← Daftar isi Imamat (1) · bab 10/20

KURBAN BAKARAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN ALLAH (8)

MENGALAMI KRISTUS DALAM PENGALAMAN-NYA DAN

MEMPERSEMBAHKAN KRISTUS YANG TELAH KITA ALAMI,

DAN MEMPERSEMBAHKAN DIA KEPADA

ALLAH SEBAGAI KURBAN BAKARAN

MENURUT PENGALAMAN KITA ATAS DIA

(4)

Dalam dua berita yang lalu kita membahas secara rinci perkara mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya dan mempersembahkan Kristus yang telah kita alami kepada Allah. Dalam berita ini saya akan menyampaikan perkataan ringkas lebih lanjut mengenai pengalaman kita atas Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran.

Saya prihatin karena beberapa orang mungkin salah paham terhadap apa yang saya maksud dengan mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya. Ketika kebanyakan orang Kristen mendengar bahwa kita perlu mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya supaya kita memiliki Dia sebagai kurban bakaran, mereka mungkin berpikir bahwa ini adalah perkara meniru Kristus secara luaran, menerima Kristus sebagai contoh dan teladan luaran dan kemudian mengikuti Dia dan mempelajari Dia. Pemahaman demikian ini tidak benar.

DUA ALIRAN PEMIKIRAN MENGENAI MENGALAMI KRISTUS

Untuk membantu Anda memiliki pemahaman yang benar atas mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya, saya mau menekankan bahwa terkait dengan perkara ini, ada yang disebut dua teologi aliran pemikiran yang besar.

Meniru Kristus Hanya secara Luaran

Aliran pertama, yang lebih populer dibandingkan dengan yang kedua dan yang dianut oleh Katolik dan Protestan, mengajar kaum beriman mengikuti Kristus dan meniru Kristus betul-betul secara luaran. Pengajaran ini diilustrasikan dalam buku Katolik terkenal yang ditulis ratusan tahun yang lalu berjudul The Imitation of Christ (Meniru Kristus). Menurut buku ini, orang Kristen harus mencoba meniru kehidupan Kristus secara luaran. Banyak teologi Protestan hari ini juga membicarakan mengikuti Kristus, meniru Dia, dan mempelajari Dia.

Beberapa ayat dalam Perjanjian Baru kelihatannya memberikan dasar untuk aliran pemikiran ini. Dalam Kitab Injil, Tuhan Yesus sering menyuruh orang lain mengikuti Dia. Dalam Matius 11:29, Dia berkata, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Selain itu, Paulus mendorong kaum beriman, katanya, “Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus” (1Kor. 11:1). Ayat-ayat demikian kelihatannya mendukung pengajaran yang menyatakan bahwa mengalami Kristus adalah meniru Dia secara luaran.

Memperhidupkan Kristus

Aliran pemikiran kedua, yang dianut oleh beberapa guru Alkitab, mengatakan bahwa mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya bukanlah soal meniru Kristus secara luaran, tetapi sebaliknya soal memperhidupkan Kristus. Mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya bukanlah menerima Dia sebagai teladan luaran, melainkan memperhidupkan Kristus. Mengenai hal ini, Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19b-20a). Paulus tidak mengatakan, “Aku menerima Kristus sebagai teladanku dan mengikuti Dia”; dia mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus” dan “Kristus hidup di dalam aku.” Dalam Filipi 1:21, Paulus selanjutnya berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus tidak hanya menerima Kristus sebagai teladan-Nya dan meniru Dia secara luaran. Paulus memperhidupkan Kristus.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS DALAM KEHIDUPAN KITA SETIAP HARI

Dalam kehidupan pernikahan kita, kita mungkin mencoba meniru Kristus, atau kita mungkin melatih diri kita sendiri untuk memperhidupkan Kristus. Banyak orang Kristen telah diajar untuk mengikuti langkah-langkah Kristus dalam kehidupan pernikahan mereka. Sebagai contoh, seorang pendeta mungkin menasihati pasangan yang menikah, “Kristus tidak pernah cekcok dengan orang lain. Sekarang kalian harus mengikuti contoh-Nya dan tidak cekcok dengan satu sama lain. Jika kalian tergoda untuk cekcok, kalian harus ingat untuk mengikuti Kristus dan hidup seperti Dia.”

Andaikata seorang saudara menerima nasihat ini, memutuskan untuk mengikuti Kristus dalam kehidupan pernikahannya dan tidak akan cekcok dengan istrinya. Namun, satu hari istrinya menyusahkan dia, dan si Iblis mencobai dia untuk berbantahan dengan istrinya. Dia melawannya sejenak, tetapi akhirnya dia marah-marah. Tentu saja, ini adalah kegagalan dalam mengikuti Kristus. Kegagalan semacam ini sangat umum di antara orang Kristen.

Namun, beberapa orang yang bertekad kuat dapat meraih kemenangan atas pencobaan untuk cekcok. Tidak peduli berapa banyak mereka dihasut, mereka tidak marah. Mereka menetapkan untuk meniru Kristus, mengikuti Dia, tidak cekcok, dan dengan tekad kuatnya mereka sukses. Inikah pengalaman sejati atas Kristus dalam pengalaman-Nya? Jelas bukan! Ini hanyalah praktek pengajaran agama.

Saya dilahirkan dalam kekristenan, dan sejak muda saya diajarkan dari Alkitab untuk menerima Kristus sebagai teladan dan mengikuti Dia. Kemudian saya belajar ajaran klasik Konghucu, yang sangat mirip dengan pengajaran kekristenan yang saya dengar. Saya pusing dan mulai bingung, mengapa kami di China memerlukan agama Kristen dari luar negeri yang mengajar kita hal yang sama dengan yang kita dengar dari Konghucu. Karena saya dibingungkan dengan hal ini, untuk sejangka waktu saya mengesampingkan kekristenan. Pada usia sembilan belas tahun, saya beroleh selamat. Namun, saya masih memiliki masalah mengenai kesamaan pengajaran etika Konghucu dengan kekristenan. Konghucu memberi kita teladan baik untuk diikuti, dan kekristenan mengajar kita mengikuti Kristus sebagai teladan kita. Apakah perbedaannya? Saya baru dapat menjawab pertanyaan ini setelah saya menerima bantuan melalui yang disebut pengajaran hayat batiniah. Kemudian saya melihat bahwa ada perbedaan besar antara mengikuti pengajaran etika dengan memperhidupkan Kristus, dan saya mulai melihat visi Kristus hidup di dalam saya.

Memang, dalam keempat Injil Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku.” Namun, perkataan ini tidak dapat ditemukan dalam Kitab Kisah Para Rasul dan dalam Surat Kiriman. Bukannya mendorong kita untuk mengikuti Kristus secara luaran, Surat Kiriman berbicara tentang berada di dalam Kristus. Paulus mengatakan, “Aku tahu tentang seseorang di dalam Kristus” (2Kor. 12:2) dan menyatakan kedambaannya ditemukan di dalam Kristus (Flp. 3:9). Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata bahwa dia disalibkan dengan Kristus dan bahwa bukan lagi dia sendiri yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam dia. Dalam Filipi 1:21 dia memberi tahu kita bahwa bagi dia hidup adalah Kristus. Betapa besar bedanya antara mencoba meniru Kristus secara luaran dengan berada di dalam Kristus, memperhidupkan Kristus, dan memiliki Kristus hidup di dalam kita!

Dalam kehidupan pernikahan kita perlu memperhidupkan Kristus. Andaikata seorang saudara dicobai untuk cek-cok dengan istrinya. Jika pada saat demikian dia memperhatikan bagaimana mengikuti Kristus, dia akan kalah. Sebelum cobaan untuk cekcok datang, saudara itu harus siap memperhidupkan Kristus. Dia harus menjadi seorang yang memperhidupkan Kristus dalam kehidupan pernikahannya. Jika sementara memperhidupkan Kristus dia dicobai untuk cekcok dengan istrinya, dia tidak akan cekcok dengannya. Karena dia memperhidupkan Kristus, dia menempuh kehidupan yang tidak pernah cekcok. Ini sama sekali berbeda dengan orang yang bertekad kuat yang memutuskan untuk tidak marah. Daripada memutuskan untuk tidak cekcok dengan pasangan kita, kita harus memperhidupkan Kristus, kehidupan yang bukan diri kita sendiri, kehidupan yang tidak pernah cekcok.

Saya waswas ketika beberapa orang beriman, khususnya orang-orang yang baru beroleh selamat, begitu mendengar tentang mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya, mereka mungkin mencoba mengikuti Kristus hanya secara lahiriah. Jika kita mencoba meniru Kristus, kita akan seperti monyet yang mencoba meniru manusia. Kita tidak seharusnya mencoba mengikuti Kristus. Sebaliknya, kita perlu diterangi agar melihat bahwa di dalam diri sendiri, kita tidak ada harapan. Kita adalah “monyet-monyet”. Bagaimanakah kita dapat meniru manusia? Kita harus melupakan tentang meniru Kristus dan melihat bahwa kita memiliki Dia di dalam kita yang adalah hayat kita. Dia ini adalah Juruselamat kita, Allah Tritunggal, hidup di dalam kita. Dia bukan saja hayat kita, Dia bahkan adalah persona kita.

Kita seharusnya bersaksi bahwa kita tidak tahu apa itu berbuat baik atau jahat; kita hanya tahu memperhidupkan Kristus. Kita mengasihi Dia dan bersekutu dengan Dia. Bangun pagi-pagi, hal pertama yang kita lakukan adalah berseru kepada-Nya dengan mesra dan manis, dengan mengatakan, “Tuhan Yesus, aku cinta kepadamu.” Kemudian kita mulai berbicara dengan Dia, bersekutu dengan Dia, dan menerima Dia. Menerima Kristus ke dalam kita adalah makan Dia. Kemudian kita akan menikmati Dia, memperhidupkan Dia, dan menjadi apa adanya Dia.

Jika kita adalah orang-orang demikian, kita tidak akan menyerah kepada pencobaan untuk cekcok dengan suami atau istri kita, tidak peduli berapa banyak kita dicobai. Kita sekarang menempuh kehidupan yang lain, kehidupan yang dapat mengalahkan si Iblis dan semua setan. Kehidupan ini adalah Kristus sendiri. Menempuh kehidupan jenis ini, kehidupan yang memperhidupkan Kristus, tidak ada hubungannya dengan agama, dan ini mutlak berbeda dari pengajaran Konghucu.

Beban saya dalam berita-berita ini bukan mengajarkan doktrin. Sebaliknya, beban saya adalah melayankan Kristus kepada Anda, membagikan kenikmatan saya atas satu persona yang unik, Yesus Kristus, perwujudan Allah Tritunggal. Fakta yang ajaib, kita memiliki persona yang demikian hidup di dalam kita, dan kita dapat memperhidupkan Dia dan menerima Dia sebagai persona kita.

Untuk membantu orang-orang yang baru beroleh selamat dan orang-orang muda, saya mau membagikan pengalaman saya ketika saya masih muda. Tidak lama setelah saya beroleh selamat, saudara perempuanku, yang adalah seorang mahasiswi teologi, mencoba membantu saya dalam kehidupan saya sebagai orang Kristen. Satu hari ia memberi tahu saya tentang seorang guru Alkitab yang sangat sabar dan selalu berjalan perlahan dengan Alkitab di tangannya, berhenti sesaat dan memandang langit atau memandang Alkitab. Ketika saya mendengar tentang dia, saya merasa juga perlu sabar dan berjalan dengan perlahan. Namun, saya adalah “seekor monyet” yang mencoba menjadi seorang manusia. Saya adalah seorang yang tergesa-gesa dan dalam diri saya, saya tidak dapat menempuh hidup yang lambat dan sabar. Akhirnya, saya mempelajari beberapa pengajaran hayat batini, dan saya melihat bahwa saya telah disalibkan dan dikuburkan bersama Kristus. Saya melihat bahwa bukan saya lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam saya.

Daripada meniru Kristus, lebih baik kita memperhidupkan Dia. Untuk memperhidupkan Kristus, kita perlu menyeru Dia dan menikmati Dia. Ini adalah cara untuk menempuh kehidupan yang menang, yang sebenarnya adalah Kristus yang menang sebagai hayat kita.