← Daftar isi Imamat (1) · bab 12/20

KURBAN SAJIAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN UMAT ALLAH YANG DINIKMATI BERSAMA ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab: Im. 2:2-13

Sebelum kita memperhatikan aspek selanjutnya dari kurban sajian, saya ingin membandingkan kurban bakaran dengan kurban sajian.

Dalam kurban bakaran, butir utamanya adalah darah (Im. 1:3, 11). Dalam kurban sajian, butir utamanya adalah minyak dan kemenyan (Im. 2:1). Minyak untuk perbauran dan pengurapan, dan kemenyan untuk dibubuhkan di atas kurban sajian.

Kurban bakaran adalah untuk pendamaian. Kita perlu pendamaian karena kita kurang mutlak untuk Allah. Bahkan sekalipun kita tidak melakukan kesalahan atau berdosa, walau kita sempurna dan lengkap, kita masih tidak sepenuhnya, benar-benar, sama sekali, mutlak untuk Allah. Jika kita tidak sepenuhnya mutlak untuk Allah, kita kekurangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Ini berarti kita berdosa. Kita berdosa dalam hal tidak mutlak untuk Allah.

Allah adalah sumber kita. Kita diciptakan oleh Allah untuk tujuan mengekspresikan Dia dan mewakili Dia. Untuk mengekspresikan dan mewakili Allah, kita harus mutlak. Namun, di antara umat manusia yang jatuh tidak seorang pun yang mutlak untuk Allah. Mungkin beberapa orang di antara kita mutlak untuk Allah sampai tingkat tertentu, tetapi kita tidak sepenuhnya dan tidak benar-benar mutlak untuk Dia. Kita tidak mutlak untuk Allah seperti manusia Yesus ketika Dia di bumi. Dalam keempat Injil Dia digambarkan sebagai Orang yang sungguh-sungguh mutlak untuk Allah. Tidak seorang pun dapat dibandingkan dengan Dia. Karena itu, kita kekurangan kemuliaan Allah dan perlu pendamaian.

Pendamaian bukan hanya untuk penebusan, lebih-lebih untuk mendamaikan situasi yang tidak damai antara kita dengan Allah. Pendamaian meredakan situasi antara kita dengan Allah, membereskan kesulitan antara kita dengan Allah.

Untuk pendamaian kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran. Namun, kita dapat mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran hanya sampai tingkat pengalaman kita atas Dia. Untuk mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran kepada Allah, kita perlu mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya.

Darah diperlukan untuk pendamaian. Hanya hewan yang memenuhi syarat untuk menjadi kurban bakaran, karena hewan memiliki darah untuk dicurahkan bagi pendamaian. Karena itu, dalam Imamat 1, kurban bakaran harus dari kawanan lembu, kambing, atau domba, atau burung tekukur, atau merpati.

Dalam kurban sajian tidak terlihat hayat hewani. Apa yang terlihat adalah hayat nabati; gandum, bulir gandum. Sebagai lambang Kristus, hayat nabati menunjukkan hasil, pelipatgandaan dan perluasan suplai hayat, supaya orang berdasarkannya bisa menempuh hidup. Dalam kurban sajian kita tidak melihat darah, tetapi kita melihat minyak dan kemenyan. Minyak mengurapi kurban sajian dan berbaur dengannya; kemenyan dipercikkan ke atas kurban sajian. Mengenai darah, minyak, dan kemenyan, kita melihat perbedaan yang sangat besar antara kurban bakaran dan kurban sajian.

Kurban persembahan adalah makanan Allah dan kita, supaya kita dan Allah dapat saling menikmati. Kurban bakaran seluruhnya dibakar oleh Allah; dimakan oleh Allah sendiri. “Mulut” Allah adalah api yang menghanguskan kurban bakaran, api ini menyala terus-menerus siang dan malam. Makanan ilahi dari kurban bakaran sangat teratur. Ini ditunjukkan oleh cara potong-potongan kurban diatur untuk dibakar (Im. 1:7-8). Allah melakukan segala sesuatu, termasuk makan kurban bakaran, secara teratur.

Karena kurban bakaran untuk pendamaian, kurban ini hanya dapat dimakan oleh Allah. Hanya Allah yang bersyarat makan sesuatu yang untuk pendamaian kita. Karena itu, kita tidak dapat makan kurban bakaran.

Walaupun kita tidak boleh memakan kurban bakaran, tetapi boleh memakan sebagian kurban sajian. Ketika seseorang mempersembahkan kurban sajian, “tepung segenggam dengan minyak beserta seluruh kemenyannya,” dipersembahkan “di atas mezbah sebagai bagian ingat-ingatan kurban itu, sebagai kurban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 2:2). Di sini kita melihat bahwa bagian tepung halus dan minyak dan semua kemenyan adalah makanan Allah. Allah harus lebih dulu mencicipi dan menikmati kurban sajian. Selebihnya dari kurban sajian, yang terdiri atas tepung halus dan minyak, tetapi bukan kemenyan, menjadi makanan untuk imam-imam.

Imam-imam melayani Allah. Pelayanan mereka kudus, dan makanan mereka juga kudus. Jika kita ingin melayani Allah sebagai imam-imam, kita perlu makan makanan imamat, makanan kudus yang cocok dengan pelayanan kudus kita. Makanan ini merawat kita supaya kita memiliki tenaga untuk melayani Allah.

Kurban sajian adalah perkara Kristus sebagai kepuasan umat Allah yang dinikmati bersama Allah. Mula-mula, Allah menikmati bagian-Nya atas kurban sajian, dan kemudian kita menikmati bagian kita. Jadi, kenikmatan kita adalah semacam kenikmatan bersama, yaitu menikmati bersama dengan Allah.

V. SEMUA KEMENYAN DENGAN TEPUNG HALUS

DAN MINYAK DIBAKAR DI ATAS MEZBAH

Semua kemenyan dengan tepung halus dan minyak dibakar di atas mezbah (Im. 2:2). Ini melambangkan bagian ingat-ingatan dari kehidupan Kristus yang unggul, sempurna, dipenuhi Roh, dan dijenuhi kebangkitan, dipersembahkan kepada Allah sebagai makanan untuk kenikmatan-Nya. Kehidupan insani Kristus di bumi sangat unggul, tetapi sulit kita katakan, keunggulan itu mengacu kepada apa. Kita boleh berkata bahwa ini mengacu kepada standar tinggi dari atribut-atribut dan kebajikan-kebajikan-Nya. Berapa tinggi standar ini? Kita tidak dapat mengatakannya. Tidak pernah ada standar semacam ini di antara umat manusia.

Kristus adalah Allah dan manusia. Dia adalah Manusia-Allah yang diurapi, dibaurkan, dan dipenuhi dengan Roh Allah. Selain itu, sebelum Dia disalibkan, Dia mengekspresikan kebangkitan. Dia mengekspresikan kebangkitan dalam segala hal bahkan dalam menghardik orang-orang Farisi (Mat. 23:1-36) dan dalam menyucikan Bait Allah (Yoh. 2:12-17). Keunggulan kehidupan insani Kristus di bumi ada dalam keadaan-Nya sebagai manusia dan dalam keadaan-Nya sebagai Allah; dalam keinsanian dan keilahian-Nya di dalam Roh dan dengan kebangkitan. Begitulah yang diwahyukan mengenai Dia dalam keunggulan-Nya dalam keempat kitab Injil.

Keinsanian Kristus itu sempurna. Dia itu halus, serasi, dan sangat seimbang, tidak ada kekurangan dan tidak ada kelebihan. Selain itu, Dia dipenuhi dengan Roh dan dijenuhi dengan kebangkitan. Ketika Dia berjalan di bumi, Dia selalu dipenuhi dengan Roh dan dijenuhi dengan kebangkitan.

A. Sebagai Ingat-ingatan

Kemenyan dengan sebagian tepung halus dan minyak dibakar sebagai ingat-ingatan karena khasiatnya yang memuaskan. Ingat-ingatan lebih besar daripada kepuasan. Kita boleh jadi dipuaskan dengan banyak hal, tetapi tidak mengingat-ingat hal-hal itu. Namun, ketika kita memiliki kepuasan tertinggi, kita akan menjadikan kepuasan itu sebagai ingat-ingatan. Allah menikmati Kristus sedemikian rupa, sehingga kenikmatan ini menjadi ingat-ingatan.

B. Sebagai Bau yang Menyenangkan

Bau yang menyenangkan adalah bau yang wangi harum; aroma yang memberi perhentian, damai, sukacita, kenikmatan, dan sangat menyenangkan. Unsur-unsur yang kaya dari kurban sajian, keinsanian Kristus, keilahian Kristus, dan kehidupan-Nya yang unggul, sempurna, penuh dengan Roh, dan dijenuhi kebangkitan adalah aroma yang memberi Allah perhentian, damai, sukacita, kenikmatan, dan kepuasan yang penuh.

VI. SISA KURBAN SAJIAN UNTUK HARUN

DAN ANAK-ANAKNYA

“Kurban sajian selebihnya adalah teruntuk bagi Harun dan anak-anaknya, yakni bagian maha kudus dari segala kurban api-apian TUHAN” (Im. 2:3). Ini melambangkan bahwa kita juga dapat menikmati kehidupan insani Kristus sebagai makanan kita setelah Allah menikmatinya. Pertama, Allah harus mengambil bagian-Nya supaya Dia dipuaskan. Selebihnya adalah bagian kita untuk kepuasan kita.

Tidak sulit mengatakan bahwa kita dapat menikmati kehidupan insani Kristus sebagai makanan kita, tetapi sebenarnya bagaimana kita dapat melakukan hal ini? Memperhatikan lambang dalam Imamat 2 akan membantu menjawab pertanyaan ini. Lambang di sini adalah gambaran yang melambangkan kehidupan insani Kristus. Tepung halus melambangkan keinsanian Kristus, dan minyak melambangkan Roh Allah. Minyak dan tepung halus dibaurkan menghasilkan tepung halus yang diolah dengan minyak, tepung halus yang berbaur dengan minyak. Karena itu, makan tepung halus adalah makan minyak; juga makan perbauran, sebab minyak dan tepung tidak dapat dipisahkan lagi.

Gambaran dalam Imamat 2 menunjukkan dengan tegas bahwa cara kita menikmati kehidupan insani Kristus adalah melalui Roh itu. Yohanes 6 membuktikan hal ini. Dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus mewahyukan bahwa Dia dapat dimakan. “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah dagingKu yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (ayat 51). Karena tidak dapat memahami hal ini, orang-orang Yahudi “bertengkar antara sesama mereka dan berkata, ‘Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?’” (ayat 52). Dalam ayat 63, Tuhan Yesus berkata, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Ini menunjukkan bahwa cara makan Yesus adalah melalui Roh itu.

Jika kita mau makan Yesus melalui Roh itu, kita perlu menyadari bahwa Roh itu hari ini berada dalam firman. Ketika kita menjamah firman, kita menjamah apa yang terkandung, atau diwujudkan dalam firman. Untuk makan Yesus, menerima Yesus, menikmati Yesus, kita harus menjamah firman-Nya, dan ketika menjamah firman-Nya, kita juga menjamah Roh.

Menurut Perjanjian Baru, Roh ilahi berhubungan dengan roh insani kita. Kita perlu menjamah firman Tuhan melalui roh kita. Cara menjamah firman Tuhan melalui roh kita adalah mendoabacakan firman. Ketika kita datang kepada firman, kita tidak seharusnya hanya memakai mata kita dan pikiran kita, membaca firman seperti membaca surat kabar. Kita perlu berdoa dan menggunakan roh kita, selain mata kita dan pikiran kita. Jika kita berbuat demikian, kelihatannya kita menjamah firman; sebenarnya kita menjamah Roh itu. Roh itu berbaur dengan keinsanian Kristus. Jadi, dengan memakai roh kita untuk menjamah Roh itu yang terkandung dalam firman, kita makan hayat insani dan kehidupan insani Kristus.

Bagaimana kita dapat menikmati Kristus? Kita dapat menikmati Kristus melalui memakai roh kita untuk mendoabacakan firman. Ketika kita mendoabacakan firman Tuhan, kita menjamah Roh-Nya, dan Roh ini berbaur dengan keinsanian-Nya. Kemudian kita dirawat dengan keinsanian yang tertinggi, keinsanian Kristus.

Dalam diri sendiri kita tidak dapat menempuh kehidupan insani seperti yang Tuhan Yesus tempuh. Hanya Dia yang dapat menempuh kehidupan demikian. Namun, kita dapat menerima Yesus setiap saat dengan datang kepada firman-Nya dan memakai roh kita untuk mendoabacakan firman. Ketika kita melakukan hal ini, kita menjamah Roh itu, dan Roh itu menyuplai kita dengan Yesus sebagai gizi kita. Karena kita adalah apa yang kita makan, semakin banyak kita makan Yesus, semakin banyak kita disusun dengan Yesus. Melalui kita makan kehidupan insani Yesus, kehidupan-Nya menjadi kehidupan kita. Dengan spontan, tanpa usaha sendiri, kita akan rendah hati dan kudus seperti Yesus. Inilah menikmati Yesus sebagai makanan kita agar kita dapat menempuh hidup yang memenuhi syarat untuk melayani Allah.

Sejak abad 4, Allah telah menyiapkan satu buku untuk kita, Alkitab, dan meletakkannya di tangan kita. Dia juga telah memberi kita Roh-Nya. Roh ada di dalam kita dan Alkitab ada di luar kita. Dua hal ini ditambahkan bersama adalah Kristus dalam kehidupan insani-Nya. Ketika kita menggunakan roh kita dan mendoabacakan firman, kita menjamah Roh itu dan menikmati kehidupan insani Kristus. Inilah kurban sajian.

VII. MELALUI API

A. Semua Kurban Sajian Melalui Api di Atas Mezbah

Semua kurban sajian, entah dibakar di dalam pembakaran roti, dipanggang di atas panggangan, atau dimasak dalam wajan, adalah melalui api di atas mezbah (Im. 2:4-9). Ini melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya dipersembahkan kepada Allah sebagai makanan yang telah melalui api. Ketika kita menjamah kurban sajian, kita menjamah api pengujian.

B. Api Menyala Melambangkan Allah

yang Menghanguskan, Bukan untuk Menghakimi,

Melainkan untuk Memperkenan

Api menyala dalam Imamat 2 melambangkan Allah yang menghanguskan, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memperkenan. Bagian kurban sajian yang dipersembahkan kepada Allah sebagai makanan Allah untuk kepuasan-Nya dibakar, yaitu, dihanguskan oleh api. Ini adalah perkenan Allah, bukan penghakiman-Nya. Ini melambangkan bahwa Allah memperkenan Kristus sebagai makanan yang memuaskan-Nya. Allah memperkenan kurban sajian melalui membakarnya melalui api.

VIII. DIBAURKAN DENGAN MINYAK

“Apabila engkau hendak mempersembahkan persembahan berupa kurban sajian dari apa yang dibakar di dalam pembakaran roti, haruslah itu dari tepung yang terbaik, berupa roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak. Jikalau persembahanmu merupakan kurban sajian dari yang dipanggang di atas panggangan, haruslah itu dari tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, berupa roti yang tidak beragi” (Im. 2:4-5). Dibaurkan dengan minyak ini melambangkan keinsanian Kristus dibaurkan dengan Roh Kudus (Mat. 1:18b). perbauran ini juga melambangkan sifat insani Kristus dibaurkan dengan sifat ilahi Allah; maka, Dia adalah Manusia-Allah. Kristus adalah orang yang mutlak berbaur dengan Allah. Keinsanian-Nya berbaur dengan Allah, berbaur dengan Roh itu, sebab Roh itu adalah diri-Nya. Karena itu, ketika kita menjamah Kristus, kita menjamah Roh itu.

Mengenai perbauran dalam Imamat 2, mari kita perhatikan Mazmur 92:11b. “Aku dituangi dengan minyak baru.” Dalam New Translation karya Darby, catatan pada kata “dituangi” mengatakan “dengan tegas, ‘dibaurkan.’” Selain itu, catatan Darby atas kata mingled (diolah, LAI) dalam Imamat 2:4 mengatakan: “‘dicampurkan,’ ‘dibaurkan’, adalah pengertian dari kata tersebut. Dalam Mazmur 92:11, pengertiannya bukan hanya dituangi sebagai pentahbisan, tetapi seluruh dirinya disegarkan dan dikuatkan olehnya: minyak ini telah menjadi kekuatannya; maka disebut ‘minyak baru’ di sana.” Karena itu, perbauran ini menyebabkan bagian dalam dan unsur seseorang menjadi segar dan kuat.

Pada masa awal gereja ada banyak perdebatan tentang hal perbauran keilahian dengan keinsanian. Beberapa orang teolog beranggapan bahwa membicarakan hal berbaur dengan Allah menyiratkan kepercayaan bahwa seseorang dapat menjadi Allah, percaya bahwa manusia dapat ditinggikan sampai tingkat dia diilahikan. Mereka yang memiliki jenis pemahaman seperti ini terhadap ajaran perbauran menghakimi pengajaran ini. Akhirnya, para teolog tidak berani memakai kata perbauran atau mengajarkan tentang perbauran keinsanian dengan keilahian.

Lalu, mengapa kita berani memakai istilah ini pada hari ini? Kita membicarakan perbauran karena ada wahyu tentang perbauran dalam Alkitab. Pengajaran kita tentang perbauran keilahian dengan keinsanian berdasar pada wahyu Perjanjian Baru dan juga ditegaskan oleh lambang dalam Perjanjian Lama.

Menurut lambang, gambar, dalam Imamat 2, kurban sajian dibuat dari tepung halus dan minyak. Ayat 4 membicarakan “tepung halus yang diolah dengan minyak.” Minyak menunjukkan keilahian, dan tepung halus menunjukkan keinsanian Kristus. Perbauran tepung halus dengan minyak menunjukkan bahwa melalui perbauran dengan keilahian, keinsanian Kristus telah ditingkatkan ke standar tertinggi.

Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata, “Tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Dalam Filipi 1:21 dia berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus bukan saja berbaur dengan Kristus, Paulus “adalah” Kristus. Ada orang begitu mendengar hal ini, mereka mungkin mendebat dan menuduh saya membelokkan perkataan Paulus. Mereka mungkin berkata, “Paulus tidak mengatakan bahwa dia adalah Kristus. Dia hanya berkata bahwa Kristus hidup di dalam dia dan bagi dia hidup adalah Kristus. Memperhidupkan Kristus adalah satu hal, dan menjadi Kristus adalah hal lainnya.” Untuk hal ini saya akan menjawab, “Bagaimanakah seseorang memperhidupkan orang lain tanpa menjadi orang lain itu? Bagaimanakah Paulus memperhidupkan Kristus jika dia bukan Kristus?”

Ketika Paulus dalam perjalanan menuju Damsyik, Tuhan Yesus bertanya kepada dia, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” dan Dia selanjutnya berkata, “Akulah Yesus, yang kauaniaya itu” (Kis. 9:4-5). Paulus mengira bahwa dia hanya menganiaya Stefanus dan murid-murid lainnya; dia tidak menyadari bahwa dia sebenarnya menganiaya Kristus. Namun, Tuhan menganggap murid-murid-Nya sebagai bagian dari Dia. “Aku” dalam Kisah Para Rasul 9:4 adalah persona korporat yang mencakup Tuhan Yesus dan semua orang beriman. Semua orang beriman adalah satu dengan Kristus, bukan hanya satu gabungan atau dalam kesatuan, tetapi satu dalam perbauran.

Karena Tuhan Yesus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi seorang manusia, maka Dia adalah Manusia-Allah. Menurut Anda, bisakah keilahian-Nya dipisahkan dari keinsanian-Nya, atau, diluar perbauran, keilahian dan keinsanian-Nya menyatu hanya untuk menjadikan Dia Manusia-Allah? Jika tidak ada perbauran, bagaimana Dia dapat hidup sebagai Manusia-Allah? Keilahian Kristus berbaur dengan keinsanian-Nya. Namun, perbauran keilahian dengan keinsanian ini benar-benar tidak menghasilkan unsur ketiga, sesuatu yang bukan ilahi, juga bukan insani. Mengatakan perbauran sifat ilahi dengan sifat insani Tuhan Yesus menghasilkan sifat ketiga, satu sifat yang tidak sepenuhnya ilahi, juga tidak sepenuhnya insani, adalah bidah. Hal ini jelas bukan pemahaman kita terhadap kata “perbauran”. Kita setuju dengan definisi dalam Kamus Webster’s Third New International: perbauran “membawa atau menggabungkan bersama atau dengan sesuatu yang lain supaya komponen-komponennya tetap dapat dibedakan dalam penggabungan itu.” Dalam perbauran dua unsur demikian, unsur-unsurnya tetap berbeda, dan tidak dihasilkan unsur ketiga.

Kristus adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna, yang memiliki sifat ilahi dan sifat insani, tanpa menimbulkan sifat ketiga. Ini diwahyukan dalam Perjanjian Baru, dan hal ini digambarkan dalam Imamat 2. Dalam lambang ini, perbauran dengan jelas digambarkan: minyak dibaurkan dengan tepung halus, dan tepung halus dibaurkan dengan minyak. Meskipun dua unsur ini dibaurkan, esens dari unsur masing-masing tetap berbeda, dan unsur ketiga tidak dihasilkan. Inilah pengertian yang tepat tentang perbauran.

Keunggulan Kristus, yang adalah kurban sajian, ada dalam keilahian-Nya dan keinsanian-Nya. Dilihat dari sudut keilahian-Nya, Kristus memiliki atribut-atribut ilahi, dan atribut-atribut ilahi ini diekspresikan melalui, dengan, dan dalam kebajikan-kebajikan insani-Nya. Karena itu, Dia memiliki standar etika dan moral yang lebih tinggi daripada semua manusia. Apa adanya Dia sebagai Allah dengan atribut-atribut ilahi ditambahkan kepada apa adanya Dia sebagai manusia dengan kebajikan-kebajikan insani. Ini adalah keunggulan Yesus Kristus, keunggulan yang dihasilkan dari perbauran keilahian dan keinsanian.