← Daftar isi Puncak Visi · bab 2/4

PUNCAK VISI (2)

Doa: Oh Tuhan, hanya Engkau yang tahu keperluan kami. Kami perlu melihat Engkau; kami perlu melihat ekonomi-Mu, sasaran-Mu, dan kedambaan hati-Mu. Oh Tuhan kami menyembah Engkau. Segala sesuatu pada pihak kami tergantung pada belaskasih-Mu. Engkau membelaskasihi siapa saja yang akan Engkau belaskasihi. Oh Tuhan, kami berdoa agar Engkau tidak berhenti membelaskasihi kami dan terus-menerus membelaskasihi kami. Oh Tuhan, selama lebih dari seribu sembilan ratus tahun, gereja-Mu telah berada di bumi, tetapi keadaannya masih saja seperti hari ini. Oh Tuhan, kami berdoa agar Engkau membebaskan kami dari zaman agamawi ini agar kami dapat benar-benar mencapai keadaan yang Engkau inginkan dalam ekonomi-Mu. Oh Tuhan, malam ini basuhlah kami dan urapilah kami sekali lagi. Naungilah kami dengan darah adi-Mu serta singkirkanlah segala gangguan dan kekacauan. Berilah kami perkataan-perkataan dan murnikanlah perkataan-perkataan kami. Tuhan, kami menyembah Engkau karena Engkau telah menghancurkan musuh-Mu. Amin.

"ALLAH MENJADI MANUSIA AGAR MANUSIA DAPAT

MENJADI ALLAH (HANYA DALAM HAYAT DAN SIFAT)"

MERUPAKAN ESENS SELURUH ALKITAB

Saudara-saudara, saya merasa bahwa saya masih perlu bersekutu dengan Anda mengenai visi. Malam ini kita akan melihat perkara "Allah menjadi manusia agar manusia dapat menjadi Allah (hanya dalam hayat dan sifat)" dalam ekonomi-Nya. Istilah "Allah menjadi manusia dan manusia menjadi Allah" kedengarannya sangat sederhana, tetapi agar dapat melihat bagaimana Allah menjadi manusia, kita perlu meluangkan banyak waktu untuk belajar. Dia datang untuk menjadi manusia agar manusia dapat menjadi Dia, tetapi bagaimana mungkin manusia menjadi Allah? Kita juga perlu memasuki butir ini dengan hati-hati. Secara tegas dapat dikatakan bahwa perkataan-perkataan ini merupakan esens seluruh Alkitab. Seluruh Alkitab merupakan penjelasan ekonomi kekal Allah. Sejak orang-orang Yahudi membaca Perjanjian Lama hingga kini sudah berlangsung selama tiga ribu lima ratus tahun; orang-orang Kristen telah membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru hampir dua ribu tahun. Berjuta-juta orang telah membaca Alkitab. Tetapi sayang sekali, tidak banyak yang benar-benar melihat makna yang wajar dan sesungguhnya dalam Alkitab. Hal ini tidak berarti bahwa dari generasi ke generasi tidak ada seorang pun yang telah melihat visi dalam Alkitab; tetapi apa yang mereka lihat hanyalah sepotong-sepotong. Seseorang melihat sedikit mengenai satu aspek, dan yang lain melihat sedikit mengenai aspek lain. Karena itu, di antara semua golongan umat manusia di seluruh dunia, kekristenan memiliki jumlah buku yang paling banyak. Di seluruh dunia, tidak ada golongan lain yang memiliki jumlah buku lebih banyak daripada kekristenan. Hal ini membuktikan banyak orang telah melihat sesuatu dari Alkitab.

MINISTRI SAUDARA NEE

DAN PENGATURAN PEKERJAAN YANG DILAKUKAN OLEHNYA

Ketika Tuhan membangkitkan kita di Cina, melalui saudara Nee, Tuhan memperlihatkan kepada kita seluruh visi dalam Alkitab dengan singkat dan padat, yaitu butir-butir besar yang telah saya persekutukan dengan Anda dalam bab sebelumnya: keselamatan Allah, gereja, Kristus sebagai hayat, dan Tubuh Kristus. Inilah perkara-perkara yang dilihat oleh saudara Nee dengan jelas dan disampaikan kepada kita dalam tiga puluh tahun ministrinya. Sekali lagi saya katakan, sayang sekali, dari keempat butir besar yang diperlihatkan-Nya kepada kita, kebanyakan saudara saudari hanya mengerti tiga butir pertama dan tidak setuju dengan butir terakhir, yaitu Tubuh Kristus. Bagaimanapun, mulai tahun 1922 hingga 1952, saat belum dimasukkan ke dalam penjara, saudara Nee menunaikan ministrinya tepat tiga puluh tahun. Kemudian, dalam dua puluh tahun selanjutnya, beliau tidak dapat menulis satu buku pun atau mengerjakan sesuatu.

Pada tahun 1950, sebelum saudara Nee dipenjarakan, Tuhan memimpin dia untuk mengatur para sekerja, suatu pengaturan yang tidak pernah dilakukan sebelum maupun sesudahnya. Beliau jarang membuat pengaturan semacam ini karena pada saat itu situasi politik terus berubah dan kami tidak tahu bagaimana mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut. Dalam dua kali sidang darurat para sekerja, beliau berulang-ulang mengatakan, "Kami mengutus saudara Witness untuk pergi ke luar negeri." Setelah itu, ketika komunis mendapatkan kedudukan yang menguntungkan, saya berada di Shanghai untuk menyelesaikan pembangunan balai sidang besar secepatnya, dan satu-satunya pekerjaan yang belum sempat dikerjakan adalah memasang keramik lantai. Pada akhir bulan April 1949, saudara Nee mengirim telegram kepada saya, menyuruh saya menyerahkan segala sesuatu yang berkenaan dengan gereja di Shanghai kepada para penatua dan meninggalkan Shanghai dengan segera. Jadi, saya diutus keluar.

SERAH TERIMA MINISTRI DALAM PEMULIHAN TUHAN

DAN PERMULAAN PEKERJAAN DI TAIWAN

Setelah saya tiba di Taiwan, di luar rumah saya mendengar suara terompah kayu (bakiak) di atas jalan kerikil, dan di dalam rumah saya melihat sebuah ruangan dengan tatami Jepang. Pada waktu itu, di Taipeh, paling banyak hanya ada lima puluh orang yang bersidang, dan tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Saya berbaring di tempat tidur di rumah sambil memandang langit-langit, mengatakan, "Untuk apa saya datang ke Taiwan?" Saat itu bulan April. Kemudian saya menempuh perjalanan ke Taiwan bagian tengah dan selatan. Tuhan memberi saya perasaan bahwa sesuatu dapat dilakukan di Taiwan dan Taiwan merupakan tempat yang sangat bagus karena di sana sangat mudah mendirikan gereja-gereja lokal. Dalam satu hari saja saya dapat pergi ke tiga sampai empat tempat dan transportasi di sana sangat lancar. Karena itu, pada tanggal 1 Agustus 1949, secara resmi saya mulai bekerja di Taiwan.

Pada tahun berikutnya saudara Nee pergi ke Hongkong. Pada awal tahun tersebut terjadi suatu kebangunan, sehingga ia menyuruh saya pergi ke Hongkong untuk membantu dia memimpin seluruh gereja di Hongkong dalam tiga aspek pelayanan: pelayanan para sekerja, pelayanan para penatua, dan pelayanan para diaken. Selama satu setengah bulan, kami berdua berada di sana dan hampir setiap hari kami bersidang dengan setiap kelompok. Dari akhir tahun 1949, selama dua tahun, gereja di Shanghai menikmati kebebasan sepenuhnya. Sebelumnya saudara Nee tidak pernah mendapatkan kesempatan yang demikian besar untuk menyampaikan segala sesuatu yang telah ia terima dari Tuhan, karena pada waktu itu semua misionaris Barat telah pergi. Pada saat itu sembilan puluh persen orang Kristen Cina berada di bawah kekuasaan misionaris Barat, sehingga setelah mereka pergi, berbagai ragam denominasi di Shanghai bagaikan kawanan domba yang tidak mempunyai gembala, dan siapa saja yang memiliki sedikit kedambaan untuk menuntut Tuhan berpaling ke tengah-tengah kita. Saudara Nee menganggap hal itu sebagai kesempatan emas. Pada tahun 1962 atau 1963, adik ipar saudara Nee, Samuel Chang, berkata kepada saya, "Saudara Lee, pada tahun 1950, sebelum saudara Nee pergi ke Hongkong untuk mengadakan konferensi di sana, para sekerja di Shanghai mengusulkan untuk memindahkan Anda dari Taiwan, karena di Taiwan tidak banyak yang bisa dikerjakan. Mereka ingin Anda kembali ke Shanghai, karena di sana terdapat begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sejauh menyangkut kekristenan, seluruh Shanghai berada di tangan kita."

Saudara Nee sangat bijaksana; ia jarang melakukan sesuatu atau berkata sesuatu dengan terburu-buru ataupun memaksakan diri, tetapi ia selalu berusaha untuk melihat bagaimana Allah memimpin dan mengatur melalui lingkungan. Karena itu, ketika saya tiba di Hongkong, ia tidak membicarakan masalah ini dengan saya. Begitu kami duduk untuk berbincang-bincang, secara spontan saya memberi tahu dia mengenai keadaan pekerjaan di Taiwan dalam setengah tahun itu atau lebih. Saya memberi tahu dia bahwa pada akhir tahun yang telah lewat, jumlah saudara saudari dalam gereja di Taipeh telah meningkat tiga puluh kali lipat. Dalam pembicaraan saya, saya juga menunjukkan kalau saya sangat berbeban. Saya mengatakan bahwa dari sana kita dapat pergi untuk bekerja di Asia Tenggara, kemudian melanjutkan ke Asia Timur, dan perlahan-lahan kita akan mencapai daerah Barat. Setelah mendengar saya membicarakan keadaan di Taiwan, ia bukan hanya tidak menyampaikan keputusan para sekerja di daratan Cina yang ingin mengirim saya kembali ke daratan Cina, melainkan ia mendorong saya untuk melakukan pekerjaan yang baik. Kami membicarakan soal kembali ke daratan Cina. Saya mengatakan, "Perkara ini terlalu besar; saya tidak berani mengatakan yang manakah kehendak Tuhan, kembali ke daratan Cina atau tidak kembali ke daratan Cina." Ia berkata, "Apakah yang harus kita lakukan terhadap ratusan gereja di Cina?" Beberapa hari kemudian, tanpa mengatakan selamat tinggal kepada siapa pun, ia kembali ke daratan Cina. Lebih dari sepuluh hari kemudian, setelah ia meninggalkan Hongkong, saya kembali ke Taiwan.

Pada saat saya pergi ke Taiwan, saya mempunyai sebuah keluarga yang terdiri dari sepuluh orang serta dua orang pembantu. Kedua belas orang tersebut semuanya pergi ke Taiwan. Pada saat saya turun dari pesawat, saya mempunyai tiga ratus dolar Amerika. Saudara Nee benar-benar mengetahui keadaan kami, dan ia tahu jika saya tiba di Taiwan, maka saya akan sulit menerima tunjangan. Pada saat itu di Taiwan hanya ada sedikit orang kudus, dan sebagian besar dari mereka pergi ke sana hanya untuk mengungsi, sehingga mereka tidak mempunyai banyak kelebihan untuk dibagikan dan menyuplai orang lain. Saudara Nee benar-benar mengasihi para sekerja; ia mengatakan, "Saudara Witness, saya mempunyai sebotol obat sebagai contoh, dan saya juga mempunyai formulanya. Bawalah keduanya ke Taiwan. Kumpulkanlah beberapa saudara yang melakukan bisnis, dan mintalah mereka menanamkan sedikit modal dan memasang iklan. Maka itu akan mencukupi." Karena itu, saya kembali ke Taiwan dan bersekutu dengan para saudara, tetapi setiap orang merasa bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat sehingga kami tidak melakukannya.

Pada akhir tahun 1950 saya pergi ke Manila. Saya bekerja di sana selama lima setengah bulan. Sebelum saya meninggalkan Manila, seorang saudara pergi ke para penatua dan meminta mereka untuk mempertemukan dia dengan saya. Saudara ini adalah seorang pengusaha yang cukup kaya, tetapi ia hanya mempersembahkan sedikit sebelumnya. Ia datang menemui saya dan berkata, "Saudara Lee, sekarang Anda akan kembali ke Taiwan. Tolong beritahu saya jumlah seluruh biaya tahunan pekerjaan Anda di Taiwan termasuk pembangunan balai sidang dan tunjangan untuk para sekerja. Saya berbeban di hadapan Tuhan untuk memikul semua tanggung jawab itu." Hal ini benarbenar sesuatu yang berasal dari Tuhan. Kemudian saya mengatakan, "Saudara Wang, Anda tahu praktek yang dilakukan di tengah-tengah kami, kami tidak akan memberi tahukan keperluan kami kepada orang-orang." Ia mengatakan, "Bukan Anda yang memberi tahu saya, tetapi sayalah yang menerima amanat dari Tuhan. Karena itu, jika Anda tidak memberi tahu saya, bagaimana saya dapat mengetahui jumlahnya?" Maka saya memberi tahu dia. Kemudian, selama sebelas tahun, ia menyuplai pekerjaan tersebut, dari tahun 1950 sampai tahun 1961; setiap tahun terdapat sejumlah uang sebagai tunjangan. Syukur kepada Tuhan, semuanya ini adalah pekerjaan-Nya.

Dari Manila saya kembali ke Taiwan. Pada saat itu saya adalah saudara sepenuh waktu satu-satunya di Taiwan, selain itu ada saudari Hou yang juga sepenuh waktu melayani. Di seluruh pulau Taiwan, hanya kami berdua yang sepenuh waktu melayani. Bahkan saudara Chang Wu-chen dan Sun Feng-lu masih belum sepenuh waktu. Setiap orang tahu, jika ia tidak mempunyai pekerjaan maka tidak akan ada yang menunjang dia, karena itu setiap orang bekerja. Setelah saya mengalami hal itu di Asia Tenggara, saya bersekutu dengan para saudara. Kemudian, saya mulai mengadakan latihan-latihan. Pada tahun 1952 terdapat lebih dari delapan puluh orang yang sepenuh waktu melayani. Saya dengan jelas memberi tahu gereja bahwa hal ini tidak berarti gereja-gereja tidak lagi bertanggung jawab atau para saudara dan saudari tidak perlu memberi dalam kasih. Tetapi pengalaman pribadi saya mengajarkan bahwa mereka yang sepenuh waktu melayani ada kemungkinan tidak mempunyai makanan di atas meja mereka. Melalui Alkitab, kita melihat bahwa hal ini juga dialami oleh Paulus. Karena itu, berdasarkan pengalaman saya, saya mengatakan bahwa tunjangan yang saya terima dalam pekerjaan ministri saya akan digunakan untuk membiayai persediaan makanan yang cukup bagi para sekerja dan keluarga mereka. Hal ini berarti, jika para saudara dan saudari tidak memberikan sesuatu, para sekerja masih mempunyai makanan di atas meja mereka. Tunjangan ini berlangsung terus sampai tahun 1961. Mulai tahun 1961, sesuai dengan kemampuan mereka, gereja-gereja mulai mempersembahkan untuk mengurangi beban pada pihak pekerjaan saya. Karena banyak gereja telah didirikan dan jumlah orang-orang kudus meningkat, mereka mengurangi jumlah tunjangan saya kepada para sekerja sampai enam puluh persen. Jadi, perlahan-lahan, saya melepaskan beban tersebut pada tahun 1964. Semua ini tercatat dalam rekening Gospel Book Room tahun-tahun itu. Jumlah para sekerja beserta keluarga mereka mencapai angka seratus tujuh puluh. Setiap tahun ministri menyuplai kebutuhan sehari-hari mereka. Ini benar-benar pekerjaan Tuhan.

Pada tahun 1950, saya bertemu dengan saudara Nee untuk terakhir kali. Saat itu saya tidak begitu mengerti, tetapi sekarang jika mengingat kembali masa-masa itu, saya melihat bahwa semua itu adalah pengaturan Tuhan; Tuhan sedang mengadakan persiapan-persiapan untuk mengalihkan ministri firman dalam pemulihan Tuhan kepada saya. Ketika berada di daratan Cina, saya tidak menerbitkan buku-buku sendiri, tetapi saya membantu saudara Nee mengatur Gospel Book Room. Saya hanya menulis beberapa artikel yang disukai oleh saudara Nee dan menerbitkannya berupa buku yang berjudul, Gleanings from Christ's Genealogy. Ada juga beberapa buku mengenai kerajaan surga. Pada tahun 1950, ketika kami berdua ada di Hongkong, kami meluangkan banyak waktu untuk berbincang-bincang bersama. Karena saya menyadari bahwa kelak ada kemungkinan tidak dapat berhubungan dengan saudara Nee, saya mengemukakan kepadanya kebutuhan akan penerbitan di Taiwan. Ia berkata, "Saudara Witness, Anda tahu bahwa di antara kita hanya saya pribadi yang memiliki Gospel Book Room. Gospel Book Room bukan milik gereja ataupun milik para sekerja melainkan milik saya pribadi." Kemudian ia membuat suatu pengaturan dan berkata, "Sekarang ketiga kawasan politik ini--daratan Cina, Hongkong, dan Taiwan — semuanya berbeda satu dengan yang lain. Karena itu kita harus membagi Gospel Book Room menjadi tiga: satu di Shanghai, satu di Taiwan, dan satu di Hongkong. Bukan tiga Book Room, melainkan satu. Karena situasi politik saat ini, ketiga tempat tersebut akan mengatur keuangannya sendiri-sendiri." Ia akan mengurus Gospel Book Room yang berada di Shanghai; dan ia mempercayakan tanggung jawab Gospel Book Room di Taiwan kepada saya; ia juga menyuruh saudara K.H. Weigh untuk mengurus Gospel Book Room yang berada di Hongkong. Selanjutnya ia menugaskan saya dengan berkata, "Saudara Weigh juga memerlukan bantuan Anda untuk menangani urusan-urusan dalam Gospel Book Room." Sebab itu, dalam menerbitkan buku-buku, pada awalnya Gospel Book Room di Taiwan banyak bekerja sama dengan Hongkong. Keduanya menerbitkan buku bersama-sama, bukan sendirisendiri, tetapi biaya penerbitan buku di Hongkong maupun di Taiwan diperhitungkan bersama. Karena pengaturan saudara Nee yang sedemikian, maka kita memiliki keadaan sekarang ini.

Syukur kepada Tuhan, begitu kami mulai bekerja di Taipeh, saudara-saudara keturunan Cina yang berada di luar negeri mempersembahkan sepuluh ribu dolar Amerika dan itu menjadi modal awal Gospel Book Room. Mengenai Book Room tersebut, saya telah mengatakan kepada para sekerja dengan jelas bahwa Book Room ini bukan milik gereja, juga bukan milik para sekerja, atau milik pekerjaan. Sebagaimana halnya dengan saudara Nee pada masa yang lampau, Book Room ini adalah milik saya untuk melayani penerbitan berita-berita yang saya sampaikan dalam ministri saya. Itulah sebabnya, saya mulai menerbitkan buku-buku di Taiwan. Saya tahu bahwa ministri saudara Nee tidak akan ada lagi, dan kami tidak akan dapat memilikinya lagi. Maka saya mulai melaksanakan pekerjaan literatur di Taiwan. Persekutuan di Hongkong tersebut benar-benar merupakan suatu pengaturan di bawah kedaulatan Tuhan, karena pada saat itu saudara Nee memberikan petunjuk-petunjuk mengenai pekerjaan kepada saya. Dua tahun kemudian, ia dimasukkan ke penjara. Pada tahun 1952, di Taiwan, lebih dari delapan puluh orang yang melayani sepenuh waktu ditambahkan sekaligus. Saya dapat bersaksi kepada Anda bahwa tidak satupun dari hal-hal itu berasal dari pekerjaan saya, tetapi segala sesuatu adalah berasal dari pengaturan kedaulatan Tuhan. Mulai tahun 1932, ketika saya mulai berbicara bagi Tuhan, hingga tahun 1952, semuanya ada dua puluh tahun. Saya mulai berbicara sepuluh tahun setelah saudara Nee. Saudara Nee mulai berbicara bagi Tuhan pada tahun 1922. Mulai saat itu hingga musim panas 1952, ketika ia dipenjarakan, ia telah berbicara selama tiga puluh tahun. Mulai tahun 1952 dan seterusnya, Tuhan mengalihkan ministri firman kepada saya.

KEMAJUAN DAN KENAIKAN MINISTRI FIRMAN

DALAM PEMULIHAN TUHAN

Dari The Ministry of the Word yang terbit setiap bulan, Anda dapat melihat bahwa pada waktu itu kami masih dangkal. Mulai tahun 1951 hingga tahun 1961, sepuluh tahun telah berlalu. Kemudian saya mempunyai beban. Saya merasa kidung kita sangat sedikit dan tidak sesuai dengan visi yang telah kita lihat, maka saya menyusun kidung tambahan yang terdiri dari delapan puluh lima kidung baru hasil tulisan saya selama dua bulan. Dalam kidung kita, seperti kidung nomor 222, yang baris pertamanya mengatakan, "Hayat dan alangkah teduh!/ Di batinku Kristus hidup!" dan kidung nomor 225, "Kristus mulia, Juru S'lamat,/perwujudan mulia Allah!" ditulis pada waktu itu. Saya sangat terkejut karena lebih dari tiga puluh tahun yang lalu saya dapat menulis kidung seperti nomor 222 dan 225. Saya bahkan lebih terkejut karena tidak lama setelah itu saya dapat menulis kidung nomor 83, "Sebelum waktu bermula,/Sebelum zaman mulai,/Di dalam mulia Bapa,/Kau Putra tunggal Allah./ Saat Bapa b'rikan diri-Mu,/Kau s'rupa d'ngan insan,/Semua kelimpahan Bapa/Lewat Roh ternyatakan." Bait ketiga mengatakan bahwa Tuhan adalah sebutir biji gandum, dan bait keempat mengatakan bahwa kita adalah reproduksi-Nya, Tubuh-Nya, dan mempelai-Nya. Sungguh mengejutkan, karena lebih dari tiga puluh tahun yang lalu saya dapat menulis kidung semacam itu. Jadi, apa yang telah saya lihat dari Tuhan adalah berdasar pada apa yang telah dilihat oleh saudara Nee. Apa yang saya lihat pada waktu itu hanya sebanyak itu. Dalam kedelapan puluh lima kidung tersebut, penekanan saya adalah pada Kristus, Tubuh Kristus, Roh itu, dan hayat. Sejak saat itu, setelah sejangka waktu, sidang pemecahan roti di antara kita beralih dari kidung lama ke kidung baru. Sebelumnya, dalam kidung lama, kita kebanyakan mengenang kasih Tuhan, kematian Tuhan, penebusan Tuhan dll. Tetapi sekarang dalam hampir setiap sidang pemecahan roti kita memilih kidung-kidung baru ini. Maka, pujian kita kepada Tuhan dipertinggi dan diperkaya. Tahun 1952 merupakan titik peralihan saya dalam ministri firman, dan tahun 1962 merupakan titik peralihan yang lain. Setelah itu saya pergi ke Amerika Serikat. Semoga Tuhan menudungi saya dengan darah adi-Nya--pada waktu itu, saya cukup matang dalam ministri firman. Dua bulan yang lalu, gereja di sini membaca pelajaran hayat kitab Ibrani sebagai Penyegaran Pagi. Pelajaran hayat kitab Ibrani saya sampaikan pada tahun 1975, tepat sembilan belas tahun yang lalu. Saya menguraikan kitab Ibrani secara mendalam dan tidak ada satu bagian pun yang perlu diperbaiki. Hal ini menunjukkan kepada Anda kalau di tahun 1961 ketika saya datang ke Amerika Serikat, saya sudah cukup matang dalam ministri firman. Selama hampir lima belas sampai dua puluh tahun, semua yang saya layankan adalah Kristus, Roh itu, hayat, dan gereja. Pada waktu itu, saya juga melihat pembangunan Tubuh Kristus. Salah satu kidung yang saya tulis, yaitu nomor 840 (Hymns), adalah mengenai pembangunan Tubuh Kristus. Kidung ini mengatakan, "Bebas dari diri, Adam/ Tuhan, bangunkan aku." Hari ini, ketika saya menyanyikan kidung ini, saya masih merasa bahwa kidung ini begitu segar dan penuh dengan terang.

Hampir dua puluh tahun kemudian, Tuhan mulai memimpin saya untuk melihat penyaluran Allah Tritunggal dan ekonomi kekal Allah. Dalam belasan tahun belakangan ini, perkara itulah yang terus-menerus Tuhan tunjukkan kepada saya. Kemudian pada tahun ini (1994), saat konferensi berbahasa Mandarin pada tahun baru Cina, saya melihat puncaknya. Berdasarkan apa yang saya lihat, saya menulis sebuah kidung baru yang mengekspresikan puncak visi yang telah Tuhan tunjukkan kepada saya: "Misterius! Sungguh ajaib!/ Allah berbaur dengan insan!/ Allah-insan, insan-Allah,/ Ekonomi tak terperi!/ Dari perkenan, hasrat-Nya,/ tujuan luhur 'kan tercapai." Dulu di antara kita, sama sekali tidak ada perkataan-perkataan semacam itu, tetapi sekarang perkataan-perkataan tersebut telah tertulis dalam sebuah kidung.

ALLAH MENJADI MANUSIA DAN

MANUSIA MENJADI ALLAH (HANYA DALAM HAYAT DAN SIFAT-NYA)

"Allah menjadi manusia dan manusia menjadi Allah (hanya dalam hayat dan sifat)" adalah ekonomi Allah; semua ini melampaui pengertian para malaikat dan manusia. Inilah butir yang ingin saya bahas pada malam ini. Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa Allah menjadi seorang manusia untuk menjadi Juruselamat kita dan kemudian la menebus dan melahirkan kita kembali. Semua orang Kristen ortodoks dan guru fundamental telah melihat kebenaran ini. Tetapi mereka tidak melihat bahwa dalam Alkitab tercatat garis ekonomi Allah yang menunjukkan kepada kita bagaimana Allah menjadi manusia untuk membuat manusia menjadi Allah. Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana manusia dapat menjadi Allah dan menempuh kehidupan manusia-Allah sehingga menjadi suatu organisme Allah, yaitu Tubuh Kristus. Inilah yang tidak mereka lihat.

ALLAH MENJADI MANUSIA —

MELALUI PENCIPTAAN MANUSIA DAN KEMUDIAN

SECARA PRIBADI DATANG UNTUK MENJADI MANUSIA

Malam ini, saya ingin meluangkan waktu untuk membicarakan bagaimana Allah menjadi manusia. Untuk menjadi manusia, pertama-tama Allah harus menciptakan manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya; ini merupakan kulit luarnya. Meskipun yang Allah ciptakan adalah manusia, manusia yang diciptakan-Nya ini memiliki gambar-Nya. Inilah langkah pertama. Langkah berikutnya adalah Allah datang secara pribadi untuk menjadi manusia. Bagaimana Ia dapat datang dan menjadi seorang manusia? Ia melakukan hal ini melalui masuk ke dalam keinsanian. Secara jasmani, hal ini berarti Ia masuk ke dalam seorang anak dara untuk dikandung olehnya. Matius 1 mengatakan bahwa Allah dilahirkan di dalam Maria. Sesuai dengan hukum penciptaan Allah, Ia dikandung dalam rahim Maria dan tinggal di sana selama sembilan bulan. Setelah Ia tinggal dalam keinsanian selama sembilan bulan, Ia dilahirkan dari keinsanian dengan memiliki keilahian. Manusia yang dilahirkan tersebut adalah Allah pun manusia dan manusia pun Allah. Kekristenan memiliki hari Natal, kekristenan memiliki palungan, dan kekristenan memiliki malaikat-malaikat yang memberitakan kabar sukacita. Tetapi mengenai hal-hal yang baru saja saya sampaikan kepada Anda secara sederhana, mereka tidak memiliki penglihatan yang jelas. Sebagai manusia-Allah yang sedemikian, Ia hidup sebagai manusia di bumi dan menempuh kehidupan manusia. Bagaimanakah Ia menempuh kehidupan tersebut? Ia melakukannya dengan bersandar pada hayat ilahi di dalam Dia dan dengan menyangkal hayat insani-Nya di luar dan dengan demikian menempuh kehidupan manusia-Allah. Realitas batin kehidupan manusia-Allah yang sedemikian adalah atribut-atribut ilahi dan kehidupan lahir yang tertampil dari kehidupan manusia-Allah yang sedemikian adalah kebajikan-kebajikan insani. Melalui menempuh kehidupan seorang manusia-Allah, Ia menjadi teladan khusus.

Tetapi, bagi Allah, tidak cukup jika hanya mempunyai satu manusia sebagai teladan khusus, sebagai model. Allah memerlukan sebuah manifestasi massal. Itulah sebabnya, pada akhirnya Ia pergi ke atas salib. Ketika Ia pergi ke atas salib, Ia membawa serta manusia yang dikenakan-Nya; berarti Ia mengenakan manusia ini lalu menyalibkannya. Kematian-Nya adalah kematian yang almuhit. Kematian-Nya adalah kematian seorang manusia yang telah jatuh, seorang manusia yang penuh dosa. Pada waktu Ia menjadi seorang manusia, Ia tidak menjadi seorang manusia ciptaan Allah atau seorang manusia kudus; sebaliknya, Ia menjadi seorang manusia ciptaan Allah yang telah jatuh. Daging-Nya adalah daging dosa, tetapi tidak ada racun dosa dan tidak ada substansi dosa di dalamnya. Ia hanya memiliki rupa daging dosa. Karena itu Roma 8:3 mengatakan bahwa Ia datang dalam rupa daging yang dikuasai dosa. Ia adalah manusia yang demikian. Karena itu apa yang dibawa-Nya ke atas salib untuk disalibkan di sana juga adalah manusia yang demikian. Melalui salib, Ia mengakhiri manusia ciptaan lama. Manusia ciptaan lama meliputi semua benda-benda ciptaan. Karena itu kematian-Nya juga mengakhiri segala sesuatu ciptaan lama di atas salib. Manusia ciptaan lama juga memiliki dosa, maka kematian-Nya di atas salib juga menghapus dosa. Selain itu, Iblis bersembunyi dalam daging manusia yang penuh dosa ini. Karena itu, kematian Kristus di atas salib bukan hanya menyalibkan daging tetapi juga memusnahkan Iblis (Ibr. 2:14). Tetapi, ketersaliban-Nya bukanlah akhir dari segala sesuatu; sebaliknya, Ia dibangkitkan dari kematian. Bagaimana Ia dibangkitkan? Ia dibangkitkan melalui kekuatan hayat ilahi-Nya serta keinsanian yang dikenakan-Nya, bagian yang diciptakan Allah. Dalam kebangkitan-Nya, Ia membawa keinsanian masuk ke dalam keilahian.

Melalui inkarnasi-Nya, Allah membawa keilahian masuk ke dalam keinsanian, dan melalui kebangkitan-Nya, Ia membawa keinsanian masuk ke dalam keilahian. Inkarnasi merupakan langkah penting yang ditempuh-Nya untuk membawa keilahian masuk ke dalam keinsanian. Kemudian, dalam kebangkitan-Nya, Ia membawa keinsanian yang dikenakan-Nya masuk ke dalam keilahian. Jadi, sifat insani ciptaan Allah ditinggikan. Pada mulanya, Allah tidak berada dalam sifat insani yang diciptakan-Nya. Tetapi sekarang Ia dibangkitkan, dan semua manusia pilihan Allah dibangkitkan di dalam Dia. Kebangkitan-Nya membawa keinsanian ciptaan Allah masuk ke dalam keilahian untuk dibangkitkan bersama Dia. Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa sifat insani ditinggikan. Andrew Murray mengatakan perkara yang sama, hanya saja istilah-istilah yang ia gunakan berbeda dengan kita dan tidak selengkap milik kita. Dalam kebangkitan ini, Ia membawa keinsanian yang dikenakan-Nya masuk ke dalam keilahian dan menjadi Putra sulung Allah. Menjadi Putra sulung Allah merupakan kelahiran-Nya dalam kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya, mengenai kebangkitan Kristus, Kisah Para Rasul 13:33 mengatakan, "Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini." Ia sudah menjadi Putra Allah, tetapi Ia belum memiliki sifat insani di dalam-Nya. Ketika Ia menjadi Putra sulung Allah, Ia bukan hanya memiliki keilahian sebagai hayat-Nya, tetapi Ia juga memiliki keinsanian yang ditinggikan ditambahkan ke dalam keilahian-Nya. Karena perbauran kedua sifat inilah maka Ia menjadi Putra sulung Allah. Jadi, Ia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah, dan pada saat yang bersamaan Ia melahirkan kembali semua manusia pilihan Allah (1 Ptr. 1:3). Jika kita menggunakan bahasa kita, kita dapat mengatakan bahwa kita dan Tuhan sebagai Putra sulung Allah dilahirkan secara bersamaan. Kita semua dilahirkan bersama-sama dalam kebangkitan Kristus. Kelahiran-Nya merupakan langkah pertama sebagai dasar bagi manusia untuk menjadi Allah (hanya dalam hayat dan sifat). Sekarang, dalam kebangkitan-Nya, kita sebagai orang-orang pilihan Allah telah dibawa masuk ke dalam keilahian. Jadi, melalui kelahiran kembali kita telah menerima hayat yang lain.

Bukan hanya demikian, sebagai Adam yang akhir, yang dalam kebangkitan-Nya membawa keinsanian masuk ke dalam keilahian, Ia menjadi Roh yang menghidupkan (Roh pemberi hayat — Tl.) (1 Kor.15:45). Siapakah Roh pemberi hayat ini? Ia merupakan perampungan sempurna Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Hal ini sama seperti membuat secangkir teh. Jika Anda membuat secangkir teh, pertama-tama Anda perlu memiliki sedikit air, lalu Anda harus memasukkan teh ke dalamnya, dan akhirnya Anda harus menambahkan sedikit lemon dan mungkin sedikit gula. Setelah semua ditambahkan, maka teh itu telah rampung. Kristus sebagai Putra tunggal Allah dapat diumpamakan sebagai air biasa. Pada suatu ketika, sifat insani ditambahkan kepada-Nya. Kemudian, ketika Ia mati di atas salib, maka unsur khasiat kematian-Nya juga ditambahkan. Selanjutnya, Ia masuk ke dalam kebangkitan, maka unsur kebangkitan dengan kekuatannya juga ditambahkan. Sekarang, sebagai Putra tunggal Allah, Ia telah menjadi Putra sulung Allah dan banyak putra Allah dilahirkan bersama Dia.

Selain unsur keilahian-Nya, ke dalam Kristus sudah ditambahkan unsur keinsanian-Nya, penempuhan kehidupan manusia-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya. Karena itu Ia menjadi Roh pemberi hayat. Roh ini merupakan perampungan Allah Tritunggal. Roh ini juga merupakan Kristus yang pneumatik (Kristus yang berwujud Roh. Bahasa Yunani Pneuma bisa berarti roh, juga bisa berarti udara)1, yang merupakan perwujudan Allah Tritunggal. Karena itu, Roh ini adalah Kristus itu sendiri, Allah Tritunggal itu sendiri. Pada akhirnya Allah kita telah menjadi Yang demikian. Sejak hari kebangkitan-Nya hingga kekal, Ia akan seperti ini sampai selama-lamanya. Ketika kita percaya kepada Tuhan, yang kita terima adalah Dia yang sedemikian, bukan Kristus yang dangkal seperti yang biasanya diberitakan oleh orang-orang. Kristus yang kita kenal adalah begitu dalam dan begitu tinggi. Dia adalah Penebus kita dan Juruselamat kita. Ia bukan hanya Yesus Kristus tetapi juga Dia yang menjadi Roh pemberi hayat, perampungan Allah. Inilah Kristus yang telah melalui semua proses ini untuk merampungkan tindakan-Nya menjadi manusia agar Ia dapat membuat manusia menjadi Allah (hanya dalam hayat dan sifat).

___________________________________________________________

1 Lihat Merriam Webster's Collegiate Dictionary

MANUSIA MENJADI ALLAH (HANYA DALAM HAYAT DAN SIFAT) — MELALUI KELAHIRAN KEMBALI, PENGUDUSAN, PEMBARUAN, PENGUBAHAN, PENYERUPAAN, DAN PEMULIAAN

Bagaimana Allah dapat membuat manusia menjadi Allah? Setelah Allah melahirkan kita kembali dengan diri-Nya sebagai hayat, Ia lalu melakukan pekerjaan pengudusan, pembaruan, dan pengubahan di dalam kita melalui Roh hayat-Nya. Allah menjadi manusia melalui inkarnasi; manusia menjadi Allah melalui pengubahan. Ketika Tuhan Yesus hidup sebagai manusia di bumi, pernah sekali Ia naik ke atas gunung dan berubah rupa. Perubahan tersebut merupakan peristiwa yang tiba-tiba. Tetapi pengubahan kita menjadi Allah bukanlah sesuatu yang terjadi dengan tiba-tiba. Sebaliknya, pengubahan tersebut merupakan pengubahan seumur hidup, hingga kita diserupakan dengan gambar-Nya. Pada akhirnya, kita akan bersama-sama Dia masuk ke dalam kemuliaan; yaitu, kita akan ditebus dalam tubuh kita. Itulah langkah akhir penebusan seluruh diri kita yang akan membawa kita masuk ke dalam kemuliaan. Karena itu, kita menjadi Allah (hanya dalam hayat dan sifat) melalui kelahiran kembali, pengudusan, pembaruan, pengubahan, penyerupaan, dan pemuliaan. Ketika kita mencapai titik ini, 1 Yohanes 3:2 mengatakan bahwa apabila "Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya."

Hasil dari proses ini adalah suatu organisme. Organisme ini adalah Allah yang menyatukan serta membaurkan diri-Nya sendiri dengan manusia untuk membuat Allah menjadi manusia dan juga untuk membuat manusia menjadi Allah. Di antara Trinitas Ilahi, menyinggung Bapa, organisme ini adalah rumah Bapa, rumah Allah; menyinggung Putra, organisme ini adalah Tubuh Kristus. Rumah dimaksudkan agar Allah mempunyai tempat kediaman, sedangkan Tubuh Kristus dimaksudkan agar Allah memiliki ekspresi. Hasil akhirnya adalah Yerusalem Baru. Semua ini menunjukkan kepada kita, bagaimana Allah menjadi manusia dan setelah itu bagaimana Ia membuat manusia menjadi Allah agar manusia dapat menempuh kehidupan manusia-Allah. Kehidupan manusia-Allah yang kita tempuh hari ini adalah model kehidupan yang ditempuh Yesus Kristus ketika hidup di bumi dengan melalui kematian dan kebangkitan. Dalam Injil Yohanes, kehidupan manusia yang ditempuh oleh Yesus Kristus di bumi merupakan suatu kehidupan sebelum mati dan bangkit. Dalam surat-surat rasul, kehidupan kristiani, kehidupan seorang manusia-Allah yang kita tempuh adalah kehidupan setelah mati dan bangkit. Dalam kebangkitan kita diubah sehari demi sehari.

Bahkan di antara kita tidak banyak yang telah memasuki misteri Trinitas Ilahi sebagai hayat ini secara mendalam. Semoga Tuhan membelaskasihi kita. Saya harap melalui persekutuan ini kita semua dapat melihat visi ini dan menuntut untuk memasuki realitas visi ini.