← Daftar isi Imamat (1) · bab 11/20

KURBAN SAJIAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN UMAT ALLAH YANG DINIKMATI BERSAMA ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab: Im. 2:1

Dalam berita ini kita akan mulai membahas Imamat 2, yang menyinggung kurban sajian.

I. HUBUNGAN KURBAN SAJIAN DENGAN KURBAN BAKARAN

Kita terlebih dulu perlu memahami hubungan kurban sajian dengan kurban bakaran.

A. Kurban Bakaran Menekankan Kehidupan Kristus untuk Allah;

Kurban Sajian Menekankan Kehidupan Insani Kristus dan Perilaku-Nya Setiap Hari

Penekanan kurban bakaran adalah pada kehidupan Kristus untuk Allah, bahkan sampai mati, menyiratkan kehidupan-Nya dengan penekanan pada kematian-Nya. Penekanan kurban sajian adalah pada kehidupan insani Kristus dan perilaku-Nya setiap hari, menyiratkan kematian-Nya dengan penekanan pada kehidupan-Nya.

B. Kurban Bakaran Menekankan Kristus Adalah Kebenaran Allah;

Kurban Sajian Menekankan Kristus Adalah Benar di Hadapan Allah

Kurban bakaran menekankan Kristus adalah kebenaran—kebenaran Allah. Kurban sajian menekankan Kristus adalah benar—benar di hadapan Allah. Dalam kurban bakaran, kita dapat melihat Kristus adalah kebenaran, sebab kurban bakaran menunjukkan bahwa Kristus adalah kebenaran Allah. Kurban sajian menunjukkan bahwa Kristus adalah benar.

Kita perlu membedakan kebenaran (kata benda) dari benar (kata sifat). Kita boleh berkata bahwa Kristus adalah kebenaran itu sendiri, dan kita juga boleh berkata bahwa Dia adalah benar. Prinsipnya sama dengan kata dosa (kata benda) dan berdosa (kata sifat). Di satu pihak, kita dapat berkata bahwa kita adalah dosa, bahwa kita adalah totalitas dosa itu sendiri. Di pihak lain, kita dapat berkata bahwa kita berdosa.

Ketika Kristus mati di kayu salib, Dia dijadikan dosa (2Kor. 5:21). Dia yang mati di kayu salib bukan hanya satu orang, Yesus Kristus, tetapi seorang yang dijadikan dosa dalam totalitasnya. Karena Kristus dijadikan dosa, Dia menghapuskan dosa dari umat manusia (Yoh. 1:29), dan juga telah menghukum dosa yang dipersonifikasi sebagai satu pribadi (Rm. 8:3). Ini mengacu kepada Kristus sebagai kurban penghapus dosa.

Kristus juga kurban penebus salah. Kurban penebus salah bukanlah perihal Kristus dijadikan dosa bagi kita, tetapi perihal Kristus memikul dosa-dosa kita (1Ptr. 2:24; Ibr. 9:28). Di satu pihak, sebagai kurban penghapus dosa, Kristus dijadikan dosa; di pihak lain, sebagai kurban penebus salah, Kristus memikul dosa-dosa kita. Kita perlu melihat bahwa sebagai orang-orang yang jatuh, kita tidak hanya berdosa, bahkan adalah dosa itu sendiri. Sering ketika saya berlutut di hadapan Tuhan dan berdoa, saya berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku bukan saja berdosa, aku adalah dosa itu sendiri. Aku tidak lain adalah dosa.”

Dalam kurban bakaran kita dapat melihat Kristus adalah kebenaran Allah; dalam kurban sajian kita dapat melihat Kristus yang benar, Dia yang benar dalam segala hal. Karena Kristus adalah kebenaran Allah, Dia dapat menjadi kepuasan Allah dan memberi Allah bau harum yang memuaskan. Hanya Kristus yang dapat memuaskan Allah sampai puncaknya.

Kita juga harus menjadi kebenaran Allah, memuaskan Allah sampai tingkat kita menjadi bau harum yang memuaskan Allah. Namun, bagaimana kita dapat menjadi orang yang demikian? Di mata Allah, kita bukan kebenaran, kita adalah dosa. Bagaimana kita dapat menjadi kurban bakaran untuk Allah? Dapatkah kita yang adalah dosa menjadi kebenaran? Dalam diri kita sendiri tidak mungkin, tetapi ini bisa terjadi melalui mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya.

Pada awal ministri saya, pasangan muda yang baru menikah yang memiliki masalah dengan temperamennya sering bertanya kepada saya, bagaimana caranya menjadi suami atau istri yang baik. Mereka tidak ingin marah-marah, tetapi tidak peduli bagaimana gigihnya mereka berusaha, mereka tetap gagal. Mereka minta saya mengajari mereka bagaimana mengatasi temperamen. Karena masih muda dalam ministri, saya belum melihat visi memperhidupkan Kristus. Karena saya kekurangan visi dan karena saya masih di bawah pengaruh buku-buku tertentu yang telah saya baca mengenai menempuh kehidupan kristiani, saya memberi tahu bahwa mereka perlu mengasihi Tuhan, sering berdoa, dan menghafalkan ayat-ayat Alkitab. Mereka menuruti saran saya dan mencoba mengikutinya, tetapi tidak manjur, dan hasilnya selalu gagal. Mereka bertekad untuk tidak marah-marah, tetapi akhirnya mereka tetap gagal dan marah-marah. Pengalaman mereka, juga pengalaman saya, mirip dengan pengalaman Paulus dalam Roma 7: “Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan” (ayat 18b-19). Jika hari ini saya diminta membantu orang beriman menanggulangi temperamen mereka, saya akan berkata, “Kalian perlu menyadari bahwa kalian adalah temperamen itu sendiri. Lalu, bagaimana kalian dapat menghindari amarah? Satu-satunya cara untuk mengalahkan amarah kalian adalah memperhidupkan persona lain, Dia yang bukan amarah, tetapi kebenaran Allah.”

Di luar Kristus tidak ada kebenaran. Di alam semesta ini, hanya Dia yang adalah kebenaran itu. Jika kita tidak memiliki Dia, kita tidak dapat memiliki kebenaran. Mengenai orang Yahudi, Paulus mengatakan, “Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran diri mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Rm. 10:3 Tl.). Mereka yang mencari kebenaran di luar Kristus tidak akan menemukannya. Sebagai kurban bakaran Dia adalah kebenaran Allah, dan sebagai kurban sajian Dia adalah Sang benar itu. Dia lembut, sempurna, lengkap, dan benar dalam segala hal.

II. TEPUNG HALUS

A. Unsur Utama dari Kurban Sajian

Kurban sajian dibuat dari tepung halus. Karena itu, tepung halus adalah unsur utama kurban sajian. Tepung halus ini melambangkan keinsanian Kristus.

Keinsanian Kristus itu halus, tetapi keinsanian kita kasar. Di luar mungkin kita tampak lembut dan menarik, tetapi sebenarnya kita kasar. Di antara umat manusia, hanya Kristus yang lembut; hanya Dia yang seperti tepung halus. Pada-Nya tidak ada kekasaran. Keinsanian-Nya halus, sempurna, seimbang, dan benar dalam segala hal. Dari segala sudut, depan dan belakang, atas dan bawah, kanan dan kiri, Dia selalu benar.

B. Dihasilkan dari Gandum, Telah Melalui Banyak Proses

Tepung halus kurban sajian dihasilkan dari gandum yang telah melalui banyak proses, termasuk ditabur, dikubur untuk mati, bertumbuh, diterpa angin, dingin, hujan, dan matahari, dan kemudian dituai, digirik, diayak, dan digiling. Proses ini melambangkan berbagai penderitaan Kristus yang menjadikan Dia “seorang yang penuh kesengsaraan” (Yes. 53:3). Dalam kehidupan insani-Nya, Tuhan Yesus mengalami kesengsaraan demi kesengsaraan.

C. Adalah Sempurna dalam Kehalusan, Keserasian,

Kelembutan, dan Keelokan, Juga Sangat Seimbang, Tidak Kelebihan dan Tidak Kekurangan

Tepung halus adalah sempurna dalam kehalusan, keserasian, kelembutan, dan keelokan, juga sangat seimbang, tidak kelebihan dan tidak kekurangan. Ini melambangkan keindahan dan keunggulan kehidupan insani dan perilaku setiap hari Kristus. Keinsanian Kristus adalah sempurna. Keinsanian-Nya tidak bisa dibandingkan dengan keinsanian kita yang alamiah dan telah jatuh.

III. MINYAK

A. Melambangkan Roh Allah

Minyak kurban sajian melambangkan Roh Allah (Luk. 4:18; Ibr. 1:9). Kristus adalah manusia, dan sebagai manusia Dia memiliki keinsanian yang unggul. Dia juga memiliki unsur ilahi, yang adalah Roh Allah. Unsur ilahi ada di dalam Roh Allah dan adalah Roh Allah.

Sebagai kurban sajian, Kristus penuh dengan minyak. Kita dapat berkata bahwa Dia telah “diminyaki”. Dia berbaur dengan minyak. Ini berarti keinsanian-Nya telah dibaurkan dengan keilahian-Nya.

B. Dicurahkan ke Atas Tepung Halus

Dalam kurban sajian, minyak dicurahkan ke atas tepung halus. Ini melambangkan Roh Allah dicurahkan ke atas Kristus (Mat. 3:16; Yoh. 1:32).

IV. KEMENYAN

A. Melambangkan Bau Harum Kristus dalam Kebangkitan-Nya

Kemenyan menyebarkan bau harum dan menyebabkan orang memiliki perasaan senang. Dalam perlambangan, kemenyan dalam kurban sajian melambangkan bau harum Kristus dalam kebangkitan-Nya.

B. Dibubuhkan ke Atas Tepung Halus

Kemenyan dibubuhkan ke atas tepung halus. Ini melambangkan keinsanian Kristus memikul aroma kebangkitan-Nya yang ternyata dari penderitaan-penderitaan-Nya (cf. Mat. 11:20-30; Luk. 10:21). Selama tempuhan kehidupan insani-Nya, Kristus sering menderita, tetapi aroma kebangkitan-Nya ternyata dari penderitaan-penderitaan-Nya. Walaupun Dia banyak menderita, Dia menyebarkan bau harum, aroma kebangkitan-Nya.

Dalam kurban sajian ada tiga unsur: tepung halus, minyak, dan kemenyan. Jika kita mempelajari keempat Injil, kita akan melihat bahwa kehidupan Kristus terutama terdiri atas tiga unsur ini. Tuhan Yesus senantiasa hidup dan bergerak dalam tiga hal ini, dalam keinsanian-Nya, berbaur dengan keilahian-Nya, dan mengekspresikan kebangkitan-Nya.

Bahkan sebelum Kristus benar-benar disalibkan, Dia terus-menerus mengekspresikan kebangkitan-Nya. Mengenai ini, kita perlu melihat bahwa Tuhan Yesus disalibkan bukan hanya pada saat-saat akhir kehidupan-Nya, tetapi Dia disalibkan tiap hari. Seumur hidup-Nya ada di bawah salib. Dia selalu disembelih, dikuliti, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Penyaliban-Nya, yang berlangsung selama enam jam, adalah totalitas penyembelihan, pengulitan, dan pemotongan-Nya menurut bagian-bagian tertentu. Karena Tuhan Yesus setiap hari hidup di bawah salib, Dia selalu mengekspresikan kebangkitan keinsanian-Nya yang dibaurkan dengan keilahian-Nya.

Jika kita mengingat butir ini ketika kita membaca kitab Injil, kita akan melihat orang macam apakah Kristus ketika Dia hidup di bumi. Dia adalah persona dengan keinsanian yang tertinggi dan terbaik. Keinsanian ini adalah “diminyaki”, sebab keinsanian-Nya dibaurkan dengan keilahian-Nya. Dalam kehidupan insani-Nya, Dia bukan mengekspresikan penderitaan-penderitaan-Nya, tetapi kebangkitan. Kebangkitan ini adalah kemenyan, aroma harum, bau wangi, di alam semesta. Tidak ada sesuatu yang wangi, harum seperti aroma kebangkitan ini. Ini adalah kehidupan insani Kristus di bumi.

Bahkan ketika Tuhan Yesus dibelenggu dan disalibkan, Dia menempuh kehidupan keinsanian yang dibaurkan dengan keilahian dan mengekspresikan kebangkitan. Sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi datang ke taman mencari Yesus. Dua kali Ia bertanya kepada mereka, “Siapakah yang kamu cari?” (Yoh. 18:4, 7), dan setiap kali mereka menjawab, “Yesus dari Nazaret” (ayat 5, 7). Tuhan Yesus kemudian berkata kepada mereka, “Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi” (ayat 8). “Ini” mengacu kepada murid-murid-Nya. Di bawah penderitaan karena pengkhianatan murid palsu-Nya dan belenggu prajurit, Dia masih memperhatikan dengan baik murid-murid-Nya. Di sini kita dapat merasakan bau harum kebangkitan.

Ketika Tuhan Yesus ada di atas salib, Dia memperhatikan ibu-Nya. “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, ‘Ibu, inilah anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, ‘Inilah ibumu!’” (Yoh. 19:26-27a). Di sini kita sekali lagi melihat kebangkitan diekspresikan dari penderitaan-penderitaan Tuhan.

Tidak peduli bagaimana lingkungannya, Tuhan Yesus selalu menempuh kehidupan yang menderita tetapi mengekspresikan bau harum kebangkitan-Nya. Di setiap tempat dan setiap waktu, Kristus menempuh kehidupan dalam keinsanian-Nya yang berbaur dengan keilahian-Nya dan mengekspresikan kebangkitan-Nya. Ini adalah kurban sajian.

Kurban bakaran adalah untuk kepuasan Allah, memenuhi kedambaan-Nya. Kurban bakaran adalah makanan Allah, dan hanya Allah yang boleh memakannya. Fakta bahwa seluruh kurban bakaran dibakar di mezbah menunjukkan bahwa persembahan ini diterima oleh Allah. Boleh dikatakan, api yang membakar kurban bakaran adalah “mulut” Allah. Kurban bakaran adalah makanan Allah, sedangkan kurban sajian adalah makanan untuk kepuasan kita, hanya sebagian kecil yang dinikmati bersama Allah.

Penyembahan yang tepat mencakup kurban bakaran dan kurban sajian. Mempersembahkan kurban bakaran untuk kepuasan Allah dan mempersembahkan kurban sajian untuk kepuasan kita dan untuk kepuasan kita bersama Allah, adalah penyembahan yang sejati. Penyembahan yang tepat adalah perkara memuaskan Allah dengan Kristus sebagai kurban bakaran, dan dipuaskan dengan Kristus sebagai kurban sajian dan membagi kepuasan ini dengan Allah. Dalam penyembahan yang sejati, Kristus sebagai kurban bakaran naik ke Allah, dan Kristus sebagai kurban sajian masuk ke dalam kita. Dalam penyembahan demikian kita memuaskan Allah dengan Kristus, dan bersama dengan Allah menikmati kenikmatan kita akan Kristus.