ini juga adalah Tubuh Kristus. Inilah yang akan kita persekutukan malam ini. Setelah itu, kita akan melanjutkan untuk melihat realitas Tubuh Kristus.

ALLAH MENJADI MANUSIA

UNTUK MEMBUAT MANUSIA MENJADI ALLAH

Pertama-tama, kita akan membicarakan mengenai Allah menjadi manusia untuk membuat manusia menjadi Allah. Seperti yang telah tercatat dengan jelas dalam Alkitab, hari ini kekristenan pada umumnya mengetahui bahwa, pertama, Allah berinkarnasi; kedua, Ia datang untuk menempuh kehidupan manusia; ketiga, Ia disalibkan; dan keempat, Ia masuk dalam kebangkitan. Keempat butir ini tidak asing lagi dalam kekristenan; semua orang mengetahuinya. Setiap orang tahu bahwa Dia yang berinkarnasi ini adalah Yesus, yang riwayat hidup-Nya tercatat dalam keempat kitab Injil. Yesus ini menempuh kehidupan manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun; kemudian Ia mati di atas salib, dan tiga hari kemudian, Ia dibangkitkan. Keempat butir ini begitu umum sehingga orang-orang yang bukan Kristen pun mengetahuinya. Tetapi, kita perlu mengetahui bahwa apa yang diketahui orang-orang pada umumnya mengenai keempat butir ini sangat dangkal dan hanya berdasarkan tulisan-tulisan. Ketika mereka membaca dan membaca ulang Perjanjian Baru, apa yang dilihat hanyalah tulisan-tulisan, sesuatu yang bersifat harfiah. Mereka telah melihat bahwa Perjanjian Baru, khususnya keempat kitab Injil, membahas kelahiran Kristus, kehidupan dan perjalanan Kristus di bumi, kematian Kristus dan kebangkitan Kristus. Itulah sebabnya mereka menciptakan hari Natal dan pemberitaan kabar suka yang memproklamirkan bahwa Kristus telah lahir dalam palungan di Betlehem untuk menjadi Juruselamat dunia. Mereka hanya tahu sebanyak ini; hampir tidak seorang pun yang mengetahui makna sesungguhnya dari inkarnasi Allah.

Hari ini, beberapa profesor seminari dan beberapa penginjil termasyhur mengajarkan cerita-cerita Yesus kepada orang-orang: bagaimana Ia menyembuhkan mata orang-orang buta dan membuat orang lumpuh berjalan, bagaimana Ia mengasihi orang-orang dan menerima anak-anak, serta bagaimana Ia meneduhkan angin dan lautan, dan membangkitkan orang mati. Mereka berbicara banyak mengenai perkara-perkara ini, tetapi mereka tidak benar-benar melihat makna sesungguhnya dari kehidupan insan Kristus. Sebagian besar, para pengkotbah hanya memberitakan Kristus yang mati bagi kita untuk mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa kita, Ia mengasihi kita dan bahkan memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Selain itu, tidak banyak yang dapat dikatakan oleh mereka.

Aliran mistik, aliran hayat batin, mulai muncul pada abad ketujuh belas. Pada waktu itu, beberapa dari mereka, termasuk Madame Guyon, masih berada dalam Gereja Roma Katolik. Sebagai seorang yang menganut aliran mistik, Madame Guyon berbicara dengan cara yang sangat misterius, sehingga sangat sulit untuk dimengerti oleh orang-orang. Kemudian, pada abad berikutnya, seorang saudara di Inggris yang bernama William Law dibangkitkan. Semula, dia adalah seorang penganut aliran mistik, dan dialah yang mengembangkan ajaran-ajaran yang berasal dari aliran tersebut dan menjadikannya sederhana sehingga mudah dimengerti. Andrew Murray mengikuti dia. Melalui membaca buku William Law, yang berisi ajaran-ajaran mistik yang disederhanakan, Andrew Murray meneruna bantuan, sehingga ia melanjutkan memberitakan kebenaran-kebenaran tersebut. Pemberitaannya sangat bagus, dan ia menghasilkan karya besarnya yang berjudul The Spirit of Christ. Beberapa orang yang berada dalam kekristenan telah menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Mandarin, tetapi terjemahannya tidak begitu jelas. Maka ketika tinggal di Taipei, saya mendesak beberapa orang muda untuk menerjemahkan kembali dan saya memperbaiki terjemahan itu sepenuhnya. Hingga hari ini, membaca buku tersebut masih tidak mudah.

Setelah Andrew Murray, muncul dua aliran lagi. Pada satu pihak ada Nyonya Penn Lewis. Ia memusatkan perhatian pada kematian Kristus dengan menekankan aspek negatifnya. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana kematian Kristus membereskan manusia lama kita, menanggulangi daging kita, dan membinasakan Iblis. Pembicaraannya sungguh luar biasa. Kita dapat mengatakan bahwa sejak dimulainya sejarah kekristenan, ia dapat dianggap sebagai orang pertama yang membicarakan kematian Kristus secara mendalam namun praktis. Pada pihak lain, ada saudara Austin-Sparks, yang tidak diragukan lagi telah melihat prinsip kebangkitan. Mengenai kebangkitan Kristus, pembicaraannya juga sangat luar biasa, namun agak misterius dan tidak mudah dimengerti. Lebih dari enam puluh tahun yang lalu, saya membaca sebuah buku karangannya yang berjudul The Release of the Lord. Apa yang saya baca adalah sebuah selebaran dalam bahasa Inggris, karena masih belum diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin. Buku tersebut memberi tahu kita bahwa kematian Kristus bukan hanya menyelesaikan masalah-masalah negatif yang ada pada diri kita, tetapi juga melepaskan hayat ilahi yang positif yang ada pada diri-Nya. Hayat ilahi yang dilepaskan adalah diri-Nya sendiri. Karena itu, buku tersebut menekankan bahwa Kristus adalah sebutir biji gandum yang mati untuk melepaskan hayat yang abadi dalamnya dan menghasilkan banyak butir. Saya mendapat banyak bantuan dari buku itu.

Buku tersebut sebenarnya membicarakan kebangkitan Kristus. Kematian Kristus merupakan suatu pengakhiran. Ia mengakhiri manusia, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia — ciptaan lama, dosa, Iblis, dan dunia — juga diakhiri melalui pengakhiran manusia. Saudara Austin-Sparks menunjukkan kepada kita, pengakhiran segala sesuatu yang berasal dari ciptaan lama merupakan setengah bagian pertama dari kematian Kristus, yaitu pada aspek negatifnya. Setengah bagian selanjutnya bersifat positif, yaitu membebaskan diri-Nya sendiri (yang adalah Allah), keilahian-Nya, dan hayat ilahi-Nya. Dalam kitab Injil, Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa Ia didesak dan Ia sangat ingin mati agar dibebaskan (Luk. 12:50 — "Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!" — LAI 1993). Kristus mati, dan melalui kematian-Nya, kulit luar daging-Nya, yang dikenakan-Nya pada saat Ia menjadi manusia, dipecahkan. Hal ini sama seperti sebutir biji gandum yang ditahurkan ke dalam tanah dan mati, dengan demikian kulit luar gandum tersebut hancur sama sekali. Dari gandum tersebut, hayat dibebaskan dan tunas-tunas bermunculan; dengan demikian dihasilkan banyak gandum. Kitalah butiran gandum tersebut. Selanjutnya, berdasarkan apa yang dikatakan oleh saudara Austin-Sparks, saya maju selangkah lagi dengan mengatakan bahwa butiran-butiran gandum ini digiling menjadi tepung untuk membentuk satu roti, yaitu Tubuh Kristus.

KEBAJIKAN-KEBAJIKAN INSANI YESUS

MENGEKSPRESIKAN ATRIBUT-ATRIBUT ILAHI

Kita perlu melihat bahwa kematian Kristus tidak hanya memiliki aspek negatif, tetapi juga aspek positif. Aspek positifnya adalah melepaskan Dia sebagai Allah. Tuhan Yesus sebagai Allah tersembunyi selama tiga puluh tiga setengah tahun di dalam daging-Nya, di dalam bentuk tubuh manusia-Nya. Dalam kehidupan-Nya di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, bagian terbesar dari kehidupan-Nya adalah pernyataan atribut-atribut ilahi dalam batin-Nya. Apa yang Dia tampilkan menjadi kebajikan-kebajikan insani-Nya. Hari ini, para pembaca Alkitab pada umumnya hanya melihat bahwa Yesus sangat baik dan penuh dengan kebajikan. Tetapi hanya sedikit orang yang melihat esens dari kebajikan Tuhan Yesus. Esens dari kebajikan Tuhan Yesus adalah atribut-atribut ilahi. Atribut-atribut ilahi mengacu kepada apa adanya Allah. Allah adalah terang dan kasih, dan Allah juga adalah kesabaran, kekudusan, dan kelemahlembutan. Semua adanya Allah adalah atribut-atribut-Nya. Semua atribut-atribut ini secara serentak berada dalam sifat Allah. Jadi apakah Allah? Allah adalah terang, kasih, kebenaran, kekudusan, dan kesabaran. Ketika kita menjumlahkan semua atribut ini, yang kita dapatkan adalah Allah. Jadi, hukum Taurat yang ditulis oleh Allah juga ditulis berdasarkan atribut-atribut-Nya. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Ia menempuh kehidupan manusia, tetapi yang Ia tampilkan bukan sesuatu yang insani melainkan sesuatu yang ilahi. Hal ini berarti, atribut-atribut insani yang ditampilkan oleh-Nya menjadi kebajikan-kebajikan Yesus.

Hari ini, para pengkotbah pada umumnya hanya berbicara mengenai kebajikan-kebajikan Yesus dan tidak menyadari bahwa kebajikan-kebajikan tersebut berasal dari unsur batin atribut-atribut ilahi yang berada di dalam Dia. Hal ini berarti, Ia hidup sebagai manusia, tetapi Ia menampilkan Allah. Itulah sebabnya, ketika Ia hidup di bumi, orang-orang yang berada di sekitar Dia, bahkan pengikut-pengikut-Nya, seperti Petrus, Yakobus, dan Yohanes, sering bertanya, "Siapakah orang ini?" (Mat. 8:27; 13:53-56; Mrk. 4:41). Mereka tidak tahu siapakah Dia, karena mereka tidak menyadari bahwa Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Jangan mengatakan bahwa kekristenan hari ini tidak mengetahui hal ini; bahkan murid-murid yang mengikuti Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun juga tidak menyadari hal ini. Mereka mengatakan, "Siapakah orang ini? Tidak salah lagi, Ia adalah seorang manusia; Ia adalah seorang yang dikenal oleh semua orang; ibu-Nya adalah Maria, dan kita juga mengenal saudara-saudara-Nya." Selain itu, sesuai dengan apa yang tercatat dalam Alkitab, bentuk lahiriah Yesus tidak tinggi dan besar, penampilan-Nya tidak tampan, sebaliknya Ia terlihat buruk dan tidak semarak (Yes. 53:2; 52:14). Beberapa hari ini saya suka menyanyikan sebuah kidung yang sangat dangkal, yaitu nomor 490. Bait pertama beserta koornya mengatakan, "Sorga, takhta, dan mahkota Kau tinggalkan,/ Datang ke dunia tolongku;/ Tapi Betlehem tiada serumah pun,/ Sedia bagi hadir-Mu:/ Yesus, tinggallah dalamku!/ Dalamkulah tempat untuk-Mu!/ O! tinggallah dalam hatiku!/ Tinggallah dalan hatiku!" Penekanan saya adalah pada bait kedua: "Malak dan tentera sorgawi berseru,/ Sembah, puji kebesaran-Mu;/ Di kota miskin dan hina terlahir-Mu,/ Sepi, tiada yang mau tahu." Yang ingin saya tekankan adalah dua baris terakhir: "Di kota miskin dan hina terlahir-Mu,/ Sepi, tiada yang mau tahu." (Catatan: Dalam versi bahasa Mandarin, dua baris ini mengatakan: Tetapi Engkau dilahirkan ke bumi, dari keluarga miskin, dan tidak tampan,/ Dibesarkan di dalam kota yang terhina, tidak dihargai oleh siapapun — terjemahan bebas). Saya benar-benar menyukai kedua baris ini; keduanya sungguh hebat. Tuhan Yesus adalah seorang manusia yang demikian, karena itu tidak seorangpun yang menyangka bahwa di dalam Dia terdapat suatu mustika, yaitu Allah.

Petrus, Yohanes, Yakobus, Maria, dan banyak lagi yang lain melihat kebajikan-kebajikan Tuhan.Yesus. Ia dapat menanggung apa yang tidak bisa ditanggung oleh orang lain. Bagaimanapun orang lain menghina Dia, Dia tetap lemah-lembut terhadap mereka. Suatu kali, Ia dan murid-murid-Nya melewati sebuah desa, tetapi orang-orang di seluruh desa tersebut tidak menerima mereka. Karena itu Yakobus dan Yohanes berkata kepada Tuhan, "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka" Tetapi Tuhan Yesus mengatakan, "Kamu tidak tahu roh macam apakah kamu ini" (Luk. 9:54-55 — Tl.). Itulah sebuah kebajikan. Pada kesempatan yang lain, anak-anak kecil dibawa kepada Yesus agar Ia dapat menumpangkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka, tetapi murid-murid menghardik mereka. Namun Tuhan Yesus berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku" (Mat. 19:13-14). Ini juga adalah suatu kebajikan. Meskipun mereka melihat kebajikan Tuhan Yesus, tidak seorang pun menyadari bahwa kebajikan-kebajikan yang ditampilkan oleh-Nya berasal dari semua atribut keilahian yang berada di dalam Dia. Karena itu, dalam konferensi berbahasa Mandarin tahun ini, kidung baru yang saya tulis mengatakan, "Allah jadi daging, manusia Allah yang pertama,/ Perkenan-Nya adalah agar aku menjadi Allah:/ Dalam hayat dan sifat aku adalah jenis Allah,/ Meskipun keAllahan adalah milik-Nya./ Atribut-atribut-Nya adalah kebajikanku;/ Gambar mulia-Nya memancar melaluiku." Inilah persona Tuhan Yesus ketika Ia berada di bumi. Atribut-atribut Allah menjadi kebajikan-kebajikan dalam Yesus, dan gambar mulia Allah dinyatakan serta ditampilkan dalam Dia.

KRISTUS SEBAGAI BENIH DAUD MENJADI PUTRA ALLAH

Setelah Kristus mengalami kematian dan kebangkitan, salah seorang murid-Nya mengatakan kepada-Nya, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh. 20:28). Sebelum kebangkitan Tuhan Yesus, murid-murid memanggil Dia sebagai Tuhan. Panggilan semacam itu hampir sama dengan orang-orang dalam Perjanjian Lama memanggil Allah. Panggilan tersebut merupakan panggilan yang umum di antara orang-orang Yahudi. Tetapi, Tuhan Yesus adalah seorang manusia, bagaimana mungkin Ia dipanggil Allah? Karena sebagai benih Daud, Ia telah berinkarnasi menjadi seorang manusia. Benih Daud menjadi Putra sulung Allah dalam kebangkitan. Itulah yang dikatakan Roma 1:1–4 kepada kita. Kebenaran dalam Roma 1:1-4 adalah berdasarkan 2 Samuel 7:12–14. Daud ingin membangun sebuah rumah bagi Allah, tetapi Allah mengatakan, "Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami? Sebaliknya Akulah yang akan membangun sebuah rumah untukmu. Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku." Firman ini sesuai dengan Roma 1 yang mengatakan: benih Daud menjadi Putra Allah.

PUTRA SULUNG ALLAH DAN PUTRA-PUTRA ALLAH

Ketika para pembaca Alkitab, termasuk guru-guru Yahudi membaca kitab 2 Samuel 7:12, mereka tidak berusaha menyelidikinya secara mendalam. Bukankah Dia adalah benih Daud? Lalu bagaimana Dia menjadi Putra Allah? Mengenai hal ini, Daud memberikan sebuah perkataan yang jelas dalam Mazmur 2:7. Di sana dikatakan, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini." Kemudian dalam Kisah Para Rasul 13:33 Paulus memberikan penjelasan dengan mengatakan bahwa perkataan tersebut mengacu kepada kebangkitan Kristus. Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini berarti pada hari kebangkitan, keinsanian Kristus diperanakkan menjadi Putra Allah. Sejak hari itulah dalam batin-Nya Putra Allah memiliki sifat insani. Sebelum hari itu, sebelum kebangkitan-Nya, Ia hanyalah Putra tunggal Allah. Sebagai Putra tunggal Allah, Ia hanya memiliki Allah dan esens ilahi di dalam-Nya; Ia tidak ada kaitannya dengan manusia. Tetapi melalui kematian dan dalam kebangkitan-Nya, manusia yang dikenakan-Nya dibawa Allah masuk ke dalam keilahian. Itulah saatnya Ia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah. Pada saat seseorang melahirkan, biasanya ia hanya melahirkan satu orang anak pada setiap persalinan. Tetapi kelahiran Kristus mencakup banyak orang, tidak hanya satu — diri-Nya sendiri. Ia adalah Putra sulung, dan setelah Dia masih ada berjuta-juta putra. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang yang diselamatkan telah dibangkitkan bersama-sama dengan Dia. Karena itu, 1 Petrus 1:3 mengatakan, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan." Dalam kebangkitan Kristus, bukan hanya Kristus dengan keinsanian-Nya yang dilahirkan sebagai Putra sulung Allah, tetapi mereka yang telah dipilih oleh Allah dan ditebus melalui kematian Kristus juga dilahirkan sebagai banyak putra Allah. Jadi, Allah memiliki Putra sulung dan Ia juga memiliki banyak putra. Hal ini dengan jelas dikatakan baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam Roma 8:29 Paulus mengatakan bahwa Allah membuat Putra-Nya menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Ibrani 2:10 mengatakan bahwa suatu hari Putra sulung ini, sebagai Pemimpin kita, akan membawa kita, banyak putra, banyak saudara-saudara-Nya, ke dalam kemuliaan. Ibrani 2:11–12 mengatakan bahwa Putra sulung dan banyak putra semuanya berasal dari Satu dan Ia tidak malu menyebut mereka saudara, kata-Nya, "Aku akan memberitakan nama-Mu (nama Bapa) kepada saudara-saudara-Ku."

Inilah kebangkitan Kristus. Tetapi kebangkitan ini tidak sederhana. Pertama-tama, dalam kebangkitan Kristus, Yesus dengan keinsanian-Nya dilahirkan sebagai Putra sulung Allah; kedua, kita, orang-orang pilihan Allah dan orang-orang tebusan Kristus, dilahirkan menjadi banyak putra Allah; dan ketiga, Adam yang akhir dalam keinsanian-Nya, yaitu Yesus yang berinkarnasi, menjadi Roh pemberi hayat. Inilah Adam yang akhir, Yesus yang berinkarnasi, yang menjadi Roh pemberi hayat; jadi, Roh pemberi hayat adalah Yesus Kristus itu sendiri.

PERAMPUNGAN KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH

ROH PEMBERI HAYAT

Jadi, perampungan kebangkitan Kristus adalah Kristus menjadi Roh pemberi hayat. Roh pemberi hayat adalah Kristus yang berinkarnasi, yaitu perwujudan Allah Tritunggal. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Roh pemberi hayat adalah Kristus yang almuhit, Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung sempurna. Hari ini, Allah Tritunggal yang melalui proses, sudah menjadi Roh pemberi hayat. Jadi, Roh pemberi hayat merupakan perampungan sempurna Allah Tritunggal. Sejak kekekalan, Ia adalah Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh, tetapi belum melalui proses. Proses apakah yang telah Ia lalui? Proses-proses tersebut adalah inkarnasi, kehidupan manusia, ketersaliban, dan kebangkitan. Dalam kekekalan, Allah Tritunggal tidak memiliki unsur manusia, tidak memiliki pengalaman kehidupan manusia, tidak memiliki unsur kematian, dan tidak memiliki unsur kebangkitan. Karena itu, Ia belum bisa dikatakan lengkap. Ia selama-lamanya sempurna, namun tidak lengkap. Tetapi Roh itu merupakan perampungan sempurna Allah Tritunggal. Sampai di sini, Allah Tritunggal telah lengkap sempurna. Ia adalah manusia Allah yang memiliki keinsanian dan kehidupan insani, dan Ia telah melewati kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Sekarang, Ia memiliki empat unsur besar ini--keinsanian, pengalaman kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan—yang sebelumnya tidak dimiliki oleh Allah Tritunggal dalam kekekalan.

MANUSIA MENJADI ALLAH, MEMILIKI HAYAT DAN SIFAT ALLAH

Siapakah Kristus? Kristus bukan hanya sang Pencipta, tetapi juga yang diciptakan. Semua ahli teologi terdahulu yakin akan hal ini, tetapi ahli teologi yang kemudian tidak berani mengajarkannya. "Allah menjadi manusia dan manusia menjadi Allah" sangat umum pada masa lampau. Itulah sebabnya, pada awal abad keempat, Athanasius, yang hadir di konggres Nicea mengatakan, "Ia dibuat menjadi manusia, agar kita dapat menjadi Allah." Perkataan ini berarti bahwa Allah menjadi seorang manusia untuk membuat kita semua, kaum beriman-Nya menjadi Allah. Perkataan ini sudah dikatakan pada abad kedua, tetapi kemudian orang-orang tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Apa yang diciptakan Allah adalah seorang manusia, tetapi manusia tersebut memiliki gambar Allah. Pada akhirnya, Allah datang untuk melahirkan manusia sehingga mereka menjadi anak-anak-Nya, memiliki hayat dan sifat-Nya. Karena itu, dalam hayat dan sifat, manusia adalah jenis Allah.

Salahkah jika kita mengatakan bahwa manusia menjadi Allah? Tetapi, saya sangat berhati-hati mengatakannya. Orang-orang terdahulu mengajarkan hal ini tidak sejelas dan seteliti yang kita lakukan pada hari ini. Saya secara khusus menunjukkan bahwa manusia menjadi Allah tanpa memiliki ke-Allahan, tetapi hanya memiliki hayat dan sifat Allah. Tidak ada seorang guru pun dalam kekristenan yang dapat menentang hal ini. Begitu kita percaya kepada Tuhan, kita menerima hayat Allah, dan 2 Petrus 1:4 dengan jelas mengatakan bahwa kita boleh "mengambil bagian dalam kodrat ilahi." Tidak seorangpun dapat menolaknya. Satu Yohanes 3:2 memberi tahu kita, "...akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya." Saya harap, kita dapat meletakkan dasar yang baik tentang hal ini dengan secara pasti di tengah-tengah kita.

LANGKAH-LANGKAH YANG DITEMPUH ALLAH

UNTUK MEMBUAT MANUSIA MENJADI ALLAH

(hanya dalam hayat dan sifat)

Allah menjadi manusia melalui proses inkarnasi, menempuh kehidupan manusia, disalibkan, dan masuk dalam kebangkitan. Bagaimanakah Allah membuat manusia menjadi Allah? Mula-mula, Allah menjadi seorang manusia. Proses yang ditempuh Allah dari inkarnasi hingga kebangkitan merupakan prosedur agar Dia menjadi manusia. Akhirnya, dalam kebangkitan-Nya, Ia menjadi Roh pemberi hayat. Dalam Roh ini, Ia datang untuk melaksanakan pekerjaan, yaitu membuat manusia menjadi Allah. Pertama, Ia adalah Roh yang menguduskan seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:2. Kita adalah orang-orang yang jatuh dalam dosa, tetapi beberapa orang beriman digerakkan oleh Allah untuk datang dan memberitakan Injil kepada kita. Melalui pemberitaan Injil, Roh yang menguduskan ini datang untuk menyisihkan kita, orang-orang pilihan Allah. Pekerjaan Roh yang menguduskan atas diri orang-orang berdosa sama seperti seorang perempuan yang menyalakan pelita dan mencari dirham yang hilang dengan cermat, seperti yang tercatat dalam Lukas 15 (ay. 8). Kita telah dikuduskan sebelum kita diselamatkan. Kedua, pada saat kita mendengarkan Injil, Roh itu meletakkan iman di dalam kita. Ketiga, ketika kita percaya, hayat Allah, yaitu Allah sendiri, Kristus sendiri, masuk ke dalam kita. Dengan demikian, kita dilahirkan kembali.

Pengudusan yang kita alami setelah kita dilahirkan kembali bukan pengudusan secara kedudukan, melainkan pengudusan tabiat. Pengudusan secara kedudukan terjadi sebelum kita diselamatkan, yaitu ketika Roh Kudus menyisihkan kita dari antara orang-orang berdosa. Pengudusan tabiat terjadi setelah kita dilahirkan kembali, yaitu ketika Roh Kudus masuk ke dalam kita untuk mengubah tabiat kita. Pengudusan tabiat ini tidak dirampungkan dalam satu hari. Pengudusan ini menghasilkan pembaruan yang berlangsung seumur hidup. Pembaruan ini menghasilkan pengubahan yang juga berlangsung seumur hidup. Hasil akhir pengubahan adalah diserupakan dengan gambar Tuhan dan menjadi sama seperti Dia. Mulai langkah pertama, yaitu kelahiran kembali, hingga langkah terakhir, yaitu penyerupaan, semuanya dilaksanakan oleh Roh itu. Akhirnya, Roh itu akan membawa kita masuk ke dalam kemuliaan sehingga Allah akan diekspresikan sepenuhnya dari dalam kita melalui tubuh kita yang telah rusak. Pada saat itu, tubuh rusak kita juga akan ditebus dan diubah. Itulah pemuliaan, seperti yang disebutkan dalam Roma 8:30: "Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." Dengan langkah-langkah inilah Allah membuat kita menjadi Allah.

REALITAS TUBUH KRISTUS

Sekarang kita akan melanjutkan untuk melihat realitas Tubuh Kristus. Realitas Tubuh Kristus adalah Roh itu dan Roh itu adalah kebangkitan. Saudara Nee membuat sebuah pernyataan, "Roh Kudus adalah realitas kebangkitan; tanpa Roh Kudus, tidak ada kebangkitan." Dalam Yohanes 11:25 Tuhan Yesus mengatakan, "Akulah kebangkitan dan hidup." Ia bukan hanya hidup, tetapi juga kebangkitan. Sayang sekali, di antara kita banyak yang dapat mengerti bahwa Roh itu adalah hayat, tetapi tidak dapat memahami bahwa Roh itu adalah kebangkitan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia adalah kebangkitan. Apakah kebangkitan tersebut? Kebangkitan adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal. Pekerjaan Allah Tritunggal di dalam kita adalah untuk menghasilkan Tubuh Kristus, realitasnya adalah Roh itu, Kristus yang pneumatik. Roh itu, sebagai Allah Tritunggal yang rampung sempurna dan sebagai kebangkitan bekerja di dalam kita. Ketika kita memiliki Kristus yang pneumatik, Allah Tritunggal yang rampung, kebangkitan, kita adalah Tubuh Kristus secara praktis. Tanpa ini, gereja lokal, para penatua, dan para diaken bukanlah Tubuh Kristus. Gereja lokal dan para penatua serta para diaken digunakan oleh Tuhan untuk memimpin anak-anak Allah yang masih hidup dalam daging, tubuh jasmani.

Kita masih berada dalam daging, dan dalam daging ini kita perlu hidup, selain itu kita juga perlu tempat untuk hidup. Di samping itu, setiap kali kita datang berkumpul, kita tidak dapat bertingkah-laku sembarangan; sebaliknya kita harus bertindaktanduk dengan teratur. Karena itulah kita memerlukan para penatua dan para diaken. Namun semua itu bukan permata, melainkan hanya pembungkus permata. Permata memerlukan sebuah kotak untuk menyimpannya. Jadi, dalam gereja lokal, semua penatua dan diaken serta semua praktek-praktek hanyalah bungkus luar dan kotak; semua itu tidak dapat dibawa masuk ke dalam Yerusalem Baru. Kita tidak perlu memperdebatkan perkara-perkara seperti otonomi dan batasan gereja lokal. Meskipun masing-masing gereja lokal mandiri dalam urusan administrasi, tetapi sebagai mustika, semua gereja lokal adalah satu. Apakah mustika tersebut? Mustika tersebut adalah kesaksian Yesus. Hari ini bagaimanakah kita dapat menghasilkan mustika itu? Yaitu melalui Kristus yang telah merampungkan segala sesuatu dan naik ke tingkat-tingkat langit. Hari ini, dalam kenaikan-Nya, Ia sebagai Pelayan di langit, menggarapkan segala sesuatu yang telah dirampungkan-Nya, mulai inkarnasi-Nya hingga kebangkitan-Nya, sedikit demi sedikit ke dalam kita.

Hari ini kita tidak perlu terus memberitakan ajaran lama yang merupakan bungkus luar. Kita tidak perlu berdebat mengenai hal-hal yang dangkal. Asalkan mustika tersebut ada di sini, itu sudah cukup. Ketika Anda membungkus barang berharga, dengan cara apapun Anda membungkusnya, tidaklah menjadi masalah. Bagaimanapun cara Anda membungkusnya, barang tersebut masih tetap permata tulen. Entah dibungkus dengan dua lapis atau tiga lapis, ia tetap permata. Bahkan seandainya Anda tidak membungkusnya sekalipun, ia tetap permata. Asalkan permata tersebut berada di sini, cukuplah. Asalkan kita dapat mengalami Kristus, cukuplah; tidak ada yang perlu diperdebatkan. Baptisan selam, percik, air panas, air dingin, air laut, atau air tawar, tidaklah menjadi masalah. Karena itu, kita perlu mempunyai penglihatan yang menyeluruh. Yang berharga adalah Roh itu. Kita harus membiarkan Roh itu masuk ke dalam kita dan mengijinkan salib Kristus diletakkan di dalam kita secara praktis. Inilah yang berharga. Inilah mustika.

Di manakah kita hari ini? Hari ini kita bukannya membuang semua perkara-perkara luaran; kita masih mempertahankan perkara-perkara tersebut. Tetapi kita mempertahankannya bukan karena kesukaan kita. Kita mempertahankannya sesuai dengan contoh-contoh dalam Alkitab. Contoh-contoh baptisan yang diberikan dalam Alkitab adalah baptisan selam. Itulah sebabnya kita membaptis orang-orang dengan memasukkan mereka ke dalam air. Kita tidak perlu membaptis orang-orang di dalam kolam baptisan. Kita hanya perlu meletakkan orang-orang dalam air; bahkan bak mandi pun boleh. Kita tidak seharusnya terikat oleh aturan tertentu. Perkara-perkara luaran tidak seharusnya menyita perhatian kita. Kita harus memperhatikan mustika yang di dalam. Ketika kita melihat mustika yang di dalam, kita tidak dapat terpecah-pecah. Begitu kita terpecah-pecah, kita tidak lagi melihat mustika. Jadi, realitas Tubuh Kristus adalah Allah Tntunggal yang rampung, yang berada di dalam kita, yaitu Kristus yang pneumatik, sang Kebangkitan. Semoga Tuhan membelaskasihi kita dan mengalihkan kita dan perkara-perkara luaran masuk ke dalam realitas.