← Daftar isi Imamat (1) · bab 9/20

KURBAN BAKARAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN ALLAH (7)

MENGALAMI KRISTUS DALAM PENGALAMAN-NYA DAN

MEMPERSEMBAHKAN KRISTUS YANG TELAH KITA ALAMI,

DAN MEMPERSEMBAHKAN DIA KEPADA

ALLAH SEBAGAI KURBAN BAKARAN

MENURUT PENGALAMAN KITA ATAS DIA

(3)

Dalam berita yang lalu kita melihat bahwa kita dapat mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya dibawa ke pembantaian, disembelih, dikuliti, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Dalam berita ini kita akan membahas aspek selanjutnya mengenai pengalaman kita atas Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran untuk Allah.

E. Dalam Hikmat-Nya

Satu Korintus 1:30 mengatakan bahwa Kristus telah menjadi hikmat kita karena Allah. Dalam Imamat 1, hikmat Kristus dilambangkan oleh kepala kurban bakaran. Kita memerlukan kepala Kristus; yaitu hikmat-Nya.

Jika kita ingin menerima Kristus sebagai hikmat kita, kita harus memperhidupkan Kristus. Kehidupan orang Kristen yang tepat, kehidupan yang tinggal di dalam Tuhan supaya kita dapat menikmati kehidupan-Nya, adalah kehidupan yang melakukan sesuatu bukan berdasarkan diri kita sendiri, tetapi berdasarkan Dia. Asal kita melakukan sesuatu berdasarkan diri kita sendiri, kita tidak dapat memiliki hikmat Kristus dan Dia tidak dapat menjadi hikmat kita. Sebagai contoh, jika Anda berbicara kepada suami Anda atau istri Anda dan kepada anak-anak Anda dalam diri Anda sendiri dan berdasarkan diri Anda sendiri, Kristus tidak akan menjadi hikmat Anda dalam pembicaraan Anda. Jika kita mau berbicara dan melakukan sesuatu berdasarkan Kristus, kita perlu berdoa, “Tuhan, hiduplah di dalamku. Aku telah disalibkan, dan bukan lagi aku yang hidup. Tuhan, aku tidak ingin melakukan segala sesuatu berdasarkan diriku sendiri, aku ingin melakukan segala sesuatu berdasarkan Engkau. Sesungguhnya, Tuhan, aku mau membiarkan Engkau hidup di dalam aku dan melakukan segala sesuatu untukku.” Ketika kita mempersilakan Kristus hidup di dalam kita dan melakukan segala sesuatu untuk kita, Dia menjadi hikmat kita.

Masalah kita hari ini adalah kita ingin menempuh kehidupan yang menang dan sempurna, tetapi kita tidak hidup dan bertindak berdasarkan Kristus. Kita berminat hidup berdasarkan Kristus, bahkan memperhidupkan Kristus, tetapi kita tidak biasa melakukan hal ini. Sebaliknya, kita terbiasa memperhidupkan diri sendiri. Kita dengan spontan memperhidupkan diri sendiri tanpa mencoba melakukannya dan tanpa sengaja menggunakan bagian batin kita. Namun, untuk memperhidupkan Kristus, kita perlu menggunakan seluruh diri kita.

Mengenai memperhidupkan Kristus, masalahnya bukan apakah perkara itu dosa, tetapi apakah yang hidup itu diri kita. Kita biasanya memperhatikan apakah perkara tertentu itu dosa atau tidak, tetapi Allah memperhatikan apakah kita hidup berdasarkan diri kita sendiri atau berdasarkan Kristus. Ketika kita marah-marah, kita melakukan suatu dosa. Namun, bahkan jika perilaku kita tidak kelihatan berdosa, jika kita hidup berdasarkan diri kita sendiri dan tidak berdasarkan Kristus, dosa akan muncul. Ketika kita memperhidupkan diri kita sendiri, kita akhirnya melakukan suatu dosa, karena diri kitalah yang hidup. Namun, jika Kristus hidup di dalam kita, kita akan menang, dan Dia akan menjadi hikmat kita.

Jika kita memperhidupkan Kristus dalam kehidupan pernikahan kita, Kristus tidak hanya menjadi hayat kita, tetapi juga hikmat kita. Ketika kita merasa kesulitan menghadapi suami atau istri kita, kita kekurangan Kristus sebagai hikmat. Jika kita tidak memperhidupkan Kristus, kita akan memiliki masalah dalam kehidupan pernikahan kita. Cara untuk menghindari masalah dengan suami atau istri adalah memperhidupkan Kristus dan karenanya kita memiliki Dia sebagai hikmat kita.

Kristus sangat berhikmat. Karena Dia hidup di dalam kita, maka Dia mengulang di dalam kita kehidupan hikmat-Nya. Dengan cara ini kita dapat mengalami Kristus dalam hikmat-Nya dan menempuh hidup dengan Kristus sebagai hikmat kita.

Mengenai pengalaman kita akan Kristus dalam hikmat-Nya, Paulus berkata, “Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (1Kor. 2:7). Hikmat Allah adalah Kristus (1Kor. 1:24), rahasia yang tersembunyi (Kol. 1:26-27), yang dipersiapkan, ditakdirkan, dan ditentukan sebelum dunia dijadikan untuk kemuliaan kita. Kristus adalah rahasia Allah, dan Dia juga adalah hikmat dalam rahasia, hikmat yang tersembunyi, dan Dia yang ditentukan Allah sebelum dunia dijadikan untuk kemuliaan kita. Kita mungkin berpikir bahwa kemuliaan ini adalah sesuatu untuk masa yang akan datang saja. Namun, jika kita memperhidupkan Kristus dan Dia menjadi hikmat kita dalam kehidupan kita, kita akan mengalami sedikit kemuliaan ini pada hari ini.

F. Dalam Hal Diperkenan Allah

Kita juga dapat mengalami Kristus dalam hal diperkenan Allah. Tuhan Yesus selalu diperkenan Allah. Pada dua kesempatan ada suara dari surga berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17; 17:5). Jika hari ini kita menempuh kehidupan Kristus sebagai kurban bakaran kita, kita akan diperkenan Allah.

Paulus mengalami Kristus secara demikian. Dalam Galatia 1:10 dia berkata, “Apakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Ataukah kucoba menyenangkan manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Paulus menempuh hidup yang mengulang kehidupan Kristus, menyukakan Allah setiap waktu. Karena itu, kehidupannya diperkenan Allah.

Kita mungkin berpikir bahwa Paulus luar biasa, bahkan hidupnya tiada bandingan, dan standarnya terlalu tinggi bagi kita. Namun, Paulus menyuruh kita untuk menjadi penirunya (1Kor. 4:16; 11:1). Paulus sama seperti kita. Dia adalah manusia, bagian dari ciptaan lama, dan dia hidup dalam daging. Entah kita meniru Paulus dalam hal diperkenan Allah tergantung pada apakah kita yang hidup atau Kristus hidup di dalam kita. Jika kita yang hidup, kita tidak dapat diperkenan Allah. Namun, jika kita mempersilakan Kristus hidup untuk kita dan jika kita hidup berdasarkan Kristus dan bahkan memperhidupkan Kristus, kehidupan kita akan betul-betul diperkenan Allah. Ketika kehidupan kita diperkenan Allah, di dalam batin kita akan ada perasaan yang dalam sehubungan dengan ini. Kita akan tahu bahwa kita adalah orang yang menempuh kehidupan yang mengulang kehidupan Kristus dan yang diperkenan Allah.

Saya percaya bahwa kita semua memiliki keterbatasan dalam mengalami hal ini dan memiliki perasaan yang dalam untuk diperkenan Allah, juga menyukakan diri kita. Namun, sering kali kita tidak diperkenan Allah dan karenanya juga tidak menyukakan diri kita.

Jenis kehidupan apakah yang diperkenan Allah? Satusatunya kehidupan yang diperkenan Allah adalah kehidupan yang mengulang kehidupan yang ditempuh Kristus di bumi. Kehidupan yang mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran adalah kehidupan yang diperkenan Allah.

Dalam Roma 14:18, Paulus berkata, “Karena siapa saja yang melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah.” Kata “ini” di sini mengacu kepada ayat 17, yang memberi tahu kita bahwa Kerajaan Allah adalah masalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus. Siapa saja yang melayani secara demikian, dalam Kerajaan Allah, diperkenan oleh Allah. Ketika kita menempuh kehidupan kerajaan, kita menempuh kehidupan yang benar dan penuh damai sejahtera dan sukacita. Kehidupan demikian adalah pengulangan kehidupan Kristus sebagai kurban bakaran, yang selalu berkenan kepada Allah.

G. Dalam Batin-Nya

Batin Kristus menunjukkan seluruh bagian batiniah-Nya, termasuk pikiran, emosi, tekad, dan hati-Nya dengan semua fungsinya. Bagian yang utama dari dalam kita, batin kita, adalah pikiran. “Menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp. 2:5). Pikiran yang terdapat dalam Kristus seharusnya terdapat di dalam kita hari ini. Ini berarti kita harus mengambil pikiran-Nya sebagai pikiran kita. Kita harus menjadi orang yang bukan memakai pikiran alamiah kita sendiri, tetapi memakai pikiran Kristus.

Dalam 1Korintus 2:16b, Paulus berkata, “Kami memiliki pikiran Kristus.” Karena kita secara organik bersatu dengan Kristus, kita memiliki semua kemampuan yang Dia miliki. Pikiran adalah kemampuan untuk memahami, organ pemahaman. Kita memiliki organ Kristus yang demikian supaya kita dapat mengenal apa yang Dia kenal. Karena itu, kita memiliki bukan hanya hayat, tetapi juga pikiran Kristus. Kristus harus menjenuhi pikiran kita dari roh kita, membuat pikiran kita bersatu dengan pikiran-Nya.

Dalam Roma 8:6, Paulus membicarakan menaruh pikiran di atas roh (Tl.). Perkataan ini tidak sekuat perkataannya mengenai pikiran Kristus. Kita seharusnya bukan hanya menaruh pikiran kita di atas roh, tetapi juga memiliki pikiran Kristus.

“Dengan kasih mesra (bagian dalam) Kristus Yesus merindukan kamu sekalian” (Flp. 1:8). Kata Yunani yang diterjemahkan “kasih mesra” secara harfiah berarti organ bagian dalam, melambangkan kasih sayang dari dalam, belas kasihan dan simpati yang lembut. Paulus bersatu dengan Kristus bahkan dalam isi perut, bagian dalam yang lembut dari Kristus, dalam merindukan kaum beriman. Ini menunjukkan bahwa Paulus tidak memperhatikan bagian dalamnya sendiri tetapi mengambil bagian dalam Kristus sebagai bagian dalam dirinya. Dia bukan hanya telah menerima pikiran Kristus, tetapi juga seluruh bagian dalam-Nya. Karena itu, batiniah Paulus diubah, diatur ulang, dibentuk ulang, disusun ulang. Manusia batiniahnya disusun ulang dengan bagian dalam Kristus. Paulus tidak menempuh kehidupan dalam batiniahnya yang alamiah; dia menempuh hidup dalam bagian dalam Kristus.

“Kebenaran Kristus di dalam diriku” (2Kor. 11:10). “Kebenaran” di sini berarti kejujuran, kesetiaan, dapat diandalkan. Apa yang ada di dalam Kristus seperti kebenaran, yaitu kejujuran, kesetiaan, kelayakan, juga ada di dalam Rasul Paulus. “Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus” (1Kor. 16:24). Kasih Paulus kepada orang Korintus bukanlah kasihnya, melainkan kasih dalam Kristus, yaitu kasih Kristus. Paulus mengasihi kaum beriman bukan berdasarkan kasih alamiahnya, melainkan berdasarkan kasih Kristus.

Jika kita menjajarkan ayat-ayat itu, kita akan melihat bahwa Paulus adalah seorang manusia yang terus-menerus mengalami bagian dalam Kristus. Karena dia mengalami Kristus secara demikian, maka dia benar-benar dapat mempersembahkan Kristus menurut pengalamannya atas Dia.

H. Dalam Pergerakan-Nya

Dalam Imamat 1, betis kurban bakaran melambangkan pergerakan Kristus, sama seperti kepala melambangkan hikmat-Nya. Kita perlu mengalami Kristus dalam pergerakan-Nya. Dalam Matius 11:29, Tuhan Yesus berkata, “Pikullah gandar (kuk) yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku.” Ini adalah menerima betis Tuhan, pergerakan-Nya, dan mengalami Dia dalam pergerakan-Nya. “. . . demikian kamu belajar mengenal (kepada) Kristus” (Ef. 4:20). Belajar kepada Kristus adalah memiliki kaki dan betis-Nya untuk hidup, berjalan, dan bergerak tepat seperti yang Dia lakukan.

“Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus” (1Kor. 11:1). Ayat ini menunjukkan bahwa Paulus tidak bergerak berdasarkan kaki dan betisnya sendiri, tetapi bergerak berdasarkan kaki dan betisnya Kristus.

Petrus juga mengalami Kristus dalam pergerakan-Nya. Ini ditunjukkan dengan perkataannya tentang mengikuti langkah-langkah Kristus: “Meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Ptr. 2:21). Paulus dan Petrus keduanya berjalan berdasarkan kaki dan betis Kristus sebagai kurban bakaran untuk Allah.

I. Dalam Hal Dijaga oleh Roh Kudus dari Pencemaran

Akhirnya, kita dapat mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran dalam hal dijaga oleh Roh Kudus dari pencemaran. Ini ditunjukkan dalam Kitab Imamat oleh pembasuhan betis dan isi perut kurban bakaran.

Paulus menyinggung pengalaman kita atas pembasuhan ini dalam 1Korintus 6:11 dan Titus 3:5. Satu Korintus 6:11 mengatakan, “Dirimu disucikan (dibasuh), . . . dalam Roh Allah kita.” Jika kita setiap hari mengalami pembasuhan demikian dan kemudian datang untuk mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran, kita akan dapat mempersembahkan Dia menurut pengalaman kita. Jika kita tidak memiliki pengalaman dibasuh oleh Roh Kudus, kita tidak akan memiliki kapasitas untuk mempersembahkan kurban bakaran yang telah dibasuh. Kita perlu mengalami Kristus dalam hal dibasuh oleh Roh Kudus.

Dalam Titus 3:5 Paulus mengatakan “pembaruan . . . Roh Kudus.” Pembaruan ini juga berhubungan dengan pengalaman kita dalam kehidupan kita setiap hari dijaga dari pencemaran oleh pembasuhan Roh Kudus.

III. MEMPERSEMBAHKAN KRISTUS YANG KITA ALAMI

Kita perlu mempersembahkan Kristus yang telah kita alami sebagai kurban bakaran kepada Allah. Dalam Roma 8:11 Paulus berkata, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Kemudian dalam Roma 12:1, dia selanjutnya berkata, “mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati.” Dalam Kolose 1:28, Paulus mengatakan tentang mempersembahkan “tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” Ini adalah mempersembahkan Kristus yang kita alami sebagai kurban bakaran kepada Allah.

Di antara orang Kristen hari ini tidak banyak yang memiliki Kristus untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran. Di manakah Anda dapat menemukan sekelompok orang Kristen yang setiap hari mempersembahkan Kristus yang mereka alami sebagai kurban bakaran kepada Allah? Mengenai hal ini, bagaimanakah keadaan kita? Saya prihatin tentang fakta bahwa kita juga kekurangan pengalaman-pengalaman ini. Inilah alasan banyak orang beriman tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan dalam Sidang Pemecahan Roti atau dalam Sidang Doa. Kita mungkin ingin mempersembahkan pujian kepada Allah, tetapi jika kita kekurangan pengalaman atas pengalaman Kristus, kita tidak akan bisa mengatakan apa-apa. Namun, jika kita penuh dengan pengalaman atas pengalaman Kristus sebagai kurban bakaran, kita akan sangat kaya dalam memuji bukan saja dalam sidang-sidang, tetapi juga dalam waktu pribadi bersama Tuhan. Karena itu, kita seharusnya berusaha mengalami Kristus setiap hari dalam segala aspek-Nya sebagai kurban bakaran. Kemudian, setelah memiliki banyak pengalaman atas Dia, kita akan mampu mempersembahkan Kristus yang telah kita alami kepada Allah. Doa-doa dan puji-pujian kita akan menjadi pelepasan pengalaman kita atas Kristus.

IV. MEMPERSEMBAHKAN KRISTUS KEPADA ALLAH SEBAGAI

KURBAN BAKARAN KITA MENURUT PENGALAMAN KITA ATAS DIA

Kita perlu mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran menurut pengalaman kita atas Dia. Dua ayat yang menunjukkan hal ini adalah 1Petrus 2:5 dan Ibrani 13:15. Satu Petrus 2:5 membicarakan mempersembahkan “persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Persembahan rohani ini adalah Kristus di dalam segala aspek kekayaan-Nya sebagai realitas semua persembahan dalam lambang Perjanjian Lama. Secara khusus, persembahan rohani mencakup Kristus sebagai realitas kurban bakaran. Ibrani 13:15 mengatakan, “melalui Dia, senantiasa mempersembahkan kurban syukur kepada Allah.” Kedua ayat ini menunjukkan bahwa kita dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran hanya sampai tingkat kita mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya.

Jika kita mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya, bukan saja kita akan memiliki sesuatu dari Kristus untuk dipersembahkan kepada Allah, tetapi kita juga akan mampu mempersembahkan Dia dengan prosedur yang sesuai dengan pengalaman-pengalaman kita. Andaikata Anda mempersembahkan Kristus sebagai lembu. Mula-mula, Anda akan membawa kurban persembahan ini ke mezbah, tempat penyembelihan. Kemudian Anda akan menyembelihnya, mengulitinya, dan membasuh betis dan isi perutnya. Prosedur ini akan menjadi tinjauan ulang dari pengalaman Anda atas Kristus dalam pengalaman-Nya yang dibawa ke pembantaian, disembelih, dikuliti, dan dibasuh. Dalam kehidupan Anda setiap hari Anda mengalami Kristus secara demikian, sekarang ketika Anda mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran Anda, Anda meninjau ulang pengalaman Anda. Karena itu, cara Anda mempersembahkan, adalah penyataan dari pengalaman Anda atas Kristus.

Mereka yang menyaksikan tinjauan ulang dan penyataan demikian akan benar-benar terkesan olehnya. Tentu saja, karena kekurangan pengalaman, kita jarang menyaksikan ini. Walaupun demikian, kadang-kadang dalam sidang kita mendengar pujian atau kesaksian yang adalah tinjauan ulang dan penyataan dari pengalaman orang atas Kristus, dan kita mengagumi pujian atau kesaksian itu.

Sebagian besar kurban bakaran yang kita persembahkan kepada Allah dalam sidang-sidang adalah dua ekor burung merpati. Kurban persembahan dan cara kita mempersembahkannya sangatlah miskin. Hal ini dikarenakan kurangnya pengalaman atas Kristus sebagai kurban bakaran. Jika kita kurang mengalami Kristus, kita tidak akan memiliki sesuatu untuk ditinjau ulang atau dinyatakan. Namun, jika kita memiliki pengalaman yang kaya atas Kristus dalam pengalaman-Nya, kita akan mampu melewati prosedur untuk meninjau ulang dan menyatakan pengalaman kita atas Kristus. Peninjauan ulang dan penyataan demikian adalah mustika di mata Allah.

Kita perlu mengalami Kristus dan kemudian mempersembahkan Dia kepada Allah. Mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya adalah mengikuti langkah-langkah-Nya. Ini adalah memperhidupkan Kristus, mengulang kehidupan yang Dia tempuh di bumi. Jika kita memperhidupkan Kristus, tentu kita akan mengalami Kristus. Ketika kita datang untuk mempersembahkan pengalaman atas Kristus ini kepada Allah, kita dapat mempersembahkan Dia menurut prosedur peninjauan ulang dan penyataan yang mengesankan bukan hanya manusia, tetapi juga setan-setan dan malaikat-malaikat, juga Allah. Allah gembira melihat anak-anak-Nya mempersembahkan Putra-Nya kepada Dia melalui prosedur peninjauan ulang dan penyataan pengalaman mereka atas Kristus dalam kehidupan mereka setiap hari. Betapa menakjubkan sidang-sidang gereja jika dipenuhi kurban persembahan semacam ini!

Mengenai penyembahan, Perjanjian Baru memberi kita perkataan dan prinsip yang jelas, tetapi tidak memberikan rincian yang kita lihat pada lambang-lambang dalam Perjanjian Lama, khususnya lambang-lambang dalam Kitab Imamat. Sebagai contoh, dalam Yohanes 4:23 dan 24, Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa penyembah-penyembah sejati akan menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran, dan dalam 1Korintus 14, Paulus memberi kita prinsip tertentu yang berhubungan dengan bagaimana seharusnya kita bersidang. Namun, dalam Yohanes 4 atau dalam 1Korintus 14, tidak kita temukan rincian tentang penyembahan atau tentang bersidang. Untuk rinciannya, kita perlu memperhatikan lambang-lambang dalam Kitab Imamat.

Kitab Imamat banyak mengatakan tentang menyembah Allah. Mempersembahkan kurban bakaran dan kurban persembahan yang lain adalah untuk menyembah Allah. Allah ingin kita menyembah Dia dengan Kristus sebagai realitas dari kurban-kurban persembahan. Allah tidak ingin seseorang menyembah Dia dengan sujud, berlutut, atau bahkan hanya dengan menyanyi dan memuji. Penyembahan sejati, penyembahan yang memuaskan hati Allah, adalah kita datang untuk menyembah Allah dengan mempersembahkan Kristus yang telah kita alami dan mempersembahkan Dia menurut pengalaman-pengalaman kita, meninjau ulang pengalaman yang kita miliki dalam kehidupan kita setiap hari. Inilah penyembahan yang Bapa cari, penyembahan yang Dia dambakan.

Bapa ingin kita menyembah Dia melalui mempersembahkan Putra-Nya kepada Dia menurut prosedur yang dengannya kita meninjau ulang pengalaman kita. Ini memerlukan banyak pengalaman. Kita bersyukur kepada Tuhan yang memperlihatkan kepada kita dari Kitab Imamat bahwa kita perlu mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya, bukan hanya memiliki Dia sebagai kurban bakaran, tetapi juga mampu melewati prosedur yang dengannya kita mempersembahkan Kristus melalui peninjauan ulang pengalaman-pengalaman kita atas Dia.

Anda mungkin merasa bahwa tidak mungkin Anda mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran. Namun, dalam Filipi 3:10, Paulus memberi tahu kita bahwa kita dapat diserupakan dengan kematian Kristus jika kita mengalami topangan dan penguatan kuasa kebangkitan Kristus. Dalam salah satu kidungnya, A. B. Simpson berkata, “Sulitkah mati serta-Nya? Kebangkitan kukenal” ( kuningKidung No. 362). Jika kita melihat visi mengenai mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya dan tertarik untuk menempuh hidup yang demikian, kita harus memiliki iman bahwa Kristus yang menyajikan pengalaman-Nya sebagai contoh sekarang ada di dalam kita sebagai suplai hayat kita. Kita memiliki suplai yang serba cukup di dalam kita, dan suplai ini adalah Roh Kristus dalam kebangkitan-Nya. Inilah alasan Paulus dapat berkata, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada-ku” (Flp. 4:13). Karena itu, mengingat Kristus ada di dalam kita dan untuk kita, kita tidak seharusnya kecewa.

Mengenai kurban bakaran, kita perlu mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya. Kemudian apa yang kita persembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran akan diperkenan oleh Dia. Namun, bagaimana kita dapat mengalami Kristus secara demikian? Kita tidak dapat melakukan hal ini di dalam diri kita sendiri, tetapi kita dapat melakukannya oleh Kristus yang berhuni, dan bangkit, yang diri-Nya sendiri adalah kebangkitan. Dalam Dia dan oleh Dia kita dapat melakukan semua yang berhubungan dengan mengalami Kristus sebagai kurban bakaran. Dalam Dia dan oleh Dia, kita menempuh hidup yang menang dalam kehidupan pernikahan kita dan hidup yang menang dalam hidup gereja, mengalahkan semua kesulitan dalam kehidupan keluarga kita dan semua masalah dalam hidup gereja. Kita dapat melakukan semua hal di dalam Dia yang menguatkan kita. Karena itu, kita dapat mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya dan memiliki Dia untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran.