REALITAS TUBUH KRISTUS (2)
Doa: Tuhan, hati kami penuh syukur karena pemulihan-Mu. Pada zaman ini, Engkau telah mewahyukan pemulihan-Mu kepada kami dan Engkau juga telah mempercayakan pemulihan-Mu kepada kami, menyuruh kami menyebarluaskan pemulihan-Mu di seluruh muka bumi. Tuhan, karena belaskasih dan kasih karunia-Mu, Engkau telah benar-benar melaksanakannya hingga taraf demikian. Tetapi Tuhan, kami merasa, hingga saat kami masih sangat dangkal dan lemah dalam segala hal. Kami belum benar-benar hidup seperti manusia Allah dalam kehidupan, tingkah laku, dan pekerjaan kami di bumi. Oh Tuhan, bukalah mata kami sekali lagi malam ini supaya kami dapat melihat dengan jelas bahwa realitas Tubuh Kristus merupakan kehidupan bersama antara Allah dan manusia. Oh, kami benar-benar memohon berkat-Mu, agar Engkau berbicara dengan jelas kepada kami. Bebaskanlah kami dan perkataan yang berlebihan dan berilah kami perkataan murni, perkataan yang dimurnikan. Amin.
Mengenai realitas Tubuh Kristus, saya merasa beban di dalam saya masih belum hilang. Karena itu, pada malam ini kita masih perlu membicarakannya. Setelah itu kami akan menyampaikan kata-kata peringatan agar kita selalu berjaga-jaga.
REALITAS TUBUH KRISTUS —
KEHIDUPAN BERSAMA ANTARA ALLAH DENGAN MANUSIA
Secara sederhana, realitas Tubuh Kristus adalah penempuhan kehidupan manusia Allah oleh sekelompok orang tebusan Allah bersama Kristus sang Manusia Allah. Dalam alam semesta, sebelum inkarnasi, ketersaliban, dan kebangkitan Kristus, hanya ada Allah di langit dan manusia di bumi, tetapi tidak ada seorangpun yang adalah Allah sekaligus manusia. Selain itu, Dia yang adalah Allah juga manusia, tidak menjadi manusia dalam sekejap. Sebaliknya, sesuai dengan hukum alam manusia, Ia dikandung dalam rahim ibu-Nya selama sembilan bulan, lalu dilahirkan menjadi seorang manusia. Ia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, yang dimulai sebagai seorang anak. Pada waktu lampau, saya mempunyai sebuah pertanyaan mengenai hal ini: Mengapa Tuhan harus tinggal di bumi begitu lama? Ia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun dan kelihatannya hanya selama tiga setengah tahun yang terakhir saja Ia benar-benar melakukan pekerjaan Allah, yaitu ketika Ia keluar untuk memberitakan dan memimpin murid-murid. Kitab-kitab Injil tidak banyak menceritakan tiga puluh tahun pertama dari kehidupan Tuhan di bumi. Tetapi kita tahu bahwa Ia hidup dalam rumah tukang kayu yang miskin sehinggga disebut tukang kayu (Mat. 13:55; Mrk. 6:3). Tetapi saya tidak mengerti makna dari kehidupan Tuhan sebagai tukang kayu di bumi selama tiga puluh tahun. Sekarang, karena sorotan terang-Nya, saya telah melihat bahwa Ia menggunakan tiga puluh tiga setengah tahun tersebut untuk menampilkan model kehidupan manusia Allah.
Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Ia menghasilkan banyak saudara dan Ia menjadi Saudara sulung, menjadi satu manusia agung dalam alam semesta. Apakah manusia agung dan universal (berlaku untuk semua umat manusia) ini? Manusia agung dan universal ini adalah seorang manusia Allah, Ia adalah Allah pun manusia dan manusia pun Allah. Mula-mula la hidup di bumi untuk menampilkan sebuah model. Bagaimana Ia menempuh kehidupan sebagai manusia Allah? Ia mempunyai hayat manusia dan Ia memang seorang manusia yang hidup di bumi. Ia lapar, Ia haus, Ia tidur, dan Ia bahkan menangis serta menitikkan air mata, Ia juga lelah dan letih. Ia bukan hanya seperti seorang manusia, Ia memang seorang manusia. Tetapi, sebagai seorang manusia, Ia tidak hidup dengan hayat manusia, Ia hidup dengan hayat ilahi yang ada di dalam-Nya. Ia hidup, namun Ia tidak hidup sendirian. Ia tidak hidup dengan hayat-Nya sendiri, tetapi dengan hayat ilahi. Ia dengan jelas memberi tahu kita bahwa Ia berbicara dan mengerjakan sesuatu bukan dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa yang mengutus-Nya (Yoh. 5:19; 8:28). Dalam Yohanes 6:57 Ia mengatakan, "Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa." Tetapi, untuk apakah Bapa yang hidup mengutus Dia? Orang-orang Kristen pada umumnya dengan spontan menjawab bahwa Bapa mengutus Dia untuk menjadi Juru Selamat kita dan untuk merampungkan penebusan bagi kita. Mungkin mereka akan meneruskan dengan berkata bahwa Ia datang untuk membawa hayat Allah kepada kita. Berkata demikian tidak salah, tetapi itu adalah pernyataan yang sangat dangkal. Apakah tujuan Allah mengutus Tuhan Yesus? Allah mengutus Dia untuk menjadi seorang manusia dan untuk menempuh kehidupan seorang manusia Allah dengan hayat ilahi. Kehidupan semacam ini menjadikan seorang manusia agung yang universal, yang benar-benar sama dengan Dia — seorang manusia yang menempuh kehidupan manusia Allah dengan hayat ilahi.
Saya benar-benar berharap agar Anda mengingat perkataan Tuhan dalam Yohanes 6:57 dengan jelas. Untuk apakah Allah mengutus Tuhan Yesus? Jika Anda membaca seluruh Injil Yohanes, Anda akan tahu arti ayat ini. Allah mengutus Dia untuk menjadi seorang manusia dan menempuh kehidupan seorang manusia Allah dengan hayat ilahi. Ia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun dan menghasilkan model kehidupan yang demikian. Pada akhir hidup-Nya, Ia mati di kayu salib serta mengalami kebangkitan. Dalam kebangkitan-Nya, Ia membawa sifat insani-Nya ke dalam Allah dan dilahirkan oleh Allah sebagai Putra sulung Allah. Bukan hanya demikian, dalam kebangkitan-Nya, ketika Ia dilahirkan, semua orang pilihan Allah dilahirkan bersama-Nya. Efesus 2:5-6 memberi tahu kita bahwa Allah "... menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus ... membangkitkan kita ... bersama-sama dengan Dia ...." Menghidupkan dan membangkitkan ini adalah melahirkan. Bagaimana kita tahu? Karena dalam Kisah Para Rasul 13:33 kita diberi tahu bahwa ketika Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, Ia berkata kepada-Nya, "Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini." Kapankah kelahiran tersebut terjadi? Kelahiran tersebut terjadi pada hari kebangkitan Tuhan. Jadi, pada saat kebangkitan dirampungkan, Putra sulung Allah dan semua putra Allah dilahirkan. Dia yang sedemikian menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b) dan melahirkan diri-Nya sendiri beserta banyak putra Allah dalam kebangkitan.
Tuhan Yesus bangkit dan naik ke tingkat-tingkat langit dan Ia sekarang berada di surga sebagai Roh pemberi hayat. Roh pemberi hayat ini adalah Dia sang Allah pun manusia, yang berinkarnasi, menempuh kehidupan manusia, mati, dan bangkit. Setelah melahirkan kita kembali, Roh pemberi hayat tersebut tinggal di dalam kita dan berbaur dengan kita untuk menempuh kehidupan manusia Allah bersama kita. Ia adalah satu-satunya Allah pun manusia yang mati dan dibangkitkan untuk menjadi Roh pemberi hayat, Kristus yang pneumatik. Dalam kenaikan-Nya, Ia adalah Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia (Ibr. 8:6), jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat (7:22), Imam Besar (8:1), dan yang melayani ibadah (pelayan surgawi - Tl.) (ay. 2). Sekarang di tingkat-tingkat langit, Ia sedang melakukan satu hal, yaitu bekerja di atas semua orang yang telah ditebus dan dilahirkan-Nya kembali untuk membuat mereka menjadi Allah (hanya dalam hayat dan sifat). Bagaimana Ia melakukannya? Ia melakukannya dengan tinggal di dalam mereka untuk menguduskan mereka, memperbarui mereka, dan mengubah mereka terus-menerus. Pengubahan ini adalah untuk membuat mereka menjadi ilahi.
Tujuan pengubahan adalah membuat manusia menjadi Allah hingga manusia diserupakan dengan gambar Allah dan benar-benar seperti Allah (2 Kor. 3:18). Gambar Allah adalah Dia sang Allah pun manusia. Memang benar Ia hidup di bumi sebagai manusia, tetapi Ia tidak hidup dengan hayat insani-Nya; sebaliknya, Ia hidup dengan Allah sebagai hayat-Nya. Itulah sebabnya Ia menolak dan menyangkal diri-Nya sendiri. Selama tiga puluh tiga setengah tahun di bumi, setiap hari Ia menempuh kehidupan dengan Allah, kehidupan yang menolak dan menyangkal diri-Nya sendiri. Kehidupan semacam ini adalah kehidupan memikul salib dengan hayat kebangkitan. Jadi, bagi Kristus, sebelum Ia mati di atas salib dan dibangkitkan, setiap hari Ia telah menempuh kehidupan yang mati dan dibangkitkan. Mati adalah menolak diri sendiri dan meletakkan diri sendiri dalam kematian; dibangkitkan adalah menampilkan Allah sebagai hayat kita. Meskipun yang ditampilkan adalah hayat insani, kebajikan-kebajikan yang dinyatakan merupakan hasil pengubahan dari atribut-atribut ilahi.
KEHIDUPAN TUHAN YESUS DI BUMI MENJADI
MODEL KEHIDUPAN BERSAMA
ANTARA ALLAH DENGAN MANUSIA
Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Ia benar-benar seorang manusia, tetapi Ia tidak menempuh kehidupan dengan hayat manusia, sebaliknya Ia hidup dengan Allah sebagai hayat-Nya. Jadi, dalam hayat-Nya dan dalam kehidupan-Nya, Ia hidup berdasarkan atribut-atribut ilahi-Nya yang tertampil sebagai kebajikan-kebajikan insani-Nya di depan mata manusia. Ketika orang-orang melihat Dia, secara lahiriah, mereka melihat bahwa Ia benar-benar seorang manusia. Tetapi, semakin mereka mengamati Dia dan semakin mereka mengikuti Dia, mereka semakin harus mengakui bahwa Ia benar-benar adalah Allah. Dalam keempat kitab Injil, kita melihat orang-orang Galilea mengikuti Tuhan selama tiga setengah tahun. Pada mulanya mereka mengenal Dia sebagai anak tukang kayu, mengenal bahwa Ia adalah seorang manusia. Lambat-laun, semakin mereka mengamati Dia, mereka semakin melihat kebajikan-kebajikan yang dinyatakan dalam Tuhan Yesus. Kebajikan-kebajikan tersebut tidak mungkin berasal dari manusia. Dari manakah kebajikan-kebajikan tersebut berasal? Pada saat itu orang-orang Galilea tersebut tidak tahu, tetapi hari ini kita tahu bahwa kebajikan-kebajikan tersebut ditampilkan oleh manusia Allah Yesus, Dia adalah seorang manusia yang tidak hidup dengan diri-Nya sendiri tetapi dengan Allah dan yang menampilkan atribut-atribut ilahi sebagai kebajikan-kebajikan sang Dia yang adalah Allah pun manusia.
Setelah Tuhan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, murid-murid-Nya juga mengetahui. Pada waktu itu mereka mulai mengenal bahwa Kristus adalah Allah. Mereka memiliki pengenalan ini bukan hanya karena mereka telah melihat perbuatan-perbuatan ajaib yang telah Ia lakukan, seperti meredakan angin dan laut serta membangkitkan orang mati. Sebaliknya, mereka mengenal bahwa Ia adalah Allah karena melihat atribut-atribut dari sifat Allah yang tertampil melalui seorang manusia untuk menjadi kebajikan-kebajikan manusia tersebut. Tidak diragukan lagi, Allah berada dalam kebajikan-kebajikan Kristus sebagai seorang manusia. Karena itu, pada akhir kitab Injil kita dapat melihat bahwa murid-murid mengenal-Nya sebagai Allah secara mendalam, tidak seperti keadaan orang-orang Kristen pada umumnya hari ini.
Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus juga melahirkan kita. Ia membawa Allah ke dalam kita, bukan secara obyektif, tetapi secara subyektif. Sama seperti Ia membawa Allah ke dalam Maria, sekarang Ia juga membawa Allah ke dalam kita, orang-orang tebusan-Nya. Dengan demikian, Ia mulai membuat kita menjadi Allah; yaitu dengan melahirkan kita sebagai anak-anak Allah. Jika kita dilahirkan oleh Allah Bapa dalam Kristus, dan jika Allah Bapa kita adalah Allah, bagaimana mungkin kita sebagai anak-anak yang dilahirkan oleh-Nya bukan Allah? Jika Bapa kita adalah Allah, kita yang dilahirkan oleh-Nya pasti juga adalah Allah (hanya dalam hayat dan sifat).
Tetapi, meskipun kita telah dilahirkan secara demikian, kita tetap ciptaan lama dan kita masih berada dalam daging kita. Kita masih alamiah, dan kita masih memiliki "Aku" yang lama. Selain itu, kita juga harus mengakui bahwa kita masih kotor dan rusak. Kita hidup dalam dunia dan tercemar oleh kenajisan dunia terus-menerus. Lalu apa yang harus kita lakukan? Pada umumnya, orang-orang Kristen diajar bahwa Yesus adalah Tuhan Mahakuasa dan Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya; dan hari ini di surga, Ia berdoa bagi kita dan dapat menyelamatkan kita sepenuhnya. Meskipun ajaran-ajaran itu baik, Allah menunjukkan kepada kita bahwa ajaran-ajaran tersebut dangkal dan kurang tepat. Orang-orang Kristen tahu bahwa Kristus bersyafaat di surga bagi kita dan bersimpati terhadap masalah-masalah kita dengan membantu kita melalui lingkungan. Tetapi, pada kenyataannya tidak demikian. Sesungguhnya, manusia Allah yang naik ke surga ini adalah Allah pun manusia. Ia adalah manusia, bukan manusia yang diciptakan dan jatuh, melainkan manusia yang diciptakan dan jatuh namun mengalami kematian dan kebangkitan serta ditinggikan. Sekarang, dalam kebangkitan, Ia adalah manusia yang demikian. Selain itu, Ia juga adalah Allah, tetapi Ia tidak sama dengan Allah sebelum inkarnasi-Nya, yaitu Allah murni. Sekarang, Allah adalah Allah yang telah rampung. Dalam Dia terdapat Allah, manusia, pengalaman manusia, khasiat kematian, dan kuasa kebangkitan. Semua unsur ini dibaurkan menjadi satu Roh majemuk. Dalam Perjanjian Lama, yaitu Kitab Keluaran 30:23-29, terdapat lambang yang jelas mengenai hal ini. Minyak zaitun satu hin dicampur dengan empat macam rempah-rempah —mur, kayu manis, tebu, kayu teja—menjadi campuran yang terdiri dari lima bahan. Hal ini menandakan bahwa Roh Allah dibaurkan dengan kematian Kristus dan khasiatnya dan juga kebangkitan Kristus dan kuasanya. Semua unsur ini dibaurkan menjadi minyak urapan majemuk. Minyak ini bukan sekadar minyak melainkan minyak urapan. Tabernakel, imam-imam yang melayani Allah, dan segala sesuatu yang berkenaan dengan penyembahan terhadap Allah diurapi dengan minyak urapan tersebut.
KEHIDUPAN MANUSIA MENJADI ALLAH ADALAH
KEHIDUPAN YANG MENGALAMI KEMATIAN
DAN KEBANGKITAN DI BAWAH SALIB
Setelah Tuhan menampilkan manusia Allah yang khas secara praktis, Ia merampungkan penebusan melalui kematian dan kebangkitan-Nya untuk menebus kita dan melahirkan kita kembali hingga kita menjadi sama seperti Dia. Kita memiliki sifat dan hayat yang sama dengan Dia. Dengan demikian kita menjadi Allah, dan kita menjadi anak-anak Allah. Tetapi, masih banyak hal negatif di dalam kita. Syukur kepada Tuhan, dalam kematian-Nya, Ia menanggulangi semua hal negatif itu. Ia pergi ke atas salib dengan membawa daging kita dan sifat manusia kita yang penuh dosa. Kita semua ditanggulangi oleh-Nya di atas salib. Manusia lama kita telah disalibkan bersama Dia; dengan demikian, ciptaan lama, daging, Iblis, dan dunia, yaitu segala sesuatu yang berkenaan dengan manusia lama, juga ditanggulangi di atas salib. Hari ini, karena kita telah dilahirkan kembali, kita seharusnya tidak lagi mengambil bagian dalam atau hidup dengan perkara-perkara ini. Sebaliknya, kita harus menolak diri kita sama seperti Tuhan Yesus menyangkal diri-Nya. Diri kita sudah rusak, bahkan telah rusak sedemikian hingga tidak dapat diperbaiki. Kristus tidak memiliki unsur jahat sedikit pun di dalam-Nya dan Ia mutlak baik, namun Ia harus mengesampingkan diri-Nya yang baik. Karena itu, betapa kita perlu mengesampingkan diri kita yang jahat. Sebab itu, hari ini, jika kita ingin memiliki realitas Tubuh Kristus, kita harus menempuh kehidupan manusia Allah. Untuk menempuh kehidupan manusia Allah, kita perlu menerima salib.
Bait pertama dari kidung nomor 307 mengatakan, "Bila kenal kuasa bangkit,/ Pasti cinta 'kan salib;/ Mati niscayalah tumbuh;/ Tanpa mati tak hidup." Bait kedua mengatakan, "Kristus terbentuk dalamku,/ tersingkirlah diriku,/ hidup bawah naung salib,/ hidup sukma terbasmi." Jika kita mengenal kuasa kebangkitan, kita pasti senang berada dalam cetakan salib dan diserupakan dengannya. Karena itu Filipi 3:10 mengatakan bahwa melalui kuasa kebangkitan Kristus, kita diserupakan dengan kematian Kristus. Dengan diri sendiri, kita tidak dapat diserupakan dengan kematian Kristus; dengan diri sendiri kita tidak dapat menyangkal diri kita. Kita diserupakan dengan kematian Kristus melalui kuasa kebangkitan-Nya, yang bukan merupakan suatu benda atau perkara tetapi satu persona, yaitu Roh pemberi hayat.
Roh pemberi hayat adalah Roh majemuk, Kristus yang pneumatik, perampungan Allah Tritunggal yang telah melewati proses. Inilah kebangkitan. Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Ia adalah kebangkitan (Yoh.11:25). Jadi, kebangkitan adalah perampungan Allah Tritunggal, Kristus yang pneumatik, yang merampungkan penebusan bagi kita, juga Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam kita. Hari ini, Ia hidup di dalam kita untuk menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita setiap hari. Hayat ilahi ini adalah hayat sang Allah pun manusia, hayat yang ditampilkan oleh Allah yang berinkarnasi menjadi seorang manusia dan yang menjadi manusia Allah, bukan dengan hayat insani-Nya tetapi dengan hayat ilahi-Nya.
AKU TIDAK LAGI HIDUP SENDIRIAN,
ALLAH HIDUP BERSAMAKU
Jalan untuk menampilkan manusia Allah adalah melalui kematian dan kebangkitan. Kita mati setiap saat setiap hari dan kita hidup setiap saat setiap hari dengan Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam kita. Berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang Kristen, pada mulanya, sebelum saya menerima bantuan dari saudara Nee, meskipun saya adalah seorang yang menuntut, saya tidak tahu sedikitpun mengenai pengalaman hayat. Saya diajar oleh Kaum Saudara (the Brethren) selama tujuh setengah tahun, tetapi semua ajaran tersebut merupakan perkara-perkara luaran dan dangkal. Sejak saya berhubungan dengan saudara Nee, saya mengetahui bahwa saya perlu mati, saya perlu tinggal di atas salib, dan saya perlu hidup menurut Roh. Lambat-laun, dalam pemulihan-Nya, Tuhan menunjukkan kepada saya, bukan perkara-perkara tersebut saja yang ada dan itu belum memadai. Kita harus melihat bahwa. kehidupan orang Kristen yang dikehendaki oleh Tuhan adalah kehidupan di bawah kematian, memiliki satu hayat dan satu kehidupan dengan Allah Tritunggal yang berhuni di dalam kita, Kristus yang pneumatik, Roh pemberi hayat, sepanjang hari, setiap menit, dan setiap detik. Inilah sebabnya bait ketiga dari kidung baru kita mengatakan, "Bukan lagi aku hidup,/ Ku hidup bersama Allah."
Dalam kekristenan, terdapat ajaran yang salah mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang Kristen hidup dengan hayat yang sudah diganti. Mereka mengatakan bahwa hayat kita sangatlah buruk, karena itu Kristus memakukannya di atas salib, dan sebagai gantinya, Kristus sendiri datang untuk hidup di dalam kita; ini adalah pertukaran hayat. Ajaran semacam ini tidak benar. Kita disalibkan di atas salib, tetapi penyaliban bukan akhir kita; karena kita dibangkitkan. Memang Galatia 2:20 mengatakan bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus, tetapi kita tidak berhenti di sana, kita dibangkitkan dengan Kristus. Di satu pihak, aku diakhiri; di pihak lain, "aku" yang dibangkitkan masih hidup. Saya bukan menyerahkan diri saya untuk ditukar dengan hayat yang lain. Sebaliknya, "aku" yang lama ditinggikan, dan Kristus hidup di dalam "aku" yang baru. Itulah sebabnya di satu pihak, Paulus mengatakan bahwa ia telah disalibkan dengan Kristus dan diakhiri, tetapi di pihak lain, ia juga melanjutkan dengan mengatakan "Aku hidup." "Bukan lagi aku sendiri yang hidup," hal ini tidak berarti bahwa aku tidak ada lagi, karena "Aku hidup." Dengan apakah aku hidup? Aku hidup oleh iman dalam Anak Allah; yaitu aku hidup oleh Kristus itu sendiri. "Bukan lagi aku" tidak berarti bahwa aku tidak ada lagi; tetapi berarti aku yang hidup oleh diri sendiri tidak ada lagi. Ketika kita mengatakan bahwa kita disalibkan dengan Kristus, tidak berarti bahwa Kristus datang untuk menggantikan kita sehingga aku tidak ada lagi. Penafsiran semacam ini tidak benar.
KRISTUS HIDUP DAN KITA JUGA HIDUP KARENA DIA
Dalam Yohanes 14:16-17 Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran...." Kemudian, dalam ayat 19 Ia berkata, "...sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup." Pada hari kebangkitan, murid-murid tahu bahwa Tuhan hidup dan mereka juga hidup. Tetapi cara hidup mereka berbeda dengan cara hidup sebelum mereka disalibkan dengan Kristus. Sebelumnya, mereka hidup dengan hayat mereka sendiri, sekarang setelah mereka disalibkan dengan Kristus, mereka hidup dengan hayat Allah Tritunggal yang membangkitkan mereka. Bahkan Kristus yang diutus oleh Allah, mengatakan, "Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh (karena — Tl.) Bapa ...." (Yoh. 6:57). Kristus hidup karena Bapa. Ini berarti Kristus tidak hidup oleh diri-Nya sendiri. Sangat sukar untuk menentukan arti kata karena dalam bahasa Yunani. Beberapa versi menerjemahkannya menjadi "oleh (seperti dalam Alkitab bahasa Indonesia)." Namun, terjemahan itu tidak tepat. Dalam terjemahannya, Darby memberikan catatan pada kata ini, bahwa kata ini bukan hanya berarti "oleh" atau "melalui" atau "sebab." Tuhan diutus oleh Bapa dengan satu amanat, yaitu untuk menampilkan Bapa. Jadi, karena Tuhan diutus oleh Bapa, Ia datang untuk menampilkan Bapa. Karena alasan inilah Bapa mengutus Putra. Selanjutnya Darby mengatakan bahwa hal ini mengacu kepada apa adanya Bapa dan kehidupan-Nya. Bapa memiliki apa adanya Dia dan kehidupan-Nya. Putra diutus dengan amanat untuk menampilkan apa adanya Bapa dan kehidupan-Nya. Dalam Yohanes 6:57 Tuhan melanjutkan dengan berkata, "... demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh (karena — Tl.) Aku." Hidup karena Tuhan adalah menampilkan apa adanya Tuhan dan kehidupan-Nya.
Kristus dibangkitkan dan Roh itu masuk ke dalam kita. Sejak saat itu, karena Dia hidup, kita juga hidup. Dia hidup, dan kita juga hidup karena Dia. Ini dikarenakan Dia dan kita, kita dan Dia hidup bersama-sama. Jadi, dalam kebangkitan, Dia dengan kita, kita dengan benar-benar terjalin dan berbaur menjadi satu. Sebab itu, Paulus mengatakan, "Karena bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21). Selain itu ia berkata, "...seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku" (ay. 20). Paulus yang hidup, tetapi Kristuslah yang ditampilkan, bukan Paulus. Ketika Yesus hidup, yang ditampilkan-Nya bukan Yesus atau seorang tukang kayu dari Nazaret, tetapi Allah. Dalam kebajikan-kebajikan insani Yesus tertampil atribut-atribut ilahi. Yang ditampilkan adalah manusia Allah hasil dari kesatuan dan perbauran antara Allah dengan manusia. Manusia Allah ini diperluas dalam kebangkitan Kristus. Dulu, manusia Allah ini hanya terdiri dari satu Putra, sekarang telah diperluas menjadi Putra sulung dan banyak putra. Perluasan ini adalah suatu organisme, yaitu Tubuh Kristus.
REALITAS TUBUH KRISTUS ADALAH
KESATUAN DAN PERBAURAN ANTARA ALLAH DENGAN MANUSIA UNTUK MENAMPILKAN SEORANG MANUSIA ALLAH KORPORAT
Tubuh Kristus bukan hanya satu istilah tetapi satu realitas. Realitas Tubuh Kristus adalah kesatuan dan perbauran antara Allah dengan manusia untuk menampilkan seorang manusia Allah korporat. Karena itulah kita perlu mengalami kematian dan kebangkitan, mati setiap hari dan dibangkitkan setiap hari. Kita juga perlu berada dalam Roh itu dan berjalan menurut Roh itu setiap hari.
Sekali lagi, ijinkan saya membicarakan pengalaman pribadi saya. Selama bertahun-tahun saya merasa bahwa saya lumayan, tetapi akhir-akhir ini Tuhan menunjukkan kepada saya sesuatu yang berbeda. Saya telah memberi tahu saudara saudari bahwa umat Allah adalah istri Allah, karena itu mereka seharusnya menerima Tuhan sebagai Suami mereka, dan saya telah menyampaikannya dengan sangat jelas dan masuk akal. Namun, dalam realitasnya, saya bukannya menerima Allah sebagai Suami saya, malahan saya menjadikan diri saya sendiri sebagai suami dalam kehidupan saya. Sesuai dengan standar moral, saya tidak melakukan sesuatu yang buruk atau melontarkan perkataan-perkataan buruk kepada istri saya. Namun, saya tidak menerima Allah sebagai Suami saya dan berbicara berdasarkan Dia. Saya sendiri adalah suami dan saya berbicara berdasarkan diri saya sendiri serta membicarakan pekerjaan berdasarkan diri sendiri. Akhir-akhir ini, karena visi besar yang telah saya lihat, saya berlatih satu hal, yaitu ketika saya akan berbicara kepada orang lain, saya bertanya kepada diri sendiri, "Anda atau Suami Anda yang ingin berbicara?" Dengan kata lain, "Andakah yang ingin berbicara, atau Roh yang berdiam di dalam Anda? Apakah perkataan Anda dalam Roh dan menurut Roh itu?" Jika kita menggunakan standar ini untuk mengukur dan menimbang diri kita sendiri, kita akan melihat bahwa kita jauh di bawah standar. Meskipun kita telah melihat visi Tubuh Kristus dan dapat menyampaikannya dengan jelas, apa yang kita miliki sebagai realitas Tubuh Kristus sangat sedikit.
KEESAAN TUBUH ADALAH ROH ITU
Apa yang kita lakukan atau bicarakan dalam sidang-sidang, kebanyakan bukan realitas Tubuh Kristus. Apa yang kita miliki kebanyakan hanya beberapa perkara luaran. Kita memiliki gereja-gereja lokal dan kita tahu bagaimana mendirikan gereja-gereja, bagaimana menetapkan para penatua, dan bagaimana mengangkat para diaken. Kita juga tahu bagaimana sidang-sidang yang baik, yaitu bukan satu orang yang berbicara tetapi setiap orang berlatih bertutur sabda sebagai para nabi. Semuanya tepat dan benar, tetapi apakah semuanya dilaksanakan dalam Roh dan menurut Roh? Jawabanku adalah sebagian besar tidak dilaksanakan dalam Roh dan menurut Roh. Bahkan dalam pemulihan Tuhan, kita juga kekurangan realitas Tubuh Kristus.
Jalan untuk menampilkan realitas Tubuh Kristus adalah mengalami kematian dan kebangkitan melalui kehidupan bersama antara Allah dengan manusia. Melalui kematian, segala sesuatu di pihak kita telah dibereskan; melalui kebangkitan sifat insani kita ditinggikan dan kita dilahirkan menjadi banyak putra Allah. Meskipun hari ini kita adalah anak-anak Allah, kita masih memiliki banyak perkara negatif yang melekat pada diri kita.
Jadi, setiap hari kita harus tinggal bersama salib. Kita harus mati setiap hari dan setiap saat; segala sesuatu harus mati.
Entah Anda akan menyampaikan bahwa gereja-gereja lokal tidak bersifat otonom, atau Anda akan menyampaikan bahwa di satu pihak, gereja-gereja lokal bersifat otonom dan di pihak lain, mereka bergabung menjadi satu Tubuh, Anda harus menyampaikannya dalam realitas Tubuh Kristus, yaitu dalam Roh itu. Tentu saja, tidaklah benar mengatakan bahwa gereja-gereja lokal mutlak otonom dan memang benar mengatakan bahwa pada satu pihak, gereja-gereja lokal bersifat otonom dan pada pihak lain, mereka bergabung sebagai Tubuh Kristus yang universal. Walaupun demikian, pada prinsipnya, mereka yang membicarakan hal-hal ini berbicara dalam diri sendiri; mereka tidak berbicara dalam Roh itu atau menurut Roh itu. Karena itu, apa yang mereka bicarakan tidak berarti. Jika Anda melihat terang ini, Anda tidak perlu mengatakan sesuatu, tetapi Anda akan mempertahankan keesaan Tubuh secara spontan. Bagaimanakah kita mempertahankan keesaan Tubuh? Apakah keesaan ini? Keesaan adalah Roh itu. Itulah sebabnya Efesus 4:4 mengatakan, "Satu Tubuh dan satu Roh." Inilah keesaan Tubuh. Ketika Anda dalam Roh itu, Anda mempertahankan keesaan Tubuh ini; ketika Anda tidak berada dalam Roh itu, walaupun Anda mengatakan bahwa Anda tidak terpecah-pecah, Anda terpecah-pecah.
PERKATAAN PERINGATAN UNTUK BERJAGA-JAGA
Sekarang saya akan mengatakan sebuah perkataan peringatan untuk berjaga jaga. Kita semua harus waspada, karena kita semua mempunyai ambisi dan tidak ada seorang pun yang tidak memiliki ambisi. Ambisi kita adalah sesuatu yang paling membahayakan kita, paling menghalangi Allah, paling merusak pemulihan Tuhan dan paling menghancurkan Tubuh Kristus. Pada satu pihak, setiap orang ingin menjadi penatua atau rasul, atau paling tidak menjadi seorang diaken, dan jika bukan diaken, menjadi seorang yang memimpin. Atau suatu saat, waktu bekerja bagi Tuhan, kita ingin menyampaikan pemberitaan yang paling top, memberitakan yang lebih baik daripada orang lain; kita juga ingin mempunyai pekerjaan yang lebih hebat daripada orang lain, membawa lebih banyak orang beroleh selamat dibanding orang lain, memimpin gereja yang mengungguli gereja-gereja lain. Semua bibit perpecahan terdapat dalam ambisi. Jika ambisi tidak ada, semua perpecahan juga tidak ada.
Pada saat saya bekerja sama dengan saudara Nee, hal pertama yang saya perhatikan padanya adalah ia seorang yang tidak mempunyai ambisi. Ia hanya tahu bekerja; ia tidak mempunyai ambisi. Karena itu, saya sangat dipengaruhi olehnya. Selama enam puluh tahun dalam pemulihan Tuhan, saya tidak mempunyai ambisi. Anda dapat menelusuri sejarah saya; entah di Chefoo, di Shanghai, atau di Taiwan, saya tidak mempunyai ambisi. Saya hanya tahu bekerja keras dan berjerih lelah. Setelah pekerjaan saya selesai, jika Tuhan mengijinkan saya pergi, saya pergi.
Mari kita tinjau sejarah pemulihan Tuhan di tengah-tengah kita. Mereka semua yang penuh ambisi sehingga berbeda pendapat, memberontak, dan memecah-belah, baik di daratan Cina atau di Taiwan—di manakah mereka hari ini? Pada waktu itu, mereka yang berbeda pendapat di Taiwan mengatakan bahwa mereka telah melihat visi sedangkan para sekerja pemimpin telah menjadi usang dan siap untuk diletakkan di dalam peti mati. Tetapi, hari ini saya ingin bertanya, apa yang terjadi dengan visi mereka? Saya memperingatkan mereka, "Sekali Anda meninggalkan dasar ini, Anda akan terus-menerus terpecah-belah; Anda akan terpecah-belah tidak ada habisnya." Perkataan saya menjadi kenyataan. Di antara empat sampai lima orang dari mereka, tidak ada dua orang yang bersama-sama, ada yang telah kembali ke dunia untuk mencari pekerjaan, dan yang lain entah di mana. Ketika saya menulis garis besar 1 dan 2 Raja-raja, saya melihat penghakiman Allah atas setiap orang dan penghakiman-Nya serius. Sama seperti keempat pemimpin pemberontakan pada akhir-akhir ini, apakah yang sedang mereka lakukan hari ini? Mereka tidak mempunyai berita untuk disampaikan dan tidak mempunyai pekerjaan untuk dilakukan. Yang mereka kerjakan hanyalah pergi ke berbagai tempat untuk menyerang saya dan menyebarkan desas-desus, menimbulkan perpecahan di mana-mana.
Saya ingin kita melihat sejarah ini dan belajar dari kegagalan saudara-saudara yang mendahului kita. Dari zaman saudara Nee, setiap orang yang setia dan tulus menetap dalam pemulihan Tuhan telah diberkati. Sekalipun mereka tidak mempunyai banyak karunia, mereka telah membawa masuk berkat Tuhan. Inilah hal-hal yang ingin saya sampaikan sebagai peringatan.
Sekarang, perihal berjaga jaga, jangan sekali-kali mengijinkan diri kita, alamiah kita, "aku" lama kita, dan tabiat kita dibangkitkan. Dalam pekerjaan Tuhan, kita tidak mempunyai ambisi, perbandingan, persaingan, atau iri. Selain itu, jangan sekali-kali mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi anggaplah orang lain selalu lebih hebat daripada diri kita. Jangan membanggakan apa yang telah Anda rampungkan atau iri terhadap apa yang telah dikerjakan oleh orang lain ataupun menghakimi kesalahan-kesalahan orang lain. Meskipun Anda benar-benar tahu bahwa apa yang dikerjakan orang lain salah dan banyak kekurangan, Anda bukan hanya tidak seharusnya mengeritik mereka bahkan Anda seharusnya membantu mereka. Kita diutus Tuhan bukan untuk mengukur orang lain dengan tongkat pengukur. Sebaliknya, kita diutus oleh-Nya untuk melayankan Kristus kepada orang-orang. Kita harus belajar merendahkan diri. Jika orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, kita harus menerimanya dengan kerendahan hati. Setiap orang memiliki kekurangan-kekurangan, tetapi kita diutus Tuhan bukan untuk membongkar kekurangan-kekurangan orang lain. Kita diutus oleh-Nya untuk melayankan hayat dan melayankan Kristus kepada orang lain.
Sebagai kata penutup, dalam melakukan pekerjaan Tuhan, kita hanya berjerih-lelah. Kita tidak seharusnya sombong dan membanggakan pekerjaan kita. Kita tidak seharusnya merasa enggan untuk menghentikan pekerjaan kita atau karena tidak menerima penghargaan untuk sukses kita. Ketika kita meninggalkan suatu tempat, pergilah dengan sederhana dan serahkanlah segala sesuatu kepada orang lain. Kita memperlakukan diri kita sendiri dengan cara ini—tanpa ambisi, tanpa bangga diri, tanpa mengadakan perbandingan, dan tanpa menghakimi orang lain karena kesalahan-kesalahan mereka—karena kita telah melihat Tubuh. Karenanya, apa yang kita kerjakan hari ini bukanlah pekerjaan pribadi kita melainkan ekonomi Allah yang berlangsung dari zaman ke zaman, yaitu pembangunan Tubuh Kristus. Tuhan dapat membuat kita menampilkan kehidupan manusia Allah melalui persatuan kita dengan yang lain. Karena itu, bait ketiga kidung baru kita mengatakan, "Bukan lagi aku hidup,/ ku hidup bersama Allah./ D'ngan kaum saleh dibangunkan,/ Jadi rumah semesta-Nya./ Jadi Tubuh organik-Nya,/ ekspresi-Nya yang korporat." Inilah realitas Tubuh Kristus.
Jika kita telah melihat hal ini, kita tidak akan menaruh perhatian pada praktek-praktek luaran. Segala sesuatu yang Anda kerjakan, kalau tidak melalui kematian dan kebangkitan, berasal dari ciptaan lama. Jika dikerjakan dengan benar, berasal dari ciptaan lama, jika salah, juga berasal dari ciptaan lama. Keduanya tidak ada nilainya. Dalam pelayanan kita kepada Allah, pertama, kita harus memastikan bahwa Allah tidak dipermalukan. Kedua, kita harus melihat, bahwa dalam alam semesta, Allah tidak hanya memiliki hukum pada aspek jasmani, tetapi juga hukum pada aspek rohani; di samping itu, hukum rohani lebih ketat daripada hukum jasmani. Karena itu, begitu kita bersentuhan dengan pekerjaan rohani Allah, kita harus dikendalikan oleh hukum-Nya. Jika kita menyimpang dari hukum-Nya sedikit saja, kita akan habis. Sama seperti berlari pada arena pertandingan. Ketika Anda lari, Anda harus berada di antara dua garis; begitu Anda menginjak garis putih, Anda berada di luar jalur; dan sekalipun Anda menyesalinya, tetapi tidak dapat diperbaiki. Ini benar. Pada waktu yang lampau, saya mengatakan hal ini kepada mereka yang berbeda pendapat dan memperingatkan mereka, supaya mereka sekali-kali tidak menciptakan perpecahan atau menjadi pemberontak. Hingga hari ini, saya jarang melihat seorang pemberontak bertobat.
Apapun yang Anda kerjakan, entah memberitakan Injil atau pergi ke desa-desa atau datang ke Amerika Serikat atau mengadakan pusat pelatihan, jangan sekali-kali menganggap bahwa diri Anda telah melakukan sesuatu yang lebih hebat daripada orang lain. Selain itu, jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain sehingga Anda menjadi patah semangat karena Anda merasa bahwa Anda melakukan sesuatu tidak sebaik orang lain. Hal-hal itu tidak seharusnya ada pada diri kita. Kita hanya tahu bahwa kita harus berjerih-lelah, bahwa kita harus mati setiap hari dan dibangkitkan setiap hari, dan kita harus berjalan dalam Roh setiap hari, yaitu menurut Roh itu. Selebihnya, saya dapat bersaksi di sini bahwa semua ini adalah tanggung jawab Tuhan.